Selasa, 03 April 2012

Pendekar 4 Alis - Kekaisaran Rajawali Emas 2

Khulung

Lorong itu sekarang menjadi lebih gelap dan misterius, karena hari telah sore.
Puteri DanFeng menundukkan kepalanya dan rambutnya yang hitam jatuh ke
pundaknya seperti arus air yang halus.
Perlahan-lahan ia berkata: "Aku tak tahu bagaimana harus berterima kasih
padamu untuk kejadian tadi."
Lu Xiao Feng bertanya: "Apakah engkau membicarakan tentang arak tadi?"
Wajah Puteri DanFeng memerah sebentar dan ia semakin menundukkan
kepalanya: "Aku yakin kau sekarang telah melihat bahwa ayah seorang laki-laki
yang angkuh, dan ia benar-benar tak bisa lagi mengalami kejutan atau
kesedihan. Maka aku tak ingin ia mengetahui yang sebenarnya."
"Aku mengerti."
Puteri DanFeng menarik nafas: "Selain ruangan-ruangan yang digunakan ayahku,
kamar tidurnya dan ruang tamu, semua ruangan lainnya kosong melompong.
Bahkan arak simpanan yang berharga telah habis dijual satu demi satu."
Kepalanya semakin menunduk dan ia praktis hanya memandangi kakinya sendiri:
"Kami benar-benar tidak punya penghasilan. Berusaha merawat rumah itu adalah
soal yang sukar, di samping itu banyak yang harus kami lakukan. Untuk
mencarimu aku bahkan telah menggadaikan mutiara peninggalan ibuku untukku."
Lu Xiao Feng menarik nafas: "Aku tidak tahu banyak tentang keadaan kalian, tapi
cangkir arak itu telah memberitahu banyak."
Puteri DanFeng tiba-tiba mengangkat kepalanya kembali dan memandangnya:
"Apakah kau akhirnya setuju karena kau telah mengetahui bagaimana
sebenarnya keadaan kami?"
"Karena hal itu dan kenyataan bahwa ia telah menganggapku sebagai seorang
sahabat dan tidak menggunakan apa-apa untuk mengancam atau memerasku."
Puteri DanFeng menatapnya, matanya yang indah kembali penuh dengan air
mata terima kasih.
Ia cepat-cepat menundukkan kepalanya lagi dan berkata dengan suara yang
lembut: "Selama ini aku keliru. Kukira engkau orang yang tak akan tergerak oleh
perasaan dan simpati."
Selama itu Hua Man Lou hanya tersenyum. Ia mendengarkan banyak dan bicara
sangat sedikit, baru sekarang ia akhirnya bicara lagi: "Sudah kubilang, orang ini
keras dan bau di luarnya, tapi di dalam hatinya lebih lunak daripada tahu!"
Puteri DanFeng tertawa kecil dan menjawab: "Kau juga keliru."
"Oh?"
"Dia memang sangat kukuh dan keras, tapi tidak bau sama sekali."
Wajahnya memerah sebelum ia menyelesaikan apa yang ia katakan. Maka ia
segera mengubah pokok pembicaraan: "Kamar tamu kami benar-benar sangat
sederhana dan biasa, semoga kalian tidak terlalu keberatan."
Lu Xiao Feng membersihkan tenggorokannya: "Mungkin kami seharusnya tidak
tinggal untuk makan malam."
Puteri DanFeng tertawa dipaksa: "Jangan lupakan 4 emas batangan yang kau
tinggalkan untuk kami."
Mata Lu Xiao Feng bersinar: "Apakah kau tahu bahwa Lo Huo termasuk orang
yang kalian cari-cari?"
"Kami baru tahu setelah kau menyatakan bahwa dialah Huo Xiu."
Ekspresi wajah Lu Xiao Feng tiba-tiba menjadi sangat serius: "Tapi bagaimana
kau tahu bahwa DuGu YiHe adalah ketua Paviliun Baju Hijau? Ini adalah rahasia
terbesar dan paling misterius di dunia persilatan."
Puteri DanFeng bimbang sebelum akhirnya menjawab: "Karena Liu YuHen dulu
merupakan sahabatnya yang paling dipercaya. Ia juga yang menjadi penyebab
kenapa si 'Jantan Tampan' Liu YuHen di masa lalu tampak seperti sekarang."
Mata Lu Xiao Feng bersinar-sinar lagi, seakan-akan ia akhirnya menyadari sebuah
teka-teki yang beberapa saat yang lalu menghantuinya.
______________________________
Kamar tamu itu besar, tapi selain sebuah tempat tidur, meja dan beberapa kursi
yang tampak tua, hampir tidak ada apa-apa lagi di kamar itu.
Hua Man Lou duduk di sana. Walaupun ia tidak bisa melihat, seolah-olah ia bisa
merasakan di mana kursi itu berada.
Lu Xiao Feng memandangnya, tiba-tiba ia bertanya: “Kau pernah terduduk di
tempat yang kosong?”
Hua Man Lou tersenyum: “Kau ingin aku terduduk di tempat kosong?”
Lu Xiao Feng tersenyum juga: “Aku hanya berharap lain kali kau duduk, kau akan
terduduk di pangkuan seorang gadis.”
“Kau tahu lebih banyak tentang hal itu daripada aku.”
Lu Xiao Feng berkata dengan getir: “Jika kau tahu sebanyak aku, mungkin kau
tak akan terperdaya oleh tipuan mereka.”
“Tipuan siapa?”
“Sudah lupa dengan ShangGuan Fei Yan?”
Hua Man Lou tersenyum: “Aku tidak terperdaya oleh tipuan orang, aku datang ke
sini atas kemauanku sendiri.”
Lu Xiao Feng sangat terkejut: “Kau memang mau ke sini? Kenapa?”
“Mungkin karena akhir-akhir ini kehidupanku terlalu tenang sejak aku tinggal
sendirian. Aku ingin melakukan beberapa hal yang berbahaya.”
Lu Xiao Feng mendengus: “Mungkin kau cuma terperdaya oleh seorang penipu
berwajah cantik!”
Hua Man Lou tersenyum: “Mungkin ia memang seorang penipu berwajah cantik,
tapi ia jujur kepadaku.”
“Mungkin karena ia tahu bahwa cara terbaik untuk menipu orang sepertimu
adalah dengan menceritakan hal yang sebenarnya.”
“Mungkin.”
“Tujuannya adalah membawamu ke sini. Sekarang kau ada di sini, tujuannya
telah tercapai.”
Hua Man Lou tersenyum: “Kau tampaknya berusaha membuatku marah.”
“Kau tidak marah?”
Sambil tersenyum Hua man Lou menjawab: “Mengapa aku harus marah? Mereka
datang dan membawaku ke mari dengan kereta mereka, memperlakukanku
sebagai tamu terhormat. Cuaca di sini juga bagus dan di halaman bunga-bunga
sedang mekar. Di samping itu sekarang kau ada di sini, bahkan jika aku benarbenar
terperdaya olehnya, tak ada yang perlu aku keluhkan.”
Lu Xiao Feng tak tahan untuk tidak tertawa: “Tampaknya mustahil bisa
membuatmu marah.”
Hua Man Lou tiba-tiba bertanya: “Kau benar-benar ingin mengajak XiMen Chui
Xue?”
“Mmhmm.”
“Bisakah kau membujuknya untuk ikut campur dalam urusan orang lain?”
Dengan senyum getir di wajahnya, Lu Xiao Feng menjawab: “Aku tahu bahwa di
dunia ini tampaknya tidak ada yang bisa menggerakkan dia, tapi aku tetap harus
berusaha.”
“Lalu apa?”
“Aku belum berfikir sejauh itu, sekarang aku hanya berfikir bagaimana caranya
keluar dan melihat-lihat.”
“Melihat-lihat apa?”
Lu Xiao Feng tertawa: “Mungkin aku ingin melihat ShangGuan Fei Yan.”
Hua Man Lou masih tersenyum, tapi ada sedikit kecemasan di senyumannya
ketika ia menjawab: “Kau tidak akan menemukannya!”
“Oh?”
“Aku tidak pernah mendengar suaranya lagi sejak aku tiba di sini, tampaknya ia
telah meninggalkan tempat ini.”
Lu Xiao Feng menatapnya, perasaan khawatir tiba-tiba muncul di wajahnya.
Tapi Hua Man Lou tertawa lagi: “Tampaknya ia seorang gadis yang tak bisa diam
atau beristirahat, selalu sibuk melakukan sesuatu.”
Lu Xiao Feng tiba-tiba tertawa juga: “Sebenarnya, bukankah semua perempuan
seperti itu?”
______________________________
Kamar itu sekarang sudah agak gelap. Hua Man Lou duduk di sana sendirian,
tampak bahagia dan damai seperti biasanya. Ia selalu bahagia dan puas, karena
di mana pun ia berada, ia selalu merasakan rasa senang dan cinta yang tidak
dirasakan orang lain.
Sekarang ia sedang menikmati matahari terbenam musim semi yang indah.
Tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pintu.
Baru saja ia mendengar suara ketukan itu, orangnya telah masuk. Sebenarnya
ada 2 orang, DuGu Fang dan Xiao QiuYu.
Tapi hanya terdengar suara langkah kaki satu orang saja, suara langkah kaki
DuGu Fang lebih ringan dan lebih susah didengar daripada angin musim semi
yang halus.
Hua Man Lou tersenyum: "Silakan duduk, ada lebih dari 2 kursi kosong di sini."
Ia tidak bertanya siapa mereka, juga kenapa mereka datang. Tidak perduli siapa
yang masuk ke kamarnya, ia akan selalu sehangat dan seramah ini, selalu
memberikan semua yang ia miliki untuk dinikmati orang lain.
Wajah DuGu Fang menjadi gelap ketika ia menjawab dengan dingin: "Bagaimana
kau tahu kami berjumlah 2 orang? Apakah kau benar-benar buta?"
Ia selalu menganggap tak seorang pun mampu mendengar langkah kakinya, ia
selalu yakin pada ilmu meringankan tubuhnya. Itulah sebabnya ia sekarang
merasa tidak senang.
Tapi Hua Man Lou masih tetap bahagia dan damai. Ia tersenyum dan menjawab:
"Kadang-kadang aku sendiri juga bingung apakah aku benar-benar buta. Aku
selalu berpikiran bahwa hanya orang-orang yang memiliki mata tapi menolak
untuk melihat itulah yang benar-benar buta."
Xiao QiuYu tersenyum: "Kau lupa satu satu jenis orang lagi yang juga buta."
"Jenis yang mana?"
"Orang mati!"
Hua Man Lou tersenyum: "Bagaimana kau tahu orang mati itu buta? Mungkin
orang mati melihat banyak kejadian seperti kita juga. Kita belum ada yang
pernah mati, bagaimana kita bisa tahu apa yang diketahui atau dilihat oleh orang
mati?"
Dengan dingin DuGu Fang menjawab: "Mungkin kau akan segera tahu!"
Dengan santai Xiao QiuYu menambahkan: "Kami benar-benar tidak kenal kau,
dan kami juga tidak punya dendam terhadapmu, tapi kami tetap akan
membunuhmu!"
Bukan hanya Hua Man Lou tidak terkejut, tampaknya sedikit pun ia tidak
kelihatan gusar. Ia masih tersenyum: "Sebenarnya aku telah menunggu kalian
berdua!"
DuGu Fang bertanya: "Kau tahu bahwa kami akan datang untuk membunuhmu?"
"Lu Xiao Feng tidak bodoh, tapi ia telah banyak menyakiti hati orang lain tanpa ia
sadari. Ini karena bila ia bicara, ia kadang-kadang seperti sebuah meriam!"
DuGu Fang mendengus.
Hua Man Lou menambahkan: "Tak seorang pun suka bila dikatakan bahwa ia
tidak sebanding dengan orang lain yang buta. Terutama bagi 2 jagoan seperti
kalian, hal itu benar-benar tak bisa ditolerir. Maka tentu saja kalian akan
mendatangi si orang buta untuk membunuhnya."
Ekspresinya masih tetap damai dan ia meneruskan: "Para pendekar dan orangorang
dunia persilatan memang paling tak tahan pada hal ini!"
DuGu Fang menukas: "Bagaimana denganmu?"
"Aku bukan seorang pendekar, aku hanya orang buta."
Walaupun DuGu Fang masih mendengus, ekspresi heran telah muncul di
wajahnya.
Bagaimana orang buta ini bisa tahu begitu banyak?
Xiao QiuYu memotong: "Kau tahu kami akan datang, dan kau tetap menunggu di
sini?"
"Ke mana lagi orang buta bisa lari?"
DuGu Fang tiba-tiba berteriak: "Ke neraka!"
Ketika ia berteriak, ia telah membuat gerakan. Sebuah tombak bermata satu
melesat ke tenggorokan Hua Man Lou seperti seekor ular berbisa, sementara
pedang Penghancur Usus telah ditusukkan juga.
Gerakannya lambat, begitu lambatnya sehingga tidak menimbulkan angin atau
suara. Orang buta jelas tak bisa melihat pedang, ia hanya bisa mendengar suara
yang diciptakan oleh pedang.
Tapi gerakan ini tidak menimbulkan suara sedikit pun, maka gerakan ini benarPENDEKAR
benar merupakan sebuah gerakan yang dapat menghancurkan usus orang buta.
Apalagi ada tombak bermata satu di depan pedang. Jika tombak itu meleset,
pedangnya tentu berhasil menusuk. Tapi perhitungan Xiao QiuYu sama sekali
salah.
Selain mendengar, orang buta ini tampaknya punya indera lain yang luar biasa
dan misterius.
Ia tampaknya telah mengetahui, entah bagaimana caranya, bahwa bahaya
sebenarnya bukan berasal dari tombak itu, tapi dari pedang. Tapi ia tak bisa
melihat atau mendengar pedang itu.
Sebelum pedang itu tiba, ia tiba-tiba berjumpalitan. Ketika tombak itu meleset
dari pundaknya, tangannya telah menyentuh pedang tersebut.
"Tak! Tak!" Pedang berusia seratus tahun itu tiba-tiba patah menjadi 3 bagian.
Perut musuh belum hancur, tapi pedang itu sudah.
Bagian yang terpanjang masih berada di tangan Hua Man Lou. Ia menyentilkan
tangannya dan rumbai-rumbai di tombak itu pun saling melibat dengan potongan
pedang.
DuGu Fang tercengang. Bahkan di bawah sinar matahari terbenam, wajah Xiao
QiuYu masih tampak pucat seperti mayat.
Sambil tersenyum Hua Man Lou berkata: "Aku sebenarnya tidak ingin
mengganggu Tuan Xiao QiuYu, tapi gerakan Tuan Xiao QiuYu itu benar-benar
kejam terhadap seorang laki-laki buta. Aku hanya berharap bahwa sesudah Tuan
Xiao QiuYu mendapatkan pengganti untuk pedang ini, ia mau menyediakan ruang
di hatinya untuk dirinya sendiri sehingga paling tidak ia punya kesempatan untuk
hidup."
______________________________
Kebun itu tadinya benar-benar penuh dengan bunga, tapi sekarang banyak yang
telah dipetik.
Baru sekarang Lu Xiao Feng bisa membayangkan dari mana asal semua bunga
yang dibawa oleh Puteri DanFeng.
Saat inilah ia melihat gadis kecil itu lagi.
ShangGuan Xue-Er sedang berdiri di tengah semak-semak bunga, di bawah
cahaya matahari terbenam. Sinar suram matahari terbenam menyinari
rambutnya yang lembut dan halus.
Ia tampak begitu polos dan jujur, seolah-olah ia tidak pernah mengucapkan
separuh perkataan dusta sekalipun.
Lu Xiao Feng tersenyum, ia tak tahan untuk tidak berjalan menghampiri dan
berkata: “Hai, kakak sepupu. Apa kabarmu?”
“Tidak baik.”
“Kenapa tidak?”
“Karena aku punya kekhawatiran, banyak kekhawatiran.”
Lu Xiao Feng tiba-tiba melihat adanya perasaan cemas yang tak dapat diuraikan
dengan kata-kata di matanya yang bening dan berkilauan, senyumannya yang
manis pun tampak sedikit dipaksakan.
Ia pun bertanya: “Kekhawatiran macam apa?”
Ia menjawab: “Aku mengkhawatirkan kakakku.”
“Kakakmu? ShangGuan Fei Yan?”
ShangGuan Xue-Er mengangguk.
Lu Xiao Feng bertanya: “Kenapa kau mencemaskan dia?”
“Ia tiba-tiba menghilang!”
“Kapan ia menghilang?”
“Hari tibanya Hua Man lou, yang juga merupakan hari keberangkatan kami
mencarimu.”
Lu Xiao Feng memandangnya: “Jika kau begitu mencemaskan dia, mengapa kau
tidak mencarinya?”
“Karena ia mengatakan bahwa ia akan tinggal di sini dan menunggu kami
pulang.”
“Kau percaya semua yang ia katakan?”
“Tentu saja!”
Lu Xiao Feng tak tahan untuk tidak tertawa kecil: “Jika ia tidak pergi, bagaimana
ia tiba-tiba bisa menghilang?”
“Aku pun tak bisa membayangkannya, itulah sebabnya aku mencari-cari dia.”
“Di kebun bunga ini?”
“Mmhmm.”
“Mungkinkah ia bersembunyi di kebun, sembunyi selama berhari-hari?”
“Aku bukan mencari dia, aku mencari mayatnya.”
Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya: “Mayatnya?”
“Kurasa dia telah dibunuh dan dikubur di sini, di kebun ini.”
“Ini adalah rumah kalian sendiri, bagaimana mungkin ada orang yang ingin
membunuhnya?”
“Walaupun ini rumah kami, tapi ada orang lain di sini.”
“Orang lain?”
“Seperti sahabatmu Hua Man Lou contohnya.”
“Kau kira Hua Man Lou mau membunuh?”
“Kenapa tidak? Semua orang bisa bisa jadi tersangka, bahkan kaisar tua itu
juga!”
“Kaisar tua jadi tersangka juga? Kenapa?”
“Itulah sebabnya aku mencarinya, karena aku tidak tahu!”
Lu Xiao Feng menarik nafas pendek: “Kau terlalu banyak khawatir, seorang gadis
berusia 12 tahun seharusnya tidak banyak khawatir.”
ShangGuan Xue-Er menatapnya, memandangnya lama sebelum akhirnya
bertanya dengan lambat: “Siapa bilang aku baru 12 tahun?”
“Kakak sepupumu.”
“Kau percaya apa yang ia katakan tapi tidak percaya pada ucapanku?”
______________________________
Hua Man Lou bertanya: “Tidak pergi mencarinya?”
Lu Xiao Feng menjawab: “Adiknya saja tidak dapat menemukannya, harapan apa
yang aku miliki?”
Wajah Hua Man Lou yang damai memperlihatkan sedikit perasaan cemas lagi.
Jelas ia memiliki perasaan yang tidak biasa terhadap gadis yang tiba-tiba
menghilang ini, ia tidak bisa menyembunyikan hal itu walau ia berusaha.
Bila perasaan ini memasuki hati seorang manusia, ia seperti sebutir intan di
tengah gundukan pasir, setiap orang bisa melihatnya dalam sekali pandang.
Tentu saja Lu Xiao Feng melihatnya juga, maka ia segera bertanya: “Kau sudah
bertemu adiknya?”
Hua Man Lou menjawab: “Belum.”
Lu Xiao Feng menarik nafas: “Tampaknya nasibmu tidak begitu buruk, paling
tidak masih lebih baik dariku.”
“Adiknya seorang bajingan cilik?”
Lu Xiao Feng tersenyum jengkel: “Bukan hanya bajingan kecil, dia itu setan kecil!
Bukan hanya ia bisa menipu orang mati menjadi hidup lagi bila ia berdusta, dia
juga linglung.”
“Anak kecil juga bisa linglung?”
“Penyakit linglungnya malah lebih parah dari nenek-nenek. Ia mengira kakaknya
telah dibunuh, ia mencurigaimu atau Kaisar Rajawali Emas sebagai
pembunuhnya.”
Ia ingin membuat Hua Man Lou sedikit bahagia, maka ia pun tertawa.
Tapi Hua Man Lou sedikit pun tidak tampak senang.
Maka Lu Xiao Feng menambahkan: “Bukankah penyakit linglungnya itu lucu?”
“Sama sekali tidak.”
“ShangGuan Fei Yan juga seorang gadis muda, yang bisa ia lakukan hanyalah
sedikit berdusta. Coba temukan seorang remaja berusia 18 atau 19 tahun yang
tidak pernah berdusta. Mengapa ada orang yang ingin membunuhnya?”
Hua Man Lou terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab: “Sekarang aku
hanya mengharapkan satu hal.”
“Mengharapkan apa?”
Hua Man Lou tersenyum dan menjawab: “Aku hanya berharap mereka tidak
menyediakan arak palsu malam ini.”
Lu Xiao Feng tidak bertanya apa-apa lagi tentang hal ini, karena Hua Man Lou
biasanya tidak begitu perduli dengan arak.
Lu Xiao Feng memandangnya, tiba-tiba ia merasa senyuman Hua Man Lou sedikit
misterius. Semua orang, tak perduli siapa, akan menjadi sedikit aneh dan
misterius pada saat seperti ini.
Lu Xiao Feng berkedip-kedip beberapa kali dan membuat suaranya semisterius
mungkin: “Aku juga mengharapkan sesuatu.”
“Apa itu?”
“Aku hanya berharap daging yang mereka sediakan untuk kita malam ini bukan
daging manusia, dan arak yang mereka berikan tidak berisi obat bius!”
Bab 4: Perasaan Yang Palsu
Saat itu sedang pesta. Pesta diadakan di ruangan tempat mereka bertemu
dengan Kaisar Rajawali Emas. Arak dan makanan tersedia dalam jumlah besar.
Araknya adalah arak asli, yaitu arak Ukiran Tua yang enak.
Lu Xiao Feng menghabiskan arak di cangkirnya dalam satu tegukan. “Arak ini
enak,” tiba-tiba ia menarik nafas. “Tapi dibandingkan dengan Arak Persia yang
tadi? Sedikitpun tak bisa mendekati!”
Kaisar Rajawali Emas tertawa: “Arak ini dikumpulkan dari tetesan embun bungabunga
tertentu. Minuman seperti ini tampaknya agak sia-sia ya?”
“Ia bukannya minum,” Hua Man Lou berkomentar sambil tersenyum. “Ia hanya
menuangnya ke perutnya. Ia bahkan tidak merasakan araknya, memberinya arak
seperti ini sebenarnya merupakan hal yang mubazir.”
Kaisar Rajawali Emas tertawa lagi: “Tampaknya kau benar-benar tahu semua hal
yang harus diketahui tentang dia.”
Bukan hanya sang kaisar kelihatan lebih bahagia malam itu, ia pun telah bertukar
pakaian dan mengenakan jubah sutera yang bersulamkan seekor naga emas. Ia
seperti seorang raja yang hendak mengirim seorang jenderalnya yang akan
melakukan tugas besar dan menjamunya dengan pesta.
Puteri DanFeng juga tampak gemilang dan cantik.
Ia sendiri yang mengisi cangkir kosong di hadapan Lu Xiao Feng. “Kami merasa
hanya minuman seperti ini yang memberikan semangat gagah berani,” ia
berkata. “Tidak ada gadis yang menyukai laki-laki yang minum arak seperti
sedang minum racun.”
Wajah Kaisar Rajawali Emas menjadi kaku: “Jadi menurutmu gadis-gadis suka
laki-laki pemabuk?”
Mata Puteri DanFeng berkedip-kedip: “Tentu saja ada sedikit nilai buruk untuk
minuman.”
“Hanya sedikit?” Kaisar Rajawali Emas bertanya.
“Seperti orang yang minum terlalu banyak,” Puteri DanFeng menjawab. “Lalu ia
semakin tua, kakinya mengalami masalah, dan ia tak bisa minum lagi. Maka bila
melihat orang lain minum ia pun akan marah. Sering marah-marah bukanlah hal
yang baik.”
Kaisar Rajawali Emas berusaha tetap membuat kaku wajahnya sampai akhirnya
ia menyerah: “Sebenarnya waktu muda aku juga minum seperti cuma
menuangkannya saja ke dalam perutku. Dan kujamin itu tidak lebih lambat
sedikitpun dibandingkan dengan caramu minum.”
Tuan rumah yang cerdik tahu bahwa cara terbaik memperlakukan tamu bukanlah
dengan menyediakan makanan atau arak yang enak, tapi dengan gelak tawa.
Maka semua tamu seharusnya tahu persis bagaimana membuat tuan rumah
merasa bahwa gelak tawa mereka memang mampu menghibur tamunya.
Lu Xiao Feng ‘menuangkan satu cangkir arak lagi ke dalam perutnya’. “Aku akan
mencari XiMen Chui Xue besok pagi,” tiba-tiba ia berkata.
“Bagus!” Kaisar Rajawali Emas menjawab.
“Orang ini aneh,” Lu Xiao Feng melanjutkan. “Aku harus pergi sendiri untuk
membujuknya agar ikut terlibat. Zhu Ting adalah persoalan lain.”
Ia merogoh ke dalam bajunya dan mengeluarkan secarik kertas yang kusut dan
kotor. Ia meletakkannya di atas meja dan, dengan bantuan sumpit dan saus,
melukis seekor burung phoenix yang sedang terbang. “Kirim orang ke tempatnya
dengan membawa kertas ini,” ia berkata sambil menyerahkan kertas itu pada
Puteri DanFeng. “Ia akan ikut dengan orang itu.”
