Rabu, 04 April 2012

Raja Naga - Tapak Dewa Naga 3

5
MALAM terus beranjak, keheningan tetap terjaga. Dua pertiga perjalanan malam telah terlampaui. Dua bayangan kuning terus berkelebat. Saat berkelebat cepat, masing-masing orang yang di punggung terdapat jubah warna hijau itu tak ada yang buka suara. Mereka bukan lain adalah Dua Serangkai Jubah Hijau. Kendati mereka masih memikirkan tingkah Ratu Sejuta Setan, tetapi mereka merasa yakin kalau Dewa Tombak dapat mengatasinya. Lagi pula, di sana masih ada Dewa Naga yang meskipun memiliki sifat angin-anginan namun tak seorang pun yang menyangkal kesaktian yang dimilikinya.
Dua Serangkai Jubah Hijau sengaja mempergunakan ilmu lari mereka hingga yang nampak hanyalah bayangan belaka. Mereka berharap, sebelum malam punah, mereka sudah tiba di kediaman Dewa Segala Obat.
Tetapi, dua sosok tubuh yang berdiri sejarak dua puluh langkah dari saat mereka berlari, membuat keduanya sating
pandang. Semakin dekat, mereka mengenali siapa dua lelaki yang berdiri menghadang itu. Dan mau tak mau keduanya harus menghentikan lari.
Baru saja mereka menghentikan lari dan berdiri sejarak sepuluh langkah dari keduanya, lelaki berusia sekitar enam puluh tahun yang kepalanya botak ditengah tetapi rambut lainnya panjang tergerai ke belakang, sudah keluarkan dengusan.
"Beberapa saat lalu, bukanlah saat yang tepat untuk unjuk gigi! Tetapi di sini, tanpa sosok Dewa Naga maupun Dewa Tombak, kegatalan tanganku harus segera dihentikan!"
Dua Serangkai Jubah Hijau berpandangan. Sema Kuriang berkata dingin, "Iblis Penghancur Raga! Kalau kau merasa beberapa saat lalu, tepatnya di rumah mendiang Pendekar Lontar, kau memutuskan untuk tidak cari keributan, kami juga memutuskan, saat ini pun bukan saat yang tepat untuk melakukannya!"
Lelaki yang jenggotnya dikepang itu menggeram. Tangan kurusnya yang terdapat gelang-gelang hitam menuding ke arah Sema Kuriang.
"Malam sebentar lagi berlalu! Aku ingin menikmati kematian kalian sebelum pagi datang!"
Kata-kata lelaki berompi biru yang memang Ib;is Penghancur Raga membuat dada Sema Kuriang dilanda amarah. Tatapannya menyipit dan siratkan keangkeran. Tetapi mengingat dia dan saudara kembarnya harus segera menemui Dewa Segala Obat, Sema Kuriang berusaha agar tidak terjadi pertikaian sekarang.
"Tak pernah terpikirkan saat ini aku atau saudara kembarku akan tewas! Tetapi bila memang ajal telah diturunkan oleh Sang Kuasa, tentunya tak akan bisa ditolak! Hanya saja... tangan maut yang kau turunkan, bisa-bisa. kembali pada dirimu sendiri!"
Lelaki berjubah hitam berkepala plontos, dan terdapat tanda matahari tepat di ubun-ubunnya, angkat bicara, "Iblis Penghancur Raga! Mengapa harus berlama-lama lagi! Siapa orang yang kau pilih untuk kau bunuh saat ini?!"
"Aku memilih orang yang banyak omong itu!"
Habis ucapannya, lelaki berjenggot dikepang itu sudah menggebrak ke arah Sema Kuriang. Dari gelombang angin yang mendahului lesatan tubuhnya, jelas kalau
dia sudah mengerahkan setengah dari tenaga dalam yang dimilikinya.
Sema Kuriang menjerengkan matanya. Mulutnya merapat dingin. Saat itu pula dikibaskan kedua tangannya ke atas. Segera menggebrak satu pusaran angin yang menyeret dan membuat tanah membubung.
Iblis Penghancur Raga hanya mendengus. Tak surutkan kecepatannya. Begitu dekat, segera ditepukkan kedua tangannya.
Blaaaarr!
Letupan keras terdengar dan menyusul munculnya gelombang angin yang masuk dalam pusaran gelombang angin Sema Kuriang.
Blaaam! Blaaam! Blaaam!!
Tiga kali letupan terdengar keras disertai muncratan tanah ke udara. Tatkala sirap, terlihat masing-masing orang sudah mundur beberapa langkah.
Kalau Iblis Penghancur Raga berdiri dengan kepala terangkat angkuh, Sema Kuriang agak sempoyongan. Tangan kanannya memegang dadanya yang terasa sesak.
"Gila! Dia telah mengeluarkan ilmu 'Penghancur Raga'nya. Uh! Bila aku belum
tamengkan diri dengan hawa murni, entah apa jadinya!"
