Senin, 02 April 2012

DEWA ARAK - Pedang Bintang 5

Serial Dewa Arak
Aji Saka

Beberapa saat lamanya, Arya buana memperhatikan

keadaan rumah tempat tinggalnya dari atas cabag
sebuah pohon. Tampak halaman depan bangunan
besar itu sepi. Hanya ada beberapa orang yang nampak
berjaga-jaga. Itupun kelihatannya tidak sungguh-sungguh.
“Ah, hari sudah hampir gelap,” desah Arya dengan
perasaan tidak sabar. Matahari memang sudah condong
ke barat. Bercak-bercak kemerahan nampak menyemburat
di ujung barat sana.
Pemuda berambut putih keperakan ini tidak sabar lagi.
Cepat dia melompat turun dadri pohon itu dan bergerak
mendekati tembok. Hanya dengan sebuah totolan ujung
kaki yang ringan di tanah, tembok batu itu telah terlompati.
“Hup….!”
Ringan seperti jatuhnya seekor kucing, didaratkan
kedua kakinya di tanah.
“Siluman Tengkorak Putih! Keluar kau!” teriak Arya
dengan suara keras.
Karuan saja teriakan itu mengejutkan para penjaga.
Langusng saja mereka datang mengurung pemuda berbaju
ungu itu. sementara yang dikurung tenang-tenang saja
sambil menenggak araknya.
Gluk….gluk….gluk….!
“Dia pasti ….” Desah salah seorang dari
penjaga itu.
“Yang membasmi gerombolan Harimau Mata Satu
itu?” tanya yang lainnya.
“Benar!” jawab orang itu lagi.
“Hm….!” Terdengar suara mendengus dari mulut Arya
buana. Suara dengusan itu menyadarkan para penjaga
akan tujuan datang ke situ. Apalagi kalau bukan
membalas dendam? Bukankah itu adalah Arya
Buana, anak dari Tribuana alias Pendekar Ruyung Maut?
Dan kini serempak para penjaga itu menyerbu Dewa
Arak dengan senjata di tangan.
Arya buana yang tahu kalau nanti akan berhadapan
dengan banyak lawan tidak mau bersikap main-main lagi.
Langsung saja dikeluarkan ilmu andalannya. Jurus
‘Delapan Langkah Belalang’ dan jurus ‘Belalang Mabuk’.
Guci, tangan dan semburan araknya semua ikut ambil
bagian. Sesekali di tengah hujan serangan lawannya, Arya
tenang-tenang saja meminum araknya.
Prakkk! Tukkk! Prattt!
“Akh….! Akh….! Akh….!
Dalam segebrakan saja tiga orang penjaga kembali
menjadi korban amukan Arya. Yang seorang tewas dengan
kepala pecah terhantam guci arak. Seorang lagi pecah
ubun-ubunnya terkena totokan jari pemuda berambut putih
keperakan itu. Sedangkan yang lain lagi tewas dengan
leher berlubang terkena semburan araknya.
Jerit kematian saling susul. Ke mana Arya bergerak di
situ pasti ada lawan yang tewas.
Tak lama kemudian habislah para pengeroyoknya.
Sebuah tawa yang pelan, berat dan bergaung segera
menyambutnya begitu lawannya yang terakhir rubuh.
“Ha…ha….ha….!”
Arya cepat menoleh ke arah asal suara tawa itu. Di
depannya dalam jarak sekitar tiga tombak berdiri dua
sosok tubuh. Sosok pertama bertubuh pendek tapi kekar,
berambut awut-awutan dan bermata merah. Menilik ciricirinya
Arya dapat menduga kalau si pendek kekar ini
adalah kakak ibunya. Dialah Raja Racun Pencabut Nyawa.
Sosok kedua bertubuh tinggi kurus. Berselubung putih
dan berpakaian juga serba putih. Inilah rupanya Siluman
Tengkorak Putih yang menggemparkan itu. dipandanginya
tokoh yang menggemparkan ini penuh perhatian. Dan
betapa kagetnya Arya ketika melihat sorot mata Siluman
Tengkorak Putih itu. Sorot mata itu begitu tajam
mencorong dan berdinar kehijauan. Persis mata seekor
kucing dalam gelap!
