Senin, 02 April 2012

DEWA ARAK - Pedang Bintang

Serial Dewa Arak
Aji Saka

Hari masih pagi, ketika di kaki lereng Gunung Waru
berkelebat beberapa bayangan yang bergerak cepat
menuju ke puncak. Menilik dari gerakan yang ratarata
ringan dan gesit, dapat diketahui kalau bayanganbayangan
itu adalah orang-orang persilatan yang
berkepandaian cukup tinggi
Tentu saja berkelebatnya bayangan-bayangan itu
segera diketahui para murid Perguruan Tangan Sakti yang
bermarkas di sana. Maka murid-murid itupun segera
memberitahukan hal tersebut kepada kakak seperguruan
mereka.
Ketika berita itu sampai di telinga tiga orang kakak
seperguruan mereka yang bernama Seta, Satria dan Mega,
tokoh-tokoh yang berdatangan itu sudah tiba di depan
pintu gerbang Perguruan Tangan Sakti yang cukup luas.
Sedangkan para murid Perguruan Tangan Sakti yang bertugas
jaga di sana hanya mengawasi dengan sikap
waspada.
“Wanayasa, keluar kau! Serahkan itu!”
teriak salah seorang yang datang itu.
“Benar, serahkanlah pedang itu…..!” sambung yang
lain.
“Cepat, Wanayasa! Kalau tidak, jangan salahkan kalau
aku terpaksa menerobos masuk menggunakan kekerasan!”
ancam seorang yang bertubuh tinggi besar, berteriak
tak sabar. Tangannya yang besar dan kekar berotot
nampak menggenggam sebatang tongkat yang terbuat dari
baja putih.
Tokoh itu berjuluk si Kerbau Gila. Seorang tokoh sesat
yang terkenal memiliki ilmu kepandaian tinggi dan bertenaga
kuat. Apalagi ilmu tongkatnya juga dahsyat. Entah
berapa banyak tokoh golongan putih yang mencegah sepak
terjang si Kerbau Gila, tewas di tangannya.
Kemenangan demi kemenangan yang diraihnya
membuat si Kerbau Gila ini manjadi sombong dan jumawa.
Pikirnya, selain datuk-datuk dunia persilatan, tidak ada lagi
tokoh yang bisa menandinginya!
Karena keyakinannya yang besar, si Kerbau Gila segera
memisahkan diri dari orang-orang yang bersamanya.
Dengan langkah lebar sambil menggenggam tongkat,
dihampirinya pintu gerbang Perguruan Tangan Sakti.
Tentu saja melihat tindakan si Kerbau Gila itu, tokohtokoh
persilatan lainnya menjadi kawatir. Sebab mereka
takut kalau-kalau keduluan laki-laki tinggi besar itu. Maka,
begitu si Kerbau Gila ini menghampiri pintu gerbang,
mereka segera berbondong-bondong ikut melangkah maju.
Tapi baru beberapa tindak saja, terdengar suara berderak
keras disusul bergeraknya pintu gerbang itu. Si
Kerbau Gila beserta para tokoh persilatan yang mengikuti
di belakangnya, serentak menghentikan langkah. Mereka
semua sama-sama memandang ke arah pintu gerbang itu
sambil memasang sikap waspada.
Perlahan-lahan pintu gerbang itu terbuka. Dari balik
pintunya, muncul belasang sosok yang kemudian dengan
gagahnya melangkah ke luar.
Laki-laki tingi besar yang berjuluk si Kerbau Gila itu
menatap satu persatu belasan wajah yang berdiri beberapa
tombak di hadapannya. Ia mencoba menduga-duga, mana
di antara mereka yang bernama Ki Wanayasa.
“Siapa di antara kalian yang bernama Wanayasa?!
Majulah! Dan berikan itu padaku!” ucap si
Kerbau Gila keras dan kasar.
Belum sempat salah satu dari belasan orang itu
menyahut, terdengar suara tawa bergelak. Tak lama
kemudian, salah seorang dari belasan orang yang berdiri di
belakang si Kerbau Gila melesat maju ke depan.
“Ha..ha…ha….! kau jangan mau menang sendiri,
Kerbau Gila! Dikira hanya kau saja yang berniat memiliki
? Aku dan semua orang yang berada di
belakangmupun mempunyai niat yang sama.”
Si Kerbau Gila menoleh ke arah orang yang baru saja
bicara lantang yang kini telah berada setengah tombak di
samping kanannya. Untuk sesaat dia agak terkejut melihat
seseorang yang bertubuh kecil kurus. Wajahnya mirip tikus
dan berwarna merah. Rupanya dia adalah si Tikus Muka
Merah yang tak mau ketinggalan. Tokoh sesat yang
pengaruhnya merajalela di beberapa desa, dan sampai
saat ini tak ada yang berani menentangnya!
Hanya untuk sesaat si Kerbau Gila ini agak terkejut,
dan kini sudah kembali pada sikapnya semula. Sombong
dan memandang rendah orang lain.
“Apa peduliku dengan segala urusanmu, tikus got?”
ejek Kerbau Gila bernada kasar.
Wajah si Tikus Muka Merah berubah semakin merah
mendengar ejekan kasar itu. Seumur hidupnya, baru kali
ini dirinya dihina orang. Kemarahan yang hebat, kini
membakar hatinya. Pada saat dia sangat ditakuti sampai di
beberapa desa, tapi kini dihina si Kerbau Gila begitu saja.
Memang nama besar si Kerbau Gila telah didengarnya,
maka tentu saja hatinya menjadi gentar juga. Walaupun
belum dibuktikan kebenarannya.
“Kerbau Gila,” ucap si Tikus Muka Merah mencoba
bersikap tenang, sungguhpun nada suaranya tetap
terdengar gemetar dan penuh tekanan. “Kalau tidak
mengingat urusan yang sangat penting ini, saat ini juga aku
sudah turun tangan untuk menghancurkan mulutmu yang
telah begitu lancang menghinaku. Tapi biarlah. Kalau tidak
sekarang, nantipun jangan harap kau bisa lolos dari
tanganku!” sambungnya, berusaha memberanikan diri,
karena di hadapan orang banyak.
