Senin, 02 April 2012

DEWA ARAK - Pedang Bintang 4

Serial Dewa Arak
Aji Saka


Waktu berlalu tak terasa. Kadang seperti merayap
lambat bagai langkah seekor siput. Tapi kadang
pula seperti melesat laksana kelebatan anak
panah. Tak terasa sudah lima tahun Arya berada di tempat
si Ular Hitam berada, untuk berlatih ilmu-ilmu yang
diwariskan Ki Gering Langit. Kini Arya telah menjelma
menjadi seorang pemuda yang tegap dan berdada
bidang.bentuk wajahnya yang memang sudah terlihat
jantan semakin bertambah jantan karena rahangnya yang
kokoh. Rambutnya yang dulu berwarna hitam, sekarang
berubah menjadi putih keperakan. Mungkin karena
pengaruh ‘Tenaga Dalam Inti Matahari’ dan ilmu ‘Belalang
Sakti’. Usia Arya kini dua puluh tahun.
“Arya,” tegur Ular Hitam pagi itu. Wajah kakek ini yang
dulu agak gelap, sudah bersih lagi. Suatu tanda kalau
racun yang berada di tubuhnya sudha lenyap.
“Ya, Kek.” Jawab Arya yang tetap memanggil Ular Hitam
seperti itu karena memang kakek itu tidak mau dipanggil
guru.
“Kakek rasa sudah cukup rasanya kau menggembleng
diri. Sudah tiba saatnya bagimu untuk mengamalkan apa
yang dipelajari di sini untuk kepentingan orang banyak.
Kakek kini telah lega melepasmu pergi. Besok kau boleh
meninggalkan tempat ini....”
“Tapi, Kek....” Arya mencoba membantah.
“Tidak ada tapi-tapian lagi, Arya!” tegas Ular Hitam.
“Ingat, kau banyak mempunyai tugas yang harus
diselesaikan. Mencari Bomantara, ibumu juga ayahmu.
Dan juga kalau aku tidak salah, Kakang Gering memberimu
tugas pula, bukan?”
“Benar, Kek” Arya mengangguk.
“Nah! Kalau begitu, apalagi yang memberatkanmu
meninggalkan tempat ini?”
“Aku tidak tega meninggalkan Kakek….” Lirih suara
Arya.
“Ha..ha..ha…!” Ular Hitam tertawa terbahak-bahak.
“Kau ini aneh, Arya. Sekarang kekuatanku telah pulih
seperti Ular Hitam yang dulu. Apa yang dikawatirkan?
Sudahlah Arya. Pokoknya besok kau harus meninggalkan
tempat ini. Seorang pendekar tidak akan mementingkan
diri sendiri, Arya. Tapi orang banyak!”
Setelah berkata demikian, Ular Hitam melangkah pergi
meninggalkan Arya yang hanya termenung memandangi
punggung kakek itu hingga lenyap di kajauhan. Sama
sekali pemuda itu tidak mengetahui kalau pipi kakek itu
basah!
Pagi-pagi sekali Arya telah berangkat meninggalkan
tempat itu. Di punggung pemuda itu bertengger guci arak
terbuat dari perak pemberian Ki Gering Langit. Sedangkan
sengaja ditinggalkan di tempat kediaman
Ular Hitam. Senjata itu memang tidak diperlukan lagi.
Pemuda berambut putih keperakan itu melangkahkan
kakinya penuh semangat. Tujuannya yang pertama kali
adalah mencari ayahnya. Dia juga ingin tahu apa yang
terjadi terhadap ayahnya sejak ia meninggalkannya lima
tahun lalu. Apakah yang dikawatikrna oleh ayahnya itu
akan terjadi?
Beberapa hari kemudian sampailah pemuda itu di
mulut sebuah desa. Maka dipercepat langkah kakinya.
Perutnya kini terasa lapar bukan main. Hanya satu yang
diinginkan. Makan!
Akan tetapi, Arya mengerutkan keningnya melihat
suasana desa itu yang lenggang. Semua pintu dan jendela
nempak tertutup rapat.
“Ada apa ini?” tanya Arya dalam hati sambil mengamatamati
sekelilingnya.
Singggg….!
Arya terkejut mendengar desingan benda tajam yang
menuju ke arahnya. Dari suaranya pemuda ini sudah bisa
memperkirakan benda tajam yang terlontar itu adalah
pisau. Maka dibiarkan saja senjata gelap itu mengenainya.
Pemuda ini tahu dengan tingkat tenaga dalam yang
dimilikinya sekarang ini, serangan itu sama sekali tidak
berarti apa-apa.
Takkk!
Dengan telak senjata gelap itu menghantam tubuhnya,
dan langsung runtuh ke tanah! Seolah-olah yang
dihantamnya bukanlah tubuh manusia, melainkan
gumpalan baja!
