Rabu, 04 April 2012

Raja Naga - Tapak Dewa Naga 5


Tapak Dewa Naga

9


SEJENAK pemuda bersisik coklat itu terdiam. Dewa Naga melihat pancaran merah angker dari matanya.
"Aku tahu, dia sedang menahan gejolak batin di hatinya. Tetapi aku harus membuka lagi mata dan ingatannya akan peristiwa dua belas tahun lalu...."
Lalu dilihatnya muridnya mengangguk. Suaranya angker tetapi masih dapat dikendalikan.
"Ya, Guru! Sudah tentu aku tidak melupakannya! Aku ingat sekali! Saat itu... Ayah yang berjuluk Pendekar Lontar telah tewas tanpa diketahui penyebabnya! Lalu... ada Dua Serangkai Jubah Hijau! Kakek Dewa Tombak dan Kakek Dewa Segala Obat! Aku juga ingat, kalau Ibu tewas dibunuh oleh Dadung Bongkok!"
"Ingatanmu kuat sekali...."
"Ayahku tewas tanpa diketahui penyebabnya. Ibuku tewas dibunuh Dadung Bongkok. Ah, lengkaplah apa yang pernah kupunyai kini menghilang...."
Melihat pemuda di hadapannya terdiam, Dewa Naga mendengus.
"Kau mau mendengarkan penjelasanku lagi atau kau cuma mau bengong seperti kambing ompong, hah?!"
Boma Paksi mengangkat kepalanya. Dewa Naga berkata, "Dua belas tahun yang lalu, aku telah mengucapkan sebuah janji pada Dadung Bongkok! Saat itu, aku memang hadir di sana, tetapi aku terlambat
karena ibumu sudah dibunuh olehnya! Aku hanya bisa menyelamatkanmu yang juga hendak dibunuh Dadung Bongkok!"
"Mengapa Guru tak membunuhnya?"
"Aku tak berhak melakukannya!"
"Mengapa?!" suara si anak muda terdengar menuntut.
"Bila itu kulakukan, aku hanya akan menimbulkan keonaran! Jadi, apa bedanya aku dengan Dadung Bongkok sendiri? Silang urusan tak pernah terjadi antara aku dengan orang itu! Lagi pula, aku tak berhak melakukannya!"
Boma Paksi terdiam. Kemarahannya mendadak muncul. Tetapi dua kejapan mata berikut, dia sudah menindih kemarahannya.
"Dua belas tahun lalu, aku sudah berkata pada Dadung Bongkok, kalau dia akan mendapatkan balasannya! Tetapi kemudian aku menyadari, kalau aku telah salah berucap!"
"Di mana Dadung Bongkok berada, Guru?"
"Dia tinggal di Sungai Darah! Tetapi aku tidak tahu apakah dia masih tinggal di sana atau tidak! Muridku, sebaiknya kau melupakan apa yang telah terjadi. Tak ada gunanya kau menyimpan dendam atau membalasnya! Karena dengan begitu urusan
akan semakin panjang. Sebelum kau berangkat...."
"Tunggu, Guru! Berangkat? Apa maksud Guru dengan berangkat?" potong Boma Paksi.
"Berangkat ya berangkat!" bentak Dewa Naga tiba-tiba. "Kok kau ini bodoh betul, ya? Berangkat itu sama dengan meninggalkan tempat ini!"
"Jadi... maksud Guru... aku harus meninggalkan tempat ini sekarang?!"
"Ya! Kapan lagi?!"
Boma Paksi hendak membantah ucapan gurunya, tetapi gurunya telah melanjutkan, "Sebelum kau meninggalkan tempat ini, ada satu hal yang hendak kuceritakan padamu."
• Boma Paksi tak menjawab.
"Hei! Kau ini mendadak jadi tuli, ya?!"
"Apa yang hendak Guru ceritakan?"
"Tentang kematian ayahmu...."
"Kematian Ayah?" ulang Boma Paksi sambil memandang tajam pada gurunya.
"Ya! Kematian ayahmu?!"
"Guru! Aku hanya ingat, kalau tak seorang pun yang mengetahui penyebab kematian Ayah! Bahkan, Ibu pun tidak!"
"Kau betul! Tetapi aku mengetahuinya!"
"Oh!"
Sejenak Boma Paksi terdiam. Perasaan pemuda ini kembali bergelora. Hatinya terbawa iagi pada peristiwa dua belas tahun yang lalu.
Lamat-lamat dia berkata,
"Ceritakanlah, Guru...."
Bruuutt!
"Busyet! Pantat ini kok tidak bisa diajak tenang ya?!" maki Dewa Naga. "Masa bodoh, ah! Mau diajak tenang atau tidak bukan urusanku!"
Lalu sambil memandangi muridnya yang masih memandangnya, kakek berjubah merah itu berkata, "Aku telah memeriksa tubuh ayahmu. Pada jantungnya, aku menemukan kejanggalan Dan satu-satunya racun yang dapat menyebabkan kematian seperti itu, adalah racun milik Hantu Menara Berkabut!"
