Selasa, 03 April 2012

Pendekar 4 Alis - Kekaisaran Rajawali Emas 1



Kekaisaran Rajawali Emas
Karya Khulung


Prolog

Pendahuluan

Lu Xiao Feng adalah seeorang, orang yang tak akan
pernah kamu lupakan seumur hidupmu. Dalam
kehidupannya yang luar biasa dan aneh, ia telah
melihat banyak orang-orang luar biasa dan aneh serta
peristiwa-peristiwa yang aneh dan luar biasa. Mungkin
lebih aneh dan luar biasa dari apa yang pernah kamu
dengar di manapun. Maka, sekarang aku ingin
memperkenalkan beberapa orang kepadamu, dan lalu
berlanjut ke cerita mengenai mereka.
Kacang Gula Nenek Xung
Bulan tampak bundar; kabut pun tebal. Tertutup oleh kabut yang tebal, bulan
purnama tampak kelam dan sunyi, cukup untuk mematahkan hati seorang
manusia.
Tapi Zhang Fang dan teman-temannya tidak ingin menikmati pemandangan itu,
mereka hanya ingin berjalan-jalan tanpa mengkhawatirkan apa-apa.
Mereka baru selesai mengantarkan barang dari tempat yang sangat jauh; mereka
juga baru saja minum anggur. Semua ketegangan dan kerja keras telah selesai.
Mereka merasa santai, tanpa rasa cemas dan bahagia. Saat itulah mereka
melihat Nenek Xung. Nenek Xung tiba-tiba muncul dari kabut seperti hantu.
Dia seolah-olah membawa batu tak terlihat yang luar biasa besarnya di
punggungnya, membebaninya sedemikian rupa sehingga seluruh tubuhnya
membungkuk. Pinggangnya seolah-olah akan patah.
Di tangannya ada sebuah keranjang bambu yang sangat tua; keranjang itu
tertutup rapi oleh sehelai kain katun yang sangat tebal.
"Apa yang ada di dalam keranjang itu?" Seseorang bertanya.
Dengan suasana hati mereka seperti sekarang, mereka akan tertarik pada apa
saja.
"Kacang gula." Wajah Nenek XUng yang penuh keriput mengembangkan sebuah
senyuman, "Kacang gula yang manis dan panas, hanya 10 farthing sekatinya."
(Satu kati sama dengan 1/2 kg)
"Kami ambil 5 kati, masing-masing 1 kati."
Kacang gula itu benar-benar panas, dan benar-benar manis. Tapi Zhang Fang
hanya makan satu. Ia tidak pernah suka kacang; di samping itu, ia telah banyak
minum. Ia baru makan sebuah kacang waktu perutnya mulai terasa sangat sakit,
seolah-olah ia akan roboh.
Ia belum roboh waktu ia melihat bahwa teman-temannya tiba-tiba berjatuhan.
Setelah roboh, tubuh mereka segera mengejang sementara busa putih mula
muncul di sudut mulut mereka. Busa putih itu tiba-tiba berubah menjadi merah,
menjadi darah!
Nenek Xung masih berdiri di sana, memandang mereka, senyuman di wajahnya
tiba-tiba tampak sangat menakutkan.
"Ada racun di kacang gula itu!" Zhang Fang mengertakkan giginya dan ingin
menghambur ke arah perempuan itu. Tapi saat itu ia merasa seolah-olah tidak
ada kekuatan yang tersisa dalam dirinya.
Ia ingin mematahkan leher nenek ini, tapi ia sendiri yang roboh di kakinya.
Ia tiba-tiba melihat bahwa tersembunyi di balik gaun panjang nenek itu, dia
mengenakan sepasang sepatu merah bersulam. Merah seperti yang dipakai oleh
pengantin perempuan di hari pernikahannya. Tapi sepatu itu bukan bersulamkan
sepasang angsa, tapi seekor burung hantu.
Mata burung hantu itu hijau, seolah-olah menatap Zhang Fang, mengejek
kedunguan dan ketololannya. Zhang Fang tersentak.
Nenek Xung tertawa dan berkata: "Rupanya kamu anak nakal yang suka melihat
kaki perempuan."
Zhang Fang berusaha mengangkat kepalanya dan bertanya: "Kenapa kau
bermusuhan dengan kami?"
Nenek Xung tertawa dan menjawab: "Anak bodoh, aku tidak pernah melihat
kalian sebelumnya, bagaimana aku bisa bermusuhan dengan kalian?"
Zhang Fang mengertakkan giginya dan bertanya: "Lalu mengapa kau membunuh
kami?"
Nenek Xung menjawab dengan santai: "Tidak ada alasan sebenarnya, aku hanya
ingin membunuh."
Ia memandang ke arah kabut yang tampak samar dan bulan yang sunyi dan
menjawab dengan lambat: "Bila bulan sedang purnama, aku ingin membunuh!"
Zhang Fang memandangnya terbelalak, matanya penuh dengan rasa ketakutan
dan amarah. Ia ingin sekali menggigit tenggorokan perempuan itu.
Tapi tiba-tiba, seperti hantu, nenek ini menghilang dalam kabut yang tebal. Kabut
tetap tebal dan samar-samar, dan bulan bertambah bundar.
Hwesio Jujur
Matahari tenggelam di barat sementara angin musim gugur meniup buluh-buluh
tumbuhan air di rawa-rawa itu. Tidak ada jejak-jejak manusia di tepi rawa. Hanya
seekor burung gagak yang terbang mendekat dan semakin dekat, akhirnya
mendarat pada sebuah tiang kayu di tepi rawa yang biasanya digunakan untuk
mengikat perahu.
Tempat ini adalah sebuah dermaga yang sunyi, dan sekarang perahu itu telah
berangkat untuk penyeberangan terakhir kalinya. Orang yang mengemudikan
perahu itu adalah seorang lelaki yang sangat tua, bahkan jenggotnya pun telah
putih.
Setiap hari selama 20 tahun ini, ia telah bolak-balik di antara kedua tepi rawa di
atas perahu miliknya itu.
Tidak banyak lagi dalam hidup ini yang bisa membuatnya bahagia, kecuali minum
dan judi.
Tapi malam ini ia bersumpah tidak akan berjudi. Karena sekarang ada seorang
hwesio di perahunya.
Hwesio ini tampak sangat alim, sangat jujur, tapi hwesio tetaplah hwesio.
Setiap kali melihat hwesio, ia akan kehilangan semua uang yang dimilikinya.
Hwesio Jujur ini duduk dengan sangat khusyuk di sudut perahu, menatap kakinya
sendiri, kaki yang sangat kotor. Di kakinya yang sangat kotor, ia memakai
sepasang sandal jerami yang sangat usang.
Penumpang lain duduk sejauh mungkin darinya, seolah-olah mereka takut kutukutu
di tubuhnya akan pindah kepada mereka.
Hwesio Jujur tidak berani memandang yang lain, bukan hanya ia seorang yang
jujur, ia juga sangat pemalu. Bahkan waktu penjahat-penjahat itu melompat ke
atas perahu, ia juga tidak menoleh, hanya mendengar teriakan-teriakan terkejut
para penumpang diikuti oleh suara 4 orang melompat ke haluan perahu. Lalu ia
mendengar para penjahat mengancam dengan sengit: "Kami adalah pahlawanpahlawan
Sekte Ular Air, kami hanya ingin uang dan bukan nyawa, jadi kalian
tidak perlu takut, serahkan saja semua uang dan barang-barang berharga kalian
dan semuanya akan beres."
Matahari terbenam menyinari golok-golok di tangan mereka, pantulan dari golokgolok
itu menerangi bagian dalam perahu.
Di dalam perahu, laki-laki gemetaran dan yang perempuan menangis, semakin
banyak uang mereka, semakin keras mereka gemetaran, semakin sedih tangis
mereka.
Hwesio Jujur masih duduk di sana dengan kepala tertunduk, memandang kakinya
sendiri.
Tiba-tiba, ia melihat sepasang kaki lain, sepasang kaki yang memakai sepatu
boot yang bersih dan tebal, berdiri tepat di depannya: "Giliranmu, serahkan!"
Hwesio Jujur ini tampaknya tidak mengerti apa yang ia katakan dan bergumam:
"Apa yang kau ingin aku serahkan?"
"Selama ada nilainya, serahkan semua!"
"Tapi aku tidak punya apa-apa." Kepala Hwesio Jujur semakin menunduk.
Ia melihat bahwa orang itu seperti akan menendang dirinya tapi ditarik mundur
oleh temannya: "Lupakan saja, hwesio kotor ini tampaknya bukan orang yang
punya uang, mari kita keluar dari sini."
Mereka datang dengan cepat, dan pergi dengan cepat, semua penjahat memang
kurang percaya pada diri sendiri.
Dengan segera bagian dalam perahu itu menjadi kacau, ada yang berjingkrakjingkrak,
ada yang mencaci-maki, bukan hanya memaki para penjahat, tapi si
hwesio juga: "Melihat hwesio benar-benar mendatangkan nasib buruk!"
Mereka tampaknya tidak perduli bahwa si hwesio bisa mendengar makian
mereka, tapi si Hwesio Jujur tampaknya tidak mendengar mereka.
Ia masih duduk di sana dengan kepala tertunduk, raut wajahnya tampak
berubah-ubah, tiba-tiba ia melompat bangkit dan berlari ke haluan perahu.
Di haluan perahu ada sepotong papan, papan itu biasanya digunakan sebagai
jembatan saat perahu berlabuh di dermaga.
Hwesio Jujur meraup papan itu memukulnya pelan, papan kayu setebal 3 inci itu
terbelah menjadi 5 atau 6 potong. Semua orang di perahu itu terkejut. Hwesio
Jujur melemparkan potongan pertama, potongan itu baru saja mendarat di air
ketika ia melesat, ujung kakinya baru saja mendarat dengan lembut di atas
potongan kayu itu waktu potongan kedua dilemparkan.
Ia tampak seperti capung di permukaan air, sesudah 4 atau 5 lompatan di air, ia
telah berhasil mengejar perahu Sekte Ular Air yang menjauh.
Para pahlawan Sekte Ular Air baru saja menghitung pendapatan mereka hari ini
waktu mereka melihat seseorang melompat dengan perlahan ke haluan perahu
seperti seorang malaikat, itu adalah si hwesio kotor. Bukan hanya mereka belum
pernah melihat kungfu seperti ini sebelumnya, bahkan mendengarnya saja
belum.
"Jadi hwesio ini menyembunyikan dirinya, menunggu sampai kami telah
mendapatkan uang sebelum ia mengganggu kami."
Telapak tangan mereka telah basah dengan keringat dingin dan mereka berharap
bahwa hwesio ini hanya ingin uang mereka dan bukan nyawa mereka.
Tidak seorang pun dari mereka yang membayangkan kalau si hwesio tiba-tiba
berlutut di depan mereka dan berkata dengan sopan: "Aku punya 4 tael perak,
sebenarnya aku bermaksud membeli satu set pakaian dan sepasang sandal
jerami, itu pun sebenarnya sudah terlalu tamak."
Ia mengeluarkan perak itu dan meletakkannya di kaki mereka, dan lalu
meneruskan: "Di samping itu, hwesio seharusnya tidak berdusta, tapi aku telah
berdusta kepada kalian, sekarang aku hanya memohon ampunan kalian. Bila
pulang nanti aku akan menghadap tembok dan memikirkan semua ini di hadapan
sang Buddha selama paling sedikit 3 bulan untuk menghukum diriku sendiri."
Semua penjahat itu terheran-heran, mereka tidak berani mengatakan apa-apa.
Kepala Hwesio Jujur menunduk ketika ia berkata: "Jika para pahlawan tidak
mengampuniku, maka aku tidak punya pilihan selain berlutut di sini."
Siapa yang menginginkan orang seperti ini di atas perahu?
Akhirnya seseorang mengumpulkan keberaniannya dan berkata: "Baiklah, kami...
kami... mengampunimu."
Kalimat itu seharusnya dikatakan dengan keyakinan penuh, tapi waktu orang ini
mengatakannya, suaranya seperti orang tercekik.
Kebahagiaan tiba-tiba muncul di wajah Hwesio Jujur, (Duk! Duk! Duk!) ia
bersujud 3 kali di geladak perahu, bangkit dengan lambat, tiba-tiba melompat
sejauh 20 meter ke tepi rawa, dan menghilang.
Semua orang berdiri dengan kaget di haluan perahu, mereka hanya bisa saling
berpandangan, lalu memandang uang perak tadi.
Entah sudah berapa lama, seseorang akhirnya menarik napas panjang dan
berkata: "Kalian kira dia benar-benar seorang hwesio?"
"Apa lagi jika dia bukan hwesio?"
"Malaikat, malaikat yang nyata."
Keesokan paginya, seseorang menemukan bahwa 18 anggota ternama Sekte Ular
Air mati di tempat tidur mereka. Semuanya tampaknya mati dengan damai, tidak
ada luka maupun racun ditemukan, tidak seorang pun sanggup membayangkan
bagaimana mereka bisa mati.
Xi Men Chui Xue
Xi Men Chui Xue tidak meniup salju, ia meniup darah. Darah yang ada di
pedangnya.
("Chui" berarti tiup, "Xue" berarti salju, tapi lafalnya sama dengan darah. Ini
permainan kata-kata yang sangat cerdas).
Air di bak mandi masih hangat dan masih tersisa harumnya bunga melati.
Xi Men Chui Xue baru saja mandi dan membasuh kepalanya, ia telah membasuh
setiap bagian tubuhnya sampai bersih. Sekarang Xiao-Hong sedang menyisir
rambutnya, sementara Xiao-Cui dan Xiao-Yu sedang memotong dan
membersihkan kukunya.
Xiao-Yun telah menyiapkan seperangkat baju baru untuk dipakainya, semuanya
putih mulai dari pakaian dalam hingga kaus kaki, putih seperti salju.
Mereka semua adalah pelacur terkenal di kota itu, semuanya sangat cantik,
sangat muda, mereka semua tahu bagaimana caranya menyenangkan laki-laki -
menyenangkan laki-laki dalam segala cara.
Tapi Xi Men Chui Xue hanya memilih satu cara. Ia tidak pernah menyentuh
mereka.
Ia telah berpuasa selama 3 hari.
Karena ia akan melakukan sesuatu yang ia percaya merupakan hal yang paling
mulia di dunia. Ia akan membunuh seseorang! Namanya Hong Tao.
Xi Men Chui Xue tidak kenal orang itu, juga belum pernah melihatnya. Xi Men
Chui Xue akan membunuhnya hanya karena dia telah membunuh Zhao Gang.
Semua orang tahu bahwa Zhao Gang adalah orang yang sangat lurus dan setia,
lelaki sejati di antara manusia.
Xi Men Chui Xue tahu hal itu juga, tapi ia juga tidak kenal Zhao Gang, belum
pernah melihatnya juga. Ia telah menempuh ribuah kilometer, berkuda selama 3
hari di bawah terik matahari, tiba di kota yang tidak ia kenal ini, mandi, puasa
selama 3 hari, hanya untuk membalas dendam bagi seseorang yang tidak pernah
ia temui sebelumnya dengan membunuh seorang lainnya yang tidak pernah ia
lihat sebelumnya.
Hong Tao memandang Xi Men Chui Xue, ia tidak percaya ada orang seperti ini di
dunia yang akan melakukan hal seperti ini.
Pakaian Xi Men Chui Xue putih seperti salju sementara ia berdiri dengan tenang
di bawah Pintu Gerbang Barat, menunggu Hong Tao menghunus goloknya.
("XiMen" berarti Pintu Gerbang Barat, jadi kata ini juga permainan kata-kata dari
nama Xi Men Chui Xue.)
Sebagian besar orang di dunia persilatan tahu tentang Hong Tao si Golok Kilat.
Jika goloknya tidak benar-benar secepat kilat, "Satu Golok Mengguncangkan 9
Propinsi" Zhao Gang tidak akan mati di bawah goloknya.
Hong Tao membunuh Zhao Gang karena 5 kata itu: "Satu Golok
Mengguncangkan 9 Propinsi", 5 kata, 1 nyawa!
Xi Men Chui Xue hanya mengucapkan total 4 kata!
Hong Tao bertanya mengapa ia datang, ia hanya menjawab: "Untuk
membunuhmu!"
Hong Tao lalu bertanya "Kenapa", ia menjawab: "Zhao Gang!"
Hong Tao bertanya: "Apakah engkau teman Zhao Gang?" Ia hanya
menggelengkan kepalanya.
Hong Tao bertanya: "Jadi kau datang untuk membunuhku hanya karena
seseorang yang tidak pernah kau temui?" Ia hanya mengangguk.
Ia datang untuk membunuh, bukan untuk bicara.
Wajah Hong Tao berubah warna, ia sudah tahu siapa orang ini, ia telah
mendengar ilmu pedangnya dan sikapnya yang aneh.
Kelakuan Xi Men Chui Xue memang aneh, ilmu pedangnya juga aneh.
Bila ia memutuskan untuk membunuh seseorang, ia telah mempersiapkan diri
untuk 2 kemungkinan dan hanya 2!
"Kau yang mati, atau aku yang mati!"
Sekarang Hong Tao tahu bahwa ia hanya punya 2 kemungkinan pilihan ini, ia
tidak punya pilihan lain.
Angin barat menghembus jalan raya sementara daun-daun melayang dengan
perlahan. Di halaman bagian dalam tembok tinggi itu, sekelompok burung gagak
tiba-tiba terbang ke arah matahari terbenam di barat. Hong Tao tiba-tiba
menghunus goloknya dan dengan kecepatan kilat menyerang sebanyak 8 kali.
Zhao Gang mati di bawah "8 Gerakan Kilat Membelah Pualam" ini.
Sayangnya "Membelah Pualam" ini seperti ilmu pedang lainnya di dunia, dia
punya celah. Hanya celah kecil.
Maka Xi Men Chui Xue hanya menusuk sekali, satu tusukan cukup untuk
menembus tenggorokan Hong Tao.
Waktu ia menarik kembali pedangnya, ada darah di pedang tersebut.
Xi Men Chui Xue meniup pedangnya dengan lembut, dan lalu darah menitik
setetes demi setetes, jatuh di sehelai daun kuning di atas tanah.
Waktu daun itu melayang terhembus angin barat, Xi Men Chui Xue telah
menghilang di keremangan senja, menghilang bersama angin barat....
Hua Man Lou
Bunga-bunga segar menghiasi bangunan itu. Hua Man Lou sangat menyukai
bunga-bunga segar, persis seperti bagaimana ia mencintai kehidupan.
Pada waktu senja, ia suka duduk dekat jendela dengan matahari terbenam
bersinar, membelai lembut kelopak bunga yang halus seperti bibir sang kekasih
dan menikmati harum bunga yang wangi seperti napas kekasih. Sekarang sedang
senja, matahari terbenam terasa hangat, angin semilir pun terasa lembut.
Bangunan itu damai dan sepi, ia duduk di dekat jendela sana sendirian, hatinya
penuh dengan rasa syukur, syukur kepada Tuhan karena memberinya kehidupan,
mengijinkannya menikmati kehidupan manusia yang demikian indah.
Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki bergegas di tangga.
Seorang gadis berumur 17 atau 18 tahun bergegas menaiki tangga, raut
wajahnya panik, napasnya pun terengah-engah.
Walaupun ia tidak terlalu cantik, tapi ia memiliki sepasang mata yang besar dan
cemerlang, sayangnya mata itu sekarang penuh dengan perasaan ngeri dan
panik yang luar biasa. Hua Man Lou berpaling dan menghadapinya.
Ia tidak kenal gadis itu, tapi ia tetap bersikap sangat sopan dan penuh perhatian:
“Ada apa, Nona?”
Gadis itu menarik napas dan menjawab: “Ada yang mengejarku, bolehkah aku
bersembunyi di sini sebentar?”
“Ya!” Hua Man Lou tampaknya sama sekali tidak memikirkan jawabannya.
Tidak ada siapa-siapa di lantai bawah, pintu depan memang selalu terbuka, jelas
gadis ini berlari masuk karena paniknya saja.
Tapi, bahkan jika dia seekor serigala terluka yang lari dari seorang pemburu pun,
Hua Man Lou akan mengijinkannya masuk.
Pintunya selalu terbuka, karena, tidak perduli siapa pun yang datang kepadanya,
ia akan menyambutnya.
Mata gadis itu memandang sekeliling ruangan, tampaknya mencari tempat yang
aman untuk bersembunyi.
Hua Man Lou meyakinkan dirinya dengan lembut: “Kamu tidak perlu sembunyi
lagi, selama kamu di sini, kamu aman.”
“Benarkah?” Gadis itu mengedip-ngedipkan matanya, seolah-olah tidak
mempercayai dirinya. “Bukan hanya orang yang mengejarku itu jahat dan keji,
dia juga membawa golok, dia bisa membunuh orang kapan saja!”
Hua Man Lou tersenyum dan menjawab: “Aku jamin dia tidak akan membunuh di
sini.”
Masih merasa tidak yakin, gadis itu hendak bertanya: “Kenapa?”
Tapi ia tidak sempat bertanya, laki-laki yang memburunya telah tiba di gedung
itu dan berlari menaiki tangga.
Tubuhnya tinggi dan besar sekali, tapi gerakannya sangat cepat dan gesit saat
menaiki tangga.
Ia benar-benar membawa sebatang golok, matanya juga memancarkan sinar
kejam dan tajam seperti pisau. Ketika ia melihat gadis itu, ia segera berseru:
“Sekarang kita lihat ke mana kau bisa lari.”
Gadis itu berlari ke belakang Hua Man Lou, Hua Man Lou tersenyum: “Sekarang
dia ada di sini, ia tidak perlu lari lagi.”
Orang itu menatapnya, melihat bahwa ia tidak lebih dari seorang pemuda yang
tampan dan halus, orang itu tertawa dan berkata: “Kau tahu siapa bapakmu ini?
Berani-beraninya kau mengganggu urusan bapakmu!”
Hua Man Lou masih tenang dan sopan: “Siapa kamu?”
Orang itu mengangkat pundaknya dan menjawab: “Bapakmu ini adalah ‘Raja
Golok Bunga’ Cui Yi Dong, kuberi kau satu bacokan, tubuhmu akan punya satu
lubang lagi.”
{Masih permainan kata-kata, “YiDong” berarti satu lubang.}
Hua Man Lou menjawab: “Beribu-ribu maaf, aku tidak pernah mendengar
namamu yang terhormat sebelumnya, tubuhku pun tidak perlu lubang tambahan,
aku tidak ingin lubang lagi, baik yang kecil maupun yang besar.”
Gadis itu tidak bisa menahan tawanya yang nyaring.
Wajah Cui Yi Dong berubah warna, tiba-tiba ia menjerit: “Kau akan
mendapatkannya biarpun kau tidak ingin!”
Ia menggetarkan goloknya, sementara sinarnya masih berkeredep, goloknya
telah menusuk ke perut Hua Man Lou.
Hua Man Lou tidak menggerakkan tubuh sama sekali, hanya 2 jarinya saja.
Ia tiba-tiba menggerakkan tangannya, dan kedua jari itu langsung menjepit golok
tersebut.
Golok itu seolah-olah berakar di antara kedua jarinya.
Cui Yi Dong menarik dengan seluruh kekuatannya, tapi ia masih tidak mampu
menarik kembali goloknya.
Hua Man Lou masih tersenyum: “Jika kamu ingin meninggalkan golokmu di sini,
aku akan menjaganya, pintuku selalu terbuka, kamu bisa datang kapan saja
untuk mengambilnya kembali.”
Cui Yi Dong sudah penuh dengan keringat dingin, tiba-tiba ia menghentakkan
kakinya ke lantai, melepaskan golok, dan lari menuruni tangga tanpa melihat ke
belakang lagi. Larinya jauh lebih cepat daripada waktu naik tadi.
Seperti suara lonceng, gadis itu tertawa, ia memandang Hua Man Lou dengan
kagum dan heran: “Aku tidak tahu kalau kau mempunyai kemampuan sehebat
itu.”
Hua Man Lou tersenyum dan menjawab: “Bukan aku yang mempunyai
kemampuan hebat, tapi dia sendiri yang tidak punya kemampuan!”
Gadis itu menjawab: “Siapa bilang dia tidak punya kemampuan? Banyak orang di
dunia persilatan tidak mampu mengalahkan dia, termasuk aku.”
Hua Man Lou bertanya: “Kamu?”
Gadis itu menjawab: “Walaupun aku tidak bisa mengalahkannya, tapi banyak
juga orang yang tidak bisa mengalahkan aku, aku Shang Guan Fei Yan dari
selatan sungai besar.”
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri dan menarik napas: “Tentu kau tidak
pernah mendengar nama itu sebelumnya!”
Hua Man Lou berjalan dan meletakkan golok di tangannya itu dengan perlahan di
atas sebuah meja dekat dinding, ia tiba-tiba berpaling dan bertanya: “Kenapa dia
mengejarmu?”
Shang Guan Fei Yan menggigit bibirnya dan bimbang sebentar, akhirnya ia
tersenyum dan berkata: “Karena aku mencuri sesuatu miliknya.”
Hua Man Lou tidak terkejut atau heran, ia tertawa.
Shang Guan Fei Yan segera meneruskan: “Walaupun aku pencuri, tapi dia
seorang bandit, aku tidak pernah mencuri dari orang baik-baik, hanya dari
bandit.”
Ia menundukkan kepalanya dan mengintip Hua Man Lou dari sudut matanya, lalu
ia berkata: “Aku hanya berharap engkau tidak memandang rendah diriku, kau
jangan membenciku.”
Hua Man Lou tersenyum: “Aku menyukaimu, aku suka orang yang berkata jujur.”
Shang Guan Fei Yan mengedip-ngedipkan matanya: “Bisakah orang yang berkata
jujur tinggal di sini lebih lama?”
Hua Man Lou menjawab: “Tentu saja.”
Shang Guan Fei Yan yang tampaknya sudah agak lega berujar dengan manis:
“Aku merasa jauh lebih baik sekarang, tadi aku benar-benar takut kalau kau
mengusirku keluar.”
Ia berjalan menghampiri jendela dan menarik nafas dalam-dalam, udara penuh
dengan harum bunga. Di luar hari mulai gelap, tapi di dalam telah benar-benar
gelap.
Shang Guan Fei Yan menarik nafas perlahan: “Hari ini berlalu begitu cepat,
sekarang sudah gelap lagi.”
Hua Man Lou menjawab dengan sebuah “H’m” sederhana.
Shang Guan Fei Yan bertanya: “Mengapa kau tidak menyalakan lampu?”
Hua Man Lou tersenyum dan menjawab: “Maaf, aku lupa kalau ada tamu.”
Shang Guan Fei Yan bertanya: “Kau hanya menyalakan lampu bila kau punya
tamu?”
Hua Man Lou hanya menjawab dengan sebuah “H’m” lagi.
Shang Guan Fei Yan bertanya: “Kau tidak menyalakan lampu jika kau sedang
sendirian?”
Hua Man Lou menjawab: “Aku tidak perlu lampu.”
Shang Guan Fei Yan masih bertanya lagi: “Kenapa?”
Ia berpaling, memandang pada Hua Man Lou dengan tatapan tidak percaya.
Tapi ekspresi wajah Hua Man Lou masih tetap bahagia dan tenang ketika ia
menjawab dengan lambat: “Karena aku buta.”
Senja bertambah gelap, udara masih penuh dengan semerbak wangi bunga.
Tapi Shang Guan Fei Yan tidak memperhatikan itu sama sekali, ia benar-benar
terkejut.
“Karena aku buta.”
Walaupun hanya 3 kata yang sangat biasa, Shang Guan Fei Yan belum pernah
mendengar kalimat yang lebih mengejutkan dirinya daripada 3 kata ini.
Ia menatap Hua Man Lou, lelaki ini, yang penuh dengan perasaan cinta terhadap
kehidupan, yang penuh dengan harapan untuk masa depan, yang jarinya bisa
menjepit golok yang dibacokkan orang dengan seluruh kekuatannya, yang hidup
sendirian di gedung ini, bukan hanya dia tidak memerlukan bantuan orang lain,
tapi dia pun selalu siap menawarkan pertolongan pada orang lain.
Shang Guan Fei Yan tidak bisa percaya kalau orang ini buta. Tak tahan lagi ia
bertanya: “Apakah kau benar-benar buta?”
Hua Man Lou mengangguk: “Aku buta sejak berumur 7 tahun.”
Shang Guan Fei Yan mengamati: “Tapi tingkah lakumu tidak seperti orang buta.”
Hua Man Lou tersenyum lagi: “Bagaimana seharusnya tingkah laku orang buta?”
Shang Guan Fei Yan tidak tahu bagaimana menjawabnya. Ia telah melihat banyak
orang buta sebelumnya, ia selalu menganggap orang-orang itu selalu sedih dan
murung, karena dunia yang indah dan penuh warna ini telah berubah menjadi
bukan apa-apa selain kegelapan bagi mereka.
Walaupun ia tidak mengatakan hal ini, Hua Man Lou jelas mengerti apa yang ia
maksud.
Masih sambil tersenyum, ia berkata: “Aku tahu bahwa kau membayangkan
orang-orang buta itu seharusnya tidak sebahagia diriku.”
Shang Guan Fei Yan terpaksa mengakuinya.
Hua Man Lou berkata: “Sebenarnya menjadi buta itu tidak buruk sama sekali, aku
masih bisa mendengar dan merasa, kadang-kadang aku menikmati jauh lebih
banyak kesenangan daripada orang lain.”
Wajahnya penuh dengan sinar kepuasan yang berasal dari kebahagiaan ketika ia
meneruskan dengan lambat: “Pernahkah kau dengar suara salju jatuh di atap?
Bisakah kau merasakan kekuatan kehidupan yang aneh tapi menakjubkan ketika
kuncup bunga mengembang dengan perlahan di musim semi? Apakah kau tahu
bahwa angin musim gugur sering membawa wangi pepohonan dan hutan dari
lereng bukit di kejauhan sana?….”
Shang Guan Fei Yan mendengarkan ia bicara dalam diam, seolah-olah dia sedang
mendengarkan sebuah lagu yang lembut dan indah.
Hua Man Lou berkata: “Jika kau ingin mencarinya, kau akan menemukan betapa
cantik dan indahnya kehidupan, setiap musim memiliki banyak keunikan dan
kesenangan yang bisa membuatmu melupakan semua masalah dan
kecemasanmu.”
Shang Guan Fei Yan menutup matanya, tiba-tiba ia merasakan angin menjadi
lebih lembut dan bunga-bunga menjadi lebih harum.
Hua Man Lou meneruskan: “Apakah kau bahagia atau tidak, tidak ada
hubungannya dengan apakah kau buta atau tidak, tapi semuanya berhubungan
dengan apakah kau benar-benar mencintai kehidupanmu dan apakah kau benarbenar
ingin hidup bahagia.”
Shang Guan Fei Yan memandang wajahnya yang damai dan bahagia, yang
tampak gemerlapan dalam sinar senja.
Kali ini mata gadis itu tidak lagi penuh dengan perasaan terkejut dan heran, tapi
dengan rasa hormat dan terima kasih.
Ia berterima-kasih kepada pemuda itu, bukan karena dia telah menyelamatkan
hidupnya, tapi karena dia telah membuatnya sadar apa artinya hidup.
Ia menghormatinya, bukan karena kungfunya, tapi karena sikap dan hatinya
yang mengagumkan.
Tapi tak tahan ia bertanya lagi: “Kau tidak punya keluarga lagi?”
Hua Man Lou tersenyum: “Aku punya keluarga yang sangat besar, ada banyak
orang di keluargaku, semuanya sangat sehat dan bahagia.”
Shang Guan Fei Yan bertanya: “Lalu mengapa kau tinggal di sini sendirian?”
Hua Man Lou menjawab: “Karena aku ingin tahu apakah aku bisa hidup sendirian.
Karena aku tidak ingin orang lain membantuku di setiap langkahku, aku tidak
ingin orang lain memperlakukanku sebagai orang buta.”
Shang Guan Fei Yan bertanya lagi: “Kau… apakah kau benar-benar suka tinggal
sendirian di sini?”
Hua Man Lou menjawab: “Aku telah tinggal di sini selama 8 bulan, dan aku tidak
pernah sebahagia ini sebelumnya.”
Shang Guan Fei Yan menarik napas perlahan dan bertanya: “Tapi selain salju di
musim dingin dan bunga-bunga di musim semi, apa lagi yang engkau punya?”
Hua Man Lou menjawab: “Aku bisa tidur nyenyak, punya selera makan yang baik,
rumah yang sangat nyaman, dan sebuah sitar berdawai 7 yang suaranya sangat
merdu, itu semua sudah cukup. Di samping itu, aku juga punya seorang teman
yang sangat baik.”
Shang Guan Fei Yan bertanya: “Siapa temanmu itu?”
Wajah Hua Man Lou bersinar lagi: “Marganya Lu, panggil dia Lu Xiao Feng.”
Ia tersenyum dan melanjutkan: “Tapi jangan kamu kira dia seorang gadis,
walaupun namanya XiaoFeng (burung phoenix kecil), ia seorang lelaki tulen.”
Shang Guan Fei Yan menjawab: “Lu Xiao Feng?… Kurasa aku pernah mendengar
nama itu sebelumnya, tapi tak tahu orang macam apa dia.”
Hua Man Lou tersenyum semakin lebar: “Ia orang yang benar-benar aneh, kau
hanya perlu memandangnya sekali, lalu kau tak akan pernah melupakannya,
bukan hanya ia punya 2 pasang mata dan telinga, 3 tangan, ia juga punya 4
alis.”
Dua pasang mata dan telinga, tentu saja berarti ia bisa melihat dan mendengar
lebih banyak dan lebih baik daripada orang lain.
Tiga tangan mungkin berarti bahwa tangannya lebih cepat dari siapa pun, sangat
cekatan dan trampil.
Tapi apa arti “4 alis”? Shang Guan Fei Yan tidak bisa membayangkannya.
Ia memutuskan bahwa, tidak perduli apa pun, ia harus mencari cara untuk
bertemu dengan Lu Xiao Feng yang beralis 4 ini.
Bab 1: Isteri Tauke Yang Tercantik
Kota Batu Kuning adalah sebuah kota yang besar. Jalan ini seharusnya
merupakan jalan yang ramai dan sibuk.
Tapi sekarang hari telah larut malam, bulan baru tampak seperti sabit saat
menyinari jalan batu hijau itu. Dua ekor kuda yang membawa dua orang lelaki
berpakaian hijau berlari dengan cepat, tapi tidak ada siapa-siapa di jalan.
Lelaki yang kehilangan separuh telinga kirinya dan mempunyai bekas luka dari
bawah telinga kiri hingga ke sudut kanan mulutnya, menarik tali kekang kudanya
untuk berhenti dan bertanya dengan suara yang berat: “Menurutmu dia akan
bermalam di sini?”
Laki-laki bermuka ungu dan berjenggot menjawab: “Ya! Dia tetap manusia dan
dia masih harus tidur pada malam hari, walaupun semua orang tahu bahwa dia
mempunyai masalah dengan kebiasaaan tidurnya.”
Laki-laki bercodet bertanya: “Jika dia harus bermalam, di mana dia akan
tinggal?”
Laki-laki bermuka ungu bahkan tidak berpikir sebelum menjawab: “Salam Musim
Semi.”
“Salam Musim Semi” mempunyai gadis-gadis tercantik. Si “dia” selalu tidur
dengan seorang wanita di dekatnya, itulah masalahnya.
Semua orang punya satu atau dua macam masalah.
Lentera besar di pintu depan “Salam Musim Semi” masih menyala, cahaya
merahnya menggoda setiap orang untuk datang dan menikmati “malam berwarna
merah” di situ.
Pintu itu setengah terbuka. Pria bermuka ungu menyentak tali kekang kudanya
dan mereka berdua menerjang masuk.
Seorang lelaki kurus bermuka kuning sedang tidur di kursi bambu di halaman
gedung itu.
Cambuk di tangan laki-laki bermuka ungu tiba-tiba telah melingkar di leher lelaki
tersebut sementara ia berseru dengan bengis: “Apakah seorang laki-laki berjubah
merah datang ke sini malam ini?”
Laki-laki itu hampir kehabisan nafas karena tercekik, ia hanya bisa mengangguk.
Laki-laki bermuka ungu akhirnya melepaskannya dan bertanya: “Apakah ia masih
di sini?”
Sambil berusaha menarik nafas, laki-laki kurus itu mengangguk lagi.
Lelaki bermuka ungu bertanya: “Di mana dia?”
Laki-laki itu menjawab: “Dia baru saja minum bersama 4 orang lagi di Aula
Bunga Persik. Keempat orang itu menawarkan dia minum secara bergiliran,
akhirnya dia pun mabuk.”
Wajah laki-laki bercodet berubah: “Empat orang yang mana?”
Laki-laki itu menjawab: “Empat orang yang sangat bengis, tapi mereka
tampaknya sangat sopan kepadanya.”
Laki-laki bercodet bertanya: “Di mana mereka sekarang?”
Laki-laki itu menjawab: “Aku melihat mereka membantu dia masuk ke kamarnya.
Kurasa mereka masih ada di sana!”
Laki-laki bermuka ungu telah memutar kudanya dan menerjang ke arah kebun
persik di sebelah kiri. Lampu-lampu di Aula Bunga Persik masih menyala.
Cangkir-cangkir dan piring di atas meja di Aula Bunga Persik tampak berantakan,
ada 3 atau 4 kendi arak yang kosong berserakan di sana juga.
Laki-laki bercodet melompat dan berjumpalitan di udara, ia berlari maju dan
menendang pintu di bagian belakang aula hingga terbuka. Tiba-tiba ia berdiri
terpaku.
Hanya ada 4 orang di ruangan itu, semuanya berlutut dalam sebuah barisan.