“Inikah putra Pendekar Ruyung Maut itu, Paman?
Pemuda yang dulu membawa lari ?” tanya
Siluman Tengkorak Putih pada Raja Racun Pencabut
Nyawa.
“Betul, Gerda,” jawab Raja Racun itu.
“Kakang Satria benar,” gumam Arya pelan. nama iblis
itu bukan Bomantara melainkan Gerda. Tapi kalau bukan
Bomantara mengapa menguasai ilmu ‘Ular Terbang’?
“Ha…ha…ha…! hanya sekian sajakah ilmu yang
diterimanya dari Ki Gering Langit? Huh! Kalau dulu kutahu,
tidak akan sudi aku bersusah payah untuk
mendapatkannya.”
“Siluman Tengkorak Putih!” bentak Arya geram. “Kau
harus bayar nyawa ayahku!”
Setelah berkata demikian, Arya segera melompat
menerjang Siluman Tengkorak Putih. Menyadari kelihaian
lawan, sekali menyerang Arya sudah menggunakan ilmu
andalannya. Guci di tangannya menyambar deras ke arah
kepala lawannya.
Melihat Arya telah menerjang Siluman Tengkorak Putih,
Raja Racun Pencabut Nyawa segera menghindar dari situ.
Sedangkan Siluman Tengkorak Putih yang begitu melihat
sambaran guci itu segera menundukkan kepalanya.
Untunglah sambaran guci itu lewat bebrapa rambut di atas
kepalanya. Malah pakaian dan selubung yang dikenakan
siluman itu sampai berkibar, begitu sambaran guci itu
menyambar tempat kosong. Suatu tanda kalau tenaga
yang mengayunkan guci itu sangat kuat.
Tidak hanya itu saja yang dilakukan Siluman Tengkorak
Putih alias gerda ini. secepat ia mengelak secepat itu pula
balas menyerang dengan sodokan tangan bertubi-tubi
pada ulu hati dan leher Arya.
Arya Buana alias buru-buru memiringkan
kepalanya, maka serangan yang menuju lehernya mengenai
tempat kosong. Sedangkan serangan yang menuju
ulu hati ditangkisnya dengan tangan kiri disertai pengerahan
seluruh tenaga.
Plakkk!
Sebuah benturan keras terdengar. Akibatnya tubuh
Siluman Tengkorak Putih terhuyung mundur dua langkah.
Sedangkan tubuh Arya yang berada di udara terlempar ke
udara. Namun dengan manis tubuhnya melenting di udara
kemudian laksana seekor kucing kedua kakinya hinggap di
tanah.
“Jurus ‘Ular Terbang’?!” teriak kaget. Walau
Siluman Tengkorak Putih itu baru mengeluarkan beberapa
gerakan, Arya langsung mengenalinya.
“Hm. Pandangan matamu awas juga, tikus kecil!” ejek
Siluman Tengkorak Putih. Baru kali ini dalam adu tenaga ia
sampai terdorong dua langkah. Hal ini membuatnya penasaran
bukan main. “Tapi ingin kutahu apakah kaupun
mampu mengenali yang ini!”
Setelah berkata demikian, Siluman Tengkorak Putih
kembali menyerang dengan sebuah tendangan
lurus ke arah pusar. Kemudian langsung dilanjutkan
tendangan menyamping ke arah leher begitu Arya menarik
tubuhnya ke belakang. Tidak berhenti di situ lalu disusul
tendangan yang dilakukannya sambil memutar tubuh.
“Ah….! ‘Tendangan Kilat’….?!” Desah Arya kaget.
Itulah ilmu milik Ki Gering Langit yang diwariskan kepada
Bomantara. Cepat-cepat dielakkan tendangan itu dengan
jurus ‘Delapan Langkah Belalang’.
“Tidak salah lagi, pasti kau Bomantara!”
Mendadak Siluman Tengkorak Putih menghentikan
gerakannya.
“Jahanam! Dari mana kau tahu nama itu, heh?!”
“Memang sudah lama aku mencari-carimu manusia
keparat! Murid murtad!” pemuda berpakaian ungu ini balas
membentak.
“Keparat!”
Setelah berkata demikian diterjangnya .
Tetapi pemuda itu tak menjadi gugup. Cepat-cepat
dielakkan serangan itu dan dibalasnya dengan seranganserangan
yang tak kalah dahsyat.
