Selasa, 03 April 2012

Pendekar 4 Alis - Kekaisaran Rajawali Emas 5

Khulung

Ruangan itu sepi seperti sebuah kuburan. Sepuluh orang laki-laki duduk di sana,
sambil memandang Lu Xiao Feng – Fan Da, Jian Er, 7 Pendekar Kota, dan Shan
XiYan. Telah banyak arak yang dihabiskan, tapi sekarang semuanya berhenti.
Bila sahabat berkumpul untuk minum, seharusnya sulit untuk berhenti sebelum
mabuk. Tapi saat itu mereka semua masih segar. Tidak ada tanda-tanda mabuk
di wajah mereka; malah, masing-masing dari mereka menampilkan ekspresi yang
aneh di wajahnya.
Ekspresi wajah Shan XiYan adalah yang paling aneh ketika ia menatap Lu Xiao
Feng.
“Dan menurutmu dalang dari semua ini adalah dia?” Ia tiba-tiba bertanya.
Lu Xiao Feng mengangguk.
“Apakah kau benar-benar yakin?”
Lu Xiao Feng menarik nafas.
“Kita bersahabat, dan aku tahu hubungan antara dia dengan kalian semua. Jika
aku tidak benar-benar yakin, untuk apa aku datang ke sini?”
Shan XiYan memukulkan tinjunya ke atas meja.
“Jika Huo TianQing benar-benar melakukan hal ini, maka apa pun hubungan di
antara kami semuanya akan berakhir! Aku tidak perduli hubunganku dengannya!”
Ia berkata dengan tegas.
“Tapi aku masih tidak percaya kalau ia bisa berbuat begitu.” Fan Da menantang
dengan dingin.
“Aku pun tidak ingin percaya,” Lu Xiao Feng menjawab. “Tapi selain dari dirinya,
tidak terfikir lagi orang lain.”
“Oh?”
“Hanya ia yang bisa mengalahkan Zhu Ting bertiga dalam sekejap.”
“Jika cuma itu buktimu, maka itu tidak cukup.” Fan Da mendengus.
“Hanya ia yang mungkin tahu rahasia Kaisar Rajawali Emas, karena ia adalah
orang yang paling dipercaya oleh Yan TieShan.”
“Itu masih tidak cukup.”
“Dan hanya ia yang mungkin mendapatkan untung dari semua ini. Bila Yan
TieShan mati, maka Paviliun Mutiara dan Intan akan menjadi miliknya.”
Yan TieShan itu seperti Huo Xiu, ia juga seorang perjaka tua. Kecurigaan orangorang
bahwa ia dulunya adalah seorang kasim bukanlah tanpa alasan.
“Di samping itu,” Lu Xiao Feng meneruskan. “Kenapa orang yang memiliki ilmu
dan kedudukan seperti dirinya mau menjadi bendahara dan pengurus rumah
tangga untuk seorang seperti Yan TieShan?”
Bahkan Fan Da pun tidak bisa menyangkal kenyataan ini.
“Tidak ada orang yang akan curiga bahwa Paviliun Pertama dari Paviliun Baju
Hijau tidak lain adalah Paviliun Mutiara dan Intan.” Lu Xiao Feng menambahkan.
“Tunggu, menurutmu Paviliun Baju Hijau yang pertama adalah Paviliun Mutiara
dan Intan?” Ekspresi wajah Shan XiYan berubah hebat mendengar pernyataan
itu.
Lu Xiao Feng mengangguk.
“Jelas, alasan DuGu YiHe datang ke sini adalah karena ia tahu tentang hal ini. Ini
juga alasan kenapa Huo TianQing memaksanya untuk menghabiskan energinya
supaya dia mati di bawah pedang XiMen ChuiXue.”
“Sun XiuQing dan Shi XiuYun juga dibunuh oleh ShangGuan FeiYan karena
mereka ingin mengungkapkan rahasia ini.” Hua Man Lou dari tadi duduk dalam
diam di pinggir, tapi ia tak tahan lagi untuk tinggal diam.
“Jika mereka tahu tentang rahasia ini, lalu kenapa Man XiuZhen dan Yie XiuZhu
tidak mengetahuinya?” Shan XiYan bertanya.
“Mereka juga tahu!” Lu Xiao Feng menjawab.
“Tapi mereka masih hidup.”
“Yie XiuZhu memang masih hidup, tapi hanya karena ia, seperti juga ShangGuan
FeiYan, jatuh cinta pada pendekar muda Huo TianQing yang tampan.”
“Tapi bagaimana dengan Man XiuZhen?”
“Jika dugaanku benar, maka ia tentu telah mati di bawah tangan Huo TianQing,
malah bisa jadi Yie XiuZhu yang membunuhnya.”
“Dan ia berusaha mengalihkan perhatianmu dengan menceritakan tentang
paviliun kecil di belakang gunung untuk membuatmu pergi mencari Huo Xiu.”
Shan XiYan menduga-duga.
Lu XiaoFeng mengangguk tanda setuju.
“Tidak perduli apakah aku akan mati di dalam bangunan itu atau jika aku berhasil
membunuh Huo Xiu, seluruh persoalan ini akan beres dan ia tentu akan bisa
tenang!”
“Tapi ia tidak menduga kalau kau dan pertapa tua itu adalah teman lama.” Shan
XiYan merenung.
“Ia ingin tahu bagaimana persoalan ini berakhir, itulah sebabnya ia menyuruh Yie
XiuZhu menanti di luar.”
“Dan ia adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa kalian berdua pergi mencari
Huo Xiu.”
Lu Xiao Feng mengangguk lagi tanda setuju.
“Tapi Yie XiuZhu membuat satu kesalahan.” Lu Xiao Feng berkata.
“Apa itu?”
“Ia mengatakan bahwa ia berada di sana karena ia baru saja menguburkan DuGu
YiHe dan Shi XiuYun.”
“DuGu YiHe adalah ketua sebuah sekte, kenapa dikuburkan di sembarang
tempat?” Shan XiYan mengerutkan keningnya.
“Yie XiuZhu memang seorang gadis yang baik.” Lu Xiao Feng menarik nafas lagi.
“Ia masih tidak tahu bagaimana caranya berdusta.”
Shan XiYan pun menarik nafas.
“Berbohong di hadapan orang sepertimu memang tidaklah mudah.” Ia tersenyum
jengkel.
“Tapi aku memberitahukan tentang rahasia 6 jari kaki itu padanya, maka ia
segera pergi dan memberitahu Huo TianQing. Paviliun Mutiara dan Intan letaknya
kan sangat dekat tempat Huo Xiu.”
“Dengan demikian hanya Huo TianQing yang bisa tahu rahasia ini darinya dengan
begitu cepat.”
“Benar.”
“Kau sengaja membocorkan rahasia ini padanya, atau itu hanya kebetulan?” Shan
XiYan ingin tahu.
Lu Xiao Feng tidak menjawab pertanyaan ini secara langsung. Ia hanya
tersenyum dan berkata: “Saat itu aku hanya berfikir bahwa ia tidak seharusnya
muncul di sana. Aku merasa hal itu agak aneh.”
Shan XiYan menatapnya, lalu menarik nafas lagi.
“Kau tahu, namamu seharusnya bukan XiaoFeng, si burung phoenix kecil,” ia
tertawa. “Namamu seharusnya si rubah kecil!”
Lu Xiao Feng pun menarik nafas.
“Tapi aku sangat kagum pada Huo TianQing.” Ia tersenyum cemas. “Ia benarbenar
seorang ahli siasat yang ulung dan sangat cerdas. Jika seluruh kejadian ini
adalah pertandingan catur, maka ia tentu telah meramalkan setiap gerakan yang
akan dibuat musuhnya.”
“Sayangnya, akhirnya ia tetap saja membuat sebuah gerakan yang salah.” Shan
XiYan memberi komentar.
“Setiap manusia bisa berbuat salah, dan ia adalah manusia.”
“Sebenarnya, walaupun ia tidak membuat gerakan terakhir itu, kau masih bisa
menyudutkannya.” Fan Da tiba-tiba tertawa dingin dan berkata.
“Paling tidak saat itu aku masih belum begitu yakin!”
“Bagaimana dengan sekarang?” Fan Da bertanya.
“Sekarang aku pun masih belum yakin 100 %, baru kira-kira 90 %.”
“Kenapa kau datang kepada kami?” Fan Da bertanya.
“Kalian adalah sahabat-sahabatku, dan aku pernah berjanji pada kalian bahwa
aku tidak akan bertarung dengannya.”
“Dan sekarang kita tidak bersahabat lagi?” Fan Da bertanya lebih jauh.
“Kita tetap bersahabat, itulah sebabnya aku datang ke mari.”
"Untuk membatalkan janjimu dulu?"
“Jika seseorang berbuat salah, maka ia harus menanggung akibatnya, meski pun
ia adalah Huo TianQing!”
“Kau benar-benar berharap kami mau membantumu membunuhnya!”
“Aku hanya ingin kalian memberitahu dia bahwa, pada waktu terbitnya matahari
besok, aku akan menunggunya di tebing Angin Hijau!”
“Bagus sekali.” Fan Da menjawab. Tiba-tiba ia bangkit dan, dengan tatapan
setajam pisau, memandang pada Lu Xiao Feng. “Silakan.”
“Silakan? Silakan apa?”
“Silakan, bersiap-siap!”
“Kalian tidak percaya pada apa yang aku katakan?”
“Aku hanya tahu bahwa Huo TianQing adalah pemimpin Sekte Pemburu Langit,
dan aku kebetulan adalah murid Sekte Pemburu Langit….”
“Jadi kau….”
“Selama aku, Fan TianYi, masih hidup, tak seorang pun boleh mengganggu Huo
TianQing.”
Shan XiYan mengerutkan keningnya.
“Tidak pernahkah kau dengar kata pepatah: ‘Kebenaran dulu baru keluarga’?”
