Rabu, 04 April 2012

Raja Naga - Tapak Dewa Naga 4

7
DiKAMARNYA, Boma Paksi sudah tak sabar untuk segera keluar. Bocah yang pada kedua tangannya sebatas siku terdapat sisik coklat dan pada punggungnya terdapat gambar seekor naga hijau yang dibawanya dari lahir, memang mematuhi kata-kata ibunya, tidak akan keluar sebelum malam datang.
Dan saat ini malam telah datang. Tetapi ibunya belum juga muncul menjumpainya.
"Mengapa Ibu belum muncul juga?" desisnya dalam hati dengan perasaan tak sabar. "Apakah saat ini Ibu berhasil dikalahkan kakek bongkok itu? Ah, tidak! ibu pasti bisa mengalahkannya! Seperti yang dilakukan Ayah!"
Kembali si bocah mondar-mandir dengan perasaan tak tenang. Gumpalan daun lontar yang diberikan ibunya masih dipegangnya erat-erat. Kembali
dihentikan langkahnya karena dia tak mendengar langkah-langkah mendekati kamarnya.
"Aku harus melihat keluar! Aku harus membantu Ibu!" serunya memutuskan. Lalu dengan langkah tegap dan wajah tegang, bocah yang pada punggungnya terdapat tato seekor naga hijau itu segera keluar.
Langkahnya terburu-buru dengan rasa tidak sabar yang dalam. Di Iuar, dilihatnya keadaan di sana sudah porak poranda. Saat ini rembulan bersinar cuktip terang. Begitu melihat Dadung Bongkok, dia langsung berseru, "Kakek brengsek! Lagi-lagi kau yang datang! Dan... hei! Tangan kirimu telah buntung rupanya! Lebih baik kau cepat pergi dari sini sebelum Ibu membuat tangan kananmu yang satunya lagi buntung!"
Dadung Bongkok yang masih terhuyung karena menahan sakit, mengangkat kepalanya. Tatapannya tajam menusuk. Dan mendadak saja kepalanya menegak. Matanya terbeliak, tak berkedip.
"Gumpalan daun lontar itu... daun lontar itu ada padanya?" desisnya sambil menyeringai. Lalu ditotoknya urat darah pada bahu kirinya. Dia menjerit pelan. Lamat-lamat terlihat darah yang tadi
banyak keluar perlahan-lahan menipis dan akhirnya tak keluar sama sekali.
Rasa sakit dan amarah yang mendekam di dadanya tak lagi dihiraukan begitu melihat benda yang dicarinya berada di tangan bocah tanpa pakaian itu.
Malah mendadak dia terbahak-bahak keras.
Boma Paksi yang berdiri dengan kedua kaki dibuka, berseru, "Kakek bongkok! Kau sudah gila ya? Cepat kau pergi dari sini sebelum Ibu.... Ibu? Hei... di mana Ibu?!"
"Hahaha...," menggema keras tawa Dadung Bongkok. "Kau mencari ibumu? Lihat di sana! Siapa yang tergeletak Itu?!"
Segera Boma Paksi mengarahkan pandangannya pada tempat yang ditunjuk Dadung Bongkok. Seketika bocah itu berteriak keras dan memburu ibunya. Karena terburu-buru dia terjatuh. Lalu dengan kekerasan hatinya, dia bangkit dan merangkul ibunya yang telah menjadi mayat.
"Ibuuuuu"
"Ibumu sudah mampus, Bocah! Sekarang, serahkan benda itu kepadaku?!"
Boma Paksi masih menangis sambil merangkul ibunya.
"Ibu... ibu...," desisnya mengibakan.
Dadung Bongkok menggeram.
"Kali ini, tak ada lagi yang akan menghalangi keinginanku! Mendapatkan gumpalan daun lontar sakti yang selama ini kuimpikan, tak akan mendapatkan ganjalan apa-apa! Huh! Bocah itu pun harus knmampuskan! Biar hilang sudah keturunan dari Pendekar lontar!" serunya puas dalam hati.
Lalu dengan langkah agak terhuyung, Dadung Bongkok menghampiri Boma Paksi yang masih menangis. Sejenak dikerutkan keningnya begitu melihat gambar seekor naga hijau pada punggung bocah itu.
"Aneh! Mengapa ada gambar seekor naga hijau pada punggungnya? Siapa yang telah mentato punggungnya itu?" desisnya sejenak. Lamat-lamat keheranannya itu lenyap, berganti dengan niatnya semula. "Kau akan menyusui ibumu, Bocah!"