Semula wajah mereka tampak putih dan pucat, tapi ketika melihat laki-laki
bercodet itu tiba-tiba wajah mereka berubah menjadi merah padam.
Mereka berempat mengenakan pakaian yang mewah, seharusnya mereka tampak
sangat bergaya. Tapi seseorang telah menggambari wajah mereka.
Orang pertama mempunyai gambar penyu di keningnya, juga ada dua buah kata
di wajahnya: “Aku penyu.”
Orang kedua mempunyai gambar kura-kura: “Aku kura-kura.”
Orang ketiga: “Aku babi.”
Orang keempat: “Aku anjing.”
Laki-laki bercodet berdiri di sana, menatap mereka, memandang pada gambargambar
dan kata-kata di wajah mereka. Tiba-tiba ia tertawa, tertawa begitu
keras sehingga ia terbungkuk, seakan-akan ia tidak pernah melihat kejadian yang
begitu lucu dalam hidupnya.
Keempat orang itu mengertakkan giginya dan melotot padanya, mata mereka
penuh dengan kebencian dan kemarahan, seolah-olah mereka akan menerjang
dan mencincang tubuhnya saat itu juga.
Tapi mereka masih berlutut di sana, bukan hanya tidak bisa melompat bangkit,
bahkan mereka tidak bisa bergerak sedikit pun.
Sambil masih tertawa keras, laki-laki bercodet berseru: “Kapan ‘4 Pendekar dari
JiangDong’ berubah menjadi penyu, kura-kura, babi dan anjing?”
Laki-laki bermuka ungu telah berlari keluar sambil tertawa terbahak-bahak. Ia
bertepuk tangan dan berseru sekeras-kerasnya: “Semua orang dipersilakan
untuk menyaksikan kehebatan 4 Pendekar JiangDong yang terkenal di seluruh
dunia! Sepuluh tael perak bagi siapa saja yang datang, tidak perduli siapapun
dia!”
Wajah keempat lelaki yang berlutut di lantai itu tiba-tiba berubah pucat, begitu
pucatnya sehingga hampir tembus pandang. Keringat menetes dari kening
mereka seperti air hujan.
Sambil tertawa, laki-laki bercodet berkomentar: “Walaupun orang itu bajingan,
paling tidak dia seorang bajingan yang baik.”
Laki-laki bermuka ungu setuju: “Paling tidak perjalanan ini tidak sia-sia.”
Tiba-tiba mereka berdua berhenti tertawa, karena mereka melihat seseorang
berjalan masuk dengan kepala tertunduk.
Gadis itu berumur paling banyak 14 atau 15 tahun. Walaupun penuh riasan dan
perhiasan, wajahnya masih imut-imut dan menggemaskan seperti anak kecil.
Dengan kepala tertunduk, ia bertanya: “Apakah Tuan berdua mencari Tuan Lu?”
Wajah laki-laki bercodet menjadi gelap ketika ia bertanya: “Bagaimana kau
tahu?”
Gadis kecil itu berkata: “Beberapa saat yang lalu Tuan Lu tampaknya sedang
mabuk, aku kebetulan duduk di sampingnya, jadi diam-diam aku minum 2 gelas
untuknya.”
Laki-laki bercodet mendengus: “Orang ini benar-benar mempunyai peruntungan
dengan perempuan!”
Wajah gadis itu memerah dan ia menukas: “Aku tidak tahu apa-apa tentang itu!
Lalu tiba-tiba ia sadar, ia mengatakan padaku bahwa aku mempunyai hati yang
baik dan itulah sebabnya ia mau memberiku sesuatu untuk dijual kepada kalian
berdua.”
Laki-laki bermuka ungu segera menukas: “Apa yang dia berikan kepadamu?”
Gadis itu menjawab: “Sebuah… sebuah kalimat.”
Laki-laki bermuka ungu mengerutkan keningnya: “Sebuah kalimat? Kalimat
macam apa?”
Gadis itu menjawab: “Ia bilang kalimatnya ini berharga paling sedikit 300 tael
perak. Ia juga bilang bahwa kalian berdua harus membayar sebelum aku
memberitahu kalian kalimat ini.”
Ia tampaknya merasa bahwa urusan ini memang mustahil. Sebelum ia selesai
bicara, wajahnya bahkan sudah memerah.
Tapi laki-laki bermuka ungu tidak bimbang sedikit pun, segera ia mengeluarkan 3
lembar nota bank yang masing-masing bernilai 100 tael perak dan
melemparkannya ke atas meja di hadapan gadis itu. Ia berkata: “Baik, aku akan
membeli kalimatmu itu.”
Mata gadis itu terbelalak lebar, menatap 3 lembar nota bank itu, tidak percaya
bahwa ada orang seperti ini di dunia, benar-benar mau membayar 300 tael perak
untuk satu kalimat.
Laki-laki bermuka ungu memberi perintah: “Ayo ke sini dan bisikkan kepadaku,
jangan sampai 4 binatang di sana itu mendengarnya.”
Gadis itu bimbang sebentar sebelum akhirnya berjalan menghampiri laki-laki itu
dan berbisik di telinganya: “Dia berkata: ‘Jika kau ingin menemukanku, temukan
dulu isteri tauke’.”
Laki-laki bermuka ungu mengerutkan keningnya, ia tidak paham arti kalimat itu.
Ada tak berhingga jumlahnya isteri tauke di dunia ini, setiap toko mempunyai
minimal seorang isteri tauke. Bagaimana ia menemukan orang yang dicari?
Gadis itu tiba-tiba menambahkan: “Ia bilang bahwa jika kau tidak memahami
kalimat ini, ia bisa menawarkan sebuah kalimat lagi sebagai petunjuk. Ia bilang
bahwa isteri tauke ini adalah yang tercantik di dunia.”
Laki-laki bermuka ungu berdiri termangu sesaat. Lalu, tanpa mengucapkan
sepatah katapun lagi, ia memberi isyarat kepada temannya dan mulai berjalan
keluar.
Laki-laki bercodet mengikutinya. Tiba-tiba ia berpaling, meraup sebuah kendi
arak yang kosong, dan melemparkannya.
Kendi kosong itu mendarat dengan mulus di atas kepala orang kedua dari 4
Pendekar JiangDong tadi, kendi itu berwarna hijau.
Laki-laki bercodet tertawa terbahak-bahak: “Sekarang benar-benar seperti kurakura
betulan.”
Masih ada beberapa orang isteri tauke yang cantik di dunia ini, yang mana yang
paling cantik?
Laki-laki bercodet mengerutkan keningnya: “Apakah orang ini ingin agar kita
pergi ke semua toko dan membandingkan setiap isteri taukenya?”
Laki-laki bermuka ungu hanya menjawab: “Tidak.”
Laki-laki bercodet bertanya: “Apakah kau punya rencana?”
Laki-laki bermuka ungu berpikir sebentar dan berkata: “Kurasa aku bisa
membayangkan apa yang ia maksud.”
Laki-laki bercodet bertanya: “Apa maksud dia?”
Laki-laki bermuka ungu tiba-tiba tertawa: “Apakah kau lupa nama julukan Zhu
Ting?”
Laki-laki bercodet tergelak lagi: “Tampaknya aku harus membawa satu kendi
kosong lagi untuk dia.”
______________________________
Zhu Ting tidak pernah berdagang, ia juga tidak punya toko.
Karena ia percaya bahwa tidak perduli bisnis atau toko macam apa pun yang
engkau buka, sukar bagimu untuk tidak kehilangan uang. Ia tidak pernah mau
mengambil resiko seperti itu.
Sebenarnya ada sebuah alasan yang sangat penting lainnya mengapa ia tidak
pernah berbisnis, yaitu karena ia tidak punya cukup uang untuk memulai bisnis.
Tapi nama julukannya kebetulan adalah “Tauke”.
Zhu Ting adalah orang yang sangat mengerti cara mencari kesenangan, dan ia
juga selalu berpikiran terbuka tentang apa saja. Bila 2 hal ini terpenuhi, maka ia
akan semakin gemuk dan semakin gemuk.
Orang gemuk selalu tampak seperti memiliki peruntungan yang baik, dan hanya
orang-orang yang memiliki peruntungan baik ini yang bisa menjadi tauke, maka
banyak orang memanggilnya ‘Tauke’.
Kenyataannya, ia benar-benar memiliki banyak peruntungan.
Walaupun ia tidak begitu tampan, ia memiliki isteri yang sangat cantik; ia tidak
pernah melakukan satu pun hal serius dalam hidupnya, tapi ia selalu tinggal
dalam rumah yang sangat nyaman, mengenakan pakaian-pakaian termewah, dan
minum anggur terbaik.
Ada satu lagi yang sangat ia banggakan – ia selalu percaya bahwa ia adalah
orang yang lebih pemalas daripada Lu Xiao Feng.
Sekali kamu melihat ia sedang duduk di kursinya yang besar dan nyaman itu, kau
akan tahu bahwa tidak banyak hal yang bisa membuat ia bangkit dari situ.
Karena tidak perduli apa pun yang akan ia lakukan, ia akan selalu “berhenti” dan
memikirkannya dulu sebentar.
Bagi seorang yang berpikiran terbuka, tidak ada hal di dunia ini yang harus
dilakukan apabila ia memikirkannya dulu.
Ia bisa hidup demikian enaknya karena, dan hanya karena, keterampilan
tangannya yang bisa membuat segala macam benda aneh. Jika kau bisa
membayangkannya, maka ia bisa membuatkannya.
Pernah ia bertaruh dengan seseorang bahwa ia bisa membuat orang-orangan
kayu yang bisa berjalan.
Ia memenangkan 50 helai karpet bulu burung walet dan 50 kendi arak simpanan,
membuatnya mendapatkan 5 kati lemak lagi di tubuhnya. Sekarang ia sedang
membayangkan bagaimana caranya membuat layang-layang yang cukup besar
untuk bisa membawa orang.
Dulu ia ingin melihat apa yang ada di bawah tanah, sekarang ia ingin naik ke
langit.
Saat itulah ia mendengar suara dengus kuda di luar, lalu ia melihat 2 orang lakilaki
berpakaian hijau.
Kali ini laki-laki bercodet itu tidak menendang pintu dulu, karena pintu memang
sedang terbuka.
Segera setelah menerjang masuk ia menatap Zhu Ting dan berseru: “Di mana
isteri Tauke?”
Zhu Ting menjawab dengan santai: “Jika kau ingin mencari isteri tauke, maka
kau harus pergi ke toko di seberang jalan, dia ada di sana.”
Laki-laki bercodet menjawab: “Di sini juga ada satu. Kau dipanggil Tauke, maka
isterimu adalah isteri Tauke.”
Zhu Ting tertawa: “Jika isteri Tauke di sini tahu bahwa ada orang-orang dari
Paviliun Baju Hijau datang mencarinya, dia pasti akan merasa sangat beruntung.”
Ia mengenali 2 orang ini.
“Paviliun Baju Hijau” bukan terdiri dari 1 paviliun saja, tapi ada 108 paviliun,
masing-masing dengan 108 orang anggota, sebuah organisasi yang sangat besar
dan kuat.
Bukan hanya kuat, organisasi mereka juga sangat rahasia. Maka jika mereka
ingin melakukan sesuatu, sangat jarang mereka gagal melakukannya.
Kedua orang ini adalah orang-orang yang potretnya terdapat di paviliun pertama
dari Paviliun Baju Hijau.
Tidak ada yang tahu di mana paviliun pertama berada, tidak ada juga yang
pernah melihat 108 potret anggota mereka.
Tapi semua tahu bahwa jika seseorang memiliki potret di sana, maka ia bisa
berbuat sesukanya di dunia persilatan.
Orang bercodet itu dipanggil “Hakim Berwajah Besi”. Menurut kabar burung, jika
orang membacok wajahnya dengan golok, golok itu akan patah, itulah asal-usul
nama “Wajah Besi” tersebut.
Orang yang satunya lagi berjuluk “Pengait Jiwa”, karena ia telah banyak mengait
nyawa orang dengan sepasang kaitan peraknya.
Zhu Ting meneruskan dengan santai: “Sayangnya dia sedang ada urusan penting,
mungkin tidak punya waktu untuk bertemu kalian.”
Hakim Berwajah Besi bertanya: “Urusan penting macam apa?”
Zhu Ting menjawab: “Ia sedang minum anggur dengan seorang sahabat.
Bukankah minum-minum dengan sahabatmu adalah hal yang paling penting di
dunia?”
Hakim Berwajah Besi bertanya: “Apakah sahabat kalian itu bermarga Lu?”
Wajah Zhu Ting tiba-tiba menjadi gelap: “Lebih baik hal ini diluruskan dulu.
Orang bermarga Lu itu sahabatnya, bukan sahabatku.”
Hakim Berwajah Besi bertanya: “Di mana mereka minum?”
Zhu Ting menjawab: “Mungkin di Losmen Awan Cerah tempat orang itu
menginap.”
Hakim Berwajah Besi memandangnya beberapa kali, tiba-tiba sebuah senyum
berbisa muncul di wajahnya: “Isterimu berada di sebuah hotel, minum-minum
dengan seorang penakluk wanita terkenal, dan kau masih duduk-duduk di sini?”
Zhu Ting menjawab dengan santai: “Anak-anak biasa mengintip, isteri-isteri
biasa bergosip, ini hal yang tidak bisa dikendalikan orang. Apa yang bisa
kulakukan jika aku tidak duduk di sini? Naik ke atap dan berjumpalitan?
Bergulingan di lantai dan merangkak?”
Hakim Berwajah Besi tertawa terbahak-bahak lagi: “Aku mengagumimu, kau
orang yang berpikiran terbuka.”
Ia tertawa sesering mungkin, karena ia tahu bahwa bila ia tertawa ia tampak
lebih menakutkan. Bila ia tertawa, codet di wajahnya tiba-tiba akan bergetar dan
ia akan tampak lebih menyeramkan daripada hantu-hantu di kuil yang terpencil.
Zhu Ting menatapnya: “Apakah kau punya isteri?”
Hakim Berwajah Besi menjawab: “Tidak.”
Zhu Ting tertawa dan berkata dengan malas-malasan: “Jika kau punya isteri
secantik isteriku, kau juga akan berpikiran terbuka.”
______________________________
Lu Xiao Feng sedang berbaring di ranjang, sebuah cangkir besar yang penuh
berisi anggur berada di atas dadanya.
Satu-satunya sebab mengapa tidak ada anggur yang tercecer adalah karena ia
hanya berbaring di sana, tanpa bergerak sedikit pun, hampir seperti mayat. Ia
bahkan tidak membuka matanya sekali pun. Alisnya tebal, bulu matanya
panjang, dan tepat di bawah bibirnya ia memelihara kumis, kumis yang sangat
terawat rapi.
Isteri Tauke duduk di seberangnya, sedang menatap kumisnya.
Ia seorang wanita yang benar-benar cantik, dengan alis mata melengkung, mata
yang besar, dan bibir yang penuh dan indah. Ia tampak seperti madu yang
matang, tidak ada yang tak tahan untuk memandangnya sekilas.
Tapi yang paling menarik dan menggoda dari dirinya bukanlah wajahnya, juga
bukan tubuhnya, tapi gayanya.
Jika kamu seorang laki-laki, kamu akan tertarik dengan perempuan seperti ini.
Tapi saat ini tampaknya ia yang tertarik pada kumis Lu Xiao Feng. Sesudah
memandangnya beberapa lama, tiba-tiba ia tertawa nyaring: “Kumismu itu
benar-benar seperti sepasang alismu, tidak heran semua orang mengatakan
bahwa kau punya 4 alis.”
Seperti bunga sedang mekar waktu ia tertawa: “Orang yang tidak pernah
bertemu denganmu tidak akan bisa menduga bahwa kau punya sepasang alis di
atas bibirmu.”
Lu Xiao Feng masih tidak bergerak, tiba-tiba ia menghirup, cangkir di atas
dadanya pun tertarik ke bibirnya, anggur di dalam cangkir itu terhirup ke dalam
mulutnya, dan “Glek!” semuanya langsung habis.
Ia lalu meniup, cangkir itu pun kembali ke posisinya semula.
Isteri Tauke tertawa lagi: “Apakah kamu sedang minum atau bermain sulap?”
Lu Xiao Feng, dengan mata masih tertutup, tidak menjawab, hanya menunjuk
pada cangkir kosong di atas dadanya.
Isteri Tauke tidak punya pilihan lain kecuali mengisi cangkir itu untuknya lagi,
tapi ia tak tahan untuk tidak berkomentar: “Kamu ingin aku datang ke sini dan
minum bersamamu, lalu kenapa kamu hanya berbaring di situ seperti orang mati
dan bahkan tidak memandangku?”
Lu Xiao Feng akhirnya bicara: “Aku takut memandangmu.”
Isteri Tauke menyelidiki lebih jauh: “Kenapa?”
Lu Xiao Feng menjawab: “Aku takut kau akan merayuku.”
Isteri Tauke menggigit bibirnya: “Kau sengaja memberi kesan kepada orang lain
bahwa ada sesuatu di antara kau dan aku, dan kau masih takut kalau aku
merayumu, untuk apa sebenarnya kau melakukan ini semua?”
Lu Xiao Feng menjawab: “Untuk suamimu!”
Isteri Tauke terkejut: “Untuk dia? Kau benar-benar mengira dia suka menjadi
kura-kura hidup?”
Lu Xiao Feng menjawab: “Menjadi kura-kura hidup masih lebih baik daripada
menjadi kura-kura mati!”
Ia tidak memberi kesempatan Isteri Tauke untuk memotong: “Dengan profesinya
sekarang ini, seseorang mungkin akan mencoba membunuhnya kapan saja dan di
mana saja. Ia benar-benar telah bertemu terlalu banyak orang dan tahu terlalu
banyak rahasia!”
Isteri Tauke tidak bisa memperdebatkan hal itu, Zhu Ting memang tahu banyak
rahasia dan hal-hal yang aneh dari banyak orang.
Walaupun mereka tahu bahwa bibirnya tertutup rapat, tapi bibir siapa yang lebih
rapat daripada bibir orang mati?
Membunuh untuk menjaga rahasia mereka, itulah hal yang bisa saja dilakukan
orang-orang itu kapan saja.
Lu Xiao Feng melanjutkan: “Sesudah dia tewas, aku sangat meragukan kalau kau
akan mau menjanda selama setahun!”
Isteri Tauke mengangkat alisnya dan mendengus: “Kau kira aku orang macam
apa? Fan JinLian?”
Lu Xiao Feng menjawab dengan santai: “Bahkan jika kau Fan JinLian, aku
bukanlah Xi MenQing!”
{Catatan: Di sini disebut-sebut sebagian cerita Para Pahlawan Batas Air, salah
satu dari 4 karya Sastra Cina Klasik tentang seorang wanita yang telah menikah
dan seorang laki-laki lain.}
Isteri Tauke menatapnya; tiba-tiba, ia bangkit, berputar, dan mulai berjalan
keluar. Lu Xiao Feng masih berbaring di sana, tidak bergerak sama sekali, bahkan
tidak memiliki keinginan untuk menariknya kembali.
