Selasa, 03 April 2012

Pendekar 4 Alis - Kekaisaran Rajawali Emas 3

Khulung

Badai mulai mengamuk saat tengah hari, ketika setiap orang telah mabuk.
“Belum pergi sebelum kecanduan.” Seperti kata pepatah itu, setelah mabuk
barulah mereka pergi.
Lu Xiao Feng mabuk tapi tidak terlalu mabuk, hampir kecanduan tapi tidak benarbenar
kecanduan, bahkan ia sendiri tak tahu apakah ia benar-benar mabuk atau
tidak. Ia tidak berbuat apa-apa selain berdiri di dekat jendela sambil melihat
badai yang mengamuk di luar sana.
Puteri DanFeng memandangnya beberapa lama.
“Jika kau tidak pergi, apakah semua orang itu akan mati?” Ia tiba-tiba bertanya.
Lu Xiao Feng diam. Diam untuk waktu yang lama.
“Apakah kau mengerti arti kata pepatah: ‘ada yang harus, ada yang tidak’?” Ia
menjawab dengan lambat.
“Tentu saja aku faham. Artinya, jika kau yakin hal itu seharusnya tidak dilakukan,
maka tidak perduli apa yang orang lain lakukan padamu, baik itu
mengganggumu, mengancammu, bahkan jika mereka menodongkan pisau ke
lehermu, kau tak akan pernah melakukannya; tapi jika kau yakin hal itu harus
dilakukan, biar pun kau akan kehilangan nyawamu, kau tetap akan
melakukannya.”
Lu Xiao Feng mengangguk.
“Itulah sebabnya kenapa ada orang yang rela menelan arang yang membara
untuk menolong sahabatnya dan kenapa ada pula orang yang menggunakan
sebuah gada seberat 40 kilogram untuk membunuh seorang tiran.”
{Catatan: Lu Xiao Feng mengambil 2 cuplikan sejarah di sini. Yang pertama
adalah tentang usaha pembunuhan terhadap Qing Shi Huang Di, kaisar pertama
China, yang hampir saja mengenai kereta kudanya. Peristiwa itu didalangi oleh
Xiang Liang, paman Xiang Yu yang termasyur, yang akhirnya mampu mengakhiri
kekuasaan dinasti Qing. Yang kedua adalah dari kisah Feng Sheng Bang.}
“Itulah sebabnya Huo TianQing rela membalas budi Yan TieShan dengan
nyawanya,” Puteri DanFeng segera menyambung, “dan karena itu pulalah Shan
XiYan dan orang-orangnya tidak mengedipkan mata sedikit pun untuk
menggunakan nyawa mereka buat melindungi Huo TianQing.”
“Tidak perduli apa pun yang terjadi, selama mereka mengingat 2 frasa kata
pepatah tadi, mereka tak akan mengkhianati 2 kata ini: kesetiaan dan
kepercayaan.”
“Tapi di dunia ini ada berapa banyak orang yang benar-benar tidak mengkhianati
2 kata itu?”
Dengan cangkir dalam genggaman tangannya, Hua Man Lou bergumam: “Sekali
harta yang indah kehilangan kilaunya, ia menjadi bunga-bunga kuning di hari
esok dan bersinar berabad-abad. Kesetiaan pribadi hanyalah 2 kata… hebat, Huo
TianQing memang hebat! Aku hampir saja memandang rendah dirinya.”
Ia mengangkat cangkirnya dan meneguk arak di dalamnya dengan gembira,
sepertinya ia sendiri pun telah mabuk.
“Sayang sekali peristiwa yang menimpa Su ShaoYing telah terjadi. Ia masih
muda. Ia seharusnya tidak mati, seharusnya belum mati….”
Suaranya semakin lemah dan lemah. Meletakkan kepalanya di atas meja,
tampaknya ia telah tertidur lelap.
Puteri DanFeng diam-diam berjalan ke jendela dan menggenggam tangan Lu Xiao
Feng dalam tangannya sendiri.
“Apakah kau masih marah padaku?” Ia bertanya dengan suara yang lembut.
“Kapan aku marah padamu?”
Puteri DanFeng tersenyum dan menundukkan kepalanya sedikit secara
menggoda.
“Apakah kau takut menemukan orang yang keliru hari ini?” Ia bertanya perlahan.
Nafasnya lembut, jari-jarinya terasa sedikit gemetar, dan rambutnya membawa
aroma yang lebih harum daripada bunga-bunga segar.
Lu Xiao Feng mungkin seorang laki-laki sejati, dan mungkin juga tidak, tapi ia
tetaplah seorang laki-laki.
Seorang laki-laki yang sedang terhuyung-huyung di tepian samudera
kebahagiaan.
Di luar sana, hujan terus turun, seperti tirai air yang rapat.
Di dalam sini suasana sepi dan gelap, seolah-olah hari telah senja.
Jika kau melihat ke dalam ruangan itu lewat pintunya yang terbuka di bagian
belakang, maka kau bisa melihat sebuah ranjang baru.
Lu Xiao Feng tiba-tiba menyadari bahwa jantungnya berdebar-debar tak keruan,
tiba-tiba ia juga menyadari bahwa jantung ShangGuan DanFeng pun berdebardebar
tak keruan.
“Jantungmu berdebar-debar.”
“Jantung siapa yang berdebar lebih kencang?”
“Siapa yang tahu?”
“Aku akan menyentuh jantungmu, dan kau menyentuh jantungku….”
Tiba-tiba, di antara suara hujan badai yang seperti suara puluhan ribu ekor kuda
yang berlarian ke sana ke mari, terdengar suara kaki kuda di luar sana. Kira-kira
selusin penunggang kuda sedang mendekati tempat itu dengan kecepatan tinggi
walaupun berada di tengah hujan badai.
Para penunggang kuda itu berbaju hijau, dan memakai topi bambu berwarna
putih. Ketika mereka lewat di depan jendela, tiba-tiba mereka semua
mengangkat tangan.
Terdengar suara wus, wus beberapa kali, suaranya lebih nyaring daripada suara
tetesan hujan dan lebih cepat daripada suara derap kaki kuda. Beberapa larik
sinar hitam bisa terlihat, ada yang meluncur masuk ke ruangan itu lewat jendela,
ada yang mengenai dinding luar.
Lu Xiao Feng memiringkan tubuhnya dan menarik Puteri DanFeng ke samping
jendela.
Tapi Hua Man Lou, yang sedang berbaring di atas meja, bangkit dan berseru:
“Guntur Peledak!”
Ia belum menyelesaikan kalimatnya ketika, dengan suara letusan yang
memekakkan telinga, ke mana pun sinar hitam itu melayang, baik di dalam atau
di luar kamar, meledak menjadi nyala api setinggi beberapa puluh meter. Nyala
api berwarna merah darah yang disertai dengan sedikit warna hijau.
“Kalian berdua keluar dari sini, aku akan menyelamatkan si Muka Bopeng Zhao!”
Lu Xiao Feng berseru.
Si Muka Bopeng Zhao telah pergi tidur, tadi mereka mendengar suara
dengkurnya.
Tapi api seolah-olah menghalangi jalan mereka ke pintu, bahkan dinding luar pun
terbakar walaupun terus disiram air hujan.
Hua Man Lou memegang tangan Puteri DanFeng dan menariknya ke luar. Para
penunggang kuda itu telah berlari menjauh. Suara tawa mereka yang menggila
bisa terdengar di tengah derasnya air hujan beserta sebuah pesan dari salah
seorang dari mereka.
“Lu Xiao Feng! Ini hanya peringatan kecil! Jika kau tidak mau menerima
kenyataan dan segera berhenti, maka kami akan meyakinkan bahwa tidak ada
orang yang bisa menguburkan mayat kalian!”
Saat kata-kata terakhir terdengar, para penunggang kuda beserta kudanya itu
telah menghilang di balik tirai tetesan air hujan.
Berpaling ke belakang, warung kecil milik si Muka Bopeng Zhao telah ditelan
seluruhnya oleh api. Lu Xiao Feng tidak terlihat di mana-mana.
ShangGuan DanFeng mengkertakkan giginya dan menoleh ke arah Hua Man Lou:
“Kau tunggu di sini, aku akan masuk untuk mencarinya.”
“Jika kau masuk ke sana sekarang, kau tak akan bisa keluar.” Hua Man Lou
menjawab.
“Tapi dia…..”
“Jangan khawatir,” Hua Man Lou tersenyum. “Ia akan keluar. Bahkan api yang
lebih besar dari ini pun tidak mampu membunuhnya.”
Saat itu juga, dari kejauhan, tiba-tiba terdengar serentetan suara tangisan dan
jeritan yang mengerikan, seperti suara segerombolan hewan yang terkurung
dalam perangkap. Tapi suara-suara jeritan itu segera berhenti dengan cepat.
Setelah suara jeritan itu berhenti, suara ringkik kuda yang ketakutan yang
tadinya tertutupi oleh suara jeritan itu sekarang bisa terdengar.
Raut wajah ShangGuan DanFeng berubah secara dramatis: “Mungkinkah orangorang
itu telah menemui kematian di tangan orang lain?”
“Bum!” Tiba-tiba sebuah lubang muncul di atap rumah yang ditelan api itu…
seperti sebuah peluru meriam, seseorang terbang keluar dari lubang itu dan, saat
melayang di udara, di tengah hujan yang deras, bersalto sekali dan mendarat di
atas tanah. Sambil bergulingan di tanah, orang itu memadamkan api di
tubuhnya, tapi pada pakaian dan rambutnya ada beberapa bagian yang telah
hangus dimakan api.
Tapi ia tidak perduli sama sekali dan melompat bangkit. Orang itu tak lain tak
bukan adalah Lu Xiao Feng.
“Tampaknya kau benar-benar tak bisa membakar orang ini sampai mati!”
ShangGuan DanFeng menarik nafas dan bergumam sendiri.
“Yah, benar-benar bukan tugas yang mudah bila ingin membakarku sampai
mati.” Lu Xiao Feng sepakat.
Ia mungkin tersenyum, tapi wajahnya benar-benar hitam karena asap.
Sambil memandang wajahnya, ShangGuan DanFeng tertawa. “Tapi kau dulunya
memiliki 4 alis mata, sekarang kau hampir tidak punya satu pun!”
“Bukan masalah jika semua alis mataku hilang,” Lu Xiao Feng menjawab dengan
santai. “Sayangnya kendi-kendi arak itu….”
“Di mana si Muka Bopeng Zhao?” Hua Man Lou tiba-tiba memotong.
“Tak tahu.”
“Ia tidak ada di dalam?”
“Tidak.”
Wajah ShangGuan DanFeng berubah lagi.
“Mungkinkah dia juga anggota Paviliun Baju Hijau? Mungkinkah ia berkomplot
dengan orang-orang itu sejak awal? Kalau tidak, bagaimana mereka bisa tahu
kau ada di sini?”
Ia meneruskan dengan nada yang pahit: “Kau mengambil resiko untuk
menyelamatkan dirinya, dan karena itu alis matamu hangus terbakar. Tapi
ternyata ia hanya orang seperti itu.”
“Aku hanya tahu kalau dia bisa membuat daging anjing yang rasanya paling
enak.”
“Dan kau tidak tahu apa-apa lagi tentang dirinya?”
“Dan aku tak tahu apa-apa lagi tentang dirinya.”
ShangGuan DanFeng hanya bisa melotot padanya dan menarik nafas.
“Kenapa orang lain mengatakan bahwa kau punya 2 otak?” Ia bergumam pada
dirinya sendiri. “Menurutku, ia bahkan….”
Ia tiba-tiba berhenti, karena ia tiba-tiba melihat seseorang berjalan menghampiri
mereka dalam derasnya air hujan.
Seorang yang bertubuh sangat besar dan jangkung, mengenakan sebuah topi
bambu dan membawa sebatang tongkat bambu di pundaknya. Di tongkat itu
tergantung beberapa macam benda, ia tak bisa menebak benda apa saja itu.
Tapi ia tahu bahwa orang ini tak lain tak bukan adalah si Muka Bopeng Zhao.
Lu Xiao Feng tersenyum.
“Kau tak boleh semarah itu pada semua orang,” ia menegur. “mungkin orang
jahat di dunia ini tidak sebanyak yang kau kira, masih ada….”
Ia juga tiba-tiba berhenti, karena ia telah melihat bahwa benda-benda yang
tergantung di tongkat bambu si Muka Bopeng Zhao adalah potongan tangan.
Tangan manusia. Walaupun darahnya tersapu oleh air hujan, tapi jelas tangantangan
itu baru saja dipotong. Tiga belas atau empat belas potong tangan, terikat
oleh sehelai sabuk, tergantung di tongkat bambu tersebut.
Di ikat pinggang si Muka Bopeng Zhao ada sebilah pisau, pisau tukang jagal,
yang biasa digunakan untuk membunuh anjing.
“Ternyata kau bukan hanya bisa membunuh anjing, tapi juga manusia!” Lu Xiao
Feng berkata sambil memandangnya dengan heran.
Si Muka Bopeng Zhao tersenyum mendengar komentar itu.
“Aku tidak tahu cara membunuh anjing, aku hanya membunuh manusia.”
Lu Xiao Feng memandangnya lagi selama beberapa saat.
“Kau bukan si Muka Bopeng Zhao.” Ia akhirnya menarik nafas.
“Siapa yang mengatakan aku adalah si Muka Bopeng Zhao?” Orang itu tertawa.
Bila tertawa, selain mulutnya yang besar itu terbuka sedikit, tidak ada yang
berubah di mukanya.
“Siapa kau?” Lu Xiao Feng bertanya.
Mata orang itu berkilat-kilat mendengar pertanyaan tersebut.
“Kau juga tidak tahu siapa aku? Wah, kurasa keahlian menyamarku sudah jadi
yang terbaik di dunia sekarang.”
Lu Xiao Feng memperhatikannya lagi, tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak.
“Sayangnya keahlianmu bersalto masih tidak sebanding…..”
“Orang ini adalah pencuri kecil yang barusan kau ceritakan itu?” ShangGuan
DanFeng bahkan tidak menunggu ucapannya selesai sebelum berseru.
“Benar.” Orang itu menarik nafas. “Aku orang yang bertanding salto dengan dia,
SiKong ZhaiXing. Tapi aku bukan pencuri kecil, aku pencuri besar!”
“Aku tahu,” ShangGuan DanFeng menjawab dengan manis. “Bukan hanya kau
seorang pencuri besar, kau adalah si Raja Pencuri! Kau tidak punya tandingan di
dunia!”
“Aku bukannya mau menyombongkan diri tentang hal ini,” SiKong ZhaiXing
berkata, sambil membusungkan dadanya. “Bila kau bicara tentang mencuri,
bahkan Lu Xiao Feng yang di sana itu takut melawanku. Sekarang katakan, siapa
yang mau bertanding denganku?”
“Kau bisa menyamar jadi siapa saja, kenapa harus jadi si muka bopeng tukang
jagal anjing?” ShangGuan DanFeng bertanya.
“Wah, itu ada alasannya,” SiKong ZhaiXing tertawa dan menjawab. “Kau tahu,
jika kau menyamar jadi orang bopeng, maka sangat sukar bagi orang lain untuk
melihat samaranmu.”
“Kenapa?”
“Kapan terakhir kalinya kau melihat ada orang yang memperhatikan muka
bopeng orang lain dengan teliti?”
ShangGuan DanFeng tertawa.
“Jadi ada alasannya kenapa menyamarkan diri seperti itu ya?”
