Senin, 02 April 2012

DEWA ARAK - Pedang Bintang 2

Serial Dewa Arak
Aji Saka

Malam itu langit kelihatan kelam. Bulan yang hanya
sepotong di langit terlihat tidak berdaya
menembus awan hitam dan tebal yang bergumpalgumpal
menutupinya. Angin dingin yang berhembus dan
terkadang sesekali keras itu kian menambah seramnya
suasana malam. Dan dalam suasana seperti itu orangorang
merasa lebih suka tinggal di dalam rumah. Mereka
lebih suka dibuai mimpi di peraduannya daripada
berkeliaran di luar.
Tetapi kenikmatan seperti itu tidak diperoleh muridmurid
Perguruan Tangan Sakti yang tengah mendapat
tugas berjaga. Walaupun keadaan alam yang tidak
bersahabat, mereka harus tetap berjaga-jaga bersikap
waspada. Apalagi mengingat kejadian tadi pagi. Bukan
tidak mungkin kalau malam ini ada tokoh-tokoh persilatan
yang masih penasaran ingin menyatroni perguruan mereka
untuk mencari .
Empat orang murid nampak berjaga-jaga dekat pintu
gerbang memandang ke sekeliling. Sikap mereka benarbenar
waspada dalam keremangan cahaya sinar obor yang
nampak lemah tak berdaya. Beberapa murid lain
menunggu di pos. Sementara dua orang lainnya berkeliling
ke sekeliling perguruan.
Keadaan benar-benar gelap. Walaupun sepasang mata
dibelelakkan sebesar-besarnya tetap saja tidak akan terlihat
apa-apa selain kegelapan pekat. Tapi empat orang
murid yang bertugas jaga itu tetap memperhatikan sekelilingnya
dengan mata nyalang.
Dan tiba-tiba salah seorang dari mereka melihat
sesuatu dalam kegelapan malam yang pekat itu. Beberapa
saat lamanya murid itu menggeleng-gelengkan kepalanya
sambil mengucek-ucek mata untuk meyakini peng-
lihatannya. Tetapi tetap saja dia melihat sosok bayangan
putih yang begitu enaknya bersila di atas sebatang ranting.
Padahal ranting pohon itu hanya sebesar ibu jari!
“Ha…hantu….” Keluar jua ucapan itu dari mulut salah
seorang murid walaupun dengan bibir gemetar.
Sebenarnya ucapan yang keluar dari mulut murid yang
sial itu tidak keras bahkan hanya perlahan saja. Tapi
karena keadaan yang begitu hening, suara yang perlahan
itu jadi terdengar keras. Dan tentu saja terdengar oleh
teman-temannya yang berada tidak jauh dari situ.
“Ada apa, Parja?” tanya salah seorang temannya
sambil bergerak mendekat.
Parja, murid yang melihat sosok tubuh putih itu
mencoba untuk menyahut. Tapi ternyata tidak mampu.
Yang keluar dari mulutnya hanyala suara gumaman tidak
jelas.
Tentu saja yang lain tidak mengerti maksudnya.
Untungnya Parja juga menuding-nudingkan jari telunjuk ke
arah tempat ia melihat sosok tubuh serba putih itu tadi.
Serentak kepala teman-temannya menoleh ke arah
yang ditunjuk Parja. Dan betapa terkesiapnya hati mereka
ketika melihat sesuatu yang ditunjuk Parja.
“Han…hantu….” Desis mereka dengan suara bergetar.
Walaupun mereka telah digembleng untuk tidak takut
menghadapi maut, akan tetapi pada mahluk halus tetap
saja gentar!
Tapi rupanya salah seorang penjaga yang beranama
Wiji tidak percaya dengan adanya hantu.
“Aku tidak percaya kalau hantu atau siluman itu ada.
Buktinya dari dulu aku tidak pernah bertemu segala
mahluk tetek bengek itu! aku yakin ini hanyalah satu siasat
orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dari
suasana malam yang tidak seperti biasanya ini!” tegas Wiji
dengan sikap tenang.
Ucapan dan sikap dari Wiji membuat Parja dan temantemannya
menjadi agak lebih berani. Kini mereka menatap
sosok bayangan putih itu penuh perhatian.
Mendadak saja sosok bayangan putih itu bangkit dari
bersilanya. Dan secepat itu pula tubuhnya melompat dari
ranting pohon yang tadi didudukinya kearah Wiji, Parja dan
seorang rekannya yang tengah memperhatikan. Sosok
bayangan putih itu begitu ringan hinggap sekitar empat
tombak di depan para murid Perguruan Tangan Sakti.
Dengan bantuan sinar obor apalagi pakaian orang itu
serba putih, Wiji dan tiga murid lainnya dapat melihat lebih
jelas sosok bayangan putih itu lagi. Sedangkan Parja
bergerak menjauh karena rasa takut yang menyerangnya.
Dia hanya memperhatikan tanpa berkedip.
Sosok bayangan putih itu bertubuh tinggi kurus.
Wajahnya tertutup selubung putih yang memiliki dua buah
lobang kecil untuk mata. Pakaiannya juga serba putih. Di
bagian dada terdapat sebuah gambar tengkorak kepala
manusia.
Wiji dan teman-temannya memperhatikan sosok
bayangan putih itu dengan bulu tengkuk meremang.
Apalagi ketika menatap sepasang mata yang mencorong
kehijauan di balik selubung itu! Sepasang mata itu lebih
mirip mata harimau dalam gelap! Manusiakah sosok yang
berdiri di hadapan mereka ini?
Dan belum lagi sadar dari keterpakuannya, sosok serba
putih itu tiba-tiba mengebutkan tangannya. Kelihatannya
pelan saja tapi akibatnya hebat sekali! Tubuh Wiji dan
kedua orang temannya terlempar ke belakang sejauh lima
tombak lebih. Bagai diterjang angin ribut saja layaknya.
Tubuh mereka masih terguling-guling di tanah
beberapa tombak jauhnya. Dan begitu daya lontar
serangan sosok serba putih itu habis, tubuh merekapun
berhenti. Mereka kini tidak bergeak lagi dengan sekujur
tubuh berwarna kebiruan. Tewas!
Parja dari kajauhan menatap mayat ketiga temannya
dengan perasaan campur aduk. Marah, kaget dan juga
ngeri! Jelas sekali dilihatnya kalau sosok serba putih itu
hanya menggerakkan tangannya perlahan saja. Dan
akibatnya begitu hebat dan mengerikan! Parja sadar kalau
sosok serba putih ini memiliki kepandaian amat tinggi dan
jelas bukan tandingannya. Maka cepat-cepat dia memukul
kentongan tanda bahaya.