Tangannya siap dihantamkan pada punggung si bocah.
Boma Paksi mendengar seruan itu. Dia hendak berbaiik. Tetapi sebelum dia berbalik, mendadak saja Dadung Bongkok terpentai ke belakang.
"Astaga! Ada apa ini?!" serunya gelagapan sambil berusaha mengendalikan keseimbangannya.
Sementara itu, Boma Paksi sudah berbalik dan berdiri dengan tatapan tajam. Kemarahan sungguh kentara sekali pada wajahnya yang memerah.
Di tempatnya, Dadung Bongkok yang telah berdiri terdiam.
"Sempat tadi kulihat, kalau gambar seekor naga pada punggung bocah itu seperti keluarkan sinar. Lalu ada tenaga yang menahan seranganku. Astaga! Apakah gambar seekor naga hijau itu memang memiliki arti?!"
Sementara itu kemarahan Boma Paksi semakin menjadi-jadi. Bocah itu perlahan-lahan berdiri. Dan astaga! Sorot matanya sangat angker, mengerikan!
"Ibu... aku akan membalas perbuatan kakek jelek itu!"
Saat dia berbalik, Dadung Bongkok melihat gambar naga hijau pada punggung si bocah semakin bersinar hijau. Keheranannya semakin menjadi-jadi.
"Aku yakin, kalau gambar seekor naga hijau itu bukannya tanpa isi! Sekarang sinarnya semakin terang! Hemm... jangan-jangan, ini mengisyaratkan satu bahaya! Peduli setan! Bahaya apa pun akan
kuterjang untuk mendapatkan gumpalan daun lontar itu!"
Lalu diiringi teriakan keras, Dadung Bongkok menerjang Boma Paksi yang masih membelakanginya. Kalau tadi Dadung Bongkok merasakan ada tenaga yang menghantamnya, kali ini dia melihat sinar hijau melesat ke arahnya. Yang membuatnya melengak dan untuk beberapa saat terdiam tegang, karena sinar hijau itu mendadak berubah menjadi bayangan seekor naga!
"Heiiii!!"
Cepat dia menghindar.
Bggaaaarr!
Sinar hijau yang membentuk seekor naga itu menghantam dinding rumah yang seketika jebol dengan suara keras.
Dadung Bongkok terbelalak. Dia tak percaya melihat apa yang terjadi.
"Astaga! Ternyata tak semudah dugaanku! Tentunya Pendekar Lontar dan istrinya telah membekali putranya dengan ilmu aneh itu! Terkutuk!! Selama ini aku tak pernah mendengar kalau Pendekar Lontar maupun istrinya memiliki ilmu lain kecuali ilmu pedang yang sangat tinggi. Dan sekarang... aku melihat kalau keduanya mempunyai ilmu yang disembunyikan. yang diturunkan pada
putra mereka! Jahaman terkutuk! Terku-tuk!" makinya dalam hati.
Tetapi di kejap lain, terlihat bibirnya tersenyum. "Hemm, untunglah aku dilahirkan dengan otak cerdik! Aku yakin, bila yang kuserang bagian depan, gambar seekor naga hijau itu tak akan banyak artinya."
Memutuskan demikian, Dadung Bongkok menunggu sampai si bocah berbalik sambil mengatur napasnya yang mulai putus-putus. Sementara itu, perlahan-lahan Boma Paksi pun akhirnya berbalik. Kemarahan begitu membias dalam. Tatapannya yang tadi menggoda rasa Iba, kini nyalang mengerikan, seperti mengandung satu kekuatan yang mampu melemahkan keberanian lawan. Tangan kirinya mengepal kuat sementara tangan kanannya memegang erat-erat gumpalan daun lontar yang diberikan ibunya.
Dadung Bongkok pun merasakan keangkeran pada sorot mata si bocah. Dia juga melihat sisik coklat halus pada kedua tangan si bocah meremang, dan bersinar terang.
Tetapi dia tak mempedulikannya.
"Kakek kurang ajar! Kau telah membunuh ibuku! Kau telah membunuh
ibuku!" seru Boma Paksi dengan tatapan memerah tajam.
Dadung Bongkok tak bersuara. Matanya memperhatikan dalam-dalam dengan mulut merapat.
"Bocah ini akan menjadi duri! Sebelum ada yang datang ke sini, aku harus melaksanakan niat!!"