“Ya, aku pernah mendengarnya,” Fan Da menjawab dengan dingin. “Tapi aku
sudah lupa.”
“Kita adalah bajingan-bajingan yang tidak tahu perbedaan antara yang benar dan
yang salah!” Jian Er pun bangkit berdiri dengan lambat.
“Orang seperti ini pantas mati!” Si pedagang roti tiba-tiba berteriak.
“Benar, benar sekali.” Jian Er menjawab.
“Sayangnya aku, Bao WuYa, kebetulan juga jenis orang seperti ini.” Si pedagang
roti berkata.
“Maka kau pun pantas mati.” Jian Er menjawab.
“Bukan hanya pantas mati, tapi pantas mati sekarang juga!”
Tiba-tiba ia melompat bangkit dan, seperti sebatang anak panah, melesat dengan
kepala ke arah tembok. Tapi kepalanya ternyata tidak membentur tembok, tapi
dada Lu Xiao Feng. Lu Xiao Feng tiba-tiba telah berada di depannya.
Saat masih di udara, si pedagang roti berjumpalitan ke belakang, menendang
salah satu balok di langit-langit rumah, dan meluncur turun dengan kepala di
bawah ke arah lantai batu. Kepalanya masih juga tidak berhasil membentur
lantai. Malah ia merasakan sebuah tangan mendorong pinggangnya sedikit, dan,
sebelum ia sadar, ia telah berdiri di lantai, menghadapi orang itu. Orang bertubuh
jangkung itu berdiri tegak dengan wajah pucat. Huo TianQing….
Setiap orang terkejut, termasuk Lu Xiao Feng. Tak seorang pun bermimpi bahwa
Huo TianQing akan muncul di saat dan tempat ini, tak seorang pun
membayangkan kalau ia berani datang ke sini. Walaupun wajah Huo TianQing
tampak pucat, ekspresinya masih sangat tenang.
“Kenapa… kenapa kau tidak membiarkan aku mati?” Kedua tinju Bao WuYa
terkepal erat-erat.
“Kau pantas mati?” Huo TianQing bertanya.
Bao WuYa mengkertakkan giginya.
“Aku pantas mati….”
“Apakah kalian semua pantas mati? Apakah kalian ingin menghancurkan Sekte
Pemburu Langit?” Huo TianQing bertanya dengan dingin.
Bao WuYa terlalu kaget dengan pertanyaan ini sehingga tidak mampu menjawab.
“Sebabnya Sekte Pemburu Langit mengajari kalian kungfu bukanlah supaya
kalian semua bunuh diri!”
“Tapi kau…” hanya itu yang bisa dikatakan oleh Bao WuYa.
“Tapi aku ini apa? Apa hubunganku dengan kalian?” Huo TianQing mendengus.
“Biar pun kalian semua mati, aku tidak akan memejamkan sebelah mata pun.”
“Tapi baru saja kau….”
“Aku hanya tidak ingin kalian semua mati karena aku, itu saja.” Huo TianQing
kembali memotong ucapan Bao WuYa. “Jika seorang pedagang roti mati karena
aku, harus ditaruh di mana wajahku?”
Tiba-tiba ia merogoh ke dalam bajunya, mengeluarkan sebuah lencana bamboo,
dan mematahkannya jadi dua bagian.
“Aku, Huo TianQing, punya uang dan kemasyuran, dan telah lama bosan pada
tugas pemimpin sekte yang bodoh dan miskin ini.” Ia berkata dengan dingin.
“Sejak saat ini, Sekte Pemburu Langit dan aku tidak punya hubungan apa-apa
lagi. Jika ada yang berani mengatakan bahwa aku masih anggota Sekte Pemburu
Langit, maka aku tentu akan memotong lidahnya dan mematahkan kakinya.”
Bao WuYa memandangnya, matanya menjadi merah. Tiba-tiba ia berguling ke
lantai sambil menangis.
Bahkan mata Shan XiYan pun tampak sedikit merah. Tetapi, tiba-tiba ia
menegakkan kepalanya dan mengeluarkan suara tawa yang keras.
“Pertunjukan yang bagus, Huo TianQing, ternyata margamu masih ‘Huo’ ya?
Paling tidak kau masih belum malu memakai nama itu.”
Mereka saling berhadapan, dan saling bertatapan. Tak seorang pun yang tahu
berapa lama hal itu berlangsung. Akhirnya, Lu Xiao Feng menarik nafas panjang:
“Kenapa kau? Kenapa harus kau?”
“Seseorang seperti dirimu tak akan pernah memahami apa yang kami lakukan.”
Huo TianQing menjawab dengan dingin.
“Aku mengerti bahwa kau benar-benar ingin melakukan sesuatu yang luar biasa,
sesuatu yang mengagumkan. Aku faham bahwa kau tidak ingin seluruh hidupmu
berada di bawah bayang-bayang ayahmu yang mulia. Tapi ini….”
“Inilah sesuatu yang luar biasa itu,” Huo TianQing memotong dengan sengit.
“Selain dari diriku, Huo TianQing, siapa lagi yang bisa melakukan sesuatu seperti
ini?”
Lu Xiao Feng tersenyum geram: “Tidak ada lagi.”
“Dan selain dirimu, tidak ada lagi yang bisa menghancurkan rencanaku!” Tibatiba
ia menegakkan kepalanya dan menarik nafas. “Jika ada seorang Huo
TianQing di dunia ini, lalu kenapa harus ada seorang Lu Xiao Feng!”
“Karena itu….”
“Karena itu di antara kita berdua, salah satu harus ada yang mati. Tapi apakah
itu kau? Atau aku?”
“Kita mungkin akan tahu saat matahari terbit besok.” Lu Xiao Feng pun menarik
nafas.
“Fajar akan selalu datang besok, kenapa persoalan esok hari tidak diselesaikan
hari ini?” Huo TianQing mendengus. Tiba-tiba ia mengibaskan lengan bajunya dan
ia telah berada di luar pintu, orang bisa mendengar suaranya yang dingin dan
lembut mengalun dari sebuah tempat yang sangat jauh. “Pada saat senja hari ini,
aku akan menunggumu di luar Kuil Angin Hijau!”
Bab 11 : Orang Yang Paling Cerdas (bagian 3)
Senja. Kuil Angin Hijau. Kuil Angin Hijau terletak di puncak sebuah gunung yang
hjau, lereng gunung itu telah berada di sisi yang berbeda dengan matahari
terbenam.
Sikap Hua Man Lou tampak sangat serius.
“Huo TianQing masih belum datang!” Ia berkata sambil menarik nafas.
“Ia akan datang.”
“Tidak kukira ia adalah orang seperti itu, seharusnya ia tidak melakukan semua
perbuatan itu.”
“Tapi tetap ia lakukan.” Lu Xiao Feng menjawab dengan murung.
“Mungkin karena ia terlalu angkuh, bukan hanya ia ingin lebih baik daripada
semua orang, ia pun ingin lebih baik daripada ayahnya sendiri!”
“Keangkuhan adalah hal yang sangat bodoh.”
Jika seseorang terlalu angkuh, ia tentu akan melakukan sesuatu yang bodoh.
“Dan karena keangkuhan itu pula, ia mau bertanggung-jawab untuk semua
perbuatannya.”
Lu Xiao Feng terdiam beberapa lama.
“Jika kau menjadi aku, maukah kau melepaskannya?” Tiba-tiba ia bertanya.
“Aku bukan kau.”
Lu Xiao Feng menarik nafas yang panjang dan lelah. “Untunglah kau bukan aku,
dan untunglah aku bukan kau….”
Hua Man Lou tidak menjawab, karena saat itu ia mendengar suara sebuah pintu
dibuka. Pintu depan Kuil Angin Hijau yang berat dan antik dibuka dengan
perlahan. Seorang bocah pelayan berjalan keluar, sambil membawa sebuah
lentera. Seorang laki-laki ikut di belakangnya. Bukan Huo TianQing, tapi seorang
tosu (pendeta Tao) berjubah kuning. Jubah dan lengan bajunya sangat besar,
seperti semua jubah lainnya. Keningnya menekuk ke dalam. Pada wajahnya yang
tirus tetapi bersih terlihat ekspresi yang sangat murung. Walaupun langkah
kakinya ringan dan gesit, tampaknya ia tidak pernah berlatih kungfu.
Ia memandang ke sekeliling tempat itu sesaat sebelum berjalan dengan langkah
tetap ke arah Lu Xiao Feng dan memberi hormat kepadanya.
“Apakah ini Tuan Lu Xiao Feng yang dermawan?”
{Catatan: Sapaan ini bukan berarti pendeta itu mengira kalau Lu Xiao Feng
datang ke sana untuk memberi derma. Pendeta Tao dan Budha secara tradisional
selalu menyapa orang yang bukan pendeta sebagai “dermawan”.}
Lu Xiao Feng mengangguk. “Dan bapak pendeta adalah….”
“Tosu yang sederhana ini bergelar Kayu Hijau, saya adalah ketua kuil ini.”
“Apakah bapak pendeta adalah teman Huo TianQing?”
“Tuan Huo yang dermawan dan saya adalah teman bermain catur, setiap bulan
tentu ia akan datang ke kuil ini untuk bertanding catur beberapa babak.”
“Di mana dia sekarang?”
Sebuah ekspresi yang sangat aneh kembali muncul di wajah Kayu Hijau.
“Sebabnya saya keluar adalah untuk membawa tuan yang dermawan
menemuinya.”
“Di mana dia berada?”
“Ia berada di ruang tamu kuil,” Kayu Hijau menjawab dengan lambat. “Ia sudah
lama berada di sana.”
Halaman sebelah dalam kuil itu sangat sepi. Bau dupa yang dibakar tercium di
udara melalui jendela-jendela yang setengah terbuka. Pintu kuil juga tampak
terbuka setengahnya.