Siluman Tengkorak Putih benar-benar telah mengamuk.
Dikeluarkannya seluruh kemampuan yang dimiliki. Ilmu
‘Ular Terbang’ warisan Ular Hitam, ilmu ‘Tendangan Kilat’
warisan Ki Gering Langit dan ilmu-ilmu racun yang diterima
dari Raja Racun Pencabut Nyawa. Dan ini baru untuk
pertama kalinya dilakukannya.
Tapi lawan yang dihadapi adalah Arya buana. Pewaris
tunggal dari seluruh ilmu ciptaan Ki Gering Langit yang
terbaru. Maka, walaupun Siluman Tengkorak Putih telah
mengeluarkan segenap kemampuan tetap saja pemuda ini
mampu menghadapi. Bahkan membalas dengan seranganserangan
yang tak kalah dahsyatnya. Kini Arya yang
mengetahui kesaktian lawannya segera mengerahkan
‘Tenaga Inti Matahari’ yang disusul dengan jurus ‘Belalang
Mabuk’ dan akhirnya jurus ‘Delapan Langkah Belalang’
sehingga tubuhnya meliuk-liuk.
Raja Racun Pencabut Nyawa menonton pertarungan
antara dua orang sakti itu tanpa berkedip. Baru kali ini
disaksikan pertarungan yang begitu dahsyatnya. Debu
mengepul tinggi ke udara. Batu-batu besar dan kecil
beterbangan tak tentu arah. Pohon-pohon besar dan kecil
yang terlanda angin pukulan nyasar bertumbangan diiringi
suara gaduh.
Bukan hanya itu saja. Decit angin tajam yang
berhembus dan diiringi bau amis yang memualkan perut,
keluar dari setiap serangan Siluman Tengkorak Putih.
Tentu saja gerombolan penjahat terpaksa menjauhi tempat
itu. Belum lagi akibat setiap gerakan Arya yang berjuluk
itu menyebarkan hawa panas menyengat.
Bahkan bisa menghanguskan kulit!
Siluman Tengkorak Putih penasaran bukan main.
Apalagi ketika menyadari serangan pukulan beracunnya
tidak berarti sama sekali bagi pemuda itu. dan memang
tanpa diketahui Arya sendiri, pasangan ilmu ‘Belalang
Sakti’ dan ‘Tenaga Dalam Inti Matahari’ membuatnya tidak
terpengaruh segala macam racun. Hawa beracun sudah
terusir sebelum mendekati tubuh Arya. Hawa panas yang
keluar dari tubuh pemuda itu telah menangkal hawa
beracun yang datang menyerbu ke arahnya.
Lima puluh jurus telah cepat terlewat. Tapi tidak
nampak ada tanda-tanda siapa yang akan terdesak dan
siapa yang akan mendesak. Kepandaian mereka berdua
sepertinya berimbang.
Raja Racun Pencabut Nyawa yang menonton
pertarungan itu menjadi tidak sabar, sehingga segera
mendekati pertarungan. Sudah bulat tekadnya untuk
membantu Gerda alias Siluman Tengkorak Putih menghadapi
yang sakti itu.
Tetapi baru juga bergerak mendekati terdengar suara
bentakan keras disusul berkelebatnya tiga sosok tubuh
yang kemudian menghadang di depannya. Dua orang lakilaki
yang berumur tiga puluhan dan seorang gadis yang
berusia sekitar sembilan belas tahun dan berpakaian serba
hijau. Wajahnya cantik manis. Apalagi dihiasi tahi lalat di
pipinya. Inilah Ningrum putri Raja Pisau Terbang. Sedangkan
dua laki-laki itu adalah Satria dan Mega.
Raja Racun Pencabut Nyawa menatap tiga sosok tubuh
di depannya dengan pandagan mata meremehkan. Ia
hanya melihat dengan ekor mata, walaupun dua laki-laki
itu sudah bersiap-siap sambil menghunus pedang.
Sedangkan gadis itu juga nampak sudah menggenggam
sebilah pisau berwarna putih mengkilat pada kedua
tangannya.
