Rabu, 04 April 2012

Raja Naga - Tapak Dewa Naga 2

3
DISAAT Sema Kuriang mengatakan keadaan Markuto dan Gerada, saat ini Gala Kuriang sedang menyipitkan matanya ke depan. Dalam keremangan malam dia melihat satu sosok tubuh kontet sedang melangkah ke arahnya.
Dari menyipitkan matanya, mendadak saja sepasang mata lelaki setengah baya yang pada keningnya terdapat cebuah tahi lalat, membesar. Saat itu pula dia merasa tegang.
"Hantu Sejuta Setan!" desisnya pelan dan dia berusaha untuk menenangkan perasaannya.
Orang kontet yang ternyata seorang perempuan itu makin lama makin mendekat. Langkahnya santal saja, seperti tidak tergesa ataupun memburu waktu. Tak lama kemudlan, dia telah tiba di hadapan Gala Kuriang.
Sosok perempuan Ini lebih pendek dari Dewa Tombak. Wajahnya dipenuhi keriput dan berkulit hitam. Semakin kelam karena pakaian yang dikenakannya pun berwarna hitam, panjang hingga ke mata kaki. Dan terbetah hingga batas dengkul. Memperlihatkan sepasang kaki hitam yang keriput. Kepalanya bulat dengan rambut panjang acak-acakan hingga pinggul. Hidungnya juga bulat dengan bibir lebar tanpa gigi, Yang mengerikan dari sosoknya adalah sepasang boia ma-tanya, yang menyala-nyala merah.
"Kudengar kabar.... Pendekar Lontar sudah mampus!" kata Ratu Sejuta Setan dengan suara cempreng. Kepalanya agak ditengadahkan saat menatap tajam pada Gala Kuriang.
Yang ditatap kembali menindih gentarnya. Siapa pun sudah mengenal sepak terjang ganas dari perempuan kontet ini. Lalu dengan sikap tenang, Gaia Kuriang menganggukkan kepalanya.
"Kabar yang kau dengar tidak salah. Dan sungguh menakjubkan, kalau dari tempat ini kabar itu menyebar ke tempatmu yang sangat jauh."
Perempuan kontet itu mendengus.
"Minggir! Aku ingin lihat lelaki yang selalu banyak tingkah itu!"
Sikap kurang ajar dan memandang enteng yang diperlihatkan Ratu Sejuta Setan, membuat Gala Kuriang menjadi geram. Saat itu pula kegentarannya lenyap.
"Siapa pun yang datang dengan maksud baik dan bertujuan semata-mata menyembangi Pendekar Lontar, pintu akan selalu terbuka. Tetapi muncul dengan memperlihatkan tingkah tengik dan tangan telengas, apakah masih dapat dibukakan pintu lebar-lebar untuk kehadirannya?!"
"Keparat, Apa yang kau maksudkan dengan tangan telengas itu, Gala Kuriang?!"
Gala Kuriang menunjuk mayat Markuto dan Gerada yang telah terpisah dari kepala masing-masing.
"Apakah kau mau memungkiri keadaan dengan melihat kedua mayat ini?"
Ratu Sejuta Setan lagi-lagi mendengus. Dia kembali berkata-kata, dan
karena tak memiliki gigi, pipinya jadi semakin kempot,
"Aku cuma ingin tahu kehebatan dua orang penjaga Ini! Menjadi penjaga Pendekar Lontar tentunya memiliki ilmu yang lumayan! Tapi dari jarak dua puluh tombak, keduanya tak mampu menghalangi lesatan angin yang kulepaskan!"
Makin mengkeiap Gala Kuriang meiihat tingkah Ratu Sejuta Setan, yang selain memancing amarahnya juga enak saja mengakui perbuatannya.
"Selama ini, aku tak pernah memandang rendah pada perempuan kontet berjuluk Ratu Sejuta Setan! Tetapi malam ini, kedatanganmu sungguh menaikkan amarah! Akulah yang menjadi penjaga pintu rumah duka ini!"
Sepasang boia mata perempuan kontet yang selalu menyala, mendadak bersinar terang. Merah pekat.
"Bagus kalau kau memutuskan untuk menjadi penjaga! Aku ingin lihat apakah kau mampu menghalangi langkahku, atau kau hanya menjadi orang ketiga yang malam ini kubunuh!"
Habis ucapannya, mendadak saja Ratu Sejuta Setan melingkarkan telunjuknya pada ibu jarinya. Dengan tiga jari
lainnya yang terentang, dia mendorongnya ke arah Gala Kuriang.
Gala Kuriang bukanlah anak kemarin sore. Dengan saudara kembarnya dia sudah cukup lama malang melintang di rimba persilatan. Dengan mudahnya dia dapat menghindari Sesatan sinar merah yang berbentuk lingkaran. Namun yang mengejutkannya, karena mendadak sontak sinar merah berbentuk lingkaran itu seperti sebuah bumerang berbalik arah!