Lu Xiao Feng berjalan melalui halaman itu. Setelah Kayu Hijau membuka pintu, ia
melihat Huo TianQing. Tapi Huo TianQing tidak akan pernah melihatnya lagi.
Huo TianQing telah mati di atas kasur tamu Pendeta Kayu Hijau. Di atas lantai di
dekat kasur itu ada sebuah cangkir arak yang berhias naga, di dalamnya masih
ada arak. Arak beracun.
Wajah Huo TianQing tampak berwarna kelabu. Di sudut matanya dan tepat di
bawah hidungnya terlihat noda darah yang belum terhapus. Lu Xiao Feng
menatapnya, hatinya seperti karam.
Wajah Pendeta Kayu Hijau pun tampak sedih.
“Waktu ia muncul, aku menduga bahwa ia datang untuk menyelesaikan
pertandingan yang belum kami selesaikan kemarin,” Ia merangkan dengan
murung. “Aku ingin melihat ide baru apa saja yang ia bawa untuk
menyelamatkan posisinya. Tapi ia malah mengatakan bahwa ia tidak ingin
bermain hari ini.”
“Ia hanya ingin minum.” Lu Xiao Feng menebak.
Kayu Hijau mengangguk. “Aku melihat sikapnya tampak aneh, seakan-akan ada
sesuatu yang menjadi beban fikirannya. Ia juga menarik nafas terus-menerus
dan bergumam pada dirinya sendiri.”
“Apa yang ia katakan?”
“Tampaknya ia mengatakan sesuatu seperti seratus tahun hidup manusia berlalu
dalam sekejap mata, dan juga bahwa jika ada seorang Huo TianQing di dunia ini,
kenapa juga harus ada seorang Lu Xiao Feng.”
Lu Xiao Feng tersenyum murung sambil mengerutkan keningnya.
“Apakah ini arakmu?” Ia bertanya.
“Arak itu memang dari tempat ini, tapi cangkir itu ia bawa sendiri. Ia selalu
terobsesi pada kebersihan dan tidak mau menggunakan barang-barang yang
pernah digunakan orang lain.”
Lu Xiao Feng memungut cangkir itu dan mengendusnya.
“Racunnya memang berada di cangkir ini.” Ia mengerutkan keningnya.
“Ia mengangkat cangkir tapi kemudian meletakkannya kembali beberapa kali,
persis seperti waktu menghadapi sebuah gerakan catur yang sulit, seakan-akan
ia tidak bisa mengambil sebuah keputusan. Saya hendak bertanya padanya
waktu ia tiba-tiba menegakkan kepalanya, tertawa tiga kali, dan minum arak itu.”
Tosu itu merangkapkan tangannya di depan dada sebagai tanda berdoa.
“Tidak bisa kubayangkan orang seusia dia telah putus asa menghadapi hidup ini,
semoga ia segera mendapatkan jalannya.” Suaranya makin lama semakin lemah,
di matanya pun tampak mengembang air mata.
Lu Xiao Feng membisu, hatinya semakin berat. Setelah beberapa lam, akhirnya ia
menarik nafas. “Apakah ia membawa orang lain?”
“Tidak.”
“Dan ia sama sekali tidak menyebut-nyebut nama Zhu Ting?”
“Tidak.”
Hati Lu Xiao Feng tenggelam semakin dalam.
Di sisi tempat tidur itu ada sebuah papan catur yang belum selesai dimainkan.
“Hidup selalu berubah, persis seperti awan di langit,” Kayu Hijau bergumam pada
dirinya sendiri, ”tapi siapa sangka, walaupun permainan yang belum selesai ada
di sini, orangnya sudah tidak ada lagi.”
“Ia memainkan biji hitam?” Lu Xiao Feng tiba-tiba bertanya.
“Aku selalu membiarkan dia yang pertama main.”
Lu Xiao Feng memungut sebuah biji catur, berfikir dalam-dalam, dan melakukan
sebuah gerakan catur dengan lambat.
“Aku akan menyelesaikan permainan ini untuk dia.”
Kayu Hijau tersenyum sedih. “Jika kau melakukan gerakan seperti itu, bukankah
biji hitam akan kalah?”
“Tapi selain gerakan ini, ia tidak punya gerakan lain.”
“Ia memang telah kalah dalam permainan ini, ia juga tahu itu, tapi ia masih tidak
mau mengakuinya.”
Lu Xiao Feng menarap ke arah cakrawal. “Tapi ia tetap saja kalah,” ia bergumam.
“Permainan ini seperti kehidupan, satu gerakan salah dan kau pun kalah.”
Pendeta Kayu Hijau tiba-tiba mengibaskan lengan bajunya ke atas papan catur
dan menjatuhkan semua bijinya.
“Bukankah kehidupan juga seperti sebuah permainan? Mengapa kalah dan
menang terlalu ditanggapi dengan serius?” Ia bertanya dengan lambat.
“Jika dia tidak menanggapinya dengan serius, lalu kenapa mau melakukan
permainan ini?”
Pendeta Kayu Hijau meliriknya sekilas sebelum menutup matanya dengan lambat
dan merangkapkan tangannya untuk berdoa kembali. Ia tidak berkata apa-apa
lagi. Angin tiba-tiba meniup sebuah daun jendela hingga terbuka, malam yang
gelap telah menyelimuti seluruh dunia.
______________________________
Lu Xiao Feng berbaring di tempat tidurnya, menatap cangkir arak yang berada di
atas dadanya. Cangkir ini telah lama berada di atas dadanya, tapi ia masih belum
meminum isinya. Tampaknya ia sedang tidak ingin minum.
“Masih memikirkan Zhu Ting bertiga?” Hua Man Lou bertanya. Lu Xiao Feng diamdiam
mengakuinya.
“Bila seorang manusia akan mati, hatinya akan berubah baik. Karena Huo
TianQing telah memutuskan untuk mati, mungkin ia tidak ingin berbuat salah dan
membunuh orang lagi. Mungkin mereka telah tiba di rumah dengan selamat
sekarang.”
Bukan hanya ia mengatakan hal ini untuk menghibur Lu Xiao Feng, tapi juga
untuk menghibur dirinya sendiri. Tapi Lu Xiao Feng seolah-olah sama sekali tidak
mendengarnya.
Hua Man Lou memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. “Tidak perduli apa,
kau telah memenangkan permainan ini.”
Lu Xiao Feng menjawab dengan sebuah tarikan nafas yang panjang.
“Tapi gerakan terakhir bukan dibuat olehku.”
“Dan permainan ini tidak dimainkan dengan cara yang engkau inginkan ya?”
“Tidak.” Ia memaksakan sebuah senyuman sedih di wajahnya. “Itulah sebabnya,
walaupun aku telah menang, rasanya lebih buruk daripada jika aku yang kalah.”
Hua Man Lou tak tahan untuk tidak menarik nafas juga.
“Mengapa ia tidak ingin menyelesaikan permainan ini?”
“Karena ia tahu bahwa ia telah kalah,” Lu Xiao Feng menjawab, “persis seperti
bagaimana ia tidak ingin menyelesaikan permainan catur yang kemarin itu---“
Baru saja ia menyelesaikan kalimat ini, tiba-tiba ia melompat bangkit dari tempat
tidur, cangkir arak yang ada di atas dadanya jatuh ke lantai dan segera hancur
berkeping-keping.
Hua Man Lou tahu bahwa ia tidak pernah membiarkan cangkir araknya hancur
seperti itu. Tapi sekarang ia seperti lupa akan hal tersebut. Ia berdiri di sana
dengan ekspresi tidak percaya. Seluruh tubuhnya, mulai dari ujung kepala hingga
ke ujung kaki, terasa dingin seperti es.
Hua Man Lou tidak bertanya apa-apa, ia tahu kalau Lu Xiao Feng akan segera
mengatakannya sendiri.
“Ia pun tidak menyelesaikan permainan catur itu kemarin.” Lu Xiao Feng tiba-tiba
mengulangi kalimat itu.
“Ya.”
“Ia masih bermain catur di Kuil Angin Hijau kemarin.” Sekarang warna wajah Hua
Man Lou pun ikut berubah.
“Jika ShangGuan FeiYan mati di tangannya, bagaimana ia bisa bermain catur di
sini kemarin?”
Kemarin ShangGuan FeiYan berada di tempat yang jauhnya beratus-ratus mil dari
tempat itu, tidak mungkin Huo TianQing bisa bolak-balik dalam satu hari itu.
ShangGuan FeiYan baru kemarin tewas.
Hua Man Lou pun merasa kaki dan tangannya dingin seperti es.
“Apakah kita salah menuduhnya?” Hua Man Lou menarik nafas.
“Paling tidak, ia bukanlah pembunuh ShangGuan FeiYan.” Tinju Lu Xiao Feng
terkepal erat.
Hua Man Lou mengangguk.
“Paling tidak, kita telah salah menuduhnya dalam hal itu.”
“Mengapa ia tidak membantah tuduhan itu?”
“Sebabnya ia mengatur pertemuan denganku di Kuil Angin Hijau itu mungkin
untuk meminta tosu itu membuktikan alibinya bahwa ia bermain catur di sana
kemarin.”
“Karena ia tahu bahwa ucapannya saja tidak bisa menjadi bukti, kau tak akan
mempercayainya.”
“Tapi ia bahkan belum sempat membantah.”
“Maka, tidak mungkin ia bunuh diri.”
“Memang tidak.”
“Lalu siapa yang membunuhnya.”
“Orang yang juga membunuh ShangGuan FeiYan.”
“Dalang sesungguhnya dari semua ini?”
“Benar.”
“Apakah Pendeta Kayu Hijau disuap oleh orang ini untuk berbohong?”
“Pendeta tetap manusia.”
“Jika demikian, Pendeta Kayu Hijau tentu tahu siapa dia!”