Memutuskan demikian, si kakek dengan bengis berseru, "Serahkan benda yang kau pegang itu padaku, ketimbang kau akan kesakitan kugebuk!"
"Tidak! Bukan aku yang akan kau gebuk! Tetapi kau yang akan kugebuk!" seru Boma Paksi keras. Lalu dengan kegagahan yang sangat kentara dan keberanian luar biasa, si bocah menerjang ke depan. Tangan kanannya yang memegang gumpalan daun lontar, tak sengaja bergerak.
Dadung Bongkok menunggu. Dia sengaja tak segera melaksanakan niatnya, karena khawatir sinar hijau yang membentuk seekor naga hijau keluar lagi. Tetapi bukan itu yang kemudian mengejutkannya. Karena mendadak saja dari gumpalan daun lontar yang tak sengaja digerakkan si bocah, mengeluarkan gelombang angin yang diliputi asap tipis berwarna hijau
"Heeiiii!!"
Jlgaaarrr!!
Gelombang angin itu menghantam dinding rumah yang seketika ambrol berhamburan.
Kendati demikian, biar bagaimanapun juga, Dadung Bongkok adalah seorang tokoh sesat yang telah banyak makan asam garam. Tindakan yang dilakukan si bocah jeias-jelas hanya nalurinya belaka. Makanya dia berhasil menghindarinya. Bahkan dapat mengetahui, bila dia menyerang bagian depan tubuh si bocah, sinar hijau yang kemudian membentuk bayangan seekor naga itu tidak keluar. Tetapi bila diserang punggungnya, maka dialah yang akan celaka.
"Saatnya dia harus mampus!"
Lalu dengan enteng saja, Dadung Bongkok menghindari gelombang angin yang dihiasi asap hijau tipis yang keluar dari gumpaian daun lontar. Menyusul dengan kejamnya, dihantamnya perut si bocah yang terbanting di atas tanah. Rasa sakit yang tak terkira dirasakan Boma Paksi. Kalau tadi air matanya keluar karena kematian ibunya, sekarang air matanya keluar karena menahan sakit.
Tetapi kegagahan Pendekar Lontar mengalir dalam darahnya. Seolah tak
merasakan sakitnya, bocah itu menyerang lagi. Bahkan diiringi teriakan keras.
Dan untuk kedua kalinya dia terbanting di atas tanah, karena jotosan tangan kanan Dadung Bongkok telah mendarat di perutnya. Darah segar muncrat dari mulutnya. Wajahnya meringis kesakitan. Si bocah menggeliat sebentar. Dia sempat buka suara sebelum jatuh pingsan.
"Ibu...."
Dadung Bongkok terbahak-bahak keras.
"Telah tiba saatnya kudapatkan pusaka itu! Rahasia pusaka itu akan kukupas! Itu artinya... tak lama lagi aku akan menjadi tokoh rimba persilatan tiada tanding!"
Lalu menggema tawanya yang sangat keras. Setelah puas melampiaskan kegembiraannya, Dadung Bongkok berjalan menghampiri Boma Paksi. Diambilnya gumpalan daun lontar yang diingininya itu, yang tadi menggelinding terlepas dari genggaman tangan Boma Paksi.
Diamat-amatinya gumpalan daun lontar sebesar kepalan tangannya itu dengan kegembiraan tiada banding. Senyuman tak putus di bibirnya.
"Pusaka ini telah banyak membunuh orang-orang segolongan denganku! Sepak terjang Pendekar Lontar tak akan pernah dimaafkan oleh orang-orang segolongan denganku! Dan sekarang... pusaka ini akan menghisap darah dagingnya sendiri!"
Kembali diamat-amatinya gumpalan daun lontar itu. Pancaran mata berbinar yang mengandung kebuasan itu jelas terlihat. Lamat-lamat tetapi pasti, dengan seringaian lebar, Dadung Bongkok mengangkat gumpalan daun lontar itu.
"Tamat sudah riwayat Pendekar Lontar beserta keturunannya!"
Tanpa memiliki rasa kasihan sedikit pun juga, digerakkan tangannya dan siap dihantamkan pada kepala si bocah. Namun....
Dessss!!
Dadung Bongkok mendadak saja terjengkang ke belakang dengan perut yang seperti melesak ke dalam. Gumpalan daun lontar yang dipegangnya terlepas Kakek yang dibutakan oleh keinginannya ini tak menghiraukan rasa sakit atau siapa orang yang telah menyerangnya, Dia justru melompat untuk mendapatkan kem-bali pusaka yang telah terlempar itu.