Kali ini diiringi suara dengungan keras.
"Heiiiit!"
Gaia Kuriang terkejut dan cepat mengibaskan tangan kanannya. Serangkum angin besar memutuskan gerakan sinar merah berbentuk lingkaran Itu. Kalau blasanya gelombang angin berbenturan dengan tena-ga lain, akan menimbulkan letupan, ini justru tidak.
Gala Kuriang memang mampu memutuskan sinar merah berbentuk lingkaran milik Ratu Sejuta Setan. Tetapi yang terjadi kemudian, sinar merah itu justru membesar dan merangkum gelombang angin yang dilepaskan Gala Kuriang. Menyusul....
Wrrrrr!!
Desss!!
Gelombang angin itu menghantam dada pemiliknya sendiri yang terjengkang di atas tanah dengan keluhan tertahan.
Ratu Sejuta Setan menggeram.
"Kau belum pantas menjadi seorang penjaga! Bila kau tahu malu, seharusnya kau sudah menjadi petani di gunung-gunung!”
Lalu dengan enaknya Ratu Sejuta Setan masuk ke rumah duka. Dia langsung mengedarkan pandangannya pada orang-orang yang berada di sana. Begitu matanya berbenturan dengan tatapan Dewa Naga, perempuan kontet ini segera berkata,
"Rupanya Lembah Naga juga sudah kebagian berita hingga penghuninya perlu untuk datang! Padahal, seorang Pendekar Lontar tak patut didatangi oleh tokoh kenamaan!"
Lalu dengan santainya, perempuan kontet berpakaian hitam in! melangkah mendekat jenazah Pendekar Lontar. Dia tak memandang sebelah mata pada Dewi Lontar, Dewa Tombak, maupun Sema Kuriang.
Ratu Sejuta Setan tak melakukan gerakan apa-apa, hanya sedikit berjingkat untuk melihat jenazah Pendekar Lontar. Masih memandangi
jenazah dia berkata, "Tak kulihat Pusaka Pendekar Lontar ada di sisinya! Orangnya kini sudah mampus! Pusaka itu tentunya tak berguna lagi untuknya! Aku datang untuk mengambil pusaka itu!"
Tingkah menjengkelkan Ratu Sejuta Setan membuat Dewi Lontar menggeram. Perempuan yang masih menggendong Boma Paksi yang masih tertidur, segera berkata,
"Siapa pun yang datang dengan baik-baik untuk menyambangi suamiku, kuterima dengan tangan terbuka. Bila dia datang untuk memancing persoalan, silakan angkat kaki dari sini. Dan tunggu beberapa hari lagi bila tak puas dengan tindakan yang kulakukan!"
Ratu Sejuta Setan menyahut tanpa menoleh, "Tanpa suamimu lagi di sisimu, kau tak akan bisa berbuat banyak, Dewi Lontar. Selama ini, orang hanya meman-dang suamimu yang memiliki iimu tinggi! Sekarang, bila kau banyak tingkah, aku tak akan segan untuk menampar mulutmu sampai berdarah!"
Menggigil tubuh Dewi Lontar mendengar kata-kata yang menyakitkan itu. Dia sudah hendak bergerak, tetapi begitu melihat Dewa Tombak menggelengkan kepala, terpaksa dia surutkan niat. Hati
perempuan yang masih dilanda duka karena kematian suaminya, kini berbalur kemarahan tinggi terhadap Ratu Sejuta Setan.
Masih tanpa berbalik, perempuan kontet itu berkata lagi, "Kurasakan gerakanmu itu, Dewi Lontar! Tapi mengapa kau menahannya? Apakah kau sudah sadar kalau Kau tidak memiliki kemampuan apa-apa tanpa suamimu? Bagus kalau kau sudah menyadari hal itu! Itu artinya, kau sadar siapa dirimu sebenarnya! Sekarang, berikan padaku Pusaka Pendekar Lontar!"
Di akhir kata-katanya, Ratu Sejuta Setan membalilkkan tubuh. Bola matanya menghujam dalam pada bola mata bening Dewi Lontar. Dewi Lontar sesaat mengkelap mendengar ucapan si perempuan tua kontet. Tetapi dia tak buka suara. Hanya mengerahkan tenaga dalam, karena merasakan adanya gelombang tenaga yang mencoba menerjang kedua matanya.
Tiba-tiba terdengar dengusan Dewa Naga, keras. Disusul makiannya, "Perempuan kontet! Kau datang dengan sikap memuakkan! Ayo, tinggalkan tempat Ini sebelum kau kutendang sampai menggelinding!"
