Raja Naga - Tapak Dewa Naga 1

Rabu, 04 April 2012

| | |
Tapak Dewa Naga


1
MALAM berkabut dalam. Lolongan serigala di kejauhan, menambah keangkeran malam. Gumpalan awan hitam padat di atas, tak bergeming sedikit pun jugaterhembus angin. Beberapa helai daun berguguran, beterbangan jauh. Malam kali ini lain dengan malam-malam sebelumnya. Lebih mencekam, dingin dan dalam.
Keheningan malam pun melanda sebuah rumah besar yang terletak di sebuah lembah. Lembah yang tak begitu curam dan luas. Hanya beberapa buah pohon yang tumbuh di sana. Tak jauh dari sana puncak-puncak tebing bebatuan berdiri angkuh. Seolah hendak menantang siapa saja yang berniat untuk merobohkannya.
Asap kemenyan tercium dari rumah itu. Rumah yang biasa tenang dan damai, kini telah menjadl rumah duka. Dua orang lelaki bertubuh tegap dan gagah, dengan sebllah pedang di pinggang, berdiri di depan rumah itu. Menyambut ramah beberapa orang yang datang dan kemudian pergi setelah memberikan ucapan belasungkawa pada tuan rumah.
Di dalam rumah itu, di sebuah ruangan yang cukup besar, nampak satu
sosok tubuh terbujur kaku di atas sebuah dipan. Di bawah dipan itu, tepat di bagian kepala dan kaki, mengepul uap kemenyan dari anglo hitam.
Seorang perempuan berusia sekitar dua puluh tujuh tahun, nampak khusuk duduk berlutut di samping kanan jenazah lelaki berwajah tampan yang mengenakan pakaian putih bersih, yang pada kening lelaki itu terdapat untaian daun lontar. Mata si perempuan berpakaian hitam itu sembab. Di lehernya menggantung untaian daun lontar yang dirajut indah. Dia berulang kali mengusap kedua matanya. Dan dengan ketabahan tinggi, dia berusaha untuk menahan tangis.
Tak jauh dari tempatnya, berdiri dua lelaki setengah baya yang mengenakan pakaian serba kuning panjang. Jubah mereka berwarna hijau. Satu sama lain memiliki raut wajah yang sama. Keduanya pun datang dengan belasungkawa yang dalam.
Salah seorang dari kedua orang itu, yang berdiri di samping kiri, menoleh pada seorang lelaki bertubuh pendek, gemukkekar. Lelaki yang diperkirakan berusia sekitar enam puluh tahun itu mengenakan pakaian warna biru terbuka dl bagian dada, hingga tak bisa tutupi perut
gemuknya. Mungkin karena lemak yang berlebihan di setiap inci tubuhnya, hingga tak terlihat adanya kerutan atau keriput di wajahnya. Sebuah tombak berwarna biru tergenggam di tangan kanannya yang gempal, lebih tinggi dari tubuhnya.
Orang yang menoleh tadi berbisik, "Dewa Tombak... apa yang sebenarnya terjadi?"
Si gemuk pendek mengangkat kepalanya, karena orang yang bertanya lebih tinggi. Mata bulatnya sesaat memandangi orang itu, lalu kembali diarahkan pada jenazah lelaki gagah yang terbujur kaku.
Masih memandang dia menjawab, "Aku tidak tahu apa yang terjadi. Lima hari yang lalu... aku datang seperti biasa, untuk menyambangi Pendekar Lontar. Saat itu dia dalam keadaan segar bugar. Tak terlihat tanda-tanda sedang sakit atau kena penyakit. Tetapi kemarin malam, ketika aku datang kembali ke tempat ini, dia sudah tewas...."
"Kau tidak tahu apa yang terjadi?"
Dewa Tombak gelengkan kepalanya. Lehernya yang seperti menyatu dengan bahunya seperti tak kelihatan bergerak.
"Bukan hanya aku yang tidak tahu apa yang menyebabkan kematian Pendekar Lontar. Tetapi istrinya sendiri, Dewi Lontar, ketika kutanyakan sebab-sebabnya, dia mengaku tidak tahu sama sekali."
"Sebagai seorang sahabat, kau sudah memeriksa keadaan Pendekar Lontar?"
"Aku sudah melakukannya. Tak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Semuanya normal. Bagian tubuhnya tak terlihat terkena satu serangan. Tadi siang, aku sudah menghubungi Dewa Segala Obat. Biar bagaimanapun juga, aku ingin mengetahui penyebab kematian Pendekar Lontar. Bila memang Pendekar Lontar meninggal karena panggilan Sang Pencipta, itu tak perlu dipermasalahkan lagi. Tetapi kita tahu, Pendekar Lontar banyak mempunyai musuh akibat dari segala tindakannya yang selalu membela kebenaran."
"Katamu tadi, kau sudah menghubungi Dewa Segala Obat. Apa katanya?"
"Dia berjanji untuk datang. Dan aku berharap, dia dapat menemukan sebab-sebab kematian Pendekar Lontar...," sahut Dewa Tombak. Lalu mengangkat kepalanya,
"Sema Kuriang... aku tahu kesibukanmu dengan saudara kembarmu itu.
Tetapi kau tetap bisa datang. Aku mengucapkan terima kasih...."
Si lelaki berjubah hijau itu menganggukkan kepala.
"Kendati kami jarang berjumpa dengan Pendekar Lontar, tetapi kami sangat menghormatinya. Dalam usianya yang baru tiga puluh tahun, julukannya sudah membedah sebagian jagat raya ini sebagai orang yang berada dalam golongan lurus. Selain dikenal dengan ilmu yang dimilikinya, Pendekar Lontar juga pandai memainkan ilmu pedang. Tak seorang pun yang menyangsikan kehebatannya mempergunakan pedang. Sudah tentu, kami, Dua Serangkai Jubah Hijau, merasa perlu untuk datang memberikan penghormatan terakhir...."
Baik Sema Kuriang maupun Dewa Tombak tak buka suara. Mereka melihat perempuan berpakaian ringkas warna hitam perlahan-lahan bangkit. Sepasang mata yang biasanya bersinar ceria dan indah, kini sembab akibat menahan tangis. Si perempuan yang ternyata istri dari si lelaki yang telah menjadi mayat, memandang pada keempat orang itu.
Dia mencoba tersenyum.
"Terima kasih atas kedatangan kalian...," katanya agak tersendat.
Dewi Lontar..., kata Sema Kuriang. "Aku sudah bertanya pada Dewa Tombak, penyebab kematian suamimu, si Pendekar Lontar. Tetapi dia tidak tahu apa yang terjadi. Sebagai orang yang menghargai sekaligus menghormati Pendekar Lontar, kami merasa perlu untuk mengetahui penyebab kematiannya....”.
Perempuan berambut hitam indah dikuncir kuda yang dari tubuhnya menguarkan aroma harum itu, menarik napas pendek. Hidung bangirnya agak memerah, demikian pula dengan kulit putih bersihnya.
Sambil memainkan kalung daun lontar yang tergerai di dadanya, perlahan-lahan dia menggeleng.
"Aku sendiri tidak tahu sama sekali.... Kemarin malam, kami masih bercanda. Bahkan, kami sama-sama mencandai putra kami satu-satunya, si Boma Paksi, sampai putra kami yang berusia lima tahun itu tertidur."
"Apakah kau tidak melihat gelagat buruk saat itu?" tanya lelaki berjubah hijau yang berdiri di samping Sema Kuriang. Wajahnya mirip dengan Sema Kuriang. Tetapi ada tahi lalat tepat di tengah keningnya.
Dewi Lontar kembali menggelengkan kepalanya. Gerakannya sangat lemah. Perempuan perkasa itu merasa sebagian jiwanya telah terampas pergi bersamaan meninggalnya suaminya. Sebelum subuh tadi, dia terbangun karena hendak buang air. Lalu dia pergi ke belakang. Setelah itu dia kembali ke kamarnya. Dilihatnya suaminya yang tertidur dengan kedua mata mengatup.
Rasa cinta kasihnya membuatnya lebih lama memperhatikan suaminya. Sampai dia merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Karena dia tak mendengar desahan napas lembut suaminya seperti biasa. Rasa herannya itu membuatnya jadi penasaran. Dijulurkan telunjuknya ke hadapan hidung suaminya.
Hati Dewi Lontar seketika tercekat karena dia tak merasakan adanya hembusan atau tarikan napas. Rasa penasarannya berubah menjadi panik. Dia segera tempelkan telinganya pada bagian jantung suaminya. Sama sekali dia tak mendengar bunyi detakan lembut jantung suaminya.
Untuk beberapa saat Dewi Lontar tertegun. Seperti tak mempercayai apa yang terjadi. Dan perlahan-lahan dia sadar, kalau suaminya sudah meninggal.
Kala matahari sepenggalah, Dewa Tombak muncul sesuai janjinya dua hari lalu. Diceritakannya apa yang telah terjadi dengan penuh kesedihan.
Dewi Lontar menggelengkan kepalanya. Perempuan berwajah bulat telur Ini berusaha untuk kelihatan tegar.
"Aku tak melihat tanda-tanda kecemasan suamiku akan sesuatu pada malam itu. Dia tetap kelihatan tenang dan selalu ceria seperti biasanya...."
"Dewi Lontar... selama ini suamimu dikenal sebagai orang yang membela orang yang Eemah. Berpuluh orang pernah dikalahkannya karena orang-orang itu berbuat makar. Menurut penilaianku, tak mustahil bila ada orang yang mendendam padanya dan malam itu datang melakukan serangan...."
"Serangan gelap seperti apa pun akan selalu diketahui oleh suamiku...."
Jawaban Dewi Lontar tidak bernada sombong sama sekali. Dua Serangkai Jubah Hijau dan Dewa Tombak, sama-sama tahu kalau Pendekar Lontar memiliki ilmu 'Raga Pasa. Ilmu yang membuatnya dapat mengetahui serangan gelap apa pun juga. Bahkan Ilmu sihir yang dilancarkan oleh
seorang ahli sihir yang sangat ahli pun dapat diketahui.
Dewa Tombak berkata, "Dewi Lontar... tabahkanlah hatimu. Bila memang suamimu meninggal karena sudah batas usianya, relakanlah...."
Dewi Lontar menganggukkan kepalanya.
"Ya... aku akan merelakannya. Kematian apa pun yang telah menimpanya, aku akan rela menerimanya...."
"Tidak!" Dewa Tombak berkata tegas. Perutnya yang besar sesaat bergerak. Lalu suaranya berubah lembut ketika tatapan Dewi Lontar tak berkedip ke arahnya, "Maksudku... aku tak akan pernah terima, bila ternyata ada orang yang telah menjahati suamimu. Bila memang demikian adanya, dugaanku dia tewas akibat ilmu hitam...."
Pernyataan Dewa Tombak membuka sepasang mata perempuan jelita berpakaian hitam. Untuk sesaat dia terdiam memlkirkan apa yang dikatakan orang bertubuh gemuk itu. Tetapi di kejap lain perempuan itu sudah gelengkan kepala.
"Untuk saat Ini, aku tak ingin memikirkan keadaan itu. Besok... aku akan mengadakan upacara penguburan...."
Dewa Tombak tak tersinggung dengan ucapan si perempuan. Dia dapat memakluminya.
"Selama aku mengenal Dewi Lontar, belum sekali pun kulihat dia bersedih seperti ini. Dia selalu ceria dengan kegembiraan yang alami. Tak pernah dibuat-buat. Tetapi di saat lain, dia bisa berubah menjadi seseorang yang sangat garang, melebihi garangnya harimau betina. Dan biasanya, dia selalu memikirkan baik-baik setiap urusan yang terjadi. Nampaknya kail ini, kesedihan sudah melandanya hingga dia seolah tak pedulikan apa yang kukatakan tadi," kata Dewa Tombak dalam hati.
Lalu tamu-tamu pun berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa kepada janda Pendekar Lontar. Mereka berdatangan dan segera pergi.
Sampai tinggal orang-orang yang sejak tadi memang berada di sana. Saat Itulah terdengar suara anak kecil menangis. Dewi Lontar segera beranjak ke salah sebuah ruangan yang terdapat di rumah itu.
Sema Kuriang berbisik pada Dewa Tombak, "Di mana Dewa Segala Obat? Mengapa sampai saat ini dia belum juga hadir?"
Lelaki gemuk itu menggelengkan kepalanya.
"Aku juga heran. Mengapa dia belum hadir juga?"
Tak lama kemudian mereka melihat Dewi Lontar sudah muncul kembali, kali ini sambil menggendong bocah laki-laki yang tertidur manja dalam rangkulan-nya. Bocah itu berambut gondrong. Di punggungnya terdapat sebuah gambar seekor naga berwarna hijau.
Dua Serangkai Jubah Hijau sama-sama memandang tak berkedip pada tato seekor naga yang terdapat pada punggung si bocah. Sementara Dewa Tombak tak acuh saja, karena dia sudah sering melihat gambar seekor naga disana.
Dewi Lontar sadar apa arti tatapan kedua lelaki setengah baya berjubah hijau.
Dia berkata, "Aku tidak tahu bagaimana asal mulanya gambar naga hijau ini terdapat pada punggung bayiku. Saat kulahirkan, gambar naga hijau yang seperti sebuah tato Ini, sudah terdapat pada punggungnya...."
Dua Serangkai Jubah Hijau tak bersuara. Mereka masih memperhatikan tato naga hijau yang terdapat pada punggung si bocah.
Sema Kuriang membatin, "Aku seperti melihat sisik tipis warna coklat yang terdapat pada kedua tangannya sebatas siku. Ah, mungkin aku salah melihat. Rasanya agak janggal kalau bocah Itu memiliki sisik."
Di pihak lain, saudara kembarnya juga membatin, "Pada punggungnya, terdapat tato naga hijau. Pada kedua tangannya sebatas siku terdapat sisik-sisik kecoklatan. Aneh Mengapa kedua tangannya sampai bersisik seperti itu? Padahal Pendekar Lontar dan istrinya tak memiliki sisik seperti itu. Jangan-jangan... sisik-sisik coklat yang terdapat mulai jari-jemarinya hing-ga batas siku, juga dibawanya sejak lahir."
Selagi keheningan terjadi, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di depan. Dewa Tombak segera berkelebat ke sana. Dia melihat dua orang bersenjatakan pedang yang menjaga di depan rumah besar itu, sedang ribut omongan dengan seorang kakek yang me-ngenakan jubah merah. Kepala si kakek lonjong. Kumis putihnya panjang turun ke bawah. Rambutnya yang sudah memutih semua diikat ekor kuda. Bola matanya tajam dengan sepasang aiisyang seperti
menyatu. Dari apa yang ada pada tubuh si kakek, yang mengejutkan adalah kedua punggung tangannya. Karena, di sana ada sisik-sisik berwarna hijau. Sangat jelas. Sisik itu pun terdapat pada bagian wajahnya, tetapi tlpis saja. Karena dia mengenakan pakaian panjang, jadi tak bisa diketahui apakah sisik-sisik Itu juga,terdapat pada bagian tubuhnya yang lain.
Si kakek saat ini sedang marah-marah. Bahkan tangan kanannya siap terangkat untuk menampar kedua penjaga itu.
"Selamat datang ke rumah duka, Dewa Naga...."
Ucapan Dewa Tombak yang disusul dengan sosoknya yang mendekat, membuat si kakek mengurungkan niatnya untuk menampar kedua penjaga yang bersiaga. Bahkan tangan kanan masing-masing sudah menggenggam pedang, siap dihunuskan.
"Brengsek! Apa-apaan kedua cecunguk ini melarangku masuk, hah?! Hei, Orang bulat! Katakan pada mereka, jangan banyak tingkah di hadapanku!"
Dewa Tombak tersenyum. Saat melangkah tubuhnya mengegal-ngegol. Dia memberi isyarat pada kedua penjaga yang
menuruti tetapi tatapannya tajam pada si kakek muka lonjong.
"Hanya kesalahpahaman saja...," kata Dewa Tombak dengan senyuman lebar.
"Dan kau tetap selalu bersikap keras seperti itu rupanya."
Si kakek muka lonjong yang bersisik halus itu menggeram.
"Brengsek! Apanya yang kesalah pahaman, hah?! Mereka melarangku masuk! Memangnya di dalam sana ada pertunjukan yang mengharuskan aku membayar untuk melihat?!"
Salah seorang penjaga itu berseru, "Tuan Dewa Tombak... sikap si kakek sungguh tak menyenangkan. Dia datang dengan sikap yang angkuh. Bahkan mulutnya terus berbunyi yang justru menimbulkan kegaduhan..."
"Eh, busyet maki si kakek dengan mata tajam. "Mulutku berbunyi?! Keparat betul kau ya? Jangan-jangan kau memang mengharapkan kugaplok?!"
Si penjaga sama sekali tak kelihatan takut, karena mereka memang tidak tahu siapa kakek bersisik hijau yang datang ini. Saat ini dia sedang berduka karena majikan mereka tewas tanpa ketahuan penyebabnya. Dan dia sangat tersinggung bila ada orang yang bermaksud
menyembangi majikannya bersikap tak menyenangkan. Selama delapan tahun, Markuto dan adiknya yang bernama Gerada sudah mengabdikan diri pada Pendekar Lontar. Bahkan dengan senang hati Pen-dekar Lontar mengajarkan mereka sedikit ilmu pedang yang dimllikinya. Rasa hormat mereka pada Pendekar Lontar melebihi sayangnya mereka pada nyawa sendiri.
Sementara si penjaga mendelikkan matanya gusar,
Dewa Tombak justru tertawa-tawa keras.
Si kakek muka lonjong menggeram.
"Kau teruskan tawamu, kubunuh kau!!"
Dewa Tombak sendiri segera menghentikan tawanya. Bukan karena takut akan ancaman si kakek yang berjuluk Dewa Naga, melainkan karena dia kembali teringat, kalau saat ini suasana duka sedang melanda.
Lalu katanya pada Markuto, "Kau salah sangka, Markuto. Bukan mulutnya yang berbunyi, tetapi pantatnya!"
Sementara Markuto melongo, si kakek muka lonjong menggeram.
"Brengsek! Kau membuka aibku ya?! Memang... pantatku ini terkadang tidak
bisa diajak kompromi! Selalu bunyi tanpa kuminati! Eh, selagi kuminati... susah sekali bunyinya...."
Dewa Tombak menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu diajaknya Dewa Naga masuk ke dalam. Markuto dan Gerada memperhatikan dengan seksama. Mereka membuka pendengaran lebih lebar. Dan mereka tak mendengar suara yang seperti sebelumnya mereka dengar.
Sementara itu, menyadari kalau dua pasang mata tertuju pada pantatnya, si kakek muka lonjong menggeram jengkel. Mendadak dijentikkan ibu jari dengan telunjuknya.
Claaap....!
Gerakan yang sangat ringan dan cepat itu seperti tak mengandung apa-apa, tetapi Markuto dan Gerada mendadak saja jatuh terjengkang.
Dewa Tombak berkata, "Kau terlalu ringan tangan, Kawan...."
"Keparat kau, Kakek Bulat! Siapa yang tidak risih kalau pantatnya dilihati terus? Memangnya aku janda kembang yang punya pantat bulat yang memancing perhatian untuk diremas-remas?!" seru si kakek gusar.
Dewa Tombak mendengus.
"Bila kakek ini mau, kedua orang itu bukan hanya akan langsung tewas seketika. Tetapi tubuhnya akan lebur menjadi debu," katanya dalam hati. Kemudian melanjutkan, "Tokoh satu ini memang dikenal memiliki sifat angin-anginan. Setiap orang yang mendengar julukannya, pasti akan merasa copot jantungnya. Siapa yang tak mengenal julukan Dewa Naga?"
Lalu dengan langkah yang mengegal-ngegol dia masuk kembali ke ruangan duka, disusul oleh Dewa Naga yang mendengus.
Di pihak lain, Markuto dan Gerada sedang bangklt sambil meringis. Dan mereka tidak mengerti apa yang telah menimpa mereka tadi.
* * *