Tetapi...
Buukkk!
Kembali dia terbanting di atas tanah. Untuk sejenak Dadung Bongkok tergeletak menahan sakit. Di saat lain, gelagapan dia berusaha untuk bangkit. Saat itulah dilihatnya satu sosok tubuh berjubah merah telah berdiri di sana dengan memegang pusaka diingininya!
"Dewa Naga...," desis Dadung Bongkok dengan suara tertahan. Matanya melotot panik.
Kakek berjubah merah yang telah memegang pusaka Pendekar Lontar itu menggeram. Tatapannya dingin. Tak ada tanda-tanda dia akan memperlihatkan sikap konyol dan angin-anginan seperti biasanya. Yang terlihat hanyalah kemarahan yang terpancar dari sepasang matanya yang memancarkan sinar merah, terang. Sisik-sisik hijau yang terdapat pada wajahnya memerah.
"Tindakanmu sudah kelewat batas, Dadung Bongkok!"
Paras kejam Dadung Bongkok menciut. Dia tahu kesaktian yang dimiliki Dewa Naga. Dan disesalinya mengapa kakek muka lonjong penuh sisik hijau itu keburu datang sebelum ditinggalkannya tempat ini. Tetapi, ambisinya yang sudah hampir terpenuhi digagalkan, membuat Dadung Bongkok melupakan keciutannya. Tak lagi
dipedulikan siapa orang bersisik hijau yang berdiri di hadapannya.
Dia bangkit dengan terhuyung.
"Dewa Naga, Aku tak peduli seberapa tinggi kesaktianmu! Tetapi, siapa pun yang lancang mencampuri urusanku, dia akan menyesal seumur hidup! Serahkan benda sakti itu padaku, maka urusan selesai!"
Dewa Naga melotot.
"Sinting! Kau ini sudah sinting rupanya? Muiut baumu itu masih bisa juga melontarkan sesumbar! Hei, kakek bongkok jelek! Apakah kau pikir aku tega membunuhmu yang sudah tak berdaya itu?!"
Seharusnya Dadung Bongkok menyadari keadaan dirinya. Menghadapi Dewa Naga dalam keadaan segar bugar saja, dia tidak akan menang. Apa lagi sekarang? Tetapi kemarahan dan keserakahah telah membutakah pikirannya.
"Peduli setan! Serahkan pusaka itu! Atau... kau sebenarnya sudah memutuskan untuk mampus malam ini?!"
Bukannya mulut Dewa Naga yang berbunyi, justru pantatnya.
Bruuut!
Kalau biasanya dia selalu memaki-maki karena pantatnya tak bisa diajak berunding, kali Ini dia tak
peduli. Sinar matanya terus memancarkan maut.
"Ucapanmu benar-benar bikin panas hatiku! Seharusnya aku menghukummu sekarang! Tetapi...."
"Keparat!!"
Dadung Bongkok mendorong tangan kanannya.
Wrrrrll
Menggebah gelombang angin yang menyeret tanah. Dewa Naga menggeram. Lalu mendehem. Suara dehemannya kecil saja, tetapi....
Blaaaammm
Gelombang angin itu putus di tengah jalan seperti menghantam sebuah tembok. Bahkan Dadung Bongkok sendiri terbanting lagi di atas tanah.
"Kakek terkutuk!" makinya dengan darah yang mengalir dari hidung.
"Kau benar-benar tak tahu diuntung! Padahal aku sudah beri peruntunganmu untuk hidup lebih lama lagi! Tapi kalau kau keras kepala, aku tak akan pikir dua kali untuk membunuhmu! Hanya saja, lagi-lagi, aku tak berhak membunuhmu!" seru Dewa Naga sambil melotot. Lalu diangkatnya tubuh Boma Paksi yang pingsan. Ditelitinya sejenak sebelum dia angkat pandangan dan berseru,
"Ingat apa yang kukatakan tadi! Dua belas tahun mendatang, bocah ini akan datang untuk mencabut nyawamu. Jadi, persiapkan dirimu mulai sekarang sebelum dua belas tahun menjelang!"
Habis ucapannya, Dewa Naga segera berkelebat meninggalkan tempat itu.
Dadung Bongkok merutuk panjang pendek dengan kegusaran luar biasa. Dihantaminya apa saja dengan kibasan tangan kanannya. Letupan berkali-kali terdengar sebelum akhirnya dia terengah-engah sendiri.