“Tentu saja.”
“Kapan kau tiba di sini?” Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya.
“Dua hari yang lalu.”
“Untuk apa?”
“Menunggumu!”
“Menungguku?”
“Karena jika kau ingin mencari si tua Yan, ini tentu tempat yang harus kau lewati.
Di samping itu, sekarang kau berada di daerah TaiYuan, tak mungkin kau tak
akan datang dan mencicipi sedikit daging anjing si Muka Bopeng Zhao.”
Ia menarik nafas dengan pasrah.
“Bahkan aku pun harus mengakui bahwa daging anjing rebus ini tak ada
tandingannya di dunia,” ia meneruskan.
“Itulah sebabnya kau mengatakan bahwa daging anjing telah habis terjual,
karena kau khawatir hal itu akan menyingkap identitasmu yang sebenarnya.”
“Tak perduli apa,” SiKong ZhaiXing menjawab, sambil tertawa, “paling tidak aku
akhirnya bisa menipumu, setan.”
“Jadi untuk apa kau menungguku?”
“Apa yang biasa aku lakukan?”
“Kau ingin mencuri dariku?”
“Selama kau bisa mengatakannya, aku bisa mencurinya!” SiKong ZhaiXing
menyombongkan diri.
“Apa yang akan kau curi dariku?”
“Kau benar-benar ingin tahu?”
“Jika kau tak berani mengatakannya, aku tak akan memaksamu,” Lu Xiao Feng
menjawab dengan santai.
“Kenapa aku harus takut mengatakannya?” SiKong ZhaiXing gusar dan
menatapnya dengan marah.
“Jadi apa yang ingin kau curi?” ShangGuan DanFeng akhirnya mendesak dan
bertanya.
“Kau.”
Mata ShangGuan DanFeng terbelalak heran.
“Seseorang menawarkan hadiah 20.000 tael perak bila aku mencurimu.”
“Tak mungkin aku bernilai 20.000 tael perak….” ShangGuan DanFeng belum
menyelesaikan ucapannya, karena mukanya telah merah hingga ke telinga.
“Tapi alasan orang itu menginginkan aku mencurimu bukanlah alasan seperti
yang engkau pikirkan,” SiKong ZhaiXing tertawa.
Dengan wajah yang masih merah padam, ShangGuan DanFeng tak tahan untuk
tidak berseru: “Bagaimana kau tahu alasan yang aku pikirkan?”
SiKong ZhaiXing mengedip-ngedipkan matanya, tapi tidak menjawab.
“Apa yang diinginkan orang itu?” ShangGuan DanFeng bertanya. “Siapa orang
itu?”
SiKong ZhaiXing masih tidak menjawab.
“Ia tak akan memberitahunya,” Lu Xiao Feng menarik nafas. “Dengan profesinya,
jika ia memberitahukan rahasia majikannya, lalu siapa lagi yang mau datang
memberinya pekerjaan?”
“Pencuri juga punya majikan yang memberikan mereka pekerjaan?” ShangGuan
DanFeng bertanya.
“Sudah kubilang, dia berbeda. Ia tak pernah mencuri barang sembarangan.”
“Tapi aku masih harus makan!” SiKong ZhaiXing menambahkan. “Itulah
sebabnya aku hanya mencuri bila orang datang kepadaku dan meminta
bantuanku dengan imbalan uang yang amat besar.”
“Hanya saja tidak banyak orang yang mampu menawarkan uang yang cukup
untukmu.”
“Benar, sangat sedikit.”
“Maka, biarpun tidak kau beritahukan, aku tahu siapa yang menyewamu kali ini.”
“Apakah kau tahu atau tidak, itu adalah urusanmu. Apakah kuberitahukan atau
tidak, itu adalah urusanku.”
“Tak perduli apakah aku tahu atau tidak, kau tak akan memberitahu, kan?”
“Benar.”
“Lalu kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran dan memberitahuku tentang rahasia
ini?”
“Kau mengambil resiko untuk menyelamatkanku dalam kebakaran tadi, dan
hampir kehilangan alis matamu karenanya,” SiKong ZhaiXing menarik nafas.
“Bagaimana aku tega mencuri temanmu ini?”
“Kelihatannya kau bukannya tak bisa diperbaiki.”
“Benar lagi.”
“Jika kau tega, apakah kau benar-benar bisa mencuriku?” ShangGuan DanFeng,
tak mampu menahan perasaannya lagi, memotong dengan suara yang keras.
“Jangan lupa,” SiKong ZhaiXing menyombongkan dirinya. “aku adalah si Raja
Pencuri! Tak ada di dunia ini yang tak bisa kucuri.”
“Aku ingin mendengar bagaimana kau merencanakannya.” ShangGuan DanFeng
mendengus.
“Pernahkah kau mendengar ada tukang obat yang memberitahukan orang lain
tentang rahasia pekerjaannya?”
“Tidak.”
“Nah, ini juga rahasia pekerjaanku,” SiKong ZhaiXing berkata. “maka tidak akan
kuberitahukan padamu.”
ShangGuan DanFeng melotot padanya dengan marah.
“’Sepuluh muka bopeng, 9 orang aneh’, kau memang si muka bopeng!” Ia tibatiba
berkata.
“Siapa yang mengatakan itu?” SiKong ZhaiXing meliriknya dan bertanya.
“Aku! Jika tidak, robeklah topeng muka bopengmu itu dan biarkan aku melihat
seperti apa tampangmu itu!” ShangGuan DanFeng menjawab.
“Itu tidak mungkin!”
“Kenapa tidak?”
“Bagaimana jika kau jatuh cinta padaku? Lalu Lu Xiao Feng akan mengajak
bertanding salto lagi! Terakhir kali kami bertanding salto, aku jadi sakit dan
mual-mual, aku tak mau mengalaminya lagi.”
Wajah ShangGuan DanFeng memerah dan, walaupun berusaha ditahan, ia pun
tertawa.
“Tangan-tangan siapa itu?” Lu Xiao Feng bertanya.
“Orang-orang yang membakar rumah.”
“Kau mengejar mereka?”
“Aku kan pura-pura jadi si Muka Bopeng Zhao. Jika seseorang membakar
rumahnya, paling tidak aku harus membantunya mendapatkan sedikit keadilan.”
“Jadi kau potong tangan mereka supaya mereka tidak bisa membakar rumah
orang lagi.” ShangGuan DanFeng menarik kesimpulan.
“Aku juga berencana menjual kuda-kuda mereka untuk diberikan kepada si Muka
Bopeng Zhao.”
“Di mana orang-orang itu sekarang?” Lu Xiao Feng bertanya.
“Di hutan sana, aku meninggalkan mereka di sana khusus untukmu.”
"Untuk apa?"
“Mereka berusaha membakarmu sampai mati,” SiKong ZhaiXing menjawab,
“apakah kau tidak ingin memeriksa mereka dan menanyakan alasannya?”
Bab 8: Pembalasan Dendam dan Musuh Yang Tangguh
Hujan badai seperti anak badung yang berlari masuk ke kamar rias wanita kaya
di tengah malam, ia datang dengan tiba-tiba dan pergi dengan lebih cepat lagi.
Lu Xiao Feng bersandar di bak air panas dan menutup matanya. Sesudah basah
kuyup karena hujan, benar-benar nyaman rasanya mendapatkan sebuah tempat
untuk menikmati mandi air panas.
Ia merasa bahwa peruntungannya cukup baik. Di atas perapian yang ada di
sisinya terdapat sebuah ketel perunggu yang besar dan air di dalamnya sudah
hampir mendidih. Ruangan itu hampir penuh dengan uap, menimbulkan perasaan
aman dan nyaman.
Hua Man Lou telah mandi dan mungkin sedang tidur sekarang. ShangGuan
DanFeng mungkin berada di Paviliun Mutiara dan Intan.
Walaupun gadis itu dalam hatinya tidak ingin pergi, ia masih tetap pergi,
tampaknya ia sangat penurut terhadap Lu Xiao Feng.
Ini juga membuat Lu Xiao Feng merasa sangat puas, ia menyukai gadis yang
mau mendengarkan.
Tapi tetap saja ia merasa tidak terlalu puas dengan keseluruhan persoalan ini,
seakan-akan ada sesuatu dalam semua ini yang tidak cocok. Tapi ia tak bisa
membayangkan di mana adanya ketidak-sesuaian itu.
Sebelum mati, Yan TieShan telah mengakui kejahatannya di masa lalu, dan Huo
TianQing telah setuju untuk mengesampingkan seluruh persoalan ini.
Janjinya kepada Kaisar Rajawali Emas paling tidak, secara teknis, telah selesai
sepertiganya, dan penyelesaiannya pun berlangsung mulus.
Jadi apa yang salah?
Hujan telah lama berhenti, sesekali suara tetesan air hujan masih bisa terdengar,
angin malam pun terasa segar dan bersih.
Lu Xiao Feng menarik nafas dan memutuskan bahwa ia harus menghentikan
pikiran-pikiran gila ini dan belajar menjadi orang yang tahu kapan harus merasa
puas.
Saat itulah ia mendengar suara pintu dibuka.
Pendengarannya masih baik, pintu itu memang dibuka oleh seseorang.
Tapi ia tak yakin apakah penglihatannya baik atau tidak, apa yang ia lihat
berjalan masuk adalah empat orang gadis.
Empat orang gadis muda dan cantik. Bukan hanya cantik, tapi juga agung,
mengenakan pakaian yang membuat tubuh mereka yang ramping semampai
tampak semakin menggoda.
Lu Xiao Feng menyukai wanita-wanita yang memiliki pinggang yang ramping dan
kaki yang jenjang, dan keempat wanita itu kebetulan memiliki pinggang yang
sangat ramping dan kaki yang sangat jenjang.
Sambil tersenyum, mereka berjalan masuk dengan perlahan, seakan-akan sama
sekali tidak ada seorang laki-laki telanjang di dalam bak mandi di tengah ruangan
itu.
Tapi keempat pasang mata yang indah dan cemerlang itu semuanya menatap
wajah Lu Xiao Feng.
Lu Xiao Feng bukan orang yang pemalu, tapi saat itu wajahnya seperti terbakar,
ia tidak butuh cermin untuk mengetahui bahwa wajahnya telah memerah.
“Kudengar Lu Xiao Feng punya 4 alis mata, tapi kenapa aku hanya melihat 2?”
Seseorang tiba-tiba tertawa.
“Kau bisa melihat 2? Aku bahkan tidak melihat satu pun.” Yang satunya lagi
menjawab sambil tertawa.
Yang pertama bicara adalah gadis yang paling jangkung dengan sepasang mata
yang panjang dan sempit seperti mata burung phoenix. Bahkan bila ia sedang
tertawa, tawanya seperti mengandung nafsu membunuh yang keji.
Orang bisa mengatakan bahwa ia bukanlah jenis wanita yang mau membantu
laki-laki mandi.
Tapi ia berjalan menghampiri dan mengambil ketel di atas perapian itu.
“Airnya tampaknya telah sedikit dingin,” ia tersenyum. “Biar kutambahkan sedikit
air panas untukmu.”
Lu Xiao Feng menatap uap yang dikeluarkan oleh air di dalam ketel itu dan
sedikit bergidik. Tapi dalam kondisinya sekarang, telanjang seperti bayi yang
baru dilahirkan, bangkit dan berdiri di hadapan empat orang wanita tetaplah
keterlaluan.
Tapi jika ketel besar berisi air mendidih itu dituangkan kepadanya, rasanya tentu
sangat tidak enak.
Saat Lu Xiao Feng sedang bingung untuk memutuskan apakah ia akan bangkit
atau tetap duduk di dalam bak, tiba-tiba ia menyadari bahwa ia tidak bisa
bergerak walaupun ia ingin.
Gadis yang belum bicara sepatah kata pun, gadis yang tampaknya paling
pendiam dan lembut, tiba-tiba telah mengeluarkan, dari dalam lengan bajunya,
sebuah pisau belati sepanjang hampir setengah meter yang tampak berkilauan
dan melintangkannya di lehernya.
Perasaan yang dingin dan gelap dari belati itu membuat daerah belakang telinga
hingga pundaknya terasa penuh dengan keringat dingin.
Gadis yang jangkung dan bermata seperti burung phoenix mulai menuangkan air
mendidih ke dalam baknya.
“Jaga sikapmu, kami kakak-beradik mungkin hangat, lembut, sopan dan
pendiam, tapi kami tak pernah berkedip saat membunuh.” Ia berkata dengan
santai. “Ketel air ini, jika dituangkan ke tubuh seseorang, walaupun ia tidak mati,
ia tentu akan kehilangan selembar kulitnya.”
Ia terus menuangkan air ke dalam bak sambil bicara.
Air di dalam bak itu awalnya memang sudah cukup hangat, tapi sekarang pasti
sudah cukup untuk membuat orang menjerit.
Keringat mulai mengucur di kepala Lu Xiao Feng, tapi baru seperempat air di
dalam ketel yang telah dituangkan.
Jika seluruh isi ketel telah dituangkan, mungkin orang di dalam bak juga akan
kehilangan selembar kulitnya.
Lu Xiao Feng tertawa ------ ia benar-benar tertawa.
Mata gadis yang menuangkan air itu menatapnya dengan tajam.
“Tampaknya kau merasa nyaman.” Ia berkata dengan dingin.
Lu Xiao Feng memang kelihatan nyaman.
“Aku hanya menganggap ini lucu,” ia menjawab sambil tersenyum.
“Lucu? Apanya yang lucu?” Gadis itu menuangkan air dengan lebih cepat.
Tapi Lu Xiao Feng tetap tersenyum.
“Bila lain ketika aku bercerita pada orang bahwa, waktu aku sedang mandi,
Empat Cantik (4 Xiu) dari E’Mei berada di sisiku dan menuangkan air untukku;
aku akan terkejut jika ada yang mau mempercayaiku.”
Ternyata ia telah bisa menebak siapa mereka.
“Ternyata penglihatanmu tidak buruk,” gadis yang jangkung dan bermata burung
phoenix mendengus. “Kau benar, aku Ma XiuZheng.”
“Dan yang tidak berkedip waktu membunuh ini, mungkinkah kau Shi XiuYun?” Lu
Xiao Feng bertanya.
Senyuman Shi XiuYun semakin hangat dan lembut.
“Tapi bila aku membunuhmu, paling tidak aku akan berkedip sedikit,” ia
menjawab dengan suara yang lembut.
“Itulah sebabnya kami sebenarnya tidak ingin membunuhmu, tapi hanya ingin
mengajukan beberapa pertanyaan,” Ma XiuZheng berkata. “Jika kau menjawab
dengan cepat, maka air dalam ketel ini tidak akan dituangkan. Tapi jika tidak,
maka semua air akan dituangkan….”
Shi XiuYun menarik nafas dan meneruskan. “Lalu kau akan menjadi daging
matang.”
“Seekor babi matang paling tidak bisa kau jual daging babinya, tapi orang
matang mungkin hanya cocok diberikan ke anjing,” Sun XiuQing menarik nafas.
Lu Xiao Feng menarik nafas juga.
“Aku sudah hampir matang, kenapa kalian tidak buruan bertanya?”
“Baiklah. Aku tanya padamu, apakah saudara seperguruan kami Su ShaoYing
mati di tangan XiMen ChuiXue?” Ma XiuZheng bicara mewakili kelompoknya.
“Jika kau sudah tahu, lalu kenapa masih bertanya padaku?” Lu Xiao Feng
menjawab dengan senyum yang agak mengibakan.