Begitu serangan pisau itu kandas, tiba-tiba terdengar
suara langkah-langkah kaki berlarian menuju ke arah Arya.
Pemuda ini kontan menoleh. Tampak puluhan orang
menyerbu ke arahnya. Di tangan mereka tergenggam
berbagai macam senjata seperti pisau, golok, kapak, pacul
dan sekop!
Melihat pakaian dan senjata yang digunakan, Arya
segera saja dapat menduga kalau mereka itu adalah
penduduk desa ini. hanya saja yang masih menjadi tanda
tanya besar mengapa para penduduk itu tiba-tiba
menyerangnya?
“Tahan….!” Teriak Arya keras.
Akan tetapi para penduduk yang tengah marah itu tidak
memperdulikan teriakan Arya. Mereka terus saja maju
menerjang.
Arya segera menyadari kalau saat ini terjadi kesalah
pahaman antara dirinya dengan mereka. Maka ia tidak
akan bersikap keras. Setiap serangan yang datang,
pemuda itu hanya berusaha menghindar saja. Apalagi
setelah melihat serangan mereka. Pemuda ini tahu kalau
penyerangnya kebanyakan tidak menguasai ilmu silat.
Arya hanya menggunakan jurus ‘Delapan Langakah
Belalang’ saja yang mempunyai kegunaan untuk
mengelakkan serangan lawan. Dengan langkah
sempoyongan dan gerak tubuh meliuk-liuk, dielakkan
semua serangan itu sekaligus dirampasnya senjata para
pengeroyoknya.
Hanya sekejap saja Arya telah membuat senjata para
pengeroyoknya berpindah tangan. Sebagian di pegang
sebagian lagi berserakan di tanah.
Karuan saja hal itu membuat para pengeroyoknya
terbengong-bengong. Tapi hanya sebentar saja, karena di
lain saat mereka sudah menyerbu kembali dengan tangan
kosong. Itu setelah terdengar perintah dari orang yang
paling depan yang berusia setengah baya dan berkumis
tebal.
Kini Arya tahu. Maka mau tidak mau mereka harus
segera dirubuhkan. Namun demikian tetap saja pemuda itu
tidak ingin melukainya. Digerak-gerakkan tangannya
perlahan saja dan dikerahkan sebagian kecil dari
tenaganya.
Akibatnya hebat sekali! Dari keduda tangan Arya keluar
angin keras berhawa hangat. Sehingga para pengeroyok itu
terlempar ke belakang dan jatuh bergulingan di tanah
kecuali si kumis tebal itu. Dia hanya terhuyung-huyung ke
belakang.
“Tahan….!” Bentak Arya keras begitu dilihat para
pengeroyoknya itu masih ingin bangkit dan menyerang lagi.
Sengaja Arya mengerahkan tenaga dalam waktu berteriak
sehingga membuat mereka tertegun.
“Mengapa kisanak semua menyerangku? Apa salahku?”
tanya Arya penasaran.
Si kumis tebal tersenyum mengejek. Diperhatikan
sebentar pemuda berpakaian ungu di hadapannya.
“Tidak usah pura-pura, Anak Muda. Bukankah kau
utusan si Harimau Mata Satu untuk mematai-matai kami?”
“Ah! Kisanak salah paham. Aku bukanlah utusan si
Harimau Mata Satu. Aku Arya yang kebetulan lewat sini.”
Si kumis tebal meragu sejenak.
“Bisa kupercaya kata-katamu, Anak Muda?’
“Kalau aku utusan si Harimau Mata Satu, apakah
kisanak semua masih selamat?” kilah Arya sambil
tersenyum.
“Hm…. Benar juga ya?” si kumis tebal mengangguk.
Pertanyaan itu seperti ditujukan untuk dirinya sendiri. “Aku
juga tidak percaya kalau utusan si keparat itu bisa sehebat
ini.”
“Syukurlah kalau kisanak percaya….” Desah Arya lega.
“Oh ya…. Kalau boleh tahu siapakah si Harimau Mata Satu
itu?’
“Jadi, Nak….”
“Arya” potong pemuda itu memperkenalkan namanya.
“Arya Buana. Panggil saja Arya. Dan kalau boleh tahu
kisanak siapa?”
“Aku kepala desa di sini. Panggil saja Ki Pandu. Jadi,
kau benar-benar tidak mengenal Harimau Mata Satu?”
tanya laki-laki setengah baya yang ternyata bernama Ki
Pandu tidak percaya.
“Tidak. Mendengar namanya saja baru kali ini, Ki”
jawab pemuda itu polos.