“Kudengar kalian berdua sudah lama tidak saling bicara.” Puteri DanFeng tampak
tidak yakin.
“Aku tidak bicara dengan dia,” Lu Xiao Feng menjawab. “Aku hanya menyuruhnya
datang ke sini. Itu dua hal yang benar-benar berbeda.”
“Jadi dia tidak mau bicara denganmu,” Puteri DanFeng memandangnya dengan
tatapan tidak percaya. “Tapi, melihat ‘tanda tanganmu’, ia pasti mau ikut dengan
seorang asing ke sebuah tempat yang benar-benar tak dikenalnya?”
“Tanpa ragu sedikit pun.”
“Kurasa kau bisa menganggap Tuan Zhu ini sebagai orang aneh.” Puteri DanFeng
akhirnya menyerah.
“Ia bukan hanya orang aneh, ia adalah seorang bajingan!”
Puteri DanFeng melicinkan kertas yang kusut itu. Baru kemudian ia menyadari
bahwa kertas yang kusam dan kotor itu adalah selembar cek senilai 5000 tael.
“Apakah cek ini sah?” Ia tak tahan untuk tidak bertanya.
“Kau kira aku mencurinya?”
Puteri DanFeng menjadi merah wajahnya.
“Aku hanya khawatir karena kalau kalian berdua bersahabat baik maka cara
mengundang dia seperti ini akan membuatnya marah.”
“Tidak, tak akan!” Lu Xiao Feng menjawab sebelum tertawa kecil. “Satu-satunya
hal yang baik tentang dirinya adalah tak perduli berapa banyak uang yang
engkau berikan padanya, ia tak akan marah padamu.”
“Itu karena dia bukan orang yang munafik,” Puteri DanFeng menjawab sambil
tersenyum, “dan begitu juga kau.”
Jika kau tahu bahwa seorang sahabatmu sedang kelaparan karena ia miskin tapi
masih memujinya karena berkemauan kuat dan angkuh serta lebih suka mati
daripada memohon pertolongan.
Jika kau tahu bahwa seorang sahabatmu membutuhkan sedikit uang darimu tapi
malah mengiriminya surat yang menyatakan betapa hebatnya ia karena mampu
berjuang melalui itu semua.
Jika kau benar-benar orang seperti ini, maka kujamin bahwa satu-satunya
sahabatmu hanyalah dirimu sendiri.
ShangGuan DanFeng bukan orang seperti itu, maka ia pun faham maksud Lu Xiao
Feng.
Selain wajah yang cantik, ia pun memiliki hati yang penuh pengertian dan
simpatik. Benar-benar jarang menemukan seorang gadis yang memiliki sifat
seperti ini.
Hanya gadis-gadis tercerdas yang tahu bahwa pengertian dan simpati akan lebih
menarik daripada wajah tercantik sekalipun.
Lu Xiao Feng tiba-tiba menyadari bahwa ia tampaknya semakin dan semakin
menyukai gadis ini. Begitu sukanya, sehingga, sekarang pun ia sedang
memikirkan si dia.
Waktu sudah hampir tengah malam dan tak ada lampu yang menyala di kamar
itu. Angin musim semi bertiup halus melalui jendela, membawa dan mengisi
ruangan itu dengan keharuman bunga-bunga di luar.
Lu Xiao Feng berbaring di ranjang itu sendirian, tapi matanya masih terbuka
lebar.
Apa yang ia lakukan begitu larut malam? Apakah ia sedang menunggu
seseorang?
Ia jelas bukan sedang menunggu Hua Man Lou, karena mereka berdua baru saja
berpisah.
Malam itu sunyi. Begitu sunyinya sehingga engkau hampir bisa mendengar suara
tetesan embun yang jatuh di kelopak bunga. Begitu sunyinya sehingga ia bisa
mendengar suara langkah kaki di lorong.
Suara langkah kaki itu sangat ringan, dan sangat lamban. Tapi jantungnya tibatiba
mulai berdebar seperti gila. Sekarang langkah kaki itu berhenti di luar pintu
kamarnya.
Pintu kamar itu tidak terkunci dan seseorang mendorongnya terbuka dengan
perlahan dan menutupnya kembali.
Kamar itu gelap, begitu gelapnya sehingga tak mungkin melihat seperti apa
orang itu.
Tapi Lu Xiao Feng tidak bertanya siapa orang itu. Seolah-olah ia sudah tahu siapa
dia.
Kali ini, langkah kaki itu bahkan lebih ringan dan lamban daripada sebelumnya;
perlahan-lahan mendekati ranjangnya, perlahan-lahan mengelus wajahnya
dengan lembut.
Tangan itu dingin tapi lembut, dan membawa keharuman bunga-bunga yang baru
dipetik.
Dia meraba-raba kumis Lu Xiao Feng dan memastikan pada dirinya sendiri bahwa
orang yang berbaring di ranjang itu memang Lu Xiao Feng.
Lu Xiao Feng baru saja mendengar suara pakaian jatuh ke lantai ketika ia
merasakan sesosok tubuh telanjang merayap ke dalam selimutnya.
Tubuh itu dingin dan lembut, tapi tiba-tiba berubah menjadi panas membara. Dan
tubuh itu tiba-tiba bergetar, seperti nyala api yang berkerlap-kerlip,
membangkitkan gairah Lu Xiao Feng hingga ia menelan ludah. Setelah beberapa
lama baru ia akhirnya menarik nafas.
“Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya,” ia bergumam, “Aku tak tahan
godaan. Mengapa kau masih datang?”
Si dia tidak menjawab. Tubuhnya malah semakin bergetar.
Lu Xiao Feng tak tahan lagi. Ia berguling dan mendekap si dia dalam pelukannya.
Kulitnya yang seperti sutera segera merinding, seperti pusaran-pusaran kecil di
air ketika angin musim semi menghembusnya.
Dadanya tertekan ke dada Lu Xiao Feng. Dadanya seperti seekor merpati, lembut
dan hangat.
Lu Xiao Feng tiba-tiba mendorongnya menjauh.
“Kau bukan… siapa kau?” ia berkata dengan heran.
Si dia masih tak mau bicara, tapi tubuhnya mengkerut.
Lu Xiao Feng mengulurkan tangannya lagi. Ketika ia menyentuh dada si dia, ia
tersentak lagi seperti terkena arus listrik.
“Kau si kakak sepupu kecil!”
“Dan aku tahu kalau kau adalah adik sepupu kecilku.” Si dia akhirnya menyerah
dan mengakui sambil tertawa kecil.
Lu Xiao Feng tiba-tiba melesat bangkit seperti sebatang anak panah.
“Apa yang kau lakukan di sini?” ia bertanya.
“Mengapa aku tak boleh datang ke sini?” ShangGuan Xue-Er menjawab. “Kau kira
siapa aku tadi?”
Dari suaranya, ia seperti marah.
Mungkin tidak ada yang membuat seorang gadis lebih marah daripada dianggap
sebagai orang lain saat mendekati seorang pria.
Lu Xiao Feng biasanya bisa mengatasi situasi seperti ini dengan mudah. Tapi
sekarang ia benar-benar tak tahu apa yang harus dikatakan.
“Jadi dia boleh datang,” ShangGuan Xue-Er meneruskan sambil mendengus,
“Mengapa aku tidak boleh? Katakan padaku!”
“Karena,” Lu Xiao Feng akhirnya menjawab sambil menarik nafas pertanda
pasrah, “dibandingkan denganmu, aku seperti orang tua.”
“Aku datang ke sini semata-mata karena aku ingin membuktikan padamu bahwa
aku bukan anak kecil lagi sehingga kau mau percaya dan tidak menganggapku
sebagai pembohong lagi! Kau benar-benar mengira aku menyukaimu? Jangan
menyanjung dirimu sendiri!”
Suaranya perlahan-lahan semakin kuat dan ia semakin marah, seakan-akan ia
hendak menangis.
Lu Xiao Feng mengulurkan tangan dan membelai rambut gadis itu dengan
lembut, sambil berusaha memikirkan sesuatu yang bisa menghiburnya….
Tiba-tiba pintu dibuka orang dan kamar yang gelap itu pun menjadi terang.
Seseorang berdiri di ambang pintu dengan sebuah lentera di tangannya,
mengenakan sebuah jubah yang berwarna seputih salju, tapi wajahnya masih
lebih pucat daripada jubahnya.
ShangGuan DanFeng.
Lu Xiao Feng ingin merangkak ke bawah tempat tidur dan diam di sana. Ia tak
berani membalas tatapan gadis itu saat memandangnya.
ShangGuan Xue-Er pun seperti anak kecil yang tertangkap basah saat mencuri
kue.
Tapi ia segera mengangkat dadanya tinggi-tinggi, berdiri telanjang bulat,
memandang Lu Xiao Feng dengan bibir dimajukan, dan tersenyum.
“Mengapa tidak kau beritahukan sebelumnya bahwa dia akan datang?” ia
berkata. “Aku kan bisa pergi lebih cepat.”
ShangGuan DanFeng menatapnya, begitu marahnya sehingga bibirnya mulai
bergetar. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa.
Xue-Er telah mengenakan jubahnya. Dengan kepala terangkat tinggi-tinggi, ia
berjalan di hadapan sang puteri. Tiba-tiba ia menjebikan bibirnya dan tersenyum
lagi.
“Kau sebenarnya tidak perlu marah.” Ia berkata. “Semua laki-laki memang
seperti ini.”
ShangGuan DanFeng tidak bergerak, juga tidak menjawab. Seolah-olah seluruh
tubuhnya telah menjadi batu. Dengan lambat dan perlahan-lahan, langkah kaki
Xue-Er pun menghilang di kejauhan.
ShangGuan DanFeng still stood there, motionless, starring at Lu XiaoFeng. Her
beautiful eyes seemed to contain a slight hint of tears.
ShangGuan DanFeng masih berdiri di sana, tanpa bergerak, menatap Lu Xiao
Feng. Matanya yang indah tampak mulai digenangi air mata.
“Bagus,” ia bergumam, “Akhirnya aku melihat orang macam apa engkau
sebenarnya.” Ia menghentakkan kakinya ke lantai, dan memutar tubuhnya.
Tapi Lu Xiao Feng telah tiba di sisinya dan menariknya.
“Apa… apa lagi yang akan kau katakan untuk membela diri?” ia menggigit
bibirnya dan mendesak.
“Aku sebenarnya tidak perlu mengatakan apa-apa,” Lu Xiao Feng menarik nafas.
“Karena kau tentu tahu bahwa aku sedang menunggumu.”
ShangGuan DanFeng menatap lantai. Sesudah beberapa lama, akhirnya ia
menarik nafas.
“Aku datang ke sini untukmu.”
“Dan sekarang?”
“Dan sekarang… sekarang aku hendak pergi.”
Ia tiba-tiba menengadah dan menatap Lu Xiao Feng. Matanya penuh dengan
perasaan yang rumit dan bertentangan, antara mencela dan simpati.
“Apakah kau benar-benar percaya bahwa aku akan….” Lu Xiao Feng berkata
sebelum si dia memotongnya dengan mengulurkan jarinya ke bibirnya.
“Aku tahu kau tak akan,” ia berkata. “Tapi malam ini… aku tak bisa tinggal di sini
malam ini.”
Tak seorang pun akan tertarik melakukan hal-hal lain sesudah menyaksikan
pemandangan seperti tadi.
Lu Xiao Feng mengerti, maka ia melonggarkan pegangannya dan membiarkan
gadis itu pergi.
ShangGuan DanFeng memandangnya. Tiba-tiba ia berjingkat dan mencium pipi
Lu Xiao Feng.
“Dan kau tentu tahu bahwa sebenarnya aku tidak ingin pergi.”
“Tapi sekarang kau sebaiknya pergi secepat mungkin,” Lu Xiao Feng tiba-tiba
tersenyum. “Kalau tidak aku akan…. “
Gadis itu tidak menunggu ucapannya selesai dan segera memberontak lepas dari
dekapannya. Tapi ia masih berpaling.
“Kuperingatkan kamu,” ia berkata sambil tertawa. “Gadis kecil itu seperti setan.
Bila kau bertemu dengannya lain kali, sebaiknya kau cepat-cepat menjauh. Aku
bisa menggigit bila aku cemburu.”
Malam semakin sunyi dan sepi. Dunia tampaknya benar-benar tenang dan damai.
Tapi bagaimana dengan hati manusia?
______________________________
Pagi tiba. Jalan batu itu baru mulai dipanasi oleh sinar matahari, beberapa toko
kecil di pinggir jalan bahkan belum buka.
Selalu ada orang yang tidak biasa bekerja pada pagi hari begini di kota.
Puteri DanFeng baru berpaling setelah ia mengantarkan mereka sampai di tempat
itu dengan kereta kudanya yang penuh dengan bunga.
“Setelah kami mendapat berita, kami akan memberitahumu.”
“Aku tahu, aku akan menunggumu.”
“Aku akan menunggumu,” dengan seorang gadis seperti ini menunggumu, apa
lagi yang diinginkan seorang pria dalam hidupnya?
“Kau tahu, kurasa tak lama lagi ia akhirnya akan menggigitmu paling sedikit satu
kali.” Hua Man Lou berkomentar.
Lu Xiao Feng meliriknya sebelum akhirnya tertawa: “Telingamu tentu jauh lebih
peka daripada telinga kelinci, lain kali aku harus ingat-ingat itu.”
Hua Man Lou balas tersenyum: “Setan kecil yang ia bicarakan itu, apakah dia
adik ShangGuan Fei Yan?”
“Kutantang engkau untuk menemukan satu setan kecil lagi seperti dia di dunia
ini,” Lu Xiao Feng menjawab sambil tersenyum paksa. Hua Man Lou tetap diam.
“Apakah ia sudah menemukan kakaknya? Ia akhirnya bertanya.
“Tampaknya belum, mungkin seharusnya aku tadi menanyakan hal itu pada
ShangGuan DanFeng. Mungkin ia tahu ke mana burung waletmu itu terbang.”
{FeiYan berarti walet terbang dalam bahasa China.}
Hua Man Lou tertawa sedikit mendengar ucapannya itu sebelum menjawab:
“Kurasa lebih baik kau tidak bertanya, kalau tidak ia akan menggigitmu karena
bertanya.”
“Walaupun aku tidak menanyakan hal itu padanya, Xue-Er tentu telah bertanya.”
“Tampaknya ia tidak ada sangkut-pautnya dengan hal itu.” Hua Man Lou
menduga-duga. Walaupun ia masih tersenyum, wajahnya tidak bisa menutupi
kenyataan bahwa ia sedang cemas.
Lu Xiao Feng berfikir sebentar sebelum tiba-tiba bertanya: “Apakah kau tahu
berapa umur ShangGuan Fei Yan?”
“Katanya ia lahir pada Tahun Kambing, jadi umurnya 18 tahun.”
Lu Xiao Feng mengelus-elus kumisnya dan bergumam pada dirinya sendiri:
“Mungkinkah seorang gadis berusia 18 tahun mempunyai kakak berumur 12
tahun?”
“Tergantung situasinya,” Hua Man Lou menjawab sambil tersenyum.
Lu Xiao Feng tercengang mendengar ucapan itu. “Situasi yang bagaimana?” ia
bertanya.
“Jika orang cerdas sepertimu mulai bertanya-tanya tentang hal bodoh seperti itu,
lalu kenapa tidak mungkin seorang gadis berusia 18 tahun mempunyai adik
berumur 20 tahun? Adiknya yang berumur 20 tahun itu pun mungkin saja punya
putera berumur 80 tahun.”
Lu Xiao Feng tertawa, lalu tiba-tiba ia menepuk pundak Hua Man Lou dan
berkata: “Tak mungkin seorang kakak berumur 18 tahun mempunyai adik
berumur 20 tahun dan tak mungkin ShangGuan Fei Yan berada dalam bahaya.”
“Oh?”
“Ada kemungkinan Xue-Er tahu pasti di mana kakaknya berada dan mengatakan
semua ini hanya untuk mengacaukanku. Tapi sekarang aku tahu bahwa kau tidak
percaya sepatah kata pun ucapannya.”
Hua Man Lou tertawa kecil juga dan kemudian, seakan-akan ia tak ingin
membicarakan masalah ini lagi, tiba-tiba ia mengubah pokok pembicaraan: “Kau
bilang kau datang ke sini untuk mencari seseorang?”
Lu Xiao Feng mengangguk.
“Tapi XiMen Chui Xue tampaknya tidak berada di sini.”
“Ia tidak di sini, aku mencari orang lain.”
“Siapa?”
“Kamu tidak sering mengembara di dunia luar, maka kamu mungkin tidak kenal 2
laki-laki tua yang benar-benar aneh ini. Salah seorang dari mereka kebetulan
tahu sedikit tentang segala sesuatu yang pernah terjadi. Orang yang satunya
sedikit lebih hebat, tak perduli betapa sukarnya masalah yang engkau hadapi, ia
bisa membantu menyelesaikannya.”
“Kau sedang membicarakan si Tahu Segalanya dan si Cerdik?”
“Oh, kau tahu tentang mereka?”
“Aku mungkin buta, tapi aku tidak tuli.”
Lu Xiao Feng tersenyum masam sedikit dan berkomentar: “Kadang-kadang aku
berharap kau sedikit tuli.”
______________________________
Sekarang mereka sedang berjalan di bawah atap gantung sebuah bangunan.
Seorang hwesio berwajah alim dengan kepala tertunduk dan mata menatap terus
ke bawah sedang berjalan ke arah mereka.
Wajah hwesio ini agak persegi dan telinganya besar, pertanda seorang yang
memiliki peruntungan yang bagus. Tapi pakaiannya kotor dan compang-camping,
dan sepasang sepatu jerami di kakinya pun sudah usang.
Lu Xiao Feng segera berlari menghampiri hwesio itu. Sambil tersenyum ia
berkata: “Hai, Hwesio Jujur!”
Hwesio Jujur mengangkat kepalanya dan tersenyum waktu ia melihat Lu Xiao
Feng: “Apakah akhir-akhir ini kau sudah sedikit lebih jujur?”
“Bila kau berhenti jadi orang jujur, pada hari itu juga aku akan mulai jujur.”
Tampaknya bila mereka bertemu Hwesio Jujur hanya bisa memaksakan sebuah
senyuman di wajahnya.
“Kau tampak sangat senang hari ini, apakah kau punya kabar bahagia?” Lu Xiao
Feng meneruskan.
“Bagaimana mungkin Hwesio Jujur punya kabar bahagia? Hanya orang-orang
tidak jujur seperti kalian yang punya.” Hwesio Jujur menjawab sambil tersenyum
dipaksa.
“Tapi hari ini tampaknya merupakan pengecualian.”
Hwesio Jujur mengerutkan keningnya sebelum akhirnya menarik nafas: “Hari ini
memang pengecualian.”
Dari raut wajahnya orang bisa tahu bahwa ia tidak ingin Lu Xiao Feng bertanyatanya
lagi.
“Kenapa?” sayangnya Lu Xiao Feng seperti tidak memperhatikan.
“Karena… karena aku baru saja melakukan sesuatu yang sangat tidak jujur dan
baik,” Hwesio Jujur bergumam dengan raut wajah menyesal.
Ia tidak ingin mengatakannya, tapi ia terpaksa mengatakannya, karena ia adalah
seorang hwesio yang jujur.
Itulah sebabnya Lu Xiao Feng semakin ingin tahu dan bertanya lagi: “Kau bisa
melakukan sesuatu yang tidak jujur dan baik?”
“Ini pertama kalinya dalam hidupku,” Hwesio Jujur menjawab.
Lu Xiao Feng semakin ingin tahu dan ia merendahkan suaranya: “Apa yang kau
lakukan?”
“Aku baru saja pergi menemui OuYang.” Wajah Hwesio Jujur tampak sedikit
merah ketika ia menggumamkan jawaban ini.
“Siapa OuYang?”
Hwesio Jujur menatapnya, raut wajahnya tiba-tiba menjadi sangat aneh, seolahPENDEKAR
olah ia agak bangga karena tahu sesuatu dan sekaligus menyesalkan kenaifan Lu
Xiao Feng. Ia menggelengkan kepalanya dan bertanya: “Bagaimana mungkin kau
tidak tahu siapa OuYang?”
“Kenapa aku harus tahu?”
“Karena OuYang adalah OuYang Qing,” Hwesio Jujur berbisik.
“Dan siapakah OuYang Qing ini?”
Wajah Hwesio Jujur jadi semakin merah dan ia tergagap-gagap: “Ia seorang…
seorang… pelacur yang sangat terkenal.”
Tampaknya ia telah mengerahkan seluruh kekuatan terakhirnya untuk
mengucapkan kalimat terakhir itu.
Lu Xiao Feng hampir tersandung dan jatuh karena kagetnya. Dalam mimpinya
pun ia tak bisa membayangkan Hwesio Jujur benar-benar menemui seorang
pelacur.
Tapi walaupun ia terkejut dan tertawa dalam hatinya, wajahnya tetap tenang. Ia
benar-benar dapat berkomentar dengan santai: “Sebenarnya itu bukan persoalan
besar, hal seperti ini bisa terjadi kapan saja.”
Kali ini giliran Hwesio Jujur yang kaget: “Hal seperti ini terjadi kapan saja?”
Dengan wajah kaku Lu Xiao Feng menjawab: “Hwesio tidak punya isteri, apalagi
selir, padahal mereka kuat dan sehat, apa yang bisa mereka lakukan selain pergi
ke pelacur? Masa pergi ke nikouw (biksuni)?”
Hwesio Jujur terdiam.
“Di samping itu, ‘Hwesio Agung’ dan ‘Pelacur Termasyur’ mempunyai hubungan
yang sangat erat,” Lu Xiao Feng meneruskan.
“Bagaimana mungkin?” Hwesio Jujur bertanya.
“Hwesio Agung menghabiskan waktu satu hari penuh dengan memukul lonceng,
Pelacur Termasyur menghabiskan waktu sepemukulan lonceng untuk ‘memukul
roboh’ seorang hwesio. Begitu erat kan hubungannya?” Lu Xiao Feng bahkan
sudah terbungkuk-bungkuk sambil tertawa sebelum ia menyelesaikan leluconnya.
Tapi Hwesio Jujur begitu marahnya sehingga ia tak tahu apa yang harus
dilakukan selanjutnya. Ia hanya bisa memandang Lu Xiao Feng dengan tatapan
kosong. Sesudah beberapa lama, akhirnya ia menarik nafas dan bergumam:
“Buddha yang maha pengampun, mengapa kau buat aku bertemu si Untung
Besar Sun tadi malam dan Lu Xiao Feng hari ini?”
Lu Xiao Feng tiba-tiba berhenti tertawa: “Kau lihat si Untung Besar Sun? Di mana
dia? Aku sedang mencarinya.”
Tapi Hwesio Jujur tampaknya tidak mendengar. Ia tetap membaca doa: “Amida
Buddha, aku tak akan pernah berbuat jahat lagi. Aku pantas mati untuk dosadosaku,
Bodhisattva tentu menghukumku merangkak pulang ke kuil.”
Ia terus berdoa dan tiba-tiba ia berjongkok dan benar-benar mulai merangkak.
Lu Xiao Feng hanya melihatnya pergi secara merangkak dengan senyuman yang
beku di wajahnya.
Hua Man Lou tak tahan untuk tidak berjalan menghampiri dan bertanya: “Apakah
ia benar-benar merangkak pulang?”
Lu Xiao Feng menarik nafas: “Jika ia bilang ia akan merangkak 10 mil, tentu ia
tidak akan merangkak hanya 9,5 mil, karena ia seorang hwesio yang jujur.”
“Tampaknya dia bukan hanya jujur, dia juga gila.” Hua Man Lou berkata sambil
tertawa.
“Tapi ia hanya pura-pura gila, karena ia lebih tahu daripada orang lain apa yang
sedang terjadi.”
“Jadi siapakah si Untung Besar Sun itu?”
Setelah pokok pembicaraan mengenai si Untung Besar Sun muncul, semangat Lu
Xiao Feng bangkit kembali: “Sebenarnya, julukan asli si Untung Besar Sun adalah
‘Tuan Untung Besar Cucu Kura-kura’.”
{Sun adalah bagian dari Sun-Zi, yang berarti cucu.}
Hua Man Lou tertawa lagi dan bertanya: “Bagaimana ia mendapatkan julukannya
itu?”
“Karena ia selalu berkata bahwa bila ia sedang tak punya uang maka ia adalah
cucu kura-kura dan bila ia sedang kaya maka ia adalah si Untung Besar.
Kebetulan nama keluarganya Sun, maka orang-orang pun memanggilnya si
Untung Besar Sun.”
“Tampaknya kau tahu banyak tentang orang-orang aneh ini,” Hua Man Lou
bercanda.
“Si Tahu Segalanya dan si Cerdik adalah 2 orang aneh juga, tak ada yang pernah
melihat mereka, juga tak ada yang tahu di mana mereka berada. Selain si
Untung Besar Sun, tak ada orang lain yang bisa menemukan mereka. Siapa yang
tahu kalau si Untung Besar Sun ini bisa berguna juga? Ia sudah minum dan
berjudi sejak ia masih kecil. Menghabiskan hidupnya dengan berkeliaran dan
bermain-main, ia tak pernah melakukan satu pun hal serius dalam hidupnya dan
juga tak bisa melakukan hal yang berguna. Tapi karena ia bisa melakukan satu
hal ini, ia bisa menghabiskan separuh hidupnya hanya dengan bermain dan bebas
dari perasaan khawatir.”
“Bagaimana bisa?”