Lu Xiao Feng menarik nafas mendengar ucapan itu. “Maka sekarang ini aku
berharap Pendeta Kayu Hijau masih hidup.”
Ia kecewa. Saat mereka kembali ke Kuil Angin Hijau, kuil itu telah berubah
menjadi lautan api. Tidak seorang pun yang selamat, satu pun tidak. Api tidak
punya belas kasihan, lebih-lebih orang yang melakukan pembakaran. Siapakah
orang ini?
______________________________
Kuil Angin Hijau berada di salah satu sisi gunung itu, paviliun kecil Huo Xiu
berada di sisi lainnya. Walaupun salah satu sisi gunung itu telah berubah menjadi
lautan api, sisi lainnya masih tetap tenang dan damai.
“DORONG”. Kata itu masih ada di pintu depan. Lu Xiao Feng mendorong pintu itu
hingga terbuka dan berjalan masuk. Ini adalah kedua kalinya ia mendorong pintu
ini terbuka, dan bisa jadi yang terakhir kalinya.
Perut gunung itu sekarang kosong melompong, tidak ada apa-apa di dalamnya.
Semua harta dan senjata yang tak terhitung jumlahnya itu telah menghilang
secara ajaib.
Di tengah ruangan itu ada sebuah altar batu kecil, di atasnya ada sebuah tikar
jerami yang lusuh dan kotor. Huo Xiu, dengan bertelanjang kaki, dan
mengenakan baju hijau kebiru-biruan yang terlalu sering dicuci sehingga hampir
putih, duduk bersilang kaki di atas tikar itu, sambil menghangatkan araknya.
Arak yang aromanya sangat enak.
Lu Xiao Feng menghirup dalam-dalam aroma tersebut dan berjalan ke bawah
tangga batu.
“Tampaknya aku tiba di saat yang tepat lagi.” Ia tersenyum.
Huo Xiu balas tersenyum. “Kali ini aku tidak terkejut lagi. Setiap kali aku punya
arak bagus, kau tentu akan muncul secara tiba-tiba!”
“Tapi sekarang aku agak curiga.”
“Curiga tentang apa?”
“Curiga bahwa kau mungkin sengaja memancingku datang ke mari dengan arak
enak sebagai umpannya.”
Huo Xiu tertawa. “Dalam peristiwa apa pun, arak enak tetaplah arak enak. Jika
kau tidak takut membuat bajumu kotor, maka kau boleh duduk dan menikmati
secangkir.”
“Aku takut.”
“Kau takut?” Huo Xio mengerutkan keningnya.
“Tapi aku bukannya takut membuat bajuku kotor.”
“Lalu apa yang kau takutkan?”
“Aku takut kalau-kalau nasibku akan berakhir seperti Huo TianQing dan harus
menunggu orang lain datang dan menyelesaikan permainanku yang belum selesai
untukku.”
Huo Xiu menatapnya, matanya tiba-tiba seperti berubah menjadi sepasang pisau
tajam yang baru dihunus. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi, malah ia
menuangkan secangkir arak dan meminumnya dengan lambat. Lu Xiao Feng pun
tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia tahu bahwa satu kalimat saja sudah
cukup. Ia sedang berbicara dengan orang yang cerdas. Dengan orang yang
cerdas, satu kalimat saja sudah cukup.
Setelah beberapa lama, Huo Xiu tiba-tiba tertawa lagi.
“Tampaknya aku tetap tidak bisa memperdayaimu.”
“Maka kau mungkin sebaiknya menghentikannya saja.”
“Bagaimana kau tahu itu aku?”
“Aku tidak tahu,” Lu Xiao Feng menarik nafas. “Tidak sedikit pun aku menyadari
bahwa aku telah keliru sejak awal.”
“Oh!”
“Aku selalu mengira bahwa kau berada di perahu yang sama dengan Yan TieShan
dan DuGu, bahwa kau juga seorang korban, dan aku selalu mengira bahwa hanya
Huo TianQing yang bisa mengambil keuntungan dari seluruh peristiwa ini.”
“Sekarang bagaimana?”
“Sekarang aku telah bisa menebak semuanya. Hanya ada satu orang yang benarbenar
beruntung karena semua kejadian ini.”
“Dan orang itu adalah aku.”
“Benar, orang itu adalah kau!”
Huo Xiu mengisi cangkir araknya lagi.
“Bila Kaisar Rajawali Emas mati, tidak ada lagi orang di dunia ini yang akan
mengungkit-ungkit kewajibanmu pada Kekaisaran Rajawali Emas.” Lu Xiao Feng
meneruskan.
“Ia pun tidak akan mengungkit-ungkit hal itu,” Huo Xiu mengangguk dengan
lambat. “Tapi akhir-akhir ini ia benar-benar sedang kekurangan. Ia pintar
menghabiskan uang, tapi ia tidak pernah tahu tentang sukarnya memperoleh
uang.”
“Maka kau membunuhnya?”
“Orang seperti ini memang pantas mati!” Huo Xiu berkata dengan dingin.
“Tapi kematiannya tetap tidak cukup, bukan? Karena DuGu dan Yan TieShan
akan datang dan menuntut uang itu untuk dibagi-bagi, bukan?”
“Uang ini memang milikku, dan hanya aku yang menghabiskan seluruh energi
dan usaha untuk melindunginya, membuatnya bertambah hari demi hari, aku tak
akan membiarkan orang lain mendapatkannya sepeser pun!”
“Maka mereka pantas mati juga?”
"Mereka harus mati!"
“Sebenarnya uang itu cukup untuk digunakan oleh 30 orang seumur hidupnya,”
Lu Xiao Feng menarik nafas. “Dengan usiamu sekarang, apakah kau benar-benar
hendak membawanya semua ke liang kuburmu?”
Huo Xiu menatapnya.
“Jika kau punya seorang isteri, maukah kau membaginya dengan orang lain?
Walaupun kau tidak terus-menerus memakainya?” Ia mencela dengan dingin.
“Itu persoalan yang benar-benar berbeda.”
“Bagiku, kedua hal ini adalah sama. Harta ini seperti isteri bagiku, tidak perduli
apakah aku hidup atau mati, aku tidak mau membaginya dengan orang lain.”
“Maka, pertama kau gunakan Huo TianQing dan ShangGuan FeiYan untuk
membunuh Kaisar Rajawali Emas, dan kemudian menggunakan aku untuk
menyingkirkan DuGu YiHe dan Yan TieShan.”
“Aku tidak ingin kau terlibat, tapi selain dari dirimu, aku benar-benar tidak bisa
memikirkan orang lain yang sanggup melakukannya.”
“Ini bukan pertama kalinya aku mendengar kalimat itu.” Lu Xiao Feng tersenyum
malu.
"Itulah yang sebenarnya."
“Aku mengambil umpanmu karena aku memang mau. Tapi bagaimana dengan
Huo TianQing? Bagaimana kau bisa mendapatkan orang seperti dia?”
“Bukan aku yang mendapatkan dia.”
“ShangGuan FeiYan?”
Huo Xiu tersenyum. “Tidakkah menurutmu ia seorang gadis yang mampu
menggerakkan hati seorang laki-laki?”
Sebuah senyuman masam muncul di wajah Hua Man Lou.
Lu Xiao Feng pun menarik nafas.
“Dan bagaimana kau mendapatkan gadis itu?”
“Aku mungkin sudah tua, tapi aku masih bisa merayu gadis mana pun.” Huo Xiu
menjawab dengan santai. “Karena aku punya sesuatu yang tak bisa ditolak
wanita mana pun.”
“Apa itu?”
“Hartaku.” Ia tersenyum dan meneruskan. “Tidak ada seorang pun wanita di
dunia ini yang tidak suka harta, persis seperti tidak ada seorang pun laki-laki di
dunia ini yang tidak menyukai wanita cantik.”
“Kau berjanji untuk membagi sebagian hartamu padanya agar dia merayu Huo
TianQing?”
“Kalian semua mengira bahwa kekasihnya adalah Huo TianQing, tapi kalian tidak
menduga bahwa orang yang benar-benar ia cintai adalah laki-laki tua ini kan?”
Huo Xiu tertawa keras.
“Ia tidak mencintaimu, ia cinta pada uangmu.” Lu Xiao Feng mendebatnya.
“Tidak ada bedanya bagiku,” Huo Xiu masih tertawa. “Lagipula, bagiku dia adalah
orang mati.”
“Sejak awal kau telah berencana untuk menyingkirkan dia?”
“Sudah kubilang padamu, aku tidak akan membiarkan orang lain berbagi harta ini
denganku.”
“Maka kau sengaja memberitahuku rahasia tentang 6 jari kaki untuk membuatku
bentrok dengannya.”
“Tapi Huo TianQing masih tidak tahu apa yang terjadi, dan mengirimkan pesan
padanya tentang rahasia ini melalui burung merpatinya.”
“Bahkan ia tidak tahu kalau kau adalah dalang dari semua ini?”
“Tentu saja tidak. Kalau tidak, bagaimana mungkin ia mau melakukan semua ini
untuk ShangGuan FeiYan?”
“Tapi kau telah mengira bahwa aku akan melepaskan ShangGuan FeiYan.”
"Karena itu aku harus pergi dan melakukannya sendiri."
“Huo TianQing bukan orang yang bodoh. Waktu ia mendengar berita bahwa
ShangGuan FeiYan telah mati, ia tentu tahu bahwa ada orang lain di balik semua
ini. Karena itu, setelah mengatur sebuah pertemuan denganku di Kuil Angin
Hijau, ia datang ke sini untuk menemuimu.”
“Ia memang tidak sebodoh itu, sayangnya orang-orang yang cerdas pun
terkadang jadi bodoh.”
“Ia seharusnya tidak datang sendirian menemuimu.” Lu Xiao Feng menarik nafas.
“Itulah sebabnya ia pantas mati juga.”
