Rabu, 04 April 2012

Raja Naga - Tapak Dewa Naga 1

Tapak Dewa Naga


1
MALAM berkabut dalam. Lolongan serigala di kejauhan, menambah keangkeran malam. Gumpalan awan hitam padat di atas, tak bergeming sedikit pun jugaterhembus angin. Beberapa helai daun berguguran, beterbangan jauh. Malam kali ini lain dengan malam-malam sebelumnya. Lebih mencekam, dingin dan dalam.
Keheningan malam pun melanda sebuah rumah besar yang terletak di sebuah lembah. Lembah yang tak begitu curam dan luas. Hanya beberapa buah pohon yang tumbuh di sana. Tak jauh dari sana puncak-puncak tebing bebatuan berdiri angkuh. Seolah hendak menantang siapa saja yang berniat untuk merobohkannya.
Asap kemenyan tercium dari rumah itu. Rumah yang biasa tenang dan damai, kini telah menjadl rumah duka. Dua orang lelaki bertubuh tegap dan gagah, dengan sebllah pedang di pinggang, berdiri di depan rumah itu. Menyambut ramah beberapa orang yang datang dan kemudian pergi setelah memberikan ucapan belasungkawa pada tuan rumah.
Di dalam rumah itu, di sebuah ruangan yang cukup besar, nampak satu
sosok tubuh terbujur kaku di atas sebuah dipan. Di bawah dipan itu, tepat di bagian kepala dan kaki, mengepul uap kemenyan dari anglo hitam.
Seorang perempuan berusia sekitar dua puluh tujuh tahun, nampak khusuk duduk berlutut di samping kanan jenazah lelaki berwajah tampan yang mengenakan pakaian putih bersih, yang pada kening lelaki itu terdapat untaian daun lontar. Mata si perempuan berpakaian hitam itu sembab. Di lehernya menggantung untaian daun lontar yang dirajut indah. Dia berulang kali mengusap kedua matanya. Dan dengan ketabahan tinggi, dia berusaha untuk menahan tangis.
Tak jauh dari tempatnya, berdiri dua lelaki setengah baya yang mengenakan pakaian serba kuning panjang. Jubah mereka berwarna hijau. Satu sama lain memiliki raut wajah yang sama. Keduanya pun datang dengan belasungkawa yang dalam.
Salah seorang dari kedua orang itu, yang berdiri di samping kiri, menoleh pada seorang lelaki bertubuh pendek, gemukkekar. Lelaki yang diperkirakan berusia sekitar enam puluh tahun itu mengenakan pakaian warna biru terbuka dl bagian dada, hingga tak bisa tutupi perut
gemuknya. Mungkin karena lemak yang berlebihan di setiap inci tubuhnya, hingga tak terlihat adanya kerutan atau keriput di wajahnya. Sebuah tombak berwarna biru tergenggam di tangan kanannya yang gempal, lebih tinggi dari tubuhnya.
Orang yang menoleh tadi berbisik, "Dewa Tombak... apa yang sebenarnya terjadi?"
Si gemuk pendek mengangkat kepalanya, karena orang yang bertanya lebih tinggi. Mata bulatnya sesaat memandangi orang itu, lalu kembali diarahkan pada jenazah lelaki gagah yang terbujur kaku.
Masih memandang dia menjawab, "Aku tidak tahu apa yang terjadi. Lima hari yang lalu... aku datang seperti biasa, untuk menyambangi Pendekar Lontar. Saat itu dia dalam keadaan segar bugar. Tak terlihat tanda-tanda sedang sakit atau kena penyakit. Tetapi kemarin malam, ketika aku datang kembali ke tempat ini, dia sudah tewas...."
"Kau tidak tahu apa yang terjadi?"
Dewa Tombak gelengkan kepalanya. Lehernya yang seperti menyatu dengan bahunya seperti tak kelihatan bergerak.
"Bukan hanya aku yang tidak tahu apa yang menyebabkan kematian Pendekar Lontar. Tetapi istrinya sendiri, Dewi Lontar, ketika kutanyakan sebab-sebabnya, dia mengaku tidak tahu sama sekali."
"Sebagai seorang sahabat, kau sudah memeriksa keadaan Pendekar Lontar?"
"Aku sudah melakukannya. Tak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Semuanya normal. Bagian tubuhnya tak terlihat terkena satu serangan. Tadi siang, aku sudah menghubungi Dewa Segala Obat. Biar bagaimanapun juga, aku ingin mengetahui penyebab kematian Pendekar Lontar. Bila memang Pendekar Lontar meninggal karena panggilan Sang Pencipta, itu tak perlu dipermasalahkan lagi. Tetapi kita tahu, Pendekar Lontar banyak mempunyai musuh akibat dari segala tindakannya yang selalu membela kebenaran."