Tanpa mengalihkan pandangannya dari Dewi Lontar, Ratu Sejuta Setan menyahut
dingin, "Silang sengketa tak pernah kulakukan dengan orang Lembah Naga! Tetapi kalau malam ini hendak buka urusan, aku sudah siap menghadapi!"
"Eh! Brengsek kau ya?! Kau pikir kau ini siapa, hah? Sudah kontet, banyak lagak lagi! Kau mau tubuhmu kubuat lebih kontet, hingga kau akan dijadikan sebuah bola oleh anak-anak di sebuah dusun? Atau kau...."
Bruuut!
Pantat Dewa Naga berbunyi. Kali ini si kakek tak mempedulikan bunyi 'merdu’ itu. Dia berkata lagi, "Eh, tadi aku ngomong sampai mana ya? Makan nasi uduk, ya? Wah, bukan! O ya, kau ini masih mau hidup atau tidak?! Masih mau... waduh! Betul tidak sih memang itu yang mau kukatakan? Brengsek betul!"
Kali Ini Ratu Sejuta Setan segera memalingkan kepalanya. Dia mendongak dan memandang tajam pada Dewa Naga. Yang ditatap justru membelalakkan kedua matanya.
"Busyet! Kau mencoba mengerahkan tenaga dalam melalui matamu? Huh! Apa kau pikir kau sudah mampu melakukan hal itu, hah?!" gerutunya Jengkel.
Lalu seiring bunyi dari pantatnya lagi. mendadak saja sosok Ratu Sejuta
Setan terhuyung dua tindak ke belakang. Saat itu pula darah merembas dari sela-sela bibir kempotnya. Kejadian yang tak disangka itu membuat gusar si perempuan kontet. Mulutnya terlihat berkemak-kemik tetapi tak ada suara yang keluar.
"Wah! Kau hendak perlihatkan ilmu sihirmu ya? Tak guna! Tak guna!" seru Dewa Naga dengan bibir mencibir. Lalu....
Bruuutt
Enak saja dia buang angin.
Sementara itu, Dewa Tombak menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak menyukai tindakan yang dilakukan Ratu Sejuta Setan. Datang-datang bersikap kurang ajar dan menginginkan Pusaka Pendekar Lontar. Dewa Tombak tahu, kalau Pendekar Lontar memiliki sebuah benda yang berbentuk gumpalan daun lontar. Menurut cerita Pendekar Lontar di kala masih hidup, gumpalan daun lontar yang sejak bertahun-tahun ada padanya tetapi masih tetap berwarna hijau segar, bila direndam ke dalam air, maka akan menyembuhkan penyakit apa pun juga. Dan bila dilemparkan ke arah lawan, setinggi apa pun ilmu lawan, maka tubuhnya akan
remuk terkena hantaman gumpalan daun lontar yang sebesar kepalan tangan.
Yang menjengkelkannya, suasana duka masih meliputi rumah itu, terutama hati Dewi Lontar.
Sebelum Ratu Sejuta Setan bersuara, kakek bertubuh buntal ini sudah berkata, "Perempuan kontet... di tempat ini, bukanlah tempat yang tepat untuk adu ilmu. Bila kau penasaran... aku bisa mewakili Dewa Naga...."
"Busyet! Orang buntal! Kau jangan sok jago ya? Kau pikir aku tak mampu menghadapinya?!" bentak Dewa Naga.
Dewa Tombak hanya mendengus, lalu melangkah keluar sambil membawa tombaknya. Langkahnya egal-egol.
Kata-kata Dewa Tombak sudah menggelegakkan darah Ratu Sejuta Setan. Dia berkata dulu pada Dewa Naga, Tingkahmu malam ini, akan kuingat terus"
Lalu serunya pada Dewi Lontar, "Bila dua puluh hari mendatang kau juga tidak menyerahkan pusaka itu, jangan salahkan aku bila kau akan segera menyusul suamimu!"
Kemudian dia melangkah menyusul Dewa Tombak keluar. Sema Kuriang sendiri segera menyusul karena merasa heran,
mengapa saudara kembarnya belum muncul juga.
Dewi Lontar yang dilanda gusar menarik napas dalam-dalam. Hati perempuan ini sangat masyguL. Hari Ini dia sedang berduka dalam karena kematian suaminya, tetapi tamu yang menyembangi suaminya justru bersikap menjengkelkan. Kendati demikian, Dewi Lontar dapat memaklumi kejadian itu. Karena dia tahu, begitu banyaknya orang-orang yang mendendam pada suaminya, bahkan mungkin, saat ini ada seseorang atau sekelompok orang yang sedang berpesta merayakan kematian suaminya.
Bruuutt!
Pantat Dewa Naga berbunyi lagi. Dia mendengus jengkel pada dirinya sendiri. Lalu berkata, "Kau tak perlu menghiraukan perempuan kontet itu! Biar Dewa Tombak menghajarnya! Tapi kalaupun Dewa Tombak kalah, biar saja! Toh itu sudah maunya sendiri!"