“Keparat!” Kerbau Gila berteriak memaki. Ia marah
bukan main mendengar ucapan Tikus Muka Merah yang
begitu merendahkan dirinya. Hampir-hampir saja diterjang
laki-laki kurus berwajah merah itu. Untung saja segera
teringat akan tujuannya datang ke Gunung Waru ini. Maka
segera diredam amarahnya. Tapi sempat juga dikeluarkan
sebuah ancaman yang berbau maut.
“Berhati-hatilah kau, tikus got. Sehabis mengambil
, aku akan mencarimu ke manapun.
Dan…..kukuliti dagingmu!”
Setelah puas mengancam, Kerbau Gila kini
mengalihkan perhatiannya kepada belasan orang yang
keluar dari pintu gerbang Perguruan Tangan Sakti.
“Jawab pertanyaanku sebelum kesabaranku hilang.
Siapa di antara kalian yang bernama Wanayasa?!” bentak
Kerbau Gila.
“Apa urusanmu mencari guru kami?” tanya Seta, salah
seorang dari tiga orang yang berdiri paling depan.
“O, jadi kalian ini murid-murid Wanayasa?’ tanya
Kerbau Gila lagi, bernada kurang ajar sambil
memperhatikan Seta yang bertubuh tinggi kurus dan
berkumis tipis. Kulitnya coklat sawo matang.
Seta hanya mengangguk. Masih dicobanya untuk
bersabar, walaupun kemarahannya sejak tadi telah bergolak
melihat kekurangajaran orang yang berdiri di
hadapannya ini. beginya kemarahan hanya akan mendatangkan
kerugian.
“Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian!” bentak
si Kerbau Gila keras. “Aku hanya mempunyai urusan
dengan Wanayasa! Ayo, panggil dia dan cepat
menemuiku!”
Sret! Sret!
Bagai dikomando, belasan murid Perguruan Tangan
Sakti yang berdiri di belakang Seta, bersama-sama
menghunus pedangnya. Para murid Perguruan Tangan
Sakti itu sudah tidak sanggup lagi menahan amarah
melihat sikap si Kerbau Gila yang telah keterlaluan
menghina guru mereka. Bahkan Satria dan Megapun
sudah bersiap-siap menyerang. Kalau saja tidak menghormati
kakak seperguruan, mungkin sudah sejak tadi
mereka menerjang si Kerbau Gila yang keterlaluan itu.
“Tahan….!” Teriak Seta mencegah tindak lanjut adikadik
seperguruannya.
Kemudian dengan sikap masih tenang, dihadapinya si
Kerbau Gila.
“Kerbau Gila! Perlu kau ketahui. Bahwa setiap persoalan
apapun yang menyangkut guru kami, juga menjadi
wewenangku untuk mengurusnya. Apapun bentuk persoalan
itu. Apalagi hanya persoalan denganmu, yang
sangat sepele ini. Jangankan guruku. Akupun mampu
mengatasinya!” ujar Seta tandas.
“Keparat! Kau tidak akan mampu mengurus masalah
ini. Panggil Wanayasa. Cepat, sebelum kesabaranku
hilang!”
“Sudah kukatakan tadi. Semua urusan yan menyangkut
guruku, apapun bentuk urusan itu, telah diserahkan
padaku untuk mengurusnya.”
“Baiklah!” si Kerbau Gila itu terpaksa mengalah.
“Karena kau telah mengaku wakil Wanayasa, maka cepat
serahkan itu padaku!” desak Kerbau Gila.
“?’ Seta mengerutkan keningnya, dan
untuk sesaat lamanya tercenung. Tentu saja berita
mengenai pedang itu telah didengarnya. Sebilah pedang
yang telah membuat dunia persilatan gempar. Kabarnya
itu dapat menurunkan ilmu-ilmu peninggalan
Ki Gering Langit, tokoh persilatan yang pernah
mengalahkan datuk-datuk dunia persilatan di empat
penjuru angin! Itulah sebabnya semua tokoh persilatan tergiur
untuk mencari dan mendapatkan pedang itu.
“Ya!” ulang Kerbau Gila keras, karena melihat pemuda
di hadapannya terbengong.
“Hah!” Seta sedikit terkejut. “Luar biasa! Kau meminta
pada kami? Apa aku tidak salah dengar,
Kerbau Gila? Sepanjang yang kuketahui, guruku tidak
memiliki . Ki Gering Langitlah yang memilikinya.
Minta padanya, bukan pada kami.”
“Tidak usah banyak alasan! Kau tinggal pilih. Berikan,
atau mampus?!” gertak si Kerbau Gila.
“Tidak!” jawab Seta tegas.
“Kalau begitu, mampuslah!” si Kerbau Gila segera
menerjang Seta. Dalam kemarahannya yang memuncak,
laki-laki tinggi besar itu langsung menyerang dengan
tongkatnya. Angin menderu-deru hebat mengawali
serangannya.
“Menyingkir kalian semua!” perintah Seta pada adikadik
seperguruannya.
Tanpa diperintah dua kali, Satria, Mega dan para murid
Perguruan Tangan Sakti lainnya segera menghindar dari
situ.
Bagai dikomando, begitu si Kerbau Gila telah
menyerang Seta, Tikus Muka Merah dan tokoh-tokoh
persilatan lainnyapun meluruk menyerang murid Perguruan
Tangan Sakti lainnya.
Tikus Muka Merah segera menerjang Satria, yang
paling dekat dengannya. Terpaksa Satria melayaninya.
Begitu juga para murid Perguruan Tangan Sakti. Mereka
semuapun diserbu puluhan orang yang sejak tadi bergerombol
di belakang si Kerbau Gila.
Tentu saja hal ini amat mengejutkan Seta dan adik-adik
seperguruannya. Mereka tidak punya pilihan lain lagi
kecuali mempertahankan diri. Bahkan kalau mungkin,
melawan sekuat tenaga dan balas menyerang. Para murid
Perguruan Tangan Sakti yang masih berada di dalam,
segera berbondong-bondong keluar, membantu kakakkakak
seperguruannya. Memang, para murid yang keluar
sejak tadi adalah yang memiliki tingkat kepandaian paling
tinggi. Mereka terdiri dari tiga orang murid kepala, Seta,
Satria dan Mega. Dan tiga belas orang murid yang setingkat
di bawah mereka.
