Senin, 02 April 2012

DEWA ARAK - Pedang Bintang 3

Serial Dewa Arak
Aji Saka

Malam itu langit kelihatan cerah. Tidak ada awan yang
mengantung di langit. Bulan penuh yang tampak di langit
menambah terangnya suasana.
Tetapi rupanya suasan cerah tidak menjamin bahwa
suasana akan aman. Terbukti di malam ini nampak dua
sosok tubuh berkelebat cepat melompati pagar tembok
bangunan milik Pendekar Ruyung Maut, yang dulunya
adalah milik Ki Gering Langit. Gerakan mereka cepat bukan
main. Suatu tanda kalau dua sosok tubuh itu bukanlah
orang sembarangan! Dan hal itu memang tidak salah.
Ternyata dua sosok itu adalah Gerda, si Siluman Tengkorak
Putih dan si Raja Racun Pencabut Nyawa.
“Tribuana! Keluar kau!” teriak Raja Racun Pencabut
Nyawa memanggil nama asli Pendekar Ruyung Maut.
Begitu ia dan Siluman Tengkorak Putih berada di depan
pintu bangunan besar itu. Suara yang dikeluarkan dengan
pengerahan tenaga dalam yang kuat itu, bergema ke
sekitar bangunan besar milik Tribuana alias Pendekar
Ruyung Maut.
Karuan saja suara penggilan dari luar itu mengagetkan
Pendekar Ruyung Maut yang berada di dalam. Apalagi
suara penggilan itu menyebut nama aslinya. Nama yang
jarang diketahui orang. Sepengetahuannya hanya dua
orang saja yang tahu nama aslinya. Mereka adalah kakak
seperguruannya, Ki Wanayasa dan istrinya sendiri. Tetapi
menilik dari suara panggilan itu, Tribuana berani bertaruh
kalau suara itu bukan salah satu dari kedua orang yang
dimaksudkan. Lalu siapa?
Pendekar Ruyung Maut melangkah ke luar. Tidak lupa
diselipkan ruyungnya di pinggang. Memang dari nada
suaranya orang yang memanggil itu tidak bermaksud baik.
Begitu pintu dibuka, nampak sekitar tiga tombak di
depannya berdiri dua sosok tubuh. Suasana yang cukup
terang membuat Pendekar Ruyung Maut ini dapat melihat
jelas dua sosok tubuh itu. salah satunya langsung dapat
dikenali sebagai si Raja Racun Pencabut Nyawa. Telah dua
kali dia bertemu tokoh ini. iblis itu adalah kakak kandung
istrinya. Dan hal ini membuatnya serba salah. Sulit baginya
untuk bertempur melawan si Raja Racun Pencabut Nyawa
ini!
Perhatian Tribuana kini beralih pada sosok serba putih
yang berdiri di samping Raja Racun Pencabut Nyawa.
Dicobanya untuk mengingat-ingat barangkali saja pernah
kenal atau setidaknya mendengar tokoh ini. Tapi sampai
lelah mengingat-ingat, tidak juga dikenali orang itu.
meskipun demikian Pendekar Ruyung Maut ini harus
bersikap waspada. Sepasang matanya yang tajam
mencorong dan bersinar kehijauan seperti maka kucing
dalam gelap itu benar-benar membuatnya terkejut. Sebagai
seorang yang telah kenyang dengan pengalaman, Tribuana
tahu kalau sorot mata seperti itu hanya akan muncul pada
mata orang yang telah memiliki tenaga dalam tinggi.
“Apa keperluanmu sehingga Kakang Lindu
menemuiku?” tanya Pendekar Ruyung Maut pelan.
Si Raja Racun Pencabut Nyawa yang ternyata bernama
Lindu, mendengus. “Tidak perlu berbasa-basi, Tribuana!
Cepat serahkan padaku!”
“?!” sahut Pendekar Ruyung Maut purapura.
“Tidak usah pura-pura, Tribuana! Atau kini kau telah
menjadi seorang pengecut sehingga tidak berani mengakui
benda yang ada di tanganmu?!”
Pendekar Ruyung Maut menghela napas panjang.
Ucapan Raja Racun Pencabut Nyawa membuatnya mati
kutu.
“Kuakui, kalau pedang itu semula ada padaku, Kang
Lindu. Tapi sekarang, tidak lagi….”
“Keparat! Lalu, sekarang di mana pedang itu?!” desak
si Raja Racun Pencabut Nyawa.
“Sayang sekali, Kang Lindu. Tidak mungkin kuberitahukan
padamu!” tegas sekali kata-kata Pendekar Ruyung
Maut itu.
“Menyingkirlah, Paman” selak Siluman Tengkorak Putih
sambil melangkah maju menghampiri Tribuana.
“Jangan gegabah dulu, Gerda. Akan kuperiksa dulu
bangunan ini. Seingatku ia mempunya seorang anak lelaki
yang kini pasti sudah remaja. Aku akan mencari anak itu
dulu!”
“Cepatlah, Paman” sahut Siluman Tengkorak Putih tak
sabar.