2
KEKADIRAN Dewa Naga membuat Dua Serangkai Jubah Hijau segera merangkapkan kedua tangannya di depan dada. Yang dihormati justru mendengus saja.
Dia berkata pada Dewi Lontar yang sedang mengangguk hormat, "Siapa orang keparat yang membunuh pendekar gagah itu, Dewi Lontar?"
Dewi Lontar menggelengkan kepalanya. Lalu dengan suara pelan dia menyahut,
"Dewa Naga... suamiku tidak mati dibunuh orang. Tetapi ajal memang sudah menjemputnya...."
“Huh! Bicaramu terlalu ringan! Kau terlalu diliputi oleh kesedihan rupanya!" dengus si kakek berjubah merah. Dia berjalan mendekati jenazah Pendekar Lontar. Saat berjaian mendadak saja sesuatu berbunyi,
Brrut! Bruuut!
Kontan Dewa Naga menghentikan langkahnya. Dia melirik ke kanan kiri dengan wajah agak memerah. Keanehan terpampang. Karena sisik halus warna hijau pada wajahnya, seperti berubah menjadl merah. Setelah dilihatnya tak ada yang ketawa atau meringis, dia melangkah lagi.
Padaha! saat ini Dewa Tombak sudah tertawa keras dalam hati. Sementara Dua Serangkai Jubah Hijau hanya menggeleng-gelengkan kepala saja.
"Kakang Segala Jaka memang tak pernah menghilangkan kebiasaannya itu," desis Sema Kuriang dalam hati.
"Ah... kebiasaan buruk. Tapi mau bagaimana lagi? Dia tak akan pernah bisa menghilangkannya...."
Dewa Tombak membatin, "Tak kusangka kalau Dewa Naga, Majikan Lembah Naga, akan hadir di sini. Ya, ya... siapa pun akan menyambangi kematian pendekar besar seperti Pendekar Lontar."
Saat itu Dewa Naga sudah berdiri di samping kanan sosok Pendekar Lontar yang terbujur kaku. Sepasang mata tajam si kakek yang memperlihatkan Sinar kewibawaan kendati kalau bicara asal saja, memperhatikan sekujur tubuh Pendekar Lontar. Saat lain mulutnya terlihat berkemak-kemik di saat tangan kanannya digerakkan di atas tubuh Pendekar Lontar. Sisik-sisik hijau pada wajahnya semakin menyala.
Tak ada yang menahan apa yang dilakukannya. Mereka tahu, kalau Dewa Naga yang memiliki kesaktian luar biasa itu, sedang mencari penyebab kematian Pendekar Lontar.
Kemudian terlihat tangannya bergetar. Dia buka Suara, "Aku tak
percaya kalau dia tewas tanpa ada penyebabnya...."
Kata-katanya itu membuat orang-orang yang berada di sana, termasuk Dewi Lontar jadi membuka mata lebih lebar. Mereka melihat tangan kanan Dewa Naga semakin bergetar, tepat pada jantung Pendekar Lontar.
"Aku mencurigai ada sesuatu di jantungnya, yang menyebabkannya meninggal...."
"Kakang Segala Jaka...," kata Gala Kuriang salah seorang dari Dua Serangkai Jubah Hijau, "Apakah kau berpendapat kematian Pendekar Lontar tidak wajar?"
"Brengsek! Jangan ganggu aku kalau aku sedang mencari sesuatu, hah?! Kau ingin wajahmu kuhantamkan ke tembok?!" maki Dewa Naga keras.
Gala Kuriang tidak tersinggung dengan ucapan itu. Dia justru menutup mulutnya.
"Aku yakin, Pendekar Lontar mati tidak wajar. Tetapi aku tidak tahu apa penyebabnya. Semua orang tahu, kalau dia memiliki ilmu 'Raga Pasa'. Boleh dlkatakan, kalau orang yang membunuhnyaini memiliki limu yang tinggi dan aneh. Bisa juga kalau dia
mempergunakan sesuatu untuk membunuhnya."
"Kalau kau sudah tahu, mengapa kau katakan dia meninggal tidak wajar?" tanya Dewa Tombak.
Dewa Naga melotot padanya.
"Orang bulat banyak omong! Aku bukan ahli penyakit dan juga bukan ahli obat! Yang bisa menerangkan semua ini hanya Dewa Segala Obat!"
"Aku telah menjumpainya dan memintanya datang ke sini...."
"Bagus! Tapi, mengapa dia belum juga datang?!"
"Dewa Segala Obat selalu tepati janji. Kalaupun dia terlambat datang, mungkin ada sesuatu yang menghambatnya. Tetapi aku yakin, dia pasti datang."
Justru yang datang kemudian, dua orang lelaki berwajah tirus. Kedua lelaki ini diperkirakan berusia sekitar enam puluh tahunan. Tampang mereka sadis dan angker. Yang berambut panjang tetapi botak di tengah, memiliki mata tajam mengerikan. Tak berkumis, tetapi berjenggot yang dikepang. Mengenakan pakaian hitam dengan rompi biru. Di pergelangan tangannya yang kurus terdapat gelang-gelang hitam hingga batas lengan.
Sementara yang seorang lagi, mengenakan pakaian panjang dengan jubah hitam. Lebih tinggi dari yang satunya lagi. Tatapannya pun tajam, dengan kelopak mata agak menurun. Kepalanya plontos, dan terdapat tanda matahari tepat di ubun-ubunnya.
Masing-masing orang yang berada di sana memandang tidak enak akan kehadiran keduanya. Mereka mengenal kedua tokoh itu. Yang berjenggot dikepang berjuluk Iblis Penghancur Raga, sementara yang seorang lagi berjuluk Iblis Telapak Darah. Kedua orang ini dikenal sebagal orang sesatyang menguasai daerah timur.
Iblis Penghancur Raga mengedarkan pandangannya ke orang-orang yang berada di sana. Begitu tertumbuk pada mata Dewa Naga, dia kelihatan berusaha untuk tidak menatapnya lebih lama.
"Keparat! Kupikir kakek sialan itu tidak hadir di sini!" makinya dalam hati. Lalu melangkah mendekati jenazah Pendekar Lontar. Ditatapnya jenazah itu dengan seksama. Dan tanpa sungkan dia memperlihatkan senyuman sinisnya. Lalu melakukan pertghormatan tiga kali. Lalu mundur.
Iblis Telapak Darah ganti melakukan penghormatan yang sama. Tetapi sambil
berkata, "Kehebatanmu ternyata tak seberapa, Pendekar Lontar. Kau yang selama ini dikenal sebagai orang sok suci yang selalu lancang mencampuri urusan orang, akhirnya pun mampus juga...."
Kata-kata sinis Ibiis Telapak Darah membuat muka Dewi Lontar memerah. Tetapi perempuan Jelita yang sedang menggendong Boma Paksi yang masih tertidur, segera tindih amarahnya. Dia tahu, kalau tiga bulan yang lalu, Ibiis Penghancur Raga dan iblis Telapak Darah pernah dikalahkan suaminya di Lembah Air Mata. Dan dapat dipastikan kalau keduanya datang untuk mencari gara-gara.
Tetapi Sema Kuriang tak menyukai kata-kata iblis Telapak Darah.
"Ada seekor kucing yang hendak berubah menjadi harimau, tetapi sampai kapan pun tak akan pernah bisa terjadi walaupun sudah diupayakan seperti apa pun. Keberaniannya tak akan ada meskipun dia telah berubah menjadi harimau. Karena masih ada harimau sesungguhnya yang siap menerkamnya...."
Sindiran halus Sema Kuriang membuat iblis Telapak Darah seketika menoleh. Lelaki berjubah hitam ini sudah hendak buka mulut menyemprot, tetapi tangannya dijentik oleh ibiis Penghancur Raga.
Mengerti maksud dari Iblis Penghancur Raga kalau di sana ada Dewa Naga yang sedang melotot pada mereka, iblis Telapak Darah menelan bulat-bulat kejengkelannya.
Iblis Penghancur Raga berkata pada Dewi Lontar, "Dewi Lontar... kuhaturkan ucapan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kematian suamimu. Terus terang, kami hadir dengan membawa persahabatan dalam. Tak ada dendam sedikit pun di hati kami kendati pernah dikalahkannya di Lembah Air Mata...."
Kendati tak mempercayai kata-kata Iblis Penghancur Raga, Dewi Lontar mengangguk.
"Terima kasih kuucapkan atas kesediaanmu menyambangi jenazah suamiku...."
Iblis Telapak Darah berkata, "Suamimu adalah seorang tokoh besar yang pernah hidup di zaman in!. Sayang, usianya sangat pendek. Padahal, masih banyak yang bisa dilakukannya...."
"Siapa pun tak akan bisa menentang ajal...," kata Dewi Lontar sopan.
Iblis Telapak Darah menganggukkan kepalanya.
"Ya, siapa pun tak akan bisa menentang ajal. Maafkan kami... kami tak
bisa tinggal lebih lama di sini. Sekali lagi, kami turut berduka cita sedalam-dalamnya...."
Setelah itu, keduanya melangkah keluar dengan kepala terangkat, angkuh. Iblis Telapak Darah melirik Sema Kuriang penuh amarah yang dibalas oleh Sema Kuriang tak kalah garangnya.
Sepeninggal keduanya, Dewa Tombak berkata, "Sejak tadi kita memikirkan penyebab kematian Pendekar Lontar. Tak seorang pun yang memungkiri kalau sesungguhnya ini sudah panggilan Tuhan. Tetapi, kita wajib berusaha untuk mengetahui segala penyebabnya. Untuk itu... aku bermaksud untuk menjemput Dewa Segala Obat. Mungkin dia mendapatkan satu halangan hingga terlambat hadir di sini. Padahal, dia su-dah berjanji padaku...."
Dewi Lontar sebenarnya ingin melarang, karena dia tak mau kematian suaminya menjadi urusan yang panjang. Baginya, suaminya memang sudah diberikan umur yang cukup oleh Sang Pencipta. Dan bila Dia menghendakinya untuk pulang, bukan hanya suaminya yang tak dapat menolak, siapa pun orangnya tak akan mungkin bisa menghindari keadaan itu.
Gala Kuriang berkata, "Dewa Tombak... kau adalah sahabat terdekat dari Pendekar Lontar. Akan lebih baik bila kau tetap berada di sini menemani Dewi Lontar. Sebaiknya, biar kami saja yang menjemput Dewa Segala Obat...."
Bukannya Dewa Tombak yang menyahut, Dewa Naga yang berkata, "Brengsek! Apa kau pikir kehadiranku di sini tidak akan jadi lebih baik? Benar-benar ingin..."
Bruuutt!
Kata-kata Dewa Naga terputus karena pantatnya sudah berbunyi lagi. Sekali lagi sisik hijau pada wajahnya berubah menjadi merah. Tetapi dia justru mengangkat dagunya tinggi-tinggi seraya berkata,
"Daripada kutahan jadi uban, kan lebih baik kulepas saja?"
Baik Dewa Tombak maupun Dua Serangkai Jubah Hijau tak menghiraukan selorohannya. Tetapi Dewi Lontar tersenyum. Perempuan perkasa yang sedang berduka itu, merasa agak terhibur dengan ulah si kakek muka lonjong yang penuh sisik hijau.
Lalu penuh duka, dltatapnya jenazah suaminya. Ada keinginan kuat yang mendorongnya untuk memeluk jenazah Itu. Tetapi ditahan sebisanya.
"Suamiku... mungkin hanya Sang Penguasa Jagat dan kau sendiri yang mengetahui penyebab kematianmu. Tetapi mungkin pula kau tak mengetahuinya. Semula... aku tak mempedulikan keadaan itu, karena kau tentunya tahu bila ada satu serangan gelap yang datang. Hanya saja... kata-kata Dewa Naga tadi, mengubah keyakinanku. Aku mencurigai kematianmu, suamiku...," katanya dalam hati.
Dewa Tombak berkata pada Gala Kuriang, "Bila kalian berkenan melakukannya, silahkan."
Dua Serangkai Jubah Hijau sama-sama menganggukkan kepaia.
Dewa Naga berkata setelah mendengus, "Gala Kuriang! Bila kau sudah berjumpa dengan Dewa Segala Obat dan masih memiliki waktu, kuminta kau mendatangi Menara Berkabut"
Kata-kata bernada perintah dari Dewa Naga itu bukan hanya mengejutkan Gala Kuriang saja, tetapi orang-orang yang berada di sana. Siapa pun tahu, Menara Berkabut adalah sebuah tempat yang penuh dengan misteri. Bahkan tempat itu seolah telah melegenda karena kemisteriusan dan keangkerannya. Kalaupun Dewa Naga memerintahkan Dua
Serangkai Jubah Hijau untuk mendatangi Menara Berkabut, tentunya ada sesuatu yang dimaksud.
Tetapi dengan konyolnya si kakek muka lonjong penuh sisik hijau itu justru nyengir, "Eh... tidak usah saja, deh! Tidak usah! Cepat kalian pergi dari sini! Kalau bisa, selekasnya membawa orang tua pikun berjuluk Dewa Segala Obat itu!" Lalu sambungnya sambil menggeleng gelengkan kepala seperti ditujukan pada dirinya sendiri, "Heran! Sudah sedemikian tua... kenapa dia masih hidup juga, ya?"
Kendati demikian, masing-masing orang merasa pasti kalau Dewa Naga mengetahui sesuatu. Tetapi seperti yang mereka ketahui, Dewa Naga adalah seorang tokoh yang selain memiliki kesaktian tinggi juga memiliki sifat angin-anginan. Dan bila ada orang yang berani mendesaknya, bisa jadi mulutnya sudah mencong tanpa orang itu tahu apa penyebabnya!
Mendadak dia membentak, "Hei, Kenapa kalian masih berada di sini?! Tadi kalian yang mau untuk pergi menemui Dewa Segala Obat! Sekarang masih diam di sini kayak kambing ompong! Ayo, sana pergi! Kalau tidak... kujitak kepala kalian!"
Sesungguhnya, sikap Dewa Naga tidaklah tepat. Karena saat ini suasana sedang berkabung tengah melanda rumah besar itu. Tetapi dia masih bersikap semau jidatnya saja. Karena memang begitulah sifatnya. Hanya saja, janganlah sekali-sekaii memancing amarahnya!
Dua Serangkai Jubah Hijau segera mengangguk dan melangkah keluar.
"Brengsek!" dengus Dewa Naga. Lalu diarahkan pandangannya pada Dewi Lontar yang masih menggendong putranya yang tetap tertidur. Mulut Dewa Naga hendak membuka, tetapi mendadak saja dia melongo. Seperti melihat sesuatu yang baru, kakek muka lonjong ini terdiam dengan muiut ternganga.
"Ada apa, Orang Tua?" tanya Dewi Lontar pelan.
"Busyet! Astaganaga! Benar-benar astaga! Dewi Lontar... bocah siapakah yang sedang kau gendong itu?"
"Dia adalah putraku, Orang Tua."
"Siapa namanya?"
"Boma Paksi."
"Nama yang bagus. Berapa usianya?"
"Jalan lima tahun...."
"Gila! Sudah hampir lima tahun? Dan selama ini aku tidak tahu kalau kau dan
Pendekar Lontar sudah mempunyai anak sebesar itu? Benar-benar busyet! Ke mana aku selama ini?"
"Kau memang tidak ke mana-mana... tetapi asyik menggoda janda dusun sebelah," sahut Dewa Tombak.
Dewa Naga mendengus. Matanya mendadak tajam memerah.
"Kakek buntal! Kau terlalu banyak omong! Ingin perutmu kukempeskan?!"
Dewa Tombak hanya mengangkat bahunya saja, tak acuh.
Dewa Naga kembali memandang Boma Paksi yang masih tertidur.
"Astaganaga!" desisnya dalam hati. "Bertahun-tahun aku mencari seorang bocah yang pada punggungnya terdapat gambar seekor naga hijau. Bertahun-tahun pula aku dibingungkan oleh mimpiku mengenai bocah itu. Dan tidak tahunya, bocah itu terlahir dari rahim Dewi Lontar yang merupakan perpaduan dengan Pendekar Lontar. Nasib baik, walaupun hari buruk. Tak perlu lagi aku melangkah jauh, melanglang buana melewati sebagian jagat untuk mencari bocah itu. Kini sudah terpampang di depan mata...."
Dewi Lontar tahu ke mana tatapan Dewa Naga ditujukan. Tetapi perempuan jelita ini tak menghiraukannya.
Dilihatnya si kakek muka lonjong hendak membuka suara dengan kedua mata masih tak berkedip.
Namun urung dilakukannya, karena pada saat itu Sema Kuriang melangkah masuk. Dewa Naga sudah mau membentaknya, tetapi didahului oleh Sema Kuriang yang berkata tenang, "Ada orang yang hendak tunjuk ilmu di sini Markuto dan Gerada tewas dengan leher putus"
* * *-