Sudah dapat diduga, maka terjadilah pertarungan
semrawut di lapangan yang luas itu, antara para murid
Perguruan Tangan Sakti melawan para pemburu pedang
pusaka milik Ki Gering Langit.
Di antara semua pertarungan itu yang paling dahsyat
adalah pertarungan antara Seta melawan si Kerbau Gila.
Laki-laki tinggi besar ini adalah seorang tokoh sesat yang
memiliki kepandaian tinggi. Terutama ilmu tongkatnya
yang bernama ‘Ilmu Tongkat Angin Badai’. Boleh dibilang,
sekali tongkatnya digunakan sudah dapat dipastikan kalau
nyawa lawan melayang. ‘Ilmu Tongkat Angin Badai’ itu
memang luar biasa. Dan itu dirasakan Seta secara
langsung yang menghadapi si Kerbau Gila.
Sejak awal, si Kerbau Gila itu menyerang lewat sapuan
tongkatnya ke arah kaki. Dan hembusan angin dahsyat
dirasakan betul oleh Seta. Angin akibat sapuan tongkat itu
bisa membuat orang yang kurang kuat tenaga dalamnya
akan terlempar. Suara menderu-deru mengiringi serangan
tongkat itu. Sehingga kalau saja Seta tidak memiliki tenaga
dalam tinggi, tentu sudah terjengkang sebelum serangan
tongkat itu mengenai sasaran.
Akan tetapi, Seta adalah salah satu murid andalan Perguruan
Tangan Sakti. Maka saat melihat sambaran tongkat
yang menyapu kakinya, sikapnya begitu tenang. Hanya
dengan lompatan sederhana, Seta telah membuat sapuan
tongkat Kerbau Gila itu menyambar tempat kosong, lewat
di bawah kakinya. Dengan cepat, murid andalan Perguruan
Tangan Sakti itu segera membalas dengan seranganserangan
yang tak kalah dahsyatnya. Sebentar saja
keduanya sudah terlibat dalam pertarungan sengit.
Seperti halnya Seta, Satriapun menghadapi lawan yang
amat tangguh, yakni Tikus Muka Merah. Laki-laki kurus ini
adalah tokoh sesat yang memiliki kepandaian tinggi. Tak
terhitung tokoh golongan putih yang tewas di tangannya.
Malah sebagian besar dari mereka tewas, di saat Tikus
Muka Merah belum mengeluarkan senjata andalannya
berupa sepasang tombak pendek berwarna hitam mengkilat!
Akan tetapi, lawannya kali ini adalah Satria, salah seDEWA
orang murid kepala Perguruan Tangan Sakti. Bahkan juga
murid kesayangan Ki Wanayasa! Jadi, walaupun Tikus
Muka Merah telah berusaha sekuat tenaga untuk merubuhkan
Satria, tetap saja tidak mampu melakukannya.
Jangankan untuk merubuhkan, mendesakpun tidak
mampu. Padahal, segenap kemampuan yang dimilikinya
telah dikerahkan. Bahkan pelahan namun pasti, Satria
mulai mendesaknya.
Tikus Muka Merah akhirnya sadar kalau Satria terlalu
tangguh jika dihadapi dengan tangan kosong. Jelas dia
kalah segala-galanya. Baik tenaga, kelincahan, maupun
ilmu silat. Kalau hal ini dipaksakan, sudah dapat dipasikan
dia akan rubuh di tangan Satria. Maka pantaslah kalau Ki
Wanayasa menamakan perguruan silatnya, Perguruan
Tangan Sakti. Memang, ilmu silat tangan kosong perguruan
ini luar biasa. Pertahanannya sulit ditembus. Sedangkan
penyerangannya begitu dahsyat dan bertubi-tubi laksana
gelombang.
Maka, tanpa ragu-ragu lagi Tikus Muka Merah langsung
mengeluarkan senjata andalannya yang berupa sepasang
tombak pendek berwarna hitam mengkilat. Kini dengan
senjata andalannya, laki-laki kurus bermuka merah itu
berusaha mendesak Satria.
Satria terperanjat ketika merasakan desakan lawan
yang menggunakan sepasang tombak pendek itu.
Kemampuan Tikus Muka Merah menjadi berlipat ganda!
Maka Satria tidak mau mengambil resiko. Cepat-cepat
dicabut pedangnya dan langsung dikerahkan ilmu
andalannya ‘Ilmu Pedang Pembunuh Naga’.
Dengan ‘Ilmu Pedang Pembunuh Naga’, memang
gerakan-gerakan Satria menjadi luar biasa. Belum lagi ilmu
pedang itu sendiri yang memang dahsyat. Tidak heran
dalam bebrapa gebrakan saja, Tikus Muka Merah mulai
terdesak hebat. Dan pada jurus yang kedelapan, sebuah
sabetan pedang Satria berhasil membacok leher laki-laki
kurus itu.

Crakkk!
Tanpa dapat berteriak lagi, tubuh Tikus Muka Merah
rubuh ke tanah dengan leher hampir putus. Darah
langsung muncrat dari luka sayatan di lehernya. Tokoh
sesat itupun tewas seketika, setelah meregang nyawa
sesaat.
Sementara itu pertarungan yang berlangsung antara
Seta melawan Kerbau Gila masih berlangsung sengit.
Walaupun laki-laki tinggi besar itu telah menggunakan
senjata andalannya, dan Seta hanya bertangan kosong,
tapi tetap saja Kerbau Gila tidak mampu berbuat banyak.
Jurus ‘Delapan Cara Menaklukkan Harimau’ yang digunakan
Seta terlalu tangguh buat si Kerbau Gila. Pertahanan
Seta begitu kokoh, membuat setiap serangan Kerbau Gila
kandas di tengah jalan. Sementara serangan balasan dari
pemuda murid Perguruan Tangan Sakti itu semakin lama
semakin bertambah saja kekuatannya. Sehingga dalam beberapa
puluh jurus saja Kerbau Gila sudah terdesak hebat.
Sampai akhirnya pada jurus kelima puluh delapan, sebuah
totokan ujung kaki kanan Seta dengan keras menghantam
lutut kiri laki-laki tinggi besar itu.