"Katamu tadi, kau sudah menghubungi Dewa Segala Obat. Apa katanya?"
"Dia berjanji untuk datang. Dan aku berharap, dia dapat menemukan sebab-sebab kematian Pendekar Lontar...," sahut Dewa Tombak. Lalu mengangkat kepalanya,
"Sema Kuriang... aku tahu kesibukanmu dengan saudara kembarmu itu.
Tetapi kau tetap bisa datang. Aku mengucapkan terima kasih...."
Si lelaki berjubah hijau itu menganggukkan kepala.
"Kendati kami jarang berjumpa dengan Pendekar Lontar, tetapi kami sangat menghormatinya. Dalam usianya yang baru tiga puluh tahun, julukannya sudah membedah sebagian jagat raya ini sebagai orang yang berada dalam golongan lurus. Selain dikenal dengan ilmu yang dimilikinya, Pendekar Lontar juga pandai memainkan ilmu pedang. Tak seorang pun yang menyangsikan kehebatannya mempergunakan pedang. Sudah tentu, kami, Dua Serangkai Jubah Hijau, merasa perlu untuk datang memberikan penghormatan terakhir...."
Baik Sema Kuriang maupun Dewa Tombak tak buka suara. Mereka melihat perempuan berpakaian ringkas warna hitam perlahan-lahan bangkit. Sepasang mata yang biasanya bersinar ceria dan indah, kini sembab akibat menahan tangis. Si perempuan yang ternyata istri dari si lelaki yang telah menjadi mayat, memandang pada keempat orang itu.
Dia mencoba tersenyum.
"Terima kasih atas kedatangan kalian...," katanya agak tersendat.
Dewi Lontar..., kata Sema Kuriang. "Aku sudah bertanya pada Dewa Tombak, penyebab kematian suamimu, si Pendekar Lontar. Tetapi dia tidak tahu apa yang terjadi. Sebagai orang yang menghargai sekaligus menghormati Pendekar Lontar, kami merasa perlu untuk mengetahui penyebab kematiannya....”.
Perempuan berambut hitam indah dikuncir kuda yang dari tubuhnya menguarkan aroma harum itu, menarik napas pendek. Hidung bangirnya agak memerah, demikian pula dengan kulit putih bersihnya.
Sambil memainkan kalung daun lontar yang tergerai di dadanya, perlahan-lahan dia menggeleng.
"Aku sendiri tidak tahu sama sekali.... Kemarin malam, kami masih bercanda. Bahkan, kami sama-sama mencandai putra kami satu-satunya, si Boma Paksi, sampai putra kami yang berusia lima tahun itu tertidur."
"Apakah kau tidak melihat gelagat buruk saat itu?" tanya lelaki berjubah hijau yang berdiri di samping Sema Kuriang. Wajahnya mirip dengan Sema Kuriang. Tetapi ada tahi lalat tepat di tengah keningnya.
Dewi Lontar kembali menggelengkan kepalanya. Gerakannya sangat lemah. Perempuan perkasa itu merasa sebagian jiwanya telah terampas pergi bersamaan meninggalnya suaminya. Sebelum subuh tadi, dia terbangun karena hendak buang air. Lalu dia pergi ke belakang. Setelah itu dia kembali ke kamarnya. Dilihatnya suaminya yang tertidur dengan kedua mata mengatup.
Rasa cinta kasihnya membuatnya lebih lama memperhatikan suaminya. Sampai dia merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Karena dia tak mendengar desahan napas lembut suaminya seperti biasa. Rasa herannya itu membuatnya jadi penasaran. Dijulurkan telunjuknya ke hadapan hidung suaminya.
Hati Dewi Lontar seketika tercekat karena dia tak merasakan adanya hembusan atau tarikan napas. Rasa penasarannya berubah menjadi panik. Dia segera tempelkan telinganya pada bagian jantung suaminya. Sama sekali dia tak mendengar bunyi detakan lembut jantung suaminya.
Untuk beberapa saat Dewi Lontar tertegun. Seperti tak mempercayai apa yang terjadi. Dan perlahan-lahan dia sadar, kalau suaminya sudah meninggal.
Kala matahari sepenggalah, Dewa Tombak muncul sesuai janjinya dua hari lalu. Diceritakannya apa yang telah terjadi dengan penuh kesedihan.
Dewi Lontar menggelengkan kepalanya. Perempuan berwajah bulat telur Ini berusaha untuk kelihatan tegar.
"Aku tak melihat tanda-tanda kecemasan suamiku akan sesuatu pada malam itu. Dia tetap kelihatan tenang dan selalu ceria seperti biasanya...."