“Ah, rasanya mustahil! Orang sesakti Nak Arya ini tidak
pernah mendengar namanya. Si Harimau Mata Satu terkenal
sekali. Dia adalah pemimpin gerombolan perampok
yang amat kejam. Biasanya hanya beroperasi di hutan. Dia
waktu itu tidak berani menyerbu desa-desa karena masih
banyak perguruan silat yang beraliran lurus dan pendekarpendekar
pembela kebenaran. Tapi kini sejak Siluman
Tengkorak Putih muncul untuk menghancurkan perguruanperguruan
silat dan membunuh para pendekar, si Harimau
Mata Satu berani meninggalkan sarangnya. Desa demi
desa mereka datangi. Bagi desa yang tidak bersedia
tunduk tidak segan-segan untuk dibumihanguskannya.
Kemarin desa kami kedatangan utusan mereka yang meminta
agar takluk. Setiap musim panen, kami diwajibkan
membayar upeti. Bahkan setiap minggu minta disediakan
dua orang gadis cantik. Pokoknya banyak lagi permintaan
yang tidak masuk akal. Dengan tegas semua itu kutolak
mentah-mentah. Kami lebih suka mati terhormat
ketimbang hidup tapi terhina! Jadi itu sebabnya mengapa
kami tadi menyerangmu, Arya. Kami pikir kau adalah matamata
mereka yang ingin mengetahui kekuatan kami.”
Arya mengangguk-angguk maklum.
“Ki Pandu…..! Ki Pandu….!” Tiba-tiba terdengar suara
teriakan seseorang yang tergopoh-gopoh. Seketika kepala
desa yang berkumis tebal itu menoleh ke arah asal suara.
Nampak seorang laki-laki berlari-lari menghampiri.
“Ada apa, Surya?” tanya Ki Pandu.
“Mereka telah datang, Ki….” Ucap orang yang dipanggil
Surya terengah-engah.
“Gerombolan Harimau Mata Satu ?” tegas Ki Pandu.
“Benar!” jawab Surya singkat.
“Kalau begitu, mari kita sambut kedatangan mereka!”
sahut Ki Pandu.
“Tunggu, Ki!” cegah Arya begitu melihat Ki Pandu dan
para penduduk hendak meninggalkan tempat itu.
“Ada apa, Arya?’ tanya Ki Pandu sambil menghentikan
langkahnya.
“Biarlah aku yang akan menghadapi mereka….”
“Tapi….” kepala desa itu masih coba membantah.
“Tegakah, Aki mengorbankan para penduduk itu?”
desak Arya.
“Memang aku tidak tega. Tapi….”
“Sudahlah, Ki. Nanti kalau aku tidak mampu menghadapi
mereka, baru Ki Pandu dan para penduduk bisa
membantuku!”
Setelah berkata demikian, Arya segera menginggalkan
tempat itu menuju mulut desa. Ki Pandu dan para penduduk
memandangi pemuda berambut putih keperakperakan
yang hanya melangkah perlahan saja. Namun
anehnya tubuh pemuda itu sudah berada lebih dari
sepuluh tombak di depan.
“Luar biasa….!” Puji Ki Pandu sambil menggeleng
gelengkan kepalanya. “Rasanya kali ini si Harimau Mata
Satu ini harus menghadapi rintangan yang amat berat!”
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Arya sudah
mencapai taraf kesempurnaan. Sehingga dalam waktu
sebentar saja pemuda itu telah berada di mulut desa. Agak
jauh di depan, terlihat debu mengepul tinggi ke udara. Dari
suara berderap yang menggetarkan bumi pemuda ini tahu
gerombolam si Harimau Mata Satu ini berkendaraan kuda.
Jumlah mereka tidak kurang dari tiga puluh orang.
Dalam waktu yang tidak berapa lama, rombongan
orang berkuda itu telah berada dekat mulut desa.
“Hooop…!”
Orang yang berada paling depan bertubuh tinggi besar
berwajah kasar dan bermata picak sebelah berteriak keras
sambil mengangkat tangannya. Maka serentak rombongan
itu hentikan lari kudanya.
“Siapa kau, Anak Muda?! Dan mengapa menghadang
kami?! Menyingkirlah cepat!” bentak si mata picak yang
berjuluk Harimau Mata Satu itu. Dipandangnya Arya yang
berdiri menghalangi jalan dengan mata merah menyala.
“Siapa diriku tidak perlu kau tahu! Yang jelas aku
berdiri di sini untuk membasmi orang-orang semacam kau
dan gerombolanmu itu!” sahut Arya tegas. Kemudian diangkatnya
guci arak yang sejak tadi dipegangnya.
Kemudian guci itu dibawanya ke atas mulut lalu diteguknya.
Arya memang berniat mencoba kehebatan ilmu
yang selama ini dipelajarinya.
Gluk….gluk….gluk….!
“Keparat! Bentak si Harimau Mata Satu. “Bunuh tikus
kecil ini!” perintah orang bermata picak itu pada anak
buahnya.