Tukkk!
Si Kerbau Gila meringis. Totokan ujung kaki Seta yang
ditunjang tenaga dalam tinggi itu membuat sambungan
tulang lututnya terlepas. Rasa sakit yang hebatpun
seketika menyerang lututnya. Akan tetapi, tidak sedikitpun
terdengar keluhan dari mulut Kerbau Gila. Sifat sombong
melarangnya bersikap cengeng di hadapan lawan. Dan
saat Kerbau Gila sempoyongan, tiba-tiba Seta menyerang
dahsyat.
Pemuda murid Perguruan Tangan Sakti itu mengibaskan
kaki kirinya sambil berputar. Inilah salah satu gerakan
‘Delapan Cara Menaklukkan Harimau’.
Desss!

“Aaaakh….!”
Diiringi suara berdebum keras, tubuh si Kerbau Gila itu
ambruk ke tanah. Tidak bangun-bangun lagi.
***
Sementara itu di arena lain, pertarungan antara muridmurid
Perguruan Tangan Sakti dengan para pemburu
pusaka Ki Gering Langit kian menghebat. Muridmurid
tingkat rendahan perguruan itu sudah banyak yang
berguguran. Begitu pula dari pihak para pemburu pusaka
Ki Gering Langit.
Baru saja Seta hendak terjun lagi dalam kancah
pertarungan itu, tiba-tiba terdengar suara tawa tergelak.
Sesaat kemudian muncul sesosok tubuh tinggi besar dan
berkulit hitam legam. Dua tangannya yang kekar itu
langsung diputar-putarkan di depan dada dari luar ke
dalam. Dan akibatnya sungguh dahsyat. Seketika bertiup
angin keras yang mampu membuat mereka yang sedang
bertarung bagai dilanda angin ribut. Padahal jarak orang
bertubuh tinggi besar itu dengan arena pertempuran tak
kurang dari lima tombak.
Pertarungan seketika berhenti. Seluruh pasang mata
kini tertuju pada manusia tinggi besar yang masih berdiri
sambil terkekeh. Tak terkecuali Seta. Murid terpandai Ki
Wanayasa ini kaget bukan main melihat peragaan tenaga
dalam yang dipertunjukkan manusia tinggi besar itu. Dia
sadar kalau orang yang baru datang itu memiliki kekuatan
tenaga dalam yang berada jauh di atasnya.
Terdengar gumaman kaget dari kerumunan para
pemburu pusaka Ki Gering Langit. Rupanya banyak di
antara mereka yang mengenal laki-laki tinggi besar itu. Dia
adalah Bargola, yang merupakan datuk bagi kaum sesat.
Bagai kucing ditakut-takuti sapu lidi, kerumunan para
pemburu pusaka Ki Gering Langit kontan buyar. Mereka
semua saling mendahului melangkah mundur, karena
takut menjadi korban Bargola.
Jantung Seta berdebar keras ketika mengetahui
manusia tinggi besar ini adalah Bargola. Sungguh di luar
dugaan kalau dia saat ini berhadapan dengan tokoh yang
belum pernah terkalahkan, kecuali oleh Ki Gering Langit!
Tanpa bertempur lagi, Setapun sudah tahu kalau Bargola
tak mungkin dapat dikalahkannya. Bahkan gurunya sendiri
yang bernama Ki Wanayasa, belum tentu mampu
menandingi Bargola. Akan tetapi walau demikian Seta
merasa bertanggung jawab sebagai wakil penuh dari
gurunya. Maka tanpa sungkan-sungkan lagi ia maju
menghampiri laki-laki tinggi besar itu.
Melihat hal ini Satria dan Mega tidak mau berdiam diri
saja. Mereka memang telah mendengar kedahsyatan ilmu
Bargola. Merekapun tahu kalau Seta bukanlah tandingan
tokoh sesat itu. Namun demikian mereka segera
melangkah mengikuti di belakang Seta. Satria dan Mega
benar-benar tidak sampai hati jika harus membiarkan
kakak seperguruan mereka menentang maut sendirian.
“Merupakan kehormatan besar, seorang tokoh besar
sepertimu sudi mengunjungi tempat kami, Bargola,” ucap
Seta dengan suara yang terdengar tenang. Tapi ketegangan
yang luar biasa masih juga menyelimuti hatinya.
“Siapa kau? Menyingkirlah sebelum kesabaranku
hilang!” bentak Bargola tanpa memperdulikan ucapan
Seta.
“Namaku Seta, murid Ki Wanayasa,” jawab Seta tegas.
“O, jadi kau murid Wanayasa? Bagus. Kalau begitu
cepat panggil Wanayasa! Katakan padanya aku meminta
!” tegas Bargola dengan suara keras.
“Sayang sekali Bargola. Guruku saat ini tidak ingin
diganggu. Jadi menyesal sekali kalau aku tidak dapat
menyampaikan pesanmu!”
“He…he…he…. Kau beruntung Anak Muda. Sekarang ini
hatiku tengah gembira. Kalau tidak, sudah sejak tadi kau
telah jadi mayat! Tapi biarlah. Kalau kau tak mau
memanggil Wanayasa, aku sendiri yang akan
memanggilnya.”
Setelah berkata demikian, Bargola melangkah tenang
menuju pintu gerbang Perguruan Tangan Sakti.
“Langkahi dulu mayatku!” teriak Seta tegas. Dengan
berani dihadangnya tokoh sesat itu. dan…..
Srattt!
Cepat sekali Seta mencabut pedangnya. Ia tahu betul
kalau lawannya kali ini memiliki tingkat kepandaian yang
sulit diukur. Maka tanpa ragu-ragu lagi segera dicabut
sebjata. Sebab, Bargola tidak bisa disamakan dengan
Kerbau Gila! Kapandaian Bargola jauh di atas Kerbau Gila.
“Ha…ha…ha…!” Bargola tertawa terbahak-bahak. “Maju
dan seranglah aku, kunyuk! Ingin kulihat sampai di mana
kelihaian ‘Ilmu Pedang Pembunuh Naga’ milik gurumu itu!”