"Ilmu yang kau miliki tak seberapa! Tetapi kau sudah berani unjuk gigi di hadapanku".
Dengan memperlihatkan ketenangan, Sema Kuriang menyahut, "Kau baru melihat sebagian kecil dari ilmu yang kumiliki!"
"Bagus! Perlihatkan semuanya kepadaku!"
Bersamaan Iblis Penghancur Raga menggebrak kembali, lelaki berkepala plontos pun menerjang Gala Kuriang. Kedua telapak tangannya diangkat tinggi-tinggi saat menerjang dan mendadak diturunkan dengan cara menyentak.
Angin dibaluri asap merah melesat ke arah Gala Kuriang. Dengan cara yang dilakukan oleh Sema Kuriang tadi, Gala Kuriang berhasil memutuskan serangan lawan. Iblis Telapak Darah mundur dengan cara bersalto. Begitu kedua kakinya menginjak tanah kembali, tiba-tiba saja terlihat kedua telapak tangannya memancarkan sinar warna merah. Lalu terlihat tetesan darah dari sana. Angker dan menyebarkan bau busuk.
Gala Kuriang tahu, kalau lawan tak mau bertindak ayal. Maka dia segera putar
kedua tangannya ke atas. Lalu meletakkannya pada dada. Samar-samar terlihat sinar kuning menyelubungi dirinya.
"Huh! Ilmu picisan itu kau perlihatkan kepadaku!" bentak Iblis Telapak Darah.
Kejap kemudian dia sudah menerjang ke depan. Kedua telapak tangannya yang meneteskan darah, didorong ke atas. Sinar merah bergelombang muncrat. Mengeluarkan suara berdenging menggiriskan.
Tindakan yang dilakukan oleh Iblis Telapak Darah sesaat membuat kening Gala Kuriang berkerut. Dia masih tetap berdiri di tempatnya. Kejap berikutnya, lelaki berjubah hijau ini berteriak tertahan dan segera melompat dari tempatnya.
Karena muncratan sinar merah yang masih meneteskan darah mendadak meluncur ke arahnya, berkelok-kelok dengan suara berdenging-denging.
Jgaaarrr!!
Tanah di mana tadi Gala Kuriang berdiri, langsung retak lebar. Tempat sepi itu bergetar laksana hendak am bias ke bumi. Yang lebih mengejutkan lagi,
karena sinar merah yang meneteskan darah Itu mendadak muncrat kembali ke udara.
"Gila!" seru Gala Kuriang keras. Menyusul diputar tubuhnya membentuk pusaran cepat. Sinar kuning yang membaluti dirinya berpentalan menerjang sinar-sinar merah yang meneteskan darah.
Letupan beruntun terjadi berkali-kali.
Di pihak lain, Iblis Penghancur Raga terus mendesak Sema Kuriang yang kini tak berani berbenturan. Karena tadi dilihatnya. bagaimana sebatang pohon langsung menjadi debu tatkala telapak tangan kanan Iblis Penghancur Raga menyentuhnya.
Pertarungan sengit yang tak dapat dihindari, membuat tempat itu benar-benar dilanda kiamat. Dalam waktu singkat saja, tanah sudah banyak yang retak dan rengkah. Pepohonan sudah hangus menjadi debu hingga tempat itu kinl berubah menjadi tanah lapang yang porak poranda.
Saat ini Gala Kuriang sudah kewalahan. Kaki kanannya terhantam telapak tangan kiri Iblis Telapak Darah. Sakitnya tak tertahankan. Rasanya tulangnya patah dan menembus ke belakang. Tetapi Gala Kuriang masih coba
bertahan. Karena dia sadar, lengah sedikit saja berarti kematian.
"Sungguh menyenangkan karena kau akan mampus hari ini!" seru Iblis Telapak Darah sambil tertawa-tawa. "Kami hadir untuk membunuh Pendekar Lontar sebenarnya! Tetapi pendekar keparat itu sudah mampus! Dan kau telah membuat darah kami mendidih! Kau akan terbakar oleh didihan darah kami ini!"
Gala Kuriang tak menyahuti ejekan Iblis Telapak Darah. Dengan susah payah dia terus berusaha menghindari ganasnya serangan lawan. Namun dengan kaki kanan yang semakin sakit, terutama bila dia gerakkan, keadaannya menjadi lintang pukang dan tak menentu.
Sema Kuriang bukannya tidak mengetahui apa yang dialami oleh saudara kembarnya. Tetapi untuk menolong, rasanya agak sulit karena dia sendiri sudah masuk dalam lingkaran serangan Iblis Penghancur Raga.
Dia hanya bisa melompat menghindari maut yang diturunkan Iblis Penghancur Raga. Bahkan, dia sudah terdesak tatkala lelaki tua berjenggot dikepang itu masuk dengan kibasan tangan kanan dan kiri.
"Tak lagi kubayangkan betapa nikmatnya melihat kau mampus, karena ini adalah kenyataan sekarang!"