"Keparat! Keparat kau, Dewa Naga... kau akan menyesaii tindakanmu ini...."
Lalu dengan langkah sempoyongan Dadung Bongkok melangkah meninggalkan tempat itu.
"Aku akan menunggu dua belas tahun mendatang...."
* * *


8
PERPUTARAN waktu sungguh sangat sukar diikuti. Kita tak tahu sang waktu akan melangkah ke mana. Tetapi yang pasti, sang waktu tak mau membuang diri
untuk kembali ke masa lalu. Dia terus bergerak dan bergerak sampai tiba Sang Penguasa Jagat memerintahkannya untuk berhenti. Dan tak seorang pun yang mengetahui, kapan Sang Penguasa Jagat memerintahkan sang waktu untuk berhenti bekerja.
Dua belas tahun sejak peristiwa kematian Pendekar Lontar pun sudah terlampaui. Rentang waktu yang lama itu, ternyata tak begitu terasa. Tahu-tahu sudah membentang jauh melewati batas-batas yang tak bisa ditentukan.
Pagi masih buta. Butiran embun bergayutan manja di dedaunan. Udara sangat dingin menusuk tulang. Semakin dingin karena semalam hujan turun sangat lebat. Di mana-mana terdapat tanah becek dan genangan air. Tak seekor hewan pun yang keluar untuk mencari makan. Mungkin mereka sudah mempersiapkan makanan lebih atau juga merasa enggan bergabung dengan udara dingin. Mendadak....
Jlegaaaarrrl!
Sebuah letupan keras menggema di pagi buta. Disusul gemuruh angin dahsyat yang berputar dan menerjang. Lima batang pohon berpentalan jauh dengan suara bergemuruh.
Beberapa kejap kemudian hening menggenang. Pagi senyap kembali.
"Guru! Bagaimana menurutmu?!" terdengar suara itu memecah keheningan.
Bruuuttt!
Suara pantat berbunyi terdengar keras, disusul dengusan.
"Brengsek! Apanya yang menurutku, hah?! Anak kecil pun bisa melakukan apa yang barusan kau lakukan”. bentakan keras itu terdengar.
"Astaga! Guru! Yang benar saja? Lima batang pohon itu sudah tumbang kuhantam dengan ilmu 'Kibasan Naga Mengurung Lautan' yang Guru ajarkan! Kalau ternyata Guru anggap belum sempurna, ya karena ilmu Guru itu tidak bagus!"
"Brengsek! Brengsek! Kau mau menganggap gurumu ini tidak becus mengajarkanmu?! Sembarangan kalau ngomong! Kau ingin kugampar ya?!"
Pemuda yang mengenakan rompi berwarna ungu yang sedikit terbuka hingga memperlihatkan dada bidangnya, yang tadi melepaskan pukulan menghantam lima batang pohon yang berpentalan pecah, tertawa. Tak ada tanda-tanda dia kecut diancam seperti itu.
Sikapnya enak saja berucap demikian dengan kakek berjubah merah yang duduk di
atas sebuah batu. Membuat si kakek bermuka lonjong yang penuh sisik hijau itu menggerutu panjang pendek. Dan berkali-kali dari pantatnya keluar suara, 'Bruttt!'
"Sembarangan kau ya?! Ilmu 'Kibasan Naga Mengurung Lautan' sukar dicari tandingannya di jagat ini?! Itu termasuk ilmu dahsyat yang kuturunkan kepadamu! Yang dapat kau pergunakan sebagai satu senjata tangguh bila kau terdesak! Tapi bukan cuma bisa menumbangkan lima batang pohon itu!"
"Tapikan bagian atasnya hangus?!" seru si pemuda yang rambutnya dikuncir itu tak mau kalah. Dia berdiri berjarak delapan langkah dari si kakek muka lonjong. Berdiri tegak dengan kegagahan yang kentara. Matanya berkilat-kilat jenaka, kendati sorotnya angker. Parasnya tampan dan tubuhnya gagah. Yang agak mengherankan adalah kedua tangannya, yang mulai dari jari-jemarinya hingga batas siku, bersisik coklat! Padahal bagian tubuhnya yang lain tidak.
"Bukan itu yang kuinginkan! Tapi semuanya langsung hangus begitu kau bantam!!" maki si kakek bersisik hijau keras. "Percuma aku mengajarimu kalau
cuma itu saja yang bisa kau lakukan! Kebanyakan makan kau ya?! Atau... kau kebanyakan ngintip perawan mandi di desa seberang ya?!"