“Karena jika orang ingin bertemu si Tahu Segalanya dan si Cerdik, maka orang
harus mencarinya dan membeli dia.”
“Membeli dia? Mengapa harus melakukan itu?”
“Orang ini lebih pintar menghabiskan uang daripada orang lain di dunia ini.
Karena itu ia tidak pernah menjadi Tuan Untung Besar selama lebih dari 3 hari
sebelum menjadi Cucu Kura-kura lagi. Bila ia tak bisa berhutang lagi, ia terpaksa
tinggal di tempat itu dan menunggu seseorang datang dan membayarkan
hutang-hutangnya. Ia sudah 10 tahun hidup seperti itu! Kekaguman bukanlah
kata yang cukup kuat untuk menggambarkan perasaanku tentang dia.”
“Tampaknya bukan saja orang ini bisa berbuat sesuatu, ia pun sangat
beruntung.”
“Tepat. Seorang yang tidak mujur akan segera jadi gila bila hidup seperti dia.”
“Jadi kau akan mencari dan membelinya sekarang?”
“Tentu saja aku harus bertemu OuYang dulu.”
“OuYang?”
Sambil tersenyum Lu Xiao Feng menjawab dengan santai: “Bagaimana mungkin
kau tidak tahu tentang OuYang? OuYang adalah….”
______________________________
OuYang Qing. Nama pertama yang terdaftar di buku tamu Paviliun Cinta.
Menurut kabar, hal terbaik mengenai dirinya adalah tak perduli engkau siapa,
hwesio atau orang cacat, ia akan memperlakukanmu seakan-akan engkau adalah
laki-laki paling tampan di dunia, selama engkau punya uang. Dengan profesinya,
memang hanya itu yang dibutuhkan.
Di samping itu ia pun tidak jelek, berwajah putih dan bersih, rambut hitam
legam, dan bila ia tersenyum maka lesung pipi muncul di kedua pipinya. Dan
sepasang mata yang menatapmu itu akan membuatmu rela menghabiskan
seluruh uangmu untuk dia.
Pada saat itu ia sedang menatap Lu Xiao Feng, memandang kumisnya, seakanakan
ia tak pernah melihat laki-laki setampan itu, dan kumis sebagus itu.
Lu Xiao Feng merasa sedikit pusing karena tatapan itu dan uang di sakunya pun
seperti ingin melompat keluar.
Senyuman OuYang Qing semakin manis: “Tuan pernah ke sini sebelumnya kan?”
“Belum pernah,” Lu Xiao Feng menjawab.
“Dan Tuan minta bertemu denganku segera setibanya di sini?”
“Yang pertama aku tanyakan adalah kamu!”
OuYang menunduk dan berkata dengan lembut: “Jika demikian, berarti ini sudah
takdir.”
“Tentu saja!”
Mata OuYang Qing berkilauan: “Tapi bagaimana kau tahu bahwa aku sedang
berada di sini?”
“Seorang dewa memberitahuku dalam mimpi tadi pagi bahwa kita ditakdirkan
untuk berkumpul lagi seperti 800 tahun yang lalu.”
OuYang Qing tertawa kecil mendengarnya: “Benarkah?”
“Tentu saja benar! Dewa itu berwujud seorang hwesio, tampak jujur dan alim,
dan berkata bahwa ia sendiri sudah bertemu denganmu.”
Ekspresi wajah OuYang Qing tetap tidak berubah dan ia menjawab dengan
tersipu-sipu: “Memang ada seorang hwesio datang ke sini tadi malam. Dia hanya
duduk di sana dan memandangku sepanjang malam sesudah aku naik ke tempat
tidur. Aku tidak tahu kalau dia dewa dan kukira ada sesuatu yang salah
padanya.”
Tiba-tiba ia berjalan menghampiri dan duduk di pangkuan Lu Xiao Feng. Sambil
mengelus-elus kumis Lu Xiao Feng, ia menggigit bibir dan tersenyum: “Tapi kau
sebaiknya tidak menirunya seperti itu.”
“Aku bukan dewa.”
OuYang Qing meletakkan kepalanya di pundak Lu Xiao Feng dan menggigit
telinganya dengan lembut. Sambil tertawa kecil ia menyahut: “Sebenarnya
menjadi seorang dewa juga tidak terlalu enak. Suruh saja temanmu pergi dan
aku bisa membuatmu merasa lebih nikmat daripada menjadi dewa.”
Hua Man Lou tersenyum saja selama itu, duduk diam-diam di sudut jauh ruangan
itu. Tampaknya ia merasa dagelan itu sudah cukup sampai di situ dan tiba-tiba
memotong: “Kami ke sini mencari si Untung Besar Sun, kau tahu di mana dia
berada?”
“Si Untung Besar Sun? Kudengar dia ada di Paviliun Xiao Xiang di sebelah,
menunggu seseorang membeli dia. Paviliun itu tepat berada di depanmu bila kau
keluar,” OuYang Qing menjawab. Tampaknya ia berharap Hua Man Lou mau pergi
secepat mungkin.
Tapi yang pertama berdiri malah Lu Xiao Feng.
“Kau juga pergi?” OuYang Qing mengerutkan keningnya.
“Sebenarnya aku tidak ingin pergi,” Lu Xiao Feng menarik nafas, “tapi aku harus.”
“Mau membeli dia?”
“Tidak, menunggu seseorang membeli kami juga.”
Ia menepuk-nepuk sakunya dan berkata dengan senyum terpaksa di wajahnya:
“Sebenarnya, uang yang kami punya bahkan tidak cukup untuk membeli
sepotong kue.”
Walaupun OuYang Qing masih tersenyum, tapi senyumannya sekarang berbeda,
kau pasti ingin pergi secepat mungkin bila engkau melihatnya.
Tapi Lu Xiao Feng seperti tidak melihat, tiba-tiba ia tersenyum: “Tapi karena kita
telah ditakdirkan bertemu, bagaimana mungkin aku pergi? Kurasa sebaiknya jika
kita….”
OuYang Qing segera memotong: “Karena kita ditakdirkan untuk bertemu, maka
kita tentu akan bertemu lagi. Kupikir sebaiknya kau pergi dan mencari dia
sekarang. Aku… aku tiba-tiba merasa kurang enak badan, perutku sakit.”
Lu Xiao Feng berjalan keluar, menghirup dalam-dalam udara musim semi yang
datang dari arah Timur, dan tersenyum: “Jika kau ingin menyingkirkan seorang
gadis, cara terbaik adalah dengan membuat perutnya sakit. Laki-laki yang sering
keluar rumah harus tahu paling sedikit 3 cara untuk membuat perut seorang
gadis menjadi sakit.”
“Aku tahu kau cerdik,” Hua Man Lou menjawab, “tapi baru hari ini aku menyadari
kau sama sekali bukan orang baik-baik.”
“Kenapa?”
“Kau tahu perempuan seperti apa dia, kenapa kau masih menelanjangi sifatnya
seperti tadi?”
“Karena aku tidak suka orang yang memalsukan perasaannya.”
“Tapi ia tidak memalsukan perasaannya, ia hanya bertahan hidup. Bagaimana
mungkin ia terus hidup di tempat seperti ini jika ia memperlihatkan perasaaannya
yang sebenarnya pada setiap orang?”
Dengan senyuman di wajahnya, Hua Man Lou meneruskan: “Kau seorang sahabat
yang baik, sangat setia, mungkin cukup baik untuk disebut seorang ksatria, tapi
kau punya cacat yang sangat besar.”
Lu Xiao Feng hanya mendengarkan.
Hua Man Lou meneruskan: “Di dunia ini, ada banyak orang yang sangat jahat dan
keji. Tapi terkadang mereka tidak sengaja melakukannya, terkadang mereka
terpaksa melakukannya. Cacatmu yang terbesar adalah engkau tak pernah
memikirkan itu dari sudut pandang mereka.”
Lu Xiao Feng memandangnya. Memandangnya dalam waktu yang lama. Baru
kemudian ia menarik nafas perlahan dan berkata: “Terkadang aku benar-benar
tidak ingin berada di dekatmu.”
"Oh?"
“Karena aku selalu membayangkan bahwa aku bukanlah orang sejahat itu, tapi
bila dibandingkan denganmu aku jadi seperti seorang bajingan.”
Hua Man Lou tersenyum: “Selama seseorang tahu kalau dia seorang bajingan,
maka masih ada harapan untuknya.”
“Aku seorang bajingan! Seorang bajingan ‘kelas satu’! Kau tak akan menemukan
seorang bajingan lagi sepertiku dari sejuta orang!” Ketika mereka berjalan
memasuki Paviliun Xiao Xiang, mereka bisa mendengar seseorang berteriakteriak
seperti itu di lantai atas.
“Si Untung Besar Sun?” Hua Man Lou bertanya.
Lu Xiao Feng tertawa: “Benar! Tidak banyak orang yang tahu betapa bajingannya
diri mereka.”
“Itulah sebabnya masih ada harapan darinya,” Hua Man Lou juga tertawa.
Untunglah, walaupun ia tak bisa berdiri, si Untung Besar Sun masih bisa duduk.
Jadi demikianlah, sambil duduk di dalam kereta kuda yang baru saja disewa Lu
Xiao Feng, ia menatap Lu Xiao Feng: “Aku tahu kau tentu ingin segera bertemu 2
orang aneh itu, tapi kau masih mau minum beberapa cangkir bersamaku.”
Lu Xiao Feng menarik nafas dan menjawab: “Aku masih tidak faham. Orangorang
itu tahu pasti bahwa kau tidak punya uang sama sekali, tapi mereka masih
memberimu minum.”
Sebuah senyuman licik muncul di wajah si Untung Besar Sun: “Karena mereka
tahu bahwa cepat atau lambat seorang kepala besar dengan banyak masalah
sepertimu tentu akan datang dan membeliku.”
Sebenarnya kepalanya tidak lebih kecil daripada kepala orang lain. Jika kau tidak
melihatnya, tak mungkin kau bisa membayangkan ada orang dengan tubuh yang
kecil dan lemah seperti itu bisa memiliki kepala yang demikian besar.
“Bisakah kau menemukan mereka segera dalam kondisi seperti ini?” Lu Xiao Feng
bertanya.
“Tentu saja!” si Untung Besar Sun berkata dengan angkuh. “Tak perduli betapa
anehnya 2 orang itu, mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadapku. Tapi kita
perlu menetapkan beberapa persyaratan dulu, 3 syarat tepatnya.”
“Baiklah.”
“50 tael perak untuk setiap pertanyaan, dan yang kubicarakan adalah 100%
perak murni, tanpa campuran, yaitu perak lantakan. Saat aku masuk, kalian
berdua tinggal di luar. Dan bila waktunya tiba untuk bertanya, kalian harus
bertanya dari luar.”
“Aku tidak faham,” Lu Xiao Feng berkata sambil tersenyum masam. “Kenapa
mereka tidak ingin bertemu orang lain?”
Si Untung Besar Sun tersenyum: “Karena mereka merasa bahwa, selain dari
diriku, semua orang di dunia ini adalah bajingan. Ironisnya, aku adalah bajingan
terbesar di dunia!”
______________________________
Gua itu gelap dan lembab. Jalan masuknya pun sangat kecil, satu-satunya cara
untuk masuk adalah dengan merangkak. Dan itulah yang tadi dilakukan si Untung
Besar Sun.
Lu Xiao Feng dan Hua Man Lou sudah lama menunggu di luar, Lu Xiao Feng
menjadi sangat tidak sabar.
Tapi Hua Man Lou tersenyum dan berkomentar: “Aku tahu kau sudah tidak sabar,
tapi mengapa kau tidak melihat-lihat sekelilingmu dulu. Di sini begitu indah,
bahkan angin yang bertiup pun membuatmu merasa nyaman. Bisa berhenti di
sini benar-benar sangat beruntung.”
“Dan bagaimana kau tahu di sini indah?” Lu Xiao Feng ingin tahu.
“Walaupun aku tak bisa melihat, aku masih bisa merasakan dan memahaminya.
Itulah sebabnya aku selalu merasa bahwa orang-orang yang memiliki mata tapi
menolak untuk melihat itulah yang sebenarnya buta.”
Lu Xiao Feng tak bisa menjawab.
Saat itulah suara si Untung Besar Sun terdengar dari dalam gua: “Baiklah, kalian
boleh mulai bertanya.”
Perak lantakan pertama senilai 50 tael dilemparkan ke dalam dan pertanyaan
pertama adalah: “Apakah benar ada Dinasti Rajawali Emas 50 tahun yang lalu?”
Setelah diam beberapa lama, sebuah suara tua dan parau terdengar menjawab
dari dalam gua: “Dinasti Rajawali Emas aslinya merupakan sebuah negeri yang
sangat kecil dan jauh di Selatan. Adat-istiadat mereka sangat berbeda,
pernikahan berlangsung antara orang-orang bermarga sama. Maka sebagian
besar penghuni Istana Kekaisaran memiliki marga ShangGuan. Walaupun dinasti
itu tua dan kaya, tapi negeri tersebut hancur 50 tahun yang lalu. Kabarnya
keturunannya telah mengembara sampai ke Daerah Tengah sini.”
Lu Xiao Feng menghembuskan nafas, tampaknya ia puas dengan jawaban itu.
Maka ia melemparkan sebuah lantakan perak lagi dan mengajukan pertanyaan
kedua: “Selain dari keturunan keluarga kerajaan, apakah masih ada yang hidup
dari Istana Kekaisaran?”
“Menurut kabar ada 4 orang yang diperintahkan untuk melindungi harta mereka
dalam perjalanan menuju ke sini. Salah seorang dari mereka adalah anggota
keluarga kerajaan sendiri, namanya ShangGuan Jin. Yang 3 orang lagi adalah
Jenderal Ping DuHe, Komandan ShangGuan Mu, dan Bendaraha Kerajaan Yan
LiBen.”
Masih ada sedikit tambahan pada jawaban ini: “Jabatan-jabatan di negeri itu
sangat mirip dengan di negeri kita.”
Pertanyaan ketiga adalah: “Lalu apa yang terjadi pada mereka?”
“Mereka barangkali telah mengganti nama mereka dan bersembunyi setelah tiba
di sini. Waktu dinasti baru didirikan, tentu pembunuh-pembunuh gelap telah
dikirim untuk membunuh semua keturunan dinasti terakhir. Tapi mereka tak
dapat menemukan seorang pun. Jika pewaris tahta masih hidup, ia mungkin
sudah tua sekarang.”
Sesudah berfikir beberapa lama, akhirnya Lu Xiao Feng mengajukan pertanyaan
keempat: “Jika ada sebuah persoalan sulit yang membutuhkan bantuan XiMen
Chui Xue, apakah ada cara membujuknya agar mau membantu?”
Pertanyaan itu diikuti oleh kesunyian yang lebih lama. Akhirnya, jawabannya
yang terdiri dari 4 kata muncul: “Sejauh ini tidak ada.”
______________________________
“Hutan Musim Semi” di kota itu terkenal ke seluruh dunia karena arak Bambu
Hijau-nya yang sangat enak, Sapi Bawang, hidangan Burung Dara, dan Kambing
Masak Ikan. Itulah sebabnya mereka sekarang berada di Hutan Musim Semi.
Lu Xiao Feng adalah orang yang sangat pilih-pilih soal makanan.
“’Sejauh ini tidak ada’! Jawaban macam apa itu?” Lu Xiao Feng berkata dengan
senyum dipaksa dan menghabiskan secangkir arak Bambu Hijau. “Seluruh
hidangan di meja ini paling-paling bernilai 5 tael, dan jawaban anak setan itu
bernilai 50 tael untuk setiap pertanyaan!”
“Apakah itu berarti benar-benar tidak ada cara?” Hua Man Lou bertanya dengan
senyuman santai di wajahnya.
“XiMen Chui Xue punya uang, punya kemasyuran, dan suka menyendiri: ia tak
pernah ikut campur urusan orang lain.” Lu Xiao Feng menjawab. “Ia pun
memperlakukan sanak saudaranya seperti ia memperlakukan orang asing dan ia
juga angkuh, bisakah engkau memikirkan cara untuk membujuk orang ini?”
“Tapi kadang-kadang ia mau pergi sejauh 3000 km untuk membalaskan dendam
seseorang yang tak pernah ia temui sebelumnya.”
“Itu karena ia ingin. Jika ia tidak ingin, bahkan Kaisar Pualam pun tidak akan
mampu membuatnya bergerak.”
{Kaisar Pualam adalah dewa utama dalam mitologi tradisional China, karakter
yang mirip dengan Zeus dalam mitologi Yunani.}
Hua Man Lou tersenyum: “Tak perduli apa, paling tidak perjalanan ini tidak
sepenuhnya sia-sia. Kita berhasil mengetahui bahwa apa yang diceritakan Kaisar
Rajawali Emas pada kita bukanlah dusta.”
“Karena yang ia katakan itu bukan dusta, maka kita mau terlibat dalam masalah
ini. Dan karena kita telah terlibat, kita pun membutuhkan XiMen Chui Xue.”
“Apakah ilmu pedangnya benar-benar menakutkan seperti yang diberitakan
orang?”
“Mungkin lebih dari itu. Sejak ia bertarung pertama kalinya pada usia 15 tahun
sampai sekarang, tidak ada yang berhasil selamat dari pertarungan dengannya.”
“Mengapa kita membutuhkan dia?”
“Karena kekuatan kita jauh di bawah musuh, dan jumlah mereka pun banyak.”
Lu Xiao Feng meneguk habis secangkir arak lagi dan meneruskan: “Jika DuGu
YiHe benar-benar ketua Paviliun Baju Hijau, maka paling tidak ada 5 atau 6 orang
yang sangat menyulitkan di bawah pimpinannya. Di samping itu, Sekte E’Mei pun
penuh dengan jago-jago kungfu yang hebat.”
“Aku juga telah mendengar bahwa 7 Pedang dari E’Mei, 3 Pahlawan dan 4 Cantik,
termasuk yang terbaik dalam generasi jago-jago pedang muda.”
{7 Pedang dari E’Mei dikenal sebagai “3 Ying 4 Xiu”}
“Kepala Paviliun Mutiara dan Intan milik Yan TieShan, yaitu Huo TianQing, bahkan
lebih menyulitkan dibandingkan mereka bertujuh. Ia belum tua, tapi dianggap
sebagai generasi yang dituakan. Menurut kabar angin, bahkan pendekar besar
Shan XiYan harus memanggilnya ‘Paman Guru’!”
“Mengapa ia mau bekerja untuk Yan LiBen?”
“Karena beberapa tahun yang lalu ia dijebak musuh dan hampir terbunuh oleh
seseorang di puncak Gunung QiLian dan Yan LiBen menyelamatkan nyawanya.”
“Dan Huo Xiu sering menghilang dalam waktu yang lama, seluruh hartanya tentu
telah dititipkan pada beberapa orang yang sangat handal. Jelas mereka juga
bukan lawan yang ringan.” Hua Man Lou berfikir.
“Benar sekali.”
“Itulah sebabnya kita harus mendapatkan XiMen Chui Xue.”
“Benar lagi.”
“Tidak bisakah kita mencoba memanas-manasinya? Misalkan dengan
mengatakan: mari kita cari tahu siapa yang terbaik di antara jago-jago kungfu
itu?”
“Tidak mungkin!”
“Kenapa tidak?”
“Karena bukan saja engkau tidak bisa membujuk dia dengan cara seperti itu, ia
juga cerdik sekali, seperti aku.”
Lu Xiao Feng tertawa kecil dan meneruskan: “Jika seseorang ingin memanasmanasiku
untuk melakukan sesuatu, bisa kukatakan sekarang bahwa ia akan
gagal.”
Hua Man Lou duduk terdiam selama beberapa saat sebelum berkata dengan
lambat: “Kurasa aku punya ide, mungkin kita bisa mencobanya.”
“Ide seperti apa?”
Hua Man Lou tidak sempat memberitahukan idenya karena ada gangguan dan
serentetan suara jeritan terdengar dari arah pintu depan.
Seseorang berjalan masuk dengan terhuyung-huyung, seseorang yang bersimbah
darah.
Matahari bulan April mulai condong ke Barat karena saat itu sudah lewat tengah
hari. Sinar matahari dari luar menyinari orang ini, pada tubuhnya yang
berlumuran darah, membuatnya bercahaya merah, begitu merahnya sehingga
membuat orang jadi bergidik.
Darah keluar dari 17 atau 18 titik yang berbeda; dahinya, hidungnya, telinganya,
matanya, mulutnya, tenggorokannya, dadanya, pergelangan tangan, lututnya,
kedua pundak, semuanya bersimbah darah.
Bahkan Lu Xiao Feng belum pernah melihat orang dengan luka yang begitu
banyak, ini adalah sesuatu yang tidak berani dipikirkan orang.
Orang itu pun telah melihat Lu Xiao Feng, tiba-tiba ia bergegas ke hadapannya,
dan mencengkeram pundaknya dengan kedua tangannya yang penuh darah.
“Ge… ge….” Tampaknya ia berusaha mengatakan sesuatu.
Tapi ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun, karena tenggorokannya telah
terbelah dua. Tapi ia masih hidup.
Apakah ini sebuah keajaiban? Atau karena ia ingin mengatakan sebuah kalimat
pada Lu Xiao Feng sebelum ia mati?
Lu Xiao Feng menatap wajah yang tak berbentuk itu dan tiba-tiba berteriak:
“Xiao QiuYu!”
“Ge… ge….” Tenggorokan Xiao QiuYu masih mengeluarkan suara. Matanya yang
berlumuran darah tampak penuh dengan rasa takut, murka, dan benci.
“Kau ingin memberitahu sesuatu?” Lu Xiao Feng bertanya.
Xiao QiuYu mengangguk. Lalu tiba-tiba ia mengeluarkan suara lolongan yang
keras, lolongan putus asa; lolongan dari seekor serigala yang dulu angkuh,
kesepian dan terluka, sebelum ia menyerah dan roboh ke atas tanah yang
ditutupi salju.
Tiba-tiba seluruh tubuhnya tersentak, seakan-akan seseorang telah
mencambuknya dengan sebuah cambuk yang tak kelihatan.
Apa yang ingin ia beritahukan pada Lu Xiao Feng tentu sebuah rahasia yang
mengerikan, tapi ia tak akan bisa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
Saat tubuhnya menyentuh lantai, tangan dan kakinya melingkar ke tubuhnya
karena kesakitan. Darahnya yang merah telah berubah menjadi ungu.
Lu Xiao Feng menghentakkan kakinya dan melompat. Tubuhnya yang besar,
seperti seekor rajawali raksasa, melompati 4 atau 5 meja dan kepala-kepala
orang, dan keluar dari pintu depan.
Di jalanan batu itu memang ada jejak-jejak darah yang berawal dari tengah jalan
ke pintu.
“Tadi ada sebuah kereta lewat di jalan ini, orang itu jatuh dari kereta tersebut.”
“Kereta macam apa?”
“Hitam, dan orang-orang yang mengendarainya berbaju hijau.”
“Mereka pergi ke arah mana?”
“Barat.”
Lu Xiao Feng tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi dan mulai berlari ke arah
matahari. Sesudah melewati sebuah jalan besar lagi, ia mendengar suara yang
sangat gaduh dan jeritan-jeritan dari persimpangan di sebelah kirinya.
Sebuah kereta hitam baru saja menabrak sebuah toko obat, merobohkan
beberapa orang dan beberapa buah meja.
Sekarang kudanya telah roboh ke tanah, busa putih pun keluar dari mulutnya.
Orang yang mengemudikan kereta juga telah roboh, di sudut mulutnya muncul
darah. Darah berwarna ungu gelap yang jatuh setetes demi setetes ke bajunya.
Bajunya berwarna hijau. Wajahnya yang kuning tiba-tiba menjadi hitam.
Lu Xiao Feng membuka pintu kereta. Di atas jok di dalam kereta itu ada
sepasang kaitan perak.
Pada kaitan perak itu terikat sehelai kain kuning, seperti kain yang biasa
digunakan oleh pendeta Tao untuk memanggil arwah. Pada kain itu tertulis
dengan darah segar: “Sebuah mata untuk sebuah mata!”
“Ini untuk orang-orang yang ikut campur dengan urusan orang lain!”
______________________________
Kaitan perak itu berkilauan terkena sinar matahari.
Hua Man Lou meraba ujung kaitan. “Kau bilang ini kaitannya si Pengait Jiwa?” Ia
bertanya dengan suara yang rendah dan lembut.
Lu Xiao Feng mengangguk.
“Dan si Pengait Jiwa mati di tangan Xiao QiuYu?”
“Sebuah mata untuk sebuah mata!” Lu Xiao Feng menarik nafas.
“Tapi kalimat lainnya jelas memperingatkan kita untuk tidak ikut campur dalam
masalah ini.”
“Kecerdasan orang-orang Paviliun Baju Hijau benar-benar mengagumkan, tapi
sayangnya mereka tak bisa menilai orang,” Lu Xiao Feng berkata sambil tertawa
pahit dan dingin.
“Mereka benar-benar salah menilaimu,” Hua Man Lou juga menarik nafas.
“Paviliun Baju Hijau seharusnya tidak begitu bodoh dan melakukan hal seperti ini,
apakah mereka yakin bahwa mereka bisa menakut-nakutimu?”
“Ini hanya bagus untuk satu orang.”
“Siapa?”
“Kaisar Rajawali Emas!”
Ada orang-orang di dunia ini yang terlahir dengan kepingan aneh dan tak bisa
dibengkokkan seperti ini di bahunya; semakin engkau berusaha menakut-nakuti
dia dan mencegahnya melakukan sesuatu, maka semangkit bersemangat ia
melakukannya. Lu Xiao Feng termasuk orang seperti ini.