Bergegas dua orang anak buanya melompat turun dari
kuda sambil menghunus goloknya. Tanpa bicara apa-apa
kedua orang perampok itu segera menerjang Arya.
Singggg….! Singgg…!
Dua bilah golok itu melayang deras menyambar leher
dan dada Arya. Tapi Arya yang memang telah memutuskan
untuk tidak memberi ampun pada gerombolan perampok
itu membiarkan saja serangan dua batang golok yang
datang ke arahnya.
Takkk! Takkk!
Kedua batang golok itu patah-patah ketika
menghantam sasaran. Dan belum lagi kedua orang
perampok itu sadar dari keterkejutannya, kedua tangan
Arya yang diiringi jurus ‘Belalang Mabuk’ telah menghajar
mereka.
Bukkkk! Bukkkk!
Tubuh kedua orang perampok itu terpental jauh seperti
diseruduk banteng. Tanpa sempat mengeluh lagi dua orang
itu tewas dengan tulang dada hancur berantakan! Darah
langsung mengalir deras dari mulut, hidung dan matanya.
Sekujur tubuh merekapun hangus bagai terbakar!
Mata si Harimau Mata Satu terbelalak. Untuk sesaat
dipandangnya tubuh kedua anak buahnya yang terkapar di
tanah, kemudian beralih pada Arya yang masih meliuk-liuk
sempoyongan. Itulah jurus ‘Belalang Mabuk’!
“Serbu….!” Teriak Harimau Mata Satu keras.
Disadari kalau kepandaian pemuda berpakaian ungu
itu tidak mungkin dapat dihadapi sendiri maka si Harimau
Mata Satu tidak main-main lagi. Rasanya pemuda itu
memang harus dihadapi bersama-sama.
Puluhan orang perampok itu bergegas melompat turun
dari kuda masing-masing dan meluruk menyerbu Arya
dengan senjata terhunus. Puluhan senjata yang beraneka
ragam segera berkelebatan mengancam pemuda itu.
Arya sama sekali tidak bergerak atau menangkis.
Dibiarkan saja hujan bermacam-macam senjata yang
mengancam tubuhnya. Hanya yang mengancam bagianbagian
yang berbahaya saja yang ditangkis atau dielakkan
dengan langkah sempoyongan.
Takkk! Takkk!
Senjata-senjata itu terpental balik ketika mengahantam
tubuh maupun tangkisan tangan Arya. Dan sekali pemuda
itu membalas dengan menggerakkan tangannya, nampak
sesosok tubuh terlempar keluar dari gelanggang pertempuran
dalam keadaan tewas mengerikan.
Harimau Mata Satu menggeram murka melihat betapa
anak buahnya seperti semut menerjang api. Satu persatu
mereka berguguran di tangan pemuda berambut putih
keperak-perakan itu. Dengan perasaan geram dikeluarkan
senjata andalannya, sebuah rantai baja panjang yang di
ujungnya terdapat bola berduri.
“Hiyaaa…!” sambil berteriak nyaring, Harimau Mata
Satu melompat turun dari kudanya. Diputar-putarnya
rantai berujung bola berduri itu sebentar sebelum
diarahkan pada Arya.
Wuuut…!
Angin yang keras menderu mengiringi tibanya serangan
boal berduri itu.
Arya yang tengah dikeroyok puluhan orang perampok
itu tidak menjadi gugup melihat sambaran bola berduri
yang menuju ke arah kepalanya. Dengan hanya
menundukkan kepalanya sedikit, maka serangan bola
berduri itu hanya mengenai tempat kosong di atas
kepalanya. Betapa kuat tenaga yang terkandung dalam
lontaran itu sehingga rambut Arya yang panjang keperakan
dibuat berkibar.
Tidak hanya sampai di situ saa yang dilakukan Arya.
Pemuda itu segera mengulurkan tangan menangkap rantai
itu, lalu menyentakknnya. Harimau Mata Satu kaget bukan
main. Sungguh tidak disangka kalau lawannya ini mampu
bergerak secepat itu. sekuat tenaga dicobanya untuk
bertahan dari sentakan itu tapi kalah kuat. Tenaga dalam
yang dimiliki Arya jauh di atasnya. Maka tanpa ampun lagi
tubuhnyapun tersentak melayang ke arah pemuda itu.
Begitu tubuh Harimau Mata Satu itu berada di udara,
Arya langsung menggerakkan rantai yang berhasil
ditangkapnya. Dan dengan sekali sentak bola berduri itu
melayang deras menyambut kedatangan tuannya.
Untuk kesekian kalinya Harimau Mata Satu terperanjat
dan tidak punya pilihan lain lagi. Segea dilepaskan
pegangannya pada rantai, setelah sebelumnya
menggunakan rantai itu sebagai tempat berpijak untuk
melenting ke udara.