Tapi baru saja Isteri Tauke berjalan keluar dari pintu, ia segera melesat masuk
kembali dan berdiri di dekat ranjang, dengan tangan bertolak pinggang. “Kau kira
aku benar-benar tidak tahu apa yang kau coba lakukan? Kau kira aku bodoh?”
Lu Xiao Feng menjawab: “Emangnya tidak?”
Isteri Tauke menjawab, lebih keras daripada yang diperlukan: “Kau bertengkar
dengannya, tapi kau masih khawatir kalau hidupnya dalam bahaya, itulah
sebabnya kau ingin orang lain mengira ada sesuatu antara kau dan aku; karena
jika aku ingin ‘membuktikan kesucianku’ aku tidak boleh membiarkan diriku
menjadi janda, tentu saja aku harus memohon kepadamu untuk melindungi dia.
Dengan kau melindungi dia, maka orang harus berpikir masak-masak jika mereka
ingin membunuh dia.”
Kemarahannya pun bertambah, begitu juga dengan volume suaranya: “Tapi
pernahkah kau memikirkanku? Kenapa aku harus dibebani dengan awan gelap
yang bau ini?”
Lu Xiao Feng menjawab: “Demi suamimu!”
Isteri Tauke tiba-tiba tidak bisa menjawab. Berkorban sedikit untuk suaminya
memang sesuatu yang harus dilakukan oleh seorang isteri.
Lu Xiao Feng menambahkan: “Itulah sebabnya, selama suamimu
mempercayaimu, kau tidak boleh memikirkan atau bahkan perduli terhadap
anggapan orang lain!”
Isteri Tauke menggigit bibirnya dan berdiri dengan pikiran kosong sebentar
sebelum akhirnya tidak tahan bertanya lagi: “Kau kira dia benar-benar
mempercayaiku?”
Lu Xiao Feng menjawab: “Dia bukan orang bodoh!”
Isteri Tauke menatapnya: “Tapi apakah dia mempercayaimu juga?”
Lu Xiao Feng menarik nafas dengan malas-malasan: “Mengapa tidak kau
tanyakan sendiri kepadanya?”
Ia menghisap lagi dan meminum anggur di cangkir yang ada di atas dadanya, ia
bergumam pada dirinya sendiri: “Jika orang-orang dari Paviliun Baju Hijau itu
tidak bodoh, mereka tentu akan segera tiba, maka kau harus segera pergi!”
Isteri Tauke tiba-tiba tampak cemas: “Mereka sedang mencarimu, tapi untuk
apa?”
Lu Xiao Feng menjawab dengan santai: “Aku juga ingin menanyakan hal itu
kepada mereka, kalau tidak aku tak akan membiarkan mereka menemukanku!”
______________________________
Zhu Ting duduk di kursi malasnya, tenggelam dalam pikirannya sendiri, yang
biasanya merupakan pikiran-pikiran atau ide-ide yang aneh.
Semua peralatan aneh dan ganjil buatannya berasal dari renungannya ini.
Isteri Tauke berjalan masuk dengan anggun, memegang sehelai saputangan
dengan kedua jarinya, dan, memilin-milinnya dengan gaya yang menggoda,
berjalan di dekat Zhu Ting sebanyak dua kali. Zhu Ting tampaknya tidak
memperhatikan.
Isteri Tauke tidak bisa menahan dirinya lagi: “Aku pulang!”
Zhu Ting menjawab: “Aku sudah lihat!”
Isteri Tauke sengaja memasang mimik muka yang sangat misterius: “Aku baru
saja minum anggur dengan Xiao Feng, begitu banyak sehingga aku masih agak
mabuk sekarang!”
Zhu Ting menjawab: “Aku tahu!”
Isteri Tauke mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali: “Tapi, selain minum,
kami tidak melakukan apa-apa!”
Zhu Ting menjawab: “Aku tahu!”
Isteri Tauke tiba-tiba mulai berteriak: “Kau tahu kentut!”
Zhu Ting menjawab: “Sebenarnya, aku tidak tahu apa-apa tentang kentut!”
Temperamen Isteri Tauke semakin naik ketika ia berkata dengan ketus: “Aku
telah menghabiskan waktu untuk minum-minum dengan laki-laki lain di
kamarnya, bukan hanya kau tidak cemburu atau marah, kau masih bisa melamun
saja di sini?”
Zhu Ting menjawab: “Aku tidak tahu apa-apa, itulah sebabnya aku tidak cemburu
atau marah.”
Isteri Tauke bertolak pinggang lagi: “Seorang laki-laki seperti dia, seorang wanita
seperti aku, bersama-sama di sebuah kamar, mungkinkah kami masih bersikap
terpuji selama itu?”
Ia mendengus dan meneruskan: “Kau kira siapa dia? Seorang malaikat? Liu Xia
Hui?”
Zhu Ting tersenyum: “Aku tahu dia bajingan besar, tapi aku percaya dia!”
Isteri Tauke bertambah marah: “Kau tidak marah atau cemburu karena kau
percaya dia, dan bukan karena kau percaya aku?”
Zhu Ting menjawab: “Tentu saja aku percaya kamu!”
Isteri Tauke mencela: “Tapi kau lebih mempercayai dia!”
Zhu Ting menjawab: “Jangan lupa bahwa kami sudah saling kenal sejak kami
masih memakai popok!”
Isteri Tauke mendengus: “Jadi kalian telah berteman selama 20 atau 30 tahun,
lalu kenapa tampaknya kalian tiba-tiba berubah menjadi musuh seumur hidup,
tidak pernah bicara satu sama lain!”
Zhu Ting menjawab dengan santai: “Karena dia bajingan besar, dan aku bajingan
besar juga!”
Isteri Tauke menatapnya sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak,
menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa, ia berkata: “Hal-hal yang kalian 2
bajingan besar lakukan, bukan hanya tidak bisa kubayangkan, malah aku
semakin bingung bila mencoba memikirkannya.”
Zhu Ting menjawab: “Tentu saja kau tidak bisa membayangkan apa yang
dilakukan bajingan-bajingan besar, karena kau bukan bajingan besar.”
Akhirnya Isteri Tauke tersenyum manis dan berkata: “Akhirnya ada ucapanmu
yang masuk di akal.”
Zhu Ting tersenyum sedikit dan menambahkan dengan santai: “Paling banyak
kamu cuma bajingan kecil, bajingan yang sangat-sangat kecil!”
______________________________
Mata Lu Xiao Feng masih tertutup sementara ia masih berbaring di atas ranjang,
dengan secangkir penuh anggur bertengger di atas dadanya.
Cangkir itu diisi oleh Isteri Tauke sebelum ia pergi. Lu Xiao Feng tidak akan
bangkit dari ranjang hanya untuk secangkir anggur.
Ranjang itu lembut dan nyaman, tidak ada yang bisa membuatnya bangkit dari
ranjang itu sekarang.
Jubah merahnya tergantung di sebuah kaitan di kepala ranjang. Untuk suatu
alasan tertentu, tidak perduli kapan dan di mana pun, ia selalu membawa jubah
seperti ini.
Kau hanya perlu melihat jubah merah ini dan kau akan tahu bahwa ia berada di
situ.
Hakim Berwajah Besi dan Pengait Jiwa telah melihat jubah merah itu sekarang,
mereka melihatnya dari jendela.
Lalu mereka bedua melompat masuk lewat jendela, langsung ke kepala ranjang,
dan menatap Lu Xiao Feng.
Lu Xiao Feng masih berbaring di sana seperti orang mati, tidak sedikitpun ada
reaksi atau gerakan, bahkan, tampaknya tidak bernafas.
Hakim Berwajah Besi bertanya dengan bengis: “Apakah kau Lu Xiao Feng?” Tidak
ada jawaban.
Pengait Jiwa mengerutkan keningnya dan berkata dengan dingin: “Kurasa orang
ini sudah mati!”
Hakim Berwajah Besi mendengus: “Mungkin sekali, orang seperti ini memang
tidak berumur panjang!”
Lu Xiao Feng tiba-tiba membuka matanya, memandang mereka, segera menutup
matanya lagi, dan bergumam: “Aneh, aku bersumpah telah melihat 2 orang di
kamar ini!”
Hakim Berwajah Besi menjawab dengan keras: “Karena memang ada 2 orang di
kamar ini!”
Lu Xiao Feng bertanya: “Jika benar ada 2 orang di sini, lalu kenapa aku tidak
dengar suara ketukan sebelumnya?”
Pengait Jiwa menjawab: “Itu karena kami memang tidak mengetuk.”
Lu Xiao Feng membuka matanya lagi dan memandang mereka, tiba-tiba ia
bertanya: “Apakah kalian benar-benar manusia?”
Hakim Berwajah Besi menjawab dengan marah: “Emangnya apa kalau kami
bukan manusia? Hantu?”
Lu Xiao Feng berkata: “Manusia mengetuk pintu sebelum mereka memasuki
ruangan, hanya anjing liar yang melompat lewat jendela!”
Wajah Pengait Jiwa berubah warna. Tiba-tiba ia mengayunkan cambuknya. Bukan7
saja ia termasuk 4 orang pendekar yang terkenal dengan senjata kaitan
gandanya di daerah dalam Tembok Besar, kungfu dan kemampuannya
menggunakan cambuk kulit ular itu juga tidak buruk sama sekali.
Menurut kabar angin ia mampu menghancurkan sebutir kenari yang ada di atas 3
potong tahu.
Jelas Lu Xiao Feng jauh lebih besar daripada sebutir kenari, apalagi ia sedang
berbaring di ranjang itu seperti orang mati, maka tidak mungkin serangannya ini
akan gagal.
Tapi siapa yang tahu kalau Lu Xiao Feng tiba-tiba mengangkat tangannya dan
menjepit cambuk itu di antara 2 jarinya seperti seorang pengemis tua yang
menjepit kutu.
Ia tidak mempelajari gerakan ini dari Hua Man Lou, ia yang mengajarkannya
kepada Hua Man Lou.
Ekspresi wajah si Pengait Jiwa persis seperti Cui Yi Dong waktu goloknya
tertangkap, sebentar hijau, lalu putih, dan akhirnya menjadi merah.
Ia mengumpulkan seluruh kekuatannya, tapi masih tidak mampu merenggut
cambuk itu dari jepitan jari-jari Lu Xiao Feng.
Lu Xiao Feng masih berbaring dengan santai di sana, tanpa setetespun anggur
yang tumpah dari dalam cangkir di atas dadanya.
Hakim Berwajah Besi melihat semua itu dari samping dengan raut muka terkejut,
tiba-tiba ia tertawa dan berkata: “Hebat, kungfu yang benar-benar hebat! Lu Xiao
Feng benar-benar sehebat yang dikatakan kabar burung.”
Pengait Jiwa tiba-tiba tertawa juga sambil melepaskan cambuknya: “Kali ini aku
yakin bahwa Lu Xiao Feng yang ini benar-benar asli!”
Hakim Berwajah Besi menambahkan: “Di jaman ini, jumlah penipu di dunia
persilatan bertambah setiap hari, jadi sahabat Lu jangan menyalahkan kami.”
Dengan 2 kalimat itu mereka berdua berusaha menolong diri mereka sendiri dari
posisi yang serba salah, tapi Lu Xiao Feng tampak tertidur lagi.
Pengait Jiwa merasa sukar untuk tetap tertawa sehingga ia batuk 2 kali dan
berkata: “Kurasa sahabat Lu sudah tahu siapa kami!”
Ia tampaknya mengingatkan Lu Xiao Feng untuk tidak melupakan bahwa orangorang
Paviliun Baju Hijau bukanlah orang-orang yang bisa disepelekan.
Hakim Berwajah Besi berkata: “Kami datang hanya karena kami diperintahkan
untuk mengundang sahabat Lu ikut dengan kami, bukan hanya kami
bertanggung-jawab untuk mengundang dan mengantarkanmu, tapi kami juga
harus memastikan kalau sehelai rambutmu pun tidak akan terganggu.”
Lu Xiao Feng akhirnya menarik nafas dengan malas-malasan: “Mengapa aku
harus ikut dengan kalian? Rasanya tidak mungkin isteri tauke kalian ingin aku
menemaninya di tempat tidur!”
Wajah Hakim Berwajah Besi menjadi gelap ketika ia menjawab dengan dingin:
“Di sana kami tidak punya isteri tauke, tapi di sini ada!”
Wajah Lu Xiao Feng juga menjadi gelap: “Karena kalian telah tahu tentang hal
ini, maka kalian harus kembali dan laporkan pada orang bernama Wei di gedung
kalian itu bahwa lebih baik jika ia tidak mengganggu Zhu Ting, atau aku akan
membakar 108 gedung kalian itu!”
Hakim Berwajah Besi mendengus: “Jika kami membunuh Zhu Ting, kami
mungkin telah membantumu, bukan begitu?”
Lu Xiao Feng menjawab dengan sederhana: “Apakah kalian belum pernah
dengar? Aku tidak menyukai janda.”
Hakim Berwajah Besi menjawab: “Asal kau setuju ikut dengan kami, aku berjanji
bahwa Isteri Tauke tidak akan segera menjanda.”
Baru saja ia selesai bicara, terdengar suara ketukan di pintu.
Tidak ada orang di luar, orang yang mengetuk itu telah berada di dalam kamar.
Ia tidak menggunakan tangannya untuk mengetuk, karena ia tidak punya tangan.
______________________________
Senja lagi.
Sinar matahari terbenam menembus jendela dan menyinari wajah orang itu.
Wajah itu benar-benar tidak bisa dianggap sebagai wajah.
Setengah dari wajah sebelah kiri telah teriris, lukanya meninggalkan kerutan,
menarik hidung dan matanya ke sisi itu – bukan sebuah hidung sebenarnya, tapi
hanya setengahnya, dan bukan sepasang mata, tapi hanya satu.
Sebuah lubang yang gelap dan dalam, itulah yang tersisa di mata kanannya, ada
sebuah codet besar di pipinya, kedua tangannya telah buntung di pergelangan, di
pergelangan tangan kanannya ada sebuah kaitan yang menakutkan, dan di
pergelangan tangan kiri ada sebuah bola besi besar yang lebih besar daripada
kepala manusia.
Bila dibandingkan dengan orang ini, Hakim Berwajah Besi tiba-tiba tampak
seperti laki-laki yang tampan dan halus.
Sekarang ia berdiri di dalam kamar dan mengetuk pintu dengan kaitan besi di
tangan kanannya sambil berkata dengan dingin: “Aku bukan anjing liar, aku
manusia, maka bila aku memasuki kamar orang lain, aku selalu mengetuk!”
Bila ia bicara, bagian wajahnya yang teriris akan mengerut, mukanya pun seperti
menangis, tapi juga seperti tertawa.
Melihat orang ini, bahkan Hakim Berwajah Besi pun tak tahan untuk tidak
bergidik.
Ia benar-benar tidak melihat bagaimana caranya orang ini masuk. Pengait Jiwa
pun telah mundur 2 langkah dan berteriak: “Liu YuHen?”
Suara tawa seperti 2 pedang berkarat yang saling bergesekan terdengar dari
tenggorokan orang itu: “Masih ada orang di dunia ini yang mengenaliku, itu
jarang sekali terjadi di jaman sekarang.”
Hakim Berwajah Besi tampak terkejut: “Kau adalah si ‘Jantan Tampan’ Liu
YuHen?”
Orang seperti ini dikenal sebagai si “Jantan Tampan”?
Tapi orang ini mengangguk dania berkata dengan sedih: “Perasaan seperti
kebencian yang terlupakan, tidak ada gunanya mengungkit-ungkit masa lalu.
‘Jantan Tampan’ sudah mati, sayangnya Liu YuHen masih hidup.”
{YuHen berarti kebencian yang terlupakan, sebuah permainan kata-kata.}
Raut muka Hakim Berwajah Besi berubah: “Mengapa… mengapa kau datang ke
sini?”
Tampaknya ia sangat takut kepada orang ini, begitu takutnya sehingga suaranya
pun berubah.
Liu YuHen menjawab dengan dingin: “Liu YuHen ingin mati 10 tahun yang lalu,
tapi karena dia masih hidup hari ini, aku hanya datang untuk meminta kematian.”
Hakim Berwajah Besi bertanya: “Kenapa aku harus membunuhmu?”
Liu YuHen replied: "Because if you don't kill me, I'll kill you..."
Liu YuHen menjawab: “Karena jika kau tidak membunuhku, aku yang akan
membunuhmu…”
Hakim Berwajah Besi terpana. Wajah si Pengait Jiwa pun berubah menjadi hijau.
Saat itulah terdengar suara ketukan lagi di pintu.
Kali ini orang yang mengetuk berada di luar, tapi tiba-tiba ia berjalan masuk, ia
masuk tanpa membuka pintu.
Pintu kayu yang tebal itu seperti sehelai kertas tipis di hadapannya!
Ia tidak menghancurkan pintu itu dengan menggunakan alat atau menendang
pintu itu dengan kakinya, ia hanya berjalan maju dan pintu itu tiba-tiba hancur
berkeping-keping.
Tapi penampilannya sama sekali tidak mencerminkan kekasaran, ia malah
tampak seperti seorang pelajar yang halus dan lembut, wajahnya yang putih dan
bersih itu pun selalu tersenyum.
Sekarang, ia sedang tersenyum dan berkata: “Aku manusia juga, aku juga
mengetuk.”
Hakim Berwajah Besi tiba-tiba melihat bahwa walaupun ia tersenyum, nafsu
membunuh dan tatapan setajam pisau tampak di matanya.
Pengait Jiwa mundur 2 langkah lagi dan berseru: “Xiao QiuYu!”
Orang itu tersenyum: “Hebat, sobat, pengetahuanmu memang mengesankan!”
Hakim Berwajah Besi kembali terkejut: “’Jago Pedang Penghancur Usus’ Xiao
QiuYu?”
Orang itu mengangguk dan menarik nafas: “’Angin dan hujan musim gugur selalu
menghadirkan kecemasan’, kalau ada yang akan terbunuh, aku merasa cemas.”
Hakim Berwajah Besi tak tahan untuk bertanya: “Mencemaskan apa?”
Xiao QiuYu menjawab dengan santai: “Sekarang pun aku sedang cemas karena
aku tak bisa memutuskan apakah aku yang membunuh kalian atau aku harus
membiarkan Liu Toako yang membunuh kalian.”
Hakim Berwajah Besi tiba-tiba tertawa, tapi suara tawanya tersekat di
tenggorokan dan lebih mirip suara tangisan.
Pengait Jiwa malah lebih lucu, ia memandang ke sekeliling ruangan itu, seolaholah
sedang mencari jalan keluar.
Tiba-tiba seorang laki-laki berkata sambil tertawa: “Apa yang kau cari? Sepasang
kaitan perakmu?”
Laki-laki ini berdiri di luar jendela, wajahnya tirus dan hitam dan tubuhnya
pendek, tapi ia mempunyai jenggot berwarna merah yang menutupi sebagian
besar wajahnya, juga ada sepasang kaitan di genggamannya, kaitan milik si
Pengait Jiwa.