“Hiyaaaa….!” Teriak Seta keras. Tubuhnya melesat
menerjang Bargola dengan satu tusukan lurus ke arah
perut. Cepat sekali seangan yang dilakukan Seta itu.
“Hm…..” dengus Bargola.
Dengan gerakan yang seperti malas-malasan, Bargola
memutar-mutarkan kedua tangannya di depan dada dari
luar ke dalam. Angin keras seketika timbul dari kedua
tangan yang berputaran itu. begitu kerasnya angin itu
sehingga membuat tubuh Seta tertahan, tak dapat maju.
Tubuhnya bagai menembus dinding yang tidak nampak.
Seta menggertakkan giginya. Dikerahkan seluruh
tenaganya, mencoba meneruskan serangannya yang
kandas sebelum mencapai sasaran. Sekujur tubuhnya
terutama tangannya yang terjulur menusukkan pedang bergetar
keras. Sementara Bargola tenang-tenang saja sambil
memuta-mutarkan kedua tangannya di depan dada.
Sementara Satria dan Mega yang kawatir melihat
keadaan kakak seperguruan mereka yang kritis, segera
mencabut pedangnya hampir bersamaan.
Srattt! Srattt!
Dengan gerakan lincah dan indah, Satria dan Mega
segera meloncat ke depan dan bersalto di udara melewati
kepala Bargola. Dalam keadaan masih di atas, mereka
menukik menyerang bagian atas tubuh Bargola dengan
tusukan pedang.
Hebat juga serangan kedua orang murid Perguruan
Tangan Sakti itu. semua yang ada di situ dan menyaksikan
pertempuran mereka sampai menahan nafas melihat
kedahsyatan serangan itu. Mereka semua merasa tegang
menantikan bagaimana caranya datuk kaum sesat itu
menghadapi serangan gabungan dalam keadaan yang
tidak menguntungkan.
Rupanya menghadapi keadaan yang sulit itu, Bargola
hanya mendengus. Putaran tangannya mendadak bertambah
cepat dan berakibat dahsyat. Seta yang sejak tadi
asih memaksa maju tanpa ampun lagi terlempar ke
belakang. Tampak dari sudut bibirnya menetes darah
segar.
Setelah merubuhkan Seta dengan kecepatan
mengagumkan, Bargola mengibaskan kedua tangannya ke
atas. Hasilnya tusukan pedang Satria dan Mega tersampok
tangna telanjang datuk kaum sesat itu.
Trak! Trak!
Satria dan Mega merasakan seluruh tubuh mereka bergetar
hebat. Terutama sekali tangan yang meng-genggam
pedang yang bagaikan lumpuh. Tubuh kedua murid Perguruan
Tangan Sakti itu berputar di udara, lalu hinggap beberapa
depa di belakang Bargola seraya terhuyung-huyung.
Wajah keduanya nampak agak pucat karena sampokan
tangan Bargola memang dahsyat sekali.
Bargola balikkan tubuhnya menghadap Satria dan
Mega. Kedua murid kepala itu merasakan jantungnya berdebar
hebat. Datuk kaum sesat itu memang memiliki sorot
mata yang menggiriskan.
Dengan menggertakkan gigi, Satria dan Mega berusaha
menghilangkan debaran jantung mereka. Kini kedua
murid kepala itu bersama-sama mulai memasang jurus
pembukaan ‘Ilmu Pedang Pembunuh Naga’. Walaupun
keduanya sadar kalau ilmu yang diandalkan itu tidak
berarti apa-apa bagi Bargola, tapi tetap saja meraka bersiap-
siap menyerang kembali.
“Manusia-manusia tak tahu diri!” teriak Bargola dengan
suara mengguntur. “Sebenarnya aku tidak berniat bermainmain
pada kalian. Tapi karena terlalu kurang ajar, maka
aku tidak sungkan-sungkan lagi memberi pelajaran pada
kalian!”
“Hiyaaat….!” Teriak Satria sambil melompat menerjang
Bargola, begitu datuk sesat tiu menyelesaikan katakatanya.
“Hiyaaa….!” Mega menyusul menerjang pula.
Hebat sekali serangan kedua kakak beradik
seperguruan ini. apalagi dilakukan secara bersamaan. Tapi
kini yang diserang adalah sosok yang telah terkenal
kehebatannya. Bahkan boleh dibilang sebagai pentolan
kaum sesat. Tokoh yang menggiriskan ini seolah-olah
hanya diam saja menantikan serangan itu. Dan ketika
serangan itu dekat, kedua tangannya bergerak cepat
bukan main.
Satria dan Mega tidak tahu lagi apa yang terjadi! Yang
jelas, tangan mereka yang menggenggam pedang terasa
lumpuh. Dan di lain saat pedang mereka sudah berpindah
tangan! Rupanya saat serangan Satria dan Mega telah
dekat, Bargola cepat menotok pangkal lengan mereka
dengan mengandalkan kecepatan geraknya. Di saat tanagn
mereka lumpuh, datuk kaum sesat itu merampas pedangpedang
itu.
Wajah Satria dan Mega seketika berurbah pucat.
Sekilas mereka melirik Seta yang masih terbungkukbungkuk
menahan luka dalamnya, lalu beralih memandang
Bargola yang telah merampas pedang begitu mudahnya.
“Ha..ha…ha…!” Bargola tertawa bergelak. Kemudain
dengan sedikit menggerakkan jari-jari tangannya, dipatahpatahkannya
pedang-pedang itu.
Tiba-tiba terdengar tepuk tangan yang nyaring sekali,
begitu Bargola menyelesaikan aksinya. Dan begitu suara
tepukan berhenti terdengar sebuah suara pujian yang
mengandung ejekan.
“Luar biasa! Ternyata nama besar Bargola bukan
omong kosong belaka. Kini telah kulihat sendiri kebenaran
berita itu. Buktinya tiga orang pemuda yang sama sekali
tidak terkenal bisa dikalahkan.”
Merah padam wajah Bargola. Bahkan kedua telinganya
seperti terasa sakit. Disertai kemarahan menggelegak,
ditolehkan kepalanya ke belakang kearah sumber suara
tadi.
Di sebelah Seta ternyata telah berdiri seorang kakek
yang berusia sekitar enam puluh tahun. Tubuhnya tinggi
kurus, agak bongkok dan berjenggot putih panjang hingga
mencapai dada. Begitu melihat kakek ini, Satria dan Mega
segera maju menghampiri dan memberi hormat.