"Hantu Menara Berkabut? Siapakah dia, Guru?"
"Sampai saat ini. Hantu Menara Berkabut tak pernah lagi kedengaran beritanya! Tetapi dulu, aku pernah sekali bertarung dengannya! Dan aku berada pada pihak yang menang! Bahkan sempat kudengar, kalau ayahmu pernah bertarung pula dengannya! Kendati sama-sama terluka, tetapi tidak ada yang
tewas! Rupanya, Hantu Menara Berkabut masih mendendam pada ayahmu yang kemudian membunuhnya!"
"Guru! Aku ingat, kalau Ayah mempunyai ilmu 'Raga Pasa" yang membuatnya akan mengetahui setiap serangan yang datang! Lantas, bagaimanakah cara Hantu Menara Berkabut membunuhnya?"
"Aku tidak bisa menjawab soal itu. Hanya Dewa Segala Obat yang dapat menjawabnya. Jadi... kau harus mencarinya juga dan menanyakan soal itu."
"Apakah Ibu mengetahui siapakah yang telah membunuh Ayah?" tanya Boma Paksi penuh keingintahuan.
"Aku tidak tahu pasti soal itu!"
"Guru telah mengetahui kalau Hantu Menara Berkabut yang telah membunuh Ayah! Tetapi Guru mengatakan tidak tahu pasti Ibu tahu atau tidak soal itu! Berarti Guru tak mengatakannya! Mengapa Guru?! Mengapa tak mengatakannya pada Ibu?!"
"Saat itu... ibumu dalam keadaan berduka. Berduka yang sangat dalam. Aku yakin, bila kukatakan soal itu, tentunya dia akan menjadi murka. Dalam keadaan berduka seseorang akan mudah menjadi
berduka dan terluka. Itulah sebabnya, aku tak mengatakannya. Di samping itu, aku juga tidak tahu bagaimana caranya Hantu Menara Berkabut membunuh ayahmu. Mungkin, saat itu Dewa Segala Obat sudah datang. Bisa jadi dialah yang mengatakannya kepada ibumu. Hanya saja, aku merasa sangsi apakah dia akan mengatakannya? Karena aku merasa agak yakin, kalau Dewa Segala Obat pun mempunyai pertimbangan yang sama denganku.... Tapi sekali lagi, aku masih meragukan hal itu."
Mendengar penjelasan gurunya, Boma Paksi mengangguk-anqguk mengerti. Dadanya digolak rasa amarah lagi. Sisik coklat pada kedua tangannya berubah terang.
Dewa Naga melihat sinar mata muridnya berkilat-kilat.
"Kurasakan ada getaran gaib dari kedua matanya. Ah, matanya itu seperti mengandung magnet yang menggetarkan! Dan gambar seekor naga hijau pada punggungnya, tentunya memiliki kekuatan yang sama! Aku tak tahu sama sekali soal kekuatan itu! Rasanya, biarlah dia yang menemukan jawabannya kelak!"
Kemudian kakek ini berkata, "Satu hal lagi yang perlu kukatakan Boma...
pada punggungmu terdapat sebuah tato naga hijau!"
"Tato naga hijau?"
"Ya! Sebuah gambar seekor naga hijau yang kau bawa sejak kau dilahirkan oleh ibumu! Terus terang, aku pernah bermimpi tentang seorang bocah yang memiliki gambar seekor naga hijau seperti yang ada pada punggungmu! Jangan kau tanyakan apakah naga hijau itu mengandung sesuatu yang berarti atau tidak! Karena aku tidak tahu! Jadi kuminta... kau sendiri yang akan menemukannya kelak! Dan kau harus berhasil menemukan jawabannya!"
"Ah, selama dua belas tahun ini, aku tak pernah diliputi rasa marah dan heran seperti sekarang. Guru telah banyak buka semua rahasia yang dipendamnya selama dua belas tahun. Dan dari sikap Guru, aku merasa pasti, kalau Guru menghendakiku untuk tinggalkan tempat ini sekarang. Tentunya bukan dengan maksud mengusir, tetapi menyuruhku untuk menimba pengalaman di dunia Iuar...."
Habis membatin demikian, pemuda gagah ini merangkapkan kedua tangannya di depan dada. Dipandanginya sesaat kakek berjubah merah yang berdiri di hadapannya. Lamat-lamat ditundukkan kepalanya tanpa berucap apa pun.
Dewa Naga membatin, "Dia sungguh mengerti apa yang kumaksudkan. Sikapnya itu... ah... benar-benar sungguh Iuar biasa. Santun dan sangat santun sekali. Aku yakin, kelak pemuda ini akan menggegerkan rimba persilatan. Tapi... tentang tato naga hijau pada pung-gungnya, aku masih belum dapat memecahkan, rahasia apa yang ada di sana...."