“Tidak ada ampun bagi orang yang berani meremehkan
Siluman Tengkorak Putih!” ucap sosok serba putih itu.
Tok! Tok! Tok!
Dalam sekejapan saja suara kentongan itu telah
memecah keheningan malam kelam. Sosok serba putih
yang ternyata berjuluk Siluman Tengkorak Putih
membiarkan saja apa yang dilakukan Parja. Parja memang
sengaja tidak di bunuh agar memberitahukan
kedatangannya. Keonaran ini memang sengaja dibuat
untuk membuat Ki Wanayasa keluar dari tempatnya.
Apa yang diharapkan Siluman Tengkorak Putih ternyata
memang tidak salah. Suara kentongan yang dipukul Parja
itu segera saja menimbulkan kegemparan di bangunan
besar Perguruan Tangan Sakti. Berbondong-bondong para
murid perguruan bergerak menuju arah kentongan
berbunyi. Di antara mereka nampak pula murid utama
Perguruan Tangan Sakti.
Seta yang memiliki ilmu meringankan tubuh paling
tinggi di antara murid-murid lainnya adalah orang pertama
yang paling dulu tiba di tempat Parja memukul kentongan.
Ia telah sembuh kembali seperti sediakala setelah diobati
gurunya siang tadi.
Yang pertama dilihat Seta adalah sosok serba putih
yang tengah berdiri tenang sambil menatap parja yang
masih sibuk memukul kentongan.
“Ada apa Parja?” tanya Seta begitu tiba di samping
Parja.
“Siluman itu membunuh rekan-rekan kita Kang,” jawab
Parja dengan suara tersendat.
Untuk beberapa saatnya lamanya Seta celingukan.
Sepasang matanya nyalang mengawasi sekitarnya. Yang
dicari adalah mayat adik-adik seperguruannya yang
menurut laporan Parja telah dubunuh sosok putih di
depannya. Tapi sampai sakit matanya dia tidak melihat
apa-apa. Suasana malam yang gelap menghalangi
pandangannya.
Beberapa saat kemudian ketika para murid perguruan
lainnya yang membawa obor tiba, Seta akhirnya dapat
melihat mayat adik-adik seperguruannya. Obor-obor yang
dibawa cukup menerangi keadaan sekitar tempat itu.
Melihat hal ini amarah Seta meluap. Dengan sinar mata
merah ditatapnya sosok bayangan putih di depannya.
“Hai, Siluman! Apa persoalannya dengan kami sehingga
kau begitu kejam membunuh murid-murid Perguruan
Tangan Sakti?!”
Siluman Tengkorak Putih hanya tertawa. Tawanya
begitu aneh. Pelan, berat dan bergaung. Sepertinya bukan
keluar dari mulut manusia!
Semula tidak ada yang aneh pada awa itu selain
bunyinya yang tidak seperti tawa manusia pada umumnya.
Tapi beberapa saat kemudian suara tawa itu mulai
menampakkan akibatnya. Seta merasakan suara tawa
pelahan namun pasti, mulai menyakiti telinga dan
membuat sesak dadanya. Otak Seta yang cerdas segera
saja menduga ada ketidak wajaran pada suara tawa itu.
Sekilas diliriknya Parja.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Seta melihat
Parja tengah duduk bersila. Kedua tangannya menutupi
kedua telinga untuk menghalangi serangan suara tawa itu.
Ternyata bukan hanya Praja saja. Terlihat semua adik
seperguruannya duduk bersila dan menutup kedua
telinganya. Tak terkecuali Satria dan Mega! Bahkan ada
beberapa orang adik seperguruannya yang telah menggigil
sekujur tubuhnya. Seta yang telah berpengalaman, tahu
kalau adik seperguruannya itu tidak akan dapat bertahan
lama. Sebenarnya dia juga mengalami hal yang sama. Tapi
karena tenaga dalamnya lebih kuat, dia lebih dapat
bertahan.
“Hiyaaaat…..!”
Sambil berteriak keras Seta melompat menerjang
Siluman Tengkorak Putih yang masih tertawa. Disadari
kalau lawannya ini mempunyai ilmu kepandaian tinggi.
Maka tanpa ragu-ragu lagi dicabut pedangnya dan
langsung dikeluarkan ilmu andalan ‘Ilmu Pedang
Pembunuh Naga’!
Suara berdesing nyaring mengawali serangan.
Walaupun Siluman Tengkorak Putih sudah dapat
memperkirakan kedahsyatan serangan lawan, tetapi dia
hanya mendengus saja.
“Manusia tidak tahu diri! Kalau mau aku telah
membunuhmu dengan suara tawaku itu!”
Setelah berkata demikian tangannya yang telanjang
bergerak cepat menangkis serangan pedang Seta.
Kecepatan gerak tangannya mengingatkan orang pada
serangan seekor ular pada mangsanya. Begitu cepat dan
tiba-tiba.
Trak!
“Akh….!”
Seta menyeringai. Tangannya yang menggenggam
pedang mendadak lumpuh sesaat begitu tangan Siluman
Tengkorak Putih menangkis pedangnya. Tanpa dapat
dicegah lagi pedangnya terlepas dari pegangan.
Belum lagi Seta sempat berbuat sesuatu, serangan
belasan Siluman Tengkorak Putih telah mengancam. Murid
utama Perguruan Tangan Sakti itu hanya melihat kelebatan
sinar putih menyambar ke arahnya. Dirasakannya juga
hembusan angin dingin menuju ke arahnya.
Seta kaget bukan main. Sebisa-bisanya dilempar
tubuhnya ke belakang dan bergulingan di tanah beberapa
kali. Tapi tetap saja ekor matanya melihat ada sekelabatan
sinar putih mendekati ubun-ubunnya. Seta terus bergulingan.
Sementara itu kelebatan sinar putih itu tetap
mencecar ubun-ubunnya.
Satria, Mega dan beberapa adik seperguruannya
melihat semua itu disertai rasa cemas yang mendalam.
Berbeda dengan Seta mereka yang kini sudah bebas dari
serangan tawa itu dapat melihat jelas semua yang terjadi.
Memang kakak seperguruan mereka berusaha mati-matian
mengelak dari ancaman tangan Siluman Tengkorak Putih
yang mencecar ubun-ubunnya.
Satria dan Mega yang bergegas melompat hendak
membantu ternyata terlambat! Tangan manusia siluman itu
telak sekali menghantam ubun-ubun murid utama
Perguruan Tangan Sakti itu.
Crokkk….!
“Akh!”