Raja Naga - Tapak Dewa Naga 2

| | |
3
DISAAT Sema Kuriang mengatakan keadaan Markuto dan Gerada, saat ini Gala Kuriang sedang menyipitkan matanya ke depan. Dalam keremangan malam dia melihat satu sosok tubuh kontet sedang melangkah ke arahnya.
Dari menyipitkan matanya, mendadak saja sepasang mata lelaki setengah baya yang pada keningnya terdapat cebuah tahi lalat, membesar. Saat itu pula dia merasa tegang.
"Hantu Sejuta Setan!" desisnya pelan dan dia berusaha untuk menenangkan perasaannya.
Orang kontet yang ternyata seorang perempuan itu makin lama makin mendekat. Langkahnya santal saja, seperti tidak tergesa ataupun memburu waktu. Tak lama kemudlan, dia telah tiba di hadapan Gala Kuriang.
Sosok perempuan Ini lebih pendek dari Dewa Tombak. Wajahnya dipenuhi keriput dan berkulit hitam. Semakin kelam karena pakaian yang dikenakannya pun berwarna hitam, panjang hingga ke mata kaki. Dan terbetah hingga batas dengkul. Memperlihatkan sepasang kaki hitam yang keriput. Kepalanya bulat dengan rambut panjang acak-acakan hingga pinggul. Hidungnya juga bulat dengan bibir lebar tanpa gigi, Yang mengerikan dari sosoknya adalah sepasang boia ma-tanya, yang menyala-nyala merah.
"Kudengar kabar.... Pendekar Lontar sudah mampus!" kata Ratu Sejuta Setan dengan suara cempreng. Kepalanya agak ditengadahkan saat menatap tajam pada Gala Kuriang.
Yang ditatap kembali menindih gentarnya. Siapa pun sudah mengenal sepak terjang ganas dari perempuan kontet ini. Lalu dengan sikap tenang, Gaia Kuriang menganggukkan kepalanya.
"Kabar yang kau dengar tidak salah. Dan sungguh menakjubkan, kalau dari tempat ini kabar itu menyebar ke tempatmu yang sangat jauh."
Perempuan kontet itu mendengus.
"Minggir! Aku ingin lihat lelaki yang selalu banyak tingkah itu!"
Sikap kurang ajar dan memandang enteng yang diperlihatkan Ratu Sejuta Setan, membuat Gala Kuriang menjadi geram. Saat itu pula kegentarannya lenyap.
"Siapa pun yang datang dengan maksud baik dan bertujuan semata-mata menyembangi Pendekar Lontar, pintu akan selalu terbuka. Tetapi muncul dengan memperlihatkan tingkah tengik dan tangan telengas, apakah masih dapat dibukakan pintu lebar-lebar untuk kehadirannya?!"
"Keparat, Apa yang kau maksudkan dengan tangan telengas itu, Gala Kuriang?!"
Gala Kuriang menunjuk mayat Markuto dan Gerada yang telah terpisah dari kepala masing-masing.
"Apakah kau mau memungkiri keadaan dengan melihat kedua mayat ini?"
Ratu Sejuta Setan lagi-lagi mendengus. Dia kembali berkata-kata, dan
karena tak memiliki gigi, pipinya jadi semakin kempot,
"Aku cuma ingin tahu kehebatan dua orang penjaga Ini! Menjadi penjaga Pendekar Lontar tentunya memiliki ilmu yang lumayan! Tapi dari jarak dua puluh tombak, keduanya tak mampu menghalangi lesatan angin yang kulepaskan!"
Makin mengkeiap Gala Kuriang meiihat tingkah Ratu Sejuta Setan, yang selain memancing amarahnya juga enak saja mengakui perbuatannya.
"Selama ini, aku tak pernah memandang rendah pada perempuan kontet berjuluk Ratu Sejuta Setan! Tetapi malam ini, kedatanganmu sungguh menaikkan amarah! Akulah yang menjadi penjaga pintu rumah duka ini!"
Sepasang boia mata perempuan kontet yang selalu menyala, mendadak bersinar terang. Merah pekat.
"Bagus kalau kau memutuskan untuk menjadi penjaga! Aku ingin lihat apakah kau mampu menghalangi langkahku, atau kau hanya menjadi orang ketiga yang malam ini kubunuh!"
Habis ucapannya, mendadak saja Ratu Sejuta Setan melingkarkan telunjuknya pada ibu jarinya. Dengan tiga jari
lainnya yang terentang, dia mendorongnya ke arah Gala Kuriang.
Gala Kuriang bukanlah anak kemarin sore. Dengan saudara kembarnya dia sudah cukup lama malang melintang di rimba persilatan. Dengan mudahnya dia dapat menghindari Sesatan sinar merah yang berbentuk lingkaran. Namun yang mengejutkannya, karena mendadak sontak sinar merah berbentuk lingkaran itu seperti sebuah bumerang berbalik arah!
Kali ini diiringi suara dengungan keras.
"Heiiiit!"
Gaia Kuriang terkejut dan cepat mengibaskan tangan kanannya. Serangkum angin besar memutuskan gerakan sinar merah berbentuk lingkaran Itu. Kalau blasanya gelombang angin berbenturan dengan tena-ga lain, akan menimbulkan letupan, ini justru tidak.
Gala Kuriang memang mampu memutuskan sinar merah berbentuk lingkaran milik Ratu Sejuta Setan. Tetapi yang terjadi kemudian, sinar merah itu justru membesar dan merangkum gelombang angin yang dilepaskan Gala Kuriang. Menyusul....
Wrrrrr!!
Desss!!
Gelombang angin itu menghantam dada pemiliknya sendiri yang terjengkang di atas tanah dengan keluhan tertahan.
Ratu Sejuta Setan menggeram.
"Kau belum pantas menjadi seorang penjaga! Bila kau tahu malu, seharusnya kau sudah menjadi petani di gunung-gunung!”
Lalu dengan enaknya Ratu Sejuta Setan masuk ke rumah duka. Dia langsung mengedarkan pandangannya pada orang-orang yang berada di sana. Begitu matanya berbenturan dengan tatapan Dewa Naga, perempuan kontet ini segera berkata,
"Rupanya Lembah Naga juga sudah kebagian berita hingga penghuninya perlu untuk datang! Padahal, seorang Pendekar Lontar tak patut didatangi oleh tokoh kenamaan!"
Lalu dengan santainya, perempuan kontet berpakaian hitam in! melangkah mendekat jenazah Pendekar Lontar. Dia tak memandang sebelah mata pada Dewi Lontar, Dewa Tombak, maupun Sema Kuriang.
Ratu Sejuta Setan tak melakukan gerakan apa-apa, hanya sedikit berjingkat untuk melihat jenazah Pendekar Lontar. Masih memandangi
jenazah dia berkata, "Tak kulihat Pusaka Pendekar Lontar ada di sisinya! Orangnya kini sudah mampus! Pusaka itu tentunya tak berguna lagi untuknya! Aku datang untuk mengambil pusaka itu!"
Tingkah menjengkelkan Ratu Sejuta Setan membuat Dewi Lontar menggeram. Perempuan yang masih menggendong Boma Paksi yang masih tertidur, segera berkata,
"Siapa pun yang datang dengan baik-baik untuk menyambangi suamiku, kuterima dengan tangan terbuka. Bila dia datang untuk memancing persoalan, silakan angkat kaki dari sini. Dan tunggu beberapa hari lagi bila tak puas dengan tindakan yang kulakukan!"
Ratu Sejuta Setan menyahut tanpa menoleh, "Tanpa suamimu lagi di sisimu, kau tak akan bisa berbuat banyak, Dewi Lontar. Selama ini, orang hanya meman-dang suamimu yang memiliki iimu tinggi! Sekarang, bila kau banyak tingkah, aku tak akan segan untuk menampar mulutmu sampai berdarah!"
Menggigil tubuh Dewi Lontar mendengar kata-kata yang menyakitkan itu. Dia sudah hendak bergerak, tetapi begitu melihat Dewa Tombak menggelengkan kepala, terpaksa dia surutkan niat. Hati
perempuan yang masih dilanda duka karena kematian suaminya, kini berbalur kemarahan tinggi terhadap Ratu Sejuta Setan.
Masih tanpa berbalik, perempuan kontet itu berkata lagi, "Kurasakan gerakanmu itu, Dewi Lontar! Tapi mengapa kau menahannya? Apakah kau sudah sadar kalau Kau tidak memiliki kemampuan apa-apa tanpa suamimu? Bagus kalau kau sudah menyadari hal itu! Itu artinya, kau sadar siapa dirimu sebenarnya! Sekarang, berikan padaku Pusaka Pendekar Lontar!"
Di akhir kata-katanya, Ratu Sejuta Setan membalilkkan tubuh. Bola matanya menghujam dalam pada bola mata bening Dewi Lontar. Dewi Lontar sesaat mengkelap mendengar ucapan si perempuan tua kontet. Tetapi dia tak buka suara. Hanya mengerahkan tenaga dalam, karena merasakan adanya gelombang tenaga yang mencoba menerjang kedua matanya.
Tiba-tiba terdengar dengusan Dewa Naga, keras. Disusul makiannya, "Perempuan kontet! Kau datang dengan sikap memuakkan! Ayo, tinggalkan tempat Ini sebelum kau kutendang sampai menggelinding!"
Tanpa mengalihkan pandangannya dari Dewi Lontar, Ratu Sejuta Setan menyahut
dingin, "Silang sengketa tak pernah kulakukan dengan orang Lembah Naga! Tetapi kalau malam ini hendak buka urusan, aku sudah siap menghadapi!"
"Eh! Brengsek kau ya?! Kau pikir kau ini siapa, hah? Sudah kontet, banyak lagak lagi! Kau mau tubuhmu kubuat lebih kontet, hingga kau akan dijadikan sebuah bola oleh anak-anak di sebuah dusun? Atau kau...."
Bruuut!
Pantat Dewa Naga berbunyi. Kali ini si kakek tak mempedulikan bunyi 'merdu’ itu. Dia berkata lagi, "Eh, tadi aku ngomong sampai mana ya? Makan nasi uduk, ya? Wah, bukan! O ya, kau ini masih mau hidup atau tidak?! Masih mau... waduh! Betul tidak sih memang itu yang mau kukatakan? Brengsek betul!"
Kali Ini Ratu Sejuta Setan segera memalingkan kepalanya. Dia mendongak dan memandang tajam pada Dewa Naga. Yang ditatap justru membelalakkan kedua matanya.
"Busyet! Kau mencoba mengerahkan tenaga dalam melalui matamu? Huh! Apa kau pikir kau sudah mampu melakukan hal itu, hah?!" gerutunya Jengkel.
Lalu seiring bunyi dari pantatnya lagi. mendadak saja sosok Ratu Sejuta
Setan terhuyung dua tindak ke belakang. Saat itu pula darah merembas dari sela-sela bibir kempotnya. Kejadian yang tak disangka itu membuat gusar si perempuan kontet. Mulutnya terlihat berkemak-kemik tetapi tak ada suara yang keluar.
"Wah! Kau hendak perlihatkan ilmu sihirmu ya? Tak guna! Tak guna!" seru Dewa Naga dengan bibir mencibir. Lalu....
Bruuutt
Enak saja dia buang angin.
Sementara itu, Dewa Tombak menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak menyukai tindakan yang dilakukan Ratu Sejuta Setan. Datang-datang bersikap kurang ajar dan menginginkan Pusaka Pendekar Lontar. Dewa Tombak tahu, kalau Pendekar Lontar memiliki sebuah benda yang berbentuk gumpalan daun lontar. Menurut cerita Pendekar Lontar di kala masih hidup, gumpalan daun lontar yang sejak bertahun-tahun ada padanya tetapi masih tetap berwarna hijau segar, bila direndam ke dalam air, maka akan menyembuhkan penyakit apa pun juga. Dan bila dilemparkan ke arah lawan, setinggi apa pun ilmu lawan, maka tubuhnya akan
remuk terkena hantaman gumpalan daun lontar yang sebesar kepalan tangan.
Yang menjengkelkannya, suasana duka masih meliputi rumah itu, terutama hati Dewi Lontar.
Sebelum Ratu Sejuta Setan bersuara, kakek bertubuh buntal ini sudah berkata, "Perempuan kontet... di tempat ini, bukanlah tempat yang tepat untuk adu ilmu. Bila kau penasaran... aku bisa mewakili Dewa Naga...."
"Busyet! Orang buntal! Kau jangan sok jago ya? Kau pikir aku tak mampu menghadapinya?!" bentak Dewa Naga.
Dewa Tombak hanya mendengus, lalu melangkah keluar sambil membawa tombaknya. Langkahnya egal-egol.
Kata-kata Dewa Tombak sudah menggelegakkan darah Ratu Sejuta Setan. Dia berkata dulu pada Dewa Naga, Tingkahmu malam ini, akan kuingat terus"
Lalu serunya pada Dewi Lontar, "Bila dua puluh hari mendatang kau juga tidak menyerahkan pusaka itu, jangan salahkan aku bila kau akan segera menyusul suamimu!"
Kemudian dia melangkah menyusul Dewa Tombak keluar. Sema Kuriang sendiri segera menyusul karena merasa heran,
mengapa saudara kembarnya belum muncul juga.
Dewi Lontar yang dilanda gusar menarik napas dalam-dalam. Hati perempuan ini sangat masyguL. Hari Ini dia sedang berduka dalam karena kematian suaminya, tetapi tamu yang menyembangi suaminya justru bersikap menjengkelkan. Kendati demikian, Dewi Lontar dapat memaklumi kejadian itu. Karena dia tahu, begitu banyaknya orang-orang yang mendendam pada suaminya, bahkan mungkin, saat ini ada seseorang atau sekelompok orang yang sedang berpesta merayakan kematian suaminya.
Bruuutt!
Pantat Dewa Naga berbunyi lagi. Dia mendengus jengkel pada dirinya sendiri. Lalu berkata, "Kau tak perlu menghiraukan perempuan kontet itu! Biar Dewa Tombak menghajarnya! Tapi kalaupun Dewa Tombak kalah, biar saja! Toh itu sudah maunya sendiri!"
Dewi Lontar hanya tersenyum tipis. Lalu memandangi jenazah suaminya. Saat itu, putranya yang sejak tadi tertidur, terbangun. Sejenak bocah ini menggeliat. Lalu dia tersenyum pada Dewa Naga yang menganggukkan kepala, Lalu dengan wajah segar, seperti tidak terlihat kalau
sebelumnya dia lelap tertidur, bocah Itu turun dari pelukan ibunya.
Begitu meiihat ayahnya terbujur di atas dipan, dia segera melangkah diiringi tatapan sedih dari Dewi Lon-tar. Sejenak bocah yang pada punggungnya terdapat tato naga hijau memandangi ayahnya.
Dia menoleh pada ibunya.
"Ibu...mengapa sejak pagi Ayah tidak bangun-bangun juga? Mengapa tidurnya lama sekali?"
Dewi Lontar sesaat merasa sesak pada dadanya. Napasnya dirasakan putus. Tetapi sebagai perempuan perkasa dia masih dapat kendaiikan diri, kendati dia ingin berteriak sekeras-kerasnya, menumpahkan segala kepedihan di hatinya.
Lalu perlahan dia menjawab, "Boma.... Ayahmu bukannya tertidur...."
"Kalau tidak tertidur, mengapa Ayah tidak bangun juga?" tanya si bocah dengan kening berkerut.
Dewi Lontar lagi-lagi menahan gemuruh di hatinya. Dipandanginya wajah tampan putranya. Ketampanan yang diwarisi dari suaminya.
Sambli memaksakan sebuah senyum, Dewi Lontar menjelaskan apa yang telah terjadi pada ayah Boma Paksi. Dia
menjelaskan begitu lembut dan sejelas-jelasnya.
Bocah itu ternyata cerdik. Dia dapat memahami apa yang dikatakan ibunya. Tak ada tangisan apa-apa kecuali sepasang bola mata yang berkaca-kaca.
"Ketegaran bocah ini iuar biasa. Dia paham apa yang dikatakan ibunya, kalau dia tak akan pernah lagi melihat ayahnya mulai besok. Tetapi dia dapat bersikap tenang. Ah, rupanya... pencarianku selama bertahun-tahun memang harus kusudahi. Bocah itullah yang kucari selama ini, bocah yang hadir dalam mimpi-mimpiku. Tetapi... apakah Dewi Lontar mau menyerahkannya kepadaku?"
Dewa Naga yang membatin tadi, menggeleng-gelengkan kepala.
"Mungkin ini bukan saat yang tepat. Tetapi, aku harus memintanya. Aku merasa yakin, kalau jantung Pendekar Lontarlah yang menyebabkan kematiannya. Bukan karena penyakit, tetapi satu serangan yang dilakukan seseorang. Hanya saja, aku belum bisa memastikan, bagaimana Pendekar Lontar yang memiliki ilmu 'Raga Pasa' tidak mengetahui atau tidak dapat menghindar kalau dirinya diserang. Hemm... hanya Dewa Segala Obat yang mengetahui penyebabnya secara pasti..."
Sementara Itu, diluar telah terdengar suara teriakan disusul letupan berkali-kali. Saking kerasnya letupan itu, orang-orang yang berada di dalam rumah duka, agak bergetar karena lantai yang mereka pijak pun bergetar.
Dewa Naga menggeram.
"Brengsek betul Ratu Sejuta Setan itu!"
“Ibu...," panggil Boma Paksi dengan kening berkerut. "Apakah saat ini sedang terjadi gempa seperti lima bulan yang lalu?"
Dewi Lontar menggelengkan kepalanya.
“Tidak, Anakku. Tidak terjadi gempa apa-apa. Kau tak perlu menghiraukannya. Sekarang, menyembahlah pada jenazah ayahmu untuk terakhir kalinya...."
Boma Paksi masih mencoba merasakan letupan keras yang kembali terjadi, yang menyebabkan lantai yang dipijaknya bergetar. Lalu suara....
Glegaaarrr!
Mungkin tembok yang mengelilingi rumah itu sudah jebol. Entah akibat serangan siapa.
Lalu dengan sikap tak mempedulikan kejadian itu, bocah gagah yang pada kedua tangannya sebatas siku dipenuhi
sisik-sisik halus warna coklat, segera berlutut dengan merangkapkan kedua tangannya di depan dada. Dia berdoa khusuk, khusus untuk arwah ayahnya.
Kakek muka lonjong memperhatikannya tak berkedip. Samar-samar terlihat senyuman bibirnya. Sikapnya itu tak luput dari perhatian Dewi Lontar.
* * *