“Kau memindahkan mayatnya ke Kuil Angin Hijau setelah membunuhnya?”
“Kuil Angin Hijau adalah milikku juga, aku bisa mengambilnya kembali kapan saja
aku suka.”
“Itulah sebabnya kau meminta Pendeta Kayu Hijau berdusta untukmu. Ia tidak
bisa menolak, kan?”
“Seorang pendeta mau berdusta? Jelas ia pantas mati juga!” Huo Xiu berkata
dengan santai.
“Kau ingin aku percaya bahwa Huo TianQing melakukan bunuh diri karena
merasa bersalah dan tidak ikut campur lagi dalam urusan ini, kan?”
“Aku benar-benar tidak ingin kau terlibat lagi,” Huo Xiu menarik nafas. “Tapi
sayangnya tosu yang banyak omong itu membuatmu ikut campur lagi dalam
urusan ini.”
“Ia membuatku ikut campur lagi?”
“Waktu aku mendengar dia menyebut-nyebut tentang permainan catur yang
kemarin tidak selesai, aku tahu kalau kau akan menyadari hal itu cepat atau
lambat.”
“Maka kau memutuskan bahwa kau harus membakar Kuil Angin Hijau.”
“Kebetulan aku memang punya rencana lain untuk petak tanah itu.”
“Di matamu, apakah orang-orang itu sama seperti sepetak tanah? Tidak lebih
dari alat yang bisa kau gunakan dan kau buang sesukamu.”
“Bila aku ingin mereka hidup, mereka akan hidup; bila aku ingin mereka mati,
maka mereka harus mati!”
“Bagaimana kau tahu cara memanfaatkan diriku?” Lu Xiao Feng bertanya sambil
tersenyum lelah.
“Setiap orang punya kelemahan. Bila kau bisa menebak titik lemah mereka, kau
bisa menggunakan siapa saja.”
“Apa kelemahanku?”
“Kelemahanmu adalah kau terlalu suka ikut campur dalam urusan orang lain!”
Huo Xiu menjawab dengan dingin.
“Karena itulah aku seperti menjadi kaki tanganmu, membujuk XiMen ChuiXue
untuk ikut terlibat, membantumu menyingkirkan Yan TieShan dan DuGu YiHe….”
Lu Xiao Feng menarik nafas.
“Dan kau melakukan semuanya dengan sangat baik. Seandainya kau mau
berhenti setelah Huo TianQing mati, kau akan disambut dengan baik bila datang
ke sini dan minum bersamaku kapan pun kau suka. Jika kau menemui kesulitan,
aku mungkin mau meminjamkan sepuluh ribu tael perak untuk melepaskan
dirimu dari kesulitan itu.”
“Sayangnya aku tidak berhenti.”
Huo Xiu pun menarik nafas.
“Apakah kau tahu kenapa aku memindahkan semua barang yang ada di sini?”
Lu Xiao Feng tidak tahu.
“Karena aku berencana meninggalkan tempat ini untuk kau gunakan sebagai
kuburanmu.”
“Paling tidak ini bukan sebuah kuburan yang kecil.” Lu Xiao Feng mencoba
bergurau.
“Bagi Lu Xiao Feng, dikuburkan di bawah Paviliun Pertama dari Paviliun Baju
Hijau tentu sangat sesuai, bukan?” Huo Xiu berkata dengan lugas.
“Paling tidak ShangGuan FeiYan berkata benar tentang sesuatu hal,” Lu Xiao Feng
menarik nafas. “Paviliun Pertama dari Paviliun Baju Hijau benar-benar terletak di
sini.”
“Sayangnya, semakin banyak orang yang memberitahumu bahwa Paviliun
Pertama ada di sini, semakin kau tidak mempercayai mereka.”
“Dan kau tentunya Ketua dari 108 Paviliun Baju Hijau, bukan?”
“Ketua, sebutan itu sungguh bagus,” Huo Xiu tersenyum. “Aku suka
mendengarnya.”
“Terdengar lebih merdu daripada suara hitungan uangmu?”
“Aku tidak menghitung uang,” Huo Xiu menjawab dengan santai. “Kau tak bisa
menghitung berapa banyak uang yang aku miliki.”
Lu Xiao Feng menarik nafas lagi. “Baru sekarang aku benar-benar mengerti
kenapa kau bisa begitu kaya.”
“Kau mungkin faham sekarang, tapi sayangnya kau tak akan pernah
menguasainya.”
“Hanya karena aku tidak mengerti kenapa harus membawa harta itu ke lubang
kubur bersamaku.”
Huo Xiu tertawa lagi. “Bagus, sangat bagus!”
“Apanya yang bagus?”
“Menurut kabar angin, kau selalu membawa setumpuk cek di kantongmu, dan
setiap kali bertaruh kau tidak pernah meletakkan cek yang bernilai kurang dari
5000 tael di atas meja.” Huo Xiu berkata sambil tersenyum.
“Cek yang bernilai 5000 tael itu pun mungkin telah jatuh ke tanganmu.” Lu Xiao
Feng tersenyum jengkel.
“Karena kau tidak bermaksud membawa uang itu ke lubang kubur bersamamu,
aku akan mengambil uang itu setelah kau mati.”
“Kau pun menginginkan uang orang yang sudah mati?”
“Aku menginginkan semua jenis uang, itulah rahasia terbesar untuk menjadi
kaya.”
“Sayangnya aku masih hidup.”
“Tapi kau telah berada di kuburanmu.”
“Kau yakin bisa membunuhku?”
“Tidak, tapi aku yakin bahwa kau akan mati di sini.”
“Oh!”
“Bila seseorang telah masuk ke liang kuburnya, tidak ada harapan baginya untuk
keluar.”
Lu Xiao Feng menatap Huo Xiu, matanya tiba-tiba berkilauan seperti sepasang
pisau cukur yang tajam.
“Tanganmu sudah gatal-gatal ingin beraksi?” Huo Xiu tersenyum.
“Ya.” Lu Xiao Feng mengakui.
“Sayangnya aku tidak tertarik untuk bertarung denganmu, aku tidak ingin
tanganku kotor.” Ia menekan altar batu itu dengan lembut. “Bum!” Sebuah
kandang baja yang sangat besar tiba-tiba jatuh dari atas, mengurung seluruh
altar batu itu di dalamnya.
Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya.
“Sejak kapan kau memutuskan menjadi seekor burung dan mengurung dirimu
sendiri di dalam kandang?”
“Kau kira ini lucu?”
“Memang lucu.”
“Kau tidak akan menganggapnya begitu lucu bila aku berjalan keluar dari sini,
orang yang akan mati kelaparan barulah lucu.”
“Apakah aku akan mati kelaparan?”
“Setelah aku pergi, satu-satunya yang bisa kau makan di sini adalah daging yang
ada di tubuhmu dan tubuh teman-temanmu, yang bisa kau minum di sini adalah
darahmu sendiri.” Huo Xiu menjawab dengan dingin.
“Tapi bagaimana kau bisa pergi?”
“Satu-satunya jalan keluar dari tempat ini terletak persis di bawah altar batu
yang aku duduki ini. Dan bisa kujamin, aku akan menyegel jalan keluar ini
setelah aku keluar.”
Wajah Lu Xiao Feng berubah warna sedikit.
“Rasanya aku tidak masuk lewat jalan itu tadi.” Ia memaksakan sebuah
senyuman di wajahnya.
“Pintu masukmu tadi hanya bisa dibuka dari luar, dan tidak ada orang di luar
yang akan membukakannya untukmu, aku bisa menjamin hal itu.”
“Apa lagi yang bisa kau jamin?”
“Aku bisa menjamin bahwa kau akan mati kehausan dalam 10 hari. Aku adalah
orang yang bijaksana, maka aku akan menunggu paling sedikit 10 hari lagi
sebelum kembali ke sini.”
“Kau akan kembali?”
“Tentu saja aku akan datang kembali,” Huo Xiu tertawa. “datang kembali untuk
mengambil semua uang yang ada padamu.”
Lu Xiao Feng tiba-tiba tertawa, tawa yang keras dan sepenuh hati.
“Jika aku adalah kau, aku tidak akan tertawa sekarang.” Huo Xio berkata.
“Kau bukanlah aku.”
"Untungnya bukan."
“Dan karena kau bukanlah aku, kau tidak tahu bahwa satu-satunya yang aku
tinggalkan di kantungku adalah sebuah lubang yang besar.” Lu Xiao Feng
berkata, sambil berusaha menahan tawanya.
“Tampaknya kau telah memutuskan untuk tidak membiarkan diriku mendapatkan
sesuatu darimu setelah kematianmu.” Huo Xiu menarik nafas.
“Kau akhirnya faham.”
“Untungnya, masih ada sesuatu yang bisa kudapatkan.”
“Oh!”
“Paling tidak aku masih bisa mengambil pakaian di tubuhmu dan menjualnya
untuk beberapa sen!”
“Kau mau melakukan semua itu untuk beberapa sen?”
“Satu sen pun tetaplah uang.”
“Selama ada uangnya, kau tetap mau!”
“Uang selalu berguna, satu sen tetap lebih baik daripada tidak ada sama sekali.”
“Baiklah, biar kuberikan untukmu!” Lu Xiao Feng tiba-tiba mengibaskan
tangannya dan selusin uang logam yang terbuat dari perunggu meluncur dengan
deras dalam bentuk barisan ke arah Huo Xiu.
Huo Xiu tidak bergerak atau pun menghindar. Barulah saat barisan uang logam
itu menembus terali sangkarnya ia mengayunkan tangannya sebanyak dua kali
dan ke-12 keping uang logam itu tiba-tiba telah berada di dalam genggamannya.
Kehebatan tangan orang tua ini membuat Lu Xiao Feng terkejut.
“Gerakan yang sangat bagus!” Ia berseru tak tertahan.
Huo Xiu telah menyimpan 12 keping uang logam itu dengan seksama.