Raja Racun Pencabut Nyawa segera melesat ke dalam
rumah besar itu, Pendekar Ruyung Maut berusaha menghadang,
tetapi terjangan Siluman Tengkorak Putih membuat
niatnya terhenti.
Kagetlah pendekar ini melihat kehebatan serangan dan
kekuatan tenaga yang tekandung dalam serangan Siluman
Tengkorak Putih. Tanpa ragu-ragu lagi, pem langsung
mengerahkan ilmu andalan ‘Delapan Cara Menaklukkan
Harimau’.
Tetapi dalam beberapa jurus saja Pendekar Ruyung
Maut sudah terdesak. Pendekar ini memang kalah segalasegalanya
jika dibandingkan lawannya. Baik kecepatan
gerak maupun kekuatan tenaga dalam. Sehingga tidak
aneh jika hanya sebentar saja ia sudah dibuat pontangpanting.
“Hiyaaa….!”
Pendekar Ruyung Maut berteriak keras sambil mencabut
senjatanya. Langsung diayunkan ruyungnya itu ke
kepala lawan.
Siluman Tengkorak Putih hanya mendengus. Tangan
kanannya cepat-cepat diangkat melindungi kepalanya.
Takkk….!
Pendekar Ruyung Maut terhuyung. Mulutnya menyeringai.
Sekujur tangannya seolah-olah terasa lumpuh
tatkala tangna sosok serba putih itu menangkis ruyungnya.
Di saat yang tidak menguntungkan bagi pendekar itu,
totokan ujung kaki Siluman Tengkorak Putih menyambar
cepat ke arah lututnya.
Tukkk….!
“Akh….!”
Pendekar Ruyung Maut mangeluh. Sambungan tulang
lututnya kontan terlepas. Akibatnya tubuhnyapun
sempoyongan. Dan kini lagi-lagi serangan susulan dari
Siluman Tengkorak Putih kembali menyambar.
“Hugh….!”
Kembali Tribuana mengeluh ketika sebuah tepakan
laki-laki berjubah putih itu telak menghantam dadanya.
Ketika pendekar ini terbatuk ada segumpal darah kental
keluar dari mulutnya. Tanpa ampun lagi tubuhnya terbanting
ke tanah. Serangan itu memang dahsyat sekali.
Dan saat itulah si Raja Racun Pencabut Nyawa keluar
dari dalam rumah besar itu.
“Bagaimana, Paman?” tanya Siluman Tengkorak Putih.
Si Raja Racun Pencabut Nyawa hanya menggeleng.
“Bagaimana Tribuana?” Siluman Tengkorak Putih
menoleh ke arah Pendekar Ruyung Maut yang masih tergolek
di tanah dengan napas tersenggal-senggal. “Kau
ingin menunjukkan ke mana perginya putramu itu dengan
nya?”
“Lebih baik aku mati!” tandas Tribuana.
“Baik, kalau itu yang diinginkan! Tapi jangan harap
akan kubunuh begitu saja! Kau akan kusiksa pelan-pelan!”
ancamnya.
“Jangan harap dapat membuatku takut, iblis! Cuhhh…!”
“Bangsat!” maki Siluman Tengkorak Putih.
Seketika kaki Siluman Tengkorak Putih bergerak menginjak.
Kemarahan membuatnya lupa pada ancamannya.
Kakinya dijejakkan pada dada Tribuana sambil menekan
kuat-kuat. Terdengar suara gemeretaknya tulang-tulang
yang berpatahan. Darah segar memancur deras dari mulut,
hidung, telinga dan bahkan mata Pendekar Ruyung Maut.
Sejak malam itu maka gemparlah dunia persilatan.
Siluman Tengkorak Putih benar-benar mengamuk. Setiap
perguruan silat yang beraliran putih dihancurkan, tak
terkecuali Perguruan Tangan Sakti. Bahkan Ki Wanayasa
telah ditewaskannya! Sementara para tokoh kaum hitam
mulai bersorak gembira. Kini mereka berani melakukan
kejahatan dengan lebih leluasa. Hanya saja si Raja Pisau
Terbang dan Bargola belum terdengar lagi beritanya.
***
Byurrr…!
Setelah beberapa saat lamanya melayang di udara
tubuh Arya Buana langsung jatuh di permukaan air sumur
itu. Berkat ilmu meringankan tubuhnya yang sudah cukup
tinggi, pemuda itu tidak menemukan halangan berarti.
Beberapa saat tubuh Arya Buana mengapung di
permukaan air. Sepasang matanya nyalang mengamati
bagian dinding sumur mencari-cari lubang yang dikatakan
ayahnya. Berkat kegigihannya akhirnya lubang itu berhasil
ditemukan. Persis seperti yang dikatakan ayahnya. Lubang
itu terletak hanya sekitar setengah tombak dari pemukaan
air sumur.
Arya Buana menimbang-nimbang sejenak. Rasanya
tidak mungkin dapat mencapai lubang itu dengan
melompat. Kalau di darat jarak seperti itu memang bukanlah
apa-apa. Tapi kalau di air bagaimana hal itu dapat di
lakukannya? Kakinya tidak mempunyai landasan yang
cukup mantap untuk tempat menjejak. Kalau ayahnya
memang sudah dapat dipastikan akan melakukan hal itu.