4

DILUAR rumah duka itu, Dewa Tombak sedang berusaha melayani serangan-serangan ganas yang dilancarkan Ratu Sejuta Setan. Berulang kali sinar-sinar merah melingkar yang dilepaskan perempuan tua kontet itu berhasil dihindarinya. Namun sinar-sinar merah itu justru berpentalan dan berbalik arah ke arahnya dengan ganas. Bahkan sinar-sinar merah lainnya naik ke atas, lalu muncrat menyebar dan laksana hujan mengguyur Dewa Tombak.
Tanah di mana sebelumnya Dewa Tombak berdiri, langsung meletup keras dan muncrat ke udara.
Mendapati setiap serangannya dapat dihindari oleh Dewa Tombak, perempuan kontet berpakaian hitam itu semakin ganas. Serangan demi serangannya terus diiancarkan, yang membuat Dewa Tombak mulai terdesak.
Kakek bertubuh gemuk ini pun muiai dibuncah kemarahan. Tetapi meskipun kemarahannya sudah tiba di ubun-ubunnya, Dewa Tombak tetap tertawa-tawa.
"Selama ini kudengar, Ratu Sejuta Setan memiliki ilmu yang sangat tinggi, hingga berani melanglang buana dengan ilmunya itu! Tetapi malam ini, aku melihat sesuatu yang sangat lain dari yang pernah kudengar!!"
"Terkutuk! Kau hanya bisa melompat-lompat seperti bola ditendang ke sana kemari!"
"Dan bola itu dapat menghindari permainan anak kecil yang kau perlihatkan!"
Ucapan Dewa Tombak semakin membuat keganasan Ratu Sejuta Setan kian menjadi-jadi. Kalau tadi sinar merah yang dilepaskannya muncrat ke atas dan turun laksana hujan, kali ini diiringi gemuruh angin lintang pukang.
Dewa Tombak yang sejak tadi terus menghindar, sesaat menahan napas melihat
ganasnya serangan lawan. Tombak birunya mendadak saja diputar yang kecepatan putarannya melebihi sebuah baling-baling. Diiringi gemuruh angin yang menderu-deru, bermuncratanlah sinar-sinar biru yang mengandung hawa panas.
Jlegaaarrr!
Bertemunya dua gelombang angin dahsyat itu menimbulkan letupan yang keras, diiringi muncratnya tanah keudara. Saking kerasnya lagi-lagi tempat itu seperti bergetar. Dinding tembok yang mengelilingi rumah duka, bagian depannya kontan roboh. Mengiringi letupan keras itu, bermuncratanlah sinar-sinar merah yang berbenturan dengan sinar-sinar biru. Malam pekat laksana dihiasi kembang api. Berulang-ulang.
Begitu muncratan sinar-sinar itu jatuh ketanah, terdengar letupan-letupan kecil. Namun akibatnya, tanah bermuncratan secara bersamaan!
Di tempatnya, Gala Kuriang yang masih menahan sakit, memandang tak berkedip pada Ratu Sejuta Setan. Saudara kembarnya yang kini tahu mengapa Gala Kuriang tidak segera masuk tadi, menyipitkan mata.
Gelegak amarah sudah terpampang di depan matanya.
"Gala Kuriang... nenek kontet itu sudah menunjukkan sikap yang tidak baik. Dia bukan hanya buka ucapan yang menyakitkan hati, terutama hati Dewi Lontar. Tetapi sekarang, dia justru menimbulkan keonaran di sini...."
Gala Kuriang menganggukkan kepalanya.
"Sikap Iblis Penghancur Raga dan Iblis Telapak Darah pun tak mengenakkan hati, tetapi mereka tak sampai menimbulkan keributan. Lain halnya dengan perempuan tua kontet satu ini."
Sema Kuriang melirik saudara kembarnya.
"Apakah kau tak ingin menuntut balas atas perlakuannya terhadapmu?"
Sesungguhnya Gala Kuriang sudah tak bisa menahan diri untuk membalas perbuatan Ratu Sejuta Setan tadi. Tetapi agaknya, lelaki setengah baya yang pada keningnya terdapat tahi lalat hitam, masih dapat mengendalikan amarahnya.
"Sebelum kedatangannya tadi, kita sudah menyetujui, untuk menjemput Dewa Segala Obat. Orang tua yang mengerti bermacam penyakit dan pemunahnya itu, harus tiba di sini sebelum matahari
sepenggalah besok pagi. Karena, upacara penguburan akan dilakukan besok. Bila ternyata dia tidak bisa datang ke sini, berarti kita tak punya rasa curiga lagi akan penyebab kematian Pendekar Lontar...."
"Dewa Naga sempat mengucapkan kata Menara Berkabut. Aku yakin, sesungguhnya kakek muka lonjong bersisik hijau itu sudah mencurigai sesuatu."
"Tetapi kau tentunya tahu akan sifat Kakang Segala Jaka. Orang itu memiliki sifat angin-anginan. Sudah tentu kita tak akan pernah mendengar apa yang diketahuinya... Kalaupun kita berhasil mendengar dari mulutnya, mungkin karena sifat baiknya lagi muncul...."
Sema Kuriang tak membuka mulut, dia melihat Ratu Sejuta Setan kembali melancarkan serangannya pada Dewa Tombak yang membalas dengan tombak birunya itu.
Lalu katanya pada saudara kembarnya, "Ya... sebaiknya kita segera menjemput Dewa Segala Obat...."
Kejap berikutnya, Dua Serangkai Jubah Hijau sudah melesat meninggalkan tempat itu. Gala Kuriang berlari dengan masih menahan rasa sakit.
* * *
Pertarungan sengit yang terjadi di depan rumah duka itu semakin mengganas. Ratu Sejuta Setan semakin menggila. Dia benar-benar jengkel karena setiap kali melancarkan serangan, setiap kali pula dapat dilumpuhkan oleh Dewa Tombak.
Bahkan, satu tendangan yang dilancarkan oleh Dewa Tombak, tepat mengenai perutnya, hingga perempuan tua kontet itu terjengkang.
Pakaian hitam yang dikenakannya tersingkap!
Dewa Tombak yang sudah hendak melancarkan serangan, justru menghentikan gerakannya. Saat lain dia berpaling sambll menutup mata dengan tangan kirinya.
"Astaga! Kau tidak pakai apa-apa di balik pakaianmu itu?! Astaganaga! Rumput keringmu hitam betul! Kupikir... kau tidak punya kue cucur seperti kebanyakan perempuan! Sudah peot kali, ya?! Duh! Baunya begitu busuk! Tidak pernah kau cuci apa tidak pernah disentuh pacul laki-laki?!"
Bukan kata-kata itu yang membuat Ratu Sejuta Setan semakin mengkelap. Tetapi tendangan yang bersarang telak pada perutnya yang seketika dirasakan
seperti diaduk-aduk tangan kasar. Sebenarnya dia cukup heran sekaligus terkejut, karena dia sama sekali tak melihat Dewa Tombak lepaskan tendangan.
"Hei, hei! Kau masih pamerkan kue cucurmu tidak? Cepat tutupi! Nanti keburu banyak lalat!"
"Terkutuk!" maki Ratu Sejuta Setan geram. Paras hitamnya nampak semakin menghitam. "Kakek gemuk keparat! Untuk saat ini, kuputuskan untuk menghentikan pertarungan! Tetapi tak akan pernah kulupakan kejadian ini!"
Masih berpaling dan menutupi kedua matanya dengan telapak tangan kirinya, Dewa Tombak berseru,
"Tidak melupakan ya tidak melupakan! Tapi kau sudah menutupi belum? Baunya sungguh tak sedap nih!"
"Setan buntal! Selama dua puluh hari di muka, kau masih kuberi kesempatan hidup! Katakan pada Dewi Lontar, bila dia tak menjumpaiku di Tanah Terbuang, dia tak akan pernah menikmati cahaya matahari pada hari kedua puluh satu! Demikian pula denganmu!"
"lya, iya! Tapi... kau sudah menutupi kue cucur hangus itu apa belum?!" seru Dewa Tombak keras.
Ratu Sejuta Setan merutuk sehabis-habisnya mendengar kata-kata Dewa Tombak. Tetapi perempuan kontet ini tak melakukan serangan. Sedikit banyaknya, dia dapat menduga kalau dia akan sulit menghadapi Dewa Tombak.
"Sambil menunggu dua puluh hari di muka, sebaik nya aku ke Menara Berkabut. Aku yakin, dialah yang telah membunuh Pendekar Lontar...."
Habis membatin demikian, dengan membawa sejuta kemarahannya, perempuan tua kontet berkulit hitam legam itu sudah melesat menjauh.
Dewa Tombak yang mendengar lesatannya berseru, "Heiii! Bau busuknya masih tertinggal, nih?! Kau harus mensucikan kembali tempat ini dari bau kue cucurmu!!"
Ratu Sejuta Setan tak menghiraukan seruan ejekan itu. Dia mendesis berulang-ulang, "Kau akan menerima balasannya... kau akan menerima balasannya...."
Di tempatnya, Dewa Tombak hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa.
"Dua puluh hari di muka... perempuan kontet itu tentu akan menjalankan janjinya.... Hemm. rasanya, aku tak
perlu menyampaikan urusan ini pada Dewi Lontar. Biarlah aku yang akan datang ke Tanah Terbuang pada hari kedua puluh."
Habis membatin demikian, kakek bertubuh bulat berpakaian biru ini memperhatikan mayat Markuto dan Gerada yang tanpa kepala. Ada kepedihan di hatinya. Lalu sambil menarik napas pendek, dia muiai menggali makam untuk keduanya dengan tombak birunya.
Di dalam rumah duka, Boma Paksi masih berlutut dihadapan jenazah ayahnya. Dewa Naga masih memperhatikan tak berkedip. Matanya yang bersinar merah berwibawa dalam, seperti mengandung kekuatan yang tak bisa dihindari.
Lalu tanpa menoleh pada Dewi Lontar, kakek muka lonjong penuh sisik hijau ini berkata, "Dewi Lontar... nampaknya Sang Pencipta telah melakukan satu pilihan utuh yang sangat sempurna. Pilihan yang telah dijatuhkan pada keluargamu....”
"Apa maksudmu dengan pilihan itu, Dewa Naga?"
"Bertahun-tahun lamanya aku bermimpi. Mimpi aneh yang membuatku semakin tak mengerti. Tetapi bertahun-tahun pula kupaksakan diri untuk mencari titik temu dari mimpiku
itu. Dan baru sekarang ini, kuhentikan semua pencarianku...."
"Aku sama sekali tak mengerti apa yang kau maksudkan, Dewa Naga?"
"Dewi Lontar... aku tak tahu, apakah kau tahu makna dari tato naga hijau yang terdapat pada punggung putramu atau tidak. Tetapi, bocah dengan gambar tato seekor naga hijau pada punggungnya, yang dlbawa sejak lahir itulah yang selalu datang dalam mimpi-mimpiku...."
Kening Dewi Lontar berkerut. Dia melirik Boma Paksi yang masih berlutut di samping jenazah suaminya.
"Aku belum mengerti...."
"Memang sulit bila kujelaskan," kata Dewa Naga. Ketika dia hendak menyambung, dia urung. Karena...
bruuutt!
"Busyet! Nih pantat tidak bisa diajak diam?!"
Dewi Lontar hanya memperhatikan.
"Kesaktian yang dimilikinya tiada banding. Sulit mencari tandingan tokoh satu ini. Tetapi sifat angin-anginannya masih saja terlihat," katanya dalam hati.
"Menjelaskannya saat ini pun, bukan saat yang tepat. Tetapi telah kubulatkan tekad, bila aku berjumpa dengan bocah
yang hadir dalam setiap mimpiku... aku akan mengangkatnya menjadi seorang murid."
Mendengar kata-kata Dewa Naga, kepala Dewi Lontar terangkat. Sepasang mata perempuan perkasa itu membulat dan mengerjap-ngerjap. Dia tahu arah ucapan si kakek berjubah merah.
"Dewa Naga... aku dan suamiku pernah berangan-angan, bila putra kami sudah berusia enam tahun, maka dia mulai kami gembleng untuk mewarisi segala ilmu yang kami miliki. Kendati suamiku sudah tiada. aku tetap akan mewujudkan angan-angan kami itu. Jadi...aku pikir, biarlah putraku, si Boma Paksi tetap bersamaku...."
"Aku tak pernah memaksa. Bila kau tak menyetujuinya... aku akan menurut saja...."
"Terima kasih atas pengertianmu...."
"Satu hal yang harus kukatakan sebelum kutinggalkan tempat ini... adalah tentang penyebab kematian suamimu. Mungkin Dewa Segala Obat yang dapat menjelaskan lebih rinci. Tetapi telah kutangkap sesuatu yang tak mengenakan, sesuatu yang menyesakkan dada...."
Terbuka kedua mata Dewi Lontar.
"Dewa Naga... apakah yang kau maksudkan, kalau suamiku tewas dibunuh seseorang?"
"Ya! Pada balik jantungnya, terdapat sebuah titik hitam yang telah menghanguskan sebagian jantungnya. Jantung bagian atas masih utuh dan tetap normal, tetapi bagian bawahnya telah menghitam. Aliran darah tak bisa mengalir secara sempurna. Dan aku yakin, suamimu tewas tanpa mengetahui apa penyebabnya. Itulah yang agak kusesali sebenarnya, selain kematian yang merenggut nyawa suamimu...."
"Kau tahu apa penyebabnya?" Dada perempuan perkasa itu bergetar.
"Hanya Dewa Segala Obat yang bisa menerangkannya...," sahut si kakek muka lonjong. Lalu sambungnya, "Kendati begitu... aku tahu siapa yang telah melakukannya...."
"Okh! Kau tak mau mengatakan penyebab kematiannya, sekarang, apakah kau juga tidak mau mengatakan siapa yang telah melakukannya?"
"Aku menginginkan putramu menjadi muridku. Karena, niat telah kucanangkan. Bila aku mendustai apa yang selama ini kucari... berarti aku tak pernah
menghargai diriku sendiri... Satu hal yang perlu kuceritakan padamu. Sisik yang ada pada tubuhku ini bermula setelah aku menguasai ilmu-ilmu naga. Sisik ini bertumbuhan dan semakin lama semakin jelas. Tetapi sisik-sisik coklat pada kedua tangan putramu sebatas siku telah dibawanya dari lahir. Dewi Lontar... aku telah berniat untuk menggembleng putramu. Karena... dialah satu-satunya orang yang tepat untuk kujadikan sebagai penerus ilmu yang kumiliki."
Kata-kata Dewa Naga membuat Dewi Lontar terdiam. Perempuan perkasa ini diliputi kebimbangan dalam. Di satu segi, dia ingin sekali mengetahui penyebab kematian suaminya dan siapa orang yang telah melakukannya. Tetapi di segi lain, dia tak mau berpisah dengan putranya. Apalagi sekarang, dia hanya memiliki Boma Paksi seorang.
Lalu dengan membesarkan hati dia berkata, "Maafkan aku... aku terpaksa memilih untuk tidak mengetahui siapakah orang yang telah membunuh suamiku."
"Itu lebih baik!" suara Dewa Naga terdengar agak serak.
"Dan aku berharap, Dewa Segala Obat mau mengatakannya."
"Mudah-mudahan...."
"Sayangnya, aku merasa tak bisa menghargaimu lagi...."
"Itu hakmu. Dewi Lontar, aku terpaksa pamit sekarang. Aku tak bisa menghadiri pemakaman suamimu besok. Tiba-tiba saja aku merasa sedih, karena kau menolak permintaanku...."
"Maafkan aku, Orang Tua..."
Dewa Naga tak menjawab. Dibalikkan tubuhnya dan hendak melangkah.
"Kakek" panggilan si kecil itu urungkan niatnya melangkah.
Dewa Naga tak berpaling.
"Ada apa?"
"Hendak ke manakah kau?" tanya si kecil Boma Paksi.
"Aku akan kembali ke Lembah Naga."
"Besok ayahku akan dimakamkan, kau tak ingin hadir dalam upacara pemakamannya?"
"Aku tak biasa melakukan hal itu."
"Mengapa?"
"Karena aku memang tak biasa melakukannya."..," sahut Dewa Naga, lalu melangkah keluar.
Dewi Lontar merangkul putranya yang mencoba memanggil si kakek muka lonjong.
"Biarkan dia, Boma."
"Ibu... aku menyukai kakek itu. Dia lucu. Pantatnya selalu berbunyi terus.
Mukanya memang galak tetapi dia baik hati. Aku dapat merasakannya, Ibu. Pada wajah dan tubuhnya ada sisik hijau!"
"Ibu pun menyukainya," sahut Dewi Lontar sambil mengangguk. "Tetapi seperti yang dikatakannya tadi, dia mungkin memang tak biasa menghadiri upacara pemakaman...."
"Padahal, aku mau ikut dengannya, Ibu...."
Dewi Lontar tercekat mendengar kata-kata putranya. Sesaat dipandanginya wajah tampan Boma Paksi. Lalu hati-hati diliriknya tato naga hijau yang terdapat pada punggung putranya, yang telah ada sejak dia dilahirkannya.
"Mungkin... kelak kau akan ikut dengannya, Boma.... Tetapi untuk saat ini... sebaiknya kau menemani Ibu saja."
Boma Paksi tersenyum.
"Ibu... sampai kapan pun aku akan menemani Ibu. Aku akan menjaga Ibu. Ayo kita berdoa untuk Ayah...."
Sementara kedua ibu dan anak itu berlutut di samping jenazah orang yang mereka cintai, Dewa Naga sedang mendengus tatkala berpapasan dengan Dewa Tombak yang sedang melangkah masuk.
Pertanyaan Dewa Tombak tak disahutinya sama sekali. Tetapi pantatnya berbunyi.
Bruuuttt
Dewa Tombak menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu masuk ke dalam. Dia melihat Dewi Lontar sedang berdoa khusuk bersama bocah gagah berusia lima tahun itu.
Ditunggunya beberapa saat sampai Dewi Lontar menyadari lagi kehadirannya. Perempuan jelita yang berkalungkan rangkaian daun lontar itu meliriknya sejenak, lalu kembali menatap putranya yang masih khusuk berdoa.
Dewa Tombak berbisik, "Mengapa orang tua bersisik itu kelihatan gusar?"
Dewi Lontar sejenak menatap kakek gemuk di sampingnya. Lalu diceritakan apa yang kira-kira membuat Dewa Naga kecewa.
Dewa Tombak hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan istri mendiang Pendekar Lontar.
"Yah... siapa pun pasti akan merasa kecewa bila keinginannya ditolak. Terutama, setelah memastikan kalau dia akan mengangkat seseorang menjadi murid, yang dapat diharapkan sebagai pewaris dari seluruh ilmu yang dimilikinya."
* * *