Tetapi hal itu sudah diperhitungkan Arya. Cepat
pemuda ini menyusulinya dengan menyampok beberapa
batang golok yang mengancam bagian-bagian berbahaya di
tubuhnya.
Trakkk! Trakkk!
Singgg…! Singgg…!
Beberapa batang golok menyambar deras ke arah
Harimau Mata Satu. Kali ini Harimau Mata Satu tidak
mampu lagi mengelak. Hanya tinggal satu jalan baginya
untuk menyelamatkan diri yaitu menangkap golok-golok itu.
Dan Harimau Mata Satu terpaksa melakukannya.
Tappp! Cappp! Cappp!
“Akh….!”
Harimau Mata Satu menjerit keras. Telapak tangan
kanannya yang digunakan untuk menangkap seketika
berlumuran darah. Sedangkan di perutnya tertancap tiga
batang golok yang menembus hingga ke punggung.
Harimau Mata Satu gagal menyelamatkan selembar
nyawanya. Lontaran golok-golok itu terlampau deras.
Sehingga walau golok pertama yang menyambar ke
arahnya dapat ditangkap, tapi tenaga pendorong golokitu
terlalu kuat. Akibatnya golok itu terus meluncur deras dan
menancap di prut, setelah melukai tangannya. Dan belum
lagi sempat berbuat sesuatu dua batang golok lainnya
menyusul tiba.
Tubuh Harimau Mata Satu langsung ambruk ke tanah.
Sesaat lamanya ia menggeliat-geliat sebelum akhirnya
diam tidak bergerak-gerak lagi untuk selama-lamanya.
Tentu saja kematian pemimpin membuat gerombolan
perampok itu menjadi semakin gentar. Sejak tadi hati
mereka memang sudah ciut bukan main melihat
kehebatan pemuda itu. Sudah lebih separuh dari mereka
yang tewas di tangan pemuda yang rupanya pemabukan
ini. Berkali-kali sambil menangkis, mengelak ataupun
menyerang, pemuda itu meminum araknya. Sesekali
terdengar suara dengikan keluar dari mulut pemuda itu.
Dalam sekejapan saja beberapa orang perampok itu
sudah menyusul temannya ke akhirat. Yang tinggal kini
hanya beberapa gelintir saja. Dan merekapun rupanya
sadar kalau terus-terusan melawan tidak akan ada
gunanya. Maka bergegas mereka semua melemparkan
senjata masing-masing kemudian menjatuhkan diri
berlutut di depan Arya.
“Ampun…. Ampunkan kami, Tuan Pendekar…. Kami
berjanji tidak akan berbuat jahat lagi,” ujar salah seorang
dari mereka dengan suara gemetar. Ucapan itu disambut
anggukan kepala teman-temannya.
“Orang semacam kalian sudah selayaknya dilenyapkan
dari muka bumi….!” Arya dengan posisi tidak tetap sambil
sesekali meneguk araknya.
“Benar, Arya!” sambut satu suara. Disusul munculnya
Ki Pandu dan pada penduduk desa itu. Mereka sudah
sejak tadi berada di situ dan melihat semua sepak terjang
Arya.
“Ampun, Tuan Pendekar! Jangan bunuh kami. Kami
benar-benar tobat dan berjanji tidak akan berbuat jahat
lagi. Kami akan menjadi orang baik-baik….”
“Masih berlakukah janji-janji bagi orang semacam
kalian?”
“Kami berjanji, Tuan Pendekar….”
“Baiklah. Tapi bila kudengar kalian berbuat jahat lagi.
Aku tak akan mengampuni kalian lagi. Mengerti?!”
“Mengerti, Tuan Pendekar.”
“Kalau begitu, pergilah! Sebelum aku mengubah
keputusanku.” Usir Arya.
“Terima kasih, Tuan Pendekar” ucap mereka hampir
bersamaan. Saking gembiranya dibentur-benturkan dahi
mereka ke tanah.
“Tapi, Arya….” Ki Pandu mencoba membantah. Dan
para penduduk sudah bergerak menghadang para
perampok yang akan meninggalkan tempat itu.
Arya menggoyang-goyangkan tangannya. “Biarkan
mereka pergi.”
Para penduduk itu merasa ragu-ragu dan langsung
menatap Ki Pandu. Ketika kepala desa itupun
menganggukkan kepalanya, maka para penduduk itupun
menyingkir membiarkan para permpok itu pergi. Debu
kembali mengepul tinggi ketika beberapa gelintir permpok
itu pergi dari situ sambil membawa kawan-kawan mereka
yang tewas.
Selagi semua pandangan mata tertuju pada para
permpok yang kian menjauh, Arya telah melesat cepat
meninggalkan tempat itu.
“Arya…. Arya….!” Ki Pandu celingukan mencari-cari
begitu teringat pada pemuda itu. “Ah, dia sudah pergi….