Setelah beerpikir beberapa saat lamanya, Arya Buana
segera berenang ke dinding sumur mendekati lubang itu.
segera diambilnya sebilah pisau kemudian pelan saja
ditancapkannya di dinding sumur. Sesaat kemudian
dikeluarkan pula dari warangkanya. Baru
setelah itu tubuhnya melenting dan hinggap di atas pisau
yang tadi ditancapkannya di dinding. Pisau itu nampak
agak goyah karena Arya Buana hanya menghujamkan perlahan
saja.
“Hup!”
Sambil menekankan pada landasan, Arya Buana
melompat ke atas. Dan ketika tubuhnya berada tepat di
depan lubang yang hanya kecil saja itu. Segera
ditancapkan pedangnya sekuat tenaga.
Crap!
Pedang itu amblas ke dinding sumur hingga setengahnya
lebih. Karuan saja hal ini membuat tubuh Arya Buana
tergantung di depan lubang itu. Sekilas Arya melirik ke
bawah, ke tempat ia menancapkan pisaunya. Mulutnya
menyunggingkan senyum lega ketika pisau itu sudah tidak
ada lagi di tempatnya. Memang agar tidak meninggalkan
jejak yang dapat diketahui para pemburu pusaka Ki Gering
Langit.
Kini Arya mengalihkan perhatian pada lubang kecil
yang tepat berada di depannya. Lubang itu kelihatan kecil
dan gelap. Garis tengahnya tidak lebih dari setengah
tombak. Dengan hanya mengayunkan tubuhnya sedikit,
pemuda remaja itu telah berada di dalam.
Arya Buana memasukkan ke
warangkanya kembali. Tubuhnya terpakda merangkak
karena sempitnya lubang untuk masuk lebih ke dalam. Dan
ternyata lubang itu tidak datar saja. Arya Buana merasa
kalau arah lubang ini menanjak. Dan ternyata semakin ke
dalam, lubang itu semakin membesar. Sampai akhirnya
pemuda remaja itu tidak merangkak lagi bahkan bisa
berjalan biasa.
Setelah beberapa lama akhirnya sampailah Arya Buana
pada sebuah ruangan yang cukup luas dan terang seperti
ada cahaya yang menyinarinya. Entah dari mana asal sinar
itu dan pemuda itu tidak mengetahuinya. Apalagi untuk
memikirkannya. Tubuh dan pikirannya lelah sekali. Di sini
Arya Buana menjatuhkan tubuhnya kemudian bersandar
pada dinding. Untuk beberapa saat lamanya tubuhnya
tetap bersandar tapi sebentar kemudian telah duduk bersila.
Ditegakkannya tubuhnya dan dirapatkan kedua
tangannya di depan dada. Dan kini Arya Buana sudah
tenggelam dalam semadinya. Suasana sekitar tempat itu
yang semula hening, kini dipecahkan suara napas yang
keluar masuk dari mulut dan hidung Arya Buana. Suara
napas yang berirama tetap.
Setelah dirasakan tenaganya kembali pulih, Arya Buana
menghentikan semadinya. Sebentar diperhatikan ruangan
di sekitarnya. Ruangan ini ternyata mempunyai beberapa
buha lorong. Segera pemuda ini mengeluarkan gulungan
kain yang disimpan. Dibuka dan diperhatikannya petunjuk
dan coretan yang ada. Setelah hatinya mantap barulan dipilihnya
lorong sebelah kanan.
Berbeda dengan lorong gua di atas permukaan sumur,
lorong ini lebih nyaman dan enak untuk dijalani. Arya
Buana melewatinya sambil mengerahkan ilmu meringankan
tubuh.
Entah berapa lama Arya Buana menempuh lorong itu
sehingga tidak tahu siang atau malam. Yang dilakukannya
hanya terus berlari sampai lelah dan lapar. Baru setelah dirasakan
letih dia beristirahat dan makan. Kini dia harus
melanjutkan perjalanan lagi hingga akhirnya ia melihat
berkas sinar di ujung lorong yang tengah dilalui.
Dengan perasaan gembira yang meluap-luap, Arya
Buana segera mempercepat langkah menuju asal sinar itu.
Sekali lihat saja dari jarak jauh, Arya telah mengetahui
kalau sinar itu berasal dari cahaya matahari. Dan itu berarti
di ujung yang berhubungan dengan dunia bebas!
Tak berapa lama kemudian, Arya Buana telah berada
tidak jauh dari sinar itu. setibanya di sini, dugaannya
memang benar. Ujung lorong ini memang berhubungan
dengan dunia luar. Hanya saja lubangnya ditutupi
rerimbunan semak belukar sehingga tak terlihat oleh
pandangan orang luar. Dan sinar yang dilihatnya itu
memang berasal dari sinar matahari yang menerobos
rerimbunan semak belukar itu.
***

Dengan tangan agak gemetar, Arya menyibakkan
semak belukar itu. untuk sesaat lamanya pemuda
itu menundukkan kepala sambil menutupi kedua
matanya dengan tangan kanan. Silau rasanya diterpa sinar
yang telah sekian lama tidak dilihatnya.