“Di mana XiMen ChuiXue sekarang?”
“Aku juga sedang mencarinya. Jika kalian melihatnya, bisa tolong beritahukan
padaku?”
“Kau benar-benar tidak tahu di mana dia berada?”
“Aku hanya berdusta pada wanita bila aku sedang mabuk, tapi sekarang aku
sangat sangat sehat fikirannya.”
Ma XiuZheng mengkertakkan giginya sedikit dan tiba-tiba menuangkan sedikit air
panas lagi ke dalam bak.
“Lebih baik kau jujur bila bicara denganku,” ia mengancam dengan nada dingin.
“Bagaimana mungkin aku tidak jujur di saat seperti ini?” Senyum Lu Xiao Feng
yang mengibakan tampak semakin menyedihkan.
“Wanita yang bersamamu itu, apakah ia benar-benar puteri Dinasti Rajawali
Emas?”
“Benar.”
“Kaisar Rajawali Emas masih hidup?”
“Masih hidup.”
“Dan dialah orang yang menginginkanmu berurusan dengan Yan TieShan?”
“Ya.”
“Dengan siapa lagi kau akan berurusan?”
“ShangGuan Mu dan Yan DuHe.”
“Siapa dua orang itu?” Ma XiuZheng mengerutkan keningnya. “Aku belum pernah
mendengar nama mereka.”
“Jumlah nama yang belum pernah kau dengar mungkin ada puluhan juta.” Lu
Xiao Feng menarik nafas.
Ma XiuZheng menatapnya.
“Aku sedang telanjang,” Lu Xiao Feng menarik nafas. “Jika kau terus menatapku
seperti ini, wajahku akan memerah.”
Mukanya tidak memerah, tapi wajah Ma XiuZheng yang jadi memerah.
Tiba-tiba ia berpaling, meletakkan ketel itu kembali di atas perapian, merapikan
pakaiannya, dan membungkuk pada Lu Xiao Feng. Pedang Shi XiuYun pun telah
dijauhkan.
Empat orang wanita cantik berpakaian indah tiba-tiba semuanya membungkuk
pada seorang laki-laki telanjang yang duduk di dalam bak mandi; jika kau pernah
melihat peristiwa seperti ini, kau tentu tak akan mampu memimpikannya.
Lu Xiao Feng pun tampak sedikit terkejut. Ia tak bisa membayangkan kenapa 4
orang gadis yang kasar dan seenaknya ini tiba-tiba menjadi begitu sopan.
“Murid E’Mei Ma XiuZheng, Yie XiuZhu, Sun XiuQing, dan Shi XiuYun, atas
perintah ketua kami, datang untuk mengundang Tuan Lu makan siang besok. Tak
tahu apakah Tuan Lu bersedia datang atau tidak.” Ma XiuZheng berkata, sambil
tetap membungkuk.
Lu Xiao Feng tak mampu bicara beberapa lama sebelum akhirnya memaksakan
sebuah senyuman yang mengibakan.
“Aku ingin datang, tapi sayangnya, biar pun aku punya sayap, tak mungkin aku
bisa tiba di Gunung E’Mei besok siang.”
Ma XiuZheng tersenyum.
“Ketua tidak berada di E’Mei, saat ini beliau sedang menunggu kedatangan Tuan
Lu di Paviliun Mutiara dan Intan.”
Lu Xiao Feng kembali terkejut.
“Ia di sini juga? Kapan ia tiba?”
“Baru hari ini.”
“Jika kami tidak kebetulan singgah di Paviliun Mutiara dan Intan, bagaimana
mungkin kami tahu apa yang telah terjadi tadi malam?” Shi XiuYun
menambahkan dengan manis.
Lu Xiao Feng tersenyum lagi, tentu saja, senyum yang mengibakan.
“Jika Tuan Lu bersedia datang, maka kami tak berani mengganggumu lagi,
selamat tinggal.” Ma XiuZheng bicara lagi.
“Kau tidak ingin bertanya apa-apa lagi?”
Ma XiuZheng tersenyum dan menggelengkan kepalanya, sikapnya sopan dan
lembut, senyumnya pun hangat, tampaknya benar-benar telah lupa tentang
peristiwa yang barusan terjadi.
Tapi Yie XiuZhu, sebagai seorang gadis yang polos, tak tahan untuk tidak tertawa
kecil. “Kami telah lama mendengar nama Tuan Lu yang termasyur. Maka kami
telah lancang datang menemuimu di saat kau sedang mandi.”
“Sebenarnya kalian bisa datang kapan saja dan bertanya padaku dan aku tak
akan menolak menjawabnya,” Lu Xiao Feng berkata dengan senyum yang
dipaksakan.
Shi XiuYun mengedip-ngedipkan matanya. “Kau tidak marah, Tuan Lu?”
“Bagaimana aku bisa marah? Malah aku sangat senang.”
Sekarang giliran Shi XiuYun yang tercengang.
“Kami memperlakukanmu seperti ini, dan kau masih tetap senang?”
Lu Xiao Feng tertawa ------ tawa yang sebenarnya kali ini.
“Bukan hanya aku merasa senang,” ia menjawab sambil tersenyum. “Aku pun
harus berterima-kasih pada kalian atas kesempatan besar ini.”
“Kesempatan apa?” Shi XiuYun terpaksa bertanya.
“Waktu aku sedang mandi, kalian memaksa masuk ke sini,” Lu Xiao Feng
menjawab dengan santai. “maka kalian tentu tidak marah bila lain kali aku masuk
saat kalian sedang mandi. Tidak setiap laki-laki di dunia ini mendapat
kesempatan seperti itu, bagaimana aku tidak senang?”
Empat Cantik dari E’Mei itu memerah wajahnya. Tiba-tiba mereka semua berbalik
dan berlari keluar melalui pintu.
Baru sekarang Lu Xiao Feng bisa menarik nafas dalam-dalam.
“Tampaknya, mulai sekarang aku harus memakai celana bila sedang mandi,” ia
bergumam pada dirinya sendiri.
______________________________
Tempat Lu Xiao Feng mandi itu adalah sebuah dapur, di luarnya ada sebuah
halaman kecil, di halaman itu berdiri sebuah pohon gingko.
Malam dingin dan sepi, bulan yang semakin besar tampak seolah-olah tergantung
di dahan pohon dengan embun di dedaunan menghalangi dan menggantikan
bayang-bayang bulan. Dalam bayangan pohon, ada seseorang yang berdiri di
sana, tegak tak bergerak, jangkung, berpakaian putih seperti salju, dengan
pedang berbentuk aneh tersandang di punggungnya dalam sarung berwarna
hitam pekat.
Saat Empat Cantik dari E’Mei keluar dari pintu, mereka segera melihatnya. Sekali
seseorang memandang orang ini sekilas, maka ia tentu akan bergidik dan
perasaan dingin akan mengalir dari jantung hingga ke kuku jarinya.
“XiMen ChuiXue!” Ma XiuZheng menjerit.
XiMen ChuiXue menatap mereka dengan dingin, dan mengangguk perlahan.
“Kau yang membunuh Su ShaoYing?” Ma XiuZheng bertanya dengan marah.
“Kalian ingin balas dendam?”
“Kami memang sedang mencarimu,” Ma XiuZheng mendengus. “Tak kukira kau
malah berani datang ke mari!”
Mata XiMen ChuiXue tiba-tiba mulai berkilauan, berkilat-kilat menakutkan.
“Aku biasanya tidak membunuh wanita, tapi wanita seharusnya tidak berlatih
pedang,” XiMen ChuiXue menjawab dengan dingin. “Yang berlatih ilmu pedang
bukanlah wanita.”
“Kentut!” Shi XueYun balas berteriak dengan marah.
“Kenapa kalian semua tidak menghunus pedang dan segera ke mari,” Wajah
XiMen ChuiXue menjadi gelap.
“Tidak perlu kami semua menghadapimu, cukup aku saja yang membunuhmu!”
Shi XiuYun berseru.
Ia tampaknya gadis yang paling tenang dan baik, tapi kenyataannya perangainya
malah yang paling tidak sabaran.
Sepasang pedang pendek yang ia gunakan adalah senjata warisan jago pedang
wanita di jaman Dinasti Tang, Nyonya Pertama SunGong.
Saat ia berteriak, pedang pun telah berada di tangannya. Kilauan pedang naikturun
seperti naga di langit dan menyambar seperti kilat ketika ia dan pedangnya
menyerbu ke arah XiMen ChuiXue.
“Tahan,” tiba-tiba seseorang berkata dengan lembut.
Saat kata-kata itu diucapkan, orangnya pun telah muncul.
Saat Shi XiuYun menyerang dengan pedangnya, tiba-tiba ia menyadari bahwa tak
satu pun pedangnya yang bisa digerakkan ------ kedua pedangnya telah terjepit
di antara jari-jari orang yang baru muncul itu.
Ia tidak melihat gerakan orang ini tadi, ia berusaha menarik pedangnya, tapi
pedang itu seakan-akan telah berakar di jari-jari tangan orang tersebut.
Tapi ekspresi wajah orang ini tetap damai, bahkan ia sedang tersenyum.
Tapi wajah Shi XiuYun telah memerah karena marah. “Tidak kusangka XiMen
ChuiXue membawa kaki tangan,” ia tertawa dingin.
“Kau kira ia kaki tanganku?” XiMen ChuiXue membalas dengan dingin.
“Memangnya bukan?”
XiMen ChuiXue tertawa dingin dan tiba-tiba bergerak. Sekilas cahaya terang
seperti kilat berwarna pelangi terlihat sebentar, lalu menghilang.
XiMen ChuiXue telah berputar dan pedang pun kembali ke sarungnya.
“Jika ia tidak bergerak, kau akan seperti pohon ini sekarang,” ia berkata dengan
dingin.
Shi XiuYun baru saja hendak bertanya tentang pohon itu, tapi, sebelum ia
membuka mulutnya, tiba-tiba ia menyadari bahwa pohon itu sedang tumbang.
Ternyata setelah kilatan pedang sekilas itu, pohon tersebut, yang diameternya
begitu besarnya hingga sebesar pelukan orang dewasa, sudah terbelah dua.
Pohon itu tumbang, dan XiMen ChuiXue pun menghilang.
Ekspresi wajah Shi XiuYun pun membeku. Di dunia ini, bagaimana mungkin ada
jurus pedang seperti itu? Demikian cepatnya? Ia hampir tidak mempercayai
matanya sendiri.
Pohon itu hampir roboh menimpa orang di hadapannya waktu orang itu berputar,
mengangkat tangannya, dan mendorong dengan perlahan. Pohon itu pelan-pelan
roboh ke atas tanah di hadapannya. Ekspresi wajah orang ini masih sangat
tenang dan menampilkan senyuman hangat yang sama.
“Aku bukan kaki tangannya,” ia berkata dengan lambat. “Aku tak pernah
membantu orang membunuh.”
Wajah Shi XiuYun yang pucat berubah merah lagi. Sekarang ia faham apa yang
dilakukan orang ini, dan juga faham bahwa kata-kata XiMen ChuiXue memang
benar. Walaupun ia memiliki perangai yang buruk, ia masih bisa membedakan
mana yang benar dan salah, dan ia menundukkan kepalanya dengan malu.
“Terima kasih,” ia akhirnya mengumpulkan keberaniannya untuk bicara. “Boleh
aku tahu siapa nama keluargamu?”
“Nama keluargaku adalah Hua,” orang ini, Hua Man Lou, menjawab.
“Aku… aku Shi XiuYun, yang paling jangkung di sana itu adalah kakak
seperguruanku yang tertua, Ma XiuZheng.”
“Apakah ia yang bicara barusan?”
“Ya.”
“Suaranya sangat mudah dikenali,” Hua Man Lou tersenyum. “Lain kali aku tentu
akan mengenalinya.”
Shi XiuYun menganggap hal itu sedikit ganjil.
“Kau harus mendengarnya bicara baru dapat mengenalinya?” Ia terpaksa
bertanya.
Hua Man Lou mengangguk.
“Kenapa?”
“Karena aku buta.”
Shi XiuYun tak sanggup bicara lagi.
Orang ini, yang bisa menangkap pedangnya dengan jarinya, seakan-akan itu
adalah hal yang paling mudah di dunia, ternyata buta. Ia tak bisa
mempercayainya.
Cahaya bulan menyinari wajah Hua Man Lou, senyumannya masih tenang,
hangat, siapa saja bisa mengatakan bahwa ia adalah orang yang penuh kasih
terhadap kehidupan dan tidak merasa tertekan atau marah karena dirinya buta,
dan tak akan pernah iri pada orang lain.
Karena ia telah puas dengan segala hal dalam kehidupannya, karena ia
menikmati kehidupan.
Shi XiuYun menatapnya, hatinya tiba-tiba terisi oleh sebuah perasaan yang tak
mampu diuraikan dengan kata-kata. Ia tak tahu apakah itu simpati, iba, atau
kagum.
Ia hanya tahu bahwa ia tidak pernah merasakan ini sebelumnya.
“Saudara-saudaramu sedang menunggumu,” Hua Man Lou berkata, sambil
tersenyum. “Kau tidak ikut pergi?”
Shi XiuYun menundukkan kepalanya dengan malu.
“Jika kita bertemu lagi, dapatkah kau mengenaliku?” Ia tiba-tiba bertanya.
“Tentu saja, aku bisa mengenali dari suaramu.”
“Tapi… bagaimana jika aku jadi bisu?”
Sekarang giliran Hua Man Lou yang terdiam.
Tak ada orang yang pernah menanyakan itu sebelumnya, dan ia tak pernah
membayangkan bahwa akan ada orang yang menanyakannya.
Ia sedang bingung bagaimana harus menjawab waktu tiba-tiba ia menyadari
bahwa gadis itu berjalan menghampirinya dan menggenggam tangannya.
“Rabalah wajahku,” gadis itu berkata dengan lembut. “maka walaupun aku tak
bisa bicara, kau akan mengenaliku kan?”
Hua Man Lou mengangguk dalam kebisuan ketika ia merasa jari-jarinya
menyentuh wajah gadis itu yang mulus dan tanpa cacat.
Hatinya tiba-tiba juga terisi oleh sebuah perasaan yang tak dapat diuraikan
dengan kata-kata.
Ma XiuZheng menatap mereka dari kejauhan dan tampaknya ia akan datang dan
mengajak adik seperguruannya itu pergi tapi akhirnya membatalkan maksudnya.
Waktu ia berpaling, ia melihat bahwa Sun XiuQing dan Yie XiuZhu juga sedang
memandangi kedua orang itu, mata mereka penuh dengan sinar perasaan
tertentu, seperti terpesona.
Tingkah laku Shi XiuYun ini tidak mengejutkan mereka, karena mereka semua
tahu bahwa adik seperguruan mereka itu adalah tipe gadis yang berani mencinta
dan berani membenci. Apakah dalam hatinya mereka juga berharap bisa berani
seperti dia?
Jatuh cinta juga butuh keberanian.
______________________________
Shi XiuYun telah pergi, mereka semua telah pergi ------ empat gadis muda dan
cantik itu datang seperti angin dan pergi juga seperti angin. Tidak ada yang bisa
menduga kapan mereka akan datang dan kapan mereka akan pergi.
Tapi Hua Man Lou masih berdiri di sana, tanpa bergerak, seperti terpesona.
Angin bertiup perlahan, bulan bersinar lembut, senyumnya tampak damai dan
bahagia.
Lu Xiao Feng tiba-tiba tertawa.