“Raja Racun! Kini saatnya kekejianmu harus ditebus
dengan nyawamu!” teriak Satria keras. Bersamaan dengan
itu pedang di tangannya cepat meluncur lurus ke arah
pusar Raja Racun Pencabut Nyawa.
“Hiyaaa….!” Mega yang tahu pasti betapa lihaynya si
Raja Racun ini dan sadar kalau kakak seperguruannya ini
bukanlah lawan iblis itu segera membantu Satria. Pedang
di tangannya melesat cepat membabat leher!
Ningrum pun tidak mau ketinggalan. Gadis perkasa ini
segera ikut ambil bagian. Sepasang pisau terbang di
tangannya berkelebat mencari sasaran di berbagai bagian
tubuh lawan.
Kini Raja Racun Pencabut Nyawa tidak bisa main-main
lagi. Apalagi setelah terbukti kalau tiga lawannya ini
mampu saling membantu. Ia lalu mengerahkan seluruh
kemampuannya.
Baru beberapa jurus bertarung tiba-tiba terdengar
suara riuh disusul munculnya puluhan orang rimba persilatan
golongan putih. Inilah orang-orang yang berhasil
dikumpulkan Satria dan Mega.
Karuan saja melihat serbuan ini anak buah Siluman
Tengkorak Putih yang sejak tadi menonton pertarungan
dahsyat itu bubar. Mereka segera menyambut serbuan
tamu-tamu yang tak diundang itu. Maka kini terjadilah tiga
kelompok pertempuran.
Di antara pertarungan itu yang paling ramai dan
menegangkan adalah pertarungan antara Arya buana alias
melawan Siluman Tengkorak Putih. Mereka berdualah
yang menjadi penentu kemenangan dua golongan
yang saling bertarung itu.
Berbeda dengan pertarungan Siluman Tengkorak Putih
yang berimbang, pertarungan Raja Racun Pencabut Nyawa
melawan Satria, Mega dan Ningrum berjalan berat sebelah.
Memang bila diperhitungkan kepandaian Satria dan Mega
masih terlalu jauh untuk menghadapi Raja Racun itu. di
antara mereka bertiga Ningrumlah yang memiliki kepandaian
paling tinggi. Maka gadis itulah yang mendapat tekanan
dari Lindu alias Raja Racun Pencabut Nyawa. Raja Racun
yang cerdik tahu kalau gadis putri si Raja Pisau Terbang ini
bisa dirubuhkan maka rubuh pulalah semuanya.
Tentu saja akibatnya terasa sekali bagi Ningrum.
Memang gadis ini masih kalah segala-galanya dibanding
lawannya. Kalah tenaga, kelincahan dan juga pengalaman.
Gadis putri Raja Pisau Terbang inipun segera terdesak.
Sepasang pisau terbang di tangannya kini hanya dapat digunakan
untuk melindungi dirinya.
Raja Racun Pencabut Nyawa yang tidakingin berlamalama
dalam pertarungan ini apalagi setelah sekian lama
lawannya tidak juga dapat dirubuhkan segera mengeluarkan
pukulan beracun. Sudah dapat dipastikan kalau tak
lama kemudian ketiga orang muda itu akan rubuh di
tangan raja racun ini. Kalau saja……
“Keji sekali kau Raja Racun! Menghadapi anak-anak
muda pun masih bermain racun!”
Berbareng dengan suara teguran itu muncullah
sesosok tubuh tinggi kurus dan berkulit hitam. Kumis dan
jenggot yang telah memutih menghias wajahnya. Yang luar
biasa adalah sepasang matanya. Begitu tajam mencorong
dan bersinar kehijauan seperti mata seekor kucing dalam
gelap.
Begitu datang kakek ini segera menggerakkan kedua
tangannya menghalau serangan-serangan beracun Raja
Racun iu. Gerakan tangannya begitu cepat dan tiba-tiba
seperti gerak seekor ular yang menyambar mangsa.
“Ah! Kau…. Kau….!” Teriak Raja Racun Pencabut Nyawa
tertahan. Kegugupan tergambar jelas pada wajahnya.
Untuk beberapa saat kewaspadaannya mengendur.
Kesempatan ini tak disia-siakan Satria. Dengan kecepatan
kilat pedangnya menyambar ke arah perut Raja Racun ini.
“Akh…!” Raja Racun Pencabut Nyawa memekik tertahan.