Dewi Lontar hanya tersenyum tipis. Lalu memandangi jenazah suaminya. Saat itu, putranya yang sejak tadi tertidur, terbangun. Sejenak bocah ini menggeliat. Lalu dia tersenyum pada Dewa Naga yang menganggukkan kepala, Lalu dengan wajah segar, seperti tidak terlihat kalau
sebelumnya dia lelap tertidur, bocah Itu turun dari pelukan ibunya.
Begitu meiihat ayahnya terbujur di atas dipan, dia segera melangkah diiringi tatapan sedih dari Dewi Lon-tar. Sejenak bocah yang pada punggungnya terdapat tato naga hijau memandangi ayahnya.
Dia menoleh pada ibunya.
"Ibu...mengapa sejak pagi Ayah tidak bangun-bangun juga? Mengapa tidurnya lama sekali?"
Dewi Lontar sesaat merasa sesak pada dadanya. Napasnya dirasakan putus. Tetapi sebagai perempuan perkasa dia masih dapat kendaiikan diri, kendati dia ingin berteriak sekeras-kerasnya, menumpahkan segala kepedihan di hatinya.
Lalu perlahan dia menjawab, "Boma.... Ayahmu bukannya tertidur...."
"Kalau tidak tertidur, mengapa Ayah tidak bangun juga?" tanya si bocah dengan kening berkerut.
Dewi Lontar lagi-lagi menahan gemuruh di hatinya. Dipandanginya wajah tampan putranya. Ketampanan yang diwarisi dari suaminya.
Sambli memaksakan sebuah senyum, Dewi Lontar menjelaskan apa yang telah terjadi pada ayah Boma Paksi. Dia
menjelaskan begitu lembut dan sejelas-jelasnya.
Bocah itu ternyata cerdik. Dia dapat memahami apa yang dikatakan ibunya. Tak ada tangisan apa-apa kecuali sepasang bola mata yang berkaca-kaca.
"Ketegaran bocah ini iuar biasa. Dia paham apa yang dikatakan ibunya, kalau dia tak akan pernah lagi melihat ayahnya mulai besok. Tetapi dia dapat bersikap tenang. Ah, rupanya... pencarianku selama bertahun-tahun memang harus kusudahi. Bocah itullah yang kucari selama ini, bocah yang hadir dalam mimpi-mimpiku. Tetapi... apakah Dewi Lontar mau menyerahkannya kepadaku?"
Dewa Naga yang membatin tadi, menggeleng-gelengkan kepala.
"Mungkin ini bukan saat yang tepat. Tetapi, aku harus memintanya. Aku merasa yakin, kalau jantung Pendekar Lontarlah yang menyebabkan kematiannya. Bukan karena penyakit, tetapi satu serangan yang dilakukan seseorang. Hanya saja, aku belum bisa memastikan, bagaimana Pendekar Lontar yang memiliki ilmu 'Raga Pasa' tidak mengetahui atau tidak dapat menghindar kalau dirinya diserang. Hemm... hanya Dewa Segala Obat yang mengetahui penyebabnya secara pasti..."
Sementara Itu, diluar telah terdengar suara teriakan disusul letupan berkali-kali. Saking kerasnya letupan itu, orang-orang yang berada di dalam rumah duka, agak bergetar karena lantai yang mereka pijak pun bergetar.
Dewa Naga menggeram.
"Brengsek betul Ratu Sejuta Setan itu!"
“Ibu...," panggil Boma Paksi dengan kening berkerut. "Apakah saat ini sedang terjadi gempa seperti lima bulan yang lalu?"
Dewi Lontar menggelengkan kepalanya.
“Tidak, Anakku. Tidak terjadi gempa apa-apa. Kau tak perlu menghiraukannya. Sekarang, menyembahlah pada jenazah ayahmu untuk terakhir kalinya...."
Boma Paksi masih mencoba merasakan letupan keras yang kembali terjadi, yang menyebabkan lantai yang dipijaknya bergetar. Lalu suara....
Glegaaarrr!
Mungkin tembok yang mengelilingi rumah itu sudah jebol. Entah akibat serangan siapa.
Lalu dengan sikap tak mempedulikan kejadian itu, bocah gagah yang pada kedua tangannya sebatas siku dipenuhi
sisik-sisik halus warna coklat, segera berlutut dengan merangkapkan kedua tangannya di depan dada. Dia berdoa khusuk, khusus untuk arwah ayahnya.
Kakek muka lonjong memperhatikannya tak berkedip. Samar-samar terlihat senyuman bibirnya. Sikapnya itu tak luput dari perhatian Dewi Lontar.