Namun mendadak saja, sosok Iblis Penghancur Raga yang sudah siap menurunkan tangan mautnya, terlempar ke belakang laksana sehelai daun dihantam angin. Sosok lelaki itu kehilangan keseimbangan. Dia ambruk dengan keluhan tertahan.
"Setan keparat! Siapa yang berani campur tangan dalam urusanku?!" bentaknya keras. Tetapi tak seorang pun yang muncul di sana kecuali orang-orang yang telah berada sebelumnya.
Sema Kuriang sendiri mundur dengan kepala memandang ke kanan kiri. Dia juga tak melihat siapa pun kecuali saudara kembarnya yang terdesak ganasnya serangan Iblis Telapak Darah.
Dan kejadian aneh yang dialaminya tadi terulang pada saudara kembarnya. Karena iblis Telapak Darah tahu-tahu terbanting di atas tanah, hampir berjajar dengan Ibiis Penghancur Raga yang sudah bangkrt.
"Keparat! Siapa pelaku jahanam yang mau mampus ini?!" serunya sambil menahan sakit pada perutnya.
"Hati-hati... orang ini tentunya bukan orang sembarangan. Dia dapat menjatuhkan kita dengan mudah, tetapi sosoknya belum nampak...," kata Iblis Penghancur Raga.
"Peduli setan Hatiku belum puas bila belum melihat dua cecunguk Itu mampus!" seru Iblis Telapak Darah keras. Lalu tanpa menghiraukan apa yang terjadi dengannya barusan, dia menerjang ke arah Gala Kuriang!
Namun lagl-lagi sosoknya terpental ke belakang.
"Aaaakhhh!!" Bersamaan teriakan kesakitan itu, darah menghambur dari mulutnya. Lalu...
brrrugg
Sosoknya terbanting keras di atas tanah.
"Jangan gegabah!" desis Iblis Penghancur Raga sambil memperhatikan sekelilingnya. "Kita belum tahu siapa orang lancang ini. Tapi gelagatnya, dia memiliki ilmu yang tak bisa dipandang sebelah mata."
Kebuasan Iblis Telapak Darah berangsur turun. Dia juga merasa jeri sekarang.
"Apa yang harus kita lakukan? Padahal kedua cecunguk itu sudah di ambang kematian?"
"Untuk saat ini, kita terpaksa tunda keinginan. Sebelum kita mengetahui orang lancang itu masih akan mencampuri urusan kita atau tidak, kita tak bisa bertindak...."
Iblis Telapak Darah menggeram. Pandangannya dingin terarah pada Dua Serangkai Jubah Hijau yang juga tak mengerti, siapakah orang yang telah menolong mereka.
Tiba-tiba Iblis Telapak Darah mendesis, "Untuk saat ini, kalian masih dapat hidup lebih lama. Tetapi jangan berharap, kelak kalian masih dapat hidup!"
Kejap kemudian, lelaki berjubah hitam itu sudah berkelebat meninggalkan tempat itu, disusul oleh Iblis Penghancur Raga.
Sepeninggal keduanya, Dua Serangkai Jubah Hijau saling mendekat.
"Siapa kira-kira orang yang telah menyelamatkan kita?"
"Gala Kuriang... bukan hanya kau yang tidak tahu, aku pun tidak tahu. Tetapi kalau orang itu dapat menghalangi serangan ganas kedua durjana tadi tanpa
diketahui berada di mana, sudah jelas dia bukan orang sembarangan. Kau lihat sekeliling, sudah tak ada lagi tempat bersembunyi."
Gala Kuriang mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya! Kita memang tak perlu menunggu sampai orang yang telah menolong kita muncul. Mudah-mudahan orang itu mengerti, kalau kita sebenarnya sangat berterima kasih. Di samping itu, kita memiliki waktu yang sangat terbatas. Kita harus segera menemui Dewa Segala Obat. Yah... sekaligus meminta bantuannya akan luka yang kita alami...."
"Bagaimana dengan kaki kananmu?"
"Walau sakitnya tak terkira, aku masih sanggup untuk berlari cepat...."
Tiga tarikan napas berikutnya, Dua Serangkai Jubah Hijau sudah meninggalkan tempat itu. Mereka tak mau mengambil arah yang ditempuh oleh Iblis Penghancur Raga dan Iblis Telapak Darah. Jadi, walaupun agak memutar, mereka merasa lebih aman ketimbang berjumpa lagi dengan Iblis Penghancur Raga dan Iblis Telapak Darah.
Lima betas kejapan mata kemudian, entah darimana datangnya, satu sosok tubuh tahu-tahu telah berdiri di tempat
itu. Kakek berjubah merah yang rambut putihnya diikat ekor kuda ini menggerutu panjang pendek.
Lalu terdengar bunyi keras dari pantatnya.
Bruuut!