Raja Naga - Tapak Dewa Naga 3

| | |
5
MALAM terus beranjak, keheningan tetap terjaga. Dua pertiga perjalanan malam telah terlampaui. Dua bayangan kuning terus berkelebat. Saat berkelebat cepat, masing-masing orang yang di punggung terdapat jubah warna hijau itu tak ada yang buka suara. Mereka bukan lain adalah Dua Serangkai Jubah Hijau. Kendati mereka masih memikirkan tingkah Ratu Sejuta Setan, tetapi mereka merasa yakin kalau Dewa Tombak dapat mengatasinya. Lagi pula, di sana masih ada Dewa Naga yang meskipun memiliki sifat angin-anginan namun tak seorang pun yang menyangkal kesaktian yang dimilikinya.
Dua Serangkai Jubah Hijau sengaja mempergunakan ilmu lari mereka hingga yang nampak hanyalah bayangan belaka. Mereka berharap, sebelum malam punah, mereka sudah tiba di kediaman Dewa Segala Obat.
Tetapi, dua sosok tubuh yang berdiri sejarak dua puluh langkah dari saat mereka berlari, membuat keduanya sating
pandang. Semakin dekat, mereka mengenali siapa dua lelaki yang berdiri menghadang itu. Dan mau tak mau keduanya harus menghentikan lari.
Baru saja mereka menghentikan lari dan berdiri sejarak sepuluh langkah dari keduanya, lelaki berusia sekitar enam puluh tahun yang kepalanya botak ditengah tetapi rambut lainnya panjang tergerai ke belakang, sudah keluarkan dengusan.
"Beberapa saat lalu, bukanlah saat yang tepat untuk unjuk gigi! Tetapi di sini, tanpa sosok Dewa Naga maupun Dewa Tombak, kegatalan tanganku harus segera dihentikan!"
Dua Serangkai Jubah Hijau berpandangan. Sema Kuriang berkata dingin, "Iblis Penghancur Raga! Kalau kau merasa beberapa saat lalu, tepatnya di rumah mendiang Pendekar Lontar, kau memutuskan untuk tidak cari keributan, kami juga memutuskan, saat ini pun bukan saat yang tepat untuk melakukannya!"
Lelaki yang jenggotnya dikepang itu menggeram. Tangan kurusnya yang terdapat gelang-gelang hitam menuding ke arah Sema Kuriang.
"Malam sebentar lagi berlalu! Aku ingin menikmati kematian kalian sebelum pagi datang!"
Kata-kata lelaki berompi biru yang memang Ib;is Penghancur Raga membuat dada Sema Kuriang dilanda amarah. Tatapannya menyipit dan siratkan keangkeran. Tetapi mengingat dia dan saudara kembarnya harus segera menemui Dewa Segala Obat, Sema Kuriang berusaha agar tidak terjadi pertikaian sekarang.
"Tak pernah terpikirkan saat ini aku atau saudara kembarku akan tewas! Tetapi bila memang ajal telah diturunkan oleh Sang Kuasa, tentunya tak akan bisa ditolak! Hanya saja... tangan maut yang kau turunkan, bisa-bisa. kembali pada dirimu sendiri!"
Lelaki berjubah hitam berkepala plontos, dan terdapat tanda matahari tepat di ubun-ubunnya, angkat bicara, "Iblis Penghancur Raga! Mengapa harus berlama-lama lagi! Siapa orang yang kau pilih untuk kau bunuh saat ini?!"
"Aku memilih orang yang banyak omong itu!"
Habis ucapannya, lelaki berjenggot dikepang itu sudah menggebrak ke arah Sema Kuriang. Dari gelombang angin yang mendahului lesatan tubuhnya, jelas kalau
dia sudah mengerahkan setengah dari tenaga dalam yang dimilikinya.
Sema Kuriang menjerengkan matanya. Mulutnya merapat dingin. Saat itu pula dikibaskan kedua tangannya ke atas. Segera menggebrak satu pusaran angin yang menyeret dan membuat tanah membubung.
Iblis Penghancur Raga hanya mendengus. Tak surutkan kecepatannya. Begitu dekat, segera ditepukkan kedua tangannya.
Blaaaarr!
Letupan keras terdengar dan menyusul munculnya gelombang angin yang masuk dalam pusaran gelombang angin Sema Kuriang.
Blaaam! Blaaam! Blaaam!!
Tiga kali letupan terdengar keras disertai muncratan tanah ke udara. Tatkala sirap, terlihat masing-masing orang sudah mundur beberapa langkah.
Kalau Iblis Penghancur Raga berdiri dengan kepala terangkat angkuh, Sema Kuriang agak sempoyongan. Tangan kanannya memegang dadanya yang terasa sesak.
"Gila! Dia telah mengeluarkan ilmu 'Penghancur Raga'nya. Uh! Bila aku belum
tamengkan diri dengan hawa murni, entah apa jadinya!"
"Ilmu yang kau miliki tak seberapa! Tetapi kau sudah berani unjuk gigi di hadapanku".
Dengan memperlihatkan ketenangan, Sema Kuriang menyahut, "Kau baru melihat sebagian kecil dari ilmu yang kumiliki!"
"Bagus! Perlihatkan semuanya kepadaku!"
Bersamaan Iblis Penghancur Raga menggebrak kembali, lelaki berkepala plontos pun menerjang Gala Kuriang. Kedua telapak tangannya diangkat tinggi-tinggi saat menerjang dan mendadak diturunkan dengan cara menyentak.
Angin dibaluri asap merah melesat ke arah Gala Kuriang. Dengan cara yang dilakukan oleh Sema Kuriang tadi, Gala Kuriang berhasil memutuskan serangan lawan. Iblis Telapak Darah mundur dengan cara bersalto. Begitu kedua kakinya menginjak tanah kembali, tiba-tiba saja terlihat kedua telapak tangannya memancarkan sinar warna merah. Lalu terlihat tetesan darah dari sana. Angker dan menyebarkan bau busuk.
Gala Kuriang tahu, kalau lawan tak mau bertindak ayal. Maka dia segera putar
kedua tangannya ke atas. Lalu meletakkannya pada dada. Samar-samar terlihat sinar kuning menyelubungi dirinya.
"Huh! Ilmu picisan itu kau perlihatkan kepadaku!" bentak Iblis Telapak Darah.
Kejap kemudian dia sudah menerjang ke depan. Kedua telapak tangannya yang meneteskan darah, didorong ke atas. Sinar merah bergelombang muncrat. Mengeluarkan suara berdenging menggiriskan.
Tindakan yang dilakukan oleh Iblis Telapak Darah sesaat membuat kening Gala Kuriang berkerut. Dia masih tetap berdiri di tempatnya. Kejap berikutnya, lelaki berjubah hijau ini berteriak tertahan dan segera melompat dari tempatnya.
Karena muncratan sinar merah yang masih meneteskan darah mendadak meluncur ke arahnya, berkelok-kelok dengan suara berdenging-denging.
Jgaaarrr!!
Tanah di mana tadi Gala Kuriang berdiri, langsung retak lebar. Tempat sepi itu bergetar laksana hendak am bias ke bumi. Yang lebih mengejutkan lagi,
karena sinar merah yang meneteskan darah Itu mendadak muncrat kembali ke udara.
"Gila!" seru Gala Kuriang keras. Menyusul diputar tubuhnya membentuk pusaran cepat. Sinar kuning yang membaluti dirinya berpentalan menerjang sinar-sinar merah yang meneteskan darah.
Letupan beruntun terjadi berkali-kali.
Di pihak lain, Iblis Penghancur Raga terus mendesak Sema Kuriang yang kini tak berani berbenturan. Karena tadi dilihatnya. bagaimana sebatang pohon langsung menjadi debu tatkala telapak tangan kanan Iblis Penghancur Raga menyentuhnya.
Pertarungan sengit yang tak dapat dihindari, membuat tempat itu benar-benar dilanda kiamat. Dalam waktu singkat saja, tanah sudah banyak yang retak dan rengkah. Pepohonan sudah hangus menjadi debu hingga tempat itu kinl berubah menjadi tanah lapang yang porak poranda.
Saat ini Gala Kuriang sudah kewalahan. Kaki kanannya terhantam telapak tangan kiri Iblis Telapak Darah. Sakitnya tak tertahankan. Rasanya tulangnya patah dan menembus ke belakang. Tetapi Gala Kuriang masih coba
bertahan. Karena dia sadar, lengah sedikit saja berarti kematian.
"Sungguh menyenangkan karena kau akan mampus hari ini!" seru Iblis Telapak Darah sambil tertawa-tawa. "Kami hadir untuk membunuh Pendekar Lontar sebenarnya! Tetapi pendekar keparat itu sudah mampus! Dan kau telah membuat darah kami mendidih! Kau akan terbakar oleh didihan darah kami ini!"
Gala Kuriang tak menyahuti ejekan Iblis Telapak Darah. Dengan susah payah dia terus berusaha menghindari ganasnya serangan lawan. Namun dengan kaki kanan yang semakin sakit, terutama bila dia gerakkan, keadaannya menjadi lintang pukang dan tak menentu.
Sema Kuriang bukannya tidak mengetahui apa yang dialami oleh saudara kembarnya. Tetapi untuk menolong, rasanya agak sulit karena dia sendiri sudah masuk dalam lingkaran serangan Iblis Penghancur Raga.
Dia hanya bisa melompat menghindari maut yang diturunkan Iblis Penghancur Raga. Bahkan, dia sudah terdesak tatkala lelaki tua berjenggot dikepang itu masuk dengan kibasan tangan kanan dan kiri.
"Tak lagi kubayangkan betapa nikmatnya melihat kau mampus, karena ini adalah kenyataan sekarang!"
Namun mendadak saja, sosok Iblis Penghancur Raga yang sudah siap menurunkan tangan mautnya, terlempar ke belakang laksana sehelai daun dihantam angin. Sosok lelaki itu kehilangan keseimbangan. Dia ambruk dengan keluhan tertahan.
"Setan keparat! Siapa yang berani campur tangan dalam urusanku?!" bentaknya keras. Tetapi tak seorang pun yang muncul di sana kecuali orang-orang yang telah berada sebelumnya.
Sema Kuriang sendiri mundur dengan kepala memandang ke kanan kiri. Dia juga tak melihat siapa pun kecuali saudara kembarnya yang terdesak ganasnya serangan Iblis Telapak Darah.
Dan kejadian aneh yang dialaminya tadi terulang pada saudara kembarnya. Karena iblis Telapak Darah tahu-tahu terbanting di atas tanah, hampir berjajar dengan Ibiis Penghancur Raga yang sudah bangkrt.
"Keparat! Siapa pelaku jahanam yang mau mampus ini?!" serunya sambil menahan sakit pada perutnya.
"Hati-hati... orang ini tentunya bukan orang sembarangan. Dia dapat menjatuhkan kita dengan mudah, tetapi sosoknya belum nampak...," kata Iblis Penghancur Raga.
"Peduli setan Hatiku belum puas bila belum melihat dua cecunguk Itu mampus!" seru Iblis Telapak Darah keras. Lalu tanpa menghiraukan apa yang terjadi dengannya barusan, dia menerjang ke arah Gala Kuriang!
Namun lagl-lagi sosoknya terpental ke belakang.
"Aaaakhhh!!" Bersamaan teriakan kesakitan itu, darah menghambur dari mulutnya. Lalu...
brrrugg
Sosoknya terbanting keras di atas tanah.
"Jangan gegabah!" desis Iblis Penghancur Raga sambil memperhatikan sekelilingnya. "Kita belum tahu siapa orang lancang ini. Tapi gelagatnya, dia memiliki ilmu yang tak bisa dipandang sebelah mata."
Kebuasan Iblis Telapak Darah berangsur turun. Dia juga merasa jeri sekarang.
"Apa yang harus kita lakukan? Padahal kedua cecunguk itu sudah di ambang kematian?"
"Untuk saat ini, kita terpaksa tunda keinginan. Sebelum kita mengetahui orang lancang itu masih akan mencampuri urusan kita atau tidak, kita tak bisa bertindak...."
Iblis Telapak Darah menggeram. Pandangannya dingin terarah pada Dua Serangkai Jubah Hijau yang juga tak mengerti, siapakah orang yang telah menolong mereka.
Tiba-tiba Iblis Telapak Darah mendesis, "Untuk saat ini, kalian masih dapat hidup lebih lama. Tetapi jangan berharap, kelak kalian masih dapat hidup!"
Kejap kemudian, lelaki berjubah hitam itu sudah berkelebat meninggalkan tempat itu, disusul oleh Iblis Penghancur Raga.
Sepeninggal keduanya, Dua Serangkai Jubah Hijau saling mendekat.
"Siapa kira-kira orang yang telah menyelamatkan kita?"
"Gala Kuriang... bukan hanya kau yang tidak tahu, aku pun tidak tahu. Tetapi kalau orang itu dapat menghalangi serangan ganas kedua durjana tadi tanpa
diketahui berada di mana, sudah jelas dia bukan orang sembarangan. Kau lihat sekeliling, sudah tak ada lagi tempat bersembunyi."
Gala Kuriang mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya! Kita memang tak perlu menunggu sampai orang yang telah menolong kita muncul. Mudah-mudahan orang itu mengerti, kalau kita sebenarnya sangat berterima kasih. Di samping itu, kita memiliki waktu yang sangat terbatas. Kita harus segera menemui Dewa Segala Obat. Yah... sekaligus meminta bantuannya akan luka yang kita alami...."
"Bagaimana dengan kaki kananmu?"
"Walau sakitnya tak terkira, aku masih sanggup untuk berlari cepat...."
Tiga tarikan napas berikutnya, Dua Serangkai Jubah Hijau sudah meninggalkan tempat itu. Mereka tak mau mengambil arah yang ditempuh oleh Iblis Penghancur Raga dan Iblis Telapak Darah. Jadi, walaupun agak memutar, mereka merasa lebih aman ketimbang berjumpa lagi dengan Iblis Penghancur Raga dan Iblis Telapak Darah.
Lima betas kejapan mata kemudian, entah darimana datangnya, satu sosok tubuh tahu-tahu telah berdiri di tempat
itu. Kakek berjubah merah yang rambut putihnya diikat ekor kuda ini menggerutu panjang pendek.
Lalu terdengar bunyi keras dari pantatnya.
Bruuut!
"Huh! Untung dugaanku tepat! Makanya kuputuskan untuk meninggalkan rumah duka itu! Karena aku merasakan, kalau Dua Serangkai Jubah Hijau akan mendapat halangan dari Iblis Penghancur Raga dan Iblis Telapak Darah!"
Si kakek yang ternyata Dewa Naga dan membuat Iblis Penghancur Raga serta Iblis Telapak Darah keheranan akibat serangan yang dilakukannya, kembali menggerutu panjang pendek. Kumis putih panjangnya yang menjulai hingga ke bahu itu bergerak-gerak.
"Sebenarnya tak ada gunanya memanggil Dewa Segala Obat untuk mengetahui penyebab kematian Pendekar Lontar. Aku tahu siapa yang melakukannya. Hantu Menara Berkabut. Huh! Seharusnya kukatakan saja pada Dewi Lontar siapa yang telah membunuh suaminya. Tetapi kalau ditanya, bagaimana caranya, pusing juga aku menjawabnya. Betul juga tindakan kakek buntal itu. Hanya Dewa Segala Obat yang
mengetahui bagaimana caranya Pendekar Lontar terbunuh. Sementara aku hanya tahu kalau dia mati dibunuh oleh Hantu Menara Berkabut! Brengsek betul!"
Si kakek kembali uring-uringan sendiri, lalu berseru keras dengan wajah jengkel, "Keparat! Seharusnya kudatangi saja Menara Berkabut sekarang. Akan kugebuk penguasanya sampai dia minta ampun. Tapi...," si kakek terdiam sejenak, lalu melanjutkan, "Aku tak berhak sama sekali untuk itu. Yang berhak melakukannya adalah Dewi Lontar. Atau... ya, ya... si Boma Paksi. Kalau begitu... aku akan tetap mengambilnya untuk kujadikan murid. Dalam mimpiku, kelak bocah yang pada punggungnya terdapat seekor naga hijau dan kedua tangan sebatas siku terdapat sisik coklat, akan menjadi seorang pendekar besar. Bocah itu sungguh luar biasa. Dia terlahir dengan sisik coklat dan tato naga hijau. Yah! Aku harus mendapatkan anugerah itu dengan menurunkan semua ilmu yang kupunyai! Aku harus mendapatkannya!"
Habis berkata demikian, Dewa Naga terdiam. Lamat-lamat terlihat bibir keriputnya mengembang.
"Ya... aku harus mendapatkannya. Kalau Dewi Lontar tetap tak berkenan, aku akan menculiknya."
Kejap kemudian, kakek muka lonjong yang penuh sisik hijau ini sudah meninggalkan tempat Itu. Suara 'merdu' dari pantatnya tersisa di sana.
* * *