Maka, bila sekarang pun engkau menodongkan 180 batang golok ke
tenggorokannya, engkau tak bisa mencegahnya ikut campur dalam urusan ini.
Ia mencengkeram kaitan perak itu erat-erat dan tiba-tiba bangkit: “Ayo! Mari kita
temui XiMen Chui Xue sekarang. Aku baru saja mendapatkan cara untuk
memaksanya.”
“Bagaimana?”
“Jika ia tidak mau membantu, maka aku akan membakar habis Gedung Seribu
Plum miliknya!”
Bab 5: Suara Nyanyian Dari Kejauhan
Tidak ada pohon plum di sekitar Gedung Seribu Plum.
Saat itu bulan April, bunga persik dan burung kukuk memenuhi lereng gunung.
Menghadapi dunia yang penuh dengan bunga-bunga, sepertinya Hua Man Lou
ingin tetap berada di situ selamanya. Sebuah ekspresi yang tak dapat diuraikan
dengan kata-kata muncul di wajahnya yang tenang dan damai, ekspresi yang
biasanya muncul di wajah seorang gadis yang melihat kekasih cinta pertamanya
berjalan menghampirinya.
Tapi Lu Xiao Feng tidak bisa menunggu lagi: “Aku tidak ingin merusak suasana,
tapi bila hari telah gelap maka XiMen Chui Xue tidak akan mau menerima tamu.”
“Tidak juga kau?”
“Bahkan Raja Dewa juga tidak.”
“Bagaimana jika dia tidak ada di sini?”
“Ia tentu berada di sini. Dalam setahun, paling banyak ia pergi keluar 4 kali, dan
itu pun bila ia ingin membunuh seseorang.”
“Jadi, paling banyak ia membunuh 4 orang dalam setahun?”
“Dan mereka semua memang patut dibunuh.”
“Siapa yang patut dibunuh? Siapa yang memutuskan mereka pantas dibunuh?”
Hua Man Lou tiba-tiba menarik nafas sebelum melanjutkan: “Kau pergilah, kurasa
sebaiknya aku menunggumu saja di sini.”
Lu Xiao Feng tidak berkata apa-apa lagi, karena ia sangat memahami sahabatnya
ini.
Tidak ada orang yang pernah melihat Hua Man Lou marah atau murka, tapi sekali
ia memutuskan sesuatu, tak ada yang bisa membujuknya lagi.
Hua Man Lou berpaling ke arah lereng gunung yang dipenuhi bunga dan berkata:
“Bila kau bertemu dengannya, coba caraku dulu, baru caramu.”
______________________________
Tidak ada bunga di ruangan itu, tapi terasa keharuman bunga; samar-samar dan
sederhana, seperti XiMen Chui Xue.
Lu Xiao Feng duduk di pinggir di atas sebuah kursi lembut yang terbuat dari kayu
pohon pinus, dan memandang sang tuan rumah. Cangkir XiMen Chui Xue penuh
dengan arak hijau terang. Baju putih yang ia kenakan pun berwarna terang dan
lembut.
Samar-samar, gelombang demi gelombang, terdengar suara sebuah seruling,
yang sepertinya dekat tapi jauh, suaranya lebih lembut dari suara angin musim
semi yang terhalus sekali pun; tapi pemain serulingnya tidak kelihatan.
Lu Xiao Feng menarik nafas: “Dalam hidupmu, pernahkah kau mengalami
kesulitan?”
“Tidak,” XiMen Chui Xue menjawab.
“Adakah sesuatu di dunia ini yang tak bisa kau miliki?”
“Tidak ada lagi.”
“Apakah engkau benar-benar puas?”
“Karena aku benar-benar tidak berharap sebanyak itu,” XiMen Chui Xue
menjawab dengan santai.
“Dan itulah sebabnya kau tidak pernah minta pertolongan pada orang lain?”
“Ya.”
“Dan itulah sebabnya bila orang lain datang kepadamu, kau tidak pernah mau
menolong mereka.”
“Ya.”
“Tak perduli siapa, tak perduli masalahnya apa, kau tidak akan mau membantu?”
“Apa yang ingin aku lakukan bukan berdasarkan apa yang orang lain minta
padaku, ini kan hal biasa.”
“Bagaimana jika seseorang membakar habis rumahmu?”
“Siapa yang akan membakar rumahku?”
“Aku.”
XiMen Chui Xue tertawa. Ia jarang tertawa, maka bila tertawa wajahnya selalu
memperlihatkan senyum mengejek.
“Aku datang ke sini untuk memintamu membantuku melakukan sesuatu. Aku
berjanji pada seseorang bahwa jika kau tidak mau membantu, maka aku akan
membakar rumahmu, membakarnya sampai habis.” Lu Xiao Feng menjelaskan.
XiMen Chui Xue menatapnya. Sesudah beberapa lama, ia mulai bicara dengan
lamban: “Aku tidak punya banyak sahabat, paling banyak 2 atau 3 orang sekali
waktu, tapi kau selalu menjadi sahabatku.”
“Itulah sebabnya aku datang dan meminta bantuanmu.”
“Dan itulah sebabnya bila kau ingin membakar rumahku, kau boleh
melakukannya. Kau boleh mulai membakarnya dari mana saja.” XiMen Chui Xue
menjawab dengan santai.
Lu Xiao Feng terkejut, karena ia juga sangat memahami sahabatnya ini.
Setiap kata yang diucapkan orang ini adalah seperti anak panah yang telah
dilepaskan dari busurnya; tak akan pernah ditarik kembali.
“Di gudang belakang sana, aku punya kayu pinus dan minyak tanah. Kuusulkan
supaya kau mulai membakar dari sana. Lakukan pada malam hari, api seperti itu
pasti kelihatan indah pada malam hari.” XiMen Chui Xue berkata.
“Apakah kau kenal si Segala Tahu dan si Cerdik?” Lu Xiao Feng tiba-tiba
bertanya.
“Kudengar tidak ada sebuah pertanyaan pun di dunia ini yang tak bisa mereka
jawab. Apakah mereka benar-benar tahu segalanya?” XiMen Chui Xue menjawab
dengan dingin.
“Kau tidak percaya?”
“Kau percaya?”
“Aku bertanya pada mereka apakah ada cara membujukmu untuk membantuku.
Mereka bilang tidak ada. Semula aku tidak percaya pada mereka, tapi sekarang….
Tampaknya mereka bisa menebak jawabanmu.”
XiMen Chui Xue menatap Lu Xiao Feng dalam diam. Tiba-tiba ia tertawa kecil dan
berkata: “Kali ini mereka keliru.”
"Oh?"
“Kau punya cara untuk membujukku supaya mau membantumu.”
“Apa itu?”
XiMen Chui Xue tersenyum dan berkata: “Jika kau cukur kumismu itu, aku akan
melakukan apa saja yang kau minta dariku.”
______________________________
Jika Lu Xiao Feng bertemu teman-temannya sekarang, mungkin mereka tak akan
mengenalinya.
Ia adalah orang yang dianggap memiliki 4 alis, tapi sekarang ia hanya punya 2;
dan bagian atas mulutnya sekarang mulus seperti kulit bayi yang baru lahir.
Sayang sekali Hua Man Lou tidak bisa melihatnya.
Jelas ia tidak bisa melihat XiMen Chui Xue berjalan mengikuti Lu Xiao Feng; tapi
ia tersenyum dan bertanya: “Tuan XiMen?”
“Hua Man Lou?” XiMen Chui Xue balas bertanya.
Hua Man Lou mengangguk: “Aku menyesal terlahir cacat sehingga tidak bisa
melihat pendekar pedang terbaik jaman ini dalam kejayaannya.”
XiMen Chui Xue menatapnya dan tiba-tiba bertanya: “Maafkan aku, tapi…
benarkah kau tidak bisa melihat?”
“Aku yakin Tuan XiMen telah mendengar bahwa biarpun Hua Man Lou punya
mata, tapi ia buta seperti kelelawar.”
“Jadi kau mendengar suara langkah kakiku?”
Seperti DuGu Fang, ia pun harus mengajukan pertanyaan itu. Ia membanggakan
ilmu meringankan tubuhnya seperti ilmu pedangnya, dan ia memang patut
membanggakannya.
“Dari yang kutahu, paling banyak ada 4 atau 5 orang di dunia ini yang bisa
berjalan tanpa suara sama sekali. Tuan XiMen adalah salah seorang di
antaranya.”
“Tapi kau tahu aku ada di sini!”
Hua Man Lou tertawa kecil: “Itu karena Tuan XiMen membawa semacam hawa
kematian!”
“Hawa kematian?”
“Bila orang menghunus pedang, ada hawa tertentu yang dikeluarkan oleh pedang
itu. Berapa banyak orang yang telah dibunuh oleh Tuan XiMen? Bagaimana
mungkin kau tidak punya hawa kematian di sekitarmu?” Hua Man Lou menjawab
dengan santai.
“Tak heran engkau tak mau memasuki rumahku, rupanya engkau tak tahan
terhadap hawa yang kumiliki.” XiMen Chui Xue membalas dengan dingin.
Hua Man Lou tersenyum: “Bunga-bunga di sini begitu indah. Bila Tuan XiMen bisa
menikmati keindahan ini, hawa mematikan itu perlahan-lahan akan menghilang.”
“Bunga-bunga segar mungkin indah, tapi bagaimana bisa dibandingkan dengan
bunga darah waktu seseorang terbunuh?” XiMen Chui Xue berkata dengan dingin.
“Oh?”
Mata XiMen Chui Xue tiba-tiba tampak berbeda: “Selalu ada pengkhianatpengkhianat
tak jujur di dunia ini. Bila kau tusukkan pedangmu ke tenggorokan
mereka, bunga darahnya mekar di bawah pedangmu. Jika kau bisa melihat saatsaat
kejayaan itu sekejap, maka kau akan mengerti bahwa tidak ada lagi yang
lebih indah di dunia ini.”
Ia tiba-tiba berputar dan berjalan menjauh tanpa memandang ke belakang lagi.
Kabut malam turun, seakan-akan bunga-bunga mendadak menutupi diri mereka
dengan sehelai kain sutera putih. Sosok tubuhnya pun menghilang dalam kabut.
Hua Man Lou tak tahan untuk tidak menarik nafas dan berkomentar: “Akhirnya
aku faham kenapa ia bisa begitu hebat dalam ilmu pedang.”
"Oh!"
“Karena ia percaya bahwa membunuh itu adalah tugas yang suci dan indah tiada
bandingnya. Ia telah menyerahkan hidupnya untuk tugas itu. Hanya pada saat
membunuhlah ia benar-benar merasa hidup. Selain saat-saat itu, ia hanya
menunggu tibanya saat berikutnya.”
Lu Xiao Feng berfikir dalam-dalam sebelum akhirnya ia juga menarik nafas:
“Untunglah semua orang yang dibunuhnya memang pantas mati.”
Hua Man Lou tersenyum dan tidak menjawab.
______________________________
Langit malam yang tiada akhir tiba-tiba menelan seluruh dunia.
Bintang-bintang mulai bermunculan. Bulan yang indah tapi jauh seolah-olah
bergantung di sebatang pohon yang jauh. Angin masih membawa keharuman
bunga, malam pun tampak indah dan memabukkan.
Hua Man Lou berjalan perlahan di lereng gunung itu, tampaknya ia telah
tenggelam dalam lamunan yang indah dan memabukkan.
Tapi Lu Xiao Feng tak tahan lagi: “Kau tidak menanyakan apakah kepergianku
tadi berhasil atau tidak?”
“Aku tahu bahwa kau telah berhasil meyakinkan dia untuk bergabung dengan
kita,” Hua Man Lou berkata sambil tersenyum.
“Bagaimana kau tahu?”
“Ia tidak memintamu untuk tinggal dan juga tidak mengucapkan selamat jalan,
dan kau pun tampaknya tidak perduli sama sekali. Jelas itu terjadi karena kalian
berdua telah menetapkan sebuah tempat pertemuan.”
“Dan kau juga tahu bagaimana caranya aku berhasil melakukannya?”
“Dengan caraku tentu saja.”
“Kenapa kau berkata begitu?”
“Ia mungkin tidak punya hati, tapi kau punya. Ia tahu kau tidak akan membakar
rumahnya; di samping itu, biarpun kau melakukannya, ia tak akan perduli.”
Lu Xiao Feng tertawa dan kemudian menarik nafas: “Tak perduli betapa
mengagumkannya dirimu, tetap ada sesuatu yang tak akan pernah dapat kau
duga.”
“Dan apa itu?”
Lu Xiao Feng meraba-raba bekas kumisnya: “Tebaklah, akan kuceritakan padamu
bila kau bisa menebaknya dengan benar.”
“Jika tebakanku benar, kenapa kau harus bercerita lagi kepadaku tentang itu?”
Hua Man Lou tertawa.
Lu Xiao Feng pun tertawa. Tapi, sebelum ia sempat menjawab, tiba-tiba ia
menyadari bahwa wajah Hua Man Lou yang tenang dan damai itu mendadak
menjadi kaku dan aneh.
“Ada apa?” Lu Xiao Feng bertanya.
Hua Man Lou tidak menjawab, dan tidak mendengar pertanyaannya. Tampaknya
ia sedang mendengarkan sebuah suara misterius dari kejauhan, suara yang
hanya bisa didengar olehnya.
Tiba-tiba ia berubah arah dan mulai berjalan ke arah belakang gunung.
Lu Xiao Feng hanya bisa mengikutinya. Malam semakin gelap dan satu demi satu
bintang-bintang menghilang di balik puncak gunung.
Tiba-tiba ia juga mendengar suara nyanyian dari kejauhan itu. Nyanyian itu tak
dapat diuraikan dengan kata-kata, menakutkan, dan indah menggetarkan hati.
Liriknya pun sama, indah dan menggetarkan hati. Lagu itu tentang seorang gadis
muda dan penuh gairah yang sedang sekarat dan menceritakan pada kekasihnya
tentang kehidupannya, tentang patah hati dan kesepiannya.
Lu Xiao Feng tidak begitu memperhatikan liriknya, karena saat itu ia sedang
bingung melihat ekspresi wajah Hua Man Lou. Ia pun bertanya: “Kau pernah
mendengar lagu ini sebelumnya?”
“Ya,” Hua Man Lou akhirnya mengangguk sesudah terdiam beberapa lama. “Aku
pernah mendengarnya.”
“Dari siapa?”
"ShangGuan FeiYan."
Lu Xiao Feng sering mengatakan bahwa di dunia ini hanya ada kira-kira selusin
benda yang ia percayai penuh. Telinga Hua Man Lou kebetulan termasuk salah
satunya.
Bila orang lain melihat sesuatu dengan mata mereka sendiri, terkadang mereka
tidak benar-benar melihatnya. Tapi telinga Hua Man Lou tidak pernah keliru.
Jadi penyanyi itu tentulah ShangGuan Fei Yan.
Bagaimana gadis yang menghilang secara misterius itu tiba-tiba bisa muncul di
sini? Dan kenapa ia menyanyikan lagu yang indah tapi menakutkan itu di sini,
pada malam hari di sebuah lereng gunung terpencil?
Untuk siapa ia menyanyikan lagu itu?
Mungkinkah ia seperti gadis dalam lagu tersebut? Sedang menceritakan
kemalangan dan kepahitan hidupnya pada kekasihnya tepat menjelang saat
kematiannya?
Lu Xiao Feng tidak bertanya lagi, karena sebuah cahaya tiba-tiba muncul dalam
kegelapan.
Nyanyian tadi juga berasal dari arah lampu yang berkerlap-kerlip itu.
Hua Man Lou pun mulai bergerak, melesat ke atas lereng gunung. Walaupun ia
tak bisa melihat cahaya itu, ia bergerak tepat ke arahnya.
Sinar itu semakin dekat dan semakin dekat dan Lu Xiao Feng akhirnya bisa
melihat sebuah biara kecil. Apakah biara itu dibangun untuk menghormati setan
gunung atau dewa bumi?
Tiba-tiba nyanyian itu sirna, seluruh dunia tiba-tiba hampa dan sunyi.
Lu Xiao Feng melirik Hua Man Lou. “Jika ia memang bernyanyi untukmu,” ia
berkata untuk meyakinkan dirinya sendiri, “ia tak akan pergi sekarang.”
Tapi si dia memang sudah pergi. Lampu minyak masih menyala di dalam biara
yang gelap dan lembab itu, tapi tak seorang pun yang kelihatan.
Sebuah patung setan gunung berwajah hitam sedang duduk di atas seekor
harimau yang buas dengan sebatang tongkat besi di tangannya. Dalam cahaya
yang samar-samar dan kerlap-kerlip, seakan-akan ia hendak memukul
segerombolan penjahat dengan tongkatnya dan menegakkan keadilan untuk
orang-orang baik.
Di atas meja altar ada sebuah baskom cuci tua yang terbuat dari perunggu dan
telah berkarat. Baskom itu penuh dengan air bersih, beberapa helai rambut
terlihat mengapung di air.
“Apa yang kau lihat?” Hua Man Lou bertanya.
“Ada sebuah baskom cuci di atas meja, baskom itu penuh air dan ada rambut
juga.” Lu Xiao Feng menjawab.
“Rambut?”
Rambut itu halus dan masih menyisakan keharuman yang hanya dimiliki gadisgadis
muda.
“Ini rambut seorang gadis.” Lu Xiao Feng menyimpulkan. “Tampaknya seorang
gadis baru saja bernyanyi di sini dan menggunakan baskom air ini sebagai cermin
untuk menyisir rambutnya. Tapi sekarang ia telah pergi.”
Hua Man Lou mengangguk perlahan, seakan-akan ia memang sudah
memperkirakan bahwa si dia tak akan menunggunya di sini.
“Di tempat ini, pada saat seperti ini, ia masih berusaha menyisir rambutnya?
Jelas ia seorang gadis yang ingin selalu tampak cantik.” Lu Xiao Feng
meneruskan.
“Gadis-gadis berusia 17, 18 tahun, siapa dari mereka yang tidak ingin selalu
tampak cantik?”
“Dan bukankah ShangGuan Fei Yan gadis berusia 17, 18 tahun?”
“Ia juga selalu ingin tampak cantik.”
Lu Xiao Feng memandang Hua Man Lou, dan bertanya: “Kau pernah meraba
rambutnya, bukan?”
Hua Man Lou tertawa. Ada banyak jenis tawa, jenis tawa seperti ini berarti
pengakuan.
“Apakah ini rambutnya?”
Ia yakin jari-jari Hua Man Lou sama sensitifnya dengan telinganya. Ia telah
melihat, dengan mata kepalanya sendiri, bahwa Hua Man Lou mampu
mengetahui keaslian sebuah benda hanya dengan menyentuhnya perlahan.
Hua Man Lou telah menggenggam rambut itu di tangannya dan merabanya
perlahan dengan jari-jarinya. Sebuah ekspresi yang sangat aneh muncul di
wajahnya, bukan senang tapi juga bukan sedih.
“Apakah ini benar-benar rambutnya?”
Hua Man Lou mengangguk.
“Ia tadi duduk di sini dan menyisir rambutnya sambil bernyanyi. Jelas ia masih
hidup.”
Hua Man Lou kembali tertawa. Ada banyak jenis tawa, tapi tawa seperti ini
mustahil untuk mengetahui apakah itu menandakan senang atau sedih.
Si dia tadi di sini, tapi mengapa ia tidak menunggu dirinya? Jika si dia tak tahu
dirinya ada di sini, lalu tadi ia bernyanyi untuk siapa?
Lu Xiao Feng diam-diam menarik nafas, ia tak bisa memutuskan apakah harus
menghibur sahabatnya itu atau tidak, atau pura-pura tidak faham saja.
Angin berhembus dan memasuki ruangan itu melalui pintu. Patung setan gunung
berwajah hitam yang memegang tongkat dan mengendarai harimau itu tiba-tiba
berderak. Tongkatnya yang sepanjang 10 m itu tiba-tiba jatuh.
Segera patung raksasa itu juga hancur berkeping-keping.
Dalam awan debu, tiba-tiba Lu Xiao Feng menyadari bahwa di atas dinding di
belakang patung tadi tergantung seseorang.
Orang mati. Darah di tubuhnya masih belum kering. Sebatang pena hakim yang
terbuat dari besi menembus dadanya dan memakukan tubuhnya ke dinding. Dua
helai kertas seperti yang biasa digunakan pendeta Tao untuk memanggil arwah
terikat di pena itu.
“Sebuah mata untuk sebuah mata!”
“Inilah yang terjadi pada orang yang ikut campur dalam urusan orang lain!”
Dua kalimat yang sama, tertulis dengan darah, seperti yang terdahulu. Darah
tampak membasahi kertas itu.
DuGu Fang, bukan Liu YuHen. Yang ingin mati ternyata masih hidup, sementara
yang ingin hidup malah mati.
“Patung ini sebenarnya suda lama hancur,” Lu Xiao Feng berkata dengan marah.
“Mayat ini memang ditempatkan di sini untuk kita lihat.”
Wajah Hua Man Lou pun sepucat mayat. Akhirnya ia bertanya: “Apakah itu
ShangGuan Fei Yan?”
“Ini DuGu Fang.” Lu Xiao Feng menjawab. “Aku benar-benar tidak mengira kalau
dia adalah orang kedua yang mati.”
“Apa yang ia lakukan di sini? Mengapa ShangGuan Fei Yan pun berada di sini?”
Hua Man Lou tenggelam dalam renungan. “Mungkinkah ia diculik? Mungkinkah ia
telah jatuh ke tangan Paviliun Baju Hijau?”
Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya: “Biasanya kau orang yang berfikiran
terbuka, tapi kenapa bila sesuatu terjadi padanya, kau selalu memikirkan
kemungkinan yang terburuk?”
Hua Man Lou terdiam beberapa lama sebelum akhirnya menarik nafas: “Mungkin
karena aku terlalu memperdulikannya.”
Bila seseorang terlalu memperhatikan orang lain, sukar baginya untuk tidak
memikirkan kemungkinan terburuk.
Itulah sebabnya semakin seseorang memperhatikan orang lain, maka semakin
mudah timbul kesalahfahaman, dan semakin buruk pula saat-saat perpisahan.
Lu Xiao Feng tertawa dipaksa dan berkata: “Tak perduli apa, paling tidak ia masih
hidup. Bagaimana mungkin orang bisa bernyanyi demikian indah jika ada
sebatang golok di lehernya?”
______________________________
Lagu itu tidak indah, karena dinyanyikan oleh Lu Xiao Feng.
“Hidup harus dinikmati hingga akhirnya, dan tidak perlu termenung menghadap
bulan sendirian.”
Ia mengetuk-ngetukkan sumpitnya pada cangkir arak sebagai musiknya.
Berulang-ulang ia menyanyikan 2 baris lagu itu.
Tiap Lu Xiao Feng menyanyikan satu baris, Hua Man Lou akan minum satu
cangkir. Akhirnya, ia tak tahan lagi dan berkata: “Bukannya aku tak suka
nyanyianmu, tapi bisakah kau menyanyikan lagu lain?”
“Tidak.” Lu Xiao Feng menjawab.
“Kenapa tidak?”
“Karena cuma 2 baris itu yang aku tahu.”
Hua Man Lou tertawa. “Kau tahu, semua orang terus mengatakan bahwa Lu Xiao
Feng adalah seorang jenius, salah satu orang yang paling cerdik dan cerdas di
dunia; dan tak perduli jenis kungfu apa pun, ia akan mempelajari dan
menguasainya dalam sekejap mata.” Ia berkata. “Tapi dalam hal bernyanyi, kau
lebih buruk dari seekor keledai.”
“Jika kau tidak suka nyanyianku, lalu kenapa kau tidak bernyanyi sendiri, huh?”
Lu Xiao Feng mendebat.
Tujuannya adalah membuat Hua Man Lou tertawa, membuat Hua Man Lou
bernyanyi. Karena ia tak pernah melihat Hua Man Lou bersikap seperti ini, dan
minum seperti itu.
Itu bukanlah arak yang enak. Di mana kau bisa menemukan arak enak di sebuah
desa miskin di lereng gunung pada saat seperti ini?
Tapi tak perduli jenis arak apa itu, tetap saja lebih baik daripada tidak punya arak
sama sekali. Hua Man Lou tiba-tiba mengangkat cangkirnya di udara, meneguk
habis seluruh isinya dengan cara yang dramatis, dan mulai bernyanyi.
Yang ia nyanyikan adalah lagu “Kenangan Lama”, aslinya ditulis oleh Li Yu, satusatunya
kaisar Dinasti Tang Selatan, ketika ia merindukan almarhum isterinya,
Da ZhouHuo. Maka lagu ini memiliki nada yang sedih, lembut, romantis dan
sunyi.
Lu Xiao Feng tiba-tiba menyadari bahwa Hua Man Lou benar-benar telah jatuh
cinta pada gadis cantik yang misterius itu. Ia tidak pernah membicarakan hal itu,
tapi itu hanya karena ia sedang kasmaran. Ia jatuh cinta yang sedalamdalamnya,
tapi itu karena ia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya.
Tapi bagaimana dengan ShangGuan Fei Yan?
Gerak-geriknya sungguh misterius, dan sikapnya tidak dapat ditebak, bahkan Lu
Xiao Feng tidak mampu menduga apa yang ada di dalam hatinya; apalagi Hua
Man Lou yang sudah terjerat asmara.