“Aku ingin bertaruh.”
“Taruhan apa?”
“Aku bertaruh kau tak akan mau mencuci tanganmu selama paling sedikit 3 hari!”
Hua Man Lou menarik nafas.
“Aku tak mengerti kenapa kau selalu mengira orang lain akan bersikap sama
sepertimu.”
“Ada apa denganku?”
“Kau bukan laki-laki sejati,” Hua Man Lou memasang muka serius, “sedikit pun
tidak!”
Lu Xiao Feng tertawa.
“Hal yang terbaik padaku adalah aku tak akan pernah memasang wajah serius
dan pura-pura menjadi laki-laki sejati.”
Hua Man Lou pun tak sanggup menahan tawanya lagi.
“Menurutku, sebaiknya kau berhati-hati,” Lu Xiao Feng tiba-tiba berkata.
“Hati-hati? Kenapa?”
“Akhir-akhir ini tampaknya kau cukup beruntung dalam hal wanita. Bila seorang
laki-laki tiba-tiba mendapatkan keberuntungan seperti ini, kesulitan biasanya tak
lama lagi akan menyusul.”
“Ada satu hal yang tidak kufahami,” Hua Man Lou menarik nafas.
“Oh?”
“Bagaimana kau selalu bisa melihat kesulitan orang lain, tapi tak pernah melihat
kesulitanmu sendiri?”
Lu Xiao Feng menarik nafas.
“Karena aku seorang bajingan,” Lu Xiao Feng menjawab sambil tersenyum
menyedihkan.
“Selama seseorang tahu bahwa ia adalah seorang bajingan, tentu masih ada
harapan untuknya,” Hua Man Lou tertawa.
“Jadi menurutmu siapa yang menyewa SiKong ZhaiXing untuk mencuri
ShangGuan DanFeng?” Lu Xiao Feng tiba-tiba bertanya setelah membisu
beberapa lama.
“Huo Xiu,” Hua Man Lou menjawab tanpa bimbang sedikit pun.
“Benar, pasti dia.”
“Tidak banyak orang yang mampu menghabiskan uang 200.000 tael perak untuk
‘membeli’ SiKong ZhaiXing.”
“Dilihat dari hal ini, tampaknya Kaisar Rajawali Emas tidak berdusta, Hua Xiu
memang ShangGuan Mu.”
Hua Man Lou sependapat.
“Dan DuGu YiHe tentu Yan DuHe, itulah sebabnya ia pergi ke Paviliun Mutiara dan
Intan, dan itulah sebabnya ia mengirimkan murid-muridnya untuk mencariku.”
“Waktu ia datang ke sini, mungkin ia tidak tahu bahwa sesuatu telah terjadi pada
Yan TieShan,” Hua Man Lou menambahkan.
“Mungkin ia telah bersepakat dengan Yan TieShan untuk bertemu dan
mendiskusikan sesuatu.”
“Mungkin sekali.”
“Dan masalah yang akan mereka diskusikan itu mungkinkah berkaitan dengan
Kaisar Rajawali Emas?”
“Juga sangat mungkin.”
“Dan ia mengirimkan Empat Cantik dari E’Mei untuk bertanya-tanya padaku,
berarti ia mengakui hubungannya dengan Kaisar Rajawali Emas.”
“Jadi menurutmu seharusnya ia tidak bersikap seperti ini.”
“Kita tidak punya bukti bahwa ia adalah Yan DuHen, dan ia pun tak perlu
mengakuinya, kecuali….”
“Kecuali kalau ia telah punya rencana untuk membuatmu berhenti ikut campur
dalam urusan orang lain.”
Lu Xiao Feng mengangguk dengan lambat. “Kecuali kalau ia telah punya sebuah
rencana yang sangat bagus.”
“Rencana-rencana terbaik selalu sama.”
“Tentu saja, bila seseorang telah mati, ia tak bisa ikut campur dalam urusan
orang lain lagi.”
“Jadi menurutmu ia telah memasang perangkap di sana dan menunggumu
terjebak?”
“Ia tidak perlu memasang perangkap apa pun,” Lu Xiao Feng memaksakan
sebuah senyuman. “Empat puluh sembilan jurus ‘Golok dan Pedang Bersatu Padu’
miliknya itu mungkin sudah cukup untuk membuatku berhenti ikut campur dalam
urusan orang lain.”
“Menurut kabar angin, di antara 7 ketua sekte pedang utama di dunia saat ini,
kungfunya adalah yang terbaik, karena selain ia telah menguasai kungfu E’Mei
luar dan dalam, ia juga telah banyak mempelajari ilmu-ilmu aneh dan tangguh
yang belum pernah dilihat orang dimainkan olehnya.”
Lu Xiao Feng tiba-tiba melompat bangkit.
“Mari kita pergi!”
“Ke mana?”
“Paviliun Mutiara dan Intan, memangnya ke mana lagi?”
“Pertemuan direncanakan besok siang, kenapa kita harus pergi sekarang?”
“Lebih baik datang cepat daripada datang terlambat.”
“Kau mengkhawatirkan ShangGuan DanFeng?”
“Orang seperti DuGu YiHe tak akan berbuat apa-apa pada seorang gadis.”
“Lalu siapa yang engkau khawatirkan?”
“XiMen ChuiXue.”
Ekspresi wajah Hua Man Lou pun berubah.
“Benar. Jika ia tahu bahwa DuGu YiHe ada di Paviliun Mutiara dan Intan, ia tentu
pergi ke sana sekarang.”
“Aku khawatir kalau ia mungkin tak mampu menghadapi Golok dan Pedang
Bersatu Padu milik DuGu YiHe,” Lu Xiao Feng menjelaskan. “Dengan
kemampuannya, seharusnya kita tak perlu mengkhawatirkan dia. Tapi ia terlalu
angkuh, keangkuhan bisa menimbulkan kesalahan, kesalahan bisa menyebabkan
kematian.”
“Aku tidak menyukainya,” Hua Man Lou menarik nafas. “Tapi aku harus mengakui
bahwa ia memang pantas bersikap angkuh.”
“Ia hanya melihat Su ShaoYing melakukan 21 jurus sebelum memutuskan bahwa
ia tentu mampu mengalahkan Golok dan Pedang Bersatu Padu milik DuGu YiHe,
tapi ia mungkin tidak terlalu memikirkan kenyataan bahwa Su ShaoYing bukanlah
DuGu YiHe.”
“Jadi orang macam apakah DuGu YiHe?”
Lu Xiao Feng berfikir sebentar.
“Ada tipe orang yang walaupun aku tidak ingin berteman dengannya, aku pun
benar-benar tidak ingin menjadi musuhnya,” ia berkata dengan lambat.
“Dan DuGu YiHe adalah tipe orang seperti ini?”
Lu Xiao Feng mengangguk.
“Tidak perduli siapa pun, jika ia tahu bahwa dirinya mempunyai musuh seperti
itu, ia tak akan dapat tidur, jadi sebaiknya kita segera berangkat.” Lu Xiao Feng
menarik nafas.
Hua Man Lou tiba-tiba tertawa.
“Kurasa dia pun tidak bisa tidur sekarang.”
“Kenapa?”
“Tak perduli siapa pun, jika ia tahu bahwa dirinya punya seorang musuh
sepertimu, ia pun tak akan dapat tidur.”
______________________________
DuGu YiHe tidak tidur. Malam telah larut, dan angin malam di bulan April selalu
membawa hawa dingin musim gugur ketika berhembus mengenai tirai putih di
aula.
Peti mati itu terbuat dari kayu Nanmu ungu, sangat kuat dan sangat mahal.
Tapi orangnya telah mati, apakah ada bedanya apa pun jenis peti matinya?
Cahaya lilin berkerlap-kerlip ditiup angin dan aula berkabung itu seperti dipenuhi
dengan hawa dingin dan sepi.
DuGu YiHe duduk dalam kebisuan di samping peti mati Yan TieShan, ia telah
lama tidak bergerak di situ.
Ia adalah orang yang bertubuh jangkung dan berwajah serius. Tubuhnya masih
tegak seperti di waktu mudanya dulu, dan rambutnya yang kaku seperti jarum
pun masih berwarna hitam legam. Hanya saja keriput di wajahnya telah banyak
dan dalam, bila kau perhatikan wajahnya baru kau akan tahu bahwa ia memang
seorang laki-laki tua.
Saat itu, di wajahnya yang serius dan tegas, tampak bayang-bayang kesedihan
dan kesepian.
Apakah ini karena ia sudah seperti orang mati dan faham betapa sedih dan
menakutkan kematian itu sebenarnya?
Di belakangnya tiba-tiba terdengar serangkaian langkah kaki yang sangat ringan.
Ia tidak berpaling, tapi tangannya telah mencengkeram gagang pedangnya.
Pedangnya lebih tebal dan besar daripada pedang rata-rata dengan badan
pedang yang sangat panjang dan lebar.
Pedang itu terbuat dari perunggu dan dipoles berkilauan, tapi sarungnya sangat
tua dan kotor dengan sebuah simbol Delapan Diagram kecil terukir di atasnya,
melambangkan bahwa ini adalah pedang ketua Sekte E’Mei.
Seseorang berjalan dengan perlahan menghampirinya dan berhenti di
sampingnya. Walaupun ia tidak berpaling untuk melihat, ia tahu bahwa ini adalah
Huo TianQing.
Ekspresi wajah Huo TianQing pun sangat sedih, sangat muram, selain dari baju
hitam di sebelah dalam, ia mengenakan sebuah pakaian berkabung warna
kuning, menunjukkan bahwa hubungannya dengan jenazah itu adalah sangat
istimewa.
DuGu YiHe belum pernah melihat pemuda yang angkuh dan kekar ini
sebelumnya, ia bahkan belum pernah datang ke tempat ini.
Huo TianQing berdiri di sana, di sisinya, selama beberapa saat sebelum tiba-tiba
bicara.
“Masih belum tidur, Ketua?”
DuGu YiHe tidak menjawab. Karena ini adalah pertanyaan yang tidak perlu
dijawab. Jika ia berdiri di sini, maka tentu saja ia masih belum tidur.
Kedudukan dan kemasyurannya membuatnya berhak untuk tidak menjawab
pertanyaan seperti ini.
Tapi Huo TianQing meneruskan.
“Ketua belum pernah ke sini sebelumnya?”
“Belum.”
“Itulah sebabnya saya bahkan tidak tahu kalau Ketua dan Ketua Yan berteman
baik!”
Wajah DuGu YiHe menjadi gelap.
“Ada banyak hal yang tidak kau ketahui,” ia menjawab dengan dingin.
“Ketua adalah salah seorang pemimpin dunia persilatan,” Huo TianQing
menjawab dengan santai. “Maka tentu saja Ketua tahu lebih banyak daripada
aku.”
“Hmmph!”
Huo TianQing tiba-tiba berpaling dan menatap wajahnya dengan pandangan
setajam pisau.
“Maka Ketua tentu tahu kenapa beliau mati!” Huo TianQing berkata dengan
lambat.
Wajah DuGu YiHe tampaknya telah berubah warna sedikit ketika tiba-tiba ia
berputar dan mulai berjalan ke luar.
“Berhenti!” Huo TianQing berseru.
Langkah terakhir DuGu YiHe dihentakkan dengan keras, menghancurkan ubin
lantai hingga berkeping-keping. Urat nadi di tangannya menonjol keluar
sementara jubah yang ia kenakan berkepak-kepak tanpa ada angin yang bertiup.
Setelah beberapa lama, ia berputar dengan lambat, kemarahan seperti menusuk
keluar dari matanya ke arah Huo TianQing dan ia berkata dengan lambat-lambat
dan jelas.
“Apakah kau menyuruhku berhenti?”
Wajah Huo TianQing pun menjadi gelap.
“Benar, aku menyuruhmu untuk berhenti!” Huo TianQing menjawab dengan
dingin.
“Kau tidak berhak!” DuGu YiHe berseru dengan murka.
“Tidak berhak? Dilihat dari usia, aku memang tidak sebanding denganmu,” Huo
TianQing mendengus. “Tapi jika dilihat dari posisi dan tingkatan, maka Huo
TianQing tidak lebih rendah daripada DuGu YiHe!’
“Posisi dan tingkatan apa yang engkau punya?” DuGu YiHe berseru dengan
marah.
“Aku tahu kau tidak mengenalku, tapi kau tentu mengenali jurus ini.”
Ia berdiri berhadapan muka dengan DuGu YiHe, lalu tiba-tiba ia memutar
pinggangnya ke kanan dan mengembangkan lengannya, “Phoenix
Mengembangkan Sayapnya”, dua jari di tangan kirinya ditekuk seperti paruh
burung phoenix ketika menusuk ke kepala DuGu YiHe.
Telapak tangan kanan DuGu YiHe terangkat miring, menuju pergelangan tangan
lawannya.
Tiba-tiba langkah kaki Huo TianQing bergeser sedikit dan melesat ke samping
kira-kira semeter, orangnya pun tiba di belakang pundak kanan DuGu YiHe.
Jurusnya masih “Phoenix Mengembangkan Sayapnya”, tapi arah gerakannya
telah berubah sama sekali dan ia menggunakan tangan kanannya untuk
menirukan paruh burung dan menyerang urat darah besar di sebelah kanan leher
DuGu YiHe.
Walaupun perubahan ini tampak sederhana, kelihaian yang terkandung di
dalamnya sukar untuk diuraikan dengan kata-kata.
“Phoenix Kembar Sedang Terbang!” DuGu YiHe berteriak.
Sambil bicara, tiba-tiba ia memutar tubuhnya ke kiri dan menggunakan telapak
tangan kirinya untuk menangkis paruh burung Huo TianQing.
Huo TianQing menghembuskan nafas, menggunakan kekuatan “Bintang Kecil”
dari dalam telapak tangannya untuk didorong keluar.
“Pshhh!”
Kedua pasang telapak tangan itu bertemu dan segera, kedua orang itu berhenti
bergerak.
Setelah menghembuskan nafas, Huo TianQing mulai bicara dengan lambat.
“Benar, itulah ‘Phoenix Kembar Sedang Terbang’. Suatu ketika waktu Pemburu
Langit mengunjungi E’Mei dan bertanding dengan gurumu, Pendeta Hu yang
terhormat, di puncak E’Mei, ia menggunakan jurus ini, kau mungkin melihatnya
sebagai penonton kan?”
“Benar.”
Walaupun DuGu YiHe hanya mengucapkan 2 patah kata ini, wajahnya telah
berubah menjadi kehijau-hijauan.
Bila dua jagoan saling bertanding, sekali mereka menggunakan tenaga dalamnya
untuk bertarung, mereka seharusnya tidak boleh dan tidak bisa bicara.
Tapi Pemburu Langit memang seorang jenius kungfu yang luar biasa, ia telah
menciptakan semacam tenaga dalam yang tetap memungkinkan pemiliknya
untuk bicara. Dan bukan hanya tidak ada kerusakan pada tenaga dalammu bila
kau bicara, ilmu ini bahkan membuat energi yang tersimpan dalam sumber
tenaga dalammu bisa mendesak keluar.
Tenaga dalam Huo TianQing dipelajari di bawah bimbingan si Pemburu Langit
sendiri, dan saat itu, ia berencana menggunakan keuntungan ini untuk
mengalahkan DuGu YiHe.