Ia tersenyum dan berkata: “Aku telah membawakan kaitanmu ke sini, ambillah!”
Waktu ia selesai mengatakan “ambillah”, ia mendorongkan tangannya ke depan
dan sepasang kaitan itu terbang dengan perlahan ke arah si Pengait Jiwa, benarbenar
perlahan, seolah-olah ada sepasang tangan tak kelihatan yang
membawanya.
Bahkan Hakim Berwajah Besi mengenali orang ini dan ia berteriak: “’Pengelana
Abadi’ DuGu Fang?”
DuGu Fang juga mengangguk: “Aku jarang memasuki kamar orang lain, tapi kali
ini aku membuat pengecualian!” Waktu selesai bicara, ia telah menghilang.
Ia tiba-tiba muncul di pintu dan mengetuk pintu yang telah hancur itu; tepat
ketika suara ketukan terdengar, ia tiba-tiba melesat kembali ke jendela dan
melompat masuk lewat jendela; sambil tersenyum, ia berkata: “Aku manusia
juga, aku mengetuk.”
Pintu itu telah hancur berkeping-keping, tapi ia masih mengetuknya; sesudah
mengetuk, ia malah melompat masuk lewat jendela.
Pengait Jiwa telah menangkap kaitannya. Tiba-tiba ia berteriak dengan bengis:
“Apakah kau ke sini untuk mengganggu kami juga?”
DuGu Fang menjawab dengan santai: “Aku tidak membunuh anjing liar, aku
hanya menonton orang membunuh.”
Ia menarik sebuah kursi dan duduk, tepat di dekat jendela. Langit di luar sana
tampak semakin merah.
Lu Xiao Feng masih berbaring dengan santai di ranjangnya, seolah-olah tak
perduli apa pun yang terjadi di sana, semuanya tak ada hubungannya dengan
dirinya.
Ia tahu tentang Liu YuHen, Xiao QiuYu, dan DuGu Fang.
Mungkin tidak banyak orang dunia persilatan yang tak tahu tentang mereka, tapi
lebih sedikit lagi orang yang bisa membuat Lu Xiao Feng bangkit dari ranjang itu
sekarang. Tampaknya ia telah memutuskan untuk tinggal di situ dan bermalasmalasan
di ranjang.
Liu YuHen, Xiao QiuYu, dan DuGu Fang mungkin bukan orang-orang paling aneh
di dunia persilatan, tapi mereka tidak jauh dari itu. Tapi sekarang mereka datang
bersama-sama dan muncul di sini, sebenarnya untuk apa?
Walaupun wajahnya tampak sangat hijau, Pengait Jiwa masih bisa mendengus
dan berkata: “Paviliun Baju Hijau tidak ada persoalan atau dendam dengan kalian
bertiga, kenapa kalian datang dan membuat masalah dengan kami?”
Xiao QiuYu menjawab: “Karena aku suka!”
Ia tersenyum dan melanjutkan: “Aku membunuh siapapun yang aku inginkan bila
aku suka, aku ingin membunuh kalian berdua hari ini, maka aku datang untuk
membunuh kalian!”
Pengait Jiwa melirik Hakim Berwajah Besi dan bertanya dengan lambat:
“Bagaimana jika kau tidak suka?”
Xiao QiuYu menjawab: “Bila aku tidak suka, bahkan jika kau berlutut dan
memohon juga aku tidak akan mengangkat satu jari pun!”
Pengait Jiwa menarik nafas; saat itu juga Hakim Berwajah Besi melompat maju
dan berjumpalitan, dengan sepasang pena hakimnya yang terbuat dari besi ia
menutuk ke arah titik darah Langit Terkejut dan Salam Wewangian di tubuh Liu
YuHen.
Gerakannya tidak luar biasa, tapi akurat, cepat, dan efektif!
Ia malah melangkah maju. “Buk!” Sepasang pena hakim itu serentak menusuk
pundak dan dada Liu YuHen.
Tapi bola besi yang terpasang di tangan kirinya juga mendarat di wajah Hakim
Berwajah Besi. Wajah itu tiba-tiba hancur terbelah dua.
Ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun saat tubuhnya melunglai, tapi kaitan di
tangan kanan Liu YuHen menusuk tubuhnya dan mencegahnya roboh ke lantai.
Pena Hakim itu masih menancap di tubuh Liu YuHen, walaupun tidak mengenai
titik darah yang dituju, tapi tetap saja menancap dalam-dalam.
Liu YuHen seolah-olah tidak merasakannya dan ia hanya memandang dingin pada
wajah yang hancur itu; tiba-tiba ia berkata dengan dingin: “Ternyata wajahnya
tidak terbuat dari besi.”
Sebuah sentilan dengan kaitannya dan Hakim Berwajah Besi pun melayang
keluar jendela, untuk menemui Hakim yang sebenar-benarnya.
Saat itulah sepasang kaitan perak milik si Pengait Jiwa juga melayang keluar
jendela.
Tapi ia masih ada di kamar itu, wajahnya pucat, tangannya terkulai, sambungan
di kedua tangan itu mengeluarkan darah dengan derasnya.
Darah juga menetes dari pedang pendek di tangan Xiao QiuYu.
Ia tersenyum, memandang pada si Pengait Jiwa, dan berkata: “Tampaknya kau
tak akan pernah bisa mengait jiwa lagi dengan tanganmu itu!”
Pengait Jiwa mengkertakkan giginya, begitu kerasnya sehingga terdengar di
seluruh ruangan itu, tiba-tiba ia menjerit: “Kenapa kau tidak membunuhku!”
Xiao QiuYu menjawab: “Karena aku tidak ingin membunuhmu, sekarang aku
ingin kau pulang dan beritahu pada orang-orang di gedungmu bahwa mereka
lebih baik tinggal di sana dan jangan keluar selama 2 bulan ini, atau mereka akan
menemukan kenyataan bahwa sangatlah sukar untuk kembali ke gedung kalian
dalam keadaan hidup.”
Mimik muka si Pengait Wajah berubah beberapa kali tapi ia tidak berkata apa-apa
dan mulai berjalan ke pintu.
Tiba-tiba DuGu Fang muncul di hadapannya dan berkata dengan dingin: “Kau
masuk lewat jendela, jadi sebaiknya kau juga keluar lewat jendela!”
Pengait Jiwa menatapnya dengan bengis sebelum akhirnya menghentakkan
kakinya—2 orang yang masuk lewat jendela itu akhirnya keluar lewat jendela
juga.
Liu YuHen memandang langit yang gelap di luar jendela, pena hakim itu masih
menancap di tubuhnya.
Xiao QiuYu berjalan menghampiri dan mencabutnya dengan perlahan, melihat
darah mengucur dari dadanya, sedikit rasa simpati muncul dari sepasang
matanya yang dingin seperti batu.
Liu YuHen tiba-tiba menarik nafas dalam-dalam: “Sayang… sayang….”
Xiao QiuYu bertanya: “Sayang kau tidak mati kali ini?”
Liu YuHen tidak menjawab!
Xiao QiuYu menarik nafas dalam-dalam juga: “Kenapa kau melakukan ini pada
dirimu sendiri?…”
DuGu Fang tiba-tiba menarik nafas juga: “Kau menghancurkan usus orang, tapi
dia menghancurkan dirinya sendiri!”
______________________________
Seseorang telah tewas di kamar itu dan kamar itu sendiri berantakan, Lu Xiao
Feng masih tidak bergerak sedikit pun, seolah-olah ia tidak melihat apa-apa.
Yang lebih aneh adalah 3 orang itu tampaknya juga tidak melihat dia, seakanakan
tidak ada orang yang berbaring di ranjang tersebut.
Kamar itu telah gelap. Mereka berdiri di sana dalam kegelapan, tidak ada yang
bicara, tapi tidak ada juga yang pergi.
Saat itulah suara musik terdengar mengalun dibawa angin malam, suara yang
indah seolah datang dari surga.
Semangat DuGu Fang tampaknya tiba-tiba bangkit. Ia berkata dengan suara
yang serius: “Mereka di sini!”
Siapa yang di sini? Siapa yang memainkan musik yang demikian indah?
Lu Xiao Feng mendengarkan juga, tak ada yang tahan untuk tidak mendengarkan
musik seperti ini.
Ia tiba-tiba menyadari bahwa kamar yang tadinya dipenuhi dengan bau anyir
darah sekarang penuh dengan aroma yang sangat harum.
Aromanya lebih wangi daripada harum bunga yang datang terbawa angin
bersama alunan musik itu, dalam sekejap mata dunia tampak penuh dengan
keharuman yang luar biasa ini.
Lalu kamar yang gelap itu menjadi terang.
Lu Xiao Feng akhirnya tak tahan untuk membuka matanya, tiba-tiba ia melihat
bunga-bunga memenuhi udara.
Bunga-bunga segar dari berbagai jenis terbang dibawa angin melalui jendela dan
pintu sebelum akhirnya mendarat di lantai dengan perlahan.
Sebuah karpet dari bunga-bunga segar tiba-tiba tercipta di lantai, terhampar
hingga keluar pintu kamar.
Seseorang berjalan memasuki pintu.
Lu Xiao Feng telah melihat banyak wanita, ada yang jelek, ada pula yang sangat
cantik. Tapi ia belum pernah melihat wanita secantik ini.
Ia mengenakan jubah hitam lembut yang terjulai sampai ke lantai, menyentuh
bunga-bunga segar itu.
Rambutnya yang hitam terurai hingga ke pundak, tapi wajahnya putih, biji
matanya yang hitam begitu gelapnya sehingga tampak berkilauan.
Tidak ada perhiasan lain, tak ada warna lain.
Ia berdiri di atas bunga-bunga itu, tapi bunga-bunga yang indah dan berwarnawarni
di atas lantai itu tiba-tiba seakan kehilangan warnanya.
Kecantikan seperti ini tidak berasal dari alam dunia, ini sesuatu yang lebih agung,
sesuatu yang jauh di luar jangkauan akal pikiran.
Liu YuHen, Xiao QiuYu, dan DuGu Fang diam-diam berpindah ke sudut ruangan,
wajah mereka penuh dengan perasaan hormat.
Lu Xiao Feng merasa seakan-akan berhenti bernafas. Tapi ia masih tidak mau
bangkit.
Gadis berjubah hitam itu menatapnya, biji matanya bening dan jernih seperti
embun musim semi yang jatuh di atas bunga mawar di saat fajar menjelang.
Suaranya juga lembut seperti angin, seperti angin musim semi yang berhembus
di atas danau di pegunungan yang jauh di sana di saat fajar tiba.
Tapi senyumnya misterius, misterius seperti suara seruling yang mengalun di
kejauhan di tengah malam yang sepi dan tenang, mengambang tanpa tujuan,
membuatnya mustahil untuk ditebak maksud dan tujuannya. Ia memandang Lu
Xiao Feng, tersenyum, tiba-tiba ia berlutut, seolah-olah sebuah awan di langit
tiba-tiba turun ke dunia nyata.
Lu Xiao Feng tidak bisa berdiam di ranjang lagi. Tiba-tiba ia melompat bangkit.
Tiba-tiba ia menjadi seperti sebatang anak panah yang melesat dari busur yang
ditarik sekuatnya, tubuhnya terbang menembus kelambu tempat tidurnya; diikuti
oleh suara “Brak!” ketika ia menembus atap.
Sinar bulan menyinari lubang di atap yang baru saja ia buat, tapi ia sudah tidak
kelihatan lagi.
Seorang gadis yang sangat manis dan berwajah jujur dengan mata yang besar
dan bundar, berdiri di samping gadis berjubah hitam, berdiri atas bunga-bunga.
Melihat Lu Xiao Feng tiba-tiba melarikan diri seperti baru melihat hantu, gadis itu
merasa agak takut dan ia tak tahan untuk bertanya: “Yang Mulia begitu sopan
dan hormat kepadanya, kenapa dia malah lari? Apa yang ia takuti?”
Gadis berjubah hitam tidak menjawab pertanyaan itu.
Tiba-tiba ia berdiri, menyentuh dengan perlahan rambutnya yang lembut seperti
awan dan sebuah ekspresi aneh muncul di sepasang matanya yang bening dan
bersinar; tak berapa lama kemudian ia akhirnya berbisik: “Dia benar-benar orang
yang cerdik, salah satu orang yang paling cerdik di dunia ini!”
Bab 2: Orang Terkaya
Waktu ia memasuki rumah Lo Huo (Huo tua) yang kecil itu, Lo Huo sedang
minum arak.
Rumah itu adalah sebuah pondok kayu yang kecil dan sangat sederhana, berdiri
di tengah sebuah hutan kecil yang terdiri dari pohon-pohon kurma di lereng
sebuah gunung.
Lo Huo juga seperti pondok kayu kecil itu, kecil, sendirian, bersih, dan tegar,
mirip sebutir kacang berkulit keras yang telah mengalami berbagai macam badai.
Kebetulan ia sedang minum di sebuah meja yang kecil tetapi indah.
Arak itu baunya enak, ruangan itu penuh dengan kendi arak dari berbagai jenis
dan ukuran, dan tampaknya juga berkualitas tinggi.
Waktu ia melihat cangkir arak di tangan Lu Xiao Feng, tak tahan lagi ia tertawa
dan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia berkata: "Apakah kau takut
kalau aku tidak tahu kamu datang ke sini untuk minta minum? Itukah sebabnya
kau membawa sebuah cangkir arak untuk mengingatkanku?"
Lu Xiao Feng juga tertawa: "Waktu berangkat tadi aku hampir tidak punya waktu
untuk memakai celana, bagaimana mungkin aku punya waktu untuk meletakkan
cangkir ini? Tadi ada arak di cangkir ini, sayang sekarang sudah tumpah."
Lo Huo merasa hal ini sangat janggal sehingga ia mengerutkan alisnya dan
bertanya: "Kenapa kau begitu tergesa-gesa?" Ia tidak bisa membayangkan apa
yang telah terjadi.
Lu Xiao Feng menarik nafas dan tertawa masam: "Tidak ada apa-apa, tadi ada
seorang gadis yang memasuki kamarku."
Lo Huo tertawa lagi: "Rasanya ada saja wanita yang memasuki kamarmu setiap
hari, kau tidak pernah ketakutan sebelumnya!"
"Gadis ini berbeda!"
"Apa yang membuatnya begitu berbeda?"
"Semuanya!"
Lo Huo mengedip-ngedipkan matanya: "Apakah gadis ini sangat buruk?"
Lu Xiao Feng tiba-tiba menggelengkan kepalanya: "Bukan saja ia tidak buruk, ia
malah cukup cantik untuk menjadi seorang dewi, dan dia membawa hawa seperti
seorang puteri!"
"Lalu apa yang kau takutkan? Takut dia akan memperkosamu?" Lo Huo bergurau.
Lu Xiao Feng tersenyum: "Jika dia ingin memperkosaku, maka kau tak akan bisa
mengusirku pergi biarpun dengan memakai sapu!"
"Lalu kenapa dia bisa membuatmu melarikan diri?" Lo Huo bertanya.
Lu Xiao Feng menarik nafas lagi: "Dia berlutut di depanku!"
Lo Huo membuka matanya selebar mungkin dan menatap Lu Xiao Feng, seolaholah
sebuah bunga tiba-tiba tumbuh dari lubang hidungnya.
Lu Xiao Feng khawatir ia tidak mengerti dan menerangkan lebih lanjut: "Tepat
sesudah ia memasuki kamarku, tiba-tiba ia berlutut ke arahku, berlutut dengan
dua kaki!"
Lo Huo akhirnya menghembuskan nafas sekuatnya dan berkata: "Aku selalu
mengira kau orang yang normal, tanpa masalah sama sekali, tapi sekarang aku
mulai agak curiga!"
Lu Xiao Feng tersenyum masam lagi: "Sekarang kau mulai agak curiga kalauPENDEKAR
kalau aku memang ada masalah?"
Lo Huo menjawab: "Seorang wanita seperti dewi, masuk ke kamarmu, dan
berlutut di hadapanmu, tapi kau malah begitu takutnya sehingga melarikan diri
dengan panik?"
Lu Xiao Feng mengangguk: "Bukan hanya panik, aku malah harus lari lewat
atap!"
Lo Huo menarik nafas: "Tampaknya bukan hanya kau punya masalah, masalah
itu pun rupanya sangat besar!"
"Aku lari karena otakku masih bekerja dengan baik!"
"Oh?"
"Sudah kubilang kan, bukan hanya cantik, dia juga membawa hawa tertentu!"
"Hawa seperti apa?"
"Hawa seorang puteri!"
"Pernahkah kau bertemu seorang puteri sebelumnya?"
"Belum, tapi aku tahu bahwa seorang puteri sekalipun tak akan bisa membawa
tiga orang pengawal seperti dia!"
"Siapa saja pengawalnya?"
"Liu YuHen, Xiao QiuYu, dan DuGu Fang!"
Lo Huo mengerutkan keningnya: "Liu YuHen yang bertarung seperti orang
mencari mati?"
"Ya!" Lu Xiao Feng menjawab.
"Xiao QiuYu yang tampaknya halus dan terpelajar tapi kenyataannya kuat seperti
banteng liar?"
"Ya!"
"DuGu Fang yang datang dan pergi tanpa jejak dan selalu sendirian?"
"Ya!"
"Mereka bertiga itu pengawalnya?"
"Ya!"
"Dia punya 3 orang pengawal seperti itu, dan masih berlutut kepadamu?
"Ya!"
Lo Huo tidak berkata apa-apa lagi. Ia menuangkan secangkir arak lagi dan
meminumnya.
Lu Xiao Feng juga menghabiskan apa yang tersisa di cangkirnya dan berkata:
"Kau mengerti sekarang?
"Ya!" Lo Huo menjawab.
"Menurutmu, kenapa dia berlutut kepadaku?"
"Karena dia ingin kau melakukan sesuatu untuknya!"
"Seorang gadis seperti itu, berlutut di hadapanku, untuk apa sebenarnya?"
"Untuk sesuatu yang sangat sukar!"
"Aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya, mengapa aku mau
menempuh segala masalah untuknya?"
"Hanya orang tolol yang mau!"
"Apakah aku tolol?"
"Tidak!"
"Jika kau jadi aku, apakah kau akan lari juga?"
"Aku akan lari seperti kau, mungkin sedikit lebih cepat!"
Lu Xiao Feng menghembuskan nafas panjang sebelum tersenyum kembali:
"Tampaknya biarpun kau mulai tua, kau belum menjadi orang bodoh."
Lo Huo menjawab: "Tapi kau yang bodoh walaupun masih muda."
"Oh?"
"Seorang gadis seperti dirinya, mau berlutut kepadamu dan memohon sesuatu
kepadamu, maka persoalan ini pasti tidak bisa diselesaikan oleh orang lain."
Lu Xiao Feng setuju dengan dugaan itu.
Lo Huo meneruskan: "Ia sudah berhasil menemukanmu, apakah menurutmu kau
bisa lari?"
"Menurutmu dia akan datang kembali?"
"Mungkin ya!"
Lu Xiao Feng tersenyum: "Aku tidak punya banyak keahlian, tapi aku cukup cepat
bila melarikan diri!"