"Dewi Lontar... selama ini suamimu dikenal sebagai orang yang membela orang yang Eemah. Berpuluh orang pernah dikalahkannya karena orang-orang itu berbuat makar. Menurut penilaianku, tak mustahil bila ada orang yang mendendam padanya dan malam itu datang melakukan serangan...."
"Serangan gelap seperti apa pun akan selalu diketahui oleh suamiku...."
Jawaban Dewi Lontar tidak bernada sombong sama sekali. Dua Serangkai Jubah Hijau dan Dewa Tombak, sama-sama tahu kalau Pendekar Lontar memiliki ilmu 'Raga Pasa. Ilmu yang membuatnya dapat mengetahui serangan gelap apa pun juga. Bahkan Ilmu sihir yang dilancarkan oleh
seorang ahli sihir yang sangat ahli pun dapat diketahui.
Dewa Tombak berkata, "Dewi Lontar... tabahkanlah hatimu. Bila memang suamimu meninggal karena sudah batas usianya, relakanlah...."
Dewi Lontar menganggukkan kepalanya.
"Ya... aku akan merelakannya. Kematian apa pun yang telah menimpanya, aku akan rela menerimanya...."
"Tidak!" Dewa Tombak berkata tegas. Perutnya yang besar sesaat bergerak. Lalu suaranya berubah lembut ketika tatapan Dewi Lontar tak berkedip ke arahnya, "Maksudku... aku tak akan pernah terima, bila ternyata ada orang yang telah menjahati suamimu. Bila memang demikian adanya, dugaanku dia tewas akibat ilmu hitam...."
Pernyataan Dewa Tombak membuka sepasang mata perempuan jelita berpakaian hitam. Untuk sesaat dia terdiam memlkirkan apa yang dikatakan orang bertubuh gemuk itu. Tetapi di kejap lain perempuan itu sudah gelengkan kepala.
"Untuk saat Ini, aku tak ingin memikirkan keadaan itu. Besok... aku akan mengadakan upacara penguburan...."
Dewa Tombak tak tersinggung dengan ucapan si perempuan. Dia dapat memakluminya.
"Selama aku mengenal Dewi Lontar, belum sekali pun kulihat dia bersedih seperti ini. Dia selalu ceria dengan kegembiraan yang alami. Tak pernah dibuat-buat. Tetapi di saat lain, dia bisa berubah menjadi seseorang yang sangat garang, melebihi garangnya harimau betina. Dan biasanya, dia selalu memikirkan baik-baik setiap urusan yang terjadi. Nampaknya kail ini, kesedihan sudah melandanya hingga dia seolah tak pedulikan apa yang kukatakan tadi," kata Dewa Tombak dalam hati.
Lalu tamu-tamu pun berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa kepada janda Pendekar Lontar. Mereka berdatangan dan segera pergi.
Sampai tinggal orang-orang yang sejak tadi memang berada di sana. Saat Itulah terdengar suara anak kecil menangis. Dewi Lontar segera beranjak ke salah sebuah ruangan yang terdapat di rumah itu.
Sema Kuriang berbisik pada Dewa Tombak, "Di mana Dewa Segala Obat? Mengapa sampai saat ini dia belum juga hadir?"
Lelaki gemuk itu menggelengkan kepalanya.
"Aku juga heran. Mengapa dia belum hadir juga?"
Tak lama kemudian mereka melihat Dewi Lontar sudah muncul kembali, kali ini sambil menggendong bocah laki-laki yang tertidur manja dalam rangkulan-nya. Bocah itu berambut gondrong. Di punggungnya terdapat sebuah gambar seekor naga berwarna hijau.
Dua Serangkai Jubah Hijau sama-sama memandang tak berkedip pada tato seekor naga yang terdapat pada punggung si bocah. Sementara Dewa Tombak tak acuh saja, karena dia sudah sering melihat gambar seekor naga disana.
Dewi Lontar sadar apa arti tatapan kedua lelaki setengah baya berjubah hijau.
Dia berkata, "Aku tidak tahu bagaimana asal mulanya gambar naga hijau ini terdapat pada punggung bayiku. Saat kulahirkan, gambar naga hijau yang seperti sebuah tato Ini, sudah terdapat pada punggungnya...."
Dua Serangkai Jubah Hijau tak bersuara. Mereka masih memperhatikan tato naga hijau yang terdapat pada punggung si bocah.
Sema Kuriang membatin, "Aku seperti melihat sisik tipis warna coklat yang terdapat pada kedua tangannya sebatas siku. Ah, mungkin aku salah melihat. Rasanya agak janggal kalau bocah Itu memiliki sisik."