* * *

4

DILUAR rumah duka itu, Dewa Tombak sedang berusaha melayani serangan-serangan ganas yang dilancarkan Ratu Sejuta Setan. Berulang kali sinar-sinar merah melingkar yang dilepaskan perempuan tua kontet itu berhasil dihindarinya. Namun sinar-sinar merah itu justru berpentalan dan berbalik arah ke arahnya dengan ganas. Bahkan sinar-sinar merah lainnya naik ke atas, lalu muncrat menyebar dan laksana hujan mengguyur Dewa Tombak.
Tanah di mana sebelumnya Dewa Tombak berdiri, langsung meletup keras dan muncrat ke udara.
Mendapati setiap serangannya dapat dihindari oleh Dewa Tombak, perempuan kontet berpakaian hitam itu semakin ganas. Serangan demi serangannya terus diiancarkan, yang membuat Dewa Tombak mulai terdesak.
Kakek bertubuh gemuk ini pun muiai dibuncah kemarahan. Tetapi meskipun kemarahannya sudah tiba di ubun-ubunnya, Dewa Tombak tetap tertawa-tawa.
"Selama ini kudengar, Ratu Sejuta Setan memiliki ilmu yang sangat tinggi, hingga berani melanglang buana dengan ilmunya itu! Tetapi malam ini, aku melihat sesuatu yang sangat lain dari yang pernah kudengar!!"
"Terkutuk! Kau hanya bisa melompat-lompat seperti bola ditendang ke sana kemari!"
"Dan bola itu dapat menghindari permainan anak kecil yang kau perlihatkan!"
Ucapan Dewa Tombak semakin membuat keganasan Ratu Sejuta Setan kian menjadi-jadi. Kalau tadi sinar merah yang dilepaskannya muncrat ke atas dan turun laksana hujan, kali ini diiringi gemuruh angin lintang pukang.
Dewa Tombak yang sejak tadi terus menghindar, sesaat menahan napas melihat
ganasnya serangan lawan. Tombak birunya mendadak saja diputar yang kecepatan putarannya melebihi sebuah baling-baling. Diiringi gemuruh angin yang menderu-deru, bermuncratanlah sinar-sinar biru yang mengandung hawa panas.
Jlegaaarrr!
Bertemunya dua gelombang angin dahsyat itu menimbulkan letupan yang keras, diiringi muncratnya tanah keudara. Saking kerasnya lagi-lagi tempat itu seperti bergetar. Dinding tembok yang mengelilingi rumah duka, bagian depannya kontan roboh. Mengiringi letupan keras itu, bermuncratanlah sinar-sinar merah yang berbenturan dengan sinar-sinar biru. Malam pekat laksana dihiasi kembang api. Berulang-ulang.
Begitu muncratan sinar-sinar itu jatuh ketanah, terdengar letupan-letupan kecil. Namun akibatnya, tanah bermuncratan secara bersamaan!
Di tempatnya, Gala Kuriang yang masih menahan sakit, memandang tak berkedip pada Ratu Sejuta Setan. Saudara kembarnya yang kini tahu mengapa Gala Kuriang tidak segera masuk tadi, menyipitkan mata.
Gelegak amarah sudah terpampang di depan matanya.
"Gala Kuriang... nenek kontet itu sudah menunjukkan sikap yang tidak baik. Dia bukan hanya buka ucapan yang menyakitkan hati, terutama hati Dewi Lontar. Tetapi sekarang, dia justru menimbulkan keonaran di sini...."
Gala Kuriang menganggukkan kepalanya.
"Sikap Iblis Penghancur Raga dan Iblis Telapak Darah pun tak mengenakkan hati, tetapi mereka tak sampai menimbulkan keributan. Lain halnya dengan perempuan tua kontet satu ini."
Sema Kuriang melirik saudara kembarnya.
"Apakah kau tak ingin menuntut balas atas perlakuannya terhadapmu?"
Sesungguhnya Gala Kuriang sudah tak bisa menahan diri untuk membalas perbuatan Ratu Sejuta Setan tadi. Tetapi agaknya, lelaki setengah baya yang pada keningnya terdapat tahi lalat hitam, masih dapat mengendalikan amarahnya.
"Sebelum kedatangannya tadi, kita sudah menyetujui, untuk menjemput Dewa Segala Obat. Orang tua yang mengerti bermacam penyakit dan pemunahnya itu, harus tiba di sini sebelum matahari
sepenggalah besok pagi. Karena, upacara penguburan akan dilakukan besok. Bila ternyata dia tidak bisa datang ke sini, berarti kita tak punya rasa curiga lagi akan penyebab kematian Pendekar Lontar...."
"Dewa Naga sempat mengucapkan kata Menara Berkabut. Aku yakin, sesungguhnya kakek muka lonjong bersisik hijau itu sudah mencurigai sesuatu."