Seta memekik tertahan, sebelum tubuhnya rubuh
dengan ubun-ubun kepala pecah.
“Kang Seta…..!” teriak Satria dan Mega hampir
bersamaan. Dua orang murid utama Perguruan Tangan
Sakti itu tercenung. Pandangan mata mereka seolah-olah
tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Untuk beberapa
saat lamanya keduanya terbengong-bengong.
“Tidak ada ampun bagi orang yang berani menyerang
Siluman Tengkorak Putih!” ancam sosok bayangan putih itu
dengan suara yang khas. Pelan, berat dan bergaung.
Kontan Satria dan Mega tersadar dari termenungnya.
Ketika kesadaran mereka timbul maka timbul pula
kemarahan di dada.
Srat! Srat!
Bagai dikomando kedunya mencabut pedangnya
masing-masing secara bersamaan. Akan tetapi…..
“Tahan…..!”
Tiba-tiba suatu bentakan nyaring menahan gerak Satria
dan Mega yang akan menerjang Siluman Tengkorak Putih.
Serentak keduanya mengurungkan niatnya. Dikenali betul
pemilik suara itu. Siapa lagi kalau bukan guru mereka, Ki
Wanayasa.
Keduanya serentak menoleh ke arah asal suara.


22
Tampaklah Ki Wanayasa berjalan bersama tamunya Raja
Pisau Terbang.
“Aku telah dapat memastikan, Kakang Wanayasa.
Siluman Tengkorak Putih ini ada hubungannya dengan si
Ular Hitam! Aku tahu betul gerakannya waktu menewaskan
Seta adalah ilmu ‘Ular Terbang’!” bisik Raja Pisau Terbang
pada Ki Wanayasa.
“Tapi…. bukankah Ular Hitam telah lama lenyap dari
dunia persilatan? Lagi pula, sepanjang yang kuketahui si
Ular Hitam tidak pernah punya murid!” bantah Ki
Wanayasa. Sepasang matanya menatap marah ke arah
Siluman Tengkorak Putih yang telah membunuh murid
kesayangannya.
“Ah, Kakang. Siapa yang mengetahuinya? Di antara
seluruh datuk persilatan dialah satu-satunya datuk yang
paling misterius. Siapa yang tahu dia punya murid atau
tidak?”
“Hey…..! Siapa di antara kalian yang bernama
Wanayasa? Mengakulah sebelum terlambat!” bentak
Siluman Tengkorak Putih. Nadanya tidak sabar begitu
melihat keduanya telah mendekat.
Raja Pisau Terbang dan Ki Wanayasa hanya tersenyum.
Apalagi si Raja Pisau Terbang. Padahal si Raja Pisau
Terbang adalah salah seorang datuk persilatan yang
ditakuti lawan dan disegani kawan. Dan kini diancam
seroang tokoh yang baru dikenal dan berjuluk Siluman
Tengkorak Putih! Siapa yang tidak geli?
“Kisanak,” ucap Raja Pisau Terbang dengan sabar.
“Sungguh tidak kusangka kalau kau begitu sombong.
Melihat gerakanmu aku yakin kau mempunyai hubungan
dengan si Ular Hitam. Entah sebagai murid atau adik
seperguruannya. Atau kau adalah pencuri kitab-kitab ilmu
silatnya? Hanya yang perlu kau ketahui Kisanak.
Jangankan dirimu. Ular Hitam saja tidak berani berkata
seperti itu kepadaku!”
Ha…ha…ha…!
Tiba-tiba terdengar suara tawa terbahak-bahak begitu
Raja Pisau Terbang mengakhiri ucapannya. Belum lagi
gema suara itu lenyap, muncul sesosok tubuh pendek
kekar. Rambutnya awut-awutan dan bermata merah. Dan
kini orang itu telah berada di sebelah kanan Siluman
Tengkorak Putih.
“Raja Racun Pencabut Nyawa….” Desis Raja Pisau
Terbang begitu melihat sosok tubuh yang berdiri di sebelah
kanan Siluman Tengkorak Putih.
Ki Wanayasa tersentak kaget juga. Telah didengar
banyak tentak tokoh ini dari adik seperguruannya. Raja
Racun Pencabut Nyawa tinggal di Barat dan pernah
dikalahkan si Ular Hitam dalam pertarungan merebutkan
kedudukan datuk di Barat. Karena kekalahannya itu dia
menyingkir ke Selatan. Ternyata dia di situ membuat
kekacauan sehinnga membuat adik seperguruan Ki
Wanayasa turun tangan menantangnya. Kali inipun Raja
Racun Pencabut Nyawa harus menelan pil pahit. Adik
seperguruan Ki Wanayasa tidak mampu dikalahkannya.
Kepandaian keduanya berimbang. Sehingga dalam pertarungan
mati-matian itu mereka sama-sama mendapat
luka. Itulah berita yang didengar Ki Wanayasa dari adik seperguruannya.
Sungguh tidak diduga kalau malam ini dia
akan bertemu tokoh itu.
“Gerda, orang yang berbicara tadi itu adalah Raja Pisau
Terbang,” ujar Raja Racun Pencabut Nyawa memberitahu.
“Oh, pantas. Dia begitu sombong. Jadi kalau bagitu
orang yang disebelahnya adalah Ki Wanayasa, Paman?”
tanya Siluman Tengkorak Putih meminta ketegasan.
“Betul.”
Kini dengan sorot mata garang, Siluman Tengkorak
Putih menatap Ki Wanayasa penuh selidik.
Diperhatikannya kakek bongkok udang itu lekat-lekat.
“Ki Wanayasa! Kau tentu sudah tahu maksud
kedatanganku ke sini bukan?” tanya Siluman Tengkorak
Putih tenang.
Ki Wanayasa hanya tersenyum.
“Sudah bisa kutebak maksud kedatanganmu, Siluman
Tengkorak Putih. Apalagi kalau bukan masalah Pedang
Bintang?! Bukankah demikian?”
“He…he….he…” Siluman Tengkorak Putih hanya
terkekeh.
“Ahhhh….sayang sekali!” ujar Ki Wanayasa sambil
menghela napas.
“Mengapa?”
“Pedang itu sama sekalu tidak ada padaku.”
“Bohong!” bentak Siluman Tengkorak Putih keras.
“Jaga mulutmu Kisanak!!” bentak Ki Wanayasa tak
kalah garangnya. “Jangan dikira aku takut padamu!”
“Keparat!” Siluman Tengkorak Putih menggeram hebat.
Sudah dapat diduga kalau akhirnya laki-laki berjubah ini
akan menyerang Ki Wanayasa.