6
MATAHARI kini sudah menampakkan bias-biasnya di ufuk timur. Menyinari lembah itu dan menerobosi dedaunan. Kakek pendek berambut jarang itu menggeleng-gelengkan kepalanya di samping jenazah Pendekar Lontar. Mulutnya terkatup. Dia merasakan sesuatu yang tak diharapkannya. Tangan kurusnya masih memegang kening Pendekar Lontar.
"Dewa Tombak... kau benar. Pendekar Lontar meninggal tidak wajar...," katanya kemudian.
Kakek buntal berpakaian biru itu segera ajukan tanya, "Dewa Segala Obat, kira-kira... apa yang menyebabkannya tewas?"
Kakek pendek yang mengenakan pakaian compang-camping warna putih dan di pinggangnya tercantel sebuah pundi, mengangkat kepalanya.
"Dari getaran kuat yang kurasakan, jantung bagian bawahnya telah hangus. Itulah yang menyebabkannya tewas."
"Dewa Naga mengatakan hal yang sama," sahut Dewi Lontar sambil memperhatikan Dewa Segala Obat. Di sisinya, Boma Paksi pun memandang tak berkedip.
Si kakek yang ternyata Dewa Segala Obat mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah perginya Dewa Naga, tak berapa lama kemudian, Dewa Segala Obat muncul. Dia meminta maaf karena tak bisa segera datang, mengingat dia masih harus mengobati seorang pasien.
Dewa Tombak dan Dewi Lontar sudah tentu menyambutnya gembira. Dari Dewa Tombak, Dewa Segala Obat tahu kalau Dewa Naga tadi berada di sini. Dia sangat menyayangkan karena tak bisa menjumpai orang yang sangat dihormatlnya itu. Dia Juga tahu, kalau saat ini Dua Serangkai Jubah Hijau sedang menyusulinya.
Kakek berambut jarang ini memasukkan tangan kanannya ke dalam pundi yang tercantel di pinggangnya.
Ketika diangkat, teriihat ujung-ujung jarinya menjumput butiran pasir berwarna keemasan. Lalu dltaburkannya butiran pasir yang luruh dengan memperlihatkan kilauan indah tepat pada jantung Pendekar Lontar.
Yang berada di sana hanya memperhatikan. Mereka sama-sama melihat kalau butiran pasir keemasan yang kini menempel tepat pada bagian jantung Pendekar Lontar berubah warnanya, menjadi kehitaman.
Dewa Segala Obat menganggukkan kepalanya sekali, lalu meniup butiran pasir itu. Pasir-pasir itu berhamburan. Kemudian dibalikkan tubuhnya, memandang Dewi Lontar yang nampak tidak sabar untuk mendengar apa yang dikatakannya.
"Setahuku, suamimu memiliki ilmu 'Raga Pasa' yang membuatnya dapat mengetahui setiap serangan yang datang. Baik kasar maupun halus. Tetapi... dia tentunya tak menduga sama sekali, kalau seekor lebah yang kemudian menyengat bagian jantungnya, akan mengakhiri hidupnya...."
"Seekor lebah?" ulang Dewi Lontar tak percaya.
"Ya! Seekor lebah! Lebah yang sengatannya telah dibaluri racun yang
sangat mengerikan itulah yang telah merenggut nyawanya...," kata Dewa Segala Obat.
"Apakah...."
"Seperti kebiasaan seekor lebah, bila dia sudah menyengat, tentunya dia akan mati."
Dewi Lontar yang tadi hendak melontarkan pertanyaannva tetapi sudah dipotong, tak menjawab. Dia buru-buru masuk ke kamarnya. Boma Paksi hanya memperhatikan. Matanya yang tajam memandang Dewa Segala Obat dan Dewa Tombak bergantian.
Tak lama kemudian, Dewi Lontar muncul kembali dengan membawa seekor lebah hitam yang sudah mati.
"Dewa Segala Obat... apa yang kau katakan itu benar," katanya pilu. "Tadi kau katakan, ada orang yang telah melumuri sengat lebah itu dengan racun. Tahukah kau siapa orang itu?"
Dewa Segala Obat mengangguk.
"Aku tahu...."
"Katakan!" suara perempuan jelita yang pada lehernya menggantung untaian daun lontar, tersirat kemarahan. Lebah yang sudah mati itu dilemparnya.
Plasss!
Menembus tembok dan jatuh entah di mana. Tembok itu kini bolong sebesar jari telunjuk. Boma Paksi menyaksikan dengan terkagum.
Kakek berambut jarang Itu menggelengkan kepalanya.
"Untuk saat ini. sebaiknya kau tidak perlu tahu dulu. Nanti siang, seperti yang kau katakan, kau hendak memakamkan jenazah suamimu...."
"Aku ingin tahu siapa manusia keparat yang telah membunuh suamiku dengan mempergunakan lebah jahanam ini!" seru Dewi Lontar bersikeras.
"Kau sedang dibaluri kemarahan. Sebaiknya, kau tunda dulu keingintahuanmu itu sampai upacara penguburan jenazah suamimu selesai."
"Tidak! Dewa Segala Obat, selama ini kita bersahabat dan tak pernah punya silang sengketa! Dan sekarang, kau justru menyakitkan hatiku dengan tak mau mengatakan siapakah orang yang telah membunuh suamiku dengan lebah terkutuk itu!"
Dewa Segala Obat kelihatan serba salah. Dewa Tombak hanya terdiam. Kendati dia juga penasaran, tetapi dia masih bisa menerima alasan Dewa Segala Obat.
Bocah tampan yang pada punggungnya terdapat tato naga hijau, memegang lengan ibunya.
"Ibu... apa yang dikatakan Kakek itu benar. Sebaiknya, Ibu tak mengetahuinya sekarang. Karena Ibu akan menjadi marah dan dendam. Bukankah Ibu sendiri yang mengajarkan, kalau dendam itu tidak baik?"
Kata-kata putranya yang tak disangka sama sekali, meluluhkan kekerasan hati Dewi Lontar. Lalu sambil menarik napas panjang, kendati masih penasaran, dia berkata pada Dewa Segala Obat, "Maafkan aku...."
Waktu pun terus merambat. Beberapa orang rimba persilatan pun hadir di sana. Sampai kemudian, siang pun menjelang. Persiapan penguburan jenazah Pendekar Lontar pun dilakukan.
Tak banyak orang yang datang menghadiri pemakaman itu. Dewi Lontar menahan sedihnya tatkala jasad suaminya mulai dimasukkan ke dalam tanah.
Dewa Tombak melirik Boma Paksi. Bocah itu kelihatan tegar meskipun sepasang matanya berkaca-kaca. Sebutir air mata jatuh pada pipinya.
Tak lama kemudian pemakaman pun selesai. Orang-orang yang hadir mohon
diri. Termasuk Dewa Tombak, yang berjanji akan datang dua hari di muka.
Dewi Lontar berkata pada Dewa Segala Obat yang sudah pamitan, "Apakah kau tetap tidak mau mengatakan siapakah orang keparat yang telah membunuh suamiku?"
Dewa Segala Obat menggeleng.
"Besok, aku akan kembali ke sini. Saat Ini, tenangkanlah pikiranmu. Karena kau akan diliputi kemarahan...."
Dewi Lontar hanya memandang dingin. Boma Paksi memegang lengan ibunya.
"Ibu... kata-kata kakek berambut jarang itu benar. Lagi pula, bukankah dia berjanji akan datang besok yang tentunya akan mengatakan siapa yang telah mem-bunuh Ayah. Bukan begitu, Kek?"
Dewa Segala Obat menganggukkan kepalanya. Sebenarnya, begitu melihat sisik coklat sebatas siku yang terdapat pada kedua tangan si bocah, dia agak terkejut tadi. Tetapi dia tak menghiraukannya.
"Ya... besok aku akan datang lagi...."
Lalu kakek berpakaian putih compang-camping Ini segera melangkah meninggalkan tempat itu. Tinggal Dewi
Lontar yang masih sedlh sekaligus diliputi penasaran tinggi.
Boma Paksi membujuk ibunya agar tidak bersedih dan penasaran. Siang dan menjelang senja, dia terus menghibur ibunya sampai senyuman terpampang di bibir ibunya.
Dengan penuh kasih sayang, Dewi Lontar merangkul putranya. Seketika tiba-tiba terdengar suara tawa yang Iuar biasa keras. Atap rumah itu mendadak berderak dan terbongkar. Angin menjadi lintang pukang.
"Ibu!" seru Boma Paksi terkejut.
Dewi Lontar tak menjawab. Kepalanya menoleh ke arah luar. Sepasang matanya membuka.
"Celaka! Tentunya dia yang datang...," desisnya dalam hati. Lalu terburu-buru dia berkata, "Boma... kau masuk ke kamarmu! Kunci rapat-rapat!"
"Ibu! Ada apa?"
"Jangan banyak tanya! Lakukan perintah Ibu!"
Kemudian dia sudah berkelebat ke kamarnya. Dan keluar lagi dengan membawa sebuah gumpalan daun lontar berwarna hijau menyala. Begitu segarnya laksana baru saja disiram. Sementara di
punggungnya, sudah tersampir sebuah pedang.
"Boma! Bila malam sudah datang Ibu belum menjumpaimu, cepat kau pergi sejauh-jauhnya! Bawa gumpalan daun lontar ini dan jangan sampai jatuh ke tangan orang sesat”.
Sambil memegang gumpalan daun lontar segar Itu, Boma Paksi bertanya heran, "Ibu... ada apa? Mengapa Ibu begitu panlk? Apakah.... Ibu khawatir dengan orang yang tertawa itu?"
"Jangan banyak tanya! Cepat kau masuk ke kamarmu! Ingat pesan Ibu baik-baik! Ayo, Boma! Cepat kau...."
"Kabar telah sampai ke telingaku, kalau Pendekar Lontar sudah mampus! Kini tinggal kau sendiri Dewi Lontar! Apakah kau akan tetap keras kepala seperti suamimu yang tak mau menyerahkan Pusaka Pendekar Lontar?!" suara mengguntur itu memutus kata-kata Dewi Lontar.
Boma Paksi kini tahu apa yang menyebabkan ibunya menjadi panik. Dia berkata gagah, "Ibu! Aku tahu siapa orang itu! Bukankah dia kakek bongkok yang tiga bulan lalu datang untuk merebut gumpalan daun lontar hijau milik Ayah ini?"
Dewi Lontar mengangguk cepat. Sebelum dia berkata, si bocah yang pada
punggungnya terdapat tato naga hijau sudah bertanya kembali, "Memangnya... apakah kegunaan dari gumpalan daun lontar sebesar kepalan Ayah Ini, ibu? Kulihat... tak ada yang menarik?"
Dewi Lontar menarik napas panjang. "Anakku... saat ini, Ibu tak memiliki waktu untuk menjelaskannya kepadamu. Tapi, percayalah, Ibu akan menjelaskannya."
"Kalau memang kakek jahat itu menginginkan gumpalan daun lontar ini, Ibu katakan saja di mana memetiknya? Nanti suruh dia datang ke tempat itu. Kan dia bisa memetiknya sendiri?"
Suara di Iuar terdengar lagi. Dewi Lontar berkata terburu-buru, "Ya! Cepat kau ke kamarmu! Ingat, bila Ibu belum menjumpaimu menjelang malam... kau tinggalkan tempat ini!"
"Tidak!" seru Boma Paksi tanpa disangka. "Ayah telah tiada! Aku adalah satu-satunya lelaki di sini! Aku akan melindungi Ibu! Ayo, Bu! Kita hadapi kakek bongkok itu!"
Dewi Lontar terharu mendengar kata-kata putranya. Dirangkulnya Boma Paksi erat-erat.
"Ya! Kau seorang lelaki yang kelak akan tumbuh menjadi gagah! Dan sebagai
seorang gagah, harus menuruti perintah ibunya...."
"Tapi... aku tak mau Ibu menghadapinya seorang diri! Aku akan membantumu, Bu!"
Jlegaaar....!!
Dinding rumah itu jebol dan pecah berpentalan. Dewi Lontar segera melompat sambil menggendong putrsnys itu hingga menabrak dinding lainnya.
"Boma! Kau lelaki gagah! Lelaki gagah akan menuruti perintah ibunya!”.
“Tidak!!, Aku harus membela ibu!"
"Ya…ya. Kau akan membela ibu! Tetapi... kau tunggu dulu di kamarmu! Bila Ibu butuh bantuanmu, ibu akan memanggilmu".
Sepasang mata Boma Paksi berbinar-binar gembira.
"Janji ya, Bu? Janji?"
"Ya! Cepat kau masuk ke kamar!"
Boma Paksi masuk ke kamarnya dengan membawa gumpalan daun lontar yang diserahkan ibunya tadi. Dewi Lontar menarik napas dulu. Lalu segera berkelebat ke depan.
Satu sosok bongkok dengan rambut putih panjang turun ke bawah telah berdiri di sana. Kulit si kakek sangat tipis. Sepasang matanya dalam dan tajam.
Kumis dan jenggotnya seperti terpintal bersatu. Mengenakan pakaian hitam penuh tambalan. Di tangannya, terdapat sebuah bambu berwarna hitam yang ujungnya runcing.
Mendadak si kakek mendengus, "Aku tak punya banyak waktu! Kedatanganku ke sini, sama dengan kedatanganku tiga bulan yang lalu! Cepat kau serahkan gumpalan daun lontar milik suamimu itu! Tentunya dia tak memerlukannya lagi karena sudah mampus!"
Dewi Lontar berdiri gagah. Matanya memandang tajam pada si pendatang yang telah menghancurkan dinding rumahnya.
"Bukan hanya Ratu Sejuta Setan yang menghendaki gumpalan daun lontar sakti milik suamiku. Kakek bernama Dadung Bongkok ini pun menghendaki hal yang sama. Tidak! Sampai kapan pun tak akan pernah kuserahkan gumpalan daun lontar yang hingga saat ini aku tak pernah tahu bagaimana suamiku mendapatkannya. Benda itu benda sakti. Dan tentunya, baik Ratu Sejuta Setan maupun Dadung Bongkok, menginginkannya untuk kepentingan pribadi."
Habis membatin demikian, dengan gagah Dewi Lontar berkata, "Dadung Bongkok! Kendati suamiku sudah
meninggal, apakah kau berpikir aku tak mampu menghadapimu?"
Dadung Bongkok menggeram.
"Jangan banyak omong! Serahkan benda sakti itu kepadaku!"
"Tiga bulan lalu, kau telah dibuat terbirit-birit oleh suamiku! Hari ini, akulah yang akan membuatmu ingat kembali kejadian tiga bulan lalu!"
"Setan betina! Kau akan menyesali tindakanmu ini!"
Habis ucapannya, Dadung Bongkok sudah melompat maju dengan gerakan bersaito satu kali. Bambunya yang berujung runcing dikibaskan dengan cepat ke arah leher Dewi Lontar. Yang diserang hanya mundur satu tindak ke belakang. Lalu dengan gerakan yang cepat, digerakkan pedangnya.
Traaakk!
Benturan yang mengandung tenaga dalam itu membuat masing-masing orang mundur. Dan tiba-tiba saja sosok Dewi Lontar terjajar ke belakang.
Perutnya sudah terkena satu tendangan keras yang diiepaskan dengan cepat oleh Dadung Bongkok. Belum lagi dia dapat menguasai keseimbangannya, Dadung Bongkok sudah merangsek maju dengan
gerakan tombaknya yang serabutan membingungkan.
Tersentak Dewi Lontar tatkala merasakan gelombang angin kacau menderu ke arahnya. Cepat perempuan ini membuang tubuh ke samping.
Blooorr!
Dinding rumahnya jebol terkena hantaman bambu Dadung Bongkok. Rupanya, kakek bongkok ini memang tak mau bertindak ayal. Kalau tiga bulan lalu dia merasa jeri setelah menyadari kesaktian Pendekar Lontar, kali ini dia merasa di atas angin. Karena diyakininya dapat mengalahkan Dewi Lontar.
Tetapi Dewi Lontar bukanlah perempuan sembarangan. Pedangnya pun mulai diayunkan dengan kecepatan luar biasa. Disinari matahari senja, ujung pedangnya berkilat kilat dengan mengeluarkan suara mendesing-desing.
"Keparat! Rupanya, dia tak kalah hebatnya dengan suaminya!! Tetapi kelihatannya dia tak membawa gumpalan daun lontar itu! Ini kesempatan untuk membunuhnya!" maki Dadung Bongkok, lalu menyerbu kembali. Kali ini tangan kirinya ikut digerakkan yang seketika menggebah awan-awan hitam!
Dewi Lontar pun memperlihatkan kelasnya. Menunjukkan kalau dia adalah istri dari mendiang Pendekar Lontar. Dengan pekikan keras, perempuan jelita berpakaian hitam ini melompat ke atas seraya menggerakkan pedangnya ke bawah membabi-buta. Sinar-sinar terang bermuncratan dan menghantami awan-awan hitam yang dilepaskan Dadung Bongkok. Letupan terdengar berkali-kali. Dadung Bongkok terpekik keras, tubuhnya terbanting di atas tanah.
Dewi Lontar menggeram dingin.
"Tiga bulan lalu kau datang membuat onar! Tetapi suamiku masih mengampuni nyawamu! Dan sekarang kau datang lagi dengan keinginan yang sama! Tak akan pernah kuampuni nyawamu sekarang!!"
Dadung Bongkok muntah darah. Darah hitam menyembur keluar. Perlahan-lahan dia berdiri sambil memegangi dadanya dengan tangan kirinya. Kepaianya agak didongakkan. Tatapannya yang selalu memancarkan kekejian, kini lenyap. Berganti dengan kepanikan.
Lalu terbata-bata dia berkata,”Ampuni aku, Dewi... ampuni aku...."
"Suamiku pernah mengampunimu tetapi kau masih berani datang lagi! Apakah
sekarang aku perlu mengampunimu lagi?!" hardik Dewi Lontar dengan tatapan tajam. Kesedihan yang melanda akibat kematian suaminya, kini berubah menjadi kegeraman dalam. Dan perempuan ini seolah mendapatkan tempat pelampiasan untuk menumpahkan seluruh kesedihan dan amarahnya.
Dadung Bongkok bangkit dengan kedua kaki goyah. Dia terbatuk-batuk yang memuncratkan darah.
"Ampuni aku, Dewi... ampuni aku...," serunya penuh iba. "Aku bersumpah... tak akan pernah lagi kuganggu ketenteramanmu. Tak lagi kuinginkan apa yang selama ini kuinginkan...."
Kendati diiiputi amarah tinggi, tetapi Dewi Lontar adalah seorang perempuan yang lemah lembut. Sikap kakek bongkok itu membuatnya merasa kasihan.
Lalu serunya, "Baik! Sekali ini kau kuampuni! Tetapi bila kau berani iagi muncul, kau akan mampus, Dadung Bongkok!"
Dadung Bongkok mengangguk berkali-kali sambil berucap terima kasih.
Dewi Lontar menyampirkan lagi pedangnya pada punggungnya. Dia berkata,
“Sepuluh tarikan napas kau masih berada di sini, kau akan mampus!"
Lalu dia berbalik melangkah ke rumahnya.
Dewi Lontar tidak tahu, kalau sesungguhnya Dadung Bongkok sedang merencanakan satu kekejian. Dia memang merasa tak sanggup menghadapi kesaktian Dewi Lontar. Jalan satu-satunya, dia memang harus mengiba mohon ampun.
Begitu Dewi Lontar berbalik, seringaian melebar di bibirnya. Kejap berikutnya, dia sudah menerjang dengan bambu yang digerakkan serabutan.
Dewi Lontar tersentak tatkala merasakan gelombang angin menderu ke arahnya.
"Terkutuk!" makinya sambil berbaiik dan mencabut pedangnya.
Plaas!
Plukkk!
Bambu keras milik Dadung Bongkok putus tertebas pedangnya. Dewi Lontar berhasil patahkan serangan si kakek. Tetapi, satu gelombang angin yang keluar dari dorongan tangan kiri Dadung Bongkok, tak bisa dihindarinya,
Dessss!!
"Aaakhhhh!!" Dewi Lontar berteriak sekeras-kerasnya. Tubuhnya terseret ke
belakang. Belum lagi dia dapat menguasai keseimbangannya, Dadung Bongkok sudah datang melancarkan serangan.
Perempuan perkasa itu masih bisa menghindari dengan jalan menjatuhkan diri. Bahkan pedangnya langsung diangkat. Dadung Bongkok menggeram. Lalu memutar tubuh dua kali seraya pukulkan bambunya.
Praaakk!
Bambunya itu tertahan pedang Dewi Lontar. Karena dalam keadaan terguling, bambu itu tidak putus tertebas. Dadung Bongkok menyusulkan serangannya lagi.
Tetapi....
Craassl!
"Aaaakhhh!"
Gerakan yang dilakukan Dewi Lontar sungguh di Iuar dugaannya. Tahu-tahu tangan kirinya telah kutung tertebas pedang. Dadung Bongkok terhuyung. Darah keluar dari lengan kirinya yang sudah buntung.
"Perempuan celaka!!" serunya keras seraya melemparkan bambu kerasnya.
Dewi Lontar yang masih berada di atas tanah memekik. Dia berguling dan berhasil menghindari bambu itu. Tetapi diluar dugaannya, bambu itu justru berbalik. Dan....
Bleesss!!
Masuk tepat pada jantungnya! Saat itu, malam pun datang.
* * *