Setelah agak terbiasa, barulah Arya menurunkan
tangannya. Dilangkahkan kakinya keluar dari lorong itu
setelah terlebih dahulu merapikan kembali semak belukar
yang tadi disibaknya. Kemudian sepasang matanya
memandang berkeliling mengamati sekitarnya.
Untuk beberapa saat lamanya pemuda itu masih
mengamati sekitarnya. Sepasang alisnya yang tebal dan
berbentuk golok nampak berkerut. Rupanya ada yang
tengah dipikirkan. Tak lama kemudian dikeluarkan kembali
gulungan kain yang diselipkannya di balik baju di pinggang.
Dibukanya kembali dan diamat-amati lagi coretan-coretan
dan garis-garis yang tertera di situ.
“Hm….pantas saja tidak kutemukan. Rupanya ada
sesuatu yang kulupakan….” Gumam pemuda itu seperti
untuk dirinya sendiri. “Dari mulut lorong melangkah ke
kanan sejauh dua puluh langkah. Lalu ke kiri sepuluh
langkah dan ke depan tiga langkah….”
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Arya
menyelipkan kembali gulungan kain itu di pinggang. Maka
kakinya mulai melangkah sesuai petunjuk yang tertera di
gulungan kain itu. dan kini tubuh Arya telah berada di
depan sebuah pohon berbatang besar dan berongga.
Tanpa ragu-ragu lagi dimasukinya rongga pohon itu.
Baru sekitar lima langkah melangkahkan kaki di
depannya telah terbentang sebuah tangga menuju ke
bawah yang terdapat jalan lurus sekitar sepuluh tombak.
Tak lama ditemukan tangga lagi yang menuju ke atas. Arya
segera menaikinya. Di situ ditemukan lagi jalan yang
berakhir pada sebuah ruangan yang pintunya tertutup
rapat dan Arya segera melangkahkan kakinya. Sampai di
sini Arya bimbang. Haruskan dibukanya pintu itu? Tidakkah
perbuatan itu sangat tidak sopan. Karena bagaimanapun
juga diyakini kalau tempat ini mempunyai pemilik.
Selagi Arya dicekam keragu-raguan, tiba-tiba terdengar
bentakan keras dari dalam ruangan itu.”Mengapa raguragu
murid murtad! Ayo masuk! Dan bunuhlah aku!
Mengapa hanya termenung di depan pintu?”
Karuan saja bentakan itu membuat Arya kebingungan.
Siapakah yang dimaksud oleh orang yang membentak di
dalam itu. Diakah? Lalu, kalau betul kenapa dia dimaki
sebagai murid murtad? Bukankah Arya hanya mempunyai
seorang guru yakni ayahnya sendiri? Jangan-jangan yang
dimaksudkan orang yang di dalam itu adalah dirinya. Kalau
bukan lalu siapa? Berbagai macam pertanyaan dan
dugaan berkecamuk di benak Arya.
Beberapa saat lamanya Arya termenung di depan pintu
ruangan itu. Dipertimbangkan apakah lebih baik masuk
atau menunggu saja. Jelas bila melihat coretan dan garis
yang tertera di gulungan kain itu, di ruang itulah tersimpan
kitab-kitab Ki Gering Langit. Tapi apakah sepantasnya jika
langsung masuk? Tidakkah sebaiknya meminta ijin dulu
pada pemiliknya? Benar! Ia harus meminta ijin dulu. Dan
pemiliknya pasti berada di dalam.
Kini Arya tidak ragu-ragu lagi. Segera digerakkan
tangannya hendak mengetuk pintu itu. Tapi mendadak
gerakan tangannya terhenti di udara. Ternyata dia
menemukan adanya kejanggalan pada pintu ini! Pintu itu
ternyata dikunci dari luar. Berkerut kening Arya melihat hal
ini. Otaknya yang cerdas segera dapat menduga kalau
orang yang melakukan ini bermaksud mengurung sesuatu.
Dan suara makian tadi berasal dari dalam. Jadi itu adalah
suara orang yang terkurung!
Kembali hati Arya dilanda kebimbangan. Haruskah
dibuka paksa pintu itu? tidakkah itu berarti telah bertindak
lancang? Siapa tahu kalau seseorang yang terkurung itu
adalah tokoh yang berbahaya. Bukankah itu berarti dia
telah berbuat suatu kesalahan? Pemuda ini memutar
otaknya. Diingat-ingatnya lagi ucapan yang tadi keluar dari
dalam. Masih jelas terngiang di telinganya bunyi makian
tadi.
Dari bunyi makian itu Arya segera saja dapat menduga
kalau yang terkurung itu adalah seorang guru. Sementara
orang yang mengurungnnya adalah muridnya yang murtad.
Lenyaplah kini keragu-raguan Arya. Ditatapnya pintu itu
sejenak. Walau kelihatannya pintu itu begitu tebal dan
kuat, tapi pemuda itu yakin kalau akan mampu
menghancurkannya dengan sekali pukul saja! Hal ini diamdiam
membuat Arya agak heran. Ia tahu seorang tokoh
rendahpun akan mampu menghancurkan pintu itu. Tapi
kenapa orang yang berkedudukan sebagai guru itu tidak
mampu melakukannya?