“Gerda, sabar dulu….”
Siluman Tengkorak Putih yang bernama Gerda itu
mengurungkan niatnya. Ditatapnya wajah Raja Racun
Pencabut Nyawa lekat-lekat.
“Dia telah menghinaku, paman” protes Siluman
Tengkorak Putih.
“Hal itu bisa diurus nanti. Sekarang yang penting
adalah persoalan . Sabarlah sebentar……”
jelas Raja Racun Pencabut Nyawa sambil memegang bahu
Siluman Tengkorak Putih.
Beberapa saat lamanya Siluman Tengkorak Putih termenung.
Tapi akhirnya menganggukkan kepalanya juga.
Kini Raja Racun Pencabut Nyawa mengalihkan pandangannya
pada Ki Wanayasa.
“Ki Wanayasa….” Sapa Raja Racun Pencabut Nyawa
pelan. Seulas senyum licik tersungging di bibirnya.
“Tidak usah banyak peradatan, Raja Racun!” selak Ki
Wanayasa keras. “Katakan saja apa maumu dan jangan
bertele-tele!”
Seketika wajah Raja Racun Pencabut Nyawa berubah


25
setelah mendengar teguran kasar itu. Sesaat sepasang
matanya berkilat penuh kemarahan. Tapi itu hanya
sebentar saja karena sekejap kemudian sudah kembali
biasa.
“Baiklah Wanayasa. Sungguh tidak kusangka sama
sekali kalau orang terhormat seperti dirimu yang juga
Ketua Perguruan Tangan Sakti ternyata hanya seorang
pengecut! Bahkan tidak segan-segan berdusta untuk
menyelamatkan nyawanya!”
“Keparat kau, Raja Racun!” bentak Ki Wanayasa
marah. “Jelaskan apa maksudmu, sebelum aku terpaksa
bersikap yang tidak sepantasnya terhadapmu!” kakek
bongkok udang ini memang paling pantang di katakan
pengecut. Maka kemarahannyapun langsung bergolak
mendengar ucapan Raja Racun Pencabut Nyawa.
Raja Racun Pencabut Nyawa hanya terkekeh saja mendengar
ancaman itu.
“Wanayasa. Hampir semua orang persilatan tahu kalau
itu ada padamu. Tapi kini kau
menyangkalnya! Bukankah orang seperti itu pengecut
namanya?”
“Raja Racun Pencabut Nyawa….. dan kau juga Siluman
Tengkorak Putih!” ucap Ki Wanayasa seraya memandang
Siluman Tengkorak Putih sekilas. “Dengarlah baik-baik.
Demi kehormatanku selaku Ketua Perguruan Tangan Sakti,
kukatakan pada kalian bahwa itu tidak ada
di sini!”
“Kau berdusta, Wanayasa!” teriak Siluman Tengkorak
Putih kalap seraya melangkah maju.
“Tenang Gerda,” Raja Racun Pencabut Nyawa
menyentuh tangan Siluman Tengkorak Putih.
“Dia berdusta, Paman….”
“Dia berkata benar.” Raja Racun Pencabut Nyawa
menggelengkan kepalanya. Dia tahu pasti kalau Ki
Wanayasa tidak berdusta. Seorang seperti dia lebih menghargai
kehormatan dari pada nyawa. Dan diketahui betul
hal itu.
“Tapi, Paman…..” Siluman Tengkorak Putih masih
penasaran.
“Biar aku yang mengurusnya, Gerda. Percayalah.
Masalah ini pasti akan tuntas!”
mendengar jaminan Raja Racun Pencabut Nyawa,
Siluman Tengkorak Putih kembali mundur ke tempatnya.
Dia percaya penuh akan kemampuan orang yang dipanggilnya
paman ini. Dia juga tahu kalau pamannya itu mempunyai
berbagai macam tipu muslihat.
“Wanayasa….. aku mempercayai keterangan yang kau
berikan itu. Aku juga percaya kalau itu
memang tidak ada padamu. Tapi itu bukan berarti kalau
kau tidak tahu menahu di mana adanya pedang itu. Bukan
begitu Wanayasa?” pancing Raja Racun Pencabut Nyawa.
Wajah Ki Wanayasa beubah hebat. Sungguh di luar
dugaan kalau Raja Racun Pencabut Nyawa itu sedemikian
cerdiknya. Dan ini membuatnya cemas bukan main.
“Apa urusannya hal itu denganku?!”
“Katakan saja di mana adanya itu.
Maka, kami akan segera pergi dari sini!” desak Raja Racun
Pencabut Nyawa tidak sabar.
“Kalau aku tidak memberitahukannya?”
“Aku akan memaksamu!”
“Silahkan, Raja Racun,” tantang Ki Wanayasa sambil
tersenyum.
“Keparat!” Raja Racun Pencabut Nyawa memaki.
“Tunggu, Paman!” Siluman Tengkorak Putih segera
mencekal lengan Raja Racun Pencabut Nyawa yang
hendak menerjang Ki Wanayasa. Raja Racun Pencabut
Nyawa menoleh. “Serahkan dia padaku,” ucapnya lagi.
Raja Racun Pencabut Nyawa menangkap adanya
tekanan pada nada suara itu. Dan ia tahu kalau kali ini
Siluman Tengkorak Putih itu tidak ingin dibantah lagi. Maka
dengan berat kakinya melangkah mundur.
Siluman Tengkorak Putih maju beberapa tindak.
“Wanayasa, sekali lagi kau kuberi kesempatan.
Katakan di mana itu!”
“Jangan harap aku mengatakannya, bocah!” tegas Ki
Wanayasa tajam.
“Keparat! Kalau begitu mampuslah kau!”
Setelah berkata demikian, Siluman Tengkorak Putih
menerjang Ki Wanayasa. Gerakannya cepat bukan main.
Kedua tangannya yang terbuka lurus dan mengejang kaku
menyerang bertubi-tubi pada pusar, ulu hati dan
tenggorokan Ketua Perguruan Tangan Sakti itu. Deru angin
nyaring mengawali tibanya serangan Siluman Tengkorak
Putih.
Ki Wanayasa yang sudah mengetahui kecepatan gerak
lawannya yang luar biasa ini, memang sudah sejak tadi
bersikap waspada. Maka ketika melihat serangan yang
bertubi-tubi mengancam beberapa bagian yang berbahaya
di tubuhnya, dia tidak menjadi gugup. Cepat-cepat ditarik
mundur kaki kirinya ke kanan belakang. Sehingga
serangan-serangan Siluman Tengkorak Putih itu lewat
beberapa rambut di depan tubuhnya.