"Hingga tidak ada orang yang bisa mengejarmu?"
"Hingga tidak banyak orang yang sanggup mengejarku!"
Lo Huo mendengus.
Lu Xiao Feng bertanya: "Kenapa kau mendengus?"
"Dengusanku itu berarti aku sedang mendengus!"
"Aku tidak tahu apa maksudmu."
"Banyak yang kau tidak tahu."
Lu Xiao Feng tertawa lagi: "Paling tidak aku masih tahu bagaimana caranya
menentukan kendi mana di tumpukan ini yang berisi arak terbaik."
Ia mengambil sebuah kendi, memang yang terbaik. Tapi baru saja ia hendak
membuka segelnya, terdengar suara "Brak!" yang keras sebanyak tiga kali. Ada
orang yang telah membuat 3 lubang di dinding sebelah kanan, kiri dan di
depannya.
Tiga orang laki-laki berjalan masuk melalui lubang di dinding itu. Ternyata
mereka Liu YuHen, Xiao QiuYu dan DuGu Fang.
Dari wajah mereka yang pasti dan tenang, seolah-olah bukan mereka yang
membuat lubang di tembok itu. Seakan-akan mereka bertiga hanya membuka
pintu dan kembali ke rumah mereka sendiri setelah semalaman keluar.
Xiao QiuYu tersenyum dan berkata: "Kami tidak masuk lewat jendela!"
"Jadi kami bukan anjing!" DuGu Fang menyimpulkan.
Sementara keduanya bicara, masing-masing mengambil sebuah kursi. Tiba-tiba
saja kedua kursi yang berukiran indah itu sudah hancur berkeping-keping.
Liu YuHen duduk dengan perlahan di tempat tidur, tapi baru saja ia duduk
seluruh tempat tidur itu sudah roboh dengan menimbulkan suara yang keras.
Xiao QiuYu mengerutkan kening: "Perabotan ini rupanya tidak kuat."
"Lain kali lebih baik kita ingat supaya tidak membeli perabotan dari sini." DuGu
Fang meneruskan.
Saat kedua orang itu mengucapkan kalimat-kalimat ini, 5 atau 6 macam benda
lagi telah hancur.
Lu Xiao Feng dan Lo Huo seolah-olah tidak melihat semua kejadian itu.
Lo Huo masih duduk dan minum-minum, tanpa sedikit pun ada perasaan marah
di wajahnya, seolah-olah benda-benda yang mereka hancurkan itu bukan
miliknya.
Sebentar saja semua benda di rumah itu sudah hancur, termasuk 20 lebih kendi
arak.
Xiao QiuYu memandang sekelilingnya: "Rumah ini seperti akan roboh, lebih baik
kita perbaiki dulu!"
DuGu Fang berkomentar: "Itu baru ide yang bagus!"
Mereka bertiga mulai membongkar rumah itu. Lu Xiao Feng dan Lo Huo masih
duduk di sana, sambil meminum arak mereka dengan perlahan-lahan.
"Brak!", "Bum!", "Bukk!" Dinding di 4 sisi rumah itu sudah roboh. "Buummm!!"
Atap pun roboh, tepat di atas Lu Xiao Feng dan Lo Huo.
Tiba-tiba mereka berdua menghilang.
DuGu Fang dan Xiao QiuYu saling berpandangan dan memandang ke belakang
mereka, kedua orang itu ternyata sedang duduk-duduk di lapangan rumput tepat
di depan rumah, masih di atas 2 kursi, dan kendi arak pun masih berada di atas
meja di hadapan mereka.
Xiao QiuYu berkata lagi: "Nafsu adalah pisau yang mematahkan tulangmu, arak
adalah racun yang merusak perutmu, kami tidak bisa membiarkannya!"
DuGu Fang pun meneruskan: "Benar, kita tak bisa meninggalkan satu kendi
pun!"
Maka ia berjalan menghampiri dengan tenang, mengambil kendi di atas meja,
dan melemparkannya ke atas tanah dengan keras.
Kali ini kendi itu tidak hancur. Tiba-tiba benda itu kembali ke atas meja.
DuGu Fang mengerutkan kening, mengambilnya kembali, dan melemparkannya
sekuat yang ia bisa.
Kali ini ia melihat apa yang terjadi. Sebelum kendi itu tiba di tanah, Lu Xiao Feng
tiba-tiba merenggutnya di udara.
DuGu Fang melemparkannya lagi, Lu Xiao Feng menangkapnya lagi. Dalam
sekejap mata DuGu Fang telah melempar kendi itu paling tidak sebanyak 8 kali,
tapi kendi ini masih tetap berdiri di atas meja. DuGu Fang menatap kendi itu,
seolah-olah ia sudah kehilangan kesadarannya.
Sesudah memandangnya beberapa lama, akhirnya ia berbalik dan berkata pada
Xiao QiuYu dengan senyum yang dipaksakan di wajahnya: "Kendi ini kepunyaan
setan, tidak bisa dihancurkan!"
Xiao QiuYu bertanya: "Setan macam apa?"
"Setan arak tentunya!"
"Biar aku yang coba."
Ia berjalan menghampiri, seakan-akan tidak ada 2 orang lagi yang duduk di meja
itu, tiba-tiba mengambil kendi itu dan mendorongnya.
Kendi itu terbang 20 atau 30 m. Tapi masih tidak hancur.
Waktu kendi itu terbang, begitu juga Lu Xiao Feng.
Waktu Lu Xiao Feng duduk kembali di kursinya, kendi itu juga kembali ke atas
meja.
Xiao QiuYu mengambilnya lagi dan mendorong, kali ini kendi itu terbang lebih
cepat dan lebih jauh.
Dari lahirnya ia memang lelaki yang sangat kuat, dorongannya yang seperti itu
mampu memindahkan sebuah balok besi berbobot beberapa ratus kilogram.
Tapi kendi itu kembali lagi, diikuti oleh Lu Xiao Feng.
Xiao QiuYu juga terpana sehingga ia bergumam: "Tampaknya memang ada setan
yang memiliki kendi ini, setan arak yang punya sayap."
Liu YuHen tiba-tiba mendengus. Sesudah tertawa sekali, ia sudah tiba di meja
itu. Ia mengambil kendi itu dengan kedua tangannya, memegangnya erat-erat,
dan tiba-tiba mencoba menghancurkannya dengan keningnya.
Orang lain berusaha menghancurkan kendi itu, tapi ia tampaknya mencoba
menghancurkan kepalanya sendiri.
Xiao QiuYu menarik nafas, kali ini kendi itu pasti akan hancur, tapi kepala Liu
YuHen mungkin keadaannya tidak lebih baik.
Tapi kepala itu tidak rusak dan kendi itu juga tidak hancur.
Tangan Lu Xiao Feng tiba-tiba terjulur dan menangkap kendi itu dengan
menempatkan tangannya di antara kendi dan kepala Liu YuHen.
Liu YuHen mendengus lagi dan tiba-tiba ia melompat dan menendang perut Lu
Xiao Feng. Tendangan ini juga tidak berhasil.
Lu Xiao Feng tiba-tiba melompat dan berjumpalitan melewati kepalanya,
mendarat di belakangnya, masih menahan kendi arak itu dengan tangannya.
Liu YuHen menendang ke belakang, Lu Xiao Feng bersalto kembali ke depannya.
Tiba-tiba ia menarik nafas dan berkata: "Kendi arak ini adalah kendi kami yang
terakhir, kepala itu juga kepalamu yang terakhir, kenapa kau begitu ingin
menghancurkan kedua-duanya?"
Liu YuHen menatapnya, sebelah matanya yang masih baik seolah-olah berubah
seperti matanya yang rusak, tampak seperti lubang yang gelap dan dalam.
Xiao QiuYu tiba-tiba tertawa: "Kelihatannya orang ini Lu Xiao Feng yang asli!"
DuGu Fang menjawab: "Oh?"
"Selain Lu Xiao Feng, siapa lagi yang mau bersusah-payah hanya untuk sekendi
arak?"
DuGu Fang juga tertawa: "Itu benar, tidak banyak orang bodoh seperti ini di
dunia!"
Sambil tersenyum Xiao QiuYu menjauhkan kendi itu dari Liu YuHen dan
meletakkannya kembali di atas meja.
"Bruk!" Tiba-tiba kendi itu pecah berkeping-keping dan arak di dalam kendi juga
tumpah di atas meja -- tangan Liu YuHen dan tangan Lu Xiao Feng tadi
menyalurkan tenaga dalam ke kendi itu, biarpun kendi itu terbuat dari besi pun ia
akan hancur.
Xiao QiuYu tercengang sebentar, lalu mengeluarkan sebuah senyuman yang agak
dipaksakan: "Aneh ya? Bila kau ingin menghancurkannya, eh tidak berhasil; bila
kau tidak ingin menghancurkannya lagi, eh malah pecah sendiri!"
Lu Xiao Feng menjawab dengan santai: "Ada banyak kejadian di dunia ini yang
terjadi dengan sendirinya dan tidak bisa dipaksakan, jadi kenapa menganggapnya
begitu serius?"
Mata Liu YuHen tiba-tiba tampak sedih luar biasa dan membuat iba orang lain. Ia
berpaling dan berjalan menjauh.
Tampaknya apa yang dikatakan Lu Xiao Feng barusan telah mengingatkan dirinya
pada suatu rahasia yang terkubur dalam-dalam di benaknya.
Saat itulah sebuah suara yang merdu dan menyegarkan berkata: "Yang Mulia
Tuan Puteri DanFeng dari dinasti Rajawali Emas, sang Puteri Phoenix Merah
sendiri, ingin bertemu dengan Tuan Lu, Lu Xiao Feng."
Suara itu milik seorang gadis manis berwajah polos yang memiliki mata besar
dan berpakaian warna-warni.
Ia baru saja berjalan keluar dari semak-semak pohon kurma yang lebat, tapi
tampaknya seluruh bintang-bintang di langit telah pindah ke matanya.
Lu Xiao Feng bertanya: "Puteri Phoenix Merah? Puteri DanFeng?"
Gadis itu memandang dirinya dengan sepasang matanya yang bening dan
bersinar, dan tersenyum: "Puteri DanFeng, Phoenix Merah. Bukan Puteri
XiaoFeng, phoenix kecil."
Lu Xiao Feng memandang Lo Huo, menarik nafas dan bergumam: "Jadi dia
benar-benar seorang puteri!"
Gadis itu menjawab: "Seratus persen asli!"
Gadis itu tersenyum lagi, senyuman yang demikian manis: "Beliau takut Tuan Lu
akan lari lagi, maka ia menunggu di luar!"
Meskipun senyumnya manis, ia berbicara lambat-lambat. Lu Xiao Feng hanya
bisa balas tersenyum.
Gadis itu menatapnya dan tersenyum lagi: "Beliau menunggu di luar, sekarang
pertanyaannya adalah apakah Tuan Lu berani menemuinya atau tidak."
Lo Huo tiba-tiba memotong: "Tentu saja dia berani!"
Lelaki tua yang pendiam dan misterius itu tersenyum dan melanjutkan: "Jika dia
tidak pergi menemui sang puteri, seluruh rumah teman-temannya mungkin akan
segera hancur!"
Bintang-bintang berkerlap-kerlip di langit, bulan muda berdiam dengan nyaman
di peraduannya yang gemerlapan, tiba-tiba sebuah keharuman memancar di
hutan pohon kurma itu -- asalnya bukan dari pohon kurma, itu adalah bau harum
bunga.
Ternyata bau harum itu berasal dari seekor anjing, anjing pemburu yagn
tampaknya sangat kuat, dengan telinga yang panjang dan kaki-kaki yang
panjang.
Ada banyak rangkaian bunga di tubuh anjing itu, dan ia pun membawa sebuah
keranjang bunga di mulutnya.
Di dalam keranjang yang penuh bunga itu sekilas tampak kilauan emas,
datangnya dari 4 emas batangan yang masing-masing berbobot paling sedikit 50
tael.
Gadis tadi mengambil keranjang tadi dan berkata dengan manis: "Ini adalah
ganti rugi dari puteri kami atas kerugian laki-laki tua itu, maukah Tuan Lu
mewakilinya untuk menerimanya?"
Lu Xiao Feng mengedip-ngedipkan matanya: "Untuk apa itu? Karena kalian telah
merobohkan rumahnya?"
Gadis itu mengangguk.
Lu Xiao Feng berkata: "Empat emas batangan ini totalnya lebih dari 100 tael,
bukan uang yang sedikit!"
Pondok kayu yang kecil seperti itu, dengan 50 tael pun kau akan mendapat
beberapa buah, maka tentu saja ganti rugi yang ditawarkan gadis itu tidak sedikit
jumlahnya.
Gadis itu berkata: "Kami hanya berharap agar pak tua itu mau menerima
penghargaan dan penyesalan kami yang kecil ini."
Lu Xiao Feng menjawab: "Ia tak akan mau!"
"Mengapa?"
"Karena ia tidak butuh 100 tael perak ini sama sekali, dan jika ini ganti rugi untuk
rumah itu, tampaknya masih kurang."
"Emas batangan ini masing-masing bernilai 50 tael!"
"Aku tahu."
"Ini masih tidak cukup untuk membayar rumah itu?"
"Masih kurang sedikit!"
"Kurang berapa?"
"Berapa jumlahnya, aku tidak terlalu yakin. Tapi kurasa sekitar 30 atau 40 ribu
tael lagi baru cukup!"
"30 atau 40 ribu tael apa?"
"30 atau 40 ribu tael emas, tentunya!"
Gadis itu tertawa.
"Kau tidak mempercayaiku?
Gadis itu tak bisa berhenti tertawa, mendengar lelucon seperti itu apa yang bisa
ia lakukan selain tertawa? Membayarnya puluhan ribu tael emas?
Lu Xiao Feng tiba-tiba mengambil kursi kayu berhias yang tadi ia duduki:
"Apakah kau tahu kursi macam apa ini?"
Gadis itu berkata sambil tertawa: "Kursi untuk diduduki orang!"
"Tapi kursi ini dibuat 400 tahun yang lalu oleh tukang kayu terkenal Lu Zhi, ia
sendiri yang mengukir hiasan-hiasan ini. Hanya ada 11 kursi seperti ini di dunia,
5 ada di istana kaisar, 6 ada di sini, tapi kalian telah menghancurkan 4 di
antaranya."
Mata gadis itu terbelalak selebar mungkin ketika ia memandang kursi di tangan
Lu Xiao Feng, ia pun tertawa semakin keras!
Lu Xiao Feng bertanya: "Apakah kau tahu siapa yang tinggal di rumah itu
sebelumnya?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Dulu pondok itu adalah tempat peristirahatan musim panas milik penyair
terkenal Lu FangWeng, ia menuliskan beberapa puisinya di dinding pondok itu,
sekarang semuanya telah hancur berkeping-keping."
Mata gadis itu semakin terbelalak dan ia tampak kaget.
Lu Xiao Feng berkata dengan santai: "Setiap potong kayu di rumah itu tidak
ternilai harganya, bahkan jika kau datang dengan 40 atau 50 ribu tael emas, itu
juga masih kurang."
Ia tertawa kecil dan melanjutkan: "Untunglah orang tua itu sama sekali tidak
ingin kalian membayar kerusakannya, karena 40 atau 50 ribu tael emas hanyalah
uang recehan bagi dirinya!"
Gadis itu diam-diam menjilat bibirnya sambil memandang pada si laki-laki tua
dengan tidak percaya.
Lo Huo masih duduk dengan nyaman di sana, perlahan-lahan menghirup
setengah cangkir arak yang masih tersisa di cangkirnya, seakan-akan tidak ada
yang lain di dunia ini yang lebih penting daripada setengah cangkir arak itu.
Lu Xiao Feng tiba-tiba berpaling pada DuGu Fang, tersenyum, dan bertanya: "Aku
tahu kau memiliki pengetahuan yang luas tentang kejadian-kejadian di dunia,
maka kupikir kau tentu telah mendengar siapa orang terkaya di dunia!"
DuGu Fang menjawab dengan suara yang berat: "Jika kau bicara tentang tanah,
tentu keluarga Hua di selatan Sungai Yangtze; jika menyangkut benda-benda tak
ternilai, maka keluarga Yan di dalam Tembok Besar di daerah ShanXi tengah.
Tapi yang benar-benar terkaya, mungkin itulah Huo Xiu."
"Apakah kau tahu orang macam apa Huo Xiu ini?"
"Walaupun ia orang terkaya di dunia, ia suka hidup seperti pertapa, maka tidak
banyak orang yang pernah melihatnya; Kudengar dia adalah seorang laki-laki tua
yang sangat pendiam dan eksentrik, dan ...." Tiba-tiba ia berhenti dan
memandang Lo Huo.
Sekarang semua orang akhirnya menyadari bahwa laki-laki tua yang pendiam
dan misterius itu adalah Huo Xiu, orang terkaya di dunia.
Lo Huo tiba-tiba menarik nafas dan bangkit dengan perlahan: "Karena semua
orang sudah tahu aku tinggal di sini, aku tak bisa tinggal di sini lagi, kenapa kau
tidak mengambilnya saja."
Lu Xiao Feng memandang potongan-potongan kayu di atas tanah dan berkata:
"Seingatku kau bahkan tidak mau meminjamkannya kepadaku beberapa hari
yang lalu."
Lo Huo menjawab dengan santai: "Kau sendiri yang mengatakannya, semua
benda di sini tak ternilai harganya, bagaimana mungkin aku meminjamkannya
pada orang lain?"
"Tapi karena sekarang sudah jadi kayu biasa, kau mau!"
"Itu benar!"
Lu Xiao Feng menarik nafas dan tersenyum: "Akhirnya aku tahu kenapa kau bisa
begitu kaya!"
Wajah Lo Huo tidak berubah sama sekali ketika ia menjawab: "Ada sesuatu lagi
yang harus kau ketahui."
"Apa?"
"Bila kau melarikan diri, memang tidak banyak orang yang bisa mengejarmu di
dunia ini; tapi selain orang, ada banyak makhluk-makhluk lain di dunia,
contohnya...."
"Contohnya, seekor anjing pemburu dengan penciuman yang sangat tajam!"
Lo Huo menarik nafas: "Jadi kau tidak begitu bodoh, mungkin suatu saat kau
akan kaya juga!"
______________________________
Kereta hitam itu ditarik oleh seekor kuda hitam, hitam berkilauan dan gagah.
Kereta hitam itu juga tertutupi oleh bunga-bunga dari berbagai warna.
Gadis kecil itu berkata: “Yang Mulia menantimu di dalam kereta, kenapa kau
tidak masuk.”
Lu Xiao Feng bertanya: “Masuk?”
“Mmhmm!”
“Lalu?”
“Lalu kereta ini akan membawamu ke suatu tempat yang tidak pernah kau
datangi sebelumnya. Kujamin kau tak akan menyesal setelah kita tiba di sana!”
“Tentu saja aku tak akan menyesal, karena aku tidak ikut.”
Gadis itu memandangnya, ia tampak terkejut: “Kenapa tidak?”