"Huh! Untung dugaanku tepat! Makanya kuputuskan untuk meninggalkan rumah duka itu! Karena aku merasakan, kalau Dua Serangkai Jubah Hijau akan mendapat halangan dari Iblis Penghancur Raga dan Iblis Telapak Darah!"
Si kakek yang ternyata Dewa Naga dan membuat Iblis Penghancur Raga serta Iblis Telapak Darah keheranan akibat serangan yang dilakukannya, kembali menggerutu panjang pendek. Kumis putih panjangnya yang menjulai hingga ke bahu itu bergerak-gerak.
"Sebenarnya tak ada gunanya memanggil Dewa Segala Obat untuk mengetahui penyebab kematian Pendekar Lontar. Aku tahu siapa yang melakukannya. Hantu Menara Berkabut. Huh! Seharusnya kukatakan saja pada Dewi Lontar siapa yang telah membunuh suaminya. Tetapi kalau ditanya, bagaimana caranya, pusing juga aku menjawabnya. Betul juga tindakan kakek buntal itu. Hanya Dewa Segala Obat yang
mengetahui bagaimana caranya Pendekar Lontar terbunuh. Sementara aku hanya tahu kalau dia mati dibunuh oleh Hantu Menara Berkabut! Brengsek betul!"
Si kakek kembali uring-uringan sendiri, lalu berseru keras dengan wajah jengkel, "Keparat! Seharusnya kudatangi saja Menara Berkabut sekarang. Akan kugebuk penguasanya sampai dia minta ampun. Tapi...," si kakek terdiam sejenak, lalu melanjutkan, "Aku tak berhak sama sekali untuk itu. Yang berhak melakukannya adalah Dewi Lontar. Atau... ya, ya... si Boma Paksi. Kalau begitu... aku akan tetap mengambilnya untuk kujadikan murid. Dalam mimpiku, kelak bocah yang pada punggungnya terdapat seekor naga hijau dan kedua tangan sebatas siku terdapat sisik coklat, akan menjadi seorang pendekar besar. Bocah itu sungguh luar biasa. Dia terlahir dengan sisik coklat dan tato naga hijau. Yah! Aku harus mendapatkan anugerah itu dengan menurunkan semua ilmu yang kupunyai! Aku harus mendapatkannya!"
Habis berkata demikian, Dewa Naga terdiam. Lamat-lamat terlihat bibir keriputnya mengembang.
"Ya... aku harus mendapatkannya. Kalau Dewi Lontar tetap tak berkenan, aku akan menculiknya."
Kejap kemudian, kakek muka lonjong yang penuh sisik hijau ini sudah meninggalkan tempat Itu. Suara 'merdu' dari pantatnya tersisa di sana.
* * *


6
MATAHARI kini sudah menampakkan bias-biasnya di ufuk timur. Menyinari lembah itu dan menerobosi dedaunan. Kakek pendek berambut jarang itu menggeleng-gelengkan kepalanya di samping jenazah Pendekar Lontar. Mulutnya terkatup. Dia merasakan sesuatu yang tak diharapkannya. Tangan kurusnya masih memegang kening Pendekar Lontar.
"Dewa Tombak... kau benar. Pendekar Lontar meninggal tidak wajar...," katanya kemudian.
Kakek buntal berpakaian biru itu segera ajukan tanya, "Dewa Segala Obat, kira-kira... apa yang menyebabkannya tewas?"
Kakek pendek yang mengenakan pakaian compang-camping warna putih dan di pinggangnya tercantel sebuah pundi, mengangkat kepalanya.
"Dari getaran kuat yang kurasakan, jantung bagian bawahnya telah hangus. Itulah yang menyebabkannya tewas."
"Dewa Naga mengatakan hal yang sama," sahut Dewi Lontar sambil memperhatikan Dewa Segala Obat. Di sisinya, Boma Paksi pun memandang tak berkedip.
Si kakek yang ternyata Dewa Segala Obat mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah perginya Dewa Naga, tak berapa lama kemudian, Dewa Segala Obat muncul. Dia meminta maaf karena tak bisa segera datang, mengingat dia masih harus mengobati seorang pasien.
Dewa Tombak dan Dewi Lontar sudah tentu menyambutnya gembira. Dari Dewa Tombak, Dewa Segala Obat tahu kalau Dewa Naga tadi berada di sini. Dia sangat menyayangkan karena tak bisa menjumpai orang yang sangat dihormatlnya itu. Dia Juga tahu, kalau saat ini Dua Serangkai Jubah Hijau sedang menyusulinya.
Kakek berambut jarang ini memasukkan tangan kanannya ke dalam pundi yang tercantel di pinggangnya.
Ketika diangkat, teriihat ujung-ujung jarinya menjumput butiran pasir berwarna keemasan. Lalu dltaburkannya butiran pasir yang luruh dengan memperlihatkan kilauan indah tepat pada jantung Pendekar Lontar.
Yang berada di sana hanya memperhatikan. Mereka sama-sama melihat kalau butiran pasir keemasan yang kini menempel tepat pada bagian jantung Pendekar Lontar berubah warnanya, menjadi kehitaman.