“Jago kungfu biasa, bila menghadapi jurus ini, akan berputar ke kanan dan
menggunakan telapak tangan kanan mereka untuk menangkis serangan ini,” Huo
TianQing meneruskan. “Tapi Pendeta Hu memang hebat, ia malah menentang
kebiasaan ini dan menangkisnya dengan telapak tangan kirinya, kau tahu
mengapa?”
“Jika kau menangkis dengan telapak tangan kananmu, walaupun hal itu lebih
cepat, pilihan untukmu hanya tersisa pada apa yang bisa engkau lakukan; tapi
jika kau menangkis dengan tangan kirimu, maka masih ada energi dan kekuatan
yang tersisa yang memungkinkan dirimu untuk berubah dan beradaptasi sesuai
dengan keinginan….”
DuGu YiHe tidak ingin menjawab, tapi ia pun tidak ingin memperlihatkan
kelemahannya. Baru saja ia bicara sampai di situ, tiba-tiba ia merasa seakanakan
ia tak sanggup mengatur pernafasannya dan terpaksa berhenti.
“Benar, itu karena Pemburu Langit harus berhenti sebentar untuk menghadapi
gerakan seperti itu dan mengumpulkan hawa untuk adu tenaga dalam, untuk
meniadakan pilihan baginya secara efektif….”
“Bagaimana kau tahu tentang hal ini?” DuGu YiHe tiba-tiba berseru, seakan-akan
ia tidak ingin mendengar pemuda itu bicara lagi.
“Karena Pemburu Langit adalah ayahku.”
Ekspresi wajah DuGu YiHe berubah hebat.
“Pendeta Hu dan ayahku berasal dari generasi yang sama, kau mungkin tahu
juga kan?” Huo TianQing berkata dengan santai.
Wajah DuGu YiHe berubah dari hijau ke putih dan kembali ke hijau lagi, bukan
hanya ia tak mampu bicara, ia benar-benar tidak punya apa-apa yang harus
dikatakan.
Kedudukan si Pemburu Langit di masa itu adalah di atas semua orang,
mengatakan kalau dia dan Pendeta Hu berasal dari generasi yang sama saja
sudah memberikan Pendeta Hu kehormatan yang luar biasa.
Walaupun DuGu YiHe adalah orang yang angkuh, ia tak bisa mengingkari tradisi
dunia persilatan.
“Jadi sekarang seharusnya kau tahu siapa aku dan bagaimana posisiku,” Huo
TianQing meneruskan dengan santai. “Tapi aku masih punya beberapa
pertanyaan untukmu!”
DuGu YiHe mengkertakkan giginya, sementara keringat mulai muncul di
keningnya.
“Mengapa kau membuat Su ShaoYu menukar namanya dan pura-pura menjadi
seorang murid? Kau dan Ketua Yan tidak pernah berhubungan sebelumnya,
kenapa kau tiba-tiba muncul tepat setelah ia mati?”
“Hal ini tidak ada hubungannya denganmu.”
“Aku tak boleh menanyakan ini?”
“Kau tak berhak menanyakan hal ini.”
“Jangan lupakan bahwa aku adalah bendahara dan pengurus tempat ini,” Huo
TianQing mengingatkan DuGu YiHe dengan dingin. “Jika aku tak boleh
menanyakan persoalan di sekitar tempat ini, lalu siapa yang boleh?”
Keringat di kening DuGu YiHe bertetesan seperti air hujan dan ubin di bawah
kakinya pun hancur berkeping-keping. Tiba-tiba ia menendang dengan kaki
kanannya dan mengambil pedangnya dengan tangan kanannya.
Tapi tepat pada saat itu pula tenaga yang muncul dari telapak tangan Huo
TianQing menghilang, dan ia, dengan meminjam energi DuGu YiHe melayang
keluar dengan perlahan.
DuGu YiHe segera kehilangan keseimbangannya dan hampir roboh. Tiba-tiba
tampak sebuah kilatan pedang diikuti dengan suara pedang memukul ubin lantai
dengan bunga api yang memercik ke mana-mana ketika pedang di tangannya
dihunjamkan ke ubin.
Tapi Huo TianQing telah menghilang.
Tirai putih berkibar-kibar ditiup angin, lilin di atas meja altar tiba-tiba padam.
DuGu YiHe, sambil bersandar pada pedangnya, memandang kegelapan, tiba-tiba
ia merasa sangat lelah. Ia sudah semakin tua.
Menarik pedangnya dan memasukkannya kembali ke dalam sarungnya, ia
berjalan keluar dengan perlahan; dalam kegelapan, seperti ada sepasang mata
berkilat-kilat yang sedang menatapnya.
Ia memandang ke depan, dan melihat seseorang berdiri tak bergerak di bawah
pohon putih di halaman, seseorang yang mengenakan pakaian serba putih seperti
salju.
Tangan DuGu YiHe pun turun ke pedangnya lagi.
“Siapa itu?” Ia bertanya dengan suara yang bengis.
Orang itu tidak menjawab, tapi malah balik bertanya.
“Yan DuHe?”
Wajah DuGu YiHe tiba-tiba menjadi kaku.
Orang berpakaian putih itu pelan-pelan berjalan keluar dari kegelapan dan
sekarang berada di tengah sinar bulan. Pada pakaiannya yang seputih salju ada
setitik debu, wajahnya tanpa ekspresi, dan melintang di punggungnya ada
sebatang pedang berbentuk ganjil dengan sarung berwarna gelap.
Ekspresi wajah DuGu YiHe berubah hebat.
“XiMen ChuiXue?”
“Ya.”
“Apakah kau yang membunuh Su ShaoYing?” DuGu YiHe bertanya dengan marah.
“Aku memang membunuhnya, tapi ia seharusnya tidak mati. Yang pantas mati
adalah Yan DuHe!”
Bola mata DuGu YiHe terbelalak.
“Maka jika kau adalah Yan DuHe, aku akan membunuhmu!” XiMen ChuiXue
berkata dengan dingin.
DuGu YiHe tiba-tiba tertawa seperti orang gila.
“Kau tidak bisa membunuh Yan DuHe, kau hanya bisa membunuh DuGu YiHe.”
“Oh?”
“Jika kau membunuh DuGu YiHe, maka namamu akan terkenal ke seluruh dunia!”
“Bagus,” XiMen ChuiXue mendengus.
“Bagus?”
“Tak perduli apakah engkau adalah bangau yang kesepian atau hanya seekor
bangau, aku akan membunuhmu!”
{Catatan: ini adalah sebuah permainan kata-kata lagi. DuHe secara harfiah
berarti “bangau yang kesepian”, sementara YiHe berarti “seekor bangau”.}
“Bagus.” DuGu YiHe tiba-tiba mendengus juga.
“Bagus?”
“Tak perduli apakah engkau ingin membunuh bangau yang kesepian atau hanya
seekor bangau, kenapa kau tidak menghunus pedangmu?”
“Bagus, hebat!”
DuGu YiHe mencengkeram gagang pedangnya, ia merasa seolah-olah tangannya
lebih dingin daripada pedang itu sendiri. Bukan hanya tangannya terasa dingin,
jantungnya juga.
Reputasi yang termasyur, posisi yang berkuasa, bahkan jika ia bisa
memberikannya semua sekarang, ia masih tak mampu mendapatkan kembali
semua energi yang baru saja ia keluarkan.
Ia memandang pada XiMen ChuiXue, tapi ia pun memikirkan tentang Huo
TianQing, tiba-tiba ia merasa menyesal.
Ini adalah pertama kalinya ia benar-benar merasa menyesal dalam hidupnya, dan
ini mungkin yang terakhir kalinya.
Ia tiba-tiba sangat ingin bertemu dengan Lu Xiao Feng, tapi ia tahu bahwa Lu
Xiao Feng tak mungkin muncul di saat seperti ini.
Ia hanya bisa menghunus pedangnya.
Karena ia tak punya pilihan lain di saat ini.
Tiba-tiba, terlihat kilatan-kilatan pedang penuh energi.
Angin yang bertiup semakin dingin, maka bila XiMen ChuiXue sendiri yang
berdarah, darahnya pun akan mongering juga….
Bab 9: Kematian Yang Begitu Aneh
Kereta itu tidak terlalu besar, hanya cukup untuk menampung 4 orang
penumpang. Kuda-kuda yang menarik kereta itu sangat terlatih, walaupun kereta
sedang berjalan di atas jalan berlumpur, kedudukannya tetap sangat stabil. Ma
XiuZheng dan Shi XiuYun duduk di satu jok, sedangkan Sun XiuQing dan Yie
XiuZhu duduk di hadapan mereka.
Kereta itu telah menempuh perjalanan yang panjang, Shi XiuYun tiba-tiba melihat
semua orang menatapnya. Ia pura-pura tidak tahu, tapi akhirnya tak tahan untuk
tidak mencibirkan bibirnya dan menantang semua orang.
“Mengapa kalian semua menatapku? Apakah sebatang bunga tiba-tiba tumbuh di
wajahku?”
“Bahkan jika sebatang bunga tumbuh di wajahmu,” Sun XiuQing tertawa dan
menjawab, “tentu bunga itu telah dipetik orang.”
Matanya besar dan bibirnya tipis, jelas ia adalah seorang gadis yang tak pernah
menahan diri bila mengejek seseorang.
Ia tidak membiarkan Shi XiuYun menjawab sebelum melanjutkan.
“Hal yang aneh adalah, gadis ini selalu mengatakan bahwa bunga apa pun tidak
sebaik sayur-sayuran, jadi kenapa tiba-tiba ia mengatakan bunga ini dan bunga
itu setiap kali buka mulut?”
Herannya, Shi XiuYun tidak memerah wajahnya, malah ia menjawab dengan
santai: “Tidak ada yang aneh, itu karena nama keluarganya Hua, bunga, tentu
saja aku akan mengatakan bunga ini dan bunga itu.”
“Dia?” Sun XiuQing tertawa kecil. “Siapa dia?”
“Marganya Hua, Hua Man Lou.”
“Bagaimana kau tahu namanya?”
“Ia yang memberitahuku.”
“Kenapa aku tak mendengarnya?”
“Kami sedang membicarakan urusan kami, kenapa harus membiarkanmu
mendengarnya? Di samping itu, mungkin kau sedang memikirkan Lu Xiao Feng
saat itu.”
“Aku sedang memikirkan Lu Xiao Feng?” Sun XiuQing hampir menjerit. “Siapa
bilang aku sedang memikirkan dia?”
“Aku,” Shi XiuYun menjawab. “Saat ia sedang duduk di bak mandi itu, kau tak
pernah melepaskan pandanganmu darinya. Aku melihatnya, kau tak bisa
membantahnya sekarang.”
Sun XiuQing tertawa dan melepaskan perasaannya di saat yang bersamaan.
“Percayakah kalian betapa gilanya gadis ini? Semua yang keluar dari mulutnya
adalah dusta.” Ia mencaci, dengan sebuah senyuman di wajahnya.
“Gadis itu memang agak gila,” Ma XiuZheng menjawab dengan santai. “Tapi
matamu memang selalu memandangi Lu Xiao Feng.”
“Terima kasih, Kakak Tertua, karena bersikap adil,” Shi XiuYun tertawa, sambil
melambai-lambaikan tangannya.
Mata Sun XiuQing berputar-putar sebelum tiba-tiba ia menarik nafas.
“Ia memang adil, tapi seperti ada rasa masam di dalam ucapannya itu.”
“Masam?” Sekarang Ma XiuZheng yang tampak heran. “Masam apa?”
“Masam seperti cuka.”
“Jadi menurutmu aku sedang minum cuka, aku cemburu padamu?” Sekarang Ma
XiuZheng pun mulai berteriak.
{Catatan: dalam istilah China, “chi cu”, atau “minum cuka”, sering digunakan
untuk menjelaskan perasaan cemburu yang dirasakan oleh seseorang.}
“Aku tidak mengatakannya,” Sun XiuQing menjawab. “Kau sendiri yang barusan
mengatakannya.”
Ia berusaha menekan tawanya dan meneruskan, tanpa membiarkan yang lain
sempat membalas. “Semua orang mengatakan bahwa Lu Xiao Feng begitu halus
dan sopan dan begitu memikat dan begitu ini dan begitu itu. Tapi waktu aku
melihatnya hari ini, duduk di bak mandi seperti itu, ia seperti orang tolol atau
begitulah, tidak sebanding dengan XiMen ChuiXue.”
“Apa yang kau katakan?” Shi XiuYun berteriak dengan terkejut.
“Yang kukatakan adalah bahwa jika aku harus memilih seorang pria, maka aku
tentu akan memilih XiMen ChuiXue. Ia seorang laki-laki sejati, lebih baik 10 kali
lipat daripada Lu Xiao Feng.”
Shi XiuYun menarik nafas.
“Dilihat dari sini, tampaknya kaulah yang gila. Bahkan jika seluruh laki-laki di
dunia ini mati, aku tak akan memilih mayat hidup yang angkuh dan sombong
itu.”
“Kau tidak menyukainya, tapi aku suka. Ini yang disebut ‘kubis dan wortel
berkumpul dengan sesamanya’.”
Ma XiuZheng tak mampu menghentikan dirinya untuk tertawa lagi.
“Dari tampang kalian berdua, tampaknya kalian telah memilah-milah kubis dan
wortel.”
“Dan yang kami tinggalkan untukmu adalah si wortel besar, Lu Xiao Feng!” Sun
XiuQing berkata, sambil berusaha menahan tawanya.
Shi XiuYun mengedip-ngedipkan matanya.
“Jadi Kakak Ketiga Yie tidak mendapat apa-apa?”
Wajah Yie XiuZhu telah merah padam karena marah.
“Maukah kalian lihat diri kalian dulu?” Yie XiuZhu berkata, wajahnya masih
merah. “Kalian baru bertemu mereka sekali dan tampaknya kalian telah jadi gila
memikirkan mereka, tak mungkin kalian tidak pernah bertemu laki-laki lain
dalam hidup kalian sebelumnya kan?”
“Kita tidak pernah bertemu laki-laki seperti mereka sebelumnya,” Sun XiuQing
menarik nafas.
Ia melirik Yie XiuZhu dari sudut matanya dan meneruskan.
“Sejujurnya, tiga orang laki-laki yang kita temui hari ini hebat-hebat semua,
bahkan walaupun kau tidak mengakuinya, kau mungkin menyukai mereka bertiga
kan?”
“Kau tentu sudah gila.” Yie XiuZhu begitu kesal sehingga wajahnya semakin
merah.
“Sun Nomor Dua yang di sana itu memang selalu punya masalah seperti ini, dan
itulah sebabnya ia suka mengganggu orang yang jujur,” Shi XiuYun
membantunya.
“Dia? Jujur?” Sun XiuQing mencibirkan bibirnya. “Ia tampak jujur di
permukaannya saja, tapi dari kita berempat, kujamin ia yang pertama menikah
nantinya.”
“Apa… apa yang membuatmu berkata demikian?” Yie XiuZhu bertanya.
“Karena ia tahu bahwa ia tak akan menjadi orang pertama yang menikah,” Shi
XiuYun memotong sebelum Sun XiuQing bisa menjawab. “Jangankan laki-laki
beralis empat, bahkan laki-laki dengan keberanian empat kali lipat pun tak akan
berani menikahinya.”
“Sepertinya itu benar,” Ma XiuZheng setuju. “Siapa saja yang menikahi seorang
wanita seperti dirinya tentu akan mati akibat tumor otak karena mendengar
ucapannya.”
“Mungkin jika ia menemukan orang tuli maka….” Shi XiuYun menambahkan,
berusaha menahan tawanya, dan gagal.