“Kenapa aku harus membiarkan diriku sendiri dibawa ke suatu tempat yang tidak
pernah kudatangi oleh orang yang tidak pernah kutemui sebelumnya?”
Gadis itu mengedip-ngedipkan matanya: “Karena… karena kami akan
memberimu banyak emas!”
Lu Xiao Feng tertawa.
Gadis itu bertanya: “Kau tidak suka emas?”
“Aku suka, tapi aku tidak suka mempertaruhkan nyawaku hanya untuk emas.”
Gadis itu memutar-mutar biji matanya dan kemudian berbisik: “Di dalam kereta
begitu nyaman, Yang Mulia pun sangat cantik, dan perjalanan ini cukup panjang,
siapa yang tahu apa yang mungkin terjadi di sepanjang perjalanan!”
Lu Xiao Feng tersenyum: “Nah, itu lebih manjur untukku!”
Mata gadis itu berkilauan: “Kau mau masuk?”
“Tidak!”
Gadis itu mencibir: “Kenapa tidak?”
Dengan tenang Lu Xiao Feng menjawab: “Aku selalu suka wanita cantik, tapi aku
tak suka mempertaruhkan nyawaku untuk wanita cantik!”
“Jadi untuk siapa kau mau mempertaruhkan nyawamu?”
“Untuk diriku sendiri.”
“Selain dirimu sendiri, kau tak mau mempertaruhkan nyawamu untuk orang lain
di dunia ini?”
“Tidak!”
Mata gadis itu berputar-putar lagi: “Tidak juga untuk Hua Man Lou?”
“Hua Man Lou?”
Gadis kecil itu berkata dengan santai: “Kurasa kau tentu tahu siapa Hua Man Lou,
ia sedang menunggumu di tempat itu. Jika kau tidak pergi, ia mungkin akan
sangat kecewa!”
“Jika ia ingin aku pergi, ia sendiri yang akan datang dan mencariku.”
“Sayangnya ia tidak bisa datang sekarang!”
“Kenapa?”
“Karena ia tidak bisa pergi ke mana-mana sekarang!”
“Kau bilang dia sudah jatuh ke tangan kalian?”
“Kira-kira begitulah!”
Lu Xiao Feng tiba-tiba tertawa, seakan-akan ia baru saja mendengar lelucon
paling lucu di dunia, ia tertawa begitu kerasnya sehingga tubuhnya terbungkuk.
Gadis kecil itu tak tahan untuk tidak bertanya: “Apa yang kau tertawakan?”
Masih sambil tertawa, Lu Xiao Feng menjawab: “Kamu. Kamu masih terlalu kecil,
bahkan tak tahu bagaimana caranya berdusta!”
“Oh?”
“Jika kalian bisa mendapatkan Hua Man Lou, tentu tak ada hal di dunia ini yang
tak bisa kalian lakukan, lalu apa gunanya datang dan mencariku?”
Gadis itu tersenyum kecil: “Kau tahu, kau tak sebodoh itu, tapi kau juga tidak
cerdas!”
“Oh?”
“Jika kau cerdas, kau tentu menyadari 2 hal sekarang!”
“Oh?”
“Pertama, aku bukan anak-anak lagi, aku adalah kakak sepupu Puteri DanFeng.
Ia baru 19 tahun, aku sudah 20 tahun.”
Ucapannya itu membuat Lu Xiao Feng tercengang dan ia memperhatikan gadis itu
lagi. Tak perduli berapa kali ia memandangnya, ia masih melihatnya sebagai
seorang gadis berumur 12 tahun, jauh dari usia 20 tahun.
Gadis itu meneruskan: “Kau tentu tahu bahwa ada orang-orang yang tak bisa
bertambah tinggi, ada nenek-nenek berusia 60 atau 70 tahun yang jauh lebih
pendek dariku, kau pernah melihatnya bukan?”
Walaupun ia masih tidak percaya, Lu Xiao Feng harus mengakui bahwa ada
orang-orang seperti itu di dunia ini.
Gadis itu melanjutkan: “Yang kedua, kau seharusnya tahu bahwa Hua Man Lou
tidak seperti dirimu!”
“Tidak. Ia lebih cerdas dariku!”
“Tapi ia juga orang yang baik!”
“Dan aku tidak?”
“Terutama karena kau bukan orang baik-baik, itulah sebabnya kau tidak mudah
mempercayai kebohongan orang lain. Tapi dia percaya semua orang, menipu dia
jauh lebih gampang!”
Lu Xiao Feng menimbang-nimbang beberapa kali dan tiba-tiba bertanya: “Apakah
kau benar-benar berumur 20 tahun?”
“Baru saja mencapai 20 tahun bulan yang lalu.”
Sambil tersenyum Lu Xiao Feng berkata padanya: “Orang berusia 20 tahun
seharusnya tahu bahwa orang jahat sepertiku tak akan pernah mau
mempertaruhkan nyawanya untuk seorang teman, siapapun dia!”
Gadis itu menatapnya: “Benarkah?”
“Benar!”
______________________________
Lu Xiao Feng telah berada di dalam kereta waktu kereta itu mulai bergerak.
Di dalam kereta juga penuh dengan berbagai jenis bunga, Puteri DanFeng duduk
di antara bunga-bunga itu, seperti mawar hitam paling berharga dan tercantik di
dunia. Biji matanya pun hitam, hitam berkilauan, ia masih memandang pada Lu
Xiao Feng.
Lu Xiao Feng tidak memandangnya, ia telah menutup matanya, seolah-olah ia
hendak tidur.
Puteri DanFeng tiba-tiba tersenyum dan berkata kepadanya dengan suara yang
lembut: “Untuk sesaat tadi kukira engkau tak mau ikut.”
Lu Xiao Feng menjawab: “Oh?”
“Kurasa aku dengar kau mengatakan bahwa kau tak akan mau mempertaruhkan
nyawamu untuk seorang teman.”
Acuh tak acuh Lu Xiao Feng menjawab: “Aku tak akan mempertaruhkan nyawaku
untuk seorang sahabat, tapi aku tak keberatan naik kereta demi seorang
sahabat.”
Puteri DanFeng tertawa. Waktu ia tertawa, seakan-akan sebuah kebun bunga
tiba-tiba mekar seluruh bunganya tepat di hadapanmu.
Lu Xiao Feng yang baru saja membuka matanya segera menutupnya kembali.
Dengan manis Puteri DanFeng bertanya: “Kau bahkan tidak memandangku,
kenapa?”
“Karena kereta ini sangat kecil, dan aku laki-laki yang tak tahan godaan!”
“Kau takut kalau aku merayumu?”
“Aku tak ingin mempertaruhkan nyawaku untukmu!”
“Bagaimana kau tahu bahwa aku akan memintamu mempertaruhkan nyawamu?”
“Karena aku tidak bodoh!”
Puteri DanFeng mengambil sebuah bunga dan memandangnya; sesudah diam
beberapa lam, ia akhirnya menarik nafas dengan lembut dan berkata: “Kau
benar, sebabnya kami datang kepadamu hari ini adalah untuk memintamu
melakukan sesuatu untuk kami. Tapi aku tidak akan merayumu, dan tidak perlu.”
“Oh?”
“Karena aku tahu ada tipe manusia tertentu yang akan melakukan apa saja untuk
seorang sahabat!”
“Tipe seperti apa itu?”
“Tipe sepertimu.”
Lu Xiao Feng tersenyum: “Aku bahkan tidak tahu tipe orang seperti apa aku ini,
bagaimana mungkin kau yang tahu?”
“Aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya, tapi aku telah mendengar
banyak cerita tentangmu.”
Lu Xiao Feng mendengarkan, satu-satunya orang di dunia ini yang belum pernah
mendengar cerita itu mungkin cuma dirinya sendiri.
Puteri DanFeng berkata: “Kudengar banyak orang yang mengatakan bahwa kau
seorang bajingan, tapi mereka juga mengakui bahwa kau bajingan yang paling
dicintai di dunia ini.”
Lu Xiao Feng menarik nafas, ia tak bisa memutuskan apakah itu sebuah
penghinaan atau pujian. Tapi akhirnya ia membuka matanya.
Puteri DanFeng meneruskan: “Mereka semua mengatakan bahwa di luarnya kau
seperti batu karang yang jatuh ke jamban, keras dan bau; tapi di dalamnya
hatimu jauh lebih lunak daripada tahu.”
Lu Xiao Feng tersenyum, ia memang hanya bisa tersenyum.
Puteri DanFeng tiba-tiba tertawa kecil dan berkata: “Tentu saja kabar angin
seperti itu tak bisa dipercayai, tapi paling tidak ada satu hal yang benar.”
“Dan apa itu?”
“Aku sebelumnya tidak mengerti kenapa mereka bilang kau punya 4 alis,
sekarang akhirnya aku faham.”
Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya. Waktu ia mengerutkan kening, kumisnya
pun tampak mengerut.
Puteri DanFeng melanjutkan: “Apakah kau tahu siapa orang yang
memberitahukan itu semua kepadaku?”
Sambil mengerutkan keningnya Lu Xiao Feng bertanya: “Hua Man Lou benarbenar
ada di tempat itu?”
“Mengapa aku harus berbohong padamu? Lagipula kau akan segera bertemu
dengannya.”
“Walaupun ia tak bisa melihat, tapi ia bisa merasakan bahaya yang jauhnya
masih 5 km lagi. Aku benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana ia jatuh ke
tangan kalian.”
“Karena ia orang baik, dan ia juga laki-laki. Bila seorang laki-laki yang baik
bertemu dengan seorang gadis yang banyak akalnya, sangat jarang sekali ia
tidak tertipu.”
Dengan dingin Lu Xiao Feng bertanya: “Ia bertemu denganmu?”
Puteri DanFeng menarik nafas: “Walau kadang-kadang aku mau memperdaya
orang, tapi biarpun kemampuanku meningkat 10 kali lipat pun aku masih tak bisa
menandingi ShangGuan Fei Yan.”
"ShangGuan FeiYan?"
“Kakaknya Xue-Er, ShangGuan Fei Yan.”
“Lalu siapa Xue-Er?”
“Xue-Er adalah adik sepupuku, ia gadis yang tadi mengundangmu masuk ke sini.”
“Ia bukan kakak sepupumu?”
Puteri DanFeng tertawa: “Ia baru berumur 12 tahun, bagaimana mungkin jadi
lebih tua dariku?”
Lu Xiao Feng tak tahu apa yang harus ia lakukan, haruskah ia tertawa? Atau
menangis?
Ia tak bisa percaya kalau ia telah diperdaya seperti itu oleh seorang gadis kecil
berumur 12 tahun.
Dengan adik seperti itu, bayangkanlah seperti apa sang kakak jadinya?
Melihat mukanya yang setengah tertawa setengah menangis, Puteri DanFeng
tertawa nyaring dan berkata: “Setan kecil itu bahkan tidak mengedipkan mata
bila ia berdusta, kau juga terperdaya olehnya?”
Lu Xiao Feng tertawa masam: “Paling tidak aku jadi bisa membayangkan
bagaimana Hua Man Lou bisa tertipu.”
“Walaupun ia berada di tangan kami, kami memperlakukan dia dengan sangat
hormat. Bukan hanya karena ia sahabatmu, tapi karena kepribadiannya juga.”
“Begitulah dia.”
“Kau dan dia, dan Zhu Ting juga, tampaknya telah bersahabat sejak kecil,
bukan?”
“Tampaknya kau mengetahui semua yang perlu diketahui tentangku.”
Puteri DanFeng tersenyum: “Sejujurnya, untuk menemukanmu, kami telah
mempersiapkan ini selama 7 bulan.”
Lu Xiao Feng menarik nafas: “Jika kau mempersiapkan diri selama 7 bulan untuk
menemukan seseorang, maka orang itu sangatlah tidak beruntung.”
Puteri DanFeng menjawab dengan lembut: “Tapi kami tidak ingin menyakiti
kalian!”
Lu Xiao Feng tersenyum agak pahit.
Puteri DanFeng meneruskan: “Walaupun hal yang kami minta untuk kau lakukan
itu berbahaya, tapi aku yakin kau dapat melakukannya tanpa masalah.”
Ia menatap Lu Xiao Feng, wajahnya penuh dengan kekaguman dan kepercayaan.
Lu Xiao Feng bertanya: “Kalian ingin aku melakukan apa?”
Dengan bimbang Puteri DanFeng menundukkan kepalanya dan menjawab: “Aku
tak boleh memberitahumu dulu, kau akan segera mengetahuinya.”
“Liu YuHen, Xiao QiuYu, dan DuGu Fang semuanya ikut karena urusan ini?”
Puteri DanFeng mengangguk dan tertawa: “Mendapatkan mereka tidaklah
gampang, tapi masih jauh lebih mudah daripada mendapatkanmu.”
Lu Xiao Feng bertanya: “Bagaimana caranya kau mendapatkan mereka bertiga?”
Puteri DanFeng tersenyum: “Setiap orang punya kelemahan, mereka pun tak
akan dapat menduga bagaimana caranya aku mendapatkanmu.”
Ia menudingkan bunga di tangannya ke wajah Lu Xiao Feng dan melanjutkan:
“Liu YuHen, Xiao QiuYu, DuGu Fang, Hua Man Lou, dan terakhir kamu. Jika ada
sesuatu di dunia ini yang tak bisa kalian berlima melakukannya maka hal itu
memang tak mungkin dilakukan.”
Kabut putih muncul di sekeliling kereta, cahaya yang masuk ke dalam kereta pun
semakin lemah.
Lu Xiao Feng menatap bunga di tangan gadis itu, bunganya indah, tapi tangan itu
jauh lebih indah.
Puteri DanFeng menggunakan tangannya yang lembut dan halus untuk
menancapkan bunga itu di baju Lu Xiao Feng dan kemudian berkata dengan
lembut: “Lebih baik kau tidur sebentar.”
“Mengapa?”
Puteri DanFeng menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara yang makin
lembut dan semakin lembut: “Karena aku bisa kehilangan kontrol dan
merayumu.”
______________________________
Kereta itu berjalan terus menembus kabut yang tebal. Walaupun kabut tebal, itu
adalah kabut di waktu fajar, maka perlahan-lahan malam pun berakhir.
Lu Xiao Feng bersandar di dinding kereta, tampaknya ia tertidur.
Puteri DanFeng berkata dengan lembut: “Tidurlah, dengan begitu kau dapat
bertemu dengan beliau di waktu kau bangun nanti.”
Lu Xiao Feng tak tahan untuk tidak membuka matanya lagi: “Siapa beliau itu?”
“Kaisar Rajawali Emas.”
Bab 3: Menegakkan Keadilan
Lorong itu gelap dan lembab, seakan-akan tidak pernah tersentuh sinar matahari.
Di ujung lorong itu ada sebuah pintu yang sangat besar, gelang-gelangnya
tampak mengkilap. Mereka mendorong pintu itu dan melihat sang Kaisar Rajawali
Emas.
Kaisar Rajawali Emas bukan orang yang bertubuh tinggi dan berwibawa.
Ia tampak telah layu dimakan waktu, seperti seekor ayam jantan yang mulai
menua diterpa angin dingin yang membawa penyakit.
Ia duduk di sebuah kursi bersandaran, selimut yang ditumpuk di kursi itu
menutupi dirinya sehingga ia tampak seperti sebatang pohon cemara besar yang
begitu tinggi di lereng pegunungan yang berawan.
Tapi Lu Xiao Feng tidak kecewa dengan penampilannya, karena di matanya masih
berkilauan aura agung yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata.
Anjing pemburu bertelinga panjang dan berkaki panjang itu telah pulang dan
beristirahat dekat kakinya.
Puteri DanFeng perlahan-lahan berjalan ke sisinya dan berlutut di sampingnya,
seolah-olah ia sedang menceritakan tentang perjalanannya.
Sepasang mata Kaisar Rajawali Emas yang bersinar agung selama itu tidak
pernah melepaskan Lu Xiao Feng. Ia tiba-tiba berkata: "Ke marilah, anak muda."
Suaranya rendah tapi penuh dengan kekuatan, seakan-akan apa saja yang keluar
dari mulutnya harus dipatuhi. Tapi Lu Xiao Feng tidak menghampirinya.
Lu Xiao Feng bukan orang yang biasa menerima perintah, maka ia hanya duduk
sejauh mungkin di sebuah kursi di seberang laki-laki tua itu.
Ruangan itu gelap, tapi mata Kaisar Rajawali Emas seperti menyala terang ketika
ia berkata: "Apakah engkau Lu Xiao Feng?"
Dengan santai Lu Xiao Feng menjawab: "Ya, Lu Xiao Feng, bukan ShangGuan
DanFeng."
Ia menduga nama keluarga sang puteri juga ShangGuan, di zaman dulu semua
orang di istana kekaisaran bermarga ShangGuan, setiap orang di istana
kekaisaran membanggakan nama keluarga mereka itu.
Kaisar Rajawali Emas tiba-tiba tertawa: "Lu Xiao Feng benar-benar Lu Xiao Feng,
sepertinya kita menemukan orang yang tepat!"
Ia melanjutkan: "Kau mencari Hua Man Lou?"
Lu Xiao Feng mengangguk.
"Ia baik-baik saja, kau bisa segera melihatnya asal kau berjanji untuk melakukan
sesuatu buatku."
"Apa itu?"
Kaisar Rajawali Emas tidak menjawab.
Ia malah memandang sebuah cincin berbentuk aneh di tangannya dan wajahnya
yang layu tiba-tiba bersinar ganjil. Beberapa saat kemudian ia akhirnya mulai
bicara lagi dengan perlahan-lahan: "Dinasti kami adalah dinasti yang sangat tua
dan kuno. Jauh lebih tua daripada dinasti kalian sekarang ini."
Suaranya semakin penuh dengan kekuatan, jelas ia sangat membanggakan
namanya dan keluarganya.
Lu Xiao Feng tidak ingin merusak perasaan bangga orang tua itu, maka ia tidak
mengucapkan apa-apa.
Kaisar Rajawali Emas melanjutkan: "Walaupun negara kami telah hancur, darah
yang mengalir di tubuh kami tetaplah darah bangsawan. Selama kami masih
hidup, dinasti kami akan tetap ada!"
Bukan hanya suaranya penuh dengan perasaan bangga, tapi juga penuh dengan
keyakinan.
Lu Xiao Feng tiba-tiba merasa bahwa orang tua ini benar-benar memiliki
kepribadian yang sangat mengagumkan.
Paling tidak ia bukanlah orang yang mudah menyerah. Lu Xiao Feng selalu
mengagumi orang seperti ini, ia mengagumi keberanian dan kepercayaan diri
mereka.
Kaisar Rajawali Emas lalu melanjutkan: "Walaupun negara kami terletak di
daerah terpencil, tapi kami kaya. Bukan hanya hasil panen kami selalu baik, juga
ada emas dan batu-batu berharga terkubur di pegunungan kami."
Akhirnya Lu Xiao Feng tak tahan untuk tidak bertanya: "Lalu mengapa kalian
pindah ke daerah tengah ini?"