Darah langsung muncrat dari perut yang tertembus
pedang hingga ke punggung itu.
Raja Racun Pencabut Nyawa meraung keras.
Tangannya pun bergerak mengancam Satria sehingga
pemuda itu kelihatan gugup. Untungnya ‘kakek penolong’
itu bertindak cepat dan menangkis serangan itu.
Plakkk!
Tubuh Raja Racun Pencabut Nyawa terhuyung ke
belakang. Dan saat itu hampir berbarengan Ningrum dan
Mega melancarkan serangan.
Cappp! Cappp! Cappp!
Dua pisau terbang dan satu pedang itu telak sekali
menghunjam tubuh Raja Racun. Laki-laki yang bernama
asli Lindu itu berteriak ngeri. Tanpa ampun lagi tubuhnya
ambruk ke tanah. Napasnya megap-megap.
“Arya….. Arya….” Lirih terdengar suara iblis itu.
Satria yang melihat iblis itu belum tewas segera
menyusuli dengan seuah tusukan ke arah jantung. Tetapi
sebelum pedang itu mengenai sasaran segundukan angin
keras mendorongnya hingga terjengkang. Cepat pemuda ini
bersalto di udara beberapa kali untuk mematahkan daya
dorong itu lalu hinggap ringan di tanah.
“Tahan dulu pedangmu, Anak Muda. Nampaknya ia
ingin mengatakan sesuatu….” Kata kakek yang telah
menolongnya tadi. Tahulah pemuda itu kini. Rupanya angin
keras tadi berasal dari kakek ini.
Setelah berkata demikian kakek itu menghampiri Raja
Racun Pencabut Nyawa yang tergolek tak berdaya.
“Ada yang ingin kau katakan untuk Arya, Raja Racun?
Cepatlah katakan biar aku yang akan menyampaikannya,”
ujar kakek itu ramah.
Bibir Raja Racun Pencabut Nyawa bergerak-gerak
pelan. terpaksa kakek itu mendekatkan telinganya ke
mulut Raja Racun beberapa saat lamanya. Kakek itu baru
menjauhkan kepalanya setelah tidak terdengar lagi suara
dari mulut Raja Racun Pencabut Nyawa. Dia kini telah
tewas.
Sementara itu pertarungan antara Arya buana melawan
Siluman Tengkorak Putih telah berlangsung hampir seratus
lima puluh jurus! Perlahan namun pasti yang
mengerahkan jurus ‘Delapan Langkah Belalang’ dan jurus
‘Belalang Mabuk’ yang dialiri pengerahan ‘Tenaga Dalam
Inti Matahari’, mulai dapat menguasai keadaan. Sampai
pada suatu saat….
“Hiyaaa….!” Siluman Tengkorak Putih yang sudah putus
asa langsung menyerang tanpa memperdulikan
pertahanan lagi. Jari-jari kedua tangannya yang
membentuk patuk ular bertubi-tubi menyerang pelipis
danubun-ubun Arya.
Arya Buana kaget sekali. Disadari kalau lawannya ini
berniat menadu nyawa. Rasanya tidak mungkin lagi
mengelakkan serangan itu kalau masih ingin selamat.
itu tahu kalau mengelakkan serangan sepasang
kaki Siluman Tengkorak Putih akan bertubi-tubi mengancamnya
dengan juru ‘Tendangan Kilat’. Dan hal ini akan
lebih membahayakan dirinya. Maka pemuda ini memutuskan
untuk menangkis walaupun posisinya saat itu tidak
memungkinkan.
Arya mengangkat tangan kirinya menejgal kedua
serangan yang mengancam ubun-ubun dan pelipisnya itu.
Berbarengan dengan itu guci di tangan kanannya
menggedor dada Siluman Tengkorak Putih yang terbuka
lebar.
Plakkk! Tukkk! Buggg!
Arya terhuyung satu langkah. Mulutnya menyeringai
menahan rasa sakit yang mendera tangan kiri. Serangan
yang menuju ubun-ubunnya memang dapat ditangkis
dengan jari-jari tangan. Akan tetapi serangan yang
mengancam pelipis terpaksa dihadang dengan pangkal
lengan. Dan akibatnya sesaat lamanya dirasakan tangan
itu bagaikan lumpuh.