Sun XiuQing telah bangkit sekarang dan berteriak: “Oh, aku faham. Kalian
bertiga sedang berkomplot melawanku. Baik, kubiarkan kalian bertiga memiliki
tiga laki-laki itu, puas?”
“Membiarkan kami memiliki mereka?” Shi XiuYun menjawab. “Apakah ketiga
orang itu milikmu atau apa?”
“Gadis ini memang tahu banyak hal,” Ma XiuZheng menarik nafas, “tapi ia tentu
tak tahu malu.”
Sun XiuQing menatap mereka sebelum tiba-tiba ia berteriak sekuat-kuatnya:
“Aku lapar!”
Ma XiuZheng memandangnya dengan heran, seolah-olah ia memang sedang
memandang orang gila.
Sun XiuQing tak tahan untuk tidak tertawa sendirian.
“Bila aku kesal, aku jadi lapar. Sekarang aku sedang kesal, aku harus
menemukan sebuah tempat untuk makan.”
Bila empat orang gadis berkumpul bersama, hampir mustahil bagi mereka untuk
tidak membicarakan laki-laki. Persis seperti bila empat orang laki-laki berkumpul,
membuat mereka tidak membicarakan perempuan tentu sama saja dengan
mustahil.
Tapi Lu Xiao Feng dan Hua Man Lou tidak sedang membicarakan perempuan.
Mereka sedang membicarakan XiMen ChuiXue.
“Aku hanya berharap ia belum menemukan DuGu YiHe.” Lu Xiao Feng berkata.
“Menurutmu ia bukan tandingan DuGu YiHe?” Hua Man Lou bertanya.
“Ilmu pedangnya memang cepat dan mematikan, tidak sedikit pun mengandung
rasa iba, persis seperti orangnya sendiri, dia tak akan pernah menyisakan pilihan
untuk lawan-lawannya.”
Hua Man Lou mengangguk dengan lambat.
“Jika seseorang tidak menyisakan pilihan untuk lawannya, itu sama saja dengan
tidak menyisakan pilihan untuk dirinya sendiri.” Ia berkata.
“Itulah sebabnya, sekali pedangnya terhunus, jika tak berhasil melukai musuh,
maka ia telah menyerahkan dirinya sendiri kepada kematian!”
“Tapi ia tidak mati.”
“Itu hanya karena ia belum pernah bertemu musuh seperti DuGu YiHe sampai
sekarang.”
Lu Xiao Feng berhenti sebentar sebelum meneruskan.
“Ilmu pedang DuGu sangat menakutkan, dengan tenaga dalam yang besar,
serangan yang membinasakan dan pertahanan yang bahkan lebih
menghancurkan lagi, apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa pengalaman
bertarungnya tidak mungkin bisa ditandingi oleh XiMen ChuiXue. Itulah sebabnya
jika XiMen tidak berhasil dalam 30 jurus, tentu dia akan mati oleh pedang DuGu.”
“Dan menurutmu tak ada kesempatan baginya untuk berhasil dalam 30 jurus?”
“Tak seorang pun mampu mencabut nyawa DuGu dalam 30 jurus, hal itu juga
berlaku bagi XiMen!” Lu Xiao Feng menarik nafas.
Hua Man Lou terdiam beberapa lama sebelum menarik nafas juga.
“Kaulah yang meminta dia untuk terlibat dalam masalah ini.”
“Dan itulah sebabnya aku berharap ia belum menemukan DuGu.”
Mereka telah melewati jalan yang tenang dan sepi itu dan berbelok ke sebuah
sungai kecil tepat di luar Paviliun Mutiara dan Intan.
Di bawah sinar bulan yang terang dan jelas, air berkilauan seperti potongan
perak yang bertebaran. Seseorang berdiri di tepi sungai, berpakaian putih seperti
salju.
Waktu Lu Xiao Feng melihatnya, ia juga melihat Lu Xiao Feng.
“Aku belum mati.” Tiba-tiba ia berkata.
Lu Xiao Feng tertawa.
“Kau memang tidak mirip orang mati.”
“Yang mati adalah DuGu YiHe.” XiMen ChuiXue menjawab.
Lu Xiao Feng berhenti tertawa.
“Kau tak bisa membayangkan kenapa?”
Lu Xiao Feng mengakuinya, ia memang tidak bisa.
Tapi sekarang XiMen ChuiXue tertawa kecil, tawa yang sangat aneh dan ganjil.
“Aku pun tak bisa membayangkan kenapa.” Ia berkata.
"Oh?"
“Waktu Su ShaoYing menampilkan 21 jurusnya, aku telah melihat 3 lubang
kelemahan.”
“Jadi kau kira paling tidak kau punya 3 kesempatan untuk membunuh DuGu
YiHe?”
XiMen ChuiXue mengangguk.
“Biasanya aku hanya butuh satu kesempatan, tapi waktu aku bertarung
dengannya, aku tak berhasil mendapatkan satu kesempatan pun.”
“Mengapa?”
“Walaupun ilmunya punya kelemahan, setelah aku mulai menggerakkan
pedangku, ia tentu segera menutupi lubang itu. Belum pernah aku bertemu orang
yang tahu di mana letak kelemahan ilmunya sendiri, tapi ia tahu.”
“Semua ilmu pedang di dunia ini punya kelemahan, tapi memang tidak banyak
orang yang tahu di mana letak kelemahan ilmu pedang mereka sendiri.” Lu Xiao
Feng setuju.
“Aku membuat gerakan sebanyak 3 kali, semuanya berhasil ditangkis, maka aku
tahu bahwa aku tak akan mampu membunuhnya. Jika kau tak bisa membunuh
dengan ilmu pedang yang khusus diciptakan untuk membunuh, maka kaulah
yang akan mati.”
“Walaupun kau angkuh, paling tidak kau tahu kelemahanmu sendiri.” Lu Xiao
Feng menarik nafas. “Itulah sebabnya kau masih hidup!”
“Aku masih hidup karena setelah 30 jurus, jurus-jurusnya tiba-tiba menjadi
kacau.”
“Seorang jagoan seperti dia, jika jurus-jurusnya tiba-tiba menjadi kacau, maka
hanya ada 2 sebab.”
XiMen ChuiXue menunggu penjelasannya lebih lanjut.
“Jika hati dan pikirannya sedang kacau, tentu jurus-jurus pedangnya juga kacau.”
“Hati dan pikirannya tidak sedang kacau.”
“Mungkinkah tenaga dalamnya habis?”
Tanpa tenaga, jurus-jurus pedang pun tentu menjadi kacau.
“Dengan tenaga dalam dan kemampuannya, bagaimana mungkin ia telah
kehabisan tenaga dalam setelah bergebrak 30 jurus saja?” Lu Xiao Feng
merenung.
“Sudah kubilang, aku pun tak bisa membayangkannya.”
Lu Xiao Feng berfikir dalam kebisuan.
“Mungkinkah sebelum bertarung denganmu, orang lain telah memaksanya untuk
menggunakan sebagian besar tenaga dalamnya? Mungkinkah seseorang telah
bertarung dengannya sebelum kamu?”
“Ia tidak mengatakannya, maka aku tak akan tahu,” XiMen ChuiXue menjawab
dengan dingin. “Seandainya aku tahu, tentu aku tak akan memaksanya
bertarung.”
“Bila kau memaksa orang lain bertarung, kapan terakhir kalinya kau memberi
kesempatan musuhmu untuk bicara?” Lu Xiao Feng berkata sambil tersenyum
sedih.
Walaupun tidak ada ekspresi di wajah XiMen ChuiXue, bayang-bayang suram
tampak muncul di matanya.
“Ia mengatakan sesuatu yang aneh sebelum ia mati.” Ia berkata pelan-pelan,
setelah terdiam beberapa lama.
“Apa yang ia katakan?”
“Ia bilang ia….”
Waktu pedang itu ditarik, masih ada darah di badan pedang.
Waktu DuGu YiHe melihat pedang orang lain bernodakan darahnya sendiri,
melihat darahnya jatuh setetes demi setetes, tidak ada rasa sakit atau murka
atau takut di wajahnya. Sebaliknya, tiba-tiba ia berseru: “Aku faham sekarang,
aku faham sekarang….”
“Ia mengatakan ia faham sekarang!”
“Apa yang ia fahami?” Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya.
Bayang-bayang suram di mata XiMen ChuiXue tampak bertambah gelap dan ia
menarik nafas panjang.
“Mungkin ia faham bahwa hidup ini singkat, seperti embun pagi. Mungkin ia
faham bahwa kemasyuran dan kekuasaan yang ia peroleh, pada akhirnya tiada
artinya….”
Lu Xiao Feng berfikir dalam-dalam.
“Persisnya karena hidup ini singkat, kau tak bisa hidup tanpa mendapat apaapa,”
ia berkata lambat-lambat. “Apa yang sebenarnya ia fahami? Atau apa yang
tidak ia fahami? Apa sebenarnya yang ingin ia katakan?”
XiMen ChuiXue menatap cakrawala selama beberapa saat sebelum tiba-tiba
mengucapkan sebuah kalimat yang sangat tak terduga.
“Aku lapar.”
“Kau lapar?” Lu Xiao Feng memandangnya dengan heran.
“Aku selalu lapar setelah membunuh,” XiMen ChuiXue menjawab dengan dingin.
______________________________
Kedai arak kecil ini seharusnya telah tutup sekarang, apalagi letaknya berada di
pinggir sebuah hutan buah murbei yang rimbun dan lebat.
Ada beberapa rumah di dalam hutan itu, juga ada beberapa buah rumah di luar
hutan, sebagian besar merupakan keluarga-keluarga kecil yang hidup dari
memelihara ulat sutera.
Rumah kecil ini letaknya agak dekat ke jalan, maka di depannya mereka
membangun sebuah gubuk kecil dengan jendela di keempat sisinya dan menjual
arak sederhana dan makanan untuk orang lewat. Waktu Empat Cantik dari E’Mei
menemukan tempat itu, pemiliknya baru saja hendak pergi tidur, tapi bagaimana
mungkin orang menolak kedatangan empat orang gadis cantik seperti mereka?
Di dalam kedai arak kecil itu hanya ada tiga buah meja, tapi meja-meja itu
sangat bersih dan rapi. Makanan-makanan kecil yang tersedia untuk dinikmati
bersama arak juga sederhana tapi menyegarkan dan arak yang rasanya ringan
adalah jenis yang disukai gadis-gadis itu, maka mereka pun merasa senang
berada di tempat itu.
Bila gadis-gadis sedang bersuka cita, mereka selalu makin banyak bicara.
Mereka sedang menggosip ke kiri dan ke kanan, tertawa, persis seperti
segerombolan ayam betina yang sedang bahagia.
“Orang yang bermarga Hua itu,” Sun XiuQing tiba-tiba berkata, “tampaknya ia
mempunyai sedikit aksen daerah selatan sungai besar, mungkinkah ia berasal
dari keluarga Hua?”
“Keluarga Hua yang mana?” Shi XiuYun bertanya.
“Keluarga Hua dari selatan sungai besar itu. Menurut kabar angin, kau bisa
berkuda dengan kecepatan penuh selama seharian penuh dan masih tetap berada
di atas tanah milik mereka.”
“Aku juga tahu keluarga itu,” Ma XiuZheng memotong. “Tapi kurasa Hua Man Lou
bukan berasal dari keluarga itu.”
“Kenapa tidak?” Sun XiuQing bertanya.
“Kudengar keluarga itu hidupnya sangat bermewah-mewahan, dan sangat teliti
dengan apa yang mereka minum, makan, dan pakai, bahkan pegawai mereka
kelihatan seperti jutawan yang sedang jalan-jalan keliling kota. Tapi Hua Man Lou
tampaknya orang yang sangat sederhana. Bukan hanya itu, aku pun belum
pernah mendengar salah seorang anggota keluarga itu ada yang buta.”
Shi XiuYun segera mendengus.
“Memangnya kenapa kalau buta? Walaupun buta, tapi ia bisa melihat jauh lebih
banyak daripada kita berempat disatukan.”
Ma XiuZheng tak tahu kalau ia akan menyahut demikian, maka ia merubah nada
bicaranya sedikit dan tersenyum.
“Ilmu kungfunya memang sangat baik, aku pun tidak mengira kalau ia mampu
menangkap pedangmu di antara jari-jarinya seperti itu.”
“Itu mungkin karena gadis kecil ini telah terpikat olehnya.” Sun XiuQing
bergurau.
Shi XiuYun meliriknya dengan marah.
“Jika kau ingin merasakannya, kau bisa mencobanya lain kali jika kau mau. Aku
bukan membangga-banggakan dirinya, tapi tidak banyak orang di dunia ini yang
bisa menandingi jurusnya itu.”
“Bagaimana dengan XiMen ChuiXue? Apakah jurusnya jelek?”
Shi XiuYun tidak menjawab, karena ia mau tak mau harus mengakui bahwa jurus
XiMen ChuiXue memang menakutkan.
“Kudengar bukan hanya ilmu pedang XiMen ChuiXue tiada bandingnya,
keluarganya juga kaya, kemewahan dan kekayaan Gedung Seribu Plum tidaklah
di bawah keluarga Hua.” Ma XiuZheng memotong.
Mata Sun XiuQing bersinar-sinar.
“Aku menyukainya, bukan karena kekayaan atau keluarganya, bahkan jika ia
adalah seorang fakir miskin yang tak punya uang, aku tetap akan menyukainya.”
“Dari kepala hingga ke ujung kaki, aku benar-benar tak bisa melihat ada yang
menarik pada dirinya.” Shi XiuYun berkata.
“Kenapa harus dapat melihat daya tariknya? Selama aku….”
Ia tiba-tiba berhenti bicara, wajahnya memerah seperti darah, merah hingga ke
telinganya.
Karena pada saat itu juga seorang laki-laki berjalan masuk, berpakaian putih
seperti salju, siapa lagi kalau bukan XiMen ChuiXue.
Shi XiuYun juga tak bisa mengatakan apa-apa lagi, keempat gadis penggosip itu
tiba-tiba berhenti semuanya.
Bukan hanya melihat XiMen Chui Xue, tapi mereka juga melihat Hua Man Lou dan
Lu Xiao Feng.
Dengan sepasang mata yang menusuk seperti pisau belati, XiMen ChuiXue
menatap mereka. Tiba-tiba ia berjalan menghampiri mereka.
“Bukan hanya aku membunuh Su ShaoYing,” ia berkata dengan dingin, “tapi aku
juga telah membunuh DuGu YiHe.”
Warna wajah keempat gadis itu pun berubah, terutama wajah Sun XiuQing, yang
menjadi pucat seperti kertas, tanpa sedikit pun kelihatan darahnya.
Di dalam hati seorang gadis, kebencian sangat mudah digantikan dengan
perasaan cinta. Di samping itu, Su ShaoYing juga agak terlalu angkuh, maka
biarpun seharusnya keempat saudara wanita seperguruannya ini bertarung
untuknya, tetapi mereka tidak terlalu menyukai dirinya, sehingga selama ini
selalu ogah-ogahan untuk membalaskan dendamnya. Tapi pembunuhan guru
mereka tentulah persoalan yang sangat berbeda.
“Apa… apa yang kau katakan?” Sun XiuQing terpaksa bertanya lagi.
“Aku membunuh DuGu YiHe.”
Shi XiuYun tiba-tiba melompat bangkit dari kursinya dan mulai berteriak.
“Kakakku yang kedua sangat menyukaimu, bagaimana… bagaimana… bagaimana
mungkin kau melakukan sesuatu seperti itu!”