Brakkk….!
Dengan mengeluarkan suara agak ribut, pintu itu
hancur berkeping-keping. Sejenak Arya mengawasi
keadaan di dalamnya. Segera dilangkahkan kakinya masuk
disertai sikap waspada. Begitu melangkah masuk, Arya
sudah menyiapkan ilmu andalannya, ‘Delapan Cara
Menaklukkan Harimau’.
Tapi kewaspadaannya seketika pupus. Ternyata dia
melihat pemandangan yang mengenaskan di hadapannya
kini. Tampak sesosok tubuh kurus tua yang tengah duduk
bersila di atas tanah lembab. Kedua tangannya nampak
dililit gelang baja yang masing-masing dihubungkan dengan
rantai. Begitu pula pada sepasang kakinya.
Kakek itu mengangkat wajahnya menatap Arya.
Seketika meremang bulu kuduk pemuda itu. sepasang
mata kakek itu begitu tajam mencorong dan bersinar
kehijauan mirip mata seekor kucing dalam gelap. Sekali
pandang saja Arya sadar kalau kakek itu pasti memiliki
tenaga dalam yang sangat tinggi. Hanya orang yang
memiliki tenaga dalam tinggilah yang memiliki sinar mata
seperti itu. hanya saja yang masih menjadi teka-teki bagi
Arya mengapa kakek ini tidak membebaskan diri dari
kurungan dan belenggu rantai itu? Dengan tenaga dalam
yang dimiliki semua belenggu bagaikan permainan anakanak
saja!
“Siapa kau, Anak Muda?” tanya kakek itu pelan.
Sepasang mata itupun kembali meredup. “Dan apa
hubunganmu dengan Boma?”
“Boma? Maaf, Kek. Aku tidak mengenal nama itu,”
jawab Arya hati-hati.
“Tidak mengenalnya? Jangan bohong kau, Anak Muda.
Kalau bukan teman atau suruhannya, mana mungkin kau
bisa tiba di sini. Tidak ada seorangpun yang tahu tempat ini
kecuali Boma. Bomantara si murid murtad!” tegas kakek
itu.
“Sungguh, Kek. Aku tidak mengenal orang yang Kakek
sebut itu. aku tahu tempat ini secara kebetulan saja,”
bantah Arya.
“Kebetulan?!” kakek itu tersenyum pahit. Sepasang
matanya kini kembali mencorong menatap Arya penuh
selidik. Tapi tiba-tiba saja sepasang mata itu terbelalak.
Arya tentu saja dapat melihat keterkejutan sorot mata
dan wajah kakek itu. segera diikuti arah pandangan kakek
itu. Dan hatinya tersentak ketika ia menyadari kalau yang
membuat kakek itu terkejut adalah benda yang tergantung
di punggungnya. !
Cepat-cepat Arya berusaha menyembunyikannya dari
pandangan kakek itu, tapi terlambat. Kakek itu rupanya
sudah mengetahui.
“….” Desak kakek itu pelan. “Kakang
Gering. Setelah sekian tahun, akhirnya muncul juga
pewaris yang kau sebut-sebut itu…. Ah, rupanya Gusti Allah
masih berkenan mengabulkan permohonanku. Anak Muda,
kemarilah….!” Ajak kakek itu sambil melambaikan
tangannya. Dengan agak ragu, Arya melangkah mendekat.
Kakek itu rupanya tahu kalau pemuda remaja di
hadapannya ini masih curiga padanya.
“Tak perlu takut padaku, Anak Muda. Aku tidak akan
mungkin bisa mencelakaimu. Dulu, memang hampir setiap
orang menyebut namaku dengan perasaan gentar. Tapi
sekarang tidak lebih dari seorang anak bayi!”
Tercekat Arya mendengar ucapan kakek itu. Dirasakan
ada nada kesungguhan dan kegetiran di dalam hatinya.
Keadaan kakek inipun lebih mempertegas ucapannya.
“Bomantara, si murid murtad itulah yang telah
membuatku lemah seperti kakek-kakek jompo,” tutur
kakek itu lagi. “Ahhh…. Aku berdosa! Aku telah
menciptakan seorang iblis di dunia persilatan. Iblis jahat
yang tidak akan ada yang sanggup menandinginya….”
“Kek….” Tegur Arya pelan.
Kakek itu menatap Arya lekat-lekat. “Anak Muda jawab
secara jujur pertanyaanku. Dari mana kau dapatkan
itu?’
Tanpa ragu-ragu lagi Aryapun menceritakan semuanya.
Dari awal mula kedatangan dia bersama ayahnya ke
Gunung Waru sampai akhirnya terpaksa harus berpisah
dengan ayahnya.
“Ah! rupanya kau bukan orang sembarangan, Arya. Aku
kenal siapa itu Ki Wanayasa, paman gurumu maupun
Pendekar Ruyung Maut ayahmu. Mereka adalah orangorang
yang senantiasa membela kebenaran. Pedang
Bintang benar-benar jatuh ke tangan yang tepat.”
“Kalau boleh kutahum siapakah Kakek sebenarnya?’
tanya Arya.