“Bila berurusan dengan uang, kungfu-ku biasanya akan sangat bagus.”
“Sayangnya ilmu-mu itu masih sedikit di bawahku.”
Huo Xiu tertawa. “Kau mencoba memancingku untuk keluar dan bertarung
denganmu?”
“Ya, aku memang punya fikiran seperti itu.”
“Maka kunasehatkan padamu untuk menghilangkannya dari fikiranmu.”
“Kau tidak akan keluar?”
“Walaupun aku ingin, aku tetap tidak bisa.”
“Kenapa tidak?”
“Kandang ini terbuat dari baja yang telah ditempa lebih dari 100 kali. Bobotnya
990 kg. Bahkan pedang yang bisa memotong baja seperti mentega pun tidak
akan dapat memotongnya, apalagi pedang seperti itu hanya ada dalam legenda.”
“Dan tidak ada orang yang sanggup mengangkat kandang seberat 990 kg.” Lu
Xiao Feng menambahkan.
“Tidak ada.”
“Karena itu, bukan hanya kau tidak bisa keluar, aku pun tidak bisa masuk.”
“Maka yang bisa kau lakukan hanyalah menonton aku pergi, lalu menunggu
kematianmu.”
“Sebabnya kau mengurung dirimu sendiri di dalam kandang adalah karena kau
takut kalau aku berusaha bertarung denganmu?”
“Aku sudah tua, aku bahkan tidak tertarik untuk tidur dengan perempuan lagi,
apalagi bertarung.”
Lu Xiao Feng menepuk-nepuk bahu Hua Man Lou. “Tampaknya yang bisa kita
lakukan adalah menunggu kematian di tempat ini!” Ia menarik nafas.
“Tampaknya ini adalah gerakan terakhirnya!” Hua Man Lou menjawab dengan
santai. Tak bisa dipercaya, ia benar-benar tersenyum!
“Kau harus mengakui, gerakan ini benar-benar efektif.”
“Tapi kita masih punya sebuah gerakan yang belum dilakukan, itulah senjata
yang belum kita gunakan.”
“Oh!”
“Kau lupa dengan Zhu Ting?” Hua Man Lou bertanya.
Lu Xiao Feng tersenyum.
“Tentu saja tidak.”
“Dan itulah sebabnya kau masih dapat tersenyum sekarang.” Hua Man Lou balas
tersenyum.
“Dan itulah sebabnya kau tidak cemas sama sekali.”
“Ia seharusnya tidak membawa Zhu Ting ke sini.”
“Benar sekali.”
Terlihat beberapa perubahan di wajah Huo Xiu.
“Kenapa dengan dia?” Ia akhirnya tidak tahan terhadap godaan itu dan bertanya.
“Kenapa ia seharusnya tidak berada di sini?”
“Tidak ada apa-apa sebenarnya.” Lu Xiao Feng menjawab dengan acuh tak acuh.
“Hanya saja, tidak ada tempat di dunia ini yang bisa mengurungnya.”
“Ia tidak punya sesuatu yang istimewa pada dirinya, selain dari kenyataan bahwa
ia kebetulan adalah murid Tuan Lu.” Hua Man Lou menambahkan.
“Tuan Lu?” Huo Xiu mengerutkan keningnya.
“Tentu saja, kau tentu tahu bahwa Tuan Lu adalah keturunan langsung dari Lu
Ban, ahli perkakas terbaik di dunia.” Hua Man Lou menerangkan.
“Sesudah Tuan Lu mati, gelar itu tentu saja jatuh ke tangan si Tauke, Zhu Ting.”
Lu Xiao Feng menambahkan.
“Karena itu, selama ia ada di sini, maka kalian tentu bisa keluar.” Huo Xiu
menyimpulkan.
“Benar.” Lu Xiao Feng mengiyakan.
“Ia memang ada di sini.”
“Aku tahu.”
“Posisinya agak lebih jauh, tempat di mana kau melihatku terakhir kalinya.”
“Aku tahu.”
“Jika tidak ada tempat di dunia ini yang mampu mengurungnya, lalu kenapa ia
belum keluar juga?”
“Ia akan keluar.”
“Jika ia keluar sekarang pun, tetap saja terlambat.” Huo Xiu mendengus.
“Oh!”
“Pusat kendali semua mesin dan perangkap di tempat ini tepat berada di bawah
tempat aku duduk.”
“Oh!”
“Tentu saja, jika aku pergi, aku akan segera menghancurkannya.”
“Dan kemudian apa yang terjadi?”
“Dan kemudian setiap jalan keluar dari tempat ini tentu akan segera disegel oleh
batu-batu besar, setiap batu berbobot lebih dari 4 ton, maka….”
“Maka kami ditakdirkan untuk mati di sini.”
“Bukan hanya kau, bahkan jika Lu Ban hidup kembali, ia pun hanya bisa
menunggu kematiannya.” Huo Xiu menambahkan dengan santai.
“Dan karena itu kau akan pergi sekarang juga!”
“Sebenarnya aku ingin menunggu dan berbincang-bincang dengan kalian lebih
lama lagi, karena aku tahu bahwa menanti kematian itu sama sekali tidak
menyenangkan.”
“Tapi sekarang kau merubah fikiranmu?”
“Benar!”
“Tampaknya bukan hanya aku tidak bisa memaksamu tetap berada di sini, aku
pun tidak bisa mengantarkanmu pergi.” Lu Xiao Feng bergurau dengan cara yang
agak menyedihkan untuk bisa dibilang lucu.
“Tapi kalian tentu akan segera merindukanku, aku tahu itu,” Huo Xiu berkata
sambil tersenyum dan ia pun mengulurkan tangannya. “Aku cuma perlu
menekan, dan aku akan menghilang. Kalian tidak akan pernah melihatku lagi.”
Ia lalu menekan sebuah tombol dengan tangannya.
Tetapi, ia tidak menghilang, malah senyuman di wajahnya yang hilang.
Altar batu itu masih tetap berupa altar batu persegi. Ia dari tadi duduk di
atasnya, sekarang pun ia masih duduk di atasnya. Ekspresi wajahnya telah
berubah sedemikian rupa, seolah-olah ia telah dipukul oleh seseorang di
hidungnya.
Tetesan-tetesan keringat yang besar tiba-tiba muncul di keningnya.
Lu Xiao Feng pun menganggap hal itu sangat aneh. Ia sangat mengetahui sifat
Huo Xiu, rubah tua ini tidak akan pernah melakukan sesuatu yang tidak benarbenar
ia yakini. Jika Huo Xiu mengatakan ada sebuah jalan keluar di bawah altar
batu itu, tentu memang ada jalan keluar di bawahnya. Tapi sekarang, tampaknya
jalan keluar itu tiba-tiba menghilang.
“Kenapa kau masih ada di sini?” Lu Xiao Feng mengedip-ngedipkan matanya.
Tinju Huo Xiu terkepal erat-erat.
“Kau… kau…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya dan tiba-tiba jatuh tak sadarkan
diri.
Lu Xiao Feng menarik nafas, lalu tiba-tiba ia menyadari bahwa bukan hanya ia
satu-satunya orang yang menarik nafas. Selain dari dirinya, yang menarik nafas
bukanlah Hua Man Lou, tapi ShangGuan Xue-Er dan Isteri Tauke. Mereka pun
menarik nafas ketika berjalan menghampirinya, dengan senyuman berbungabunga
di wajah mereka.
“Ternyata kau benar, orang ini benar-benar orang yang mujur.” ShangGuan Xue-
Er yang pertama bicara.
“Itulah dia Lu Xiao Feng satu-satunya!”
Tapi senyuman Lu Xiao Feng tampak menyedihkan.
“Sebabnya kalian tidak keluar dari tadi adalah untuk melihat apakah aku masih
punya kemujuran?”
“Kami kira kau tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadap rubah tua ini, tapi siapa
yang tahu bahwa kau masih punya satu gerakan terakhir ini?” ShangGuan Xue-Er
menjawab dengan manis.
“Gerakanmu yang terakhir ini benar-benar istimewa.” Isteri Tauke tertawa
cekikikan.
“Ia yang membuat kandang itu, tapi mungkin ia tidak pernah membayangkan
kalau ia sendiri yang akan terperangkap di dalamnya.” ShangGuan Xue-Er
berkata.
Lu Xiao Feng tersenyum. “Itulah yang disebut ‘Masuk Sendiri ke Dalam Kuali’.”
{Catatan: “Masuk Sendiri ke Dalam Kuali” adalah ungkapan bahasa China yang
terkenal. Ungkapan ini berasal dari sebuah cerita tentang percakapan antara 2
orang pejabat di masa pemerintahan kaisar wanita satu-satunya dalam sejarah
China, Wu Ze Tian. Kedua pejabat ini terkenal karena kekejamannya di saat
menginterogasi tawanan. Ketika pejabat pertama dicurigai berkhianat, pejabat
kedua diperintahkan untuk menginterogasinya. Pejabat kedua, yang berteman
dengan pejabat pertama, lalu mengundang temannya itu untuk makan malam.
Selama makan malam itu, pejabat kedua bercerita bahwa ia punya seorang
tawanan yang tidak mau bekerja-sama, tak perduli apa pun nasehat yang
diberikan olehnya pada tawanan itu. Pejabat pertama lalu mengusulkan agar ia
menggunakan sebuah kuali besar yang diisi minyak, memanaskannya hingga
mendidih di hadapan tawanan itu, dan kemudian mengancam akan
mencampakkannya ke dalam kuali jika ia tidak mengaku. Pejabat kedua
kemudian segera memerintahkan pelayan-pelayannya untuk membawa sebuah
kuali besar yang diisi minyak ke dalam ruangan itu dan memanaskannya hingga
mendidih. Setelah selesai, tuan rumah pun berdiri, lalu mendakwa tamunya atas
semua kejahatannya, dan memintanya “masuk sendiri ke dalam kuali” jika ia
tidak mau mengaku. Tamunya, si pejabat pertama, segera mengaku. Jadi
ungkapan ini ditujukan pada orang yang ide-ide atau rencana-jahatnya malah
berbalik pada dirinya sendiri.}
Isteri Tauke menatapnya, matanya berkedip-kedip. “Bagaimana kau bisa
memikirkan dan melakukan hal ini?”