Tetapi meskipun demikian keadaan yang diterima Arya
masih lebih ringan ketimbang yang diterima Siluman
Tengkorak Putih. Tubuh siluman itu terjengkang ketika guci
menghantam keras dadanya. Bagian bawah
selubungnya yang berwarna putih nampak kini memerah.
Siluman itu telah menyemburkan darah dari mulutnya!
Arya yang tahu betapa berbahayanya Siluman
Tengkorak Putih itu, tidak lagi memberi kesempatan. Cepat
tubuhnya melesat menyusul tubuh siluman itu.
“Haaat…!”
Arya melempar gucinya ke udara. Dan kini dengan
tangan kosong dihajarnya dada siluman itu.
Bukkk…!
“Hugh!”
Siluman Tengkorak Putih mengeluh tertahan. Jelas
terdengar suara gemeretak dari tulang-tulang dada yang
berpatahan. Tetapi Arya tidak berhenti sampai di situ saja.
Cepat-cepat tangan kanannya menangkap guci yang kini
meluncur turun. Dan secepat guci itu tertangkap secepat
itu pula diayunkan ke arah kepala Siluman Tengkorak
Putih.
Wuuut…!
Prakkk…!
Terdengar suara berderak keras ketika guci itu
menghantam sasaran. Kontan tubuh siluman itu rubuh ke
tanah. Tanpa dapat bersambat lagi dia tergeletak tak
bergerak-gerak. Mati.
Arya segera menghampiri tubuh siluman itu. dicopotnya
selubung yang selama ini menutupi wajah aslinya. Nampak
seraut wajah kurus berkumis jarang-jarang. Usianya sekitar
tiga puluh lima tahun. Ada sebuah tompel pada pipi
sebelah kiri.
“Bomantara….” Desis begitu melihat ciri-ciri
siluman itu.
“Benar, dia Bomantara alias Gerda,” sambut sebuah
suara.
Arya menoleh ke sebelahnya dengan perasaan kaget.
Suara itu amat dikenalnya! Nampak olehnya seorang kakek
bertubuh tinggi kurus, berkulit hitam berkumis dan
berjenggot putih. Sorot matanya nampak mencorong
kehijauan.
Beberapa saat lamanya Arya terdiam. Diamat-amati
kakek ini penuh perhatian. Rasa-rasanya dikenali betul
suara dan potongan kakek ini. Tapi….
“Ha…ha…ha… Tidak mengenaliku lagi Arya?” setelah
berkata demikian kakek itu mencopot kumis dan
jenggotnya. Kini yakinlah Arya siapa kakek ini.
“Kakek Ular Hitam….!” Serunya gembira.
Si kakek yang ternyata memang Ular Hitam itu tertawa
bergelak. Dipeluknya Arya penuh rasa kasih sayang.
“Bagaimana Kakek bisa sampai di sini?” tanya Arya
gembira.
“Nanti kuceritakan. Sekarang supaya kau tidak
bingung, perlu kujelaskan mengenai Siluman Tengkorak
Putih ini. dia oleh orang-orang persilatan dikenal bernama
asli Gerda. Aku sendiri baru mengetahuinya sewaktu
melihat kau bertarung dengannya. Nama aslinya memang
Gerda. Dia murid Raja Racun Pencabut Nyawa. Padaku dia
memakai nama palsu sebagai Bomantara. Jadi murid
murtad itu telah sekaligus menjadi tiga tokoh. Gerda,
Bomantara dan Siluman Tengkorak Putih. Untung saja
waktu Bomantara masih jadi muridku aku tak pernah
menceritakan kalau kitab-kitab ilmu milik Ki Gering Langit
seluruhnya ada padaku. Kalau tidak….!” Desah Ular Hitam
seperti untuk dirinya sendiri.
Arya manggut-manggut “Lalu kenapa Kakek sampai
berada di sini? Dan mengapa pula harus menyamar?”
Ular Hitam tersenyum.
“Sewaktu kau pergi aku mendengar kekacauan di
dunia persilatan dengan munculnya Siluman Tengkorak
Putih. Kudengar juga dia telah langsung merajai kaum
sesat. Dugaanku siluman itu pasti Bomantara. Dan jika
benar…. Kau akan berhadapan dengan banyak lawan.