Semula pemuda ini menduga kakek ini adalah Ki
Gering Langit. Tapi setelah kakek ini menyebut Kakang
Gering, barulah dia tahu kalau kakek ini bukanlah tokoh
yang dimaksud.
Kakek itu terkekeh pelan. “Aku? Perlukan itu Arya?”
“Perlu, Kek.”
“Baiklah. Akan kuperkenalkan diriku. Dulu, dunia
persilatan menjuluki diriku Ular Hitam. Tapi sekarang
julukan yang pantas buatku adalah Ular Sakit!”
“Hugh!”
Arya merasakan betapa perutnya mendadak sakit.
Sungguh di luar dugaannya kalau dirinya sampai bertemu
datuk golongan hitam ini.
“Kau tidak usah takut, Arya. Seperti yang telah
kukatkan tadi, sekarang aku telah menjadi seorang yang
lemah seperti bayi.” Tegas kakek yang mengaku berjuluk
Ular Hitam, ketika melihat Arya yang wajahnya mendadak
pucat.
Penegasan kakek itu membuat keberanian Arya timbul.
Ya, mengapa harus takut? Kakek ini entah karena
mengapa, kini telah menjadi orang lemah. Dan telah
dilihatnya sendiri kenyataannya. Lagi pula nampaknya
kakek itu tidak bermaksud jahat padanya. Apalagi yang
harus dikawatirkan? Maka iapun melangkah maju
menghampiri.
“Mengapa bisa begitu, Kek?” tanya Arya ingin tahu.
“Ceritanya cukup panjang, Arya. Kau akan bosan
mendengarkannya.”
“Tidak, Kek.”
“Baiklah.” Ujar Ular Hitam mengalah.
Sejenak suasana hening, sementara kakek itu memulai
ceritanya.
“Sekitar tujuh belas tahun yang lalu, aku memungut
murid yang bernama Bomantara. Karena kulihat dia
memiliki bakat yang amat baik untuk mempelajari ilmu
silat. Kugembleng dia dengan sungguh-sungguh dan
kuwariskan seluruh ilmu yang kumiliki,” sejenak Ular Hitam
terdiam. Sepertinya tengah mencari napas untuk menguatkan
perasaannya. Sementara itu Arya Buana hanya diam

penuh perhatian.
“Pada suatu ketika, kakak kandungku, Ki Gering Langit
singgah menjumpaiku. Dia menitipkan kitab-kitab ilmu
silatnya di sini dengan pesan agar diberikan kepada orang
yang nanti membawa ,” kembali kakek
yang berjuluk Ular Hitam ini menghentikan ceritanya.
Ditatapnya wajah Arya Buana dalam-dalam. Sedangkan
Arya Buana tak kuasa untuk membalas tatapan itu.
“Aku meminta pada Ki Gering Langit untuk
menurunkan sebagian dari ilmu-ilmunya kepada
Bomantara. Pada mulanya dia berkeberatan. Tapi karena
terus kudesak, akhirnya iapun memberikan sebuah kitab
padaku untuk diberikan pada Bomantara. Sehabis itu
iapun pergi. Tapi sungguh di luar dugaan kalau Bomantara
itu ternyata mengkhianatiku. Bersama-sama Raja Racun
Pencabut Nyawa yang sangat membenciku, ia
mencelakaiku.” Sebentar Ular Hitam menghentikan
ceritanya, lalu menarik napas panjang dalam-dalam.
Matanya sedikit berkaca-kaca, seperti menahan perasaan
yang amat dalam.
“Dengan keji mereka menjebakku untuk meminum
racun yang membuatku jadi orang lemah selamanya.
Racun itu akan menyerangku apabila mengerahkan sedikit
saja tenaga dalam. Serangan yang begitu menyiksa. Itulah
sebabnya mengapa aku tidak mampu membuka rantai ini
dan pintu yang terkunci dari luar iu. Karena begitu kumulai
menyalurkan tenaga dalam, racun itupun langsung
menyerangku.”
Arya tercenung begitu kakek itu telah menyelesaikan
ceritanya. Sungguh tidak diduga begitu pahitnya kenyataan
yang dihadapi si Ular Hitam. Dikhianati muridnya sendiri!
“Dengan tingkat kepandaiannya yang sekarang, dapat
kupastikan tidak ada satupun tokoh yang sanggup
menghadapinya. Tak terkecuali para datuk persilatan.
Kecuali kakak kandungku, Ki Gering Langit! Tapi mana
mau ia turun tangan menghadapi seorang anak ingusan
macam Bomantara! Maka jelas sudah murid murtad itu
akan mengacau dunia persilatan tanpa ada yang bisa
menghalangi. Ia telah mewarisi seluruh kepandaianku
dengan sempurna. Demikian pula seluruh ilmu Raja Racun
Pencabut Nyawa. Dan yang lebih gila lagi, diapun telah
menerima ilmu-ilmu Ki Gering Langit yang membuatnya
memiliki tenaga dalam luar biasa. Lengkaplah sudah
kepandaian yang dimilikinya. Kecepatan gerak diwarisi
dariku. Kekuatan tenaga dalam dari Ki Gering Langit. Dan
pengetahuan racun dari Raja Racun Pencabut Nyawa!” Ular
Hitam berhenti sebentar, seperti ingin mengambil napas.