Di pihak lain, saudara kembarnya juga membatin, "Pada punggungnya, terdapat tato naga hijau. Pada kedua tangannya sebatas siku terdapat sisik-sisik kecoklatan. Aneh Mengapa kedua tangannya sampai bersisik seperti itu? Padahal Pendekar Lontar dan istrinya tak memiliki sisik seperti itu. Jangan-jangan... sisik-sisik coklat yang terdapat mulai jari-jemarinya hing-ga batas siku, juga dibawanya sejak lahir."
Selagi keheningan terjadi, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di depan. Dewa Tombak segera berkelebat ke sana. Dia melihat dua orang bersenjatakan pedang yang menjaga di depan rumah besar itu, sedang ribut omongan dengan seorang kakek yang me-ngenakan jubah merah. Kepala si kakek lonjong. Kumis putihnya panjang turun ke bawah. Rambutnya yang sudah memutih semua diikat ekor kuda. Bola matanya tajam dengan sepasang aiisyang seperti
menyatu. Dari apa yang ada pada tubuh si kakek, yang mengejutkan adalah kedua punggung tangannya. Karena, di sana ada sisik-sisik berwarna hijau. Sangat jelas. Sisik itu pun terdapat pada bagian wajahnya, tetapi tlpis saja. Karena dia mengenakan pakaian panjang, jadi tak bisa diketahui apakah sisik-sisik Itu juga,terdapat pada bagian tubuhnya yang lain.
Si kakek saat ini sedang marah-marah. Bahkan tangan kanannya siap terangkat untuk menampar kedua penjaga itu.
"Selamat datang ke rumah duka, Dewa Naga...."
Ucapan Dewa Tombak yang disusul dengan sosoknya yang mendekat, membuat si kakek mengurungkan niatnya untuk menampar kedua penjaga yang bersiaga. Bahkan tangan kanan masing-masing sudah menggenggam pedang, siap dihunuskan.
"Brengsek! Apa-apaan kedua cecunguk ini melarangku masuk, hah?! Hei, Orang bulat! Katakan pada mereka, jangan banyak tingkah di hadapanku!"
Dewa Tombak tersenyum. Saat melangkah tubuhnya mengegal-ngegol. Dia memberi isyarat pada kedua penjaga yang
menuruti tetapi tatapannya tajam pada si kakek muka lonjong.
"Hanya kesalahpahaman saja...," kata Dewa Tombak dengan senyuman lebar.
"Dan kau tetap selalu bersikap keras seperti itu rupanya."
Si kakek muka lonjong yang bersisik halus itu menggeram.
"Brengsek! Apanya yang kesalah pahaman, hah?! Mereka melarangku masuk! Memangnya di dalam sana ada pertunjukan yang mengharuskan aku membayar untuk melihat?!"
Salah seorang penjaga itu berseru, "Tuan Dewa Tombak... sikap si kakek sungguh tak menyenangkan. Dia datang dengan sikap yang angkuh. Bahkan mulutnya terus berbunyi yang justru menimbulkan kegaduhan..."
"Eh, busyet maki si kakek dengan mata tajam. "Mulutku berbunyi?! Keparat betul kau ya? Jangan-jangan kau memang mengharapkan kugaplok?!"
Si penjaga sama sekali tak kelihatan takut, karena mereka memang tidak tahu siapa kakek bersisik hijau yang datang ini. Saat ini dia sedang berduka karena majikan mereka tewas tanpa ketahuan penyebabnya. Dan dia sangat tersinggung bila ada orang yang bermaksud
menyembangi majikannya bersikap tak menyenangkan. Selama delapan tahun, Markuto dan adiknya yang bernama Gerada sudah mengabdikan diri pada Pendekar Lontar. Bahkan dengan senang hati Pen-dekar Lontar mengajarkan mereka sedikit ilmu pedang yang dimllikinya. Rasa hormat mereka pada Pendekar Lontar melebihi sayangnya mereka pada nyawa sendiri.
Sementara si penjaga mendelikkan matanya gusar,
Dewa Tombak justru tertawa-tawa keras.
Si kakek muka lonjong menggeram.
"Kau teruskan tawamu, kubunuh kau!!"
Dewa Tombak sendiri segera menghentikan tawanya. Bukan karena takut akan ancaman si kakek yang berjuluk Dewa Naga, melainkan karena dia kembali teringat, kalau saat ini suasana duka sedang melanda.
Lalu katanya pada Markuto, "Kau salah sangka, Markuto. Bukan mulutnya yang berbunyi, tetapi pantatnya!"
Sementara Markuto melongo, si kakek muka lonjong menggeram.
"Brengsek! Kau membuka aibku ya?! Memang... pantatku ini terkadang tidak
bisa diajak kompromi! Selalu bunyi tanpa kuminati! Eh, selagi kuminati... susah sekali bunyinya...."
Dewa Tombak menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu diajaknya Dewa Naga masuk ke dalam. Markuto dan Gerada memperhatikan dengan seksama. Mereka membuka pendengaran lebih lebar. Dan mereka tak mendengar suara yang seperti sebelumnya mereka dengar.