Si pemuda nyengir.
Tindakannya itu membuat si kakek bersisik hijau yang bukan lain Dewa Naga mendengus. .
"Kenapa kau nyengir begitu, hah?! Kau pikir parasmu tampan apa?!"
"Dibandingkan wajah Guru sih... rasanya masih ada deh perawan montok yang akan melirikku lebih dulu! Lalu menutup mata begitu memandang Guru," sahut si pemuda kalem.
"Busyet, Kau ini...."
Kata-kata Dewa Naga terputus tatkala didengarnya suara letupan lima kali berturut-turut. Sejenak si kakek rhengerutkan keningnya. Telinganya dibuka lebar-lebar.
Kejap berikutnya, dia mendengus keras.
"Brengsek! Kau mempermainkan orangtua ya? Kau mempermainkan gurumu ya? Murid kebluk! Bagaimana bisa kau buat lima batang pohon itu lebur belakangan?!"
Si pemuda tertawa.
"Nah! Guru akhirnya mengakui bukan, kalau Guru tidak sia-sia menurunkan ilmu kepadaku?"
"Kurang asem! Selain memiliki ketegaran dan jiwa ksatria tinggi, pemuda ini juga memiliki sifat asal-asalan! Dia sengaja mempermainkanku rupanya! Lima batang pohon yang dihantamnya dengan ilmu 'Kibasan Naga Mengurung Lautan' tadi hanya untuk menggodaku saja! Tapi... bagaimana caranya dia bisa menyimpan tenaga dari ilmu 'Kibasan Naga Mengurung Lautah' pada lima batang pohon yang kemudian lebur belakangan? Busyet! Dia memang hebat dan cerdik!"
Lalu dipandanginya si pemuda yang sedang nyengir.
"Sekujur tubuhku dipenuhi sisik-sisik hijau. Pemuda itu memiliki sisik yang sama tetapi berwarna coklat dan hanya terdapat mulai dari jari-jemarinya hingga batas siku kedua tangannya. Ah, kalau sisik-sisik hijau pada tubuhku karena pengaruh ilmu yang kumiliki, tetapi dia telah membawanya sejak lahir."
Melihat tatapan gurunya, si pemuda berkata, "Kenapa Guru melihatku seperti
itu? Apakah baru kali ini Guru melihat ketampananku?"
Dewa Naga menggerutu.
"Banyak omong!"
"Apa iya?"
Bruuttt!
Pantat si kakek berbunyi.
"Guru! Kau ini tidak punya malu ya? Buang angin sembarangan! Untung baunya tidak busuk! Coba kalau...."
"Hei, hei! Cuma buang angin itu yang tak bisa kuajarkan padamu! Jangan kau pikir buang anginku itu seperti buang angin orang kebanyakan! Hemm... suatu saat akan kuperlihatkan kepadamu! Sekarang... aku ingin melihat kebisaanmu! Ayo, serang aku!"
"Wah! Kok pakai main serang-serangan nih? Kalau aku sudah tamat mewarisi seluruh ilmu Guru, ya su-dah!"
"Banyak omong! Ayo, serang aku!!" seru Dewa Naga dengan mata melotot.
"Menyerangmu? Wah! Mana bisa kulakukan? Guru sudah tua, gerakan Guru tentunya sudah lamban!" sahut si pemuda sambil tertawa. Dia memang hendak menggoda gurunya.
Sebagai sahutan, Dewa Naga menjentikkan ibu jari dengan telunjuknya.
Trikk!
Bunyi pelan terdengar. Tetapi... secara tak disangka, menggebah gelombang angin yang diliputi asap hijau ke arah si pemuda yang bukan lain Boma Paksi adanya.
Putra almarhum Pendekar Lontar dan almarhumah Dewi Lontar mendengus pendek. Tanpa bergeser dari tempatnya, dia mendorong tangan kanannya
Wrrpr!!
Serangkum angin merah menggebrak keras.
Dan....
Blaaaam!!
Letupan keras terjadi. Tanah di mana benturan itu terjadi, muncrat ke udara. Dan bila saat ini matahari sudah menampakkan diri, maka akan terlihat muncratan angin merah ke mana-mana.
Masih dengan pandangan terhalang oleh muncratan tanah, satu gelombang angin lainnya menderu cepat ke arah si pemuda. Merasakan adanya dorongan kuat, si pemuda menepukkan tangan kanannya pada lengan kirinya.
Wuuutttl!