“Guru….” Satria dan Mega menyebut berbarengan.
Kakek bongkok udang yang ternyata Ki Wanayasa
hanya mengibaskan tangannya perlahan.
“Menyingkirlah. Bargola bukan lawan kalian.”
Tanpa diperintah dua kali, Satria dan Mega segera
menyingkir ke balik punggung gurunya disebelah Seta. Kini
mereka menyadari kelihaian Bargola yang luar biasa itu.
Bargola mendengus sebentar.
“Jadi kau rupanya yang bernama Wanayasa, Ketua
Perguruan Tangan Sakti itu?! Kebetulan sekali kau keluar,
jadi aku tak perlu repot-repot lagi mencarimu ke dalam!”
kata Bargola.
Ki Wanayasa menatap tajam dan masih tetap bersikap
tenang.
“Setahuku aku tidak pernah mempunyai urusan
denganmu Bargola. Lalu mengapa tiba-tiba mencariku?!
Apa ada hubungannya dengan milik Ki
Gering Langit itu?” ujar Ki Wanayasa seperti minta penjelasan.
“Tentu saja ada. Justru kedatanganku ke mari hanya
untuk mengambil itu!” tegas Bargola
cepat.
“Sayang sekali…. Kau salah alamat Bargola! Aku sama
sekali tidak tahu tentang pedang yang kau cari itu,” ujar Ki
Wanayasa.
“Maksudmu….?” Bargola terperangah kaget.
“Ya…..” Ki Wanayasa menganggukkan kepalanya.
“ itu tidak ada padaku!”
“Keparat!” teriak Bargola geram. Datuk sesat iu
memang percaya akan ucapan itu. Ia tahu, seorang
pemimpin perguruan besar seperti Ki Wanayasa tidak
mungkin akan berbohong. Entah kemarahan Bargola
ditujukan kepada siapa.
“Bagaimana Bargola?”
“Kalau begitu menyingkirlah Wanayasa. Aku akan
memberi pelajaran pada orang-orang yang tidak tahu adat
padaku!” dengus Bargola.
Setelah berkata demikian Bargola menatap tajam
ketiga orang murid kepala Perguruan Tangan Sakti yang
berada di belakang Ki Wanayasa. Sementara Ki Wanayasa
tahu kalau Bargola ingin melampiaskan kekecewaan pada
tiga orang muridnya itu. Tentu saja hal itu akan berkibat
fatal. Maka sambil tetap tersenyum, ditatapnya mata
Bargola tajam-tajam. Tapi laki-laki tua itu tidak memungkiri
kalau hatinya tegang juga.
“Kalau aku tidak mau?” tanya Ki Wanayasa
memancing.
“Terpaksa kau yang akan kusingkirkan lebih dulu!”
tegas Bargola. “Kau tinggal memilih Wanayasa. Menyingkir
atau berhadapan denganku!”
“Aku pilih yang kedua!” tegas Ki Wanayasa.
Bargola tertawa terbahak-bahak.
“Kalau begitu bersiaplah Wanayasa!” tantang Bargola.
“Menyingkirlah kalian!” perintah Ki Wanayasa pada
ketiga orang muris kepalanya.
Tanpa diperintah dua kali Seta, Satria dan Mega segera
menyingkir dari tempat itu. Hingga kini di situ tinggal Ki
Wanayasa dan Bargola yang sudah saling tatap sejarak
empat tombak.
“Silahkan Bargola,” ucap Ki Wanayasa dengan suara
tenang. Namun demikian sebenarnya jantungnya berdegup
keras dalam ketegangan yang memuncak. Ki Wanayasa
tahu betul siapa itu Bargola. Sesungguhnya dia ragu,
apakah mampu menghadapinya atau tidak. Itulah
sebabnya mengapa tanpa ragu-ragu lagi Ki Wanayasa
sudah menyiapkan ilmu andalannya ‘Delapan Cara
Menaklukkan Harimau’.
Ilmu andalan Ki Wanayasa itu adalah ilmu yang
diciptakan langsung olehnya. Dia mengambil dan
menggabung-gabungkan inti beberapa ilmu. Di antaranya
adalah jurus ‘Kelabang’, ‘Naga’, ‘Belalang’ dan
‘Kalajengking’. Sesuai dengan namanya jurus ini menitik
beratkan pada bagian-bagian penyerangan. Memang pada
dasarnya setiap ilmu selalu mempunyai jurus untuk
bertahan dan jurus untuk menyerang. Hanya saja ilmu
‘Delapan Cara Menaklukkan Harimau’. Yang lebih
ditonjolkan adalah penyerangan.
“Hm….!” Dengus Bargola.
Selesai mendengus yang menjadi ciri khasnya, Bargola
meluruk menerjang Ki Wanayasa. Kedua tangannya yang
berbentuk cakar siap menggedor dada Ketua Perguruan
Tangan Sakti ini.
Angin yang berciutan keras dan tajam mengiringi
serangan laki-laki tinggi besar itu. Ki Wanayasa yang sudha
dapat memperkirakan kedahsyatan serangan itu tidak
berani bersikap gegabah. Kesalahan sedikit saja akan
berakibat fatal. Maka untuk sementara dia tidak berani
sembarangan menangkis, tapi segera menggeser tubuhnya
ke kanan.
Akan tetapi Bargola sudah memperhitungkan hal itu.
maka begitu dilihat Ki Wanayasa menggeser ke kanan,
iapun segera menyampok ke kiri tetap mengarah ke dada
Ketua Perguruan Tangan Sakti itu.
Kali ini Ki Wanayasa tidak mempunyai pilihan lain lagi.
Terpaksa ditangkis serangan itu dengan jari-jari tangan
terbuka disertai pengerahan seluruh tenaga dalamnya.
Prattt….!
Tubuh kedua tokoh sakti itu sama-sama bergetar hebat
ketika dua pasang tangan beradu. Hanya saja tubuh Ki
Wanayasa nampak terhuyung. Jelas, kalau adu tenaga
dalam Bargola masih sedikit unggul darinya.