Sementara itu, menyadari kalau dua pasang mata tertuju pada pantatnya, si kakek muka lonjong menggeram jengkel. Mendadak dijentikkan ibu jari dengan telunjuknya.
Claaap....!
Gerakan yang sangat ringan dan cepat itu seperti tak mengandung apa-apa, tetapi Markuto dan Gerada mendadak saja jatuh terjengkang.
Dewa Tombak berkata, "Kau terlalu ringan tangan, Kawan...."
"Keparat kau, Kakek Bulat! Siapa yang tidak risih kalau pantatnya dilihati terus? Memangnya aku janda kembang yang punya pantat bulat yang memancing perhatian untuk diremas-remas?!" seru si kakek gusar.
Dewa Tombak mendengus.
"Bila kakek ini mau, kedua orang itu bukan hanya akan langsung tewas seketika. Tetapi tubuhnya akan lebur menjadi debu," katanya dalam hati. Kemudian melanjutkan, "Tokoh satu ini memang dikenal memiliki sifat angin-anginan. Setiap orang yang mendengar julukannya, pasti akan merasa copot jantungnya. Siapa yang tak mengenal julukan Dewa Naga?"
Lalu dengan langkah yang mengegal-ngegol dia masuk kembali ke ruangan duka, disusul oleh Dewa Naga yang mendengus.
Di pihak lain, Markuto dan Gerada sedang bangklt sambil meringis. Dan mereka tidak mengerti apa yang telah menimpa mereka tadi.
* * *



2
KEKADIRAN Dewa Naga membuat Dua Serangkai Jubah Hijau segera merangkapkan kedua tangannya di depan dada. Yang dihormati justru mendengus saja.
Dia berkata pada Dewi Lontar yang sedang mengangguk hormat, "Siapa orang keparat yang membunuh pendekar gagah itu, Dewi Lontar?"
Dewi Lontar menggelengkan kepalanya. Lalu dengan suara pelan dia menyahut,
"Dewa Naga... suamiku tidak mati dibunuh orang. Tetapi ajal memang sudah menjemputnya...."
“Huh! Bicaramu terlalu ringan! Kau terlalu diliputi oleh kesedihan rupanya!" dengus si kakek berjubah merah. Dia berjalan mendekati jenazah Pendekar Lontar. Saat berjaian mendadak saja sesuatu berbunyi,
Brrut! Bruuut!
Kontan Dewa Naga menghentikan langkahnya. Dia melirik ke kanan kiri dengan wajah agak memerah. Keanehan terpampang. Karena sisik halus warna hijau pada wajahnya, seperti berubah menjadl merah. Setelah dilihatnya tak ada yang ketawa atau meringis, dia melangkah lagi.
Padaha! saat ini Dewa Tombak sudah tertawa keras dalam hati. Sementara Dua Serangkai Jubah Hijau hanya menggeleng-gelengkan kepala saja.
"Kakang Segala Jaka memang tak pernah menghilangkan kebiasaannya itu," desis Sema Kuriang dalam hati.
"Ah... kebiasaan buruk. Tapi mau bagaimana lagi? Dia tak akan pernah bisa menghilangkannya...."
Dewa Tombak membatin, "Tak kusangka kalau Dewa Naga, Majikan Lembah Naga, akan hadir di sini. Ya, ya... siapa pun akan menyambangi kematian pendekar besar seperti Pendekar Lontar."
Saat itu Dewa Naga sudah berdiri di samping kanan sosok Pendekar Lontar yang terbujur kaku. Sepasang mata tajam si kakek yang memperlihatkan Sinar kewibawaan kendati kalau bicara asal saja, memperhatikan sekujur tubuh Pendekar Lontar. Saat lain mulutnya terlihat berkemak-kemik di saat tangan kanannya digerakkan di atas tubuh Pendekar Lontar. Sisik-sisik hijau pada wajahnya semakin menyala.
Tak ada yang menahan apa yang dilakukannya. Mereka tahu, kalau Dewa Naga yang memiliki kesaktian luar biasa itu, sedang mencari penyebab kematian Pendekar Lontar.
Kemudian terlihat tangannya bergetar. Dia buka Suara, "Aku tak
percaya kalau dia tewas tanpa ada penyebabnya...."
Kata-katanya itu membuat orang-orang yang berada di sana, termasuk Dewi Lontar jadi membuka mata lebih lebar. Mereka melihat tangan kanan Dewa Naga semakin bergetar, tepat pada jantung Pendekar Lontar.
"Aku mencurigai ada sesuatu di jantungnya, yang menyebabkannya meninggal...."