Dewa Segala Obat menganggukkan kepalanya sekali, lalu meniup butiran pasir itu. Pasir-pasir itu berhamburan. Kemudian dibalikkan tubuhnya, memandang Dewi Lontar yang nampak tidak sabar untuk mendengar apa yang dikatakannya.
"Setahuku, suamimu memiliki ilmu 'Raga Pasa' yang membuatnya dapat mengetahui setiap serangan yang datang. Baik kasar maupun halus. Tetapi... dia tentunya tak menduga sama sekali, kalau seekor lebah yang kemudian menyengat bagian jantungnya, akan mengakhiri hidupnya...."
"Seekor lebah?" ulang Dewi Lontar tak percaya.
"Ya! Seekor lebah! Lebah yang sengatannya telah dibaluri racun yang
sangat mengerikan itulah yang telah merenggut nyawanya...," kata Dewa Segala Obat.
"Apakah...."
"Seperti kebiasaan seekor lebah, bila dia sudah menyengat, tentunya dia akan mati."
Dewi Lontar yang tadi hendak melontarkan pertanyaannva tetapi sudah dipotong, tak menjawab. Dia buru-buru masuk ke kamarnya. Boma Paksi hanya memperhatikan. Matanya yang tajam memandang Dewa Segala Obat dan Dewa Tombak bergantian.
Tak lama kemudian, Dewi Lontar muncul kembali dengan membawa seekor lebah hitam yang sudah mati.
"Dewa Segala Obat... apa yang kau katakan itu benar," katanya pilu. "Tadi kau katakan, ada orang yang telah melumuri sengat lebah itu dengan racun. Tahukah kau siapa orang itu?"
Dewa Segala Obat mengangguk.
"Aku tahu...."
"Katakan!" suara perempuan jelita yang pada lehernya menggantung untaian daun lontar, tersirat kemarahan. Lebah yang sudah mati itu dilemparnya.
Plasss!
Menembus tembok dan jatuh entah di mana. Tembok itu kini bolong sebesar jari telunjuk. Boma Paksi menyaksikan dengan terkagum.
Kakek berambut jarang Itu menggelengkan kepalanya.
"Untuk saat ini. sebaiknya kau tidak perlu tahu dulu. Nanti siang, seperti yang kau katakan, kau hendak memakamkan jenazah suamimu...."
"Aku ingin tahu siapa manusia keparat yang telah membunuh suamiku dengan mempergunakan lebah jahanam ini!" seru Dewi Lontar bersikeras.
"Kau sedang dibaluri kemarahan. Sebaiknya, kau tunda dulu keingintahuanmu itu sampai upacara penguburan jenazah suamimu selesai."
"Tidak! Dewa Segala Obat, selama ini kita bersahabat dan tak pernah punya silang sengketa! Dan sekarang, kau justru menyakitkan hatiku dengan tak mau mengatakan siapakah orang yang telah membunuh suamiku dengan lebah terkutuk itu!"
Dewa Segala Obat kelihatan serba salah. Dewa Tombak hanya terdiam. Kendati dia juga penasaran, tetapi dia masih bisa menerima alasan Dewa Segala Obat.
Bocah tampan yang pada punggungnya terdapat tato naga hijau, memegang lengan ibunya.
"Ibu... apa yang dikatakan Kakek itu benar. Sebaiknya, Ibu tak mengetahuinya sekarang. Karena Ibu akan menjadi marah dan dendam. Bukankah Ibu sendiri yang mengajarkan, kalau dendam itu tidak baik?"
Kata-kata putranya yang tak disangka sama sekali, meluluhkan kekerasan hati Dewi Lontar. Lalu sambil menarik napas panjang, kendati masih penasaran, dia berkata pada Dewa Segala Obat, "Maafkan aku...."
Waktu pun terus merambat. Beberapa orang rimba persilatan pun hadir di sana. Sampai kemudian, siang pun menjelang. Persiapan penguburan jenazah Pendekar Lontar pun dilakukan.
Tak banyak orang yang datang menghadiri pemakaman itu. Dewi Lontar menahan sedihnya tatkala jasad suaminya mulai dimasukkan ke dalam tanah.
Dewa Tombak melirik Boma Paksi. Bocah itu kelihatan tegar meskipun sepasang matanya berkaca-kaca. Sebutir air mata jatuh pada pipinya.
Tak lama kemudian pemakaman pun selesai. Orang-orang yang hadir mohon
diri. Termasuk Dewa Tombak, yang berjanji akan datang dua hari di muka.
Dewi Lontar berkata pada Dewa Segala Obat yang sudah pamitan, "Apakah kau tetap tidak mau mengatakan siapakah orang keparat yang telah membunuh suamiku?"
Dewa Segala Obat menggeleng.
"Besok, aku akan kembali ke sini. Saat Ini, tenangkanlah pikiranmu. Karena kau akan diliputi kemarahan...."