Tiba-tiba Lu Xiao Feng tertawa. “Nyanyianku mungkin buruk, tapi nyanyianmu
bahkan lebih buruk!” Ia berkata. “Bila aku bernyanyi, paling tidak aku bisa
membuatmu tertawa. Tapi bila kau bernyanyi, senyum saja pun aku tidak bisa.”
“Itulah sebabnya kurasa sebaiknya kita minum saja. ‘Hari ini punya arak, maka
mabuklah hari ini juga’.”
Mereka berdua mengangkat cangkir. Tepat saat kedua cangkir akan bersentuhan,
terdengar sebuah suara berkata: “Apakah di sini ada yang bernama tuan muda
Lu Xiao Feng?”
Malam telah semakin larut dan semua orang telah pergi. Seharusnya tidak ada
orang yang datang ke desa di lereng gunung ini, dan tentu saja tak ada yang
datang mencari Lu Xiao Feng.
But a person did come, and he did come looking for Lu XiaoFeng.
Tapi seseorang telah datang, dan ia mencari Lu Xiao Feng.
Dari tampangnya, ia seperti seorang pemburu. Di tangannya ada sebuah
keranjang bamboo. Di dalam keranjang itu ada beberapa potong ayam bakar.
“Kenapa kau mencari Lu Xiao Feng?” Lu Xiao Feng bertanya dulu sebelum
menjawab pertanyaannya.
Pemburu itu meletakkan keranjang bambu di atas meja. “Ini dibeli untuk tuan
muda Lu Xiao Feng oleh bibinya tersayang yang menyuruhku untuk datang ke
sini dan memberikannya kepadanya untuk dinikmati bersama araknya.” Ia
menjelaskan.
“Bibiku?” Lu Xiao Feng bergumam setelah tercengang sebentar.
“Tuan adalah tuan muda Lu Xiao Feng?” Pemburu itu pun tampak tercengang
juga.
Lu Xiao Feng mengangguk. “Tapi aku bukan tuan muda, dan aku tidak punya
bibi.”
“Ya, tuan punya, tentu saja punya.”
“Kenapa?”
“Jika orang itu bukan bibi Tuan, lalu kenapa ia mau menghabiskan 5 tael perak
untuk membeli ayam ini dan 5 tael lagi untuk upahku membawanya ke sini?”
Pemburu itu mendebat. “Tapi itu… itu….”
“Itu apa?” Lu Xiao Feng bertanya.
“Ia bilang tuan muda Lu Xiao Feng punya 4 alis dan aku akan segera
mengenalinya sewaktu bertemu dengannya.” Pemburu itu menjawab sambil
berusaha keras untuk tidak tertawa. “Tapi tampaknya Tuan hanya punya 2.”
Lu Xiao Feng berusaha menampilkan wajah yang kaku, tapi gagal dan ia pun
tertawa. “Pernahkah kau melihat orang yang punya 4 alis?”
Si pemburu pun tertawa juga. “Karena aku belum pernah melihatnya, maka aku
mau datang.” Ia menjawab. “Aku datang ke sini bukan hanya untuk 5 tael perak
itu saja.”
“Seperti apa bibiku itu?” Lu Xiao Feng bertanya.
“Ia seorang gadis kecil.”
“Seorang gadis kecil?” Lu Xiao Feng hampir berteriak. “Mungkinkah orang
seusiaku punya bibi seorang gadis kecil?”
Sebuah senyum dipaksa muncul di wajah si pemburu. “Semula aku pun tidak
percaya. Tapi ia lalu mengatakan bahwa walaupun ia belum terlalu tua, ia adalah
orang yang dituakan. Bahkan ia mengatakan bahwa ia punya seorang cucu
keponakan bernama Hua Man Lou yang berusia lebih dari 50 tahun.”
Lu Xiao Feng melirik Hua Man Lou. Ia ingin tertawa, tapi merasa tidak enak.
Tapi malah Hua Man Lou yang tertawa: “Itu benar, aku memang punya nenek
seperti itu.”
Sekali lagi pemburu itu tercengang mendengar jawaban tersebut. “Tuan ini Hua
Man Lou? Tuan berusia 50 tahun?”
“Aku merawat diri dengan baik, itulah sebabnya aku tampak begitu muda.”
“Bagaimana Tuan melakukannya?” Pemburu itu tak tahan untuk tidak bertanya.
“Bisakah aku melakukannya?”
“Tentu saja, itu sangat mudah.” Hua Man Lou menjawab dengan santai. “Yang
kulakukan setiap hari adalah makan 50 ekor cacing tanah, 20 ekor kadal, dan 2
kilogram daging manusia.”
Pemburu itu menatapnya sedemikian rupa sehingga biji matanya seolah-olah
akan melompat keluar dari tempatnya. Tiba-tiba, dan tanpa mengucapkan
sepatah kata pun, ia berputar dan lari, lari seolah-olah tiada hari esok lagi.
Lu Xiao Feng tak tahan lagi dan tertawa sekeras-kerasnya.
Hua Man Lou pun tertawa. “Kau benar,” ia berkata, “tampaknya bila setan kecil
itu berdusta, ia sanggup memperdaya orang mati hingga hidup kembali.”
Sambil bicara, dengan separuh hati ia menunjuk ke arah jendela di sebelah
kirinya dengan sumpitnya.
Lu Xiao Feng melesat, berjumpalitan di udara, dan mendorong jendela itu hingga
terbuka.
Seorang gadis dengan rambut dikepang dua sedang bersembunyi di luar jendela
sambil tertawa-tawa sendirian.
Mata ShangGuan Xue-Er masih besar dan ia masih tampak begitu baik dan jujur.
Tapi ia tak bisa tertawa lagi.
Sambil mencengkeram rambut kepangnya, Lu Xiao Feng menyeretnya masuk ke
dalam. “Setan kecil ini, menjadi bibiku saja masih tidak cukup, ia pun masih
mengaku-aku menjadi nenekmu.” Ia berkata.
Xue-Er mencibir sedikit dan mencela: “Aku kan hanya main-main. Hanya karena
kau tak suka diolok-olok, bukan berarti kau boleh menarik-narik kepang orang
lain.”
“Apalagi ia telah menghabiskan 10 tael perak untukmu.” Hua Man Lou
tersenyum. “Di samping itu, ayam-ayam ini lumayan. Bahkan jika kau tidak mau
berterima-kasih, paling tidak kau seharusnya lebih sopan sedikit.”
“Tampaknya cucu keponakanku masih punya hati.” Xue-Er menambahkan.
“Paling tidak ia bersikap adil dan jujur.”
Lu Xiao Feng tertawa: “Jadi menurutmu orang yang punya hati kedudukannya
masih lebih rendah daripada orang yang tak punya?”
Sambil tertawa, ia melepaskan rambut kepang Xue-Er. Seperti seekor rubah
kecil, Xue-Er segera merangkak di antara kedua kaki Lu Xiao Feng dan lari.
Sayangnya ia tidak cukup cepat karena Lu Xiao Feng segera mencengkeram
rambut kepangnya lagi dan menyeretnya seperti seekor ayam kecil. Sambil
memaksanya duduk di sebuah kursi, wajah Lu Xiao Feng berubah serius ketika ia
berkata: “Aku harus bertanya sesuatu padamu, dan lebih baik kau menjawabnya
dengan jujur, jangan pernah berfikir untuk berdusta.”
“Aku tidak pernah berdusta sebelumnya.” Xue-Er mengedip-ngedipkan matanya,
seakan-akan ia telah dituduh dengan sewenang-wenang.
“Kalimat barusan itu saja sudah dusta.”
“Jika semua yang kukatakan adalah dusta, lalu kenapa kau masih mau bicara
denganku?” Karena marah, ShangGuan Xue-Er berteriak.
Tahu bahwa tidak ada gunanya berdebat dengannya, Lu Xiao Feng menarik muka
dan bertanya: “Kenapa kau selalu mengikuti kami?”
“Aku bukan mengikuti kalian. Bahkan jika aku ingin, aku tak akan mampu.”
Kalimat itu memang benar.
“Lalu bagaimana caranya kau menemukan kami?”
“Aku tahu kalian akan datang ke mari untuk mencari XiMen Chui Xue, maka aku
datang ke sini lebih dulu!”
“Kau sudah lama menunggu di sini?”
“Aku sudah menunggu seharian. Bahkan tidak sempat bertukar pakaian atau pun
mandi. Aku bau. Kau tidak percaya? Mendekatlah ke sini.”
Hua Man Lou tertawa lagi. Lu Xiao Feng hanya bisa berdehem beberapa kali.
“Mengapa kau menunggu kami?” Ia bertanya.
“Karena aku punya rahasia yang harus kuberitahukan padamu.”
“Rahasia apa?”
Xue-Er mencibir lagi, tampaknya ia akan menangis lagi. Tiba-tiba ia
mengeluarkan sebuah ukiran burung walet emas yang sangat indah dari dalam
bajunya. “Kutemukan ini di kebun malam itu.”
Lu Xiao Feng memperhatikan benda itu tapi tak menemukan apa-apa.
“Sebelum aku lahir, ayahku memberikan ini pada kakakku.” Xue-Er meneruskan.
“Kakakku sangat menghargainya, ia memasangnya pada sebuah kalung emas
dan selalu memakainya. Aku selalu berusaha meminjamnya barang sehari atau 2
hari, tapi ia bahkan tak membiarkan aku menyentuhnya. Tapi sekarang aku
menemukannya tergeletak begitu saja di sana di atas tanah.”
“Mungkin ia tak sengaja menjatuhkannya.” Lu Xiao Feng menduga-duga.
Xue-Er menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak mungkin. Benda ini pasti
dijatuhkan seseorang saat mereka berusaha menyembunyikan mayatnya.”
Air mata mulai mengembang di matanya, ia tampak sangat sengsara, bahkan
suaranya pun mulai serak.
“Kau benar-benar mengira kakakmu telah mati?”
Xue-Er menggigit bibirnya dan mengangguk dengan yakin. “Bukan hanya aku
tahu bahwa ia telah mati,” ia berkata dengan suara yang sember. “Aku pun tahu
siapa pembunuhnya.”
“Siapa?”
“Kakak sepupuku yang jalang itu.” Xue-Er menjawab dengan pahit.
“ShangGuan DanFeng?”
“Ya, dia! Bukan hanya dia yang membunuh kakakku, dia juga yang membunuh
Xiao QiuYu, DuGu Fang, dan Liu YuHen!”
“Mereka bertiga semua dibunuh olehnya?”
Xue-Er mengangguk. “Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Ia sedang
berada di kamar hotel itu, berbincang-bincang dengan Liu YuHen. Lalu tiba-tiba ia
melepaskan Jarum Phoenix Terbang miliknya dan membunuh Liu YuHen. Ia
bahkan menyembunyikan mayatnya di bawah tempat tidur.”
“Difikir-fikir, ia sangat ingin mati, tapi ia kok mati seperti itu.” Lu Xiao Feng
menarik nafas.
“Jarum Phoenix Terbang adalah senjatanya yang paling ampuh. Jarum itu
langsung menutup jalan darah ketika bertemu darah dan racunnya pun berakibat
fatal. Kakakku mungkin terbunuh oleh jarum itu juga. Tapi di mana ia
menyembunyikan mayatnya?” Air mata bergulir di pipinya ketika ia melanjutkan.
“Yang kamu katakan itu sangat logis dan masuk di akal.” Lu Xiao Feng menarik
nafas lagi. “Sayangnya aku masih tidak percaya sedikit pun.”
Kali ini Xue-Er tidak marah, ia tetap saja menangis. “Aku tahu kau tak akan
mempercayaiku, kau… kau sudah dikacaukan olehnya….”
Lu Xiao Feng menatapnya, keyakinannya mulai goyah sedikit. Maka ia tak tahan
untuk tidak bertanya: “Ia adalah kakak sepupumu, kenapa ia ingin membunuh
kakakmu?”
“Siapa yang tahu kenapa?” Sambil mengkertakkan giginya, Xue-Er menjawab.
“Mungkin ia membenci kakakku karena lebih cerdas dan lebih cantik.”
“Lalu bagaimana dengan Liu YuHen? Bukankah dia setia kepadanya? Kenapa ia
membunuh Liu YuHen?”
“Ia lebih keji daripada ular paling berbisa sekalipun. Jika ia tega membunuh
orang seperti kakakku,” Xue-Er menjawab dengan pahit, “lalu kenapa ia tak
mungkin membunuh orang lain?”
Lu Xiao Feng menarik nafas: “Aku tahu kau membencinya, tapi….”
“Kau kira aku membencinya karena cemburu terhadap hubunganmu dengan dia?”
ShangGuan Xue-Er tiba-tiba memotongnya sambil mendengus dingin. “Mungkin
ia tampaknya sangat baik padaku, tapi di belakang ia sering menakut-nakuti
diriku sejak kami masih kecil.”
Lu Xiao Feng tiba-tiba memotongnya: “Ia baru 19 tahun, tapi kamu 20 tahun.
Bagaimana mungkin ia bisa menakut-nakuti dirimu?”
Xue-Er tak bisa menjawab.
Lu Xiao Feng tidak tega, maka ia menambahkan dengan suara yang lembut: “Jika
kau benar-benar mengkhawatirkan kakakmu, kau bisa tenang sekarang. Karena
aku tahu pasti bahwa dia belum mati.”
Xue-Er menggigit bibirnya dan menjawab: “Tapi aku benar-benar melihat dengan
mata kepalaku sendiri waktu ia membunuh Liu YuHen. Aku…”
Tiba-tiba ia berhenti, seluruh tubuhnya seperti membeku.
Liu YuHen yang katanya telah terbunuh dan mayatnya disimpan di bawah tempat
tidur oleh ShangGuan DanFeng tiba-tiba muncul.
Kabut malam terasa dingin dan sepi, bulan pun tampak samar-samar. Liu YuHen
muncul dari balik kabut di bawah sinar bulan yang samar-samar itu dan masuk
ke dalam kedai arak kecil tersebut.
Wajahnya yang mengerikan semakin tampak menakutkan bila dilihat di bawah
sinar bulan.
Tapi ekspresinya sangat tenang dan suaranya pun sangat lembut. “Sudah cukup
main-main di sini? Kembalilah bersamaku.” Ia berkata, sambil memandang Xue-
Er. “Yang Mulia sedang menungguku untuk membawamu pulang.”
Biji mata Xue-Er hampir melompat keluar. “Kau… kau belum mati?” ia tergagap.
Sinar mata sedih terlihat di mata Liu YuHen ketika ia menjawab dengan suara
berat: “Kadang-kadang, mati bukanlah hal yang mudah.”
“Dan kakak sepupuku?”
“Ia juga berharap kau segera pulang. Kau masih muda, tunggulah beberapa
tahun lagi, saat itu masih belum terlambat untuk pergi ke luar dan bermain-main.
Contohnya kakakmu, ia pergi ke mana pun yang ia inginkan, dan tak seorang pun
mempermasalahkannya.”
Xue-Er memandang padanya, ia seperti ketakutan. Tiba-tiba ia mencengkeram
tangan Lu Xiao Feng: “Tolong jangan biarkan dia membawaku pulang!” Ia
menjerit. “Tolong ijinkan aku mengikuti kalian, aku akan bersikap baik!”
“Itu harus menunggu kau besar sedikit.” Liu YuHen berkata. “Kau masih anakanak.
Ada hal-hal serius yang harus dilakukan orang dewasa, bagaimana
mungkin kau boleh ikut?”
Di luar sana, terdengar seekor kuda meringkik. Ada sebuah kereta kuda di luar,
kereta yang juga pernah ditumpangi oleh Lu Xiao Feng.
“Tidurlah di dalam kereta.” Liu YuHen meneruskan. “Lalu kau akan tiba di rumah
sebelum kau menyadarinya.”
ShangGuan Xue-Er akhirnya pergi, pergi tanpa berpaling ke belakang lagi.
Memandangnya naik ke atas kereta, melihat betapa sedih wajahnya, Lu Xiao
Feng tak tahan untuk tidak menarik nafas lagi. “Kau seorang gadis yang manis
dan cantik, kenapa kau suka berdusta?”
Hua Man Lou dari tadi hanya duduk saja di sana, tapi sekarang tiba-tiba ia
berkata: “Setiap orang yang berdusta selalu punya alasan. Ada yang berdusta
untuk menipu orang lain, ada pula yang berdusta untuk menipu dirinya sendiri.”
Ia menarik nafas dan melanjutkan: “Dan yang paling rapuh adalah orang-orang
yang berdusta untuk mendapatkan perhatian dari orang lain, untuk membuat
orang lain memperhatikan dirinya.”
“Apakah itu terjadi karena ia tak mendapatkan kasih saying dan cinta dari orang
lain?”
“Ya.”
“Kau benar.” Dengan senyum dipaksa di wajahnya, Lu Xiao Feng menarik nafas.
“Ada orang yang harus dimaafkan walaupun mereka berbuat salah. Mungkin
seharusnya aku telah memikirkan….”
Ia belum menyelesaikan kalimatnya ketika ia melihat Liu YuHen tiba-tiba muncul
kembali di pintu. “Xue-Er menitipkan pesan untukmu.” Orang itu berkata dengan
lambat.
Lu Xiao Feng menantikan pesan itu. Tiba-tiba ia melihat di mata orang yang
mengerikan ini muncul secercah senyuman hangat. “Ia bilang, ia lupa
mengatakan bahwa setelah kau mencukur kumismu, kau tampak jauh lebih muda
dan tampan daripada sebelumnya.”
______________________________
Lu Xiao Feng meraba bulu-bulu kasar di bawah hidungnya dengan ujung jarinya.
Ia telah meraba-rabanya terus di sepanjang perjalanan dari YanBei ke ShanXi.
Sepertinya ia merasa kumis itu kurang cepat tumbuhnya.
“Kau tahu aku tak pernah merasa sedih karena tak bisa melihat.” Hua Man Lou
tersenyum selebar-lebarnya. “Tapi saat ini aku benar-benar berharap bisa melihat
wajahmu tanpa kumis itu.”
“Sangat muda dan tampan.”
“Lalu kenapa kau terus memelihara kumis itu?”
“Karena aku khawatir kalau semua gadis akan mati karena terlalu terpesona
padaku.”
“Tampaknya kau mudah naik darah beberapa hari terakhir ini.” Hua Man Lou
masih tersenyum. “Apakah kau sedang marah pada dirimu sendiri?”
“Mengapa aku harus marah pada diriku sendiri?” Lu Xiao Feng menjawab dengan
dingin.
“Karena kau merasa bahwa kau telah bersikap terlalu keras pada gadis kecil yang
rapuh, manis dan suka berdusta itu. Dan kau khawatir kalau-kalau ia akan
diancam dan diperlakukan buruk saat ia sampai di rumah.”
Lu Xiao Feng tiba-tiba bangkit. Tapi sebelum ia sempat pergi, seseorang datang
membawakan sebuah undangan.
“Dengan hormat, telah disiapkan makanan dan minuman serta air untuk
membersihkan diri dari debu di perjalanan. Harap tuan-tuan bersedia hadir.”
Undangan itu ditanda-tangani oleh “Huo TianQing.”
Kalimatnya sederhana, tertulis dengan sangat rapi dan indah. Tintanya pun
sangat tebal, sehingga setiap huruf bisa terbaca dengan jelas. Bahkan orang
yang tak bisa melihat pun bisa menggunakan jari-jarinya untuk membaca
undangan itu.
“Tampaknya Tuan Huo ini seorang yang sangat teliti dan penuh perhatian.” Hua
Man Lou berkata sambil tersenyum.
“Bukan hanya penuh perhatian.” Lu Xiao Feng pun berkata dengan santai.
Orang yang menyampaikan undangan itu adalah seorang anak yang tampaknya
sangat cerdas. Ia berdiri di luar dan membungkuk dengan hormat. “Tuan Huo
menginstruksikan bahwa jika tamu-tamu terhormat bersedia hadir pada acara
makan malam, maka hamba harus menyediakan sebuah kereta dan menunggu di
sini, untuk kemudian membawa tuan-tuan ke Paviliun Intan. Tuan Huo telah
menunggu kedatangan tuan-tuan di sana.”
“Bagaimana ia tahu kami ada di sini?” Lu Xiao Feng bertanya.
Anak itu tertawa dan menjawab: “Tidak perduli besar atau kecil, tak ada yang
bisa lewat di daerah ini dalam radius 400 km tanpa sepengetahuan Tuan Huo.”
Bab 6: Pedang Dihunus dan Orang-orang pun Mati
Pesta itu diadakan di sebuah paviliun yang berada di tengah air. Sekelilingnya
tampak menghijau karena bunga lotus yang tumbuh di dalam kolam, tapi pagar
paviliun itu sendiri dicat merah menyala.
Tirai-tirainya yang bertaburkan mutiara telah dinaikkan. Angin samar-samar
membawa keharuman bunga lotus yang baru mekar.
Sekarang sudah bulan April.
Hua Man Lou menikmati kemewahan tak terbatas yang hanya dimiliki orangorang
terkaya ini dalam kebisuan. Tentu saja ia tidak melihat seperti apa Huo
TianQing itu, tapi ia telah mengetahui orang macam apa dia dengan hanya
mendengarkan suaranya saja.
Suara Huo TianQing rendah tapi bertenaga dan mengandung kelembutan serta
kehangatan. Bila ia bicara, bukan hanya ia ingin semua orang mendengarkannya,
tapi ia juga ingin mereka mendengarnya dengan jelas.
Itu berarti ia adalah orang yang sangat percaya diri dan tegas, apapun yang ia
lakukan maka ia pasti punya alasannya sendiri. Bahkan walaupun ia sangat
angkuh, ia khawatir kalau orang lain menganggap dirinya angkuh.
Hua Man Lou tidak menyukai orang seperti ini, seperti juga Huo TianQing tidak
menyukai dirinya.
Sudah ada 2 orang tamu lain di tempat itu. Yang pertama adalah tamu keluarga
Yan, Su ShaoYing, dan yang kedua adalah Ketua Persekutuan Perusahaan
Ekspedisi (piauwkiok), “Naga di Awan” Ma XingKong.
Ma XingKong telah lama terkenal di dunia persilatan. Bukan hanya kungfunya
sangat hebat, ia juga bukan tipe orang yang mencari kemasyuran dan pujian.
Maka Hua Man Lou pun heran saat mendengar orang ini seperti menjilat-jilat saat
bicara dengan Huo TianQing.
Seseorang seperti dirinya, seorang yang mencapai kemasyuran lewat
kemampuannya sendiri, seharusnya tidak bersikap seperti ini.
Di pihak lain, Su ShaoYing ternyata sangat santai dan tenang, tidak ada
kepalsuan dalam suaranya. Huo TianQing memperkenalkan dirinya sebagai orang
yang memiliki pengetahuan yang luas. Tapi dari suaranya, kelihatannya ia masih
sangat muda.
Tuan rumah dan tamunya total berjumlah 5 orang. Ini adalah gaya perjamuan
yang disukai Hua Man Lou, karena memperlihatkan bahwa bukan hanya tuan
rumahnya teliti tapi juga sangat memahami tamu-tamunya.
Tapi belum tersedia arak atau pun makanan di atas meja. Walaupun Hua Man Lou
mulai tidak sabaran, ia juga merasa sedikit canggung.
Tidak banyak lentera yang terdapat di paviliun itu, tapi tetap saja tempat itu
terang benderang seperti siang hari. Itu karena di tengah-tengah dinding
tergantung 4 butir mutiara yang terang, yang memantulkan sinar dari lentera
dengan cahaya yang sangat lembut, membuat pencahayaan di ruangan itu jadi
terasa nyaman di mata.
Su ShaoYing sedang bercerita tentang kaisar terakhir dari dinasti Tang Selatan.
“Bila ia sedang bersama Selir Muda Zhuo, ia tidak pernah menyalakan lentera.
Maka tertulislah dalam buku bahwa bila Permaisuri Jiang JuoLi melihat cahaya di
malam hari, ia akan menutup matanya dan berkata: ‘Asap, berarti lilin sedang
menyala. Jika mata seseorang ditutup, maka bau asap akan tercium lebih jelas.’
Ia tahu apa yang sedang dilakukan kaisar bila ia mencium bau asap. Seseorang
pernah bertanya kepadanya kenapa ia begitu yakin bahwa asap itu bukan berasal
dari salah satu lilin yang ada di istananya sendiri. Ia menjawab: ‘Pada malam hari
istana menggunakan sebuah mutiara besar yang tergantung sampai ke langitlangit,
yang akan membuat ruangan jadi terang seperti di siang hari’.”
“Nafsu berahi kaisar memang agak keterlaluan,” Huo TianQing memberi
komentar sambil tersenyum. “Itulah sebabnya hanya persoalan waktu saja
sebelum dinasti Tang Selatan jatuh.”
“Tapi ia hanyalah orang yang penuh kasih sayang, kebaikannya benar-benar
tiada tandingannya,” Su ShaoYing menjawab.
“Orang-orang yang baik dan penuh kasih sayang tidak cocok menjadi kaisar,”
Huo TianQing menjawab dengan santai.
“Tapi jika ia punya seorang penasehat seperti Tuan Huo, mungkin dinasti Tang
Selatan tak akan jatuh,” Ma XingKong menambahkan sambil tersenyum.
“Jika saja Li Ying lahir beberapa ratus tahun kemudian,” Lu Xiao Feng tiba-tiba
menarik nafas, “atau jika ia ada di sini, tentu ia akan lebih mengharapkan arak
tersedia di sini.”
Hua Man Lou tertawa.
Huo TianQing tak tahan untuk tidak tertawa juga: “Arak dan makanan telah
tersedia, hanya saja waktu Pemimpin Besar mendengar bahwa Lu Xiao Feng dan
Hua Man Lou menjadi tamu kita hari ini, beliau memutuskan untuk datang dan
bergabung dengan kita.”