“Aku kan orang yang jenius.” Lu Xiao Feng menjawab seenaknya.
“Apakah kau telah menduga bahwa ia akan berusaha melarikan diri lewat jalan
itu dan karena itu menyegelnya sebelum ia masuk ke sini?” ShangGuan Xue-Er
bertanya.
Lu Xiao Feng terdiam.
“Hayo, kenapa kau tidak bicara?” Isteri Tauke mendesak. “Bagaimana kau
melakukannya?”
Lu Xiao Feng tiba-tiba menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak bisa memberitahu kalian.”
“Kenapa tidak?” ShangGuan Xue-Er bertanya.
“Setiap orang perlu menyimpan beberapa rahasia untuk dirinya sendiri, terutama
bila wanita-wanita seperti kalian berdua terlibat.” Lu Xiao Feng berkata sambil
tersenyum, senyuman yang mirip seperti senyum seekor rubah tua yang licik.
“Jika kalian berdua tahu semua rahasiaku, lalu bagaimana mungkin aku bisa
tenang selama sisa hidupku?”
______________________________
“Jadi bagaimana kau melakukannya?” Setelah semua orang pergi, Hua Man Lou
tidak bisa lagi menahan godaan untuk bertanya kembali. “Mengapa tidak kau
beritahukan pada mereka?”
Jawaban Lu Xiao Feng benar-benar cerdik.
“Karena aku pun tidak tahu.”
“Kau juga tidak tahu kenapa jalan keluar itu tiba-tiba tersegel?” Hua Man Lou
terkejut.
“Tidak tahu.”
Hua Man Lou terdiam.
“Mungkin itu karena alat kontrolnya tiba-tiba tidak berfungsi, atau mungkin
karena seekor tikus kebetulan masuk dan merusak sebuah pegas di sana atau di
sini….” Lu Xiao Feng menduga-duga, tampak sebuah renungan yang dalam di
matanya. Ia menarik nafas. “Apa sebenarnya penyebabnya? Tidak ada yang tahu,
mungkin hanya Tuhan yang tahu.”
“Hanya Tuhan yang tahu?”
Lu Xiao Feng mengangguk.
“Kau tahu kenapa pelaku kejahatan selalu gagal di saat-saat terakhir?” Ia
bertanya.
“Tak tahu.”
“Karena Tuhan telah menyiapkan sebuah pukulan terakhir yang ampuh untuk
mereka, maka tidak perduli betapa cerdiknya rencana mereka, mereka akan
selalu gagal.”
“Jadi gerakan terakhir ini bukan darimu, tapi keinginan Tuhan?”
“Benar.”
Hua Man Lou tertawa.
“Mengapa kau tertawa? Kau tidak percaya padaku?”
“Kau kira aku akan mempercayaimu?” Hua Man Lou bertanya, masih sambil
tertawa.
Lu Xiao Feng menarik nafas dan menjawab dengan sebuah senyuman sedih.
“Kenapa bila aku mengatakan hal yang sebenarnya, tidak ada orang yang
percaya padaku?”
Epilog
Pintu yang menuju tangga batu itu telah dibuka, Zhu Ting yang membukanya.
Jika seseorang bisa membuat sebuah pintu seperti itu, tentu akan ada orang
yang bisa membukanya.
Banyak kejadian seperti itu di dunia. Itulah sebabnya jika kau bisa membuat
sebuah tameng yang tak dapat ditembus oleh tombak mana pun, lalu orang lain
tentu akan membuat sebuah tombak yang bisa menembus tamengmu. Tak ada
sesuatu yang “mutlak” di dunia ini.
Lu Xiao Feng duduk di tangga, sambil memandang Huo Xiu yang berada di dalam
kandang. Tiba-tiba ia mendapat perasaan bahwa kandang itu sedikit mirip
dengan sebuah sel penjara.
--- Bila seseorang berbuat salah, ia harus menanggung akibatnya. Lu Xiao Feng
menarik nafas. Ia merasa cukup puas dengan akhir semua ini. Maka
bagaimanakah akhir dari semua kejadian ini?
Si tauke sedang sibuk menggunakan sebuah segitiga kayu untuk mengukur
ketinggian gua itu. Isteri Tauke berada di sampingnya, sedang memandanginya.
Ia tahu bahwa suaminya sedang mendapat sebuah ide baru yang brilian, tapi ia
tidak bertanya. Ia tahu bahwa tidak seorang pun laki-laki di dunia ini suka
direcoki oleh seorang perempuan yang cerewet saat ia sedang berfikir.
“Apakah orang itu hendak pergi?” Tiba-tiba Zhu Ting bertanya padanya.
“Mmhmm!”
“Dan kau tidak mengantarnya?”
“Jika kau mau mengantarnya, maka aku akan ikut.”
“Tampaknya ia tidak ingin aku yang mengantarnya pergi.” Zhu Ting berkata
dengan dingin.
“Dan kau pun tidak ingin mengantarnya, kan?”
Zhu Ting mengakuinya.
“Tapi jika ia membutuhkan bantuanmu, dengan mengirimkan utusan yang
membawa sebuah pesan ke sini, kau pun akan segera membantu.”
“Itu hanya karena aku tahu jika aku membutuhkan bantuannya, ia pun akan
datang juga.”
“Tapi walaupun demikian, tidak ada saling tegur-sapa atau bicara satu sama lain
di antara kalian.”
“Datang atau tidak adalah satu persoalan, bicara atau tidak adalah persoalan lain
yang sangat berbeda.”
“Mungkin tidak ada lagi pasangan sahabat seperti kalian berdua di dunia ini.”
Isteri tauke menarik nafas.
Zhu Ting meletakkan segitiga kayu yang ia pegang dan menatap isterinya.
“Aku memutuskan untuk tinggal di sini.”
“Aku tahu.”
“Bisakah kau tinggal di sebuah tempat seperti ini?”
“Selama kau bisa, aku pun bisa.”
“Aku tidak akan menyalahkanmu jika kau tidak mau tinggal di sini.”
“Kau ingin mengusirku supaya setan kecil itu bisa menemanimu?” Isteri tauke
menatapnya dengan sengit.
“Sejak kapan kau jadi pencemburu?” Zhu Ting bergurau.
“Sekarang.”
“Sekarang?”
“Apa yang dikatakan setan kecil itu padamu?”
“Sebuah rahasia, tentunya.” Zhu Ting tersenyum.
“Rahasia apa?” Isteri Tauke kembali menatapnya dengan sengit.
“Akan kuceritakan padamu nanti, tapi sekarang….” Zhu Ting menjawab dengan
santai. “Sekarang kau boleh pergi dan mengucapkan selamat jalan padanya.”
“Aku tidak mau.”
“Kenapa tidak?”
Isteri Tauke menggigit bibirnya. “Sejak hari ini, aku tidak akan melepaskan
pandanganku darimu, tak perduli apa. Karena….”
“Karena apa?”
Isteri Tauke menatapnya, matanya yang indah penuh dengan perasaan cinta.
“Karena baru sekarang aku sadar betapa hebatnya dirimu, aku takut kalau orang
lain mencurimu dariku.” Ia berkata dengan lembut.
Lu Xiao Feng memandang mereka dari kejauhan, dan tiba-tiba menarik nafas.
“Tampaknya masalah mereka telah berakhir.”
“Memangnya apa masalah mereka?” Hua Man Lou bertanya.
“Selama beberapa tahun terakhir ini Isteri Tauke tampaknya agak kecewa dengan
si Tauke, dulu aku khawatir hubungan mereka akan merenggang.”
“Apakah Isteri Tauke merasa si Tauke terlalu pemalas?”
“Tapi sekarang ia tentu telah tahu betapa jenius suaminya.” Lu Xiao Feng
tersenyum.
“Jika bukan karena dia, kita semua mungkin telah mati di sini.” Hua Man Lou
setuju.
Setiap wanita tentu berharap bahwa ia bisa membanggakan suaminya.
Lu Xiao Feng menarik nafas lagi.
“Aku tidak terlalu mencemaskan itu, tapi kelaparan adalah soal lain.”
Ia memandang ke kandang Huo Xiu. Tapi mata Huo Xiu tampak melotot saat
menatap ShangGuan Xue-Er yang berada di luar kandang.
Xue-Er memegang sebotol saus dan dua buah biskuit, mengucapkan sesuatu
pada Huo Xiu yang terdengar seperti suara ocehan dari kejauhan bagi Lu Xiao
Feng.
Huo Xiu begitu marahnya sekarang sehingga urat-urat di lehernya tampak
menonjol keluar. Ia tiba-tiba melompat bangkit dan menyerbu ke pinggir
kandang, berusaha memukul patah jeruji besi itu. Tentu saja ia gagal. Ia
membuat kandang itu secara khusus sehingga tidak ada orang yang bisa
merusaknya.
Xue-Er berdiri di luar kandang, menatapnya dengan dingin. Ia seperti akan
berjalan pergi ketika Huo Xiu memanggilnya kembali. Mereka berdua berbincangbincang
lagi. Huo Xiu mengeluarkan suara nafas lelah, menuliskan sesuatu di
selembar kertas, dan menyerahkannya pada Xue-Er untuk ditukarkan dengan
saus dan biskuit itu. Lalu ia segera duduk di lantai dan makan dengan lahap.
“Ia masih lebih suka mati daripada memberitahu kita di mana uang itu berada?”
Hua Man Lou tiba-tiba bertanya.