Tak seorang pun menduga kalau ia akan bicara sesuatu seperti itu, bahkan XiMen
ChuiXue pun tampak tercengang.
Wajah Sun XiuQing berganti-ganti warna dari merah ke hijau dan sebaliknya.
Tiba-tiba, sambil mengkertakkan giginya, kedua pedang di dalam lengan bajunya
melesat keluar, kilauan pedang tampak berkilat-kilat saat meluncur pesat ke arah
dada XiMen ChuiXue.
Tapi XiMen ChuiXue tidak merespon, ia malah mengibaskan lengan bajunya dan
tubuhnya pun melesat mundur sejauh 2 atau 3 meter.
“Aku akan membunuhmu!” Sun XiuQing memekik, matanya telah merah dipenuhi
air mata.
Sambil memutar-mutar pedangnya, rahang dikertakkan, ia melesat ke arah
XiMen ChuiXue. Gerakan senjatanya berdasarkan pada kecepatan dan perubahan
yang tiba-tiba, kilauan pedangnya membutakan mata lawan seperti tetesan air
yang berasal dari sebuah percikan besar ketika ia, dalam sekejap mata,
menyerang sebanyak 7 kali.
Pedang saudara-saudaranya pun telah dihunus.
“Ini adalah persoalan di antara kami dan XiMen ChuiXue, orang lain lebih baik
tidak ikut campur.” Shi XiuYun berseru dengan keras.
Ucapannya itu jelas ditujukan pada Hua Man Lou. Kenyataannya, Hua Man Lou
memang tidak bisa ikut campur walaupun ia ingin.
Tapi bagaimana mungkin ia hanya berdiri di sana dan membiarkan empat orang
gadis yang tak bersalah ini mati di bawah pedang XiMen ChuiXue?
Tepat pada saat itu, sebuah suara “bang” yang keras terdengar saat XiMen
ChuiXue tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menangkap pergelangan tangan
kiri Sun XiuQing, lalu memukulkan pedang di tangan kiri gadis itu ke pedang
yang berada di tangan kanannya.
Waktu kedua pedang itu berbenturan, gadis itu merasakan pergelangan
tangannya menjadi linu sebentar. Sebelum ia sadar, kedua pedangnya tiba-tiba
telah berada di tangan XiMen ChuiXue.
“Mundur, atau aku pun akan menghunus pedangku!” XiMen ChuiXue berkata
dengan dingin.
Suaranya dingin, tapi matanya tidak, itulah sebabnya Sun XiuQing masih hidup.
Ia tetaplah manusia, tetap seorang laki-laki, bagaimana mungkin ia tega
membunuh seorang gadis cantik yang menyukainya?
Wajah Sun XiuQing semakin pucat dan matanya bersimbah air mata.
“Sudah kukatakan aku akan membunuhmu. Jika aku tak mampu membunuhmu,
maka… maka aku akan mati di hadapanmu!” Ia berkata, masih mengkertakkan
rahangnya.
“Mati itu tidak ada artinya. Jika kau ingin balas dendam, pulanglah dan bawa
semua anggota 108 gedung Paviliun Baju Hijau.” XiMen ChuiXue mendengus
dengan dingin.
Sun XiuQing tampak terkejut dan bingung.
“Apa yang kau katakan?” Ia berujar.
“Karena DuGu YiHe adalah ketua Paviliun Baju Hijau, maka….”
Sun XiuQing tidak membiarkannya selesai bicara.
“Kau mengatakan guruku adalah anggota Paviliun Baju Hijau? Apa kau gila?” Ia
berseru, dengan kemarahan terdengar dalam suaranya dan terlihat di matanya.
“Seluruh perjalanan ini kami lakukan karena guru kami menerima informasi
bahwa Paviliun Pertama dari Baju Hijau berada di….”
Tiba-tiba, terdengar suara “twang” dari luar jendela belakang dan selarik sinar
hitam melesat masuk lewat jendela dan mengenai punggung Sun XiuQing.
Tubuh Sun XiuQing langsung tersentak dan roboh ke arah XiMen ChuiXue.
Shi XiuYun adalah orang yang terdekat dengan jendela belakang. Sambil
berteriak murka, ia berbalik dan melesat ke arah jendela. Tapi saat itu juga
selarik sinar hitam kembali melesat dari jendela ke arahnya dengan keganasan
dan kecepatan yang tak mampu dihindarkannya.
Ia menjerit, pedang di tangannya terlempar ke udara, tapi tubuhnya roboh.
Sun XiuQing jatuh ke dalam pelukan XiMen ChuiXue. Tiba-tiba XiMen ChuiXue
melingkarkan satu tangannya di pinggang gadis itu dan menghunus pedangnya
dengan tangannya yang lain; dengan sebuah kilatan pedang, tubuhnya seperti
menjadi satu dengan kilatan pedang dan melesat keluar dari jendela.
Di pihak lain, Lu Xiao Feng telah lebih dulu melompat keluar lewat jendela yang
lain. Ma XiuZheng dan Yie XiuZhu berseru dengan marah dan mengejar keluar
juga.
Di tengah malam, angin malam bertiup di kebun kecil di luar jendela, sedikit pun
tidak terlihat bayangan manusia di sana.
Di luar hutan murbei, terdengar suara serigala melolong. Kilauan pedang XiMen
ChuiXue telah memasuki hutan itu.
Tanpa memperdulikan keselamatan mereka sendiri, Ma XiuZheng dan Yie XiuZhu
ikut masuk ke sana.
Keluarga-keluarga yang tinggal di dalam hutan itu telah pergi tidur, tak terlihat
sinar sedikit pun, bahkan kilauan pedang XiMen ChuiXue pun tidak tampak.
“Ayo!” Ma XiuZheng berkata. “Tak perduli apa pun, kita harus mendapatkan
kembali adik Sun!”
Sebelum selesai bicara, mereka berdua pun telah menghilang.
Seekor anjing kuning melolong ke arah sebuah jalan kecil di belakang hutan.
Lu Xiao Feng telah berhenti mengejar, ia tiba-tiba berhenti di bawah sebatang
pohon, membungkuk, dan memungut sesuatu….
Pemilik warung arak itu telah meringkuk di sudut sana, tidak sedikit pun terlihat
warna darah di wajahnya.
Hua Man Lou membungkuk dan dengan selembut mungkin memondong Shi
XiuYun dalam pelukannya. Jantung gadis itu masih berdenyut, tapi denyutnya
sangat lemah.
Sebuah warna kelabu muncul secara menakutkan di wajahnya yang cantik.
Perlahan-lahan matanya terbuka dan menatap Hua Man Lou.
“Mengapa… mengapa kau tidak pergi.” Ia berkata dengan pelan.
“Aku tidak pergi,” Hua Man Lou menjawab dengan lembut. “Aku di sini
bersamamu.”
Sebuah ekspresi aneh muncul di mata Shi XiuYun, seperti terhibur, juga seperti
sedih.
“Tidak kusangka kau masih mengenaliku.” Ia berkata, sambil berusaha
mengumpulkan tenaga untuk tersenyum.
“Aku akan selalu mengenalimu.”
Shi XiuYun tersenyum lagi, senyuman yang sedih dan sunyi.
“Walaupun aku tidak menjadi bisu, tapi aku akan mati. Orang mati tak bisa
bicara, kan?”
“Kau… kau tidak akan mati, aku yakin itu.”
“Kau tidak perlu menghiburku. Aku tahu, aku terkena jarum beracun.”
“Racun?” Ekspresi wajah Hua Man Lou berubah hebat.
“Karena aku merasa seolah-olah seluruh tubuhku menjadi kaku, mungkin
racunnya sedang bereaksi, kenapa kau tidak… meraba lukaku, rasanya sangat
panas.”
Ia tiba-tiba memegang tangan Hua Man Lou dan meletakkannya di atas lukanya.
Lukanya itu tepat berada di dadanya, dada yang lembut, halus dan hangat.
Ketika ia menekankan tangan Hua Man Lou yang sedingin es ke dadanya yang
lunak, jantungnya tiba-tiba berdebar semakin kencang.
Jantung Hua Man Lou juga berdebaran. Saat itu juga ia mendengar suara Lu Xiao
Feng dari luar jendela.
“Dia terkena apa?”
“Jarum beracun.”
Hening lagi.
“Kau tetap di sini bersamanya, aku akan mencari seseorang.”
Saat Lu Xiao Feng menyelesaikan kalimatnya, suaranya tampaknya telah sangat
jauh.
“Kau benar-benar tidak pergi,” Shi XiuYun berkata, sambil berusaha bernafas.
“Kau benar-benar di sini bersamaku!”
“Tutup matamu, biarkan aku…. menghisap jarum beracun itu keluar.”
Wajah Shi XiuYun yang pucat terlihat memerah sedikit dan matanya pun
berkilauan dalam gelap.
“Kau benar-benar mau melakukan itu?”
“Asal kau tidak keberatan….” Hua Man Lou menjawab dengan serius.
“Aku tidak keberatan melakukan apa pun, tapi aku tak ingin menutup mataku,
karena aku ingin melihat wajahmu.”
Suaranya semakin lemah dan lemah, sampai akhirnya senyuman di wajahnya
tiba-tiba membeku dan sinar di matanya tiba-tiba menghilang.
Kematian. Dengan tiba-tiba dan diam-diam ia merenggut gadis itu dari pelukan
Hua Man Lou.
Tapi matanya seperti masih menatap Hua Man Lou, menatapnya selamanya….
Kegelapan. Tapi semua yang ada di depan mata Hua Man Lou adalah kegelapan.
Tiba-tiba ia jadi membenci dirinya sendiri karena buta, membenci dirinya sendiri
karena tak mampu melihat gadis itu untuk terakhir kalinya.
Ia masih begitu muda, tapi tubuhnya yang muda dan bergairah tiba-tiba menjadi
dingin dan kaku.
Dengan perlahan Hua Man Lou menggeser tangannya, air mata mulai mengalir
dari matanya.
Ia tidak pergi, juga tidak bergerak. Untuk pertama kalinya ia merasakan betapa
kasar dan kejamnya kehidupan.
Angin bertiup masuk dari jendela, angin bertiup masuk dari pintu, angin bulan
April yang hangat baginya terasa seperti angin musim dingin.
Ia tiba-tiba menyadari bahwa angin itu membawa gelombang demi gelombang
keharuman bunga. Tiba-tiba jendela belakang berbunyi gemeretak. Kepalanya
segera diputar dan ia bersiap-siap untuk melompat bangkit.
Tapi sebuah suara yang manis dan hangat terdengar dari luar jendela.
“Jangan takut, ini aku!” suara itu berkata dengan lembut padanya.
Suara ini adalah suara orang yang ia kenal, orang yang selalu ia fikirkan
sepanjang waktu.
“FeiYan?” Ia tak tahan untuk tidak berseru perlahan.
“Ya, ini aku. Tidak kukira kau masih mengenali suaraku.”
Seseorang melayang masuk dengan ringan dari jendela belakang, suaranya
mengandung sedikit rasa cemburu dan iri.
“Kukira kau telah melupakanku sama sekali.” Ia berkata dengan dingin.
Hua Man Lou berdiri di sana seperti patung. Setelah beberapa lama, barulah ia
tersadar dari keterkejutannya.
“Bagaimana… bagaimana kau tiba-tiba bisa muncul di sini?”
“Jadi menurutmu seharusnya aku tidak datang ke mari?”
“Bukan begitu, hanya saja aku tidak mengira,” Hua Man Lou menggelenggelengkan
kepalanya dan menarik nafas. “Kukira kau telah….”
“Kau kira aku telah mati?”
Hua Man Lou tak tahu harus berkata apa.
ShangGuan FeiYan menarik nafas lagi dengan dingin.
“Jika aku ingin mati, maka aku tentu akan mati seperti dia, dalam pelukanmu.”
Perlahan-lahan ia berjalan menghampiri sampai di hadapan Hua Man Lou.
“Aku tadi melihat kalian berdua, aku… aku merasa tidak enak, kalau bukan
karena ia telah mati, aku tentu telah membunuhnya.”
Hua Man Lou terdiam.
“Aku pernah mendengarmu bernyanyi.” Tiba-tiba ia berkata setelah beberapa
lama.
“Apakah itu di luar Gedung Seribu Plum, di sebuah kuil terpencil?” Ia bertanya
dengan suara yang berat.
“Mmm.”
Kali ini ShangGuan FeiYan yang terdiam.
“Tapi saat kau menemukan tempat itu, aku telah pergi.” Ia berkata dengan
perlahan.
“Kenapa kau pergi?”
Suara gadis itu semakin pelan.
“Seharusnya kau tahu bahwa aku tidak ingin pergi.”
“Seseorang memaksamu pergi?”
“Aku juga dipaksa untuk menyanyikan lagu itu. Aku tidak faham waktu itu, tapi
kemudian aku sadar bahwa mereka ingin menggiring kalian ke kuil itu.”
“Mereka? Siapa mereka?”
ShangGuan FeiYan tidak menjawab pertanyaan ini, tapi suaranya tiba-tiba
bergetar, seakan-akan ia sedang ketakutan.
“Apakah kau telah jatuh ke tangan mereka?”
“Sebaiknya kau tidak usah tahu terlalu banyak, atau ….” Suara gadis itu semakin
bergetar.
“Atau apa?” Hua Man Lou tak tahan untuk tidak bertanya.
ShangGuan FeiYan terdiam lagi beberapa lama.
“Mereka menggiring kalian ke sana untuk memberi peringatan agar tidak ikut
campur dalam urusan ini. Mereka ingin memberitahu kalian bahwa aku telah
jatuh ke tangan mereka.” Ia tidak membiarkan Hua Man Lou memotong
ucapannya dan melanjutkan. “Sebabnya mereka ingin aku datang ke sini hari ini
adalah juga untuk membujukmu agar tidak ikut campur dalam urusan ini lagi.
Kalau tidak… mereka akan memaksaku untuk membunuhmu!”
“Mereka ingin kau membunuhku?” Hua Man Lou terkejut.
“Ya, karena mereka tahu bahwa kau tak akan pernah menduga kalau aku akan
menyakitimu dan tak akan waspada terhadapku. Tapi mereka tidak menyadari
bahwa aku tak akan tega menyakitimu sedikit pun.”
Tiba-tiba ia menghambur maju dan memeluk Hua Man Lou erat-erat.
“Sekarang kau mungkin telah tahu siapa mereka,” ia berkata dengan suara
bergetar. “Tapi kau tak akan pernah membayangkan betapa menakutkan
kekuasaan mereka sebenarnya….”
Yan TieShan dan DuGu YiHe telah mati, satu-satunya orang yang mungkin ingin
menghentikan mereka adalah Huo Xiu.
“Tidak perduli betapa menakutkan kekuasaan mereka, kau tidak perlu takut….”
Hua Man Lou berkata dengan suara yang berat.
“Tapi aku benar-benar takut, bukan untuk diriku sendiri, tapi untukmu. Jika
bukan karena aku, kalian tak akan terseret dalam masalah ini. Jika sesuatu
terjadi padamu, bagaimana mungkin aku bisa hidup?”
Ia berpegangan seerat-eratnya pada Hua Man Lou, tapi tubuhnya masih gemetar.
Nafasnya membawa keharuman yang manis dan lembut.
Hua Man Lou membuka tangannya dan ingin memeluknya erat-erat juga.