"Tetapi kau tentunya tahu akan sifat Kakang Segala Jaka. Orang itu memiliki sifat angin-anginan. Sudah tentu kita tak akan pernah mendengar apa yang diketahuinya... Kalaupun kita berhasil mendengar dari mulutnya, mungkin karena sifat baiknya lagi muncul...."
Sema Kuriang tak membuka mulut, dia melihat Ratu Sejuta Setan kembali melancarkan serangannya pada Dewa Tombak yang membalas dengan tombak birunya itu.
Lalu katanya pada saudara kembarnya, "Ya... sebaiknya kita segera menjemput Dewa Segala Obat...."
Kejap berikutnya, Dua Serangkai Jubah Hijau sudah melesat meninggalkan tempat itu. Gala Kuriang berlari dengan masih menahan rasa sakit.
* * *
Pertarungan sengit yang terjadi di depan rumah duka itu semakin mengganas. Ratu Sejuta Setan semakin menggila. Dia benar-benar jengkel karena setiap kali melancarkan serangan, setiap kali pula dapat dilumpuhkan oleh Dewa Tombak.
Bahkan, satu tendangan yang dilancarkan oleh Dewa Tombak, tepat mengenai perutnya, hingga perempuan tua kontet itu terjengkang.
Pakaian hitam yang dikenakannya tersingkap!
Dewa Tombak yang sudah hendak melancarkan serangan, justru menghentikan gerakannya. Saat lain dia berpaling sambll menutup mata dengan tangan kirinya.
"Astaga! Kau tidak pakai apa-apa di balik pakaianmu itu?! Astaganaga! Rumput keringmu hitam betul! Kupikir... kau tidak punya kue cucur seperti kebanyakan perempuan! Sudah peot kali, ya?! Duh! Baunya begitu busuk! Tidak pernah kau cuci apa tidak pernah disentuh pacul laki-laki?!"
Bukan kata-kata itu yang membuat Ratu Sejuta Setan semakin mengkelap. Tetapi tendangan yang bersarang telak pada perutnya yang seketika dirasakan
seperti diaduk-aduk tangan kasar. Sebenarnya dia cukup heran sekaligus terkejut, karena dia sama sekali tak melihat Dewa Tombak lepaskan tendangan.
"Hei, hei! Kau masih pamerkan kue cucurmu tidak? Cepat tutupi! Nanti keburu banyak lalat!"
"Terkutuk!" maki Ratu Sejuta Setan geram. Paras hitamnya nampak semakin menghitam. "Kakek gemuk keparat! Untuk saat ini, kuputuskan untuk menghentikan pertarungan! Tetapi tak akan pernah kulupakan kejadian ini!"
Masih berpaling dan menutupi kedua matanya dengan telapak tangan kirinya, Dewa Tombak berseru,
"Tidak melupakan ya tidak melupakan! Tapi kau sudah menutupi belum? Baunya sungguh tak sedap nih!"
"Setan buntal! Selama dua puluh hari di muka, kau masih kuberi kesempatan hidup! Katakan pada Dewi Lontar, bila dia tak menjumpaiku di Tanah Terbuang, dia tak akan pernah menikmati cahaya matahari pada hari kedua puluh satu! Demikian pula denganmu!"
"lya, iya! Tapi... kau sudah menutupi kue cucur hangus itu apa belum?!" seru Dewa Tombak keras.
Ratu Sejuta Setan merutuk sehabis-habisnya mendengar kata-kata Dewa Tombak. Tetapi perempuan kontet ini tak melakukan serangan. Sedikit banyaknya, dia dapat menduga kalau dia akan sulit menghadapi Dewa Tombak.
"Sambil menunggu dua puluh hari di muka, sebaik nya aku ke Menara Berkabut. Aku yakin, dialah yang telah membunuh Pendekar Lontar...."
Habis membatin demikian, dengan membawa sejuta kemarahannya, perempuan tua kontet berkulit hitam legam itu sudah melesat menjauh.
Dewa Tombak yang mendengar lesatannya berseru, "Heiii! Bau busuknya masih tertinggal, nih?! Kau harus mensucikan kembali tempat ini dari bau kue cucurmu!!"
Ratu Sejuta Setan tak menghiraukan seruan ejekan itu. Dia mendesis berulang-ulang, "Kau akan menerima balasannya... kau akan menerima balasannya...."
Di tempatnya, Dewa Tombak hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa.
"Dua puluh hari di muka... perempuan kontet itu tentu akan menjalankan janjinya.... Hemm. rasanya, aku tak
perlu menyampaikan urusan ini pada Dewi Lontar. Biarlah aku yang akan datang ke Tanah Terbuang pada hari kedua puluh."
Habis membatin demikian, kakek bertubuh bulat berpakaian biru ini memperhatikan mayat Markuto dan Gerada yang tanpa kepala. Ada kepedihan di hatinya. Lalu sambil menarik napas pendek, dia muiai menggali makam untuk keduanya dengan tombak birunya.