"Kakang Segala Jaka...," kata Gala Kuriang salah seorang dari Dua Serangkai Jubah Hijau, "Apakah kau berpendapat kematian Pendekar Lontar tidak wajar?"
"Brengsek! Jangan ganggu aku kalau aku sedang mencari sesuatu, hah?! Kau ingin wajahmu kuhantamkan ke tembok?!" maki Dewa Naga keras.
Gala Kuriang tidak tersinggung dengan ucapan itu. Dia justru menutup mulutnya.
"Aku yakin, Pendekar Lontar mati tidak wajar. Tetapi aku tidak tahu apa penyebabnya. Semua orang tahu, kalau dia memiliki ilmu 'Raga Pasa'. Boleh dlkatakan, kalau orang yang membunuhnyaini memiliki limu yang tinggi dan aneh. Bisa juga kalau dia
mempergunakan sesuatu untuk membunuhnya."
"Kalau kau sudah tahu, mengapa kau katakan dia meninggal tidak wajar?" tanya Dewa Tombak.
Dewa Naga melotot padanya.
"Orang bulat banyak omong! Aku bukan ahli penyakit dan juga bukan ahli obat! Yang bisa menerangkan semua ini hanya Dewa Segala Obat!"
"Aku telah menjumpainya dan memintanya datang ke sini...."
"Bagus! Tapi, mengapa dia belum juga datang?!"
"Dewa Segala Obat selalu tepati janji. Kalaupun dia terlambat datang, mungkin ada sesuatu yang menghambatnya. Tetapi aku yakin, dia pasti datang."
Justru yang datang kemudian, dua orang lelaki berwajah tirus. Kedua lelaki ini diperkirakan berusia sekitar enam puluh tahunan. Tampang mereka sadis dan angker. Yang berambut panjang tetapi botak di tengah, memiliki mata tajam mengerikan. Tak berkumis, tetapi berjenggot yang dikepang. Mengenakan pakaian hitam dengan rompi biru. Di pergelangan tangannya yang kurus terdapat gelang-gelang hitam hingga batas lengan.
Sementara yang seorang lagi, mengenakan pakaian panjang dengan jubah hitam. Lebih tinggi dari yang satunya lagi. Tatapannya pun tajam, dengan kelopak mata agak menurun. Kepalanya plontos, dan terdapat tanda matahari tepat di ubun-ubunnya.
Masing-masing orang yang berada di sana memandang tidak enak akan kehadiran keduanya. Mereka mengenal kedua tokoh itu. Yang berjenggot dikepang berjuluk Iblis Penghancur Raga, sementara yang seorang lagi berjuluk Iblis Telapak Darah. Kedua orang ini dikenal sebagal orang sesatyang menguasai daerah timur.
Iblis Penghancur Raga mengedarkan pandangannya ke orang-orang yang berada di sana. Begitu tertumbuk pada mata Dewa Naga, dia kelihatan berusaha untuk tidak menatapnya lebih lama.
"Keparat! Kupikir kakek sialan itu tidak hadir di sini!" makinya dalam hati. Lalu melangkah mendekati jenazah Pendekar Lontar. Ditatapnya jenazah itu dengan seksama. Dan tanpa sungkan dia memperlihatkan senyuman sinisnya. Lalu melakukan pertghormatan tiga kali. Lalu mundur.
Iblis Telapak Darah ganti melakukan penghormatan yang sama. Tetapi sambil
berkata, "Kehebatanmu ternyata tak seberapa, Pendekar Lontar. Kau yang selama ini dikenal sebagai orang sok suci yang selalu lancang mencampuri urusan orang, akhirnya pun mampus juga...."
Kata-kata sinis Ibiis Telapak Darah membuat muka Dewi Lontar memerah. Tetapi perempuan Jelita yang sedang menggendong Boma Paksi yang masih tertidur, segera tindih amarahnya. Dia tahu, kalau tiga bulan yang lalu, Ibiis Penghancur Raga dan iblis Telapak Darah pernah dikalahkan suaminya di Lembah Air Mata. Dan dapat dipastikan kalau keduanya datang untuk mencari gara-gara.
Tetapi Sema Kuriang tak menyukai kata-kata iblis Telapak Darah.
"Ada seekor kucing yang hendak berubah menjadi harimau, tetapi sampai kapan pun tak akan pernah bisa terjadi walaupun sudah diupayakan seperti apa pun. Keberaniannya tak akan ada meskipun dia telah berubah menjadi harimau. Karena masih ada harimau sesungguhnya yang siap menerkamnya...."
Sindiran halus Sema Kuriang membuat iblis Telapak Darah seketika menoleh. Lelaki berjubah hitam ini sudah hendak buka mulut menyemprot, tetapi tangannya dijentik oleh ibiis Penghancur Raga.