Tidak hanya itu saja yang dilakukan Ki Wanayasa. Saat
ditarik mundur kaki kirinya, kedua tangannya yang disertai
pengerahan ilmu ‘Delapan Cara Menaklukkan Harimau’,
mencengkeram ke arah pelipis dan lambung lawan.
Hebat dan berbahaya bukan main serangan yang
dilakukan Ki Wanayasa itu! Apalagi dilakukan dalam jarak
yang demikian dekat. Maka serangan itu menjadi tambah
berbahaya saja. Dan rasa-rasanya tidak ada kesempatan
lagi bagi Siluman Tengkorak Putih itu untuk menangkis
atau mengelakkan serangan itu. Begitu tiba-tiba dan
mendadak!
“Ah…..” desah Raja Racun Pencabut Nyawa pelan,
ketika melihat keadaan berbahaya yang mengancam
Siluman Tengkorak Putih. Bahkan Raja Pisau Terbang
diam-diam menarik nafas karena terlalu tegang.
Hati Siluman Tengkorak Putihpun sempat terkesiap,
melihat serangan yang begitu tiba-tiba itu. Akan tetapi
dengan kecepatan gerak yang luar biasa segera ditarik
pulang serangannya dan cepat-cepat ditangkis serangan Ki
Wanayasa. Tangan kiri melindungi pelipis, sedangkan
tangan kanannya menjegal serangan yang menuju ke
lambung.
Plak! Plak!
Ki Wanayasa terhuyung tiga langkah ke belakang
akibat benturan dua pasang tangan yang sama-sama
mengandung tenaga dalam tinggi itu. Sedangkan Siluman
Tengkorak Putih hanya terhuyung satu langkah. Ki
Wanayasa kaget bukan main melihat kenyataan ini.
Sungguh tidak disangka kalau dirinya akan terhuyung
sampai tiga langkah. Bahkan sekujur tangannyapun
dirasakan sakit akibat benturan itu. Dan herannya lawan
hanya terhuyung satu langkah ke belakang! Tidak adakah
yang salah dalam hal ini? Bukankah tadi telah dikerahkan
segenap tenaga dalam penyerangannya tadi? Bukankah
dia menang posisi bila dibandingkan dengan Siluman
Tengkorak Putih dalam benturan tadi? Mungkinkah tenaga
dalam lawannya ini lebih kuat dari Bargola? Mustahil!
Akan tetapi Ki Wanayasa tidak dapat berpikir lebih
lama lagi. Serangan susulan dari Siluman Tengkorak Putih
menghentikan kesibukan berpikirnya. Cepat-cepat
dielakkan serangan itu dan kemudian dibalasnya dengan
ilmu ‘Delapan Cara Menaklukkan Harimau’. Maka kini
keduanya sudah terlibat dalam sebuah pertarungan yang
luar biasa.
Akan tetapi tidak sampai lima belas jurus kemudian
terbuktilah Ki Wanayasa bukan tandingan Siluman
Tengkorak Putih. Kakek bongkok udang itu perlahan
namun pasti mulai terdesak. Hal inilah tidaklah aneh
karena memang Ketua Perguruan Tangan Sakti ini kalah
segala-galanya dibanding lawannya. Dapat dipastikan
kalau tak lama lagi Ki Wanayasa akan rubuh di tangan
lawannya yang luar biasa itu.
Tiba-tiba terdengar teriakan dari mulut Raja Racun
Pencabut Nyawa.
“Gerda! Hentikan!” teriaknya keras.
“Tidak, Paman. Aku tidak akan berhenti sebelum
membunuh tua bangka keparat ini!” bentak Siluman
Tengkorak Putih yang memang bernama asli Gerda dengan
suara keras pula. Bahkan dia terus menhujani lawan
dengan serangan-serangan yang mematikan.
Raja Pisau Terbang segera bersiap melihat sikap Raja
Racun Pencabut Nyawa yang aneh ini. Akan tetapi tidak
terlihat tanda-tanda kalau tokoh itu akan bertindak curang.
“Hentikan, Gerda! Cepat! Aku sudah tahu di mana
itu!” teriak Raja Racun Pencabut Nyawa
lagi.
Mendengar ucapan itu lagsung Siluman Tengkorak
Putih menghentikan desakannya pada Ki Wanayasa.
Tubuhnya melenting cepat ke belakang meninggalkan
lawannya. Akan tetapi Ki Wanayasa yang sudah mencium
adanya bahaya yang mengancam tempat
berada tidak membiarkan lawannya. Cepat-cepat dia
melompat mengejar.
“Adi Kirin tolong cegah Raja Racun itu pergi!” teriak Ki
Wanayasa sambil terus mengejar.
Raja Pisau Terbang yang telah melihat Ki Wanayasa
tengah berusaha menghalangi kepergian Siluman
Tengkorak Putih, segera bergerak ke arah Raja Racun
Pencabut Nyawa begitu mendengar teriakan rekannya itu.
Raja Racun Pencabut Nyawa yang juga mendengar
teriakan tadi juga tahu kalau sampai berhadapan si Raja
Pisau Terbang, kemungkinan untuk dapat lolos sangat
kecil. Buru-buru dirogoh balik bajunya untuk mengambil
sebuah benda bulat sebesar telur bebek. Tanpa ragu-ragu
lagi benda itu dilemparkan ke arah Raja Pisau Terbang
yang tengah bergerak mengejar.
Tentu saja Raja Pisau Terbang yang telah tahu betapa
telengasnya Raja Racun itu dengan permainan racunnya,
tidak berani bertindak ceroboh. Segera dilempar tubuhnya
ke belakang dan bersalto beberapa kali di udara menjauhi
benda bulat itu.
Blarrr….!
Terdengar ledakan keras begitu benda bulat itu
menyentuh tanah. Asap yang berwarna hitampun
menyebar mengahalangi pandangan.
Sedangkan Siluman Tengkorak Putih yang tengah
dikejar Ki Wanayasa rupanya menjadi tidak sabar juga.
Sambil terus bersalto ke belakang dikirimkan serangan
jarak jauh. Seketika angin keras yang berabu amis keluar
dari tangan Siluman Tengkorak Putih.
Ki Wanayasa segera tahu kalau pukulan jarak jauh itu
di samping mengandung tenaga dalam kuat, juga
mengandung racun amat jahat. Maka dia tidak bertindak
gegabah lalu buru-buru melompat ke samping. Tubuhnya
langsung bergulingan di tanah menghindari pukulan itu.
Kesempatan itupun digunakan Gerda atau Siluman
Tengkorak Putih untuk meloloskan diri dari kejaran Ki
Wanayasa.