“Ia tidak takut mati.”
“Karena ia benar-benar yakin bahwa kemiskinan itu lebih buruk daripada
kematian?” Hua Man Lou tertawa dengan geram.
“Tapi mungkin ia baru saja menemukan sesuatu yang lebih menakutkan daripada
kemiskinan.” Lu Xiao Feng balas tertawa.
“Kelaparan?”
Lu Xiao Feng belum menjawab ketika Xue-Er datang mendekat sambil melompatlompat
kegirangan, matanya tampak bersinar-sinar.
“Aku baru saja menjual sebotol saus dan dua buah biscuit padanya,” ia tertawa.
“Bisakah kalian tebak dengan harga berapa aku menjualnya?”
Mereka tak bisa.
“Lima puluh ribu tael, tak kurang sedikit pun!” Xue-Er dengan bangga melambailambaikan
cek yang ada di tangannya. “Aku bisa membawa cek ini, yang ditulis
olehnya, ke bank mana pun yang aku inginkan, kapan pun aku mau, dan
menukarnya dengan uang tunai.”
Lu Xiao Feng tak tahan untuk tidak tertawa.
“Hatimu memang hitam, tahu?”
“Aku ragu kau bisa menemukan saus yang lebih mahal lagi di dunia ini.” Hua Man
Lou bergurau.
“Itulah sebabnya rubah tua itu hampir jadi gila karena marah, tapi ia terpaksa
setuju.” Xue-Er menerangkan.
“Kelaparan adalah sesuatu yang menakutkan.”
“Kau berencana untuk mendapatkan semua uangnya dengan cara seperti ini?” Lu
Xiao Feng bertanya.
“Uang itu memang milik keluarga kami, jangan lupa kalau margaku juga
ShangGuan.”
“Walaupun kau berhasil mencuri 50 ribu tael perak darinya setiap hari, kau tidak
akan bisa membuatnya bangkrut selama paling sedikit setahun atau dua tahun.”
Lu Xiao Feng tertawa.
“Maka aku akan tinggal di sini dan mencuri selama 3 tahun, atau berapa pun
lamanya. Di samping itu, aku punya teman.”
“Si Tauke telah memutuskan untuk tinggal di sini?”
Xue-Er mengangguk, sebuah senyum yang misterius muncul di wajahnya. “Ia
memberitahu isterinya bahwa ia ingin tinggal di sini untuk menciptakan beberapa
buah benda yang benar-benar luar biasa. Tapi hanya aku yang benar-benar tahu
kenapa ia memutuskan untuk tinggal di sini.”
“Dan apakah penyebabnya?”
“Itu rahasia.” Xue-Er mengedip-ngedipkan matanya, senyuman di wajahnya
tampak makin misterius.
“Apa rahasianya?”
“Jika ini adalah rahasia, lalu kenapa harus kuberitahukan padamu?”
Lu Xiao Feng menatap wajahnya beberapa lama sebelum akhirnya tersenyum.
“Aku tidak tertarik pada rahasiamu itu, tapi aku agak cemas.”
“Mencemaskan apa?”
“Bila kau menukar cek ini dengan uang tunai, tidakkah orang-orang akan
bertanya dari mana kau mendapatkannya?”
“Tentu saja tidak ada yang bertanya.”
“Oh?”
“Jangan lupakan betapa aneh dan misteriusnya rubah tua ini, bahkan
bawahannya yang paling dipercaya pun tidak tahu di mana ia berada, ia selalu
melakukan sesuatu dengan cara yang misterius.”
“Tampaknya rencananya sendiri telah menggigitnya kembali.” Lu Xiao Feng
menarik nafas.
“Tentu saja,” Xue-Er tertawa. “Jika bukan karena dia sendiri, tidak mungkin aku
bisa menguras uang itu darinya dengan cara semudah ini.”
Nasib manusia tidak lebih daripada hasil ciptaannya sendiri, itulah sebabnya
orang yang paling tulus dan jujur selalu mendapat keberuntungan.
Masih sambil tersenyum, Lu Xiao Feng berdiri dengan lambat. “Kau boleh tinggal
di sini dan mendapatkan semua uang yang bisa kau dapatkan darinya.
Sementara itu, bisakah kau dapatkan beberapa kendi arak darinya untukku?”
“Kau… kau akan pergi sekarang juga?” Xue-Er menatapnya.
“Jika aku tinggal di tempat seperti ini, aku akan terkejut jika aku tidak mati
karena bosan sebelum tiga hari berlalu.” Lu Xiao Feng tertawa.
“Kau tidak ingin bertanya padaku tentang rahasiaku?”
“Tidak.”
Mata Xue-Er berputar-putar. Tiba-tiba ia tersenyum. “Sebenarnya,
memberitahumu juga tidak apa-apa, kau akan mengetahuinya cepat atau
lambat.”
Lu Xiao Feng tampaknya tidak keberatan.
“Sebabnya ia mau tinggal di sini adalah karena ia jatuh cinta padaku dan aku
juga jatuh cinta padanya.”
Lu Xiao Feng tertawa.
“Aku tahu kau tidak percaya,” Xue-Er meneruskan dengan santai. “Tapi bila aku
nanti menikah dengannya, maka kau terpaksa harus mempercayainya.”
“Kau akan menikah dengannya?” Lu Xiao Feng tak tahan untuk tidak bertanya.
“Lalu bagaimana dengan Isteri Tauke?”
“Kenapa seorang tauke hanya boleh punya seorang isteri tauke?” Xue-Er
bertanya. “Jika kau bisa memiliki empat alis, kenapa si Tauke tidak bisa
mempunyai 2 orang isteri tauke?”
Lereng gunung itu telah berada di bawah sinar matahari terbenam, Lu Xiao Feng
berjalan menelusuri lereng itu. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Setelah
berjalan beberapa lama, tiba-tiba ia memecahkan kesunyian itu.
“Setan kecil itu tentu sedang berdusta lagi.”
“Mmhmm!” Hua Man Lou setuju.
“Si tauke tidak gila, kenapa ia mau mengambil setan kecil seperti dia menjadi
isteri tauke?”
“Tentu saja ia tidak akan mau.”
Lu Xiao Feng berjalan dalam diam untuk beberapa lama.
“Tapi si tauke adalah seorang bajingan, kadang-kadang ia bisa berbuat gila.”
Tiba-tiba ia bicara lagi.
“Dan isteri kecil si tauke itu juga seorang setan kecil.”
“Maka sebaiknya kau bergegas kembali dan berusaha membujuk bajingan itu
untuk mengenyahkan ide gila itu dari fikirannya.”
“Mengapa bukan kau yang pergi sendiri?”
“Kau kan tahu kalau dia dan aku telah lama tidak bicara satu sama lain.”
“Jika urusan ini tidak benar, lalu bukankah si tauke akan menganggap kita
berdua sebagai ‘kulit kacang’?”
{Catatan: kulit kacang adalah idiom untuk menyebut orang yang bodoh.}
“Memangnya kenapa kalau menjadi ‘kulit kacang’ sekali-sekali?”
“Tampaknya siapa pun yang menjadi temanmu tak bisa tidak harus mengobati
penyakitmu dan akhirnya menjadi sedikit gila juga.” Hua Man Lou menarik nafas.
Dan ia terpaksa pergi juga.
Lu Xiao Feng, seperti orang tolol, duduk di pinggir jalan dan menunggu.
Untunglah jalan ini sangat terpencil, selain dari seorang nenek tua yang sedang
memetik buah liar, tidak ada lagi orang yang lewat. Ia tidak menunggu terlalu
lama ketika Hua Man Lou akhirnya kembali.
“Bagaimana?” Lu Xiao Feng segera bertanya.
“Kau tolol, dan aku juga.” Hua Man Lou memasang muka serius.
“Jadi semua itu tidak benar?”
“Mereka punya sebuah rahasia, Zhu Ting mengangkat Xue-Er sebagai puterinya.”
Lu Xiao Feng tertegun mendengar berita itu.
“Kau tahu kalau setan kecil itu sedang berdusta, dan kau masih mau percaya,
kenapa?” Hua Man Lou menarik nafas dan tertawa sedih.
Lu Xiao Feng menarik nafas dan tertawa sedih juga. “Karena aku bukan hanya
seorang bajingan, aku pun seorang keledai dungu.”
Saat ia mengangkat kepalanya, kebetulan terlihat Xue-Er sedang mengejar
mereka dari belakang.
“Apakah kalian melihat ada orang yang lewat beberapa saat yang lalu?” Ia
bertanya sambil berusaha mengambil nafas.
“Hanya seorang nenek pemetik buah.” Lu Xiao Feng menjawab.
Xue-Er hampir melompat saat mendengar ucapan itu.
“Nenek itu tentu kakakku.”
“Kakakmu? ShangGuan FeiYan?”
Xue-Er mengangguk, matanya tampak bersinar-sinar. “Baru sekarang aku tahu
bahwa ia belum mati, ia sangat pintar memalsukan kematiannya. Sesudah kalian
pergi tadi, aku turun ke….”
Lu Xiao Feng tidak menunggu ucapannya selesai sebelum membalikkan tubuhnya
dan pergi. Bukan hanya pergi, tapi ia juga menarik tangan Hua Man Lou.
“Aku tidak perduli apa yang kau katakan kali ini, aku tidak mau terperdaya lagi!
Aku bahkan tidak mau mendengarkan ucapanmu lagi.” Tampaknya ia telah
mengambil keputusan kali ini, ia pergi dengan tergesa-gesa.
Xue-Er memandangi kepergian mereka, ia seolah-olah terhipnotis, baru kemudian
ia akhirnya menarik nafas dengan lembut.
“Kenapa bila aku mengatakan hal yang sebenarnya, tidak ada yang percaya
padaku….” Ia bergumam pada dirinya sendiri.


TAMAT
Load disqus comments

0 komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top