“Kita sedang menunggunya?” Lu Xiao Feng bertanya.
“Jika tuan merasa sedikit kurang sabar, bagaimana kalau kita pesan makanan
kecil untuk dinikmati bersama arak?” Huo TianQing menawarkan.
“Menunggu sebentar lagi bukanlah masalah besar. Jarang sekali Pemimpin Besar
dalam suasana yang begitu senang, seharusnya kita tidak menurunkan
semangatnya,” Ma XingKong segera menjawab.
“Aku juga tak ingin menurunkan semangat kalian! Cepat, bawakan arak!” sebuah
suara tiba-tiba terdengar dari luar paviliun.
Seseorang berjalan masuk, tawanya nyaring dan halus… Wajahnya putih dan
gemuk dengan kulit yang lembut seperti seorang gadis muda. Hanya hidung
besar seperti paruh burung di wajahnya itu saja yang tampak jantan.
Hua Man Lou berfikir: “Orang ini adalah Kepala Bendahara Kekaisaran Rajawali
Emas, mungkinkah ia seorang kasim?”
“Apa kabar, Ketua?” Ma XingKong telah bangkit dan memberi hormat.
Tapi Yan TieShan bahkan tidak melirik sedikit pun padanya. Ia menggenggam
tangan Lu Xiao Feng dan memandang wajahnya terus menerus. Tiba-tiba ia
tertawa: “Haha! Kau masih kelihatan sama. Kau tidak berubah sedikit pun sejak
terakhir kali kita bertemu di puncak Memandang Matahari di TaiShan. Tapi
bagaimana kau sekarang hanya punya 2 alis mata?”
Ia bicara dengan logat ShanXi yang kental, seolah-olah ia khawatir kalau orang
lain tak tahu kalau ia berasal dari ShanXi.
Mata Lu Xiao Feng berkilauan dan ia pun tersenyum: “Aku tak bisa membayar
arak yang aku minum, maka isteri pemilik warung arak itu mencukur kumisku
untuk dijadikan bedak wajahnya.”
Ucapannya itu membuat Yan TieShan tertawa lagi. “Neneknya! Perempuan itu
pasti menyukai saat-saat kumismu menyentuh wajahnya!” Ia berpaling dan
menepuk-nepuk pundak Hua Man Lou. “Dan kau tentu putera ketujuh keluarga
Hua! Dua kakakmu pernah datang ke sini sebelumnya. Saudara ke-3 dan ke-5
cukup kuat minumnya.”
“Saudara ke-7 pun bisa minum sedikit,” Hua Man Lou berkata sambil tersenyum.
“Bagus!” Yan TieShan bertepuk tangan. “Bagus sekali! Ambilkan kendi arak yang
disimpan di bawah ranjangku. Yang tidak mabuk malam ini adalah cucu
perempuan neneknya!”
Makanan ShanXi terkenal sangat pedas, dan pada makanan yang tersedia
sekarang pun telah ditambahkan bubuk merica.
Dengan menggunakan sumpit di tangannya yang putih dan halus, Yan TieShan
terus-terusan menambahkan makanan ke mangkok Lu Xiao Feng. “Ini adalah
makanan khas ShanXi kami. Walaupun tak ada yang perlu disebut-sebut, kau tak
akan mendapatkan ini di tempat lain neneknya.”
“Jadi ketua berasal dari ShanXi?” Lu Xiao Feng bertanya.
“Aku lahir dan dibesarkan dalam keluarga orang kebanyakan. Aku pernah pergi
ke TaiShan suatu waktu, untuk melihat matahari neneknya. Tapi tak perduli
bagaimana kupandang, dia hanya seperti sebuah kuning telur raksasa bagiku.
Benar-benar membosankan.” Yan TieShan tertawa.
Ia terus mengatakan “neneknya” di sana sini, seakan-akan ia berusaha
meyakinkan setiap orang bahwa ia adalah seorang lelaki sejati, lelaki yang jantan
dan kasar.
Lu Xiao Feng pun tertawa. Sambil tersenyum ia mengangkat cangkir ke bibirnya
dan tiba-tiba bertanya: “Boleh saya tahu dari mana Bendahara Yan berasal?”
“Bendahara Huo,” Ma XingKong segera mengkoreksi, “bukan Bendahara Yan.”
“Aku bukan sedang membicarakan Bendahara Huo dari Paviliun Mutiara dan
Intan,” Lu Xiao Feng menjawab dengan santai. “Aku sedang membicarakan Yan
LiBen, Kepala Bendahara dari Kekaisaran Rajawali Emas yang telah jatuh.”
Tanpa berkedip ia memandang wajah Yan TieShan dan, sepatah kata demi
sepatah kata, ia pun berujar: “Aku yakin Ketua tentu kenal orang ini.”
Wajah Yan TieShan yang putih, halus dan lembut tiba-tiba menegang seperti pita
karet. Bahkan senyuman itu pun menjadi kaku dan canggung.
Ia adalah orang yang tetap kelihatan sama tak perduli bagaimana pun suasana
hatinya. Tapi yang barusan dikatakan Lu Xiao Feng itu seperti sebuah cambuk,
cambuk yang merobek sebuah luka lama, luka fatal yang mulai berdarah lagi.
“Jika Ketua kenal orang ini,” Mata Lu Xiao Feng berkilauan ketika ia meneruskan
lambat-lambat, “maka tolong kau beritahukan padanya bahwa, karena hutang
lamanya yang telah ditunggak puluhan tahun lamanya, seseorang datang untuk
menagihnya.”
“Bendahara Huo!” Yan TieShan tiba-tiba berseru, wajahnya masih sangat tegang.
“Ya, Tuan?” Huo TianQing tidak bergerak sedikit pun.
“Tuan Hua dan Tuan Lu tidak ingin tinggal di sini lagi. Tolong siapkan sebuah
kereta kuda untuk mereka dan antarkan mereka, mereka ingin pergi sekarang
juga!” Yan TieShan berkata dengan dingin.
Tanpa menunggu jawaban, ia mengibaskan lengan bajunya ke arah mereka dan
mulai berjalan ke luar.
Tapi sebelum ia mencapai pintu keluar, telah ada seseorang yang menghalangi
jalannya. “Mereka tidak ingin pergi, dan kau sebaiknya tetap di sini juga,” sebuah
suara yang dingin berkata.
Orang ini bertubuh jangkung dan kukuh, semua yang ia kenakan berwarna putih
seperti salju. Tapi pedang yang tergantung di ikat pinggangnya berwarna hitam;
hitam pekat, tipis, dan antik.
“Berani-beraninya kau tidak menghormatiku?” Mata Yan TieShan seperti
melompat keluar ketika ia berseru. “Siapa kau?”
“XiMen Chui Xue.”
XiMen Chui Xue, nama itu sendiri seperti pedang, dingin, tak berperasaan, dan
tajam.
Bahkan Yan TieShan terpaksa mundur teratur 2 langkah ke belakang. “Penjaga!”
Ia tiba-tiba berteriak.
Selain dari 2 orang anak kecil yang menuangkan arak dan pelayan berbaju hijau
yang sesekali masuk untuk membawakan makanan, paviliun itu benar-benar
sepi, bahkan tidak ada tanda-tanda seseorang pun.
Tapi segera setelah Ketua Yan berteriak, 5 orang segera melesat masuk lewat
jendela. Gerakan mereka benar-benar cepat dan senjata mereka berkilauan,
sebuah pedang bergelang, sebatang golok berbulu, lembing yang lentur seperti
cambuk, sepasang cakar, dan dua nunchaku besi.
Lima jenis senjata itu adalah senjata-senjata yang luar biasa, siapa pun yang
menggunakan senjata seperti ini tentulah seorang jagoan kungfu.
Tapi XiMen Chui Xue bahkan tidak memandang mereka. “Sekali pedangku
dihunus, ia akan membunuh.” Ia berkata dengan dingin. “Apakah kalian benarbenar
ingin memaksaku mencabut pedang?”
Dari 5 orang itu, dua di antaranya sudah sangat hijau wajahnya. Tapi selalu ada
orang-orang yang tak takut mati.
Tiba-tiba angin mulai mengaung ketika golok berbulu itu menjadi dinding golok
yang melesat ke arah XiMen Chui Xue.
Nunchaku itu pun berubah menjadi angin puting beliung yang ganas ketika
menyapu ke lutut XiMen Chui Xue.
Senjata yang satu keras dan ganas, sementara yang satunya lagi cepat dan
ringan, tapi keduanya dahsyat dan bekerja sama dalam keselarasan yang
sempurna. Tampaknya mereka berdua sering berlatih bersama-sama.
Kelopak mata XiMen Chui Xue tiba-tiba menyipit, pada saat itu pula pedangnya
telah terhunus.
Huo TianQing tidak bergerak, ia malah menatap Lu Xiao Feng. Jika Lu Xiao Feng
tidak bergerak, maka ia pun tidak akan bergerak.
Tapi Ma XingKong telah bangkit. “Bendahara Huo mengundang kalian ke sini
sebagai tamu, bagaimana kalian berani membuat keributan di sini?” Ia berteriak
dengan bengis.
Sambil berteriak, tangannya turun ke pinggang dan menarik sebuah rotan naga
bersisik ikan yang berwarna keemasan. Dengan mengibaskannya sekali, rotan itu
pun menyambar ke arah tenggorokan Hua Man Lou.
Ia tahu Hua Man Lou buta dan beranggapan bahwa akan lebih mudah
menghadapi seorang laki-laki buta.
Senjata rotan naga miliknya itu sangat berbeda dengan senjata lainnya yang
sejenis. Sesudah rotan itu dikibaskan, lilitan naga yang terukir di rotan tiba-tiba
akan membuka mulutnya dan “ting”, sebuah pedang yang tipis tapi tajam akan
melesat keluar.
Hua Man Lou tetap duduk di sana, menunggu dengan tenang. Tiba-tiba ia
mengangkat tangannya dan menangkap pedang itu di antara jari telunjuk dan
jari tengahnya. “Ting!” lagi, pedang dari besi murni yang ditempa seorang tukang
besi selama 3 bulan itu pun patah menjadi 3 bagian.
Wajah Ma XingKong berubah warnanya dan ia segera menyentakkan pergelangan
tangannya, membuat rotan naga itu berputar-putar dan berusaha menyerang
kedua telinga Hua Man Lou.
Hua Man Lou menarik nafas ketika ia memutar lengan bajunya seperti awan
badai dan membungkus rotan naga itu. Lalu ia menarik dengan perlahan.
Ma XingKong terjatuh ke atas meja, piring-piring pun beterbangan ke manamana.
Hua Man Lou mendorong sedikit dan mengirim tubuh orang itu terbang
melalui jendela dan jatuh ke kolam bunga lotus yang mengelilingi paviliun.
“Pertunjukan yang luar biasa!” Su ShaoYing tak terasa memuji.
“Bukannya aku yang hebat, tapi ia sendiri yang tidak bagus.” Hua Man Lou
menjawab dengan santai. “Sepertinya ilmu dan kekuatannya hanya tersisa 50 %.
Apakah ia menderita luka dalam?”
“Analisa yang hebat. Tiga tahun yang lalu ia telah menerima pukulan pembelah
udara dari Bendahara Huo.” Su ShaoYing menjawab.
“Tak heran,” Hua Man Lou menarik nafas.
Ia akhirnya mengerti mengapa Ma XingKong bersikap seperti seorang penjilat tak
tahu malu. Jika orang seperti dia, yang mencari nafkah dari berkelahi, kehilangan
sebagian besar kungfunya, maka ia harus menemukan seseorang untuk meminta
perlindungan. Dan tak ada yang lebih baik daripada meminta Paviliun Mutiara dan
Intan sebagai pelindungnya.
Su ShaoYing tiba-tiba berujar: “Maafkan aku, tapi aku ingin mencoba ilmu Tuan
Hua yang luar biasa. Awas!”
Setelah menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ia melesat dengan sumpit di
Pemuda yang sopan dan halus ini benar-benar mampu menggunakan sumpit itu
sebagai pedang dan memainkan jurus-jurus ilmu pedang dari golongan putih.
Dalam sekejap mata, ia telah menggunakan 7 macam gerakan untuk menyerang
Hua Man Lou.
Lu Xiao Feng tidak bergerak, ia hanya memandang Huo TianQing dalam kebisuan.
Jika Huo TianQing tidak bergerak, maka ia pun tak akan bergerak.
Sudah ada 3 orang yang tergeletak di lantai dan tak akan pernah bergerak lagi.
Golok berbulu itu telah menancap di ambang jendela, nunchaku telah terbang
keluar jendela, dan lembing lemas pun telah patah menjadi 4 bagian.
Waktu pedang itu ditarik kembali, masih ada darah di ujungnya.
XiMen Chui Xue meniup darah di pedangnya itu dengan perlahan, membuat darah
merah itu menetes jatuh ke lantai.
Walaupun wajahnya masih tanpa ekspresi, matanya yang dingin seperti batu
tampak berkilauan saat menatap Yan TieShan dengan dingin.
“Seharusnya kau sendiri yang berkelahi,” ia berkata dengan dingin. “Mengapa
kau mengirim orang lain kepada kematiannya?”
“Karena aku telah lama membeli nyawa mereka!” Yan TieShan menjawab sambil
mendengus rendah.
Ia memberi isyarat dengan tangannya dan 6 orang lagi muncul di paviliun
tersebut. Matanya berputar-putar, seolah-olah ia sedang mencari jalan untuk
melarikan diri.
Ia tidak bicara dalam aksen ShanXi lagi, juga tidak mencaci-maki nenek orang
lagi. Tapi suaranya menjadi tajam dan melengking, setiap kata yang keluar dari
mulutnya pun seperti jarum, jarum yang menusuk gendang telinga orang lain.
Lu Xiao Feng tiba-tiba tertawa: “Ternyata Ketua adalah seorang jagoan yang
memiliki tenaga dalam yang luar biasa.”
“Kungfunya mungkin lebih baik daripada semua orang di sini.” Huo TianQing
menyahut dengan santai.
“Sayang sekali kalau begitu.”
“Kenapa sayang?”
“Karena ia memiliki kelemahan yang fatal.”
“Apa itu?”
“Ia takut mati!”
Su ShaoYing telah memulai rentetan 7 jurus ilmu pedang berikutnya. Jurus-jurus
itu cepat, dinamis, dan cekatan, tak pernah jauh dari wajah Hua Man Lou.
Hua Man Lou masih duduk di situ, dengan sebatang sumpit di tangannya. Dengan
sebuah sentilan atau putaran sederhana, seolah-olah itu adalah hal yang paling
alami di dunia, gerakannya mampu mengatasi setiap serangan Su ShaoYing.
Sesudah 7 jurus yang kedua berlalu, Su ShaoYing tiba-tiba berhenti. Ia tiba-tiba
menyadari bahwa orang buta yang selalu tersenyum ini seolah-olah lebih tahu
tentang ilmu pedangnya daripada dirinya sendiri.
Setiap kali ia membuat sebuah gerakan, seketika itu juga musuhnya ini tahu
bahwa serangannya akan tiba. “Apakah Tuan juga murid E’Mei?” Ia terpaksa
bertanya.
Hua Man Lou menggelengkan kepalanya dengan perlahan dan tersenyum. “Bagi
kalian, setiap ilmu pedang dari setiap sekte di dunia ini menggunakan gerakan
dan strategi yang berbeda-beda. Tapi bagi orang buta, semua gerakan di dunia
ini adalah sama.”
Ini adalah prinsip yang paling mendasar dalam ilmu bela diri. Su ShaoYing seperti
faham, tapi seperti juga tidak. Ia ingin menyelidiki lebih jauh, tapi tak tahu
bagaimana atau apa yang harus ditanyakan.
“Apakah Tuan ini salah satu dari 7 Pedang E’Mei?” Malah Hua Man Lou yang
mengajukan pertanyaan berikutnya.
Su ShaoYing bimbang sebelum akhirnya menjawab: “Aku adalah Su kedua di
antara 7 Pedang E’Mei.”
“Jadi ia murid perguruan pedang juga?” XiMen Chui Xue tiba-tiba memotong
dengan dingin. “Mengapa kau tidak menantangku?”
Wajah Su ShaoYing menjadi pucat. “Tak!”, sumpit di tangannya patah menjadi 2
bagian.
“Menurut kabar, ilmu pedang E’Mei adalah yang terbaik di seluruh daratan,”
XiMen Chui Xue mendengus. “mungkinkah ilmu mereka sebenarnya tidak pantas
menyandang status yang demikian mulia?”
Sambil mengkertakkan giginya, Su ShaoYing tiba-tiba berputar, tepat pada saat
itu pula ia melihat tetesan darah terakhir menetes dari ujung pedang XiMen Chui
Xue.
Lu Xiao Feng dan Huo TianQing masih duduk di sana dalam kebisuan, sambil
saling berpandangan, seakan-akan mereka sedang menunggu musuh bergerak
lebih dulu.
Tapi sudah ada 7 mayat yang bergelimpangan di lantai. Dari ke-7 orang itu,
masing-masing merupakan jagoan kelas satu. Tapi mereka semua segera
tertusuk tenggorokannya oleh pedang XiMen Chui Xue.
Mata Yan TieShan mulai menyipit. Baru sekarang orang bisa melihat bahwa usia
tua telah mempengaruhi dirinya.
Tapi ia tidak merasakan kesedihan atau simpati bagi orang-orang yang telah mati
untuk dirinya ini.
Ia masih berada di sini hanya karena kesempatan terbaik belum muncul dan ia
masih belum terpaksa untuk lari dari tempat itu.
Keempat orang yang masih bisa bergerak itu telah kehilangan keberanian mereka
untuk bergebrak lagi. Melihat Su ShaoYing mulai maju, mereka segera
menyingkir.
Langkah Su ShaoYing mantap, tapi wajahnya pucat tak berwarna.
“Pedang apa yang engkau gunakan?” XiMen Chui Xue bertanya, sambil
menatapnya dengan dingin.
“Selama bisa dipakai untuk membunuh, aku bisa menggunakannya,” Su ShaoYing
balas mendengus dan menjawab. “Bagus, ada pedang di lantai, silakan.”
Memang ada 2 bilah pedang di lantai, tergeletak dalam genangan darah.
Satu pedang tipis dan panjang, sementara yang lainnya tebal dan berat. Su
ShaoYing bimbang sebentar sebelum ujung kakinya mengait salah satu pedang
dan melemparkannya ke udara. Pedang itu mendarat dengan sempurna di
tangannya.
Ilmu pedang Sekte E’Mei terkenal dengan kecepatan dan keluwesannya, tapi ia
malah mengambil pedang yang berat. Pemuda ini jelas bermaksud menggunakan
kekuatan fisiknya yang masih muda digabung dengan gerakan-gerakan yang
agresif dan keji untuk menghadapi cara bertarung XiMen Chui Xue yang secepat
kilat dan mematikan.
Ini adalah pilihan yang tepat. Murid-murid DuGu YiHe semuanya memang
memiliki kemampuan menilai musuh yang luar biasa.
Tapi kali ini ia keliru, seharusnya ia tidak mengambil sebatang pedang pun.
XiMen Chui Xue menatapnya. “Duapuluh tahun dari sekarang, ilmu pedangmu
akan mencapai puncaknya,” XiMen Chui Xue berkata.
"Oh?" Su ShaoYing menjawab.
“Maka aku tidak ingin membunuhmu sekarang. Dua puluh tahun lagi, datang dan
carilah aku.”
“Dua puluh tahun adalah penantian yang terlalu lama!” Su ShaoYing tiba-tiba
berseru. “Aku tak bisa menunggu selama itu!”
Ia seorang pemuda yang masih berdarah panas. Merasakan darah naik ke
kepalanya, ia lalu menyerang dengan pedang di tangan. Gerakan pedang itu
samar-samar membawa pula gerakan-gerakan ilmu golok.
Ini adalah ilmu ciptaan DuGu YiHe, Golok dan Pedang Berpadu, terdiri dari 49
gerakan dan perubahan. Waktu ia bergabung dengan Sekte E’Mei, ia telah
memiliki ilmu golok yang luar biasa setelah 30 tahun berlatih dengan keras. Ia
mampu menggabungkan keganasan dan intensitas ilmu golok ke dalam ilmu
pedang Sekte E’Mei yang terkenal tangkas dan dinamis.
Ke-49 gerakan yang ia ciptakan ini bisa digunakan dengan golok atau pun
pedang. Tak ada ilmu lain seperti ini di dunia.
Bahkan Lu Xiao Feng belum pernah melihat kungfu seperti ini.
Mata XiMen Chui Xue semakin terang nyalanya. Baginya, melihat sebuah ilmu
baru dan asing untuk pertama kalinya adalah seperti seorang anak kecil yang
menemukan mainan baru dan asing, ada kesenangan dan keingin-tahuan yang
tak dapat diuraikan dengan kata-kata.
Ia menunggu sampai Su ShaoYing telah melakukan 21 macam gerakan sebelum
akhirnya ia membuat sebuah gerakan.
Karena ia telah menemukan titik lemah dari ilmu ini, walaupun itu mungkin hanya
sebuah kelemahan kecil, tapi kelemahan yang sedikit saja sudah cukup baginya.
Pedangnya berkilauan. Dengan hanya satu gerakan saja, pedangnya telah
menembus tenggorokan Su ShaoYing.
Ujung pedang itu masih meneteskan darah. XiMen Chui Xue meniup darah di
ujung pedangnya dengan perlahan.
Ia menatap pedangnya, di matanya tiba-tiba muncul perasaan sepi dan sunyi.Ia
tiba-tiba menarik nafas: “Mengapa semua orang-orang muda terbaik seperti
dirimu selalu mencari kematian seperti ini? Dalam duapuluh tahun, di mana lagi
aku akan menemukan lawan yang berharga?”
Jika kata-kata itu keluar dari mulut orang lain, tentu terasa agak memuakkan.
Tapi bila muncul dari dirinya, kata-kata itu seperti membawa kesedihan dan
kesepian yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata.
“Jika itu masalahnya, lalu kenapa kau membunuhnya?” Hua Man Lou tiba-tiba
bertanya.
“Karena satu-satunya gerakan pedang yang kukenal adalah membunuh,” XiMen
Chui Xue menjawab dengan wajah yang kaku.
Hua Man Lou menarik nafas, karena ia tahu orang ini mengatakan hal yang
sebenarnya. Setiap gerakan yang dibuat orang ini adalah final dan untuk
membunuh, tanpa kompromi, tak ada ruangan untuk mundur.
“Kau mati, atau aku yang mati!” Setiap kali pedangnya ditusukkan, tak pernah
ada pilihan lain yang tersisa untuk musuhnya, bahkan juga tidak ada pilihan lain
untuk dirinya sendiri.
Angin bertiup dari luar paviliun, membawa keharuman bunga lotus yang
menyegarkan, tapi tetap tak mampu menghilangkan bau amis darah yang
menyengat.
XiMen Chui Xue tiba-tiba berpaling ke arah Yan TieShan. “Jika kau tidak pergi,
aku tak akan menyerang. Jika kau bergerak, kau mati!” ia berkata dengan dingin.
“Mengapa aku harus pergi?” Yan TieShan tersenyum. “Aku tak tahu kenapa kalian
melakukan hal ini.”
“Seharusnya kau tahu,” Lu Xiao Feng menarik nafas.
“Tapi kenyataannya tidak.”
“Tapi bagaimana dengan Yan LiBen? Apakah ia tahu?”
Mata Yan TieShan mulai menyipit lagi. Pada wajahnya yang putih dan gemuk
tiba-tiba muncul perasaan takut yang aneh. Tiba-tiba ia tampak seperti jauh lebih
tua. Setelah beberapa lama, akhirnya ia menarik nafas dan bergumam: “Yan
LiBen sudah lama mati, kenapa kalian masih mencarinya?”
“Bukan kami yang menginginkan dia,” Lu Xiao Feng menjawab.
“Lalu siapa?”
“Kaisar Rajawali Emas.”
Mendengar nama itu, wajah Yan TieShan yang sudah tampak aneh tiba-tiba jadi
semakin menakutkan. Tubuhnya tiba-tiba mulai berputar seperti gasing dan
paviliun itu tiba-tiba menjadi terang-benderang seperti ada kilat.
Bersamaan dengan kilat itu, puluhan batang jarum benang sutera tiba-tiba
meluncur seperti tetesan air dalam badai, melesat ke arah XiMen Chui Xue, Hua
Man Lou, dan Lu Xiao Feng.
Pada saat itulah sebuah hawa pedang melesat menembus kilatan cahaya tadi.
Hawa itu dingin membeku dan suaranya seperti angin yang bertiup di hutan
bambu. Hawa dan kilat itu tiba-tiba menghilang, sebagai gantinya adalah puluhan
butir mutiara yang seperti jatuh dari langit, setiap mutiara telah terbelah dua.
Pedang yang begitu cepat. Tapi Yan TieShan telah menghilang.
Lu Xiao Feng pun telah menghilang.
Di permukaan kolam bunga lotus di luar, seperti ada sosok tubuh yang ujung
kakinya mendarat perlahan di atas daun bunga lotus sebelum kemudian
melayang lagi.
Sebenarnya sosok tubuh itu terdiri dari 2 orang, tapi mereka berdua seperti
berhimpit, dengan orang yang mengejar praktis menjadi bayang-bayang orang
yang berada di depan.
Sosok tubuh itu tiba-tiba seperti pecah dan menghilang. Tapi suara pakaian yang
berkibar-kibar di udara bisa terdengar dari dalam paviliun.