Dewi Lontar hanya memandang dingin. Boma Paksi memegang lengan ibunya.
"Ibu... kata-kata kakek berambut jarang itu benar. Lagi pula, bukankah dia berjanji akan datang besok yang tentunya akan mengatakan siapa yang telah mem-bunuh Ayah. Bukan begitu, Kek?"
Dewa Segala Obat menganggukkan kepalanya. Sebenarnya, begitu melihat sisik coklat sebatas siku yang terdapat pada kedua tangan si bocah, dia agak terkejut tadi. Tetapi dia tak menghiraukannya.
"Ya... besok aku akan datang lagi...."
Lalu kakek berpakaian putih compang-camping Ini segera melangkah meninggalkan tempat itu. Tinggal Dewi
Lontar yang masih sedlh sekaligus diliputi penasaran tinggi.
Boma Paksi membujuk ibunya agar tidak bersedih dan penasaran. Siang dan menjelang senja, dia terus menghibur ibunya sampai senyuman terpampang di bibir ibunya.
Dengan penuh kasih sayang, Dewi Lontar merangkul putranya. Seketika tiba-tiba terdengar suara tawa yang Iuar biasa keras. Atap rumah itu mendadak berderak dan terbongkar. Angin menjadi lintang pukang.
"Ibu!" seru Boma Paksi terkejut.
Dewi Lontar tak menjawab. Kepalanya menoleh ke arah luar. Sepasang matanya membuka.
"Celaka! Tentunya dia yang datang...," desisnya dalam hati. Lalu terburu-buru dia berkata, "Boma... kau masuk ke kamarmu! Kunci rapat-rapat!"
"Ibu! Ada apa?"
"Jangan banyak tanya! Lakukan perintah Ibu!"
Kemudian dia sudah berkelebat ke kamarnya. Dan keluar lagi dengan membawa sebuah gumpalan daun lontar berwarna hijau menyala. Begitu segarnya laksana baru saja disiram. Sementara di
punggungnya, sudah tersampir sebuah pedang.
"Boma! Bila malam sudah datang Ibu belum menjumpaimu, cepat kau pergi sejauh-jauhnya! Bawa gumpalan daun lontar ini dan jangan sampai jatuh ke tangan orang sesat”.
Sambil memegang gumpalan daun lontar segar Itu, Boma Paksi bertanya heran, "Ibu... ada apa? Mengapa Ibu begitu panlk? Apakah.... Ibu khawatir dengan orang yang tertawa itu?"
"Jangan banyak tanya! Cepat kau masuk ke kamarmu! Ingat pesan Ibu baik-baik! Ayo, Boma! Cepat kau...."
"Kabar telah sampai ke telingaku, kalau Pendekar Lontar sudah mampus! Kini tinggal kau sendiri Dewi Lontar! Apakah kau akan tetap keras kepala seperti suamimu yang tak mau menyerahkan Pusaka Pendekar Lontar?!" suara mengguntur itu memutus kata-kata Dewi Lontar.
Boma Paksi kini tahu apa yang menyebabkan ibunya menjadi panik. Dia berkata gagah, "Ibu! Aku tahu siapa orang itu! Bukankah dia kakek bongkok yang tiga bulan lalu datang untuk merebut gumpalan daun lontar hijau milik Ayah ini?"
Dewi Lontar mengangguk cepat. Sebelum dia berkata, si bocah yang pada
punggungnya terdapat tato naga hijau sudah bertanya kembali, "Memangnya... apakah kegunaan dari gumpalan daun lontar sebesar kepalan Ayah Ini, ibu? Kulihat... tak ada yang menarik?"
Dewi Lontar menarik napas panjang. "Anakku... saat ini, Ibu tak memiliki waktu untuk menjelaskannya kepadamu. Tapi, percayalah, Ibu akan menjelaskannya."
"Kalau memang kakek jahat itu menginginkan gumpalan daun lontar ini, Ibu katakan saja di mana memetiknya? Nanti suruh dia datang ke tempat itu. Kan dia bisa memetiknya sendiri?"
Suara di Iuar terdengar lagi. Dewi Lontar berkata terburu-buru, "Ya! Cepat kau ke kamarmu! Ingat, bila Ibu belum menjumpaimu menjelang malam... kau tinggalkan tempat ini!"
"Tidak!" seru Boma Paksi tanpa disangka. "Ayah telah tiada! Aku adalah satu-satunya lelaki di sini! Aku akan melindungi Ibu! Ayo, Bu! Kita hadapi kakek bongkok itu!"
Dewi Lontar terharu mendengar kata-kata putranya. Dirangkulnya Boma Paksi erat-erat.
"Ya! Kau seorang lelaki yang kelak akan tumbuh menjadi gagah! Dan sebagai
seorang gagah, harus menuruti perintah ibunya...."
"Tapi... aku tak mau Ibu menghadapinya seorang diri! Aku akan membantumu, Bu!"
Jlegaaar....!!