Mengerti maksud dari Iblis Penghancur Raga kalau di sana ada Dewa Naga yang sedang melotot pada mereka, iblis Telapak Darah menelan bulat-bulat kejengkelannya.
Iblis Penghancur Raga berkata pada Dewi Lontar, "Dewi Lontar... kuhaturkan ucapan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kematian suamimu. Terus terang, kami hadir dengan membawa persahabatan dalam. Tak ada dendam sedikit pun di hati kami kendati pernah dikalahkannya di Lembah Air Mata...."
Kendati tak mempercayai kata-kata Iblis Penghancur Raga, Dewi Lontar mengangguk.
"Terima kasih kuucapkan atas kesediaanmu menyambangi jenazah suamiku...."
Iblis Telapak Darah berkata, "Suamimu adalah seorang tokoh besar yang pernah hidup di zaman in!. Sayang, usianya sangat pendek. Padahal, masih banyak yang bisa dilakukannya...."
"Siapa pun tak akan bisa menentang ajal...," kata Dewi Lontar sopan.
Iblis Telapak Darah menganggukkan kepalanya.
"Ya, siapa pun tak akan bisa menentang ajal. Maafkan kami... kami tak
bisa tinggal lebih lama di sini. Sekali lagi, kami turut berduka cita sedalam-dalamnya...."
Setelah itu, keduanya melangkah keluar dengan kepala terangkat, angkuh. Iblis Telapak Darah melirik Sema Kuriang penuh amarah yang dibalas oleh Sema Kuriang tak kalah garangnya.
Sepeninggal keduanya, Dewa Tombak berkata, "Sejak tadi kita memikirkan penyebab kematian Pendekar Lontar. Tak seorang pun yang memungkiri kalau sesungguhnya ini sudah panggilan Tuhan. Tetapi, kita wajib berusaha untuk mengetahui segala penyebabnya. Untuk itu... aku bermaksud untuk menjemput Dewa Segala Obat. Mungkin dia mendapatkan satu halangan hingga terlambat hadir di sini. Padahal, dia su-dah berjanji padaku...."
Dewi Lontar sebenarnya ingin melarang, karena dia tak mau kematian suaminya menjadi urusan yang panjang. Baginya, suaminya memang sudah diberikan umur yang cukup oleh Sang Pencipta. Dan bila Dia menghendakinya untuk pulang, bukan hanya suaminya yang tak dapat menolak, siapa pun orangnya tak akan mungkin bisa menghindari keadaan itu.
Gala Kuriang berkata, "Dewa Tombak... kau adalah sahabat terdekat dari Pendekar Lontar. Akan lebih baik bila kau tetap berada di sini menemani Dewi Lontar. Sebaiknya, biar kami saja yang menjemput Dewa Segala Obat...."
Bukannya Dewa Tombak yang menyahut, Dewa Naga yang berkata, "Brengsek! Apa kau pikir kehadiranku di sini tidak akan jadi lebih baik? Benar-benar ingin..."
Bruuutt!
Kata-kata Dewa Naga terputus karena pantatnya sudah berbunyi lagi. Sekali lagi sisik hijau pada wajahnya berubah menjadi merah. Tetapi dia justru mengangkat dagunya tinggi-tinggi seraya berkata,
"Daripada kutahan jadi uban, kan lebih baik kulepas saja?"
Baik Dewa Tombak maupun Dua Serangkai Jubah Hijau tak menghiraukan selorohannya. Tetapi Dewi Lontar tersenyum. Perempuan perkasa yang sedang berduka itu, merasa agak terhibur dengan ulah si kakek muka lonjong yang penuh sisik hijau.
Lalu penuh duka, dltatapnya jenazah suaminya. Ada keinginan kuat yang mendorongnya untuk memeluk jenazah Itu. Tetapi ditahan sebisanya.
"Suamiku... mungkin hanya Sang Penguasa Jagat dan kau sendiri yang mengetahui penyebab kematianmu. Tetapi mungkin pula kau tak mengetahuinya. Semula... aku tak mempedulikan keadaan itu, karena kau tentunya tahu bila ada satu serangan gelap yang datang. Hanya saja... kata-kata Dewa Naga tadi, mengubah keyakinanku. Aku mencurigai kematianmu, suamiku...," katanya dalam hati.
Dewa Tombak berkata pada Gala Kuriang, "Bila kalian berkenan melakukannya, silahkan."
Dua Serangkai Jubah Hijau sama-sama menganggukkan kepaia.