Angin berputar tiba-tiba menderu, melingkar dan membubungkan tanah dalam pusarannya.
Si kakek yang sudah meluncur menyerang, mengertakkan rahangnya. Diurungkan niatnya untuk menyerang. Kaki kanannya dijejakkan ke tanah. Bersamaan tubuhnya melenting ke atas, tanah menghambur ke arah si pemuda. Tetapi langsung tertelan dalam pusaran angin yang dilakukan si pemuda.
"Wah! Guru kenapa?! Kenapa harus melompat ke atas seperti monyet?!"
"Brengsek!"
Bruuutt!
Si kakek memutar tubuhnya kembali. Lalu digerakkan jotosan tangan kanannya tepat pada kepala Boma Paksi. Yang diserang langsung merunduk. Dan tiba-tiba saja kaki kanannya mencuat dari belakang.
Plaaak!!
Si kakek terpental ke belakang dan hinggap diatas tanah dengan kedua kaki tegak. Sementara itu, Boma Paksi tetap berada di tempatnya. Tetapi kedua kakinya kini melesak hingga lutut di tanah yang becek.
Belum lagt diangkat kedua kakinya, mendadak saja dilihatnya tanah bergerak cepat ke arahnya.
"Waduh! Kenapa Guru mempergunakan ilmu "Barisan Naga Penghancur karang'?!" seru Boma Paksi keras.
Dalam gerakan yang sangat cepat, pemuda tampan ini menghantamkan telapak tangannya pada tanah yang bergelombang ke arahnya.
Blaaaammm!
Tanah yang bergerak cepat itu terhenti seperti ada tenaga yang menahannya. Dan muncrat ke udara. Tubuh Boma Paksi terpental. Kedua kakinya yang ambias sebatas lutut terlepas dan tanah terbongkar.
Baru saja kedua kakinya hinggap lagi di atas tanah. tanah sudah bergerak kembali. Boma Paksi langsung melompat menghindari barisan tanah yang bergerak itu. Mendadak...
Desss!!!
Perutnya terhantam satu pukulan keras yang membuatnya terhuyung. Paras tampan si pemuda meringis. Perutnya dirasakan sakit. Rambutnya yang dikuncir kuda terlempar sejenak ke depan.
"Bodoh! Anak kecil saja mampu menghindari seranganku" seru Dewa Naga pada murid kesayangannya ini.
"Astaga, Anak kecil mampu menghindari pukulan 'Hamparan Naga Tidur' tadi? Ada-adanya saja guruku ini! Dia selalu bicara semau jidatnya saja! Dan pantatnya itu selalu saja berbunyi! Hmm... akan kuhadapi dia dengan pukulan yang sama."
Saat lain yang terjadi benar-benar tak bisa diikuti oleh mata lagi. Hanya yang terdengar beberapa kali letupan keras terjadi di sela makian Dewa Naga, "Murid brengsek! Kau mau menghajar 'kantong menyan'ku ya?!"
Lalu suara Boma Paksi, "Pecah juga nggak apa-apa, Guru! Toh sudah nggak bisa digunakan lagi?! Guru ini kok aneh-aneh saja ya? Buat apa barang yang tidak bisa dipergunakan lagi masih Guru tangisi juga?!"
"Bicara sembarangan"
Blaaarr!
Jlgaaarrl!
Dewa Naga semakin gencar menyerang muridnya, yang dihadapi muridnya dengan gerakan-gerakan yang tak kalah gencarnya. Perlahan-lahan matahari pun mulai naik dan tanpa terasa, matahari
sudah sepenggalah. Embun-embun sudah mengering. Angin tak lagi menusuk dingin.
Dan... astaga! Sinar matahari yang telah menerangi tempat di mana guru dan murid itu sedang berlatih, namun serangan demi serangan sangat berbahaya, membuat jelas tempat itu sekarang. Benar-benar membuat kepala menggeleng-geleng. Tempat itu ternyata sebuah lembah yang ditumbuhi pepohonan. Anehnya, seluruh pohon yang tumbuh di sana seperti bersisik. Baik batang, dahan, ranting maupun daun!
"Gila betul! Guru benar-benar menganggapku sebagai lawan!" seru Boma Paksi dalam hati tatkala tanah yang menghambur ke udara sirap kembali. Rompi berwarna ungu yang dikenakannya sudah kotor. Tangan kanan kirinya terasa ngilu karena berulang kali berbenturan dengan gurunya.