Setelah sama-sama gagal dalam mengejar Raja Racun
Pencabut Nyawa dan Siluman Tengkorak Putih, Ki
Wanayasa hanya menatap kepergian Siluman
Tengkorak Putih diiringi sinar mata cemas. Ia tahu kalau
Raja Racun Pencabut Nyawa tidak main-main dengan
ucapannya yang mengatakan telah mengetahui tempat
itu berada.
“Betulkah apa yang dikatakan Raja Racun itu,
Kakang?” tanya Raja Pisau Terbang yang tahu-tahu sudah
berada di sampingnya.
Ki Wanayasa menghela napas berat sebelum menjawab
pertanyaan itu. “Kemungkinan besar memang
begitu, Adi” ucapnya pelan.
“Aku jadi tidak mengerti Kakang….”
“Begini, Adi. Beberapa tahun yang lalu Ki Gering Langit
berkunjung ke tempat ini menemuiku. Kami berbincangbincang
beberapa lama, sampai akhirnya dia mengajakku
bermain sintir. Padahal telah lama aku berjanji dalam
hatiku untuk tidak memainkan permainan itu. Tapi Ki
Gering Langit terus memaksa. Aku menolak, tapi dia terus
mendesak. Bahkan sampai-sampai mempertaruhkan kitabkitab
ilmu silatnya. Akhirnya aku tidak tega, lalu mengalah.
Dan akhirnya kami bermain. Melalui sebuah permainan
yang lama dan menegangkan akhirnya aku dapat
mengalahkannya. Maka iapun memenuhi janjinya
menyerahkan kitab-kitab ilmu silatnya padaku. Tentu saja
hal itu kutolak. Kukatakan padanya kalau aku terpaksa
menerima ajakan itu bukan karena ingin taruhan. Tapi ia
tetap memaksa. Katanya janji adalah hutang. Dan ia tak
ingin berhutang. Tapi aku berkeras menolak. Sampai
akhirnya kami menemukan jalan tengah yang disepakati
bersama. Kitab-kitab itu dibawa olehnya tapi dia
meninggalkan sebilah pedang yang di dalamnya terdapat
petunjuk mengenai tempat kitab-kitab peninggalannya.
Pedang itu bernama .”
“Lalu mengapa tadi Kakang bersikeras mengatakan
tidak menyimpannya? Bahkan sampai membawa-bawa
kedudukan untuk menguatkan pernyataan Kakang itu,”
selak Raja Pisau Terbang.
“Sabar, Adi Kirin,” ucap Ki Wanayasa sambil tersenyum.
“Aku belum selesai dengan ceritaku.”
Wajah Raja Pisau Terbang memerah mendengar
teguran halus itu.
“Mulanya aku berniat menyerahkan itu
pada salah satu seorang murdku. Tapi sayangnya tidak ada
satupun murid-muridku yang memiliki bakat luar biasa.
Sampai akhirnya suatu hari adik seperguruanku yang
berjuluk Pendekar Ruyung Maut datang mengunjungiku
bersama anak lelakinya. Anak itu ternyata memiliki bakat
yang luar biasa dalam ilmu silat. Jadi kuberikan saja
itu padanya.”
“Tapi kenapa Raja Racun Pencabut Nyawa itu
mengatakan bahwa ia tahu di mana adanya Pedang
Bintang itu, Kakang? Apakah itu hanya tipu muslihat saja?”
“Kemungkinan besar yang dikatakannya benar,” ujar Ki
Wanayasa. Kecemasan nampak tergambar di wajahnya.
“Karena dia pernah bertarung mati-matina melawan adik
seperguruanku. Dalam pertarungan itu tidak ada yang
kalah dan tidak ada yang menang. Kedua-duanya samasama
terluka.”
“Aku mengerti sekarang, Kakang.” Tandas Raja Pisau
Terbang mulai paham. “Karena pernah bertarung dengan
adik seperguruanmu sampai sekian lamanya, setidaktidaknya
ia mengenali ilmu-ilmu andalan dan mengenal
gerakan-gerakannya. Pantaslah, tadi begitu melihat
pertaruganmu dengan Siluman Tengkorak Putih, ia tampak
kaget.”
“Benar. Rupanya ia melihat adanya persamaan jurus
yang kugunakan dengan lawannya dulu, Pendekar Ruyung
Maut….” Desah Ki Wanayasa pelan. “Tapi mudah-mudahan
saja dia salah duga….”
“Menurutku kemungkinan itu sangat kecil, Kakang.
Raja Racun Pencabut Nyawa itu sudah terkenal kecerdikannya
di samping kelicikannya. Kakang toh telah
lihat sendiri kenyataannya sewaktu dia menyudutkan
Kakang dengan pertanyaan yang membuat Kakang tidak
mampu berkelit lagi,” tebak Raja Pisau Terbang seraya
menggelengkan kepalanya.
“Ya,” ucap Ketua Perguruan Tangan Sakti itu singkat.
“Hhh…. Entah siapa tokoh yang tersembunyi di balik
selubung itu….” Raja Pisau Terbang mengerutkan alisnya.
Ki Wanayasa menghela napas. “Akupun tidak habis
pikir, Adi Kirin. Kepandaian siluman itu malah lebih hebat
dari Bargola….!”
“Aku tahu itu. sebetulnya jika menuruti keinginan hati
rasanya ingin kujajal kelihaiannya. Sayangnya aku sudah
jenuh berkelahi terus, Kakang. Aku ke sinipun sebenarnya
sekalian ingin mengucapkan selamat tinggal karena ingin
pergi ke tempat yang sepi. Mendidik Ningrum putri tunggalku.”
Ki Wanayasa termenung. Nampak jelas kalau kakek ini
dilanda kebingungan.
“Memang sudah seharusnya kalau kita yang sudah tuatua
ini menyepi. Biarlah sekarang giliran yang muda-muda
untuk turun tangan. Ah, mudah-mudahan saja adik
seperguruanku itu telah menunaikan amanatku. Kalau
tidak….”
“Benar. Kita memang hanya bisa berharap, Kakang.
Sekarang aku pamit, Kang.”
“Silahkan Adi. Terima kasih atas kunjunganmu.”
Setelah memberi hormat sebentar, tubuh Raja Pisau
Terbang langsung berkelebat. Dalam sekejap saja yang
nampak hanya titik hitam yang semakin lama semakin
mengecil untuk kemudian lenyap sama sekali.
“Haaat….! Hup,,,,! Hiyaaaa….!”