Di dalam rumah duka, Boma Paksi masih berlutut dihadapan jenazah ayahnya. Dewa Naga masih memperhatikan tak berkedip. Matanya yang bersinar merah berwibawa dalam, seperti mengandung kekuatan yang tak bisa dihindari.
Lalu tanpa menoleh pada Dewi Lontar, kakek muka lonjong penuh sisik hijau ini berkata, "Dewi Lontar... nampaknya Sang Pencipta telah melakukan satu pilihan utuh yang sangat sempurna. Pilihan yang telah dijatuhkan pada keluargamu....”
"Apa maksudmu dengan pilihan itu, Dewa Naga?"
"Bertahun-tahun lamanya aku bermimpi. Mimpi aneh yang membuatku semakin tak mengerti. Tetapi bertahun-tahun pula kupaksakan diri untuk mencari titik temu dari mimpiku
itu. Dan baru sekarang ini, kuhentikan semua pencarianku...."
"Aku sama sekali tak mengerti apa yang kau maksudkan, Dewa Naga?"
"Dewi Lontar... aku tak tahu, apakah kau tahu makna dari tato naga hijau yang terdapat pada punggung putramu atau tidak. Tetapi, bocah dengan gambar tato seekor naga hijau pada punggungnya, yang dlbawa sejak lahir itulah yang selalu datang dalam mimpi-mimpiku...."
Kening Dewi Lontar berkerut. Dia melirik Boma Paksi yang masih berlutut di samping jenazah suaminya.
"Aku belum mengerti...."
"Memang sulit bila kujelaskan," kata Dewa Naga. Ketika dia hendak menyambung, dia urung. Karena...
bruuutt!
"Busyet! Nih pantat tidak bisa diajak diam?!"
Dewi Lontar hanya memperhatikan.
"Kesaktian yang dimilikinya tiada banding. Sulit mencari tandingan tokoh satu ini. Tetapi sifat angin-anginannya masih saja terlihat," katanya dalam hati.
"Menjelaskannya saat ini pun, bukan saat yang tepat. Tetapi telah kubulatkan tekad, bila aku berjumpa dengan bocah
yang hadir dalam setiap mimpiku... aku akan mengangkatnya menjadi seorang murid."
Mendengar kata-kata Dewa Naga, kepala Dewi Lontar terangkat. Sepasang mata perempuan perkasa itu membulat dan mengerjap-ngerjap. Dia tahu arah ucapan si kakek berjubah merah.
"Dewa Naga... aku dan suamiku pernah berangan-angan, bila putra kami sudah berusia enam tahun, maka dia mulai kami gembleng untuk mewarisi segala ilmu yang kami miliki. Kendati suamiku sudah tiada. aku tetap akan mewujudkan angan-angan kami itu. Jadi...aku pikir, biarlah putraku, si Boma Paksi tetap bersamaku...."
"Aku tak pernah memaksa. Bila kau tak menyetujuinya... aku akan menurut saja...."
"Terima kasih atas pengertianmu...."
"Satu hal yang harus kukatakan sebelum kutinggalkan tempat ini... adalah tentang penyebab kematian suamimu. Mungkin Dewa Segala Obat yang dapat menjelaskan lebih rinci. Tetapi telah kutangkap sesuatu yang tak mengenakan, sesuatu yang menyesakkan dada...."
Terbuka kedua mata Dewi Lontar.
"Dewa Naga... apakah yang kau maksudkan, kalau suamiku tewas dibunuh seseorang?"
"Ya! Pada balik jantungnya, terdapat sebuah titik hitam yang telah menghanguskan sebagian jantungnya. Jantung bagian atas masih utuh dan tetap normal, tetapi bagian bawahnya telah menghitam. Aliran darah tak bisa mengalir secara sempurna. Dan aku yakin, suamimu tewas tanpa mengetahui apa penyebabnya. Itulah yang agak kusesali sebenarnya, selain kematian yang merenggut nyawa suamimu...."
"Kau tahu apa penyebabnya?" Dada perempuan perkasa itu bergetar.
"Hanya Dewa Segala Obat yang bisa menerangkannya...," sahut si kakek muka lonjong. Lalu sambungnya, "Kendati begitu... aku tahu siapa yang telah melakukannya...."
"Okh! Kau tak mau mengatakan penyebab kematiannya, sekarang, apakah kau juga tidak mau mengatakan siapa yang telah melakukannya?"