Bomantara, Raja Racun Pencabut Nyawa dan juga Bargola.
Maka kuputuskan untuk menyusulmu. Yah…..siapa tahu
kau butuh bantuan. Hm, paling tidak aku dapat mencegah
Bargola membantu Bomantara. Dalam perjalanan aku
bertemu Raja Pisau Terbang. Dan ketika melihatku dia
langsung saja memohon agar aku mewakilinya membantu
putrinya yang ingin menyerbu markas Siluman Tengkorak
Putih. Karena telah menduga bahwa siluman itu adalah
Bomantara aku terpaksa menyamar agar tidak membuatnya
terkejut.”
Arya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda telah
mengerti. Tak lama kemudian, Ular Hitam memberitahukan
pesan mendiang Raja Racun Pencabut Nyawa kepada
pemuda itu.
“Ah….!” tersentak kaget. Baru pemuda itu
teringat pada pamannya. Bergegas ia berlari menghampiri
mayat Raja Racun. Ada tersirat penyesalan yang mendalam
pada wajah pemuda itu. biar bagaimanapun juga orang itu
adalah pamannya sendiri.
Arya berjongkok di depan mayat Raja Racun itu.
Dipandanginya sosok yang telah kaku itu dengan perasaan
sedih. Bagaimanapun jahatnya pamannya itu tapi di saatsaat
terakhir telah tumbuh kasih sayang kepada
keponakannya. Ya, di saat menjelang ajal Raja Racun
Pencabut Nyawa telah memberitahukan bahwa ibu Arya
buana berada di Perguruan Mawar Merah.
Tanpa ragu-ragu lagi Arya punmengulurkan tangan dan
memondong tubuh pamannya itu. Perlahan-lahan ia
bergerak bangkit dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Seiring tewasnya Siluman Tengkorak Putih pertarugnan
langsung berhenti. Para anak buah siluman itu sadar,
bahwa tidak ada gunanya melawan lagi. Maka mereka
segera melarikan diri. Yang tidak sempat melarikan diri
segera menyerah untuk mencari selamat.
Sejak Arya berhasil merubuhkan Siluman Tengkorak
Putih, pandang mata Ningrum tidak lepas-lepasnya
menatap wajah pemuda berambut putih keperakan itu.
jantungnya berdetak aneh. Berkali-kali ia mencuri-curi
pandang. Ia baru mengalihkan perhatian ketika Satria
memanggilnya. Dan sewaktu menoleh lagi ke arah Dewa
Arak dan Ular Hitam berada, keduanya telah lenyap.
Betapapun Ningrum mengedarkan pandangannya tetap
saja tidak terlihat pemuda berpakaian ungu itu lagi.
“Mencari siapa, Ningrung?” tanya Satria heran melihat
gadis itu celingukan ke sana ke mari.
“Eh…..anu… orang yang mengalahkan Siluman
Tengkorak Putih….” Sahut gadis itu gugup.
“Oh! Arya Buana, si yang kuceritakan
padamu. Ingat?”
“Oh…..” Ningrum manggut-manggut. “Lalu ke mana dia
sekarang?”
Satria celingukan sebentar.
“Dia sudah pergi, Ningrum.”
“Pergi?” tanya Ningrum. Ada nada kekecewaan dalam
suaranya. Dengan lunglai dilangkahkan kakinya meninggalkan
tempat itu. Terasa seperti ada sesuatu yang hilang dari
hatinya, seiring perginya pemuda gagah bernama Arya
buana yang dijuluki .
Sementara itu di sebuah tempat yang jauh dari
keramaian, seorang pemuda berwajah jantan dan
berambut putih keperakan perlahan-lahan meninggalkan
sebuah gundukan tanah merah yang masih baru.
Jelas, pemuda itu adalah si . Kini dengan
langkah pasti pemuda berpakaian ungu itu melanjutkan
perjalanannya. Banyak tugas yang menantinya sebagai
seorang pendekar. Terlebih dia masi harus mencari ibunya
di Perguruan Mawar Merah.

Nah, bagi para pembaca ang ingin mengikuti
petualangan Arya buana selanjutnya, silahkan tunggu serial
dalam episode “Dewi Penyebar Maut.”

SELESAI
Load disqus comments

0 komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top