Tapi di sisinya terbaring jenazah Shi XiuYun, seorang gadis muda yang penuh
kasih sayang dan cinta, yang baru saja mati dalam pelukannya, bagaimana
mungkin ia menggunakan tangan yang sama untuk memeluk gadis lain?
Hatinya penuh dengan perasaan sakit. Ia ingin mengendalikan emosi dan
perasaannya, tapi tak mampu.
Ketika pikirannya kembali ingin memeluk si dia, tiba-tiba gadis itu menjauh.
“Sekarang kau mungkin faham apa yang aku katakan.”
“Tidak, aku tidak faham.”
“Tidak perduli kau faham atau tidak, aku… aku harus pergi sekarang.”
“Pergi?” Hua Man Lou terdengar putus asa. “Kenapa kau harus pergi?”
“Aku pun tak ingin pergi, tapi aku harus!” Suaranya penuh dengan perasaan
sedih dan khawatir. “Jika kau punya perasaan terhadap diriku, tolong jangan
tanya kenapa lagi, atau menarik tanganku, karena hal itu bukan hanya akan
menyakiti dirimu sendiri, tapi aku juga!”
“Tapi aku… aku….”
“Biarkan aku pergi, asal kutahu kau hidup dan sehat, aku akan bahagia dan puas.
Bahkan jika kau mengingkariku….”
Suaranya makin menjauh dan menjauh, dan tiba-tiba hilang. Kegelapan. Hua
Man Lou tiba-tiba menemukan dirinya terperangkap dalam kegelapan yang tiada
batas dan kesunyian.
Ia tahu ada hal-hal di luar kendali gadis itu yang memaksanya pergi. Tapi yang
bisa ia lakukan hanyalah berdiri di situ seperti orang tolol. Ia tak bisa
menolongnya, tak mampu membebaskannya dari kesulitannya, ia bahkan tak
bisa menghiburnya, persis seperti sebelumnya ketika yang bisa ia lakukan
hanyalah membiarkan Shi XiuYun mati di dalam pelukannya.
“Laki-laki macam apa aku ini? Apa?” Seperti ada sebuah suara dari samping yang
menertawakannya. “Kau bukan apa-apa selain orang buta, orang buta yang tidak
berguna!”
Kehidupan seorang buta itu seperti penuh dengan kegelapan, kegelapan yang
tiada harapan.
Tinjunya terkepal saat ia berdiri dalam hembusan angin malam di bulan April.
Tiba-tiba ia menyadari bahwa hidup tidak sesempurna yang ia bayangkan. Hidup
ini penuh dengan kedukaan dan rasa sakit yang tak dapat dihindarkan.
Ia tak tahu bagaimana caranya melarikan diri dari semua itu.
Bulan April adalah musim burung walet pulang ke sarangnya, tapi walet kecilnya
telah terbang pergi, terbang menghilang seperti tahun-tahun terbaik dalam
kehidupan kita, tak pernah kembali. Perlahan-lahan ia berjalan keluar dari
warung dan melangkah di atas rerumputan, rerumputan yang telah dibasahi oleh
embun.
Bab 10: Jiwa-jiwa Yang Rusak dan Kemurkaan Tuhan
Rumput lembut itu telah dibasahi oleh embun, malam pun semakin larut.
Huo TianQing berjalan perlahan-lahan di halaman. Cahaya dari sebuah bangunan
kecil di kejauhan menyinari wajahnya yang pucat dan layu. Ia tampak sangat
lelah, kesepian dan lelah.
Air jernih di kolam bunga lotus itu tenang seperti cermin, memantulkan bulan dan
langit yang penuh bintang. Dengan menggendong tangan di belakang
punggungnya, ia berdiri dalam kebisuan di ujung jembatan kecil itu. Waktu angin
berhembus, sehelai daun kecil terbawa angin dan jatuh ke tanah.
Ia membungkuk dan memungut daun jatuh itu.
“Kau di sini.” Tiba-tiba ia berkata.
“Aku di sini.”
Waktu Huo TianQing menengadah, ia melihat Lu Xiao Feng.
Seperti daun yang jatuh tadi, Lu Xiao Feng melayang masuk dari luar tembok dan
mendarat di seberang kolam bunga lotus. Ia juga sedang menatap Huo TianQing.
Di antara mereka berdua, ada kolam bunga lotus selebar kira-kira 20 meter, tapi
saat itu mereka merasa seolah-olah jarak di antara mereka masih terlalu dekat.
Lu Xiao Feng tersenyum.
“Tampaknya kau sedang menungguku!” Ia berkata.
“Aku memang sedang menunggumu.”
“Kau tahu aku akan datang?”
Huo TianQing mengangguk.
“Aku tahu kau pasti datang.”
“Mengapa?”
“Sejak kau pergi, banyak peristiwa yang terjadi di sini.”
“Banyak peristiwa?”
“Kau tidak tahu?”
“Aku hanya tahu satu hal.”
“Kau tahu bahwa DuGu YiHe mati di sini?”
Lu Xiao Feng menarik nafas.
”Tapi aku tidak tahu apakah ia memang harus mati.”
Huo TianQing terdiam.
“Tentu kau tak tahu bahwa aku ada hubungannya dengan kematiannya.” Tibatiba
ia pun menarik nafas.
“Oh!”
“Jika bukan karena aku, mungkin ia tidak akan mati oleh pedang XiMen ChuiXue.”
“Oh?”
“Aku tidak pernah menyukai orang-orang sombong yang menganggap dirinya
begitu tinggi, tapi DuGu kebetulan adalah salah satu dari orang-orang angkuh itu.
Maka sebelum XiMen ChuiXue tiba, aku telah bertukar pukulan dengan dia.”
“Aku tahu.”
“Kau tahu?” Hal ini mengejutkan Huo TianQing. “Bagaimana kau bisa tahu?”
Lu Xiao Feng tertawa kecil.
“Waktu DuGu bertarung dengan XiMen, paling tidak ia telah kehilangan setengah
tenaga dalamnya. Di antara orang-orang yang mampu memaksanya
menggunakan setengah tenaga dalamnya, tidak banyak dari mereka yang berada
di sekitar sini.”
Huo TianQing mengangguk.
“Benar. Ini adalah sesuatu yang tentu bisa kau perkirakan.”
“Jadi ada sesuatu yang tak akan bisa kuperkirakan?”
Huo TianQing mengangguk.
Lu Xiao Feng tersenyum.
“Tak apa, sekarang aku hanya ingin tahu di mana ShangGuan DanFeng berada.”
“Inilah hal yang tak kumengerti.”
"Apa itu?”
“Ia tidak datang ke mari, dan mungkin tak akan datang ke sini lagi!”
Lu Xiao Feng tak mampu bicara, ia benar-benar tidak pernah mempertimbangkan
kemungkinan ShangGuan DanFeng tidak berada di tempat itu.
“Mungkin kau sedang berfikir, kenapa aku bisa tahu kalau ia tak akan datang.”
“Aku memang ingin tahu itu.” Lu Xiao Feng mengakui.
“Setelah kau baca surat ini, maka kau tak akan bingung lagi.”
Tiba-tiba ia mengeluarkan sepucuk surat dari dalam lengan bajunya dan
mengibaskan tangannya. Surat itu seperti segumpal awan, melayang perlahan
kepada Lu Xiao Feng.
“DanFeng dalam bahaya,
“Xiao Feng tolong berhenti,
“Jika tidak berhenti,
“Hidup akan berakhir.”
Hanya 12 kata itu yang tertulis di surat, kata-kata itu tertulis dengan sangat rapi,
dan kertasnya pun sangat bagus.
Di amplopnya tertulis: “Kepada: Lu Xiao Feng.”
“Surat ini untukmu, sekarang aku menyerahkannya padamu.” Huo TianQing
berkata.
“Tapi aku tidak mengerti apa maksudnya.”
“Itu berarti sangat sukar bagimu untuk menemukan ShangGuan DanFeng saat
ini, maka sebaiknya kau berhenti sekarang dan tidak ikut campur dalam urusan
ini lagi, kalau tidak seseorang tentu menginginkanmu mati.” Huo TianQing
menjawab dengan santai, tentu saja ia menyadari bahwa Lu Xiao Feng
memahami semua itu.
“Siapa yang menginginkanmu memberikan surat ini padaku?”
“Aku tidak tahu.”
“Kau tidak tahu?”
“Jika kau menulis surat seperti itu untuk kuserahkan pada orang lain, apakah kau
akan memberikannya langsung padaku?”
“Tidak.”
“Itulah sebabnya orang yang menulis surat ini tidak langsung memberikan surat
ini padaku. Aku hanya menemukan surat ini di peti mati Ketua Yan, selain itu aku
tidak tahu apa-apa.”
Lu Xiao Feng menarik nafas.
“Tentu saja tidak.”
“Tapi kau tentu tahu.”
“Apa yang kuketahui?”
“Kau tentu tahu siapa yang menulis surat ini.”
“Aku hanya tahu bahwa Ketua Yan tidak menulis surat ini di dalam peti matinya.”
Lu Xiao Feng berkata sambil tersenyum murung.
“Kau seharusnya juga tahu, selain Ketua Yan, siapa lagi yang menginginkanmu
tidak ikut campur dalam urusan ini.” Mata Huo TianQing berkilauan.
“Sayangnya aku pun tidak tahu itu.” Lu Xiao Feng menarik nafas lagi.
“Paling tidak kau tahu satu orang.”
“Siapa?”
“Aku.”
Lu Xiao Feng tertawa.
Tapi Huo TianQing tidak.
“Jika ShangGuan DanFeng tidak datang, dan kau menghentikan penyelidikanmu,
maka Paviliun Mutiara dan Intan beserta seluruh hartanya tentu akan menjadi
milikku!” Huo TianQing berkata dengan wajah yang gelap.
“Tapi aku tahu bahwa ketua Sekte Pemburu Langit tak akan melakukan sesuatu
seperti itu.” Lu Xiao Feng tersenyum.
Huo TianQing menatapnya, sudut mulutnya tiba-tiba menampilkan secercah
senyuman.
“Ada yang bisa diminum?” Tiba-tiba ia berteriak ke dalam.
“Tentu saja!”
Arak itu tersimpan dalam sebuah porselen berwarna biru dan putih. Waktu
dituangkan keluar, ternyata arak itu tidak berwarna dan tidak berbau, seperti air,
tapi setelah dicampur dengan arak lain, wangi arak segera memenuhi ruangan
yang kecil tapi indah itu.
Lu Xiao Feng menghirup sedikit dengan perlahan-lahan, lalu menarik nafas
panjang.
“Ini baru arak Wajah Merah Perawan yang asli.”
“Kau mengenal arak ini.”
“Itulah sebabnya, bila lain kali kau punya arak sebagus ini, kau harus
mengundangku, paling tidak aku tak akan menyia-nyiakan arakmu yang enak
ini.”
“Aku biasanya tidak punya arak bagus seperti ini, kau tahu.” Huo TianQing
tertawa dan menjawab.
“Oh.”
“Aku mendapatkan arak ini waktu terakhir kalinya aku pergi dan mengunjungi
tetangga kami, ia memberikannya padaku.”
“Aku iri padamu,” Lu Xiao Feng menarik nafas. “Mendapatkan tetangga sebaik itu
jauh lebih sukar daripada mendapatkan sekendi arak bagus sekarang ini.”
“Tapi ia adalah orang yang aneh, mungkin kau pernah mendengar tentang dia
sebelumnya.”
“Aku memang tahu beberapa orang aneh, yang manakah dia?”
“Namanya Huo Xiu.”
“Huo Xiu?” Lu Xiao Feng hampir berteriak. “Bagaimana dia bisa menjadi tetangga
kalian?”
“Ia tidak terlalu sering datang ke sini, tapi ia membangun sebuah tempat kecil di
atas gunung sana dan selalu tinggal di sana selama beberapa bulan setiap
tahunnya.”
Mata Lu Xiao Feng tiba-tiba mulai berkilauan.
“Apakah kau tahu kenapa ia datang ke sini?”
“Selain dari minum? Tampaknya ia tidak berbuat apa-apa.”
Lu Xiao Feng tidak bertanya lagi, tampaknya ia telah tenggelam dalam lamunan.
Ia pernah membuat peraturan tidak berfikir terlalu banyak bila sedang minum,
tapi kali ini ia membuat pengecualian.
Huo TianQing tidak begitu memperhatikan Lu Xiao Feng dan meneruskan. “Segala
macam arak bagus yang bisa kau sebutkan, mungkin ia memilikinya di tempat
itu. Bahkan aku, yang tak begitu suka minum, tidak ingin meninggalkan tempat
kecil itu sekali aku memasukinya.”
“Kau tahu arak macam apa yang rasanya sangat enak?” Lu Xiao Feng tiba-tiba
berkata.
“Tidak, apa?”
“Arak curian.”
Huo TianQing tertawa.
“Kau ingin aku ikut pergi dan mencuri arak bersamamu?”
“Tepat!” Lu Xiao Feng tertawa.
“Hanya ada satu macam orang di dunia ini yang tak bisa minum arak setetes
pun, kau tahu orang macam apa itu?”
“Tidak, apa?”
“Orang yang kehilangan kepalanya, jadi jika kau ingin menjaga kepalamu agar
tetap bisa minum arak, maka sebaiknya kau melupakan ide ini.”
“Mencuri arak itu seperti mencuri buku,” Lu Xiao Feng bergurau, “perbuatan itu
dilakukan oleh pencuri-pencuri yang berbudaya dan bercita-rasa tinggi. Bahkan
jika kau tertangkap oleh seseorang, kepalamu mungkin tidak akan dipancung.”
“Itu tergantung orang macam apa yang menangkapmu!”
“Ayolah, jika kau mundur 500 tahun ke belakang, kau dan Huo Xiu adalah satu
keluarga,” Lu Xiao Feng terus bergurau. “Apa yang kau takutkan?”
“Ia sendiri yang memberitahuku, di tempatnya yang kecil itu, ada 108 macam
perangkap berbeda yang menunggu mangsanya. Jika kau adalah tamu tak
diundang dan terperangkap di sana, maka tidak perduli siapa pun kamu, akan
sangat sulit untuk keluar hidup-hidup.” Ia berhenti untuk menarik nafas sebelum
meneruskan. “Perangkap-perangkap ini tidak tahu siapa dirimu, mereka tidak
perduli apakah margamu Huo atau Lu, tidak ada bedanya bagi mereka.”
Lu Xiao Feng akhirnya menarik nafas juga.
“Aku dulu punya empat alis, tidak masalah jika aku kehilangan dua di antaranya.
Tapi aku hanya punya satu kepala, aku tak mau biarpun hanya kehilangan
setengahnya.” Ia berkata sambil tersenyum putus asa. “Untuk beberapa kendi
arak, ia menggunakan 108 macam perangkap buat berjaga-jaga terhadap
pencuri, tak heran ia jadi kaya raya.”
“Mungkin ia bukan hanya melindungi araknya.”
“Jadi menurutmu ada rahasia lain di bangunan kecil miliknya itu?” Mata Lu Xiao
Feng kembali berkilauan.
Huo TianQing tersenyum.
“Setiap orang, lebih atau kurang, punya rahasia….” Ia menjawab dengan santai.
“Tapi hanya ada satu macam orang yang benar-benar bisa menyimpan rahasia.”
“Orang macam apa?”
“Orang mati.”
“Tapi Huo Xiu tidak mati.” Mata Huo TianQing pun berkilauan.
“Tidak, ia memang belum mati.”
______________________________


Load disqus comments

0 komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top