Tetapi gurunya terus mendesak. Bahkan langsung mengambil sebatang ranting dan memutar-mutar ranting itu hingga si pemuda gelagapan. Dia terus melompat karena tak diberi kesempatan membalas.
Plaaakk!
Dia langsung terjajar ke belakang dengan tangan kanan ngilu begitu kena gebuk ranting si kakek.
"Guru! Jangan terus menyerangku! Aku kan tidak bersenjata!" serunya sambil meluruk ke depan,
Dewa Naga menarik badannya ke belakang seraya mendorong tangan kirinya.
Plaak! Plaaakk!
"Huhh! Kau ketakutan ya?!"
"Eh, siapa bilang aku takut?!" seru Boma Paksi melotot.
Bruuuttt!
"Ya ampun! Kau ini tidak tahu malu betul, ya? Buang angin sembarangan!"
"Bodo, ah!" sahut Dewa Naga cuek. Tanpa mengurangi kecepatannya, dia terus menyerang muridnya itu. Pembicaraan yang enak saja memang kerap kali terjadi. Masing-masing orang dapat berbicara seperti itu. Ini dikarenakan keakraban di antara mereka. Tetapi Boma Paksi sendiri masih dapat mengingat posisinya sebagai seorang murid.
Kibasan demi kibasan ranting yang dilakukan Dewa Naga memang menyulitkan Boma Paksi. Tiba-tiba saja pemuda yang kedua tangannya sebatas siku bersisik
coklat itu menerjang ke depan. Suara gerengan terdengar keras.
"Bagus! Dia telah mempergunakan jurus 'Naga Mengamuk'! Aku memang ingin melihat kemajuannya!" desis Dewa Naga sambil tersenyum.
Apa yang terjadi kemudian sungguh mengejutkan. Pepohonan di sana bertumbangan terhantam tangan kanan kiri Boma Paksi. Paras si pemuda yang sejak tadj terlihat konyol, kini meregang tegang. Tatapan matanya dingin dan bertambah dingin. Bahkan sisik-sisik coklat pada kedua tangannya semakin terang menyala, berkiiat-kilat.
Dewa Naga terus melayani dengan kibasan rantingnya. Sampai kemudian ranting itu patah.
"Hebat! Dia dapat mematahkan rantingku ini!" serunya.
Lalu dengan mempergunakan jurus 'Naga Mengamuk', Dewa Naga melayani serangan murid tunggalnya. Apa yang terlihat sungguh mengerikan. Lembah Naga seperti dilanda kiamat. Letupan demi letupan terdengar keras dan angker. Pepohonan tumbang disertai muncratan tanah di sana-sini. Tempat itu bergetar hebat.
Dari tindakan yang keduanya lakukan, terlihat kalau masing-masing orang telah membahayakan dirinya sendiri. Masuk dalam pertarungan jarak dekat dengan kecepatan Iuar biasa, memang sama-sama sukar dihindari.
Benturan pun terjadi.
Masing-masing orang mundur lima tindak ke belakang.
Boma Paksi cepat menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Karena dia merasa ada hawa panas yang melingkupinya. Di lain pihak, Dewa Naga hanya mendengus dan....
Bruuttt!
Hawa panas yang melingkupinya pun lenyap.
"Luar biasa! Sungguh luar biasa!" desisnya.
Boma Paksi yang telah selesai mengalirkan tenaga dalamnya hingga hawa panas yang melingkupinya lenyap, juga memandang gurunya. Sisik-sisik coklat yang menyala tadi, kini lenyap dan memperlihatkan sisik halus seperti sebelumnya.
"Guru! Kenapa sih Guru menyerangku betulan seperti itu?!"
Kakek muka lonjong mengangkat kepalanya. Dipandanginya pemuda di hadapannya.
"Sosoknya gagah dan tegap. Wajahnya tampan. Sifatnya kendati agak konyol tetapi masih bisa mempergunakan otaknya. Sorot matanya itu... terkadang menyiratkan kedinginan dan keangkeran yang membuat orang berpikir untuk tidak menatapnya lebih lama. Ah, aku melihat sosok Pendekar Lontar padanya. Rasanya. hari inilah saat yang tepat untuk mengatakan semuanya...."
Berpikir demikian, Dewa Naga mengangguk-angguk.
"Pertanyaanmu barusan, memang datang pada waktu yang tepat! Tapi sebelumnya, aku akan bertanya padamu. Boma... apakah kau lupa pada peristiwa dua belas tahun yang lalu?"
* * *


Load disqus comments

0 komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top