Terdengar teriakan-teriakan nyaring dari balik sebuah
tembok yang mengelilingi sebuah bangunan besar dan
megah.
Teriakan-teriakan itu ternyata berasal dari mulut
seorang pemuda tampan yang tengah berlatih silat. Usianya
sekitar lima belas tahun. Bertubuh tegap dan kekar.
Bentuk wajahnya persegi dan terlihat jantan. Alis matanya
tebal dan berbentuk golok menampakkan kekerasan
wajahnya.
“Hiyaaat….!”
Untuk kesekian kalinya pemuda itu berteriak keras.
Belum lagi gema suaranya itu lenyap, tubuhnya sudah melompat
ke atas. Dan selagi tubuhnya berada di udara, dia
melakukan tendangan sambil memutar tubuhnya.
Wut….!
Angin keras berhembus mengiringi tendangan itu.
Suatu tanda kalau tendangan itu mengandung tenaga
dalam tinggi.
“Hup!”
Dengan ringan dan indah kedua kaki pemuda itu menjejak
tanah. Tapi baru saja hendak melanjutkan gerakannya,
tiba-tiba….
“Cukup Arya….!”
Suara itu membuat pemuda yang ternyata bernama
Arya Buana menghentikan gerakannya. Dengan ragu-ragu
dipalingkan wajahnya ke arah asal suara itu. Dikenali betul
siapa pemilik suara itu. Sedangkan si pemilik suara itu
rupanya mengentahui juga keragu-raguan Arya Buana.
“Ayah ingin bicara sebentar…”
Kali ini Arya Buana tidak ragu-ragu lagi dan segera
menghentikan latihannya. Disekanya peluh yang membasahi
leher, dahi dan wajahnya. Tak lama kemudian kakinya
melangkah menghampiri ayahnya.
“Ada apa Ayah?” tanya Arya Buana sambil menatap
wajah laki-laki setengah tua yang masih kelihatan gagah.
Tubuhnya tinggi tegap. Ada sebaris kumis tipis menghiasi
bagian atas bibirnya. Dia adalah Pendekar Ruyung Maut.
“Kita bicara di dalam saja,” ucap Pendekar Ruyung
Maut sambil beranjak ke dalam.
Tanpa banyak cakap, Arya Buana ikut melangkah
masuk menguntit di belakang ayahnya.
“Arya….” Ucap Pendekar Ruyung Maut itu ketika
mereka telah berada di dalam beranda rumah besar itu.
Mereka duduk berhadapan di kursi berukir indah dari kayu
jati. “Rasanya ini adalah hari terakhir pertemuan kita….”
“Maksud Ayah?” tanya Arya Buana kaget. Sepasang
matanya terbelalak.
Pendekar Ruyung Maut menarik napas dalam-dalam.
Nampak jelas kalau ia merasa berat untuk mengatakan
apa yang terkandung dalam benaknya.
“Terpaksa, Arya. Ini terpaksa harus kulakukan kalau
aku masih ingin melihatmu hidup….”
“Jadi maksud Ayah…. Kalau kita tidak berpisah aku
akan mati? Mati oleh siapa, Ayah?” tanya Arya Buana
penasaran.
“Ceritanya cukup panjang Arya” Pendekar Ruyung Maut
menghela napas dalam-dalam seolah-olah ingin
melonggarkan dadanya yang terasa sesak.
“Tak mengapa, Ayah. Aku akan sabar mendengarkannya….”
“Baiklah kalau begitu,” Pendekar Ruyung Maut menarik
napas panjang sebelum memulai ceritanya. “Masih
ingatkah kau waktu aku membawamu ke tempat paman
gurumu di Gunung Waru?”
“Masih Ayah,” Arya Buana mengangguk.
“Nah! Sewaktu aku akan pulang, Paman Gurumu itu
memberi kepadaku.”
“?!” tanya Arya Buana terkejut.
Memang pemuda itu juga mendengar akan kerusuhan
yang terjadi di dunia persilatan akibat berita mengenai
pedang itu. Di mana-mana selalu terjadi keributan dan
pembunuhan. Semuanya itu berpokok pangkal dari Pedang
Bintang.
“Ya,” Pendekar Ruyung Maut mengangguk membenarkan.
“Pesannya pedang itu harus kuserahkan padamu….”
“Untukku, Ayah?” lagi-lagi Arya Buana menyelak cerita
ayahnya.
“Benar. Paman gurumu juga mengatakan kepadaku
apa yang tersembunyi di balik pedang itu. Dan semua itu
ternyata sesuai dengan berita yang tersebar di dunia persilatan.
Akupun telah menyelidiki rahasia yang tersembunyi
dalam pedang itu….”
“Dan Ayah berhasil?” tanya Arya Buana penuh rasa
ingin tahu.
Pendekar Ruyung Maut tercenung sebentar sebelum
mengangguk ragu-ragu.
“Bisa dikatakan begitu.”
“Maksud ayah?” Arya Buana mengerutkan keningnya
bingung.
“Semua tempat dan petunjuk yang diberikan telah kutemukan.
Tapi tempat terakhir yang menunjukkan di mana
kitab-kitab itu berada belum kudatangi…. Maksudku biar
kau sendiri yang mencarinya.”
Arya Buana mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Lalu, mengapa tadi ayah mengatakan kalau ini adalah
hari terakhir kita bertemu? Dan kalau kita tetap bersamasama
aku akan tewas?”
“Arya, kau tentu telah mendengar akibat yang ditimbulkan
berita mengenai ini. Pada mulanya
aku masih tidak ambil pusing. Tapi perkembangan terakhir
yang kudengar membuatku kawatir. Entah bagaimana
caranya orang-orang persilatan itu akhirnya mengetahui
kalau itu berada di Perguruan Tangan
Sakti. Lambat laun merekapun tahu di mana pedang itu
kini. Apabila itu terjadi pasti mereka berbondong-bondong
datang ke sini. Dan tidak berani kupastikan apakah aku
akan dapat mengahadapi mereka atau tidak. Apalagi jika
yang datang itu datuk-datuk persilatan. Jangankan aku,
walau paman gurumu membantupun tetap tidak akan
dapat membendung mereka.”
“Kalau begitu kenapa kita tidak pergi saja dari sini,
Ayah?” usul Arya Buana.
Pendekar Ruyung Maut menatap Arya Buana tajam.
Wajahnya nampak agak memerah.
“Ucapan apa itu, Arya?! Apakah kau ingin melihat aku
ditertawakan orang-orang persilatan? Mereka pasti bilang,
lihat! Pendekar Ruyung Maut melarikan diri seperti seekor
anjing! Tidak, Arya! Apapun yang terjadi aku tidak akan
pergi dari sini! Aku bukan seorang pengecut!”