Pendekar aneh. Gerakan-gerakannyapun aneh. Baru kali ini
kulihat orang mabuk bermain silat begitu hebatnya. Hhh….
Kepandaian yang dimilikinya tak lumrah bagi manusia.
Atau jangan-jangan dia adalah Dewa yang menyamar
menjadi manusia?”
“Benar, Ki. Aku juga yakin kalau pemuda itu bukan
manusia biasa, melainkan Dewa.” Sambut salah seorang
penduduk.
“Tapi mana ada Dewa yang begitu doyan arak?” bantah
yang lainnya.
“Lho?! Siapa tahu dia… ,” sahut penduduk
yang lainnya membantu yang pertama.
“Ah, tepat sekali…. Tepat sekali julukan itu. Yahhh….
. Julukan yang amat cocok buat pemuda yang
berkepandaian luar biasa itu. . Ya….!” Tegas Ki
Pandu sambil merenung.
Tak lama kemudian mereka meninggalkan tempat itu.
sepanjang perjalanan yang dipercakapkan hanya tentang
Arya, yang hanya seorang diri telah mampu
menghancurkan gerombolan si Harimau Mata Satu yang
selama ini merajalela.
Beberapa hari kemudian, nama Arya alias si
telah mulai terkenal ke desa-desa sekitar. Seorang pemuda
yang bertubuh kekar berwajah jantan dengan rahang
kokoh dan alis tebal. Tambutnya berwarna putih keperakan
dan pakaiannya ungun. Itulah ! Seorang
pendekar yang siap menumpas keangkaramurkaan!
***


Dalam waktu yang tak lama, kehadiran pemuda yang
dijuluki orang sebagai telah
menggegerkan rimba persilatan. Kata orang ciri-ciri
dia adalah berambut putih keperakan dan berpakaian
ungu. Sedangkan ciri yang menonjol adalah sebuah guci
yang selalu tersampir di punggung!
Pagi ini udara nampak cerah. Hanya sedikit awan
menggantung di langit. Walaupun udara begitu bersih tak
ada tanda akan hujan namun seorang pemuda bergegas
melangkah kakinya. Apalagi setelah melihat perbatasan
Desa Kecipir. Dia adalah Arya Buana yang ingin segera
mengetahui keadaan ayahnya. Pemuda ini kawatir terjadi
sesuatu pada ayahnya. Ucapan Ki Pandu waktu itu telah
mengganggu pikirannya. Katanya Siluman Tengkorak Putih
telah mengganas, membunuhi pada pendekar dan menghancurkan
perguruan-perguruan silat yang beraliran putih.
Kata-kata itu kembali terngiang di telinga Arya Buana.
Tetapi sebelum kakinya mencapai perbatasan desa,
sebuah bisikan halus membuat dia harus menghentikan
langkahnya.
“Dik Arya….”
Arya Buana menoleh ke arah asal suara. Dan dari balik
kerimbunan semak-semak terlihat sebuah kepala
tersembul. Untuk sesaat lamanya alis pemuda berbaju
ungu ini berkerut. Rasanya pernah melihat wajah ini tapi
kapan dan di mana, ia lupa.
“Aku Satria…..”
“Ah, Ka….” Kini Arya teringat di mana pernah bertemu
pemuda itu. di mana lagi kalau bukan di Perguruan Tangan
Sakti yang bermarkas di Gunung Waru.
“Dik Arya, seudah demikian besarnya dirimu. Hampir-
hampir saja aku lupa.”
“Kang Satria bagaimana kabarmu?” tanya Arya gembira
sehingga bersuara agak keras.
“Ssst….!” Si pemilik suara yang ternyata adalah Satria
itu menempelkan jari telunjuknya di bibir mencegah Arya
bicara keras-keras. Dilambaikan tangannya pada pemuda
itu.
Arya menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah dilihatnya
suasana sekitar situ sepi, bergegas dihampirinya Satria
yang hanya berjarak dua tombak darinya.
“Ada apa Kakang Satria?” tanya Arya dengan suara
perlahan.
“Nanti saja kuceritakan. Sekarang kau ikut aku saja…..”
ajak Satria.
Arya meragu sejenak. “Sayang sekali, Kang. Kalau
sekarang aku tidak bisa ikut…..aku masih ada urusan.”
Wajah Satria mendadak murung.
“Aku tahu Arya. Kau ingin menjumpai ayahmu, kan?”
“Syukurlah kalau Kakang sudah tahu,” desah Arya
pelan. Dia memang merasa tidak enak melihat wajah
Satria yang murung begitu menolak ajakannya.
“Lebih baik kau urungkan niatmu, Arya.”
“Mengapa, Kang?’ Arya tersentak.