Dadanya memang terasa sesak jika mengingat-ingat
pengkhianatan bekas muridnya, Bomantara.
“Bomantara akan menjelma jadi iblis yang tidak terlawan!
Dan semua ini akibat salahku yang tidak bisa
menangkap hati orang. Hhh….! Bertahun-tahun aku mohon
pada Gusti Allah agar segera mengirimkan orang yang
menurut kakakku akan membawa . Waktu
itu aku sudah hampir putus asa menunggunya. Sungguh
tidak kusangka kalau Gusti Allah akhirnya mengabulkan
permohonanku dengan mengutusmu ke sini, Arya” jelas
Ular Hitam lagi.
“Maafkan saya, Kek.”
Setelah berkata demikian, Arya membungkuk memberi
hormat. Kemudian dijulurkan tangannya untuk meraih
belenggu di tangan Ular Hitam. Sekali Arya mengerahkan
tenaganya, maka seketika gelang-gelang baja dan rantairantai
yang membelenggu tangan dan kaki Ular Hitam
patah-patah.
“Ah! Terima kasih, Arya.” Ucap Ular Hitam pelan sambil
bangkit berdiri. Kemudian dia melangkah menuju ke sudut
ruangan, sementara Arya hanya memperhatikannya saja.
“Hm. Ada apa, Arya?” tanya Ular Hitam tanpa
mengehentikan langkahnya.
“Apakah racun yang mengeram di tubuh Kakek tidak
bisa dikeluarkan?”
Langkah Ular Hitam terhenti. Perlahan-lahan kepalanya
menoleh ke belakang, menatap Arya lekat-lekat.
“Tidak. Tapi memang dapat disembuhkan. Kakang
Gering Langit pernah mengajarkan padaku sebuah semadi
untuk mengusir racun yang mengeram dalam tubuh.
Memang dibutuhkan waktu yang panjang untuk dapat
sembuh total. Tapi hanya itulah jalan satu-satunya. Racun
yang dimasukkan dalam tubuhku memang racun ganas
Arya.”
Kembali Kakek itu melangkahkan kakinya kembali. Dan
sesampai di sudut ruangan itu dia memanggil Arya.
Pemuda itu bergegas menghampirinya.
“Bongkar lantai ini!”
Tanpa banyak tanya, Arya mengayunkan tangannya ke
arah lantai yang ditunjuk Ular Hitam.
Brakkk…!
Seketika lantai itu ambrol. Tampak di balik lantai itu terdapat
sebuah lubang berbentuk persegi. Dalamnya tak
lebih dari satu hasta. Dan di dasar lubang itu terlihat
sebuah peti kecil berwarna hitam mengkilat.
“Ambil peti itu, Arya.” Perintah kakek yang berjuluk Ular
Hitam itu lagi.
Aryapun segera mengulurkan tangannya dan mengambil
peti itu lalu memberikannya pada Ular Hitam.
Sebentar kemudian kakek itu segera membukanya.
Nampak dua buah kitab yang berwarna kekuningan di
dalamnya. Ular Hitam mengambil kitab itu lalu melihatlihatnya
sejenak. Baru setelah itu diberikan pada Arya.
“Milikmu, Arya.” Ucap Ular Hitam pelan.
Arya segera menerimanya. Pada bagian muka kitab
yang pertama nampak tertera huruf-huruf berbunyi TENAGA
DALAM INTI MATAHARI. Sedangkan pada buku yang kedua
tertulis kalimat yang berbunyi ILMU BELALANG SAKTI.
Mulai saat itulah Arya berlatih mempelajari kedua ilmu
yang diwariskan Ki Gering Langit, di bawah bimbingan Ular
Hitam. Sementara kakek itupun tak kalah sibuknya. Hampir
pada setiap kesempatan waktu yang senggang, ia
bersemadi untuk mengusir racun yang mengeram di
tubuhnya.
Dengan semangat meluap-luap, Arya mulai membuka
halaman pertama Kitab Tenaga Dalam Inti Matahari.
Memang Ular Hitam menyuruhnya mempelajari kitab itu
dulu. Baru setelah memiliki Tenaga Inti Matahari yang
cukup kuat, ia boleh mempelajari ‘Ilmu Belalang Sakti’.
Muridku……
Untuk memiliki tenaga dalam, yang tidak boleh dilupakan
adalah tekanan gambaran dari pikiranmu pada batinmu. Saat
bersemadi, tariklah napas dalam-dalam disertai penekanan alam
bawah sadarmu. Bayangkan bahwa tengah menarik kekuatan
matahari yang masuk melalui lubang hidungmu dan terus turun
hingga ke pusar. Sesampainya di sana putarkan ‘kekuatan’ yang
kau tarik itu mengelilingi pusar, lalu naik ke atas dan buang
kembali. Itulah yang harus kau camkan muridku……
Dengan tekun dan sungguh-sungguh, Aryapun
mengikuti petunjuk itu. tidak hanya pelajaran semadi saja
yang terdapat di kitab itu. Sikap kuda-kuda dan
pernapasan juga diajarkan.