Dinding rumah itu jebol dan pecah berpentalan. Dewi Lontar segera melompat sambil menggendong putrsnys itu hingga menabrak dinding lainnya.
"Boma! Kau lelaki gagah! Lelaki gagah akan menuruti perintah ibunya!”.
“Tidak!!, Aku harus membela ibu!"
"Ya…ya. Kau akan membela ibu! Tetapi... kau tunggu dulu di kamarmu! Bila Ibu butuh bantuanmu, ibu akan memanggilmu".
Sepasang mata Boma Paksi berbinar-binar gembira.
"Janji ya, Bu? Janji?"
"Ya! Cepat kau masuk ke kamar!"
Boma Paksi masuk ke kamarnya dengan membawa gumpalan daun lontar yang diserahkan ibunya tadi. Dewi Lontar menarik napas dulu. Lalu segera berkelebat ke depan.
Satu sosok bongkok dengan rambut putih panjang turun ke bawah telah berdiri di sana. Kulit si kakek sangat tipis. Sepasang matanya dalam dan tajam.
Kumis dan jenggotnya seperti terpintal bersatu. Mengenakan pakaian hitam penuh tambalan. Di tangannya, terdapat sebuah bambu berwarna hitam yang ujungnya runcing.
Mendadak si kakek mendengus, "Aku tak punya banyak waktu! Kedatanganku ke sini, sama dengan kedatanganku tiga bulan yang lalu! Cepat kau serahkan gumpalan daun lontar milik suamimu itu! Tentunya dia tak memerlukannya lagi karena sudah mampus!"
Dewi Lontar berdiri gagah. Matanya memandang tajam pada si pendatang yang telah menghancurkan dinding rumahnya.
"Bukan hanya Ratu Sejuta Setan yang menghendaki gumpalan daun lontar sakti milik suamiku. Kakek bernama Dadung Bongkok ini pun menghendaki hal yang sama. Tidak! Sampai kapan pun tak akan pernah kuserahkan gumpalan daun lontar yang hingga saat ini aku tak pernah tahu bagaimana suamiku mendapatkannya. Benda itu benda sakti. Dan tentunya, baik Ratu Sejuta Setan maupun Dadung Bongkok, menginginkannya untuk kepentingan pribadi."
Habis membatin demikian, dengan gagah Dewi Lontar berkata, "Dadung Bongkok! Kendati suamiku sudah
meninggal, apakah kau berpikir aku tak mampu menghadapimu?"
Dadung Bongkok menggeram.
"Jangan banyak omong! Serahkan benda sakti itu kepadaku!"
"Tiga bulan lalu, kau telah dibuat terbirit-birit oleh suamiku! Hari ini, akulah yang akan membuatmu ingat kembali kejadian tiga bulan lalu!"
"Setan betina! Kau akan menyesali tindakanmu ini!"
Habis ucapannya, Dadung Bongkok sudah melompat maju dengan gerakan bersaito satu kali. Bambunya yang berujung runcing dikibaskan dengan cepat ke arah leher Dewi Lontar. Yang diserang hanya mundur satu tindak ke belakang. Lalu dengan gerakan yang cepat, digerakkan pedangnya.
Traaakk!
Benturan yang mengandung tenaga dalam itu membuat masing-masing orang mundur. Dan tiba-tiba saja sosok Dewi Lontar terjajar ke belakang.
Perutnya sudah terkena satu tendangan keras yang diiepaskan dengan cepat oleh Dadung Bongkok. Belum lagi dia dapat menguasai keseimbangannya, Dadung Bongkok sudah merangsek maju dengan
gerakan tombaknya yang serabutan membingungkan.
Tersentak Dewi Lontar tatkala merasakan gelombang angin kacau menderu ke arahnya. Cepat perempuan ini membuang tubuh ke samping.
Blooorr!
Dinding rumahnya jebol terkena hantaman bambu Dadung Bongkok. Rupanya, kakek bongkok ini memang tak mau bertindak ayal. Kalau tiga bulan lalu dia merasa jeri setelah menyadari kesaktian Pendekar Lontar, kali ini dia merasa di atas angin. Karena diyakininya dapat mengalahkan Dewi Lontar.
Tetapi Dewi Lontar bukanlah perempuan sembarangan. Pedangnya pun mulai diayunkan dengan kecepatan luar biasa. Disinari matahari senja, ujung pedangnya berkilat kilat dengan mengeluarkan suara mendesing-desing.
"Keparat! Rupanya, dia tak kalah hebatnya dengan suaminya!! Tetapi kelihatannya dia tak membawa gumpalan daun lontar itu! Ini kesempatan untuk membunuhnya!" maki Dadung Bongkok, lalu menyerbu kembali. Kali ini tangan kirinya ikut digerakkan yang seketika menggebah awan-awan hitam!