"Aku menginginkan putramu menjadi muridku. Karena, niat telah kucanangkan. Bila aku mendustai apa yang selama ini kucari... berarti aku tak pernah
menghargai diriku sendiri... Satu hal yang perlu kuceritakan padamu. Sisik yang ada pada tubuhku ini bermula setelah aku menguasai ilmu-ilmu naga. Sisik ini bertumbuhan dan semakin lama semakin jelas. Tetapi sisik-sisik coklat pada kedua tangan putramu sebatas siku telah dibawanya dari lahir. Dewi Lontar... aku telah berniat untuk menggembleng putramu. Karena... dialah satu-satunya orang yang tepat untuk kujadikan sebagai penerus ilmu yang kumiliki."
Kata-kata Dewa Naga membuat Dewi Lontar terdiam. Perempuan perkasa ini diliputi kebimbangan dalam. Di satu segi, dia ingin sekali mengetahui penyebab kematian suaminya dan siapa orang yang telah melakukannya. Tetapi di segi lain, dia tak mau berpisah dengan putranya. Apalagi sekarang, dia hanya memiliki Boma Paksi seorang.
Lalu dengan membesarkan hati dia berkata, "Maafkan aku... aku terpaksa memilih untuk tidak mengetahui siapakah orang yang telah membunuh suamiku."
"Itu lebih baik!" suara Dewa Naga terdengar agak serak.
"Dan aku berharap, Dewa Segala Obat mau mengatakannya."
"Mudah-mudahan...."
"Sayangnya, aku merasa tak bisa menghargaimu lagi...."
"Itu hakmu. Dewi Lontar, aku terpaksa pamit sekarang. Aku tak bisa menghadiri pemakaman suamimu besok. Tiba-tiba saja aku merasa sedih, karena kau menolak permintaanku...."
"Maafkan aku, Orang Tua..."
Dewa Naga tak menjawab. Dibalikkan tubuhnya dan hendak melangkah.
"Kakek" panggilan si kecil itu urungkan niatnya melangkah.
Dewa Naga tak berpaling.
"Ada apa?"
"Hendak ke manakah kau?" tanya si kecil Boma Paksi.
"Aku akan kembali ke Lembah Naga."
"Besok ayahku akan dimakamkan, kau tak ingin hadir dalam upacara pemakamannya?"
"Aku tak biasa melakukan hal itu."
"Mengapa?"
"Karena aku memang tak biasa melakukannya."..," sahut Dewa Naga, lalu melangkah keluar.
Dewi Lontar merangkul putranya yang mencoba memanggil si kakek muka lonjong.
"Biarkan dia, Boma."
"Ibu... aku menyukai kakek itu. Dia lucu. Pantatnya selalu berbunyi terus.
Mukanya memang galak tetapi dia baik hati. Aku dapat merasakannya, Ibu. Pada wajah dan tubuhnya ada sisik hijau!"
"Ibu pun menyukainya," sahut Dewi Lontar sambil mengangguk. "Tetapi seperti yang dikatakannya tadi, dia mungkin memang tak biasa menghadiri upacara pemakaman...."
"Padahal, aku mau ikut dengannya, Ibu...."
Dewi Lontar tercekat mendengar kata-kata putranya. Sesaat dipandanginya wajah tampan Boma Paksi. Lalu hati-hati diliriknya tato naga hijau yang terdapat pada punggung putranya, yang telah ada sejak dia dilahirkannya.
"Mungkin... kelak kau akan ikut dengannya, Boma.... Tetapi untuk saat ini... sebaiknya kau menemani Ibu saja."
Boma Paksi tersenyum.
"Ibu... sampai kapan pun aku akan menemani Ibu. Aku akan menjaga Ibu. Ayo kita berdoa untuk Ayah...."
Sementara kedua ibu dan anak itu berlutut di samping jenazah orang yang mereka cintai, Dewa Naga sedang mendengus tatkala berpapasan dengan Dewa Tombak yang sedang melangkah masuk.
Pertanyaan Dewa Tombak tak disahutinya sama sekali. Tetapi pantatnya berbunyi.
Bruuuttt
Dewa Tombak menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu masuk ke dalam. Dia melihat Dewi Lontar sedang berdoa khusuk bersama bocah gagah berusia lima tahun itu.
Ditunggunya beberapa saat sampai Dewi Lontar menyadari lagi kehadirannya. Perempuan jelita yang berkalungkan rangkaian daun lontar itu meliriknya sejenak, lalu kembali menatap putranya yang masih khusuk berdoa.
Dewa Tombak berbisik, "Mengapa orang tua bersisik itu kelihatan gusar?"
Dewi Lontar sejenak menatap kakek gemuk di sampingnya. Lalu diceritakan apa yang kira-kira membuat Dewa Naga kecewa.
Dewa Tombak hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan istri mendiang Pendekar Lontar.
"Yah... siapa pun pasti akan merasa kecewa bila keinginannya ditolak. Terutama, setelah memastikan kalau dia akan mengangkat seseorang menjadi murid, yang dapat diharapkan sebagai pewaris dari seluruh ilmu yang dimilikinya."
* * *


Load disqus comments

0 komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top