Lalu Yan TieShan tiba-tiba muncul kembali.
Lu Xiao Feng pun muncul kembali, masih duduk di kursinya semula, seolah-olah
ia belum pernah pergi.
Yan TieShan juga berdiri di tempatnya semula, tapi ia bersandar ke dinding,
sambil berusaha mengambil nafas. Dalam beberapa saat terakhir ini, tampaknya
ia telah bertambah tua lagi.
Waktu pertama kalinya ia memasuki paviliun itu, ia adalah seorang laki-laki
setengah baya yang bersemangat. Wajahnya bersih dan halus, tanpa jenggot
sedikit pun. Tapi sekarang, orang akan mengatakan bahwa ia adalah seorang
laki-laki tua berusia 80 tahun.
Wajahnya murung dan sinar matanya memudar. Sambil mengambil nafas, ia
mengakui: “Aku semakin… semakin tua.”
Lu Xiao Feng menatapnya dan tak tahan untuk tidak menarik nafas juga.
“Kau memang sudah semakin tua.”
“Kenapa kau melakukan ini pada seorang laki-laki tua?”
“Karena orang tua ini berhutang sesuatu pada orang lain. Tak perduli berapa
tuanya dia, ia harus membayarnya lunas.”
“Aku selalu membayar hutang-hutangku, tapi sejak kapan aku berhutang sesuatu
pada orang lain?”
“Mungkin kau tidak, tapi bagaimana dengan Yan LiBen?”
Wajah Yan TieShan berkerut-kerut lagi dan ia berteriak dengan bengis: “Benar!
Aku Yan LiBen! Bendahara Yan pemakan manusia itu. Tapi sejak aku berada di
sini, aku….”
Tiba-tiba ia berhenti, wajahnya yang berkerut-kerut itu tiba-tiba dan secara ajaib
menjadi tenang.
Lalu setiap orang melihat darah menyembur dari dadanya, seperti sebuah bunga
yang tiba-tiba mekar.
Setelah semburan darah itu, alirannya mulai menyusut, barulah pedang yang
menancap di dadanya itu jadi kelihatan.
Yan TieShan menunduk dan melihat ujung pedang yang berkilauan itu, ia tampak
terkejut dan bingung.
Tapi ia masih belum mati, dadanya masih kembang kempis.
Wajah Huo TianQing menjadi kaku seperti batu. Ia bangkit dan berseru: “Siapa
yang melakukannya? Siapa?”
“Aku!” Sebuah suara yang bening dan nyaring seperti lonceng menjawab. Seperti
seekor walet, seseorang terbang masuk lewat jendela. Pakaiannya melekat ke
tubuhnya seperti kulit hiu hitam karena basah kuyup.
Tubuh yang demikian ramping, air pun masih bertetesan dari tubuhnya. Jelas ia
baru keluar dari kolam bunga lotus di luar sana.
Yan TieShan memaksakan matanya terbuka dan tercengang melihatnya,
mengumpulkan seluruh kekuatan di tubuhnya untuk mengucapkan 2 patah kata.
“Siapa kau?”
Ia melepaskan kain yang menutupi kepalanya, membiarkan rambutnya yang
hitam legam terurai di pundaknya.
Hal itu membuat wajahnya tampak lebih putih, lebih cantik.
Tapi matanya, yang sedang menatap Yan TieShan, penuh dengan sinar
kebencian.
“Aku Puteri DanFeng dari Kekaisaran Rajawali Emas. Aku adalah orang yang ingin
mencarimu untuk menagih hutang lamamu,” ia menjawab dengan dendam.
Yan TieShan balas memandangnya dengan terkejut. Tiba-tiba matanya melotot
dan tubuhnya mengejang, dan tak pernah bergerak lagi. Pada sepasang mata
yang melotot itu ada ekspresi yang aneh tapi tak dapat difahami. Apakah itu
kaget? Apakah itu gusar? Atau perasaan ngeri?
Ia tidak roboh, karena pedang itu masih menancap di dadanya.
Pedang itu dingin, darahnya pun dingin.
Puteri DanFeng akhirnya berpaling dengan perlahan. Kemarahan dan kebencian
di wajahnya berubah menjadi kesedihan.
Ia hendak menyapa Lu Xiao Feng waktu XiMen Chui Xue tiba-tiba berkata: “Kau
menggunakan pedang juga?”
Puteri DanFeng tercengang sebentar sebelum akhirnya mengangguk.
“Sejak hari ini, jika kau menggunakan pedang lagi, aku akan membunuhmu!”
Benar-benar terkejut, Puteri DanFeng bertanya secara naluriah: “Mengapa?”
“Pedang tidak digunakan untuk membunuh dari belakang. Jika kau membunuh
dari belakang, maka kau tidak berharga untuk menggunakan pedang.”
Ia tiba-tiba mengibaskan tangannya. “Tak!” Ujung pedangnya telah memukul
ujung pedang di dada Yan TieShan.
Tubuh Yan TieShan roboh ke lantai, dan pedang di dadanya pun terpukul jatuh ke
dalam kolam bunga lotus.
XiMen Chui Xue telah berada di luar paviliun. Mengangkat pedang yang masih
bernoda darah itu ke dekat wajahnya, ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pedang itu tiba-tiba patah menjadi 6 bagian dan jatuh ke tanah.
Angin berhembus, kabut malam mulai muncul di kolam bunga lotus itu, dan
XiMen Chui Xue tiba-tiba menghilang dalam kabut.
Huo TianQing terduduk, tanpa bergerak sedikit pun. Wajahnya seperti topeng
batu.
Tapi Lu Xiao Feng tahu bahwa tanpa ekspresi malah merupakan ekspresi yang
paling sedih.
“Yan TieShan adalah pengkhianat Kekaisaran Rajawali Emas, maka urusan ini
bukanlah persoalan pribadi. Juga bukan sesuatu yang boleh dicampuri oleh orang
luar,” Lu Xiao Feng menarik nafas.
“Aku tahu,” Huo TianQing mengangguk.
“Jadi kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri.”
Huo TianQing membisu beberapa lama. Tiba-tiba ia menengadah: “Tapi akulah
yang mengundang kalian ke mari.”
“Ya.”
“Jika kau tak datang, paling tidak Yan TieShan masih belum mati saat ini.”
“Apa yang kau katakan?”
“Aku tidak mengatakan apa-apa,” Huo TianQing menjawab dengan dingin.
“Hanya saja aku ingin melihat kungfu meringankan tubuh Phoenix Bersayap
Kembar Lu Xiao Feng dan ilmu ‘Ide Dalam Hati’ milikmu yang legendaris itu.”
“Haruskah kau bertarung denganku?” Lu Xiao Feng memaksakan sebuah
senyuman.
“Ya.”
Lu Xiao Feng menarik nafas. Puteri DanFeng tiba-tiba maju ke hadapan Huo
TianQing dan berseru: “Mengapa kau harus berkelahi dengannya? Kau
seharusnya berkelahi denganku!”
“Kau?”
“Aku orang yang membunuh Yan TieShan, membunuhnya dari belakang.
Mengapa kau tidak mencoba dan menguji apakah membunuh orang dari belakang
adalah satu-satunya hal yang aku ketahui!” Ia mendengus pada laki-laki itu.
Ia baru saja dihina oleh XiMen Chui Xue, dan perasaan frustrasi yang terpendam
itu harus segera dilampiaskan pada sesuatu, dan sesuatu itu adalah Huo
TianQing.
Huo TianQing memandang padanya dan menjawab dengan lembut: “Apa pun
hutang Yan TieShan padamu, aku akan membayarnya. Kau boleh pergi
sekarang.”
“Kau tidak berani bertarung denganku?”
“Bukannya aku tidak berani, tapi tidak mau.”
“Kenapa?”
“Karena kau tidak punya kesempatan bila melawanku,” Huo TianQing menjawab
dengan santai.
Wajah Puteri DanFeng menjadi merah padam karena marah, tiba-tiba ia
mengulurkan 2 jarinya yang lembut dan halus dan berusaha menusuk mata Huo
TianQing.
Walaupun jari-jarinya lembut seperti tunas yang baru tumbuh, gerakannya
benar-benar penuh dendam dan keji, belum lagi kalau memperhitungkan
kecepatannya.
Pundak Huo TianQing tidak bergerak, begitu juga dengan tangannya, tapi
tubuhnya tiba-tiba melesat mundur sejauh 20 m. Sambil mengambil jenasah Yan
TieShan, ia berkata: “Lu Xiao Feng, aku akan menunggumu pada saat matahari
terbit di Kuil Angin Hijau.”
Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, ia telah berada di luar paviliun.
Puteri DanFeng menggigit bibirnya dan menghentak-hentakkan kakinya ke atas
tanah. Ia begitu marah dan ingin menangis.
Tapi Lu Xiao Feng tiba-tiba tersenyum: “Jika kau gunakan Jarum Phoenix
Terbang, mungkin ia tak akan mampu lari.”
“Jarum Phoenix Terbang? Apa yang kau bicarakan?” Puteri DanFeng tampak
bingung.
“Senjata rahasia milikmu, Jarum Phoenix Terbang.”
Puteri DanFeng menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya mendengus:
“Kelihatannya aku bukan hanya bisa membunuh orang dari belakang, aku pun
bisa membunuh dengan senjata rahasia.”
“Senjata rahasia tetaplah senjata. Banyak orang baik-baik di dunia persilatan
yang menggunakan senjata seperti itu.”
“Tapi aku tak pernah menggunakannya, aku tak pernah mendengar ‘Jarum
Phoenix Terbang’ itu sebelumnya.”
Jawaban ini tidak membuat Lu Xiao Feng terkejut, satu-satunya alasan ia
menanyakan itu adalah untuk meyakinkan bahwa setan kecil itu memang
berdusta lagi pada dirinya.
Tapi Puteri DanFeng begitu sedih sehingga matanya tampak merah. “Aku tahu
kau marah padaku, itulah sebabnya kau menanyakan hal yang mengada-ada
padaku,” ia berkata, sambil menggigit bibirnya.
“Mengapa aku harus marah padamu?”
“Karena menurutmu seharusnya aku tidak datang ke mari, dan seharusnya juga
tidak membunuh Yan TieShan.” Sepertinya ia merasa telah dipersalahkan dan
matanya pun telah penuh digenangi air mata. Ia meneruskan dengan suara yang
keras. “Karena kau tak akan pernah faham betapa menderitanya keluarga kami
karena dia. Jika dia tidak mengkhianati kami, kami tentu punya kesempatan
untuk membangun kembali kekaisaran kami dan membalaskan dendam kakek.
Tapi sekarang… sekarang….”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya karena tak mampu menahan air matanya lagi.
Wajahnya telah bersimbah dengan air mata.
Tidak ada yang bisa diucapkan Lu Xiao Feng.
Siapa bilang air mata perempuan bukan senjata yang paling efektif? Khususnya
seorang perempuan cantik, karena air matanya benar-benar lebih berharga dari
mutiara yang paling berharga sekalipun.
Bab 7: Ketua dan Sektenya
Sinar bulan terang benderang. Fajar masih 6 jam lagi.
Lu Xiao Feng telah kembali ke losmen di mana ia menginap dan memesan semeja
penuh arak dan makanan.
“Tak perduli apa,” ia tertawa, “paling tidak aku masih bisa makan dan minum
semua yang aku inginkan sekali lagi.”
“Seharusnya kau tidur dulu.” Hua Man Lou memberi nasehat.
“Jika kau akan berduel dengan seseorang seperti Huo TianQing saat matahari
terbit nanti, bisakah kau tidur?”
“Tidak, aku tak bisa.”
“Kau tahu apa hal terbaik yang ada padamu?” Lu Xiao Feng tertawa. “Kau tak
pernah berdusta. Sayangnya, kadang-kadang kau seperti seorang pembohong
waktu kau mengatakan hal yang sebenarnya.”
“Aku tak akan dapat tidur, tapi hanya karena aku tak memahami dirinya sama
sekali!”
“Ia benar-benar seorang yang penuh teka-teki.”
“Telah berapa lama kau mengenalnya?”
“Kira-kira 4 tahun. Empat tahun yang lalu waktu Yan TieShan pergi ke TaiShan
untuk melihat matahari terbit, ia juga ikut. Seorang pencuri dan aku kebetulan
telah menetapkan tanggal dan tempat pertemuan di puncak TaiShan untuk
melihat siapa yang bisa bersalto lebih banyak.”
“Berapa baik kau mengenal dirinya?”
“Tidak tahu banyak.”
“Kau bilang, walaupun usianya masih muda, dia adalah orang yang dituakan!”
“Pernahkah kau mendengar tentang Menara Langit dan Bangau Awan, dua orang
tetua dari ShangShan?”
“Kedua tetua dari ShangShan itu telah lama dianggap sebagai Bintang Utara di
dunia persilatan. Bahkan jika aku tuli, aku pasti mendengar nama mereka.”
“Nah, kudengar dia adalah adik seperguruan mereka.”
Ekspresi wajah Hua Man Lou berubah hebat.
“Jika mereka berdua masih hidup sekarang, mungkin usia mereka sekitar 70 atau
80 tahun. Huo TianQing belum berumur 30 tahun. Bagaimana mungkin ada
selisih umur yang begitu besar di antara saudara-saudara seperguruan?”
“Ada banyak pasangan suami-isteri yang berselisih umur 40 atau 50 tahun,
apalagi cuma saudara seperguruan….”
“Jadi itulah sebabnya bahkan seorang yang sudah terkenal selama 40 tahun
seperti Shan XiYan hanya menjadi murid keponakannya.”
“Benar.”
“Dulu waktu Tetua Pemburu Langit terkenal di seluruh dunia, ia hanya mengambil
Dua Tetua dari ShangShan sebagai muridnya. Bagaimana tiba-tiba sekarang
muncul Huo TianQing?”
“Keluarga Hua dulu hanya punya 6 anak,” Lu Xiao Feng tersenyum dan
membalas, “jadi bagaimana kau sekarang tiba-tiba muncul?”
Orang tua punya anak, guru punya murid, hal seperti ini bukanlah urusan orang
lain.
Tapi ekspresi serius telah muncul di wajah Hua Man Lou.
“Aku belum pernah bertemu Shan XiYan sebelumnya. Tapi aku tahu bahwa ilmu
meringankan tubuh dan ilmu tangan kosongnya terkenal sebagai 2 keajaiban
dunia persilatan. Tak tahu bagaimana bila Huo TianQing dibandingkan dengan
dirinya.”
“Aku juga belum pernah melihat Huo TianQing bertarung. Tapi melihat
bagaimana ia mampu menggunakan ilmu seperti Burung Walet Tiga Kali
Mengaduk Air sewaktu memondong tubuh Yan TieShan yang berat tadi, aku bisa
mengatakan bahwa tidak banyak orang di dunia ini yang lebih hebat darinya.”
“Bagaimana denganmu?”
Lu Xiao Feng tidak menjawab. Ia tak pernah suka menjawab pertanyaan seperti
ini. Sebenarnya, selain dari dirinya sendiri, mungkin tak ada orang lain di dunia
ini yang tahu seberapa hebat sebenarnya ilmu kungfunya.
Tapi kali ini Hua Man Lou tampaknya terus berusaha menemukan jawabannya
dan bertanya lagi.
“Kau yakin bisa mengalahkannya?”
Lu Xiao Feng masih tidak menjawab. Ia hanya menuangkan secangkir arak lagi
dan meminumnya dengan lamban.
Hua Man Lou tiba-tiba menarik nafas. “Kau tidak yakin. Itulah sebabnya kau
berhati-hati dan tidak terlalu banyak minum arak.”
Lu Xiao Feng biasanya tidak minum arak dengan cara seperti ini.
Sejak tiba di situ, Puteri DanFeng menjadi sangat pendiam. Ia hanya duduk di
sana dan mendengarkan sepanjang waktu. Sekarang ia tiba-tiba bicara: “Kau
baru saja mengatakan bahwa kau dan seorang pencuri bertanding salto di puncak
TaiShan, siapakah pencuri itu?”
“Si Raja Pencuri!” Lu Xiao Feng tertawa kecil. “Mencuri di mana-mana dan tak
pernah bertemu tandingannya. Tapi bukan hanya korbannya tidak menjadi
marah, mereka malah merasa terhormat.”
“Mengapa?”
“Karena tidak banyak orang yang cukup sesuai baginya untuk dicuri barangnya.
Di samping itu, ia tak pernah mencuri sembarang benda. Ia hanya mencuri
karena ia bertaruh dengan seseorang bahwa ia mampu.”
Lu Xiao Feng tertawa kecil dan meneruskan.
“Suatu saat, ia bertaruh dengan seseorang bahwa ia mampu mencuri pakaian
milik isteri orang paling kikir sedunia, Cheng Fu Zhou.”
Puteri DanFeng tak tahan untuk tidak tertawa mendengar cerita itu.
“Lalu apa yang terjadi?”
“Ia memenangkan taruhan itu.”
“Lalu mengapa kau berlomba salto dengannya?”
“Karena aku tahu bahwa aku tak bisa mencuri dari dia. Dan aku benar-benar
ingin mendapatkan 50 kendi arak yang baru saja ia menangkan itu.”
“Itu benar. Gunakan kekuatanmu untuk menyerang kelemahan musuh. Mengapa
kau tidak melakukan itu terhadap Huo TianQing nanti?”
Puteri DanFeng merenung. “Kau tidak perlu bertarung mati-matian dengan dia.”
Lu Xiao Feng menarik nafas. “Ada beberapa orang di dunia ini yang, tak perduli
apa pun tipuan yang kau lakukan padanya, maka tipuan itu tak akan berhasil.
XiMen Chui Xue adalah salah seorang dari mereka, Huo TianQing juga.”
“Kau fikir dia benar-benar ingin bertarung mati-matian denganmu?”
“Karena perlakuan Yan TieShan selama ini padanya, maka ia harus membalas
budi. Ia telah lama memutuskan bahwa ia akan rela memberikan nyawanya
untuk membalas budi itu.” Ekspresi Lu Xiao Feng tampak sangat serius.
“Tapi kau kan tidak perlu bersikap seperti dia!”
Lu Xiao Feng tersenyum sekilas, seakan-akan ia tidak ingin membicarakan
masalah ini lagi. Ia bangkit dan berjalan menghampiri jendela dengan perlahanlahan.
Jendela itu telah terbuka sejak awal. Tiba-tiba ia menyadari bahwa beberapa saat
yang lalu seorang laki-laki tua yang mengenakan jubah panjang telah datang
membawa sebuah bangku dan duduk di tengah halaman sana sambil menghisap
pipa.
Malam telah larut, tapi laki-laki tua itu tidak memperlihatkan tanda-tanda
kelelahan. Ia duduk diam-diam di sana, seakan-akan ia bermaksud untuk duduk
di sana sampai matahari terbit.
“Cuaca semakin dingin,” Lu Xiao Feng tiba-tiba tersenyum dan bicara, “jika Tuan
tidak keberatan, mengapa tidak masuk dan menikmati beberapa cangkir
minuman bersama kami agar malam panjang ini berlalu lebih cepat?”
Tapi laki-laki tua itu tidak menjawab sedikit pun. Seakan-akan ia seorang yang
tuli dan tidak mendengar kata-kata Lu Xiao Feng. Lu Xiao Feng hanya tersenyum
saja.
“Tidak sopan menolak maksud baik orang lain!” Puteri DanFeng kesal dan
mendengus.
Tiba-tiba ia berlari ke jendela dan, dengan sebuah kibasan tangan, melemparkan
cangkir arak yang ada di tangannya ke arah laki-laki tua itu. Cangkir itu meluncur
dengan cepat tapi mantap, tak ada setetes pun arak di dalamnya yang tumpah.
Laki-laki tua itu tiba-tiba mendengus dingin, mengulurkan tangannya, dan
menangkap cangkir itu. Lalu ia menuangkan seluruh isi cangkir itu ke tanah dan
mulai memakan cangkir itu. Sepotong demi sepotong, ia melahap cangkir
tersebut, dan menimbulkan suara gemeretak di dalam mulutnya.
Puteri DanFeng terpana melihat kejadian itu.
“Adakah yang salah dengan orang tua ini?” ia bertanya. “Ia tidak meminum
araknya, tapi malah memakan cangkirnya?”
Mata Lu Xiao Feng berkerlap-kerlip dalam sinar bulan.
“Itu mungkin karena arak itu adalah sesuatu yang kita tawarkan,” ia berkata
sambil tersenyum. “Dan cangkir arak itu tidak.”
Pada saat itu, seorang pedagang roti isi daging berjalan memasuki halaman.
Malam sudah begitu larut, apakah ia benar-benar berharap bisa berdagang di
sini?
“Hei, kamu!” Puteri DanFeng mengedip-ngedipkan matanya. “Apakah kau
menjual roti isi daging?”
“Selama kalian punya uang, tentu saja ya!”
“Berapa harganya?”
“Sangat murah! Sepuluh ribu tael perak sepotongnya, dan tidak boleh kurang
setael pun.”
Wajah Puteri DanFeng berubah warna sedikit. “Ok, berikan aku 2 potong roti
yang berharga 10.000 tael itu.” Ia berkata. “Bawakan ke sini.”
“Baik!”
Ia baru saja mengambil 2 potong roti isi daging waktu seekor anjing berbulu
kuning melompat keluar dari sebuah sudut dan berlari menghampirinya, lalu
menggonggong dengan keras.
“Apa? Mungkinkah kau ingin membeli roti isi dagingku seperti gadis yang di sana
itu?” Pedagang itu memandang si anjing. “Apakah kau tidak tahu bahwa rotiku ini
asalnya memang dibuat untuk memukul anjing?”
Ia benar-benar mulai memukuli anjing itu dengan roti tersebut. Anjing itu segera
berhenti menggonggong dan menggigit roti itu beberapa kali. Tiba-tiba anjing itu
menyalak dan bergulingan di tanah, berubah dari anjing hidup menjadi anjing
mati.
Wajah Puteri DanFeng kembali berubah warna. “Ada racun di dalam roti itu?”
“Bukan hanya racun,” si pedagang tersenyum santai. “dagingnya sendiri adalah
daging manusia.”
“Beraninya kau menjual roti seperti ini?” Puteri DanFeng membentak dengan
marah.
“Aku hanya melakukan pekerjaanku,” si pedagang memutar-mutar biji matanya
sambil memandang Puteri DanFeng, “apakah kau membelinya atau tidak, itu
adalah urusanmu. Aku tidak memaksamu untuk membelinya.”
Wajah Puteri DanFeng hampir berubah menjadi kuning karena marahnya. Ia
hampir tak mampu untuk menahan diri agar tidak berlari maju dan menampar
orang itu beberapa kali.
Tapi Lu Xiao Feng diam-diam telah memegang tangannya. Saat itulah mereka
mendengar seseorang menarik nafas dengan perlahan: “Sinar bintang di malam
hari, untuk siapakah angin berhembus melalui jendela?”
Seorang sasterawan yang jorok dan kotor, dengan tangan terlipat di balik
punggungnya, berjalan lambat-lambat memasuki halaman itu.
Tiba-tiba ia berbelok ke arah si pedagang dan tersenyum.
“Berapa banyak yang telah kau bunuh hari ini?”
“Roti isi dagingku hanya membunuh anjing, bukan manusia,” si pedagang
memutar-mutar bola matanya lagi. “Cobalah dan kau akan lihat.”
Ia melemparkan sepotong roti kepada si sasterawan, yang segera menangkap
dan memakannya.
“Tampaknya kau mengatakan hal yang sebenarnya,” ia berkata sambil menepuknepuk
perutnya. “Bukan hanya itu, roti ini juga bisa menyembuhkan penyakit.”
“Penyakit macam apa?” Sebuah suara bertanya dari luar tembok.
“Penyakit lapar!” si sasterawan menjawab.
“Oh, aku faham. Aku pun sangat lapar nih.” Orang di luar menyahut. “Cepat,
berikan aku roti dan sembuhkan penyakitku ini.”
“Baik!”
Si pedagang mengeluarkan sepotong roti lagi dan melemparkannya ke atas
tembok. Seorang pengemis, yang tiba-tiba telah muncul di atas tembok itu,
membuka mulutnya dan menangkap roti itu dengan mulutnya dan menelannya.
Lemparan-lemparan si pedagang sangat cepat, si pengemis pun menelan roti itu
dengan sama cepatnya. Dalam sekejap mata, 7 atau 8 potong roti telah
menghilang ke dalam perut si pengemis.
“Tampaknya roti itu akhirnya bisa menyembuhkan penyakit laparmu!” si
sasterawan berkata.
The beggar frowned.
"You guys tricked me, you can't die from poison from these meat buns, but you
can die from over stuffing yourself with them!"
Si pengemis mengerutkan keningnya.
“Kalian menipuku, tak mungkin mati gara-gara racun dalam roti ini, tapi orang
memang bisa mati karena terlalu kenyang makan roti!”
“Bukan masalah besar!” Seorang lagi telah muncul di luar tembok. “Mati karena
kekenyangan? Karena kelaparan? Karena dimarahi isteri? Jangan cemas, aku
punya obatnya.”
Seorang pedagang ramuan obat-obatan, sambil membawa sebuah kotak obat
dan lonceng kecil berjalan memasuki halaman itu dengan tersandung-sandung.
Jelas ia adalah seorang cacat.
Halaman kecil yang sepi itu, seakan-akan orang-orang itu telah berencana untuk
berkumpul di situ, tiba-tiba berubah menjadi tempat yang ramai dan berisik.