Bargola cukup terkejut juga. Walaupun kepandaian Ki
Wanayasa memang sudah diduganya, namun sungguh di
luar dugaan kalau tenaga dalam Ketua Perguruan Tangan
Sakti ini tinggi juga. Bahkan mungkin hampir menyamai
tenaga dalamnya sendiri! Hal ini membuat Bargola yang
memang beringas ini menjadi semakin murka.
“Hm…..” Bargola segera mengeluarkan ilmu ‘Tapak
Bara’ andalannya.
Diiringi dengusan keras, datuk itu membuka serangan
dengan tapak tangan kanan terbuka ke arah dada Ki
Wanayasa. Sementara tangan kiri yang jari-jarinya terbuka
bersilang di depan dada.
Ki Wanayasa terperanjat bukan main. Kekagetannya itu
bukan karena serangan melainkan akibat angin panas
yang mendahului menyergapnya sebelum serangan
Bargola tiba. Sebagai orang yang telah kenyang
pengalaman, laki-laki tua ini tidak mau bertindak gegabah.
Cepat-cepat dielakkan serangan itu dengan melentingkan
tubuh ke samping sambil berputar di udara menjauh. Hawa
panas itu membuat dadanya terasa sesak.
Tentu saja Bargola tidak tinggal diam. Datuk beringas
yang tengah murka ini segera memburunya dengan
serangan-serangan yang dahsyat. Sebentar saja Ki
Wanayasa telah terdesak. Ia hanya mengelak setiap
serangan Bargola, tanpa berani menangkis. Sesekali
memang balas menyerang tapi segera ditariknya kembali
begitu dilihatnya Bargola akan memapak.
Keadaan Ki Wanayasa ini tentu saja diketahui Satria,
Seta dan Mega. Mereka ingin segera membantu tapi
bagaimana caranya? Jangankan ikut bertarung, untuk
mendekat dalam jarak tiga tombak saja tidak sanggup.
Hawa panas begitu terasa menyengat!
Ki Wanayasa sadar jika keadaan ini terus berlangsung
lambat laun akan rubuh di tanan Bargola yang dahsyat itu.
hawa panas yang ditimbulkan ilmu ‘Tapak Bara’ Bargola
benar-benar membuatnya tersiksa. Sekujur wajah dan
tubuhnya sduah dibasahi keringat. Bahkan wajahnya
nampak memerah bagai kepiting rebus. Dadanyapun
terasa sesak.
Dan pada jurus ketiga belas, Ki Wanayasa tidak mampu
lagi mengelak. Bargola telah memojokkannya sedemikian
rupa. Akibatnya dia tidak menemukan jalan keluar kecuali
menangkis untuk menyelamatkan selebar nyawanya.
Dengan terpaksa disambutnya tapak kanan Bargola yang
merah membara dengan tapak tangannya.
Plak!
Tubuh Ki Wanayasa terhuyung-huyung. Kakek ini
merasakan hawa panas yang amat sangat menjalar di
sekujur tubuhnya. Tapak tangannya yang dipakai untuk
menangkis nampak hangus. Ada bau sangit daging
terbakar menyeruak dari tapak tangan itu. Sementara
Bargola hanya bergetar saja tubuhnya.
Ki Wanayasa menahan napas. Dikerahkannya seluruh
hawa murni yang dimiliki untuk mengusir hawa panas yang
menjalari sekujru tubuhnya. Untuk sesaat pertarungan terhenti.
“Ha..ha…ha…!” Bargola tertawa tergelak penuh
kemenangan! Dengan langkah lambat-lambat dihampirinya
Ki Wanayasa yang masih berusaha mengusir hawa panas
yang menjalari sekujur tubuhnya.
“Bersiaplah untuk mati Wanayasa! Pantang bagiku
membiarkan hidup seorang lawan yang berani menentangku!”
tegas Bargola. Suaranya begitu mengguntur.
Kakek bongkok udang itu masih berusaha mengusir
hawa panas yang menyengat ketika datuk itu menghampirinya.
Kini semua pandangan mata tertuju pada
Bargola yang tengah melangkah lambat menghampiri Ki
Wanayasa. Sedangkan Ki Wanayasa hanya bersikap
pasrah menanti ajal.
Sebelum niat Bargola itu terlaksana, terdengar suara
mendesing nyaring. Tak lama kemudian disusul
melayangnya beberapa buah benda berkilatan ke arah
Bargola.
“Hm….” Dengus Bargola.
Seketika kedua tangan laki-laki beringas itu bergerak
menyampok benda berkilatan yang melesat cepat ke
arahnya! Dari suara mendesing yang sangat nyaring, datuk
kaum sesat itu dapat mengetahui betapa kuatnya tenaga
dalam orang yang melemparkannya. Namun tanpa raguragu
lagi Bargola menyampok dengan tangan telanjang.
Dia benar-benar tidak merasa kawatir kalau benda-benda
berkilatan itu akan melukai tangannya. Memang, pada saat
mengerahkan ilmu ‘Tapak Bara’ kedua tangannya menjadi
kebal terhadap segala macam senjata tajam.
Trak, trak, trak! Tap!
Tiga dari empat benda berkilatan yang mengarah ke
tubuhnya terpental rubuh ketika ditangkis Bargola.
Sedangkan sebuah lagi ditangkap tangannya.
Mulanya Bargola kaget bukan main ketika merasakan
tangan yang dipergunakan untuk menyampok bergetar
hebat. Dan ketika melihat benda berkilat yang ada di
tangannya, wajahnya seketika berubah! Benda berkilat itu
ternyata adalah sebuah pisau berwarna putih. Bargola tahu
betul siapa pemilik pisau itu.
“Raja Pisau Terbang….” Gumam Bargola menyebut
suatu nama.
Belum habis ucapan itu, tahu-tahu di depan Bargola
telah muncul sesosok tubuh berperawakan sedang.
Wajahnya gagah dan menyorotkan kesabaran. Usianya
sekitar lima puluh tahun. Memang dialah tokoh yang telah
melemparkan pisau-pisau yang berwarna putih mengkilat
itu. Dia memang berjuluk Raja Pisau Terbang, seorang
tokoh beraliran putih yang disegani lawan maupun kawan.