“Karena….karena ayahmu….sudah tidak ada lagi,
Arya….” Desah Satria pelan.
“Maksud, Kakang….. ayah…. tewas….?” tanya Arya
dengan wajah pucat pasi.
Satria tidak mampu menjawab dan hanya mengangguk
sambil menundukkan kepalanya. Tapi anggukkan itu sudah
cukup buat Arya. Tiba-tiba saja pemuda ini berteriak keras.
Satria kontan jatuh terduduk karena dengkulnya
mendadak lemas. Cepat dikerahkan tenaga dalamnya
untuk mengusir pengaruh teriakan yang masih tersisa itu.
Dengan mata terbelalak tampaklah sebatang pohon
besar tumbang. Daun-daunnya layu mengering. Pohon itu
rubuh dengan diiringi suara bergemuruh begitu Arya
mendorongkan kedua tangannya ke depan.
“Kubunuh kalian….! Kubunuh….! Ku... bunuuuuh….!”
Teriak pemuda berambut putih keperak-perakan itu keras.
Sepasang matanya mencorong kehijauan.
Satria memandang pemuda itu dengan hati bedebar.
Apa yang dlihat benar-benar mengejutkan hatinya. Sebuah
pertunjukan yang menggirikan hati!
“Katakan, Kakang… Katakan siapa yang telah membunuh
ayahku?” tanya Arya dengan naas terengah-engah.
“Sabar Arya. Tenangkan dulu pikiranmu. Aku tidak akan
memberitahukan siapa pembunuh ayahmu jika kau masih
diliputi amarah. Biarpun untuk itu aku harus mati di
tanganmu!” tegas Satria.
Ucapan itu menyadarkan Arya dari amarahnya. Pemuda
itu mengeluh pelan. Ditutupi mukanya dengan kedua
tangannya. Baru setelah itu ditariknya napas dalam-dalam
dan dihembuskannya kuat-kuat. Beberapa saat lamanya ia
melakukan hal itu. Setelah dirasakan amarahnya telah
mereda ditatapnya Satria dalam-dalam.
Satria tersenyum. “Hebat kau Arya. Jadi kau telah
mendapatkan kitab-kitab peninggalan Ki Gering Langit itu?’
Arya hanya mengangguk.
“Jadi rupanya kaulah yang dijuluki itu,
Arya?” tanya Satria lebih lanjut.
“? Aku? Ah, tidak salahkah apa yang kau
ucapkan itu, Kang?” tanya Arya heran. Dia memang tidak
tahu julukan itu. Sebab itu memang pemberian dari orangorang
yang pernah ditolongnya.
“Ciri-ciri yang kau miliki memang menunjukkan kalau
kaulah tokoh yang menggemparkan itu. Tokoh yang berani
menentang kejahatan secara terang-terangan setelah
Siluman Tengkorak Putih merajalela.”
“Ciri-ciri? Apakah ciri-ciri yang menunjukkan kalau aku
adalah itu, Kakang?”
“Yahhh…. Semua yang ada padamu itu adalah ciricirinya.
itu masih muda. Wajahnya tampan dan
jantan, rahangnya kokoh rambutnya putih keperak-perakan
berpakaian ungu. Selalu membawa guci arak. Dan
kepandaiannya seperti Dewa yang tidak mempan senjata!”
“Ah, belum tentu aku yang dimaksud sebagai tokoh itu,
Kakang. Aku yakin bukan aku yang dimaksud,” Arya masih
mencoba berkelit.
“Baiklah. Ada satu bukti lagi yang paling penting. Dan
bukti inilah yang dapat menunjukkan benar tidaknya kalau
kau adalah yang telah menggemparkan itu.”
“Apa bukti itu, Kakang?” tanya Arya penuh gairah.
“Kenalkah kau dengan Harimau Mata Satu ?”
“Kenal sih tidak. Tapi memang akulah yang membinasakan
ketika ia hendak membumi hanguskan Desa
Jati Alas.”
Satria tertawa penuh kemenangan. “Kau tahu Arya.
Berita yang menyebar itupun menyebutkan demikian.
Harimau Mata Satu dan gerombolannya telah dihancurkan
secara mudah oleh seorang pemuda yang bernama Arya
buana dan berjuluk !”
“Jadi….jadi….”
“Kau adalah itu!” tegas Satria.
Arya termenung. Julukan yang aneh, pikirnya. Tapi
kalau dipikir-pikir ada benarnya juga julukan itu.
“Sudahlah, Kang. Aku tidak memperdulikan hal itu. Terserah
orang akan menjuluki apa. Yang kuinginkan
sekarang adalah jawaban darimu, Kakang. Siapa sebenarnya
orang yang membunuh ayahku. Hanya itu!”
Satria menghela napas seperti ingin mencari kata-kata
yang tepat.