Segera saja seorang pedagang alat rias wanita, pedagang barang bekas, dan
seorang penjual sayur ikut bergabung.
Mata Puteri DanFeng semakin sakit melihat semua itu. Walaupun ia tidak
memiliki pengalaman dunia persilatan yang banyak, ia sekarang menyadari
bahwa orang-orang ini datang untuk mereka.
Yang paling aneh adalah semua orang ini tetap berada di luar, berjejalan di
halaman, dan tampaknya sedikit pun tidak tertarik untuk masuk dan membuat
masalah dengan mereka.
“Menurutmu orang-orang ini datang untuk membalaskan dendam Yan TieShan?”
Puteri DanFeng tak tahan untuk tidak bertanya pada Lu Xiao Feng.
“Bagaimana mungkin Pemimpin Besar Yan punya teman-teman seperti ini?” Lu
Xiao Feng tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Mereka semua tampaknya bisa kungfu.”
“Sebuah kota selalu merupakan tempat harimau mendekam dan naga
bersembunyi.” Lu Xiao Feng menyahut. “Selama mereka tidak mengganggu kita,
kenapa kita harus mengganggu mereka dan terlibat dalam urusan mereka?”
“Sejak kapan kau menjadi orang yang tidak ingin ikut campur dalam urusan
orang lain?” Hua Man Lou tiba-tiba memotong sambil tertawa.
Lu Xiao Feng balas bergurau. “Baru sekarang.”
Suara genta penjaga malam bisa terdengar dari tempat itu. Tiga kali dentangan,
berarti hari sudah tengah malam.
{Catatan: Di kota-kota China kuno, ada penjaga-penjaga malam yang berlalulalang
di jalan sambil memukul genta kecil sebagai petunjuk waktu. Malam hari
dibagi menjadi 5 bagian yang sama, dan penjaga malam pun memukul gentanya
sesuai dengan jumlah hitungannya. Jadi, 3 dentangan berarti tengah malam.}
Laki-laki tua yang menghisap pipa tiba-tiba berdiri dan menguap: “Kenapa orang
yang mengundang kita ke sini malah belum datang?”
Ternyata ia bukan orang tuli ataupun bisu.
Puteri DanFeng jadi semakin pusing. Siapa yang mengundang orang-orang ini ke
sini? Dan untuk apa?
“Ia tentu akan segera tiba,” si sasterawan menjawab.
“Aku akan pergi melihat-lihat,” si pedagang roti menawarkan diri.
Tangannya segera beraksi kembali, melempar-lemparkan roti isi daging dari
dalam keranjangnya. Puluhan potong roti yang ia lemparkan, satu demi satu,
membentuk sebuah tumpukan yang ketinggiannya lebih dari 10 meter.
Dengan sedikit mengeluarkan tenaga, si pedagang roti pun melompat ke puncak
tumpukan roti itu seperti seekor ayam jago yang hinggap di atas pagar.
Kedudukannya mantap, tidak bergeming sedikit pun dalam terpaan angin.
Bukan hanya kemampuan tangannya yang cepat dan akurat, ilmu meringankan
tubuhnya juga termasuk kelas satu.
“Kelihatannya berkelana di dunia persilatan bukanlah hal yang mudah,” Puteri
DanFeng menarik nafas dan bergumam. “Baru sekarang aku memahami itu.”
“Paling tidak kau mengerti sekarang, itu hal yang bagus,” Hua Man Lou
menjawab sambil tersenyum.
“Dia datang!” si pedagang roti tiba-tiba berseru.
Seruannya itu seperti membangkitkan energi semua orang. Bahkan jantung
Puteri DanFeng seperti hendak melompat keluar dari tenggorokannya. Ia ingin
tahu, seperti apakah orang yang ditunggu-tunggu itu.
Tapi ia menjadi kecewa melihat kejadian selanjutnya.
Dalam fikiran dan khayalan seorang gadis muda, jika orang ini bukan seorang
jago pedang muda yang lembut dan tampan, paling tidak ia tentulah seorang
pendekar dunia persilatan yang berwibawa dan penuh kekuatan.
Tapi orang yang datang ini hanyalah seorang laki-laki tua berkepala botak
dengan raut wajah yang tirus dan muka kekuning-kuningan. Ia mengenakan
pakaian berwarna abu-abu yang terbuat dari kain kasar dan panjangnya hanya
sampai ke lutut. Di kakinya ia mengenakan kaus kaki putih dan sepatu abu-abu
yang biasa digunakan oleh seorang petani tua yang datang ke kota untuk
berjualan di pasar.
Tapi matanya berkilat-kilat. Bersinar terang dan kuat, mata itu berkerlap-kerlip
dalam sinar bulan.
Hal yang aneh adalah setiap orang di halaman itu jelas sedang menunggu
dirinya, tapi sekarang setelah ia muncul, tidak ada yang menghampiri dan
menyapanya. Mereka hanya diam-diam minggir dan memberikan jalan untuknya.
Mata laki-laki tua berkepala botak itu memandang sekelilingnya sebentar
sebelum ia tiba-tiba mulai berjalan ke arah Lu Xiao Feng.
Sepertinya ia tidak berjalan dengan cepat, tapi dalam 2 atau 3 langkah ia telah
tiba di pintu.
Pintu itu selama ini terbuka. Ia tidak mengetuk pintu, juga tidak mengatakan
apa-apa. Ia hanya, dan dengan sangat santai, duduk di hadapan Lu Xiao Feng,
mengambil kendi arak yang terdapat di lantai, dan mengendus-endus arak itu.
“Arak yang bagus.”
“Memang ini arak yang sangat bagus,” Lu Xiao Feng mengangguk.
“Dibagi setengah-setengah?”
“Boleh.”
Laki-laki tua itu tidak mengucapkan apa-apa lagi. Ia hanya mengangkat kendi
dan meneguk arak itu dengan suara decak yang ribut.
Dalam sekejap setengah isi kendi itu telah habis dan wajahnya yang kuning
berubah jadi merah, seolah-olah seluruh raganya telah kembali menjadi muda.
“Benar-benar enak,” ia berkata sambil mengusap mulutnya dengan lengan baju.
Lu Xiao Feng tidak menjawab. Ia hanya menerima kendi itu dan meneguk isinya,
tidak lebih lambat dari laki-laki tua itu, tidak lebih lambat dari siapa pun juga.
Setelah seluruh isi kendi habis, laki-laki tua berkepala botak itu tiba-tiba tertawa.
“Barang bagus! Arak bagus, teman minum di sini juga tidak jelek!”
“Hanya bila teman minum itu tidak jelek barulah araknya bagus!” Lu Xiao Feng
menjawab sambil mengusap mulutnya.
PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu: Kekaisaran Rajawali Emas,
“Tidak melihatmu selama 3 tahun ini,” laki-laki tua itu memandangnya, “dan kau
masih belum mati karena mabuk?”
“Hanya orang baik yang mati muda, orang jahat hidup selamanya. Aku sendiri
yang agak mencemaskanmu. Kau orang yang baik.”
“Siapa bilang aku orang baik?” Laki-laki tua itu melirik Lu Xiao Feng.
“Setiap orang di dunia persilatan mengatakan, bukan hanya Shan XiYan baik, ia
juga setia, ia adalah orang terbaik di dunia.”
“Kau benih kejahatan, dan aku orang baik? Itu hal yang benar-benar menarik,”
laki-laki tua itu tertawa sepenuh hatinya.
Puteri DanFeng memandang orang itu, hampir ia tidak mempercayai matanya
sendiri. Ia tak pernah membayangkan bahwa laki-laki tua yang botak, jorok dan
suka mencaci-maki ini adalah pendekar terkenal yang telapak besi kembarnya
telah mengguncangkan dunia, Shan XiYan.
Tak perduli apa, bukanlah hal yang mudah untuk disebut sebagai seorang
“pendekar”.
Tapi laki-laki tua ini benar-benar tidak mirip seorang “pendekar”. Mungkinkah itu
rahasia kesuksesannya? Puteri DanFeng tak bisa membayangkannya. Ia tiba-tiba
menyadari bahwa hal-hal yang tak mampu ia bayangkan tampaknya semakin dan
semakin banyak.
Suara tawa Shan XiYan telah berhenti terdengar. Dengan matanya yang berkilatkilat,
ia menatap Lu Xiao Feng: “Kau mungkin tidak menyangka kalau aku akan
datang mencarimu.”
“Tidak, aku memang tidak menyangka,” Lu Xiao Feng mengaku.
“Sebenarnya aku telah tahu kedatanganmu sejak di TaiYuan.”
“Bukan hal yang luar biasa,” Lu Xiao Feng tersenyum. “Bahkan jika kau tak tahu
kedatanganku, itu baru luar biasa.”
“Tapi baru sekarang aku menemuimu.”
“Kau orang yang sibuk.”
“Aku sama sekali tidak sibuk. Aku tidak datang, karena kau adalah tamu paman
guruku. Karena aku tidak mungkin bersaing dengannya untuk menjadi tuan
rumah bagimu, maka aku pura-pura tidak tahu saja.”
“Kukira karena aku telah mencukur kumisku, sehingga teman-teman lamaku
tidak mengenaliku lagi!” Lu Xiao Feng tertawa.
Shan XiYan tertawa mendengar lelucon itu. “Aku selalu menganggap kumismu itu
sangat menjengkelkan untuk dilihat!”
“Aku tak perduli kalau kau menganggapnya menjengkelkan, tapi orang lain tidak
menganggapnya demikian.” Lu Xiao Feng membalas dengan santai.
Tawa Shan XiYan berhenti lagi: “Huo TianQing adalah paman guruku, banyak
orang di luar sana yang tidak mempercayai hal ini. Tapi kau seharusnya tahu.”
“Aku tahu.”
“Orang tua aneh yang menghisap pipa itu adalah Fan-Er. Kau kenal dia?”
“Mungkinkah dia adalah Tuan Fan Da yang terkenal itu? Tuan Fan yang pipanya
hanya digunakan untuk menyerang 36 urat darah besar dan 72 urat darah kecil
lawannya itu?”
“Itulah dia.”
“Bintang Kembar dari Barat Laut terdiri dari Fan dan Jian. Mungkinkah
sasterawan kotor dan jorok di sana itu adalah pemilik ‘Sentilan Jari Dewa’, Tuan
Jian-Er yang terkenal?”
{Catatan: “Sentilan Jari Dewa”, atau “Tan Zhi Sheng Tong” adalah salah satu
ilmu kungfu paling terkenal dalam karya-karya Jin Yong.}
Shan XiYan mengangguk: “Pengemis miskin, si pedagang barang bekas,
pedagang roti serta si penjual sayur, pedagang alat rias wanita, serta penjaga
tempat ini dan orang gemuk yang menyambut tamu di pintu depan sana; mereka
bertujuh adalah saudara-saudara angkat. Ada orang yang menyebut mereka ‘7
Pendekar Kota’, sementara yang lainnya memanggil mereka ‘7 Sahabat dari Barat
Laut’.”
“Semua pendekar dan sahabat terkenal tentu sangat bersemangat malam ini

sehingga datang berkumpul di halaman yang kecil ini,” Lu Xiao Feng berkata
sambil tersenyum.
“Kau benar-benar tidak tahu apa yang mereka lakukan di sini?”
“Tidak.”
“Mereka semua berasal dari sekteku. Dilihat dari senioritas, beberapa dari
mereka adalah 2 generasi di bawah Huo TianQing.”
“Orang itu cukup beruntung,” Lu Xiao Feng tersenyum lagi.
“Enam puluh tahun yang lalu, pendiri perguruan kami menetapkan peraturan
pertama untuk Sekte Pemburu Langit, yaitu harus selalu hormat dan mematuhi
orang yang lebih dituakan. Peraturan tentang senioritas itu tidak pernah diutakatik
atau digugat.”
“Tentu saja tidak.”
“Pendiri kami mempersembahkan seluruh hidupnya untuk mempelajari ilmu
kungfu. Barulah menjelang akhir hidupnya ia mulai berkeluarga.”
“Ketua itu, si Pemburu Langit, memiliki keluarga?”
“Sangat sedikit orang di dunia persilatan yang tahu tentang peristiwa ini. Ketua
Pendiri berusia 77 tahun waktu ia akhirnya memiliki seorang putera.”
“Dan putera itu tidak lain adalah Huo TianQing?”
“Benar.”
“Aku akhirnya faham kenapa di dunia ini, walaupun usianya masih muda, ia
malah begitu dituakan.” Lu Xiao Feng menarik nafas.
“Itulah sebabnya kenapa beban di pundaknya juga begitu berat.”
"Oh."
Shan XiYan tiba-tiba mengubah sikapnya menjadi sangat bersungguh-sungguh:
“Bukan hanya ia harus melanjutkan garis keturunan Ketua Pendiri, ia juga satusatunya
orang yang bisa menjamin Sekte Pemburu Langit untuk bertahan hidup
sampai generasi berikutnya. Kami semua berhutang jiwa pada Ketua Pendiri
kami. Maka kami rela menyerahkan nyawa kami untuk meyakinkan bahwa tidak
ada sesuatu yang terjadi pada dirinya. Aku yakin kau memahami perasaan kami.”
“Ya, aku faham.”
Shan XiYan menarik nafas dalam-dalam.
“Itulah sebabnya, jika ia kebetulan mati karena sesuatu hal besok pagi, beratusratus
orang murid Sekte Pemburu Langit tidak akan bisa hidup juga.”
“Kenapa ia bisa mati?” Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya.
“Jika ia kalah darimu, walaupun engkau tidak membunuhnya pun, ia tak akan
mau hidup lagi.”
“Aku juga tahu dia orang macam apa. Tapi ia mungkin tidak akan kalah.”
“Tentu saja ia tak akan kalah.”
“Jika kebetulan ia berhasil mengalahkanku,” Lu Xiao Feng berkata, “bukankah
beratus-ratus orang murid Sekte Pemburu Langit kalian akan mendapat muka?”
“Kau temanku. Aku juga tak ingin kau kalah darinya dan merusak persahabatan
kita.”
“Kau benar-benar orang yang baik.”
Wajah Shan XiYan tampak sedikit memerah.
“Jika kalian bertarung, tak perduli siapa yang menang, hasilnya akan terlalu
mengerikan untuk dibayangkan,” Ia menarik nafas. “Setidaknya paman guru Huo
adalah kenalanmu sebelum ini, lalu kenapa hal ini harus terjadi?”
“Sekarang aku faham,” Lu Xiao Feng tersenyum. “Kau ingin aku, sebelum
matahari terbit, meninggalkan tempat ini sehingga ia tak akan menemukanku.”
Shan XiYan tidak menjawab. Tidak menjawab sama artinya dengan mengiyakan.
“Sekarang aku pun faham,” Puteri DanFeng tiba-tiba memotong dengan dingin.
“Kau mengundang semua orang ini ke sini untuk memaksanya pergi, dengan cara
ini maka Huo TianQing akan meraih kemenangan tanpa harus berkelahi, atau
kalianlah yang akan bertarung menggantikan dia. Sebentar lagi fajar tiba, maka
biarpun ia mampu mengalahkan kalian semua, ia tidak akan berada dalam
kondisi yang segar untuk bertarung dengan Huo TianQing saat fajar nanti.”
Ia menatap Shan XiYan dan tertawa dingin. “Benar-benar bukan ide yang buruk.
Mungkin hanya seorang pendekar seperti dirimu yang bisa memikirkan gagasan
seperti itu.”
Wajah Shan XiYan berubah menjadi hijau, lalu pucat sebelum ia tiba-tiba tertawa.
“Benar sekali! Benar sekali! Tapi biarpun aku, Shan XiYan, sama sekali tidak mirip
seorang ‘pendekar’, tentu saja aku tak akan melakukan sesuatu hal seperti itu!”
“Jadi hal seperti apa yang akan kau lakukan?” Puteri DanFeng bertanya. “Jika ia
tak mau pergi, lalu apa yang akan kau lakukan?”
Shan XiYan tiba-tiba bangkit dan berjalan keluar. Seluruh halaman itu, walaupun
penuh orang, benar-benar sunyi senyap. Satu demi satu, ia menatap mata setiap
orang dengan matanya yang berkilat-kilat.
“Jika ia tak pergi, lalu apa yang akan kalian lakukan?” Ia tiba-tiba bertanya.
Si pedagang roti memutar-mutar bola matanya dan menjawab dengan dingin:
“Bukankah itu sudah jelas? Jika ia tidak pergi, maka aku akan pergi.”
Shan XiYan tersenyum lagi. Tapi dalam senyuman itu seperti ada suatu kesedihan
yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata. “Jika kau pergi, aku pun pergi,” ia
mengangguk perlahan. “Setiap orang akan pergi.”
“Jika demikian, tentu tidak masalah jika aku yang pergi lebih dulu kan?” si
pedagang roti menjawab.
Ia mengibaskan tangannya dan tiba-tiba, dengan pisau yang entah kapan ia
keluarkan, menusuk ke tenggorokannya sendiri.
Bukan hanya gerakannya ini pasti dan mantap, gerakan itu juga cepat, sangat
cepat. Tapi seseorang lebih cepat darinya.
“Tak!” Bunga api memercik di halaman itu ketika pisau di tangannya patah
menjadi 2 bagian. Sesuatu, bersama dengan ujung pisau yang patah itu, jatuh ke
atas tanah.
Sesuatu itu adalah salah satu sumpit Lu Xiao Feng.
Sumpit yang satunya lagi masih ada di tangannya. Pisau itu terbuat dari baja,
tapi sumpit itu terbuat dari gading!
Mungkin tidak banyak orang yang mampu menggunakan sumpit gading untuk
mematahkan sebuah pisau baja.
Puteri DanFeng tiba-tiba menyadari kenapa Shan XiYan melakukan semua ini.
Huo TianQing tak akan mampu mengalahkan Lu Xiao Feng, orang lain mungkin
tidak tahu, tapi Shan XiYan lebih tahu tentang hal ini daripada semua orang.
Si pedagang roti menatap potongan pisau yang masih ada di tangannya dengan
tercengang. Setelah beberapa lama, tiba-tiba ia menghentakkan kakinya ke
tanah dan berseru pada Lu Xiao Feng: “Mengapa kau melakukan itu?”
“Tak ada alasan apa-apa,” Lu Xiao Feng tersenyum. “Aku hanya ingin bertanya
sesuatu.”
“Apa?”
“Kapan aku mengatakan tidak mau pergi?”
Si pedagang roti tak mampu bicara.
“Berkelahi itu sangat melelahkan dan menyulitkan saja,” Lu Xiao Feng menarik
nafas dengan malas. “Siapa yang ingin berkelahi? Lebih baik aku pergi dan
mencari tempat untuk tidur!”
Si pedagang roti menatapnya, ia seakan-akan ingin menangis, tapi di saat yang
sama juga seperti ingin tertawa.
“Bagus, Lu Xiao Feng benar-benar Lu Xiao Feng!” Tiba-tiba ia berseru. “Sejak hari
ini, bila kau ingin aku melakukan sesuatu untukmu, jika aku mengedipkan mata
sedikit saja, maka aku akan menjadi cucumu.”
“Aku tidak ingin seorang cucu sepertimu.” Lu Xiao Feng tertawa. “Selama kau
mau menurunkan harga rotimu itu sedikit saja untukku, aku akan merasa puas.”
Ia mengambil jubah merahnya yang tergantung di sisi ranjang dan menghabiskan
araknya.
“Jadi siapa yang mau ikut denganku ke sebuah desa kecil di luar kota untuk
makan daging anjing rebus di tempat Zhao si Muka Bopeng?”
“Aku.” Hua Man Lou berkata sambil tersenyum.
Tuan Fan tiba-tiba membanting bungkusan tembakaunya. “Aku juga.”
“Kalau dia ikut, maka aku juga,” Tuan Jian ikut-ikutan bicara.
“Aku juga ikut!” si pedagang roti berteriak sekuat-kuatnya.
“Kau hanya menjual roti pemukul anjing, dan kau masih berani makan daging
anjing?” Tuan Jian berkata sambil tertawa. “Apakah kau tidak takut kalau anjinganjing
itu akan balas dendam saat berada di dalam perutmu?”
Si pedagang roti meliriknya dengan dingin. “Kematian tidak membuatku takut,
apalagi itu!”
“Haha, bagus!” Shan XiYan tertawa. “Mari kita semua pergi dan makan daging
anjing itu. Siapa yang tidak ikut maka dia adalah anak haram kura-kura!”
Hua Man Lou tersenyum.
“Tampaknya masih ada gunanya berbuat baik,” ia berkata dengan lambat.
“Sesekali memang tak apa-apa,” Lu Xiao Feng menjawab, “tapi aku tak mau
membiasakan diri berbuat baik.”
“Kenapa tidak?” Hua Man Lou tak tahan untuk tidak bertanya.
“Hanya orang baik yang mati muda, aku yakin kau pernah mendengar pepatah
ini.” Lu Xiao Feng berkata dengan muka yang dibuat kaku.
Walaupun ia memasang muka kaku, matanya telah digenangi dengan air mata.
Puteri DanFeng memandang mereka sebentar, sebelum dengan tiba-tiba, dan
dengan sangat perlahan, menarik nafas dan berkata pada dirinya sendiri: “Siapa
pun yang mengatakan tidak ada gunanya berbuat baik adalah anak haram kurakura.”
______________________________
Daging anjing telah terjual habis. Tapi mereka tidak perduli.
Mereka bukannya benar-benar ingin makan daging anjing. Yang mereka inginkan
adalah emosi yang lebih mampu menghangatkan tubuh daripada sekedar daging
anjing. Tidak ada pengiring arak yang lebih baik di dunia ini daripada emosi itu.
Apalagi, saat matahari terbit, seorang penunggang kuda datang dan
menyampaikan sehelai surat dari Huo TianQing.
“Fajar akan selalu tiba, apa salahnya bila persoalan hari ini diselesaikan besok?
Hari esok selalu tiba, apa salahnya bila persoalan besok diselesaikan hari esoknya
lagi? Orang lain tidak menggangguku, kenapa aku harus mengganggu orang lain?
Masalah Rajawali Emas, bisa diselesaikan kapan saja. Bila suatu hari nanti Puteri
datang berkunjung, maka saat itu akan menjadi hari berakhirnya pengembaraan.
Sekali harta yang indah kehilangan kilaunya, ia menjadi bunga-bunga kuning di
hari esok dan bersinar berabad-abad. Kesetiaan pribadi hanyalah 2 kata.
TianQing mengucapkan selamat jalan.”
Baru menerima sehelai surat ini saja seperti telah minum beratus-ratus cangkir
arak selama 3 hari berturut-turut, apalagi dengan adanya emosi yang
menghangatkan hati yang tak akan mungkin bisa didinginkan oleh hujan badai
sekali pun.
______________________________

Tapi semua yang ia tinggalkan telah berubah karenanya.
Semua pohon dan daun di hutan telah berubah warnanya seperti giok, dan darah
pada mayat-mayat itu pun telah tersapu air hujan. Membuat hampir mustahil
untuk menemukan luka fatal di tubuh mereka.
Tapi dari selusin atau lebih jumlah orang-orang itu, tidak satu pun yang masih
hidup.
Waktu mereka menemukan mayat-mayat itu, SiKong ZhaiXing pun telah
menghilang.
“Meninggalkan mayat-mayat ini untuk kita, apakah dia ingin kita yang
membereskan kekacauan ini?” ShangGuan DanFeng berkomentar dengan nada
pahit.
“Ia tidak membunuh orang-orang ini,” Lu Xiao Feng menjawab. “Ia sangat jarang
membunuh.”
“Jika bukan dia, lalu siapa?” ShangGuan DanFeng bertanya.
“Orang yang memerintahkan mereka membakar tempat itu.”
“Jadi menurutmu, ia takut kalau kita mungkin berhasil mengetahui siapa dirinya
dari mereka, maka ia membunuh mereka untuk melindungi diri?”
Lu Xiao Feng mengangguk. Wajahnya kaku dan keras. Dari tiga hal yang paling ia
benci, pembunuhan adalah yang nomor satu.
“Tapi ia bisa saja melepaskan orang-orang ini, kenapa ia harus membunuh
mereka?” ShangGuan DanFeng bertanya.
“Karena selusin lebih orang yang tangan kanannya buntung akan sangat mudah
ditelusuri jejaknya.”
Puteri DanFeng menarik nafas. “Sebenarnya, membunuh semua orang ini juga
sama sekali tidak berguna, kita tetap saja tahu dari mana mereka berasal.”
“Kau tahu?”
“Kau tak tahu kalau mereka berasal dari Paviliun Baju Hijau?”
Lu Xiao Feng tidak menjawab. Sesudah terdiam beberapa lama, ia menjawab
dengan lambat: “Aku hanya bisa memperkirakan satu hal.”
“Dan apakah itu?”
“Aku memperkirakan kau akan segera lari ke Paviliun Mutiara dan Intan dan
menyuruh orang-orang di sana untuk datang ke sini dan membereskan mayatmayat
ini.”
ShangGuan DanFeng meliriknya sebelum akhirnya menundukkan kepalanya.
“Apa lagi yang engkau perkirakan?” Gadis itu bertanya, sambil menggigit
bibirnya.
“Sesudah itu, kau tentu akan menyuruh orang-orang itu untuk menyiapkan air
mandi untukmu, lalu kau akan mengambil sebuah kamar yang nyaman dan
bersih dan tidur nyenyak.”
Ia tersenyum kecil dan meneruskan.
“Jangan lupa, tempat itu sekarang sudah menjadi milikmu.”
______________________________



Load disqus comments

0 komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top