Dewa Naga berkata setelah mendengus, "Gala Kuriang! Bila kau sudah berjumpa dengan Dewa Segala Obat dan masih memiliki waktu, kuminta kau mendatangi Menara Berkabut"
Kata-kata bernada perintah dari Dewa Naga itu bukan hanya mengejutkan Gala Kuriang saja, tetapi orang-orang yang berada di sana. Siapa pun tahu, Menara Berkabut adalah sebuah tempat yang penuh dengan misteri. Bahkan tempat itu seolah telah melegenda karena kemisteriusan dan keangkerannya. Kalaupun Dewa Naga memerintahkan Dua
Serangkai Jubah Hijau untuk mendatangi Menara Berkabut, tentunya ada sesuatu yang dimaksud.
Tetapi dengan konyolnya si kakek muka lonjong penuh sisik hijau itu justru nyengir, "Eh... tidak usah saja, deh! Tidak usah! Cepat kalian pergi dari sini! Kalau bisa, selekasnya membawa orang tua pikun berjuluk Dewa Segala Obat itu!" Lalu sambungnya sambil menggeleng gelengkan kepala seperti ditujukan pada dirinya sendiri, "Heran! Sudah sedemikian tua... kenapa dia masih hidup juga, ya?"
Kendati demikian, masing-masing orang merasa pasti kalau Dewa Naga mengetahui sesuatu. Tetapi seperti yang mereka ketahui, Dewa Naga adalah seorang tokoh yang selain memiliki kesaktian tinggi juga memiliki sifat angin-anginan. Dan bila ada orang yang berani mendesaknya, bisa jadi mulutnya sudah mencong tanpa orang itu tahu apa penyebabnya!
Mendadak dia membentak, "Hei, Kenapa kalian masih berada di sini?! Tadi kalian yang mau untuk pergi menemui Dewa Segala Obat! Sekarang masih diam di sini kayak kambing ompong! Ayo, sana pergi! Kalau tidak... kujitak kepala kalian!"
Sesungguhnya, sikap Dewa Naga tidaklah tepat. Karena saat ini suasana sedang berkabung tengah melanda rumah besar itu. Tetapi dia masih bersikap semau jidatnya saja. Karena memang begitulah sifatnya. Hanya saja, janganlah sekali-sekaii memancing amarahnya!
Dua Serangkai Jubah Hijau segera mengangguk dan melangkah keluar.
"Brengsek!" dengus Dewa Naga. Lalu diarahkan pandangannya pada Dewi Lontar yang masih menggendong putranya yang tetap tertidur. Mulut Dewa Naga hendak membuka, tetapi mendadak saja dia melongo. Seperti melihat sesuatu yang baru, kakek muka lonjong ini terdiam dengan muiut ternganga.
"Ada apa, Orang Tua?" tanya Dewi Lontar pelan.
"Busyet! Astaganaga! Benar-benar astaga! Dewi Lontar... bocah siapakah yang sedang kau gendong itu?"
"Dia adalah putraku, Orang Tua."
"Siapa namanya?"
"Boma Paksi."
"Nama yang bagus. Berapa usianya?"
"Jalan lima tahun...."
"Gila! Sudah hampir lima tahun? Dan selama ini aku tidak tahu kalau kau dan
Pendekar Lontar sudah mempunyai anak sebesar itu? Benar-benar busyet! Ke mana aku selama ini?"
"Kau memang tidak ke mana-mana... tetapi asyik menggoda janda dusun sebelah," sahut Dewa Tombak.
Dewa Naga mendengus. Matanya mendadak tajam memerah.
"Kakek buntal! Kau terlalu banyak omong! Ingin perutmu kukempeskan?!"
Dewa Tombak hanya mengangkat bahunya saja, tak acuh.
Dewa Naga kembali memandang Boma Paksi yang masih tertidur.
"Astaganaga!" desisnya dalam hati. "Bertahun-tahun aku mencari seorang bocah yang pada punggungnya terdapat gambar seekor naga hijau. Bertahun-tahun pula aku dibingungkan oleh mimpiku mengenai bocah itu. Dan tidak tahunya, bocah itu terlahir dari rahim Dewi Lontar yang merupakan perpaduan dengan Pendekar Lontar. Nasib baik, walaupun hari buruk. Tak perlu lagi aku melangkah jauh, melanglang buana melewati sebagian jagat untuk mencari bocah itu. Kini sudah terpampang di depan mata...."
Dewi Lontar tahu ke mana tatapan Dewa Naga ditujukan. Tetapi perempuan jelita ini tak menghiraukannya.
Dilihatnya si kakek muka lonjong hendak membuka suara dengan kedua mata masih tak berkedip.
Namun urung dilakukannya, karena pada saat itu Sema Kuriang melangkah masuk. Dewa Naga sudah mau membentaknya, tetapi didahului oleh Sema Kuriang yang berkata tenang, "Ada orang yang hendak tunjuk ilmu di sini Markuto dan Gerada tewas dengan leher putus"
* * *-


Load disqus comments

0 komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top