“Akupun bukan seorang pengecut, Ayah! Aku tidak akan
meninggalkan Ayah dan akan tetap di sini, untuk membantu
Ayah menghadapi mereka.”
“Jangan salah mengerti, Arya,” potong Pendekar
Ruyung Maut cepat. “Musuh yang akan kita hadapi tidak
sedikit. Tidak ada gunanya kalau kau berniat menentang
mereka. Hanya membuang nyawa sia-sia saja.”
“Tapi, Ayah….” Arya Buana coba membantah.
“Kalau aku lain, Arya. Lagi pula kalau kau ikut tewas
bersamaku di sini, siapa yang akan menyelamatkan
? Apakah kau tidak merasa sayang kalau
pedang ini nanti akan terjatuh ke tangan orang yang jahat?
Bagaimana nanti harus kupertanggung jawabkan semua ini
pada paman gurumu? Apakah kau senang bila nanti
paman gurumu menuding di kuburku sebagai orang yang
menyia-nyiakan amanat?”
Arya Buana terdiam. Pertanyaan ayahnya bertubi-tubi
itu membuatnya bingung dan tidak tahu harus berkata apa.
“Dan lagi…. Tidak rindukan kau apda ibumu, Arya?
Tidak inginkah kau bertemu dengannya?” tanya Pendekar
Ruyung Maut lagi. Tapi kali ini suaranya bergetar tidak
meledak-ledak seperti tadi.
Kontan Arya Buana tersentak. Ibunya? Dia tidak rindu


38
kepada ibunya? Dia tidak ingin bertemu ibunya? Ingin
rasanya dia berteriak untuk mengatakan betapa rindunya
pada ibunya. Bertahun-tahun rasa rindunya ini dipendam
sejak ibunya pergi meninggalkan dirinya dan ayahnya.
Waktu itu Arya Buana berusia lima tahun sehingga tidak
pernah tahu ibunya pergi meninggalkan mereka.
“Ibu…Ibu… Ayah?’ tanya Arya Buana ragu-ragu sambil
menatap ayahnya. Nampak dilihatnya wajah laki-laki
setengah baya itu berubah muram.
“Benar. Rasanya perlu kuberitahukan padamu persoalan
yang sebenarnya. Aku takut nanti kau menduga
jelek pada Ibu ataupun Ayah.”
Pemuda remaja itu hanya menundukkan kepalanya
diam tanpa berkata-kata.
“Enam belas tahun yang lalu aku menikahi seorang
gadis yang kemudian menjadi ibumu. Namun sama sekali
tidak kuketahui asal-usul ibumu. Sewaktu kutanyakan dia
mengatakan kalau kedua orang tuanya telah tiada. Yang
tinggal hanya kakak laki-lakinya yang saat itu berada entah
di mana. Setelah kau berumur empat tahun baru kuketahui
siapa kakak kandung ibumu. Dan hal ini membuat aku
kaget bukan kepalang. Ternyata kakak ibumu si Raja
Racun Pencabut Nyawa, seorang tokoh sesat yang terkenal
kejam dan telengas! Si Raja Racun ini pernah bertarung
denganku yang berkesudahan tanpa pemenang. Rupanya
dia masih dendam padaku. Sewaktu kau berumur lima
hampir lima tahun, ia datang lagi hendak menantangku
dan hendak membunuhmu. Ibumu tentu saja menjadi
bingung ketika menyadari kalau pertarungan di antara
kami tidak dapat dielakkan lagi. Ia tidak ingin salah satu di
antara kami terluka atau tewas. Akhirnya si Raja Racun
mengalah. Ia bersedia membatalkan pertarungan asal
ibumu pergi meninggalkan aku dan dirimu. Ibumu tidak
punya pilihan lain, Arya. Jadi, yahhh…. Itulah yang terjadi.”
Arya Buana tercenung begitu ayahnya menyelesaikan
ceritanya. Pemuda remaja itu masih tetap menundukkan
kepalanya.
“Arya….”
Perlahan-lahan Arya mengangkat kapalanya.
“Ini amanat dari paman gurumu,” ujar Pendekar
Ruyung Maut sambil mengulurkan tangannya menyerahkan
.
Dengan tangan gemetar, Arya Buana menerima pedang
itu.
“Di dalam gagang pedang itu ada petunjuk. Pergilah,
Arya. Mudah-mudahan kelak kita dapat berjumpa dan berkumpul
lagi bersama. Kau, aku dan….ibumu.”
Arya Buana memperhatikan pedang yang kini berada di
tangannya itu sejenak. Pada kedua ujung sisi gagang
pedang masing-masing melekar sebuah bintang bersegi
lima berwarna keemasan. Segera dicabutnya gagang
pedang itu. memang tepat perkataan ayahnya. Di dalam
gagang itu terdapat segulung kain yang berisikan coretancoretan.
Arya memperhatikannya beberapa saat lalu
disimpannya gulungan kain itu. Selanjutnya dimasukkannya
kembali pedang itu ke dalam warangkanya.
“Aku rasa sudah tiba waktunya kau harus pergi, Arya”
kata ayahnya lagi.
Arya Buana hanya mengangguk.
“Kalau begitu cepatlah!” setelah berkata begitu
Pendekar Ruyung Maut itu bergegas melangkah ke
belakang, diikuti oleh Arya Buana di belakangnya.
Laki-laki setengah baya itu menghentikan langkahnya
di dekat sebuah sumur. Arya yang telah memperhatikan
coretan-coretan pada gulungann kain itu segera
mengetahui kalau sumur ini adalah pintu pertama menuju
tempat kitab-kitab peninggalan Ki Gering Langit.
“Inilah pintu pertama itu, Arya. Di atas permukaan
sumur ini kira-kira setengah tombak di atasnya terdapat
sebuah lobang. Dari situlah awal perjalananmu. Cepatlah!
Jangan membuang-buang waktu lagi.”
Arya hanya menganggukkan kepalanya. Setelah
berpamitan tanpa ragu-ragu pemuda ini melompat ke
dalam sumur itu. Dikerahkan ilmu meringankan tubuhnya
untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan yang mungkin
terjadi di bawah sana.
Pendekar Ruyung Maut memperhatikan sejenak,
sampai tubuh Arya Buana menyentuh permukaan air
sumur. Baru setelah Arya Buana melambaikan tangan
tanda siap, ia berjalan meninggalkan sumur itu menuju
ruangan dalam bangunan besar rumahnya.
***





Load disqus comments

0 komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Back to Top