“Baiklah Arya. Semula aku ingin mengajakmu ke
tempat kami. Aku dan tokoh-tokoh persilatan golongan
putih diam-diam telah menyusun kekuatan. Di antara kami
ada pula putir si Raja Pisau Terbang. Tapi karena tidak
mempunyai orang yang dapat diandalkan untuk menghadapi
Siluman Tengkorak Putih, kami terpaksa menahan
diri. Putri Raja Pisau Terbang telah meminta ayahnya untuk
membantu usaha kami. Mula-mula beliau menolak karena
sudah terlalu tua dan tidak ingin mengotori tangannya
dengan darah lagi. Tapi berkat usaha Ningrum yang tidak
kenal putus asa, Raja Pisau Terbang mengalah juga. Beliau
berjanji akan datang hari ini. Dan rencananya kami akan
menyerang markas mereka nanti malam.”
“Mereka?” alir Arya berkerut.
“Ya,” jawab Satria singkat.
“Siapa mereka?’ tanya Arya lagi.
“Siluman Tengkorak Putih dan anak buahnya.”
“Lalu siapa yang membunuh ayahku, Kakang?”
“Siluman Tengkorak Putih”
“Hm…. Dia rupanya! Tunggulah pembalasanku
keparat!” desis Arya yang berjuluk dengan
perasaan geram.
“Arya….” Panggil Satria ragu-ragu.
“Ada apa, Kakang.”
“Kau tidak ingin bergabung bersama kami? Kita
menyerang mereka nanti malam dan sekarang hanya
tinggal menunggu Raja Pisau Terbang.”
“Maafkan aku, Kakang. Aku sudah tidak sabar lagi
menunggu. Ingin selekasnya aku membuat perhitungan
dengan siluman itu!” tandas Arya.
“Terserah, kalau itu sudah menjadi keputusanmu,” ujar
Satria sambil mengangkat bahu. “Aku tidak akan menghalangi.
Hanya saja pesanku, berhati-hatilah Arya. Siluman
Tengkorak Putih hebat sekali. Bahkan paman gurumu telah
tewas di tangannya….”
“Apa….?!” Sepasang mata Arya terbelalak. Terbayang di
benaknya sesosok tubuh tua yang bertubuh bongkok
udang yang amat menyayanginya. “Paman guru….
tewas….?!”
“Ya….bukan hanya itu saja. Si keparat itu telah
membantai semua murid Perguruan Tangan Sakti.
Beruntung aku, Mega dan beberapa orang berhasil
menyelamatkan diri. Kalau tidak berpikir untuk membalas
dendam mungkin kami labih suka mati bersama-sama
mereka….” Jelas Satria lebih lanjut.
“Siluman Tengkorak Putih….” Desisi Arya dengan suara
ditekan. “Dosamu sudah terlampau banyak. Kau atau aku
yang harus mati!”
“Arya redakan kemarahanmu supaya kau tak celaka di
tangannya. Sebelum guru tewas, Raja Pisau Terbang
mengatakan kalau Siluman Tengkorak Putih itu memiliki
ilmu ‘Ular Terbang’. Dan itu sempat kudengar.”
“Ilmu ‘Ular Terbang’? bukankah ilmu itu milik Ular
Hitam?”
“Benar. Begitu pula yang diucapkan Raja Pisau
Terbang….”
“Bomantara. Pasti! Ya, siluman itu pasti Bomantara.
Tak ada lagi orang yang memiliki ilmu ‘Ular Terbang’, milik
Ular Hitam kecuali dia….”
“Bomantara?” Satria mengerutkan alisnya. “Bukan,
Arya. Bukan Bomantara nama siluman itu. aku ingat betul
karena Raja Racun Pencabut Nyawa berkali-kali memanggil
namanya. Dan bukan Bomantara nama yang dipanggil.
Tapi, Gerda! Ya, Gerda.”
Beberapa saat lamanya, Arya buana termenung. Mana
yang benar, Gerda atau Bomantara. Pusing memikirkannya!
Apalagi ketika mendengar nama Raja Racun Pencabut
Nyawa disebut-sebut. Ayahnya mengatakan kalau iblis itu
adalah pamannya karena dia adalah kakak kandung ibunya.
Tapi kini dia harus bertentangan dengan pamannya
itu. Memang terpaksa. Bisakah ia bertarung dengan
pamannya sendiri?
“Lalu di manakah markas mereka, Kang?” tanya Arya
tak ingin memikirkan masalah itu.
“Di rumahmu yang dulu….” Sahut Satria mengalah.
“Kalau begitu aku pergi dulu, Kang.”
Setelah berkata demikian tanpa menunggu jawaban
Satria tubuh Arya melesat. Sebentar saja yang terlihat
hanyalah titik hitam yang akhirnya lenyap di kejauhan.





Load disqus comments

0 komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top