Dewi Lontar pun memperlihatkan kelasnya. Menunjukkan kalau dia adalah istri dari mendiang Pendekar Lontar. Dengan pekikan keras, perempuan jelita berpakaian hitam ini melompat ke atas seraya menggerakkan pedangnya ke bawah membabi-buta. Sinar-sinar terang bermuncratan dan menghantami awan-awan hitam yang dilepaskan Dadung Bongkok. Letupan terdengar berkali-kali. Dadung Bongkok terpekik keras, tubuhnya terbanting di atas tanah.
Dewi Lontar menggeram dingin.
"Tiga bulan lalu kau datang membuat onar! Tetapi suamiku masih mengampuni nyawamu! Dan sekarang kau datang lagi dengan keinginan yang sama! Tak akan pernah kuampuni nyawamu sekarang!!"
Dadung Bongkok muntah darah. Darah hitam menyembur keluar. Perlahan-lahan dia berdiri sambil memegangi dadanya dengan tangan kirinya. Kepaianya agak didongakkan. Tatapannya yang selalu memancarkan kekejian, kini lenyap. Berganti dengan kepanikan.
Lalu terbata-bata dia berkata,”Ampuni aku, Dewi... ampuni aku...."
"Suamiku pernah mengampunimu tetapi kau masih berani datang lagi! Apakah
sekarang aku perlu mengampunimu lagi?!" hardik Dewi Lontar dengan tatapan tajam. Kesedihan yang melanda akibat kematian suaminya, kini berubah menjadi kegeraman dalam. Dan perempuan ini seolah mendapatkan tempat pelampiasan untuk menumpahkan seluruh kesedihan dan amarahnya.
Dadung Bongkok bangkit dengan kedua kaki goyah. Dia terbatuk-batuk yang memuncratkan darah.
"Ampuni aku, Dewi... ampuni aku...," serunya penuh iba. "Aku bersumpah... tak akan pernah lagi kuganggu ketenteramanmu. Tak lagi kuinginkan apa yang selama ini kuinginkan...."
Kendati diiiputi amarah tinggi, tetapi Dewi Lontar adalah seorang perempuan yang lemah lembut. Sikap kakek bongkok itu membuatnya merasa kasihan.
Lalu serunya, "Baik! Sekali ini kau kuampuni! Tetapi bila kau berani iagi muncul, kau akan mampus, Dadung Bongkok!"
Dadung Bongkok mengangguk berkali-kali sambil berucap terima kasih.
Dewi Lontar menyampirkan lagi pedangnya pada punggungnya. Dia berkata,
“Sepuluh tarikan napas kau masih berada di sini, kau akan mampus!"
Lalu dia berbalik melangkah ke rumahnya.
Dewi Lontar tidak tahu, kalau sesungguhnya Dadung Bongkok sedang merencanakan satu kekejian. Dia memang merasa tak sanggup menghadapi kesaktian Dewi Lontar. Jalan satu-satunya, dia memang harus mengiba mohon ampun.
Begitu Dewi Lontar berbalik, seringaian melebar di bibirnya. Kejap berikutnya, dia sudah menerjang dengan bambu yang digerakkan serabutan.
Dewi Lontar tersentak tatkala merasakan gelombang angin menderu ke arahnya.
"Terkutuk!" makinya sambil berbaiik dan mencabut pedangnya.
Plaas!
Plukkk!
Bambu keras milik Dadung Bongkok putus tertebas pedangnya. Dewi Lontar berhasil patahkan serangan si kakek. Tetapi, satu gelombang angin yang keluar dari dorongan tangan kiri Dadung Bongkok, tak bisa dihindarinya,
Dessss!!
"Aaakhhhh!!" Dewi Lontar berteriak sekeras-kerasnya. Tubuhnya terseret ke
belakang. Belum lagi dia dapat menguasai keseimbangannya, Dadung Bongkok sudah datang melancarkan serangan.
Perempuan perkasa itu masih bisa menghindari dengan jalan menjatuhkan diri. Bahkan pedangnya langsung diangkat. Dadung Bongkok menggeram. Lalu memutar tubuh dua kali seraya pukulkan bambunya.
Praaakk!
Bambunya itu tertahan pedang Dewi Lontar. Karena dalam keadaan terguling, bambu itu tidak putus tertebas. Dadung Bongkok menyusulkan serangannya lagi.
Tetapi....
Craassl!
"Aaaakhhh!"
Gerakan yang dilakukan Dewi Lontar sungguh di Iuar dugaannya. Tahu-tahu tangan kirinya telah kutung tertebas pedang. Dadung Bongkok terhuyung. Darah keluar dari lengan kirinya yang sudah buntung.
"Perempuan celaka!!" serunya keras seraya melemparkan bambu kerasnya.
Dewi Lontar yang masih berada di atas tanah memekik. Dia berguling dan berhasil menghindari bambu itu. Tetapi diluar dugaannya, bambu itu justru berbalik. Dan....
Bleesss!!
Masuk tepat pada jantungnya! Saat itu, malam pun datang.
* * *


Load disqus comments

0 komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top