“Sungguh tidak kusangka kalau kau bisa tersesat jauh
ke sini, Bargola….” Sindir Raja Pisau Terbang pelan.
Bargola hanya mendengus. Raut ketidak senangan
tersirat jalas pada wajahnya.
“Sayang sekali, Raja Pisau Terbang. Kali ini aku tidak
berminat untuk berdebat atau bertarung denganmu. Saat
ini aku tengah ada urusan lain yang lebih penting. Kalau
tidak, sekarangpun bisa ditentukan siapa yang lebih kuat di
antara kita. Jangan berharap kau akan semujur dulu!”
tegas datuk sesat itu. Suaranya kasar dan terdengar berat.
“Sampai kapanpun aku akan selalu siap sedia,
Bargola,” ujar Raja Pisau Terbang sambil tersenyum.
Bargola tidak menjawab. Datuk sesat itu lagi-lagi hanya
mendengus. Suatu kebiasaan buruk yang telah menjadi ciri
khasnya. Kemudian tanpa berkata-kata lagi digerakkan
tubuhnya. Tampaknya hanya seperti menggeliat, tapi tahutahu
tubuhnya telah bergeser sejauh lima tombak. Raja
Pisau Terbang hanya memandangi hingga tubuh Bargola
lenyap di kajauhan.
Melihat kepergian Bargola, apalagi setelah mendengar
bahwa tidak ada di situ, maka para tokoh
rimba persilatan pemburu Pusaka Ki Gering Langit itu satu
persatu meninggalkan tempat. Dan tak lama kemudian
yang tertinggal di situ hanya Ki Wanayasa dan muridmuridnya
serta si Raja Pisau Terbang.
Ki Wanayasa yang telah pulih dari serangan hawa
panas pada sekujur tubuhnya bergegas mengahampiri Raja
Pisau Terbang.
“Terima kasih atas pertolonganmu, Adi Kirin. Kalau
tidak……, hhh! Bargola memang hebat. Ilmu ‘Tapak
Bara’nya benar-benar dahsyat! Bahkan ilmu meringankan
tubuhnyapun luar biasa sekali….” Ucap Ki Wanayasa.
“Lupakanlah Kakang Wanayasa. Di antara kita rasanya
tidak perlu berbasa basi seperti itu. Kedatanganku ke sini
hanya secara kebetulan. Katika kulihat Bargola di Desa
Ketapang di Kaki Gunung Waru ini, aku curiga. Maka
akupun mengikutinya. Jelas ini sangat mengherankan
sekaligus mencurigakan kalau Bargola yang berada jauh di
Barat, tiba-tiba berkeliaran sampai ke Timur sini. Setelah
kuikuti, ternyata dia memang ingin ke sini. Sayang, aku
agak terlambat….” Sesal Raja Pisau Terbang yang bernama
Kirin ini sambil tersenyum kecil. “Ilmu ‘Tapak Bara’nya
memang hebat. Tapi mengenai ilmu meringankan tubuh,
rasanya masih bisa kusaingi. Kecuali terhadap tokoh yang
satu itu…. Terus terang aku takluk pada ilmu meringankan
tubuh dan kecepatan geraknya…..”
“Ki Gering Langit?” tebak Ki Wanayasa.
“Bukan. Beliau tidak masuk hitungan,” Raja Pisau
Terbang menggelengkan kepalanya perlahan.
“Lalu siapa?” tanya Ki Wanayasa. Pikirannya berputar
keras. Dan tiba-tiba mendapatkan satu nama.
“Maksudmu…… si Ular Hitam?”
“Benar,” Raja Pisau Terbang mengangguk. Ia sudah
dapat menduga ketajaman berpikir Ketua Perguruan
Tangan Sakti itu.
“Ahhh….!” Ki Wanayasa mendesah pelan.
“Dialah si pemilik ilmu meringankan tubuh yang luar
biasa. Bahkan kecepatan gerak tangannya tidak bisa
kusaingi. Kalau saja aku tidak memiliki pisau terbang,
mungkin sudah tewas di tangannya dulu….”
Ki Wanayasa mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Ya, pernah kudengar berita itu. kalau tidak salah ilmu
meringankan tubuh dan kecepatan geraknya yang luar
biasa itu adalah ilmu ‘Ular Terbang’ dan terkenal sebagai
ilmu andalannya.”
Raja Pisau Terbang hanya mengangguk.
“Kudengar selama beberapa tahun ini nama Ular Hitam
tidak pernah terdengar lagi. Apa betul begitu, Adi Kirin?”
tanya Ki Wanayasa lebih jauh.
“Benar. Aku sendiri juga heran kakang Wanayasa.
Mendadak saja ia lenyap tanpa berita bagai ditelan bumi.
Kabar yang tersiar di dunia persilatan simpang siur. Ada
yang mengatakan menyembunyikan diri untuk
menciptakan ilmu-ilmu baru yang akan digunakan untuk
membalas kekalahannya terhadap Ki Gering Langit. Berita
yang pasti tidak ada yang tahu. Mendadak saja ia lenyap
tanpa jejak…”
Ki Wanayasa termenung sejenak mendengar cerita
Raja Pisau Terbang itu, tapi tiba-tiba saja teringat sesuatu.
Ditepuknya keningnya sebentar.
“Tuan rumah macam apa aku ini. Ada tamu agung
bukannya disambut, diajak masuk dan disediakan minum.
Tapi malah dibiarkan berdiri berpanas-panas di luar!
Ahhh…. Mari masuk dulu Adi Kirin. Kita rayakan pertemuan
yang istimewa ini di dalam.”
Raja Pisau Terbang hanya tersenyum.
“Usul yang baik sekali,” ucap laki-laki setengah baya ini
gembira sambil mengikuti langkah kaki Ki Wanayasa yang
telah lebih dulu berjalan menuju ke dalam bangunan
Perguruan Tangan Sakti.
Sementara itu Satria segera menolong Seta yang
terluka cukup parah. Sedangkan Mega sibuk mengatur
adik-adik seperguruannya untuk mengurus mayat-mayat
yang bergelimpangan di tempat itu. Beberapa murid
lainnya menolong saudara seperguruannya yang terluka.






Load disqus comments

0 komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top