Kakek muka lonjong penuh sisik itu perlahan-lahan mendengar kata-kata si anak muda yang masih menundukkan kepala,
"Guru... aku mohon diri...."
"Bagus kalau kau mengerti apa yang kumaksudkan! Satu pesanku... di dunia luar sana, tak sama dengan dunia yang kita hadapi sekarang ini! Kau akan banyak menemukan beragam sifat manusia! Kau akan berhadapan dengan manusia yang luarnya baik tetapi hatinya busuk! Dan kau juga akan berhadapan dengan manusia yang luarnya buruk tetapi hatinya emas! Juga kau akan berhadapan dengan manusia-manusia yang bukan hanya memiliki sifat aneh, tetapi juga mengerikan! Pesanku, dapatlah kau menjaga dirirnu sendiri...." Boma Paksi mengangguk.
"Akan kuingat pesan, Guru! Guru... di manakah Hantu Menara Berkabut berada?"
"Selama dua belas tahun aku terus berada di sini bersamamu. Ingatanku agak lupa. Kau harus menemukannya.... Dan... tunggu sebentar!"
Boma Paksi melihat gurunya menjentikkan tangan kanannya ke atas. Dari atap bangunan kecil yang tak jauh dari sana, mendadak saja melayang sebuah benda. Masih melayang di udara, Dewa Naga menjentikkan lagi tangannya
Benda yang melayang itu terpental lagi, kali ini mengarah pada Boma Paksi yang dengan sigap menangkapnya.
"Oh! Gumpalan daun lontar!" serunya. Lalu tanyanya kemudian, "Untuk apakah benda ini, Guru? Dan mengapa aku seperti begitu akrab dengan benda ini?"
"Benda itulah yang diinginkan oleh Ratu Sejuta Setan dan Dadung Bongkok. Benda itulah yang menyebabkan ibumu dibunuh olehnya?!"
"Aneh! Mengapa hanya gumpalan daun lontar ini saja orang-orang seperti Ratu Sejuta Setan dan Dadung Bongkok menginginkannya?!"
"Kau akan tahu jawabannya kelak! Sekarang... berangkatlah!!"
Boma Paksi memasukkan gumpalan daun lontar itu ke balik pakaiannya. Dan mendadak saja dia lerkejut.
"Heiii!!"
Kalau biasanya sebuah benda bulat bila dimasukkan ke balik pakaian akan menonjol, tetapi gumpalan daun lontar yang tetap segar dan bersinar terang itu, justru mendadak saja mengempis. Begitu mengempis, Boma Paksi merasakan ada hawa sejuk yang mengaliri sekujur tubuhnya.
"Guru!"
"Jangan banyak tanya lagi! Sana pergi! Danjangan terpancing oleh hal-hal yang dapat mencelakakanmu sendiri...."
"Semua pesan Guru akan kuingat!"
"Jangan meremehkan siapa pun juga! Dan katau bisa, hindarilah pertempuran dengan siapa pun juga. Di samping itu, jangan suka menyimpan dendam! ‘Raja Naga’ berangkatlah kau sekarang!"
Boma Paksi terdiam dengan keningnya berkerut. Matanya menatap dalam gurunya.
"Guru memanggilku Raja Naga?" desisnya dalam hati.
"Hei, Mengapa kau masih berada di sini, hah?! Ayo! Kau pergi sana! Otakku jadi mumet bila melihatmu masih berada di sini!"
Setelah merangkapkan kedua tangannya dan mengucapkan terima kasih, Boma Paksi pun muiai berlari meninggalkan tempat itu. Ilmu peringan tubuh dipergunakannya hingga dalam beberapa kejap saja dia sudah berada jauh dari Lembah Naga. Dilihatnya lembah itu sekali lagi. Warna hijau menyelimutinya, seperti menyemarakkan tempat. Tetapi di balik semua itu, tersimpan keangkeran dalam yang tak bisa dipecahkan. Juga mengenai pepohonan yang semuanya bersisik halus.
"Guru... aku mohon restumu...."
Kejap kemudian, pemuda gagah berompi ungu dengan kedua tangan sebatas siku dipenuhi sisik coklat, sudah berkelebat meninggalkan tempat itu dengan berjuta rintangan yang harus dihadapinya.
Kelak, rimba persilatan akan dikejutkan dengan munculnya seorang tokoh muda berjuluk ‘Raja Naga’

SELESAI

Load disqus comments

0 komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top