Raja Naga - Tapak Dewa Naga 4

| | |
7
DiKAMARNYA, Boma Paksi sudah tak sabar untuk segera keluar. Bocah yang pada kedua tangannya sebatas siku terdapat sisik coklat dan pada punggungnya terdapat gambar seekor naga hijau yang dibawanya dari lahir, memang mematuhi kata-kata ibunya, tidak akan keluar sebelum malam datang.
Dan saat ini malam telah datang. Tetapi ibunya belum juga muncul menjumpainya.
"Mengapa Ibu belum muncul juga?" desisnya dalam hati dengan perasaan tak sabar. "Apakah saat ini Ibu berhasil dikalahkan kakek bongkok itu? Ah, tidak! ibu pasti bisa mengalahkannya! Seperti yang dilakukan Ayah!"
Kembali si bocah mondar-mandir dengan perasaan tak tenang. Gumpalan daun lontar yang diberikan ibunya masih dipegangnya erat-erat. Kembali
dihentikan langkahnya karena dia tak mendengar langkah-langkah mendekati kamarnya.
"Aku harus melihat keluar! Aku harus membantu Ibu!" serunya memutuskan. Lalu dengan langkah tegap dan wajah tegang, bocah yang pada punggungnya terdapat tato seekor naga hijau itu segera keluar.
Langkahnya terburu-buru dengan rasa tidak sabar yang dalam. Di Iuar, dilihatnya keadaan di sana sudah porak poranda. Saat ini rembulan bersinar cuktip terang. Begitu melihat Dadung Bongkok, dia langsung berseru, "Kakek brengsek! Lagi-lagi kau yang datang! Dan... hei! Tangan kirimu telah buntung rupanya! Lebih baik kau cepat pergi dari sini sebelum Ibu membuat tangan kananmu yang satunya lagi buntung!"
Dadung Bongkok yang masih terhuyung karena menahan sakit, mengangkat kepalanya. Tatapannya tajam menusuk. Dan mendadak saja kepalanya menegak. Matanya terbeliak, tak berkedip.
"Gumpalan daun lontar itu... daun lontar itu ada padanya?" desisnya sambil menyeringai. Lalu ditotoknya urat darah pada bahu kirinya. Dia menjerit pelan. Lamat-lamat terlihat darah yang tadi
banyak keluar perlahan-lahan menipis dan akhirnya tak keluar sama sekali.
Rasa sakit dan amarah yang mendekam di dadanya tak lagi dihiraukan begitu melihat benda yang dicarinya berada di tangan bocah tanpa pakaian itu.
Malah mendadak dia terbahak-bahak keras.
Boma Paksi yang berdiri dengan kedua kaki dibuka, berseru, "Kakek bongkok! Kau sudah gila ya? Cepat kau pergi dari sini sebelum Ibu.... Ibu? Hei... di mana Ibu?!"
"Hahaha...," menggema keras tawa Dadung Bongkok. "Kau mencari ibumu? Lihat di sana! Siapa yang tergeletak Itu?!"
Segera Boma Paksi mengarahkan pandangannya pada tempat yang ditunjuk Dadung Bongkok. Seketika bocah itu berteriak keras dan memburu ibunya. Karena terburu-buru dia terjatuh. Lalu dengan kekerasan hatinya, dia bangkit dan merangkul ibunya yang telah menjadi mayat.
"Ibuuuuu"
"Ibumu sudah mampus, Bocah! Sekarang, serahkan benda itu kepadaku?!"
Boma Paksi masih menangis sambil merangkul ibunya.
"Ibu... ibu...," desisnya mengibakan.
Dadung Bongkok menggeram.
"Kali ini, tak ada lagi yang akan menghalangi keinginanku! Mendapatkan gumpalan daun lontar sakti yang selama ini kuimpikan, tak akan mendapatkan ganjalan apa-apa! Huh! Bocah itu pun harus knmampuskan! Biar hilang sudah keturunan dari Pendekar lontar!" serunya puas dalam hati.
Lalu dengan langkah agak terhuyung, Dadung Bongkok menghampiri Boma Paksi yang masih menangis. Sejenak dikerutkan keningnya begitu melihat gambar seekor naga hijau pada punggung bocah itu.
"Aneh! Mengapa ada gambar seekor naga hijau pada punggungnya? Siapa yang telah mentato punggungnya itu?" desisnya sejenak. Lamat-lamat keheranannya itu lenyap, berganti dengan niatnya semula. "Kau akan menyusui ibumu, Bocah!"
Tangannya siap dihantamkan pada punggung si bocah.
Boma Paksi mendengar seruan itu. Dia hendak berbaiik. Tetapi sebelum dia berbalik, mendadak saja Dadung Bongkok terpentai ke belakang.
"Astaga! Ada apa ini?!" serunya gelagapan sambil berusaha mengendalikan keseimbangannya.
Sementara itu, Boma Paksi sudah berbalik dan berdiri dengan tatapan tajam. Kemarahan sungguh kentara sekali pada wajahnya yang memerah.
Di tempatnya, Dadung Bongkok yang telah berdiri terdiam.
"Sempat tadi kulihat, kalau gambar seekor naga pada punggung bocah itu seperti keluarkan sinar. Lalu ada tenaga yang menahan seranganku. Astaga! Apakah gambar seekor naga hijau itu memang memiliki arti?!"
Sementara itu kemarahan Boma Paksi semakin menjadi-jadi. Bocah itu perlahan-lahan berdiri. Dan astaga! Sorot matanya sangat angker, mengerikan!
"Ibu... aku akan membalas perbuatan kakek jelek itu!"
Saat dia berbalik, Dadung Bongkok melihat gambar naga hijau pada punggung si bocah semakin bersinar hijau. Keheranannya semakin menjadi-jadi.
"Aku yakin, kalau gambar seekor naga hijau itu bukannya tanpa isi! Sekarang sinarnya semakin terang! Hemm... jangan-jangan, ini mengisyaratkan satu bahaya! Peduli setan! Bahaya apa pun akan
kuterjang untuk mendapatkan gumpalan daun lontar itu!"
Lalu diiringi teriakan keras, Dadung Bongkok menerjang Boma Paksi yang masih membelakanginya. Kalau tadi Dadung Bongkok merasakan ada tenaga yang menghantamnya, kali ini dia melihat sinar hijau melesat ke arahnya. Yang membuatnya melengak dan untuk beberapa saat terdiam tegang, karena sinar hijau itu mendadak berubah menjadi bayangan seekor naga!
"Heiiii!!"
Cepat dia menghindar.
Bggaaaarr!
Sinar hijau yang membentuk seekor naga itu menghantam dinding rumah yang seketika jebol dengan suara keras.
Dadung Bongkok terbelalak. Dia tak percaya melihat apa yang terjadi.
"Astaga! Ternyata tak semudah dugaanku! Tentunya Pendekar Lontar dan istrinya telah membekali putranya dengan ilmu aneh itu! Terkutuk!! Selama ini aku tak pernah mendengar kalau Pendekar Lontar maupun istrinya memiliki ilmu lain kecuali ilmu pedang yang sangat tinggi. Dan sekarang... aku melihat kalau keduanya mempunyai ilmu yang disembunyikan. yang diturunkan pada
putra mereka! Jahaman terkutuk! Terku-tuk!" makinya dalam hati.
Tetapi di kejap lain, terlihat bibirnya tersenyum. "Hemm, untunglah aku dilahirkan dengan otak cerdik! Aku yakin, bila yang kuserang bagian depan, gambar seekor naga hijau itu tak akan banyak artinya."
Memutuskan demikian, Dadung Bongkok menunggu sampai si bocah berbalik sambil mengatur napasnya yang mulai putus-putus. Sementara itu, perlahan-lahan Boma Paksi pun akhirnya berbalik. Kemarahan begitu membias dalam. Tatapannya yang tadi menggoda rasa Iba, kini nyalang mengerikan, seperti mengandung satu kekuatan yang mampu melemahkan keberanian lawan. Tangan kirinya mengepal kuat sementara tangan kanannya memegang erat-erat gumpalan daun lontar yang diberikan ibunya.
Dadung Bongkok pun merasakan keangkeran pada sorot mata si bocah. Dia juga melihat sisik coklat halus pada kedua tangan si bocah meremang, dan bersinar terang.
Tetapi dia tak mempedulikannya.
"Kakek kurang ajar! Kau telah membunuh ibuku! Kau telah membunuh
ibuku!" seru Boma Paksi dengan tatapan memerah tajam.
Dadung Bongkok tak bersuara. Matanya memperhatikan dalam-dalam dengan mulut merapat.
"Bocah ini akan menjadi duri! Sebelum ada yang datang ke sini, aku harus melaksanakan niat!!"
Memutuskan demikian, si kakek dengan bengis berseru, "Serahkan benda yang kau pegang itu padaku, ketimbang kau akan kesakitan kugebuk!"
"Tidak! Bukan aku yang akan kau gebuk! Tetapi kau yang akan kugebuk!" seru Boma Paksi keras. Lalu dengan kegagahan yang sangat kentara dan keberanian luar biasa, si bocah menerjang ke depan. Tangan kanannya yang memegang gumpalan daun lontar, tak sengaja bergerak.
Dadung Bongkok menunggu. Dia sengaja tak segera melaksanakan niatnya, karena khawatir sinar hijau yang membentuk seekor naga hijau keluar lagi. Tetapi bukan itu yang kemudian mengejutkannya. Karena mendadak saja dari gumpalan daun lontar yang tak sengaja digerakkan si bocah, mengeluarkan gelombang angin yang diliputi asap tipis berwarna hijau
"Heeiiii!!"
Jlgaaarrr!!
Gelombang angin itu menghantam dinding rumah yang seketika ambrol berhamburan.
Kendati demikian, biar bagaimanapun juga, Dadung Bongkok adalah seorang tokoh sesat yang telah banyak makan asam garam. Tindakan yang dilakukan si bocah jeias-jelas hanya nalurinya belaka. Makanya dia berhasil menghindarinya. Bahkan dapat mengetahui, bila dia menyerang bagian depan tubuh si bocah, sinar hijau yang kemudian membentuk bayangan seekor naga itu tidak keluar. Tetapi bila diserang punggungnya, maka dialah yang akan celaka.
"Saatnya dia harus mampus!"
Lalu dengan enteng saja, Dadung Bongkok menghindari gelombang angin yang dihiasi asap hijau tipis yang keluar dari gumpaian daun lontar. Menyusul dengan kejamnya, dihantamnya perut si bocah yang terbanting di atas tanah. Rasa sakit yang tak terkira dirasakan Boma Paksi. Kalau tadi air matanya keluar karena kematian ibunya, sekarang air matanya keluar karena menahan sakit.
Tetapi kegagahan Pendekar Lontar mengalir dalam darahnya. Seolah tak
merasakan sakitnya, bocah itu menyerang lagi. Bahkan diiringi teriakan keras.
Dan untuk kedua kalinya dia terbanting di atas tanah, karena jotosan tangan kanan Dadung Bongkok telah mendarat di perutnya. Darah segar muncrat dari mulutnya. Wajahnya meringis kesakitan. Si bocah menggeliat sebentar. Dia sempat buka suara sebelum jatuh pingsan.
"Ibu...."
Dadung Bongkok terbahak-bahak keras.
"Telah tiba saatnya kudapatkan pusaka itu! Rahasia pusaka itu akan kukupas! Itu artinya... tak lama lagi aku akan menjadi tokoh rimba persilatan tiada tanding!"
Lalu menggema tawanya yang sangat keras. Setelah puas melampiaskan kegembiraannya, Dadung Bongkok berjalan menghampiri Boma Paksi. Diambilnya gumpalan daun lontar yang diingininya itu, yang tadi menggelinding terlepas dari genggaman tangan Boma Paksi.
Diamat-amatinya gumpalan daun lontar sebesar kepalan tangannya itu dengan kegembiraan tiada banding. Senyuman tak putus di bibirnya.
"Pusaka ini telah banyak membunuh orang-orang segolongan denganku! Sepak terjang Pendekar Lontar tak akan pernah dimaafkan oleh orang-orang segolongan denganku! Dan sekarang... pusaka ini akan menghisap darah dagingnya sendiri!"
Kembali diamat-amatinya gumpalan daun lontar itu. Pancaran mata berbinar yang mengandung kebuasan itu jelas terlihat. Lamat-lamat tetapi pasti, dengan seringaian lebar, Dadung Bongkok mengangkat gumpalan daun lontar itu.
"Tamat sudah riwayat Pendekar Lontar beserta keturunannya!"
Tanpa memiliki rasa kasihan sedikit pun juga, digerakkan tangannya dan siap dihantamkan pada kepala si bocah. Namun....
Dessss!!
Dadung Bongkok mendadak saja terjengkang ke belakang dengan perut yang seperti melesak ke dalam. Gumpalan daun lontar yang dipegangnya terlepas Kakek yang dibutakan oleh keinginannya ini tak menghiraukan rasa sakit atau siapa orang yang telah menyerangnya, Dia justru melompat untuk mendapatkan kem-bali pusaka yang telah terlempar itu.
Tetapi...
Buukkk!
Kembali dia terbanting di atas tanah. Untuk sejenak Dadung Bongkok tergeletak menahan sakit. Di saat lain, gelagapan dia berusaha untuk bangkit. Saat itulah dilihatnya satu sosok tubuh berjubah merah telah berdiri di sana dengan memegang pusaka diingininya!
"Dewa Naga...," desis Dadung Bongkok dengan suara tertahan. Matanya melotot panik.
Kakek berjubah merah yang telah memegang pusaka Pendekar Lontar itu menggeram. Tatapannya dingin. Tak ada tanda-tanda dia akan memperlihatkan sikap konyol dan angin-anginan seperti biasanya. Yang terlihat hanyalah kemarahan yang terpancar dari sepasang matanya yang memancarkan sinar merah, terang. Sisik-sisik hijau yang terdapat pada wajahnya memerah.
"Tindakanmu sudah kelewat batas, Dadung Bongkok!"
Paras kejam Dadung Bongkok menciut. Dia tahu kesaktian yang dimiliki Dewa Naga. Dan disesalinya mengapa kakek muka lonjong penuh sisik hijau itu keburu datang sebelum ditinggalkannya tempat ini. Tetapi, ambisinya yang sudah hampir terpenuhi digagalkan, membuat Dadung Bongkok melupakan keciutannya. Tak lagi
dipedulikan siapa orang bersisik hijau yang berdiri di hadapannya.
Dia bangkit dengan terhuyung.
"Dewa Naga, Aku tak peduli seberapa tinggi kesaktianmu! Tetapi, siapa pun yang lancang mencampuri urusanku, dia akan menyesal seumur hidup! Serahkan benda sakti itu padaku, maka urusan selesai!"
Dewa Naga melotot.
"Sinting! Kau ini sudah sinting rupanya? Muiut baumu itu masih bisa juga melontarkan sesumbar! Hei, kakek bongkok jelek! Apakah kau pikir aku tega membunuhmu yang sudah tak berdaya itu?!"
Seharusnya Dadung Bongkok menyadari keadaan dirinya. Menghadapi Dewa Naga dalam keadaan segar bugar saja, dia tidak akan menang. Apa lagi sekarang? Tetapi kemarahan dan keserakahah telah membutakah pikirannya.
"Peduli setan! Serahkan pusaka itu! Atau... kau sebenarnya sudah memutuskan untuk mampus malam ini?!"
Bukannya mulut Dewa Naga yang berbunyi, justru pantatnya.
Bruuut!
Kalau biasanya dia selalu memaki-maki karena pantatnya tak bisa diajak berunding, kali Ini dia tak
peduli. Sinar matanya terus memancarkan maut.
"Ucapanmu benar-benar bikin panas hatiku! Seharusnya aku menghukummu sekarang! Tetapi...."
"Keparat!!"
Dadung Bongkok mendorong tangan kanannya.
Wrrrrll
Menggebah gelombang angin yang menyeret tanah. Dewa Naga menggeram. Lalu mendehem. Suara dehemannya kecil saja, tetapi....
Blaaaammm
Gelombang angin itu putus di tengah jalan seperti menghantam sebuah tembok. Bahkan Dadung Bongkok sendiri terbanting lagi di atas tanah.
"Kakek terkutuk!" makinya dengan darah yang mengalir dari hidung.
"Kau benar-benar tak tahu diuntung! Padahal aku sudah beri peruntunganmu untuk hidup lebih lama lagi! Tapi kalau kau keras kepala, aku tak akan pikir dua kali untuk membunuhmu! Hanya saja, lagi-lagi, aku tak berhak membunuhmu!" seru Dewa Naga sambil melotot. Lalu diangkatnya tubuh Boma Paksi yang pingsan. Ditelitinya sejenak sebelum dia angkat pandangan dan berseru,
"Ingat apa yang kukatakan tadi! Dua belas tahun mendatang, bocah ini akan datang untuk mencabut nyawamu. Jadi, persiapkan dirimu mulai sekarang sebelum dua belas tahun menjelang!"
Habis ucapannya, Dewa Naga segera berkelebat meninggalkan tempat itu.
Dadung Bongkok merutuk panjang pendek dengan kegusaran luar biasa. Dihantaminya apa saja dengan kibasan tangan kanannya. Letupan berkali-kali terdengar sebelum akhirnya dia terengah-engah sendiri.
"Keparat! Keparat kau, Dewa Naga... kau akan menyesaii tindakanmu ini...."
Lalu dengan langkah sempoyongan Dadung Bongkok melangkah meninggalkan tempat itu.
"Aku akan menunggu dua belas tahun mendatang...."
* * *