Wajah Kaisar Rajawali Emas kehilangan sebagian sinarnya dan terlihat perasaan
sakit dan benci di matanya ketika ia berkata: "Tepatnya karena kami kaya!
Tetangga-tetangga kami mengidamkan tanah kami dan mereka bersekutu
dengan penjarah-penjarah Kazak dan menyerang negara kami!"
{Catatan:Kazak adalah bangsa Kazakhstan sekarang.}
"Itu kejadian lebih dari 50 tahun yang lalu. Aku masih kecil, ayahku
berkonsentrasi pada masalah hukum dan undang-undang selama masa
pemerintahannya, maka ia tak mampu melawan orang-orang barbar itu. Tapi ia
masih terus berjuang sampai mati, hidup dan mati bersama negaranya!"
Lu Xiao Feng menyimpulkan: "Beliaulah yang memerintahkan Tuan ke sini."
Kaisar Rajawali Emas mengangguk: "Untuk menyimpan kekuatan agar kami tetap
punya kekuatan untuk kembali suatu saat nanti, bukan hanya ia mengijinkan
kami pergi, ia juga membagi kas negara menjadi 4 bagian, masing-masing
diberikan kepada penasehat-penasehatnya yang paling terpercaya, dan
memerintahkan mereka untuk ikut ke daerah tengah ini bersamaku."
Wajahnya penuh dengan perasaan berterima-kasih ketika ia meneruskan: "Salah
seorang dari mereka adalah pamanku ShangGuan Sheng, ia yang membawaku ke
sini, dengan menggunakan harta yang diberikan kepadanya ia membeli tanah
dan rumah ini, sehingga keluargaku bisa tinggal di sini tanpa merasa khawatir.
Aku tak akan pernah melupakan apa yang telah ia lakukan untuk kami."
Lu Xiao Feng bertanya: "Bagaimana dengan yang 3 orang lagi?"
Perasaan terima kasih di wajahnya berubah menjadi murka: "Aku tak pernah
melihat lagi seorang pun dari mereka sejak aku meninggalkan ayahku. Tapi aku
tak akan, tak akan pernah melupakan nama mereka!"
Lu Xiao Feng mulai tertarik pada persoalan ini, maka ia segera bertanya: "Siapa
saja mereka?"
Dengan tangan terkepal penuh kebencian, Kaisar Rajawali Emas berkata:
"ShangGuan Mu, Hu DuHe, dan Yan LiBen!"
Lu Xiao Feng berkata dengan suara yang berat: "Aku tak pernah mendengar satu
pun dari mereka sebelumnya!"
"Tapi kau tentu pernah melihat mereka!"
"Oh?"
"Setelah tiba di China, mereka mengganti namanya. Belum sampai setahun yang
lalu akhirnya aku berhasil mengetahui siapa saja mereka!"
Ia tiba-tiba memberi isyarat pada puterinya. Puteri DanFeng bangkit dari tempat
duduknya dan mengeluarkan 3 gulung lukisan dari peti tua di belakang ayahnya.
Dengan marah Kaisar Rajawali Emas berkata: "Ini adalah potret mereka, aku
berani mengatakan kalau kau mengenal paling sedikit 2 orang dari mereka!"
Ada 2 potret di setiap gulungan, satu muda dan satu tua, kedua potret itu
menggambarkan orang yang sama.
Puteri DanFeng membuka gulungan pertama: "Potret di atas ini menggambarkan
rupanya waktu ia meninggalkan negara kami. Potret di bawah adalah rupanya
sekarang."
Orang ini memiliki wajah bundar penuh senyuman. Ia tampak sangat hangat dan
bersahabat, tapi memiliki hidung bengkok yang sangat besar.
Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya: "Orang ini seperti Yan TieShan dari
keluarga Yan di daerah dalam Tembok Besar."
Sambil mengkertakkan giginya Kaisar Rajawali Emas menjawab: "Benar. Yan
TieShan sekarang adalah Yan LiBen bertahun-tahun yang lalu. Aku bersyukur
kepada Tuhan karena ia belum mati."
Orang kedua memiliki tulang pipi yang sangat tinggi dan matanya yang
berbentuk segitiga penuh dengan perasaan angkuh, jelas dia orang yang memiliki
kekuasaan yang besar.
Waktu Lu Xiao Feng melihatnya, ekspresi wajahnya pun berubah.
Kaisar Rajawali Emas berkata: "Ini Hu DuHe, namanya sekarang adalah GuDu
YiHe, ia adalah ketua Paviliun Baju Hijau!"
Lu Xiao Feng tampak terpana lama sebelum akhirnya menjawab: "Aku juga tahu
orang ini, tapi aku tak tahu kalau dia adalah ketua Paviliun Pertama dari Paviliun
Baju Hijau."
Ia menarik nafas dalam-dalam dan meneruskan: "Aku hanya tahu bahwa dia
adalah ketua Sekte E'Mei!"
Kaisar Rajawali Emas berkata: "Ia sangat pandai menyembunyikan asal-usulnya,
mungkin tak seorang pun di dunia ini yang bisa menduga bahwa ketua terhormat
Sekte E'Mei adalah seorang pengkhianat yang tak tahu malu!"
Orang ketiga adalah seorang laki-laki tua yang kurus; kecil, kesepian, bersih dan
teguh.
Lu Xiao Feng hampir menjerit: "Huo Xiu!"
"Benar, Huo Xiu. Nama ShangGuan Mu sekarang adalah Huo Xiu!"
Ia melanjutkan: "Semua orang mengatakan bahwa Huo Xiu adalah orang teraneh
dan terkaya di dunia. Limapuluh tahun yang lalu, ia merintis jalannya ke dunia
persilatan dengan tangan hampa, lalu tiba-tiba, seperti sebuah keajaiban, ia
menjadi orang terkaya di dunia. Sampai sekarang, selain kamu, mungkin tak ada
orang lain di dunia persilatan yang tahu bagaimana ia mendapatkan semua
kekayaannya itu!"
Wajah Lu Xiao Feng tiba-tiba berubah pucat. Ia mundur beberapa langkah ke
belakang dan terduduk.
Kaisar Rajawali Emas memandangnya: "Kurasa kau sudah bisa membayangkan
kenapa aku mengundangmu ke mari."
Lu Xiao Feng menatapnya beberapa lama sebelum menghembuskan nafas
panjang: "Tapi aku masih tidak tahu apa yang Tuan inginkan."
Kaisar Rajawali Emas mengepalkan tinjunya dan memukulkannya ke lengan
kursinya: "Aku tak ingin apa-apa, aku hanya ingin keadilan!"
"Keadilan? Semacam balas dendam?"
Kaisar Rajawali Emas balas memandangnya dan terdiam.
"Tuan ingin aku membalaskan dendam untuk Tuan?"
Kaisar Rajawali Emas terdiam beberapa lama sebelum akhirnya ia
menghembuskan nafas dan menjawab dengan agak sedih: "Mereka semua
sekarang sudah tua, aku pun sudah tua. Apa gunanya membunuh mereka
sekarang?"
Ia segera menggelengkan kepalanya dan menyangkal apa yang barusan ia
katakan: "Tapi aku tak bisa melepaskan mereka begitu saja!"
Lu Xiao Feng tidak berkata apa-apa, ia tak punya hak untuk bicara.
Kaisar Rajawali Emas meneruskan: "Pertama, aku ingin mereka mengembalikan
semua uang yang mereka ambil dari Kekaisaran Rajawali Emas, agar negeri kami
bisa bangkit suatu saat nanti."
Itu keinginan yang sangat adil dan beralasan.
Ia meneruskan: "Kedua, aku ingin mereka mengakui dosa-dosa mereka kepada
ayahku di depan altar, sehingga ayahku bisa beristirahat dengan damai."
Lu Xiao Feng berpikir sebentar dan menarik nafas: "Kedua permintaan itu benarbenar
adil."
Kerutan di wajah Kaisar Rajawali Emas lenyap: "Aku tahu kau pemuda yang adil
dan tak akan menolak permintaan seperti ini."
Sesudah berpikir beberapa lama, Lu Xiao Feng berkata dengan senyum yang
agak dipaksakan: "Tapi sangat sukar untuk melaksanakan kedua hal itu."
"Jika kau tak bisa, lalu siapa yang bisa?"
Lu Xiao Feng menarik nafas: "Mungkin tidak ada."
Ia segera menambahkan: "Sekarang ini 3 orang itu termasuk orang-orang yang
paling terkenal dan dikagumi di dunia. Jika mereka benar-benar melakukan apa
yang Tuan inginkan, maka itu sama saja dengan mengakui kejahatan mereka.
Kemasyuran, kekuasaan, dan kekayaan mereka semuanya akan lenyap!"
Ekspresi wajah Kaisar Rajawali Emas pun semakin serius: "Aku sudah
membayangkan kalau mereka tak akan mengakui perbuatan mereka."
Lu Xiao Feng berkata: "Bukan saja mereka kaya-raya dan sangat berkuasa,
mereka juga mempunyai kungfu yang sangat luar biasa."
Kaisar Rajawali Emas mengangguk: "Ayah memberi tanggung-jawab yang besar
kepada mereka karena mereka memang pesilat-pesilat terbaik di Kekaisaran
Rajawali Emas."
Lu Xiao Feng menambahkan: "Apalagi selama 50 tahun terakhir ini mereka
semua mungkin khawatir kalau Tuan akan mencari mereka untuk membalas
dendam, siapa yang tahu kungfu mereka telah maju sejauh apa."
Ia menarik nafas dan melanjutkan: "Menurutku hanya ada 5 atau 6 orang jago
kungfu yang benar-benar tangguh di dunia persilatan sekarang ini. Huo Xiu dan
DuGu YiHe termasuk dalam kelompok ini."
Wanita selalu ingin tahu, maka Puteri DanFeng tak tahan untuk tidak bertanya:
"Siapa yang 3 atau 4 orang lagi?"
"Ketua Siauw-lim-pay, Hwesio Putus Asa, dan tetua Bu-tong-pay, Pendeta Mu,
keduanya memiliki kungfu luar dan dalam yang sangat hebat. Tapi jika kau
mempertimbangkan ilmu pedang yang cepat dan mengagumkan, maka kau harus
memasukkan 'Majikan Benteng Awan Putih' Ye GuCheng dari Pulau Dewi Terbang
di Laut Selatan dan XiMen Chui Xue."
Puteri DanFeng menatapnya dan bertanya: "Bagaimana dengan dirimu sendiri?"
Lu Xiao Feng tersenyum, hanya tersenyum dan tidak menjawab, ia memang tak
perlu menjawab.
Kaisar Rajawali Emas tiba-tiba menarik nafas, dengan sangat sedih ia berkata:
"Aku tahu bahwa ini persoalan yang sukar, itulah sebabnya aku tidak
memaksamu untuk membantu kami, mengapa tidak mempertimbangkannya
sedikit?"
Tiba-tiba amarahnya bangkit. Ia mengepalkan tinjunya lagi dengan murka: "Tapi
tak perduli bagaimana caranya melawan mereka, selama masih ada orang kami
yang tersisa kami akan terus berjuang!"
Lu Xiao Feng menarik nafas: "Aku tahu...."
Sesudah lama terdiam, Kaisar Rajawali Emas tiba-tiba tersenyum paksa: "Tak
perduli apa pun yang terjadi, Tuan Lu tetap tamu kita yang terhormat! Di mana
arak?"
Puteri DanFeng menundukkan kepalanya dan menjawab: "Akan kuberitahu
pelayan untuk mengambilkan arak."
Kaisar Rajawali Emas memberi perintah: "Ambilkan arak Persia kita yang terbaik,
dan undang juga Tuan Hua ke sini."
"Ya, ayah."
Kaisar Rajawali Emas memandang Lu Xiao Feng, tiba-tiba ekspresi wajahnya
berubah angkuh lagi ketika ia berkata dengan perlahan: "Tak perduli apa yang
terjadi, kau sudah menjadi sahabat kami. Keturunan Kekaisaran Rajawali Emas
tak akan memaksa seorang sahabat untuk melakukan sesuatu."
______________________________
Cangkir itu kuno dan indah, araknya berwarna agak ungu.
Lu Xiao Feng memperhatikan Puteri DanFeng menuangkan arak ke cangkir kuno
dan indah itu, Hua Man Lou duduk di sisinya.
Mereka tidak mengucapkan apa-apa ketika bertemu, mereka hanya berjabat
tangan dengan erat.
Itu cukup untuk menjelaskan semuanya. Puteri DanFeng telah selesai
menuangkan arak, ia hanya menuangkan 3 cangkir.
Kaisar Rajawali Emas tersenyum: "Sudah bertahun-tahun aku tidak minum, tapi
aku akan membuat perkecualian malam ini untuk tamu-tamu kita."
Tapi Puteri DanFeng menggelengkan kepalanya: "Aku yang akan minum
untukmu, Ayah. Ingat kakimu?"
Kaisar Rajawali Emas menatapnya marah sebelum akhirnya tersenyum: "Baiklah,
aku tak akan minum. Melihat orang lain minum juga menyenangkan, arak bagus
selalu membawa semangat dan energi yang besar."
Puteri DanFeng menjelaskan pada Lu Xiao Feng sambil tersenyum: "Jika Ayah
minum alkohol, kedua kakinya akan segera membengkak sedemikian rupa
sehingga mustahil baginya untuk berjalan. Tolong maafkan dia karena tak dapat
minum bersama kalian."
Lu Xiao Feng mengambil cangkirnya sambil tersenyum.
Puteri DanFeng membalikkan badannya sehingga punggungnya menghadap
ayahnya dan tiba-tiba menatap Lu Xiao Feng dengan cara yang sangat aneh.
Begitu anehnya sehingga Lu Xiao Feng tak faham apa artinya.
Puteri DanFeng mengambil cangkirnya sambil tersenyum dan berkata: "Ayah
telah bertahun-tahun menyimpan arak ini, semoga sesuai dengan selera para
tamu."
Ia mengangkat cangkirnya dan meminum arak itu, lalu menarik nafas perlahan
dan berkata: "Arak yang benar-benar enak."
Sangat jarang terjadi seorang tuan rumah berulang-ulang memuji araknya sendiri
dan Puteri DanFeng jelas bukan orang yang suka menyombongkan dirinya
sendiri.
Lu Xiao Feng benar-benar heran, tapi kemudian ia menyadari bahwa ia bukan
sedang minum arak, ia minum air yang telah diberi gincu.
Ia tiba-tiba faham apa yang dilakukan Puteri DanFeng, dan khawatir kalau Hua
Man Lou tak mengerti karena ia tidak bisa melihat tatapan aneh sang puteri.
Tapi Hua Man Lou tersenyum, tersenyum sambil minum "arak" di cangkirnya,
sesudah itu ia menarik nafas perlahan dan berkata: "Arak yang benar-benar
enak."
Lu Xiao Feng minum 3 cangkir lagi dengan cepat sebelum ia tiba-tiba berkata
sambil tersenyum: "Arak yang begini enak tak mungkin diminum tanpa imbalan."
Mata Kaisar Rajawali Emas bersinar lagi: "Apakah engkau...."
Lu Xiao Feng menarik nafas yang panjang dan dalam: "Keadilan yang Tuan cari
itu, aku akan berusaha sebisanya untuk memberikannya kepada Tuan."
Kaisar Rajawali Emas bangkit dengan cepat, berjalan menghampirinya, dan
memegang pundaknya. Air mata tanda terima kasih bercucuran dari mata tuanya
yang murung. Ia mencoba bicara, tapi seperti tercekik oleh perasaan haru:
"Terima kasih, terima kasih banyak, terima kasih...."
Ia terus mengulang-ulang kalimat itu sampai semua orang tak tahu lagi sudah
berapa kali ia mengatakannya.
Puteri DanFeng, berdiri di sisinya, diam-diam memutar tubuhnya dan cepat-cepat
menghapus air matanya yang menggenang.
Setelah beberapa lama barulah Kaisar Rajawali Emas tenang sedikit dan ia
berkata: "Walaupun DuGu Fang mempunyai nama keluarga yang sama dengan
DuGu YiHe, mereka saling membenci dan bermusuhan; separuh wajah Liu YuHen
diiris oleh Yan TieShan dan Xiao QiuYu kebetulan merupakan sahabatnya yang
rela mati untuknya. Selama kau bersedia membantu kami, mereka bertiga akan
mematuhimu biarpun harus pergi ke neraka."
Tapi Lu Xiao Feng menggelengkan kepalanya: "Kurasa sebaiknya mereka tetap di
sini."
Kaisar Rajawali Emas mengerutkan keningnya: "Mengapa?"
Lu Xiao Feng menarik nafas: "Aku tahu bahwa mereka adalah jago-jago kelas
satu di dunia persilatan, tapi meminta mereka melawan DuGu YiHe dan Huo Xiu
itu sama saja dengan meminta mereka bunuh diri."
"Kau... kau tidak butuh bantuan?"
"Tentu saja butuh."
Sambil tersenyum ia menepuk pundak Hua Man Lou dengan perlahan: "Kami
telah lama bekerja sama."
Kaisar Rajawali Emas menatap Hua Man Lou, ia tampaknya tidak terlalu yakin
dengan usul itu.
Ia benar-benar sukar percaya bahwa orang buta ini bisa lebih hebat daripada
orang-orang seperti Liu YuHen dan Xiao QiuYu. Tak seorang pun yang akan
percaya.
Tapi Lu Xiao Feng telah melanjutkan: "Selain dia, aku butuh 2 orang lagi."
"Siapa?"
"Yang pertama adalah Zhu Ting."
Ia tersenyum: "Walaupun Zhu Ting bukan seorang petarung, tapi ia sangat
berguna."
Kaisar Rajawali Emas menunggu penjelasannya.
"Karena Tuan bisa menemukan mereka, sangat mungkin mereka telah
menemukan Tuan juga. Tuan ingin menuntut keadilan dari mereka, sangat
mungkin mereka akan bergerak mendahului kita dan membunuh Tuan."
Kaisar Rajawali Emas mendengus: "Aku tidak takut itu."
Lu Xiao Feng menarik nafas: "Tuan tidak, tapi aku yang takut. Itulah sebabnya
aku ingin membawa Zhu Ting ke mari, ia bisa mengubah tempat ini menjadi
benteng yang tak bisa ditembus."
"Ia faham alat-alat rahasia dan semacamnya?"
Lu Xiao Feng tersenyum: "Jika ia mau, ia mungkin mampu membuat kursi yang
bisa menggigit."
Kaisar Rajawali Emas tersenyum juga: "Tampaknya kau benar-benar memiliki
beberapa sahabat yang sangat menarik."
"Tapi sekarang aku hanya bisa berharap agar bisa membujuk satu orang lagi
untuk membantuku dalam persoalan ini."
Mata Kaisar Rajawali Emas bersinar-sinar: "Seberapa mampunya ia
membantumu?"
"Jika ia mau membantu, maka persoalan ini benar-benar punya kesempatan
untuk diselesaikan."
"Siapa dia?"
"XiMen ChuiXue!"
______________________________


Load disqus comments

0 komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top