Pada minggu-minggu pertama, tidak ada hal-hal aneh
dirasakan Arya, selain hawa hangat yang senantiasa
berputar di pusarnya. Tapi pada minggu-minggu selanjutnya.
Arya mulai merasakan hal lain yang diterimanya.
Setiap pagi sehabis bangun tidur, sekujur tubunya terasa
panas sekali. Bukan hanya itu saja. Rasa haus yang amat
sangat selalu menderanya. Bahkan kulitnyapun mulai
mengering.
Ular Hitampun mengetahui apa yang dialami Arya. Dan
dia tahu betul kalau hal itu karena pemuda itu belum bisa
mengendalikan tenaga itu. Dia juga tahu kalau hal itu
paling lama hanya berlangsung sebulan. Jika Arya
mengalami demikian itu hanyalah suatu proses. Maka Ular
Hitampun membiarkannya saja. Dan memang, kejadian
yang dialami Arya itu hanya berlangsung tiga minggu. Dan
setelah itu semuanya kembali seperti biasa.
Setahun kemudian. Arya baru diperkenankan mempelajari
kitab ‘Ilmu Belalang Sakti’. Ilmu itu ternyata terdiri
dari dua jurus, jurus ‘Delapan Langkah Belalang’ dan jurus
‘Belalang Mabuk’.
Setelah sampai pada kitab pelajaran ilmu ini, Arya
mulai menjumpai kesultian. Dan sebelumnya hal iu sudah
dikatakan Ular Hitam yang telah mempunyai banyak
pengalaman. Setelah memperhatikan kedua jurus iu, dia
segera tahu kalau Arya tidak akan dapat menguasainya
dengan baik. Jurus itu harus dilakukan dalam keadaan
tidak sadar! Terutama sekali jurus ‘Belalang Mabuk’! Bila
ingin menguasai dengan baik dan memainkannya dengan
sempurna, Arya harus mabuk!
“Arya….” Sapa Ular Hitam pada suatu pagi ketika Arya
tengah berlatih kedua ilmu itu. di tangan kakek itu
tergenggam sebuah guci dari perak.
“Ya, Kek.” Pemuda itu langsung menghentikan
latihannya.
“Aku sungguh tidak habis pikir, kenapa Kakang Gering
memberikan ilmu itu padamu. Dan bila ingin memainkannya
dengan baik kau harus mau tidak mau bergantung
pada arak. Tapi yang jelas dia telah matang
memikirkan semua itu. buktinya sebelum pergi dia telah
menitipkan guci arak ini padaku untuk diberikan pada
orang yang membawa .”
Setelah berkata demikian kakek itu lalu memberikan
guci arak tersebut pada Arya.
Pemuda itu lalu mengulurkan tangannya menerima
guci itu. Diperhatikannya sejenak kemudian ditimangtimangnya.
“Coba mainkalah kedua ilmu itu dengan guci ini Arya,”
perintah Ular Hitam.
“Baik, Kek.” Arya menganggukkan kepalanya kemudian
bergerak menjahui Ular Hitam. Dan mulailah dimainkan
kedua ilmu yang telah cukup dikuasainya dengan menggunakan
guci.
Diam-diam Arya merasa kaget. Dengan adanya guci di
tangan, gerakannya jadi lebih hidup. Sesekali kedua
tangannya memeluk guci itu. Sedangkan tubuhnya meliukliuk
aneh. Di lain saat ia menyerang dengan menggunakan
guci itu.
Ular Hitam mengangguk-angguk puas.
“Cukup, Arya!”
Pemuda itu menghentikan latihannya. Disusut peluh
yang membasahi leher dan dahinya sebelum menghampiri
kakek itu.
“Satu hal yang luar biasa pada guci ini, Arya.” Ucap
kakek itu lagi. “Guci ini bukanlah guci sembarangan dan
merupakan guci pusaka. Ia tidak akan hancur oleh apapun.
Baik oleh senjata maupun oleh pukulan yang mengandung
tenaga dalam.”
“Oh! Benarkah itu, Kek?’ tanya Arya setengah tidak
percaya.
Kakek itu menganggukkan kepalanya.
“Ya. Aku sendiri telah membuktikannya. Dulu guci ini
pernah kupukul dengan pengerahan seluruh tenaga
dalamku. Hasilnya, nol besar! Jangankan pecah, retakpun
tidak!”
“Hebat….!” Desah pemuda itu takjub.
“Dan yang lebih hebat lagi, guci ini mampu membuat
arak yang masuk ke dalamnya menjadi arak keras. Dan ini
menguntungkanmu, Arya. Karena apabila telah menguasai
‘Tenaga Dalam Inti Matahari’ dan ilmu ‘Belalang Sakti’,
berguci-guci arakpun tidak akan mampu membuatmu
mabuk, kecuali arak keras. Tapi dengan keisimewaan guci
ini, arak yang paling ringanpun akan menjadi arak keras.
Dan tentu saja langsung akan membuatmu mabuk.” Urai
Ular Hitam panjang lebar.
Arya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
***





Load disqus comments

0 komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top