8
PERPUTARAN waktu sungguh sangat sukar diikuti. Kita tak tahu sang waktu akan melangkah ke mana. Tetapi yang pasti, sang waktu tak mau membuang diri
untuk kembali ke masa lalu. Dia terus bergerak dan bergerak sampai tiba Sang Penguasa Jagat memerintahkannya untuk berhenti. Dan tak seorang pun yang mengetahui, kapan Sang Penguasa Jagat memerintahkan sang waktu untuk berhenti bekerja.
Dua belas tahun sejak peristiwa kematian Pendekar Lontar pun sudah terlampaui. Rentang waktu yang lama itu, ternyata tak begitu terasa. Tahu-tahu sudah membentang jauh melewati batas-batas yang tak bisa ditentukan.
Pagi masih buta. Butiran embun bergayutan manja di dedaunan. Udara sangat dingin menusuk tulang. Semakin dingin karena semalam hujan turun sangat lebat. Di mana-mana terdapat tanah becek dan genangan air. Tak seekor hewan pun yang keluar untuk mencari makan. Mungkin mereka sudah mempersiapkan makanan lebih atau juga merasa enggan bergabung dengan udara dingin. Mendadak....
Jlegaaaarrrl!
Sebuah letupan keras menggema di pagi buta. Disusul gemuruh angin dahsyat yang berputar dan menerjang. Lima batang pohon berpentalan jauh dengan suara bergemuruh.
Beberapa kejap kemudian hening menggenang. Pagi senyap kembali.
"Guru! Bagaimana menurutmu?!" terdengar suara itu memecah keheningan.
Bruuuttt!
Suara pantat berbunyi terdengar keras, disusul dengusan.
"Brengsek! Apanya yang menurutku, hah?! Anak kecil pun bisa melakukan apa yang barusan kau lakukan”. bentakan keras itu terdengar.
"Astaga! Guru! Yang benar saja? Lima batang pohon itu sudah tumbang kuhantam dengan ilmu 'Kibasan Naga Mengurung Lautan' yang Guru ajarkan! Kalau ternyata Guru anggap belum sempurna, ya karena ilmu Guru itu tidak bagus!"
"Brengsek! Brengsek! Kau mau menganggap gurumu ini tidak becus mengajarkanmu?! Sembarangan kalau ngomong! Kau ingin kugampar ya?!"
Pemuda yang mengenakan rompi berwarna ungu yang sedikit terbuka hingga memperlihatkan dada bidangnya, yang tadi melepaskan pukulan menghantam lima batang pohon yang berpentalan pecah, tertawa. Tak ada tanda-tanda dia kecut diancam seperti itu.
Sikapnya enak saja berucap demikian dengan kakek berjubah merah yang duduk di
atas sebuah batu. Membuat si kakek bermuka lonjong yang penuh sisik hijau itu menggerutu panjang pendek. Dan berkali-kali dari pantatnya keluar suara, 'Bruttt!'
"Sembarangan kau ya?! Ilmu 'Kibasan Naga Mengurung Lautan' sukar dicari tandingannya di jagat ini?! Itu termasuk ilmu dahsyat yang kuturunkan kepadamu! Yang dapat kau pergunakan sebagai satu senjata tangguh bila kau terdesak! Tapi bukan cuma bisa menumbangkan lima batang pohon itu!"
"Tapikan bagian atasnya hangus?!" seru si pemuda yang rambutnya dikuncir itu tak mau kalah. Dia berdiri berjarak delapan langkah dari si kakek muka lonjong. Berdiri tegak dengan kegagahan yang kentara. Matanya berkilat-kilat jenaka, kendati sorotnya angker. Parasnya tampan dan tubuhnya gagah. Yang agak mengherankan adalah kedua tangannya, yang mulai dari jari-jemarinya hingga batas siku, bersisik coklat! Padahal bagian tubuhnya yang lain tidak.
"Bukan itu yang kuinginkan! Tapi semuanya langsung hangus begitu kau bantam!!" maki si kakek bersisik hijau keras. "Percuma aku mengajarimu kalau
cuma itu saja yang bisa kau lakukan! Kebanyakan makan kau ya?! Atau... kau kebanyakan ngintip perawan mandi di desa seberang ya?!"
Si pemuda nyengir.
Tindakannya itu membuat si kakek bersisik hijau yang bukan lain Dewa Naga mendengus. .
"Kenapa kau nyengir begitu, hah?! Kau pikir parasmu tampan apa?!"
"Dibandingkan wajah Guru sih... rasanya masih ada deh perawan montok yang akan melirikku lebih dulu! Lalu menutup mata begitu memandang Guru," sahut si pemuda kalem.
"Busyet, Kau ini...."
Kata-kata Dewa Naga terputus tatkala didengarnya suara letupan lima kali berturut-turut. Sejenak si kakek rhengerutkan keningnya. Telinganya dibuka lebar-lebar.
Kejap berikutnya, dia mendengus keras.
"Brengsek! Kau mempermainkan orangtua ya? Kau mempermainkan gurumu ya? Murid kebluk! Bagaimana bisa kau buat lima batang pohon itu lebur belakangan?!"
Si pemuda tertawa.
"Nah! Guru akhirnya mengakui bukan, kalau Guru tidak sia-sia menurunkan ilmu kepadaku?"
"Kurang asem! Selain memiliki ketegaran dan jiwa ksatria tinggi, pemuda ini juga memiliki sifat asal-asalan! Dia sengaja mempermainkanku rupanya! Lima batang pohon yang dihantamnya dengan ilmu 'Kibasan Naga Mengurung Lautan' tadi hanya untuk menggodaku saja! Tapi... bagaimana caranya dia bisa menyimpan tenaga dari ilmu 'Kibasan Naga Mengurung Lautah' pada lima batang pohon yang kemudian lebur belakangan? Busyet! Dia memang hebat dan cerdik!"
Lalu dipandanginya si pemuda yang sedang nyengir.
"Sekujur tubuhku dipenuhi sisik-sisik hijau. Pemuda itu memiliki sisik yang sama tetapi berwarna coklat dan hanya terdapat mulai dari jari-jemarinya hingga batas siku kedua tangannya. Ah, kalau sisik-sisik hijau pada tubuhku karena pengaruh ilmu yang kumiliki, tetapi dia telah membawanya sejak lahir."
Melihat tatapan gurunya, si pemuda berkata, "Kenapa Guru melihatku seperti
itu? Apakah baru kali ini Guru melihat ketampananku?"
Dewa Naga menggerutu.
"Banyak omong!"
"Apa iya?"
Bruuttt!
Pantat si kakek berbunyi.
"Guru! Kau ini tidak punya malu ya? Buang angin sembarangan! Untung baunya tidak busuk! Coba kalau...."
"Hei, hei! Cuma buang angin itu yang tak bisa kuajarkan padamu! Jangan kau pikir buang anginku itu seperti buang angin orang kebanyakan! Hemm... suatu saat akan kuperlihatkan kepadamu! Sekarang... aku ingin melihat kebisaanmu! Ayo, serang aku!"
"Wah! Kok pakai main serang-serangan nih? Kalau aku sudah tamat mewarisi seluruh ilmu Guru, ya su-dah!"
"Banyak omong! Ayo, serang aku!!" seru Dewa Naga dengan mata melotot.
"Menyerangmu? Wah! Mana bisa kulakukan? Guru sudah tua, gerakan Guru tentunya sudah lamban!" sahut si pemuda sambil tertawa. Dia memang hendak menggoda gurunya.
Sebagai sahutan, Dewa Naga menjentikkan ibu jari dengan telunjuknya.
Trikk!
Bunyi pelan terdengar. Tetapi... secara tak disangka, menggebah gelombang angin yang diliputi asap hijau ke arah si pemuda yang bukan lain Boma Paksi adanya.
Putra almarhum Pendekar Lontar dan almarhumah Dewi Lontar mendengus pendek. Tanpa bergeser dari tempatnya, dia mendorong tangan kanannya
Wrrpr!!
Serangkum angin merah menggebrak keras.
Dan....
Blaaaam!!
Letupan keras terjadi. Tanah di mana benturan itu terjadi, muncrat ke udara. Dan bila saat ini matahari sudah menampakkan diri, maka akan terlihat muncratan angin merah ke mana-mana.
Masih dengan pandangan terhalang oleh muncratan tanah, satu gelombang angin lainnya menderu cepat ke arah si pemuda. Merasakan adanya dorongan kuat, si pemuda menepukkan tangan kanannya pada lengan kirinya.
Wuuutttl!
Angin berputar tiba-tiba menderu, melingkar dan membubungkan tanah dalam pusarannya.
Si kakek yang sudah meluncur menyerang, mengertakkan rahangnya. Diurungkan niatnya untuk menyerang. Kaki kanannya dijejakkan ke tanah. Bersamaan tubuhnya melenting ke atas, tanah menghambur ke arah si pemuda. Tetapi langsung tertelan dalam pusaran angin yang dilakukan si pemuda.
"Wah! Guru kenapa?! Kenapa harus melompat ke atas seperti monyet?!"
"Brengsek!"
Bruuutt!
Si kakek memutar tubuhnya kembali. Lalu digerakkan jotosan tangan kanannya tepat pada kepala Boma Paksi. Yang diserang langsung merunduk. Dan tiba-tiba saja kaki kanannya mencuat dari belakang.
Plaaak!!
Si kakek terpental ke belakang dan hinggap diatas tanah dengan kedua kaki tegak. Sementara itu, Boma Paksi tetap berada di tempatnya. Tetapi kedua kakinya kini melesak hingga lutut di tanah yang becek.
Belum lagt diangkat kedua kakinya, mendadak saja dilihatnya tanah bergerak cepat ke arahnya.
"Waduh! Kenapa Guru mempergunakan ilmu "Barisan Naga Penghancur karang'?!" seru Boma Paksi keras.
Dalam gerakan yang sangat cepat, pemuda tampan ini menghantamkan telapak tangannya pada tanah yang bergelombang ke arahnya.
Blaaaammm!
Tanah yang bergerak cepat itu terhenti seperti ada tenaga yang menahannya. Dan muncrat ke udara. Tubuh Boma Paksi terpental. Kedua kakinya yang ambias sebatas lutut terlepas dan tanah terbongkar.
Baru saja kedua kakinya hinggap lagi di atas tanah. tanah sudah bergerak kembali. Boma Paksi langsung melompat menghindari barisan tanah yang bergerak itu. Mendadak...
Desss!!!
Perutnya terhantam satu pukulan keras yang membuatnya terhuyung. Paras tampan si pemuda meringis. Perutnya dirasakan sakit. Rambutnya yang dikuncir kuda terlempar sejenak ke depan.
"Bodoh! Anak kecil saja mampu menghindari seranganku" seru Dewa Naga pada murid kesayangannya ini.
"Astaga, Anak kecil mampu menghindari pukulan 'Hamparan Naga Tidur' tadi? Ada-adanya saja guruku ini! Dia selalu bicara semau jidatnya saja! Dan pantatnya itu selalu saja berbunyi! Hmm... akan kuhadapi dia dengan pukulan yang sama."
Saat lain yang terjadi benar-benar tak bisa diikuti oleh mata lagi. Hanya yang terdengar beberapa kali letupan keras terjadi di sela makian Dewa Naga, "Murid brengsek! Kau mau menghajar 'kantong menyan'ku ya?!"
Lalu suara Boma Paksi, "Pecah juga nggak apa-apa, Guru! Toh sudah nggak bisa digunakan lagi?! Guru ini kok aneh-aneh saja ya? Buat apa barang yang tidak bisa dipergunakan lagi masih Guru tangisi juga?!"
"Bicara sembarangan"
Blaaarr!
Jlgaaarrl!
Dewa Naga semakin gencar menyerang muridnya, yang dihadapi muridnya dengan gerakan-gerakan yang tak kalah gencarnya. Perlahan-lahan matahari pun mulai naik dan tanpa terasa, matahari
sudah sepenggalah. Embun-embun sudah mengering. Angin tak lagi menusuk dingin.
Dan... astaga! Sinar matahari yang telah menerangi tempat di mana guru dan murid itu sedang berlatih, namun serangan demi serangan sangat berbahaya, membuat jelas tempat itu sekarang. Benar-benar membuat kepala menggeleng-geleng. Tempat itu ternyata sebuah lembah yang ditumbuhi pepohonan. Anehnya, seluruh pohon yang tumbuh di sana seperti bersisik. Baik batang, dahan, ranting maupun daun!
"Gila betul! Guru benar-benar menganggapku sebagai lawan!" seru Boma Paksi dalam hati tatkala tanah yang menghambur ke udara sirap kembali. Rompi berwarna ungu yang dikenakannya sudah kotor. Tangan kanan kirinya terasa ngilu karena berulang kali berbenturan dengan gurunya.
Tetapi gurunya terus mendesak. Bahkan langsung mengambil sebatang ranting dan memutar-mutar ranting itu hingga si pemuda gelagapan. Dia terus melompat karena tak diberi kesempatan membalas.
Plaaakk!
Dia langsung terjajar ke belakang dengan tangan kanan ngilu begitu kena gebuk ranting si kakek.
"Guru! Jangan terus menyerangku! Aku kan tidak bersenjata!" serunya sambil meluruk ke depan,
Dewa Naga menarik badannya ke belakang seraya mendorong tangan kirinya.
Plaak! Plaaakk!
"Huhh! Kau ketakutan ya?!"
"Eh, siapa bilang aku takut?!" seru Boma Paksi melotot.
Bruuuttt!
"Ya ampun! Kau ini tidak tahu malu betul, ya? Buang angin sembarangan!"
"Bodo, ah!" sahut Dewa Naga cuek. Tanpa mengurangi kecepatannya, dia terus menyerang muridnya itu. Pembicaraan yang enak saja memang kerap kali terjadi. Masing-masing orang dapat berbicara seperti itu. Ini dikarenakan keakraban di antara mereka. Tetapi Boma Paksi sendiri masih dapat mengingat posisinya sebagai seorang murid.
Kibasan demi kibasan ranting yang dilakukan Dewa Naga memang menyulitkan Boma Paksi. Tiba-tiba saja pemuda yang kedua tangannya sebatas siku bersisik
coklat itu menerjang ke depan. Suara gerengan terdengar keras.
"Bagus! Dia telah mempergunakan jurus 'Naga Mengamuk'! Aku memang ingin melihat kemajuannya!" desis Dewa Naga sambil tersenyum.
Apa yang terjadi kemudian sungguh mengejutkan. Pepohonan di sana bertumbangan terhantam tangan kanan kiri Boma Paksi. Paras si pemuda yang sejak tadj terlihat konyol, kini meregang tegang. Tatapan matanya dingin dan bertambah dingin. Bahkan sisik-sisik coklat pada kedua tangannya semakin terang menyala, berkiiat-kilat.
Dewa Naga terus melayani dengan kibasan rantingnya. Sampai kemudian ranting itu patah.
"Hebat! Dia dapat mematahkan rantingku ini!" serunya.
Lalu dengan mempergunakan jurus 'Naga Mengamuk', Dewa Naga melayani serangan murid tunggalnya. Apa yang terlihat sungguh mengerikan. Lembah Naga seperti dilanda kiamat. Letupan demi letupan terdengar keras dan angker. Pepohonan tumbang disertai muncratan tanah di sana-sini. Tempat itu bergetar hebat.
Dari tindakan yang keduanya lakukan, terlihat kalau masing-masing orang telah membahayakan dirinya sendiri. Masuk dalam pertarungan jarak dekat dengan kecepatan Iuar biasa, memang sama-sama sukar dihindari.
Benturan pun terjadi.
Masing-masing orang mundur lima tindak ke belakang.
Boma Paksi cepat menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Karena dia merasa ada hawa panas yang melingkupinya. Di lain pihak, Dewa Naga hanya mendengus dan....
Bruuttt!
Hawa panas yang melingkupinya pun lenyap.
"Luar biasa! Sungguh luar biasa!" desisnya.
Boma Paksi yang telah selesai mengalirkan tenaga dalamnya hingga hawa panas yang melingkupinya lenyap, juga memandang gurunya. Sisik-sisik coklat yang menyala tadi, kini lenyap dan memperlihatkan sisik halus seperti sebelumnya.
"Guru! Kenapa sih Guru menyerangku betulan seperti itu?!"
Kakek muka lonjong mengangkat kepalanya. Dipandanginya pemuda di hadapannya.
"Sosoknya gagah dan tegap. Wajahnya tampan. Sifatnya kendati agak konyol tetapi masih bisa mempergunakan otaknya. Sorot matanya itu... terkadang menyiratkan kedinginan dan keangkeran yang membuat orang berpikir untuk tidak menatapnya lebih lama. Ah, aku melihat sosok Pendekar Lontar padanya. Rasanya. hari inilah saat yang tepat untuk mengatakan semuanya...."
Berpikir demikian, Dewa Naga mengangguk-angguk.
"Pertanyaanmu barusan, memang datang pada waktu yang tepat! Tapi sebelumnya, aku akan bertanya padamu. Boma... apakah kau lupa pada peristiwa dua belas tahun